• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Dampak setelah anak putus sekolah

Dengan kasus anak putus sekolah ini tentunya akan menimbulkan

62

sendiri dimasa yang akan datang. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai dampak setelah anak putus sekolah sebagai berikut : „‟banyakla kak dampaknya misalkan saya cari kerja susah apalagi saya ngk tamat sekolah jadi susah kak gk langsung dapat kerjanya ya palingan kalau bangunan itu kalau ada proyek ya kerja kalau gk ada ya gk kerja la kak’’ ( SY, Wawancara 06 Februari 2020)

Hal serupa juga terjadi dengan informan berikut :

„‟ Kalau ditanya dampaknya kak, ya dalam bekerja kak, saya ingin dapat gaji yang besar, tapi susah kak apalagi gk ada ijazah SMA tapi mau gimana lagi kak dah terlambat ya terima ajalah’’ ( IS, wawancara 06 Februari 2020)

„‟ Saya malas kak sekolah ya saya bantu orang tua aja diladang, soalnya susah juga kan cari kerja yah mau gk mau bantu bantula’’ ( WI, wawancara 06 Februari 2020)

‘’Kalau dampaknya ya saya ndak bisa lanjutin sekolah, terus saya juga tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan dan ada rasa menyesal kak’’ ( KN, Wawancara 09, Maret 2020)

Dari ketiga informan tersebut menyatakan bahwa mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaaan yang sesuai dengan yang diinginkan, hal tersebut dikarenakan akibat putus sekolah. Selain itu ada juga dampak yang dirasakan sebagai berikut :

„’.. Dampaknya, akibat perbuatan saya ini saya jadi bahan pembicaraan masyarakat, dan teman- teman saya. Akibat kenakalan saya yak arena narkoba, saya sadar saya salah tapi saya menyesal dengan perbuatan saya, dan dalam pekerjaan saya susah dapat kerjaan.‟‟ ( BY, wawancara 17 februari 2020)

Dampak dari putus sekolah sangat mereka rasakan dan membuat informan menjadi kesulitan, dan berikut dampak lain yang dirasakan informan :

„‟....Seharusnya di usia saya masih sekolah dan mereka dapat melanjutkan pendidikan mereka sedangkan saya sudah mempunyai anak dan saya juga merasa di omongin oleh masyarakat akibat perbuatan saya yang tidak bagus ini ya saya sangat menyesal kenapa dulu saya suka bolos dan bermain dengan teman ketika waktunya sekolah’’ (SA, wawancara, februari 2020)

‘’ ..Akibat perbuatan saya, ya saya sudah menjadi ibu diusia saya yang sangat muda ini, saya tidak bisa sekolah lagi dan saya malu juga sebenarnya dengan keluarga saya dan tetangga saya karena saya sudah salah pergaulan, ikut-ikutan teman dan akhirnya terjerumus seperti ini’’ ( SR, wawancara 23 Februari 2020)

Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat 3 dampak anak yang sering dirasakan oleh anak-anak yang putus sekolah, seperti sulit mendapatkan pekerjaan, sanksi sosial dan kehilangan masa remaja. Dari ketiga dampak tersebut, sanksi sosial adalah hal yang sering dialami oleh anak-anak yang putus sekolah. mendapat cemooh dan omongan miring dari masyarakat, menciptakan stigma negative/ streotipe terhadap anak-anak putus sekolah. hal ini bukan hanya mempengaruhi pribadi anak yang putus sekolah maupun orang-orang yang ada di sekitarnya.

64

Untuk Mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya putus berbagai pencegahannya sejak dini, baik yang dilakukan oleh sekolah dan orang tua. Sehingga anak putus sekolah dapat dibatasi sekecil mungkin. Pendidikan merupakan pondasi bagi generasi bangsa, yang akan menyiapkan generasi yang cerdas, bermoral dan berkualitas bagi masa depan. Oleh sebab itu pendidikan tidak luput dari peran guru disekolah. Guru merupakan salah satu tonggak untuk berjalannya pendidikan, karena guru sangat berperan dalam menciptakan siswa yang cerdas, terampil dan bermoral dan berpengetahuan luas. Dan perlunya kerjasama antara pihak sekolah dengan siswa, agar bisa mengurangi anak putus sekolah. beberapa strategi yang dilakukan sebagai berikut :

4.5.1 Memberikan Sosialisasi dan Motivasi kepada siswa

Sosialisasi dan merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Hal tersebut dapat membuka wawasan anak-anak akan pentingnya pendidikan dan menyadarkan mereka agar tidak berhenti dan menjadi putus sekolah.

Pentingnya sosialisai tentang kenakalan remaja dan motivasi bahwa pendidikan sangatlah penting dapat mendorong anak agar semangat belajar dan meningkatkan prestasi anak.

Dari hasil wawancara dan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, pada umumnya pihak sekolah mencari cara agar bisa mengurangi anak putus sekolah Seperti halnya yang dikatakan oleh MH ( 39 Tahun) saat wawancara.

‘’.. Kalau strategikan tergantung anaknya, kalau kami hanya bisa memberikan sosialisasi dan motivasi, kami memberikan motivasi masalah kenakalan remaja, dan pergaulan narkoba

agar tidak terjadinya putus sekolah’’..(wawancara pada tanggal 05 Februari 2020).

Hasil penelitian yang dilakukan bahwa sosialisasi dan motivasi sangat diperlukan dalam mengurangi angka anak putus sekolah. Mereka kembali kesekolahnya. Cara ini cukup efektif untuk mengatasi anak-anak yang hamper mengalami putus sekolah, dimana dengan cara memberikan sosialisasi. Hal ini didukung oleh pernyataan ibu PM sebagai berikut :

„‟Kalau sosialisasi itu ada, dan syukurnya beberapa anak yang kita beri sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan, dan mereka mau kembali bersekolah.’’(wawancara pada tanggal 05 Maret 2020).

Hal serupa juga disampaikan oleh ibu ZI sebagai berikut :

‘’ Kita pasti ada mensosialisasikan baik kepada orang tua dan anak, bahwa penting untuk mengeyam pendidikan jadi cara ini perlu untuk mencegah terjadinya putus sekolah.’’ (wawancara pada tanggal 05 Februari 2020)

Memberikan sosialisasi agar anak bisa terhindar dari kenakalan remaja dan memberikan motivasi agar anak menjadi semangat untuk tetap bersekolah dan diharapkan mampu melanjutkan pendidikan ke kenjang selanjutnya.

4.5.2 Mediasi dengan cara mendatangi anak yang putus sekolah

Strategi berikutnya ialah dengan cara mediasi. Mediasi ini bertujuan agar dapat memberikan alasan mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, mediasi ini dilakukan apabila anak sudah sering tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar dari siapapun, baik dari keluarga maupun temannya. hal

66

tersebut juga dikatakan oleh pak suyadi ( 57 tahun) sebagai wakil kepala sekolah SMK Harapan

‘’..Ya kami mengawasi anak-anak yang bermasalah dan memberikan arahan agar mereka tidak putus sekolah, ketika mereka tidak datang maka pihak sekolah datang secara langsung ke rumah anak- anak yang tidak berhadir ke sekolah untuk menanyakan apakah alasan mereka untuk tidak melanjutkan sekolah kecuali anak-anak yang putus sekolah dikeluarkan secara langsung oleh pihak sekolah...‟‟(pak SU, wawancara 21, Januari 2020)

Dari hasil wawancara tersebut pihak sekolah mendatangi siswa dan menanyakan kepada siswa mengapa ia tidak hadir yang bertujuan agar siswa masih bisa bertahan dan tetap sekolah dan tidak memilih untuk berhenti. Hal ini juga dirasa penting sebagai pencegah agar tidak terjadi putus sekolah, dimana hal tersebut juga disampaikan oleh bapak Suyadi sebagai berikut :

‘’ Mediasi ini perlu agar bisa berfikir ulang untuk putus sekolah.

setidaknya cukup efektif untuk hal tersebut. Kecuali alasan yang diberikan tidak sesuai dan masalah yang mereka lakukan ternyata tidak dapa dipertahankan lagi. (Pak SU wawancara 21, januari 2020)

4.5.3 Memberikan bantuan berupa beasiwa kepada siswa

Putus sekolah salah satunya disebabkan karena ekonomi. Anak yang kurang dalam biaya sekolah akan meninggalkan sekolah karena merasa tidak mampu dalam membayar uang sekolah. Anak yang berasal dari kalangan bawah akan membantu orang tua mereka untuk mencari uang dan makan akibatnya mereka meninggalkan bangku sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya. Oleh karena itu pihak sekolah mencari strategi agar dapat

mengurangi angka anak putus sekolah dengan cara memberikan bantuan hal tersebut dikatakan oleh AS ( 51 tahun) sebagai berikut

‘’…Pihak sekolah sudah berusaha melakukan pendataan kepada siswa, baik dari pertama masuk kemudian berada di pengambilan raport, disitukan bisa dilihatdata-data siswa.

Ketika siswa yang bermasalah atau siswa yang kondisi tidak mampu maka ketika itu bisa dideteksi oleh wali kelas, kalau ketahuan dia dideteksi wali kelas maka otomatis pihak seklah berupaya untuk memanggil siswa, kenapa sebabnya tidak datang dan sebagaimana sehingga itu bagian dari pencegahan. Kemudian dari pemberian bantuan bsm, memang diutamakan siswi yng benar-benar tidak mampu, itulah adalah bagian dari strategi juga. Disamping itu ada juga siswa siswi,yang mempunyai prestasi ya setidak tidaknya diarahkan ke bidikmisi ke perguruan tinggi, tya hanya itulah arahan-arahan dari pihak sekolah..’’ ( wawancara pada tanggal 05 Maret 2020)

Dari hasil wawancara tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa ada bentuk strategi dengan cara memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami putus sekolah. bantuan tersebut dapat berupa bantuan bagi siswa yang kurang mampu dalam ekonomi dan bantuan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

Tabel 7

Matriks Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah

Sudut Pandang Faktor - Faktor Penyebab Putus Sekolah

Faktor Penyebab Dampak Strategi

Sering

68

4.6 Analisis Putus Sekolah Menengah Atas ( SMA) Sederajat di Kecamatan Stabat Kabupaten langkat.

Pendidikan merupakan hal vital yang harus dijalani oleh anak-anak generasi penerus Indonesia. Tak jarang orang-orang berlomba-lomba demi mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi mungkin. Namun, pada sebagian masyarakat lainnya, pendidikan merupakan hal yang cukup sulit untuk digapai, khususnya pada jenjang pendidikan menengah ke atas masih ada yang mengalami putus sekolah tak terkecuali di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat.

Putus sekolah merupakan proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Artinya adalah terlantarnya anak dari suatu

lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor. Padahal anak adalah generasi penerus bangsa dan menjadi estafet untuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu memberikan jaminan bagi generasi penerus untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik merupakan investasi sosial masa depan yang tidak murah dan harus di pikul oleh keluarga, masyarakat dan negara. Dalam prosesnya perilaku putus sekolah pada anak ditingkat sekolah Menengah Atas Sederajat Yang merupakan aspek-aspek atau kualitas perseorangan terdiri dari minat, sikap, dan motivasi belajar. Karakteristik anak adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada anak sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktifitas dalam meraih cita-citanya.

Perubahan tingkah laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan dan kondisi-kondisi yang ada.

Perubahan tingkah laku seseorang bisa terjadi karena pengaruh lingkungan sosialnya maupun lingkungan pergaulannya. Misalnya seorang anak karena berada dalam kondisi keluarga yang lemah dalam keadaan ekonomi, membuat anak tersebut merasa ia tak mampu untuk sekolah, dan seorang anak yang berada pada lingkungan pertemanan yang kurang baik seperti suka bolos, narkoba, dan pergaulan bebas akhirnya anak tersebut mengikuti teman-temannya. Di mana dari penjelasan tersebut kita dapat melihat bahwa individu akan berinteraksi dan bergaul dengan orang lain, dan perilaku orang lain dapat mempengaruhinya akibat dari lingkungan pergaulannya. Jika individu bergaul dengan orang baik, maka perilakunya akan baik pula, tetapi jika individu bergaul dengan orang yang tidak baik, maka perilakunya akan tidak baik pula.

70

Kita dapat melihat bahwa setiap individu bergerak atau melakukan sesuatu karena mendapat rangsangan dari lingkungannya. Hal ini dikarenakan setiap makhluk hidup pasti selalu berada dalam proses bersinggungan dengan lingkungannya. Dalam proses inilah, makhluk hidup menerima rangsangan atau stimulant tertentu yang membuat individu bertindak sesuatu. Stimulant inilah membuat manusia melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu pula. Ini pula yang terlihat pada siswa yang mengalami putus sekolah. lingkungan tempat siswa berada memberikan stimulan terhadap siswa sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang dalam hal ini seperti bolos sekolah, Narkoba, malas belajar dimana, tindakan ini tentu akan memberikan konsekuensi pada setiap pengambilan keputusan untuk berhenti sekolah dan lebih jauh lagi, memberikan banyak dampak negative pada siswa salah satunya adalah sanksi sosial yang ada dimasyarakat.

Skinner menjelaskan dalam teorinya Behavior Sociology bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk perilaku individu, dimana perilaku inilah yang akan menimbulkan dampak terhadap diri individu itu sendiri.

Salah satu diantaranya adalah putus sekolah. Anak putus sekolah tidak dapat di hilangkan dalam kehidupan sosial karena tergantung dari individu untuk memahami tentang pentingnya pendidikan dan masalahnya banyak penyebab yang membuat anak putus sekolah. Dalam hal ini untuk meminimalisir anak putus sekolah dengan cara menciptakan suasana yang nyaman baik itu di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga sehingga anak mempunyai motivasi terus dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

Adapun hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan adalah terdapat beberapa Faktor penyebab putus sekolah yang terjadi di tiga Sekolah Menengah Atas Sederajat ini, menjadi suatu masalah, dimana faktor tersebut berupa faktor kurangnya minat sekolah dari diri sendiri untuk bersekolah, faktor ekonomi yang menjadi penghambat mereka untuk mencapai mimpi mereka, dan faktor lingkungan yaitu : bolos sekolah, hamil diluar nikah dan narkoba. Lingkungan merupakan faktor yang sangat dominan terjadi pada anak, lingkungan pertemanan yang sangat berpengaruh pada anak karena dapat membentuk perilaku sosial pada setiap anak. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kontrol sosial orang tua terhadap anak yang menyebabkan anak menjadi melakukan perbuatan kenakalan remaja. Selain Faktor lingkungan, minat diri juga menjadi salah satu faktor penyebab anak putus sekolah misalnya pada situasi belajar disekolah yang berbeda. Siswa yang berasal dari sekolah umum dan melanjutkan sekolah dengan basic agama, maka hal ini akan mempengaruhi minat belajar pada siswa. Perbedaan situasi belajar ( mata pelajaran dengan basic yang berbeda) membuat siswa tidak dapat mengikuti alur pelajaran yang ada. Karena hal inilah anak-anak menjadi malas belajar dan berdampak pada keputusan untuk tidak melanjutkan sekolahnya lagi.

Selain kedua faktor yang telah dijelaskan sebelumnya terdapat juga faktor ekonomi yang juga turut mempengaruhi tindakan putus sekolah terhadap anak-anak setingkat SMA di kabupaten langkat. Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi anak dalam menjalani sekolah. seperti tidak ada biaya untuk naik kendaraan umum,sehingga akses kesekolah menjadi sulit. Kesulitan inilah yang pada akhirnya membuat individu memilih untuk berhenti sekolah. dimana hal ini berimplikasi

72

mereka telah kehilangan masa remaja dibangku SMA. Anak putus sekolah di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat ternyata dapat memberikan dampak bagi masyarakat yaitu dampak positif maupun negative. Dampak positifnya yaitu anak putus sekolah di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat dapat membantu orang tuanya bekerja agar dapat menambah penghasilan orang tua. Sedangkan dampak negatifnya anak putus sekolah sering mealakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain seperti sanksi sosial, omongan dari masyarakat dan beberapa hal lainnya.

Dari sinilah dapat dilihat hubungan yang berhukum antara tingkah laku anak yang putus sekolah dengan lingkungannya memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dimana pada masa yang akan datang, sikap yang dilakukan akan memberikan dampak kepada individu pada masa yang akan datang baik berupa sulit mendapatkan pekerjaan yang layak serta memunculkan pandangan negative dari masyarakat terhadap dirinya.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi pendidikan dalam masyarakat masih belum maksimal, dan permasalahan masih banyak terjadi, putus sekolah menjadi penyebab ketertinggalnya pendidikan dalam masyarakat. Oleh karena itu perlunya bantuan dari suatu lembaga agar berkurangnya angka anak putus sekolah. secara garis besar karakteristik anak putus sekolah berawal dari tidak tertib dalam mengikuti pelajaran disekolah, terkesan memahami pelajaran dan belajar hanya sekedar kewajiban, masuk kelas, dan mendengarkan guru mengajar tanpa diikuti dengan kesungguhan untuk mencerna pelajaran secara baik. Akibat prestasi belajar yang rendah dan pengaruh teman sebaya. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor penyebab anak putus sekolah tingkat sekolah menengah atas (SMA) di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat adalah Lingkungan sosial, minat diri dan ekonomi.

Untuk Mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya berbagai pencegahannya sejak dini, baik yang dilakukan oleh sekolah dan orang tua. Sehingga anak putus sekolah dapat dibatasi sekecil mungkin. Dan perlunya kerjasama antara pihak sekolah dengan siswa, agar bisa mengurangi anak putus sekolah. Anak putus sekolah tidak dapat di hilangkan dalam kehidupan sosial karena tergantung dari individu untuk memahami tentang pentingnya pendidikan

74

dan masalahnya banyak penyebab yang membuat anak putus sekolah. Dalam hal ini untuk meminimalisir anak putus sekolah dengan cara menciptakan suasana yang nyaman baik itu di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga sehingga anak mempunya motivasi terus dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

5.2 Saran

Setelah mengadakan pengkajian dan penelitian tentang Faktor penyebab Putus Sekolah Menengah Atas (SMA) Sederajat di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat., saran yang dapat peneliti berikan berdasarkan hasil penelitian adalah :

1. Untuk pemerintah perlu mengoptimalkan pemberikan alokasi bantuan di bidang pendidikan dalam bentuk beasiswa ataupun bantuan biaya sekolah yang lainnya seperti BOS dan BSM. Agar dapat mencegah siswa/siswi putus sekolah yang berasal dari keluarga yang berpendapatan rendah.

2. Bagi pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) Sederajat dikecamatan Stabat Kabupaten Langkat. Perlunya untuk mensosialisasikan kepada orang tua murid bahwa pentingnya untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan setinggi-tingginya.

3. Bagi Orang tua siswa, diharapkan memberikan pemahaman sejak usia dini kepada anaknya agar dapat termotivasi untuk giat belajar serta kesadaran diri terhadap pentingnya pendidikan bagi masa depannya sehingga membuat anak meningkatkan minat belajar dan perlunya pemahaman agar anak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial yang berdampak negative untuk anak.

4. Bagi Siswa, berdasarkan hasil penelitian, harapannya siswa dapat mengambil pelajaran yang baik dari penyebab anak putus sekolah agar menjadi semangat

dalam belajar agar tidak mengalami putus sekolah dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial yang berdampak negative.

76

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Imron. 2004. Manajemen peserta didik berbasis sekolah. Dapertemen pendidikan nasional: Universitas Negeri Malang

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT.

Rineka Cipta.

Ary H. Gunawan. (2010). Sosiologi pendidikan: Suatu analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Bungin, H.M.Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Surabaya: Kencana Prada Media Grups.

Depdikbud, 1984. Kamus bebas Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

Djumhur dan Surya, Moh 1975, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Bandung: Cv.

Ilmu.

Gunawan, H. Ary. Sosiologi pendidikan : suatu analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan, Jakarta : Rineka cipta 2000.

Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.

Hasbullah. 2009 Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hoogvelt, Ankie M.M. 1985. Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang.

Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan individu,masyarakat,dan pendidikan, Jakarta : Rajawali Pers.

Idi, Abdullah. 2014. Sosiologi pendidikan, Jakarta : Rajawali Pers

Johnson & Johnson. 1998 Cooperative Learning And Social Interdependence Theory ( online ). Tersedia : http : // www.co-operation.org/pages.

Johnson, Doyle P, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (JiIid II), Diindonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Penerbit, PT. Gramedia Jakarta.

Johnson, Doyle P, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jilid I), Diindonesiakan oleh Robert M.Z Lawang, Penerbit, PT. Gramedia Jakarta.

Kneller, George. F. 1967. Foundation of Education. United State Of America : John weley & sons inc.

Maliki, Zainudin. 2008, Sosiologi Pendidikan,Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Moleong, J. Lexy. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Posdakarya.

Mu‟in, Factul. 2011, Pendidikan karakter, konstruksi teoritik dan praktik. Jogjakarta : Ar. Ruzz Media.

Nasution. 1996. Metode Penelitian Kualitatif Naturalistik, Jakarta : Sinar Grafika Rifa‟I, Muhammad. 2016. Sosiologi pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

78

Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses pendidikan.

Kencana. Jakarta.

Sastrawijaya, A. Tresna. 1991. Pengembangan Program pembelajaran. Jakarta : Rineka cipta.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, 1989. Metode penelitian survey. LP3ES.

Jakarta.

Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rienaka Cipta.

Soekanto, Soerjono. 2004. Sosiologi keluarga. Rineka cipta: Jakarta

Suyanto, Bagong. 2010. Masalah Sosial Anak. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Suyanto, Bagong & Sutinah. 2007. Metode Penelitian Sosial : Berbagai Alternatife Pendekatan. Jakarta : Kencana.

Tilaar H.A.R. (2002). Perubahan sosial dan pendidikan: Pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Jurnal

Kulyawan, Roy (2013). Studi Kasus Tentang Anak Putus Sekolah Di kecamatan Moutong. Tadulako : Universitas Tadulako.

M, Rahmad. (2016). Perilaku Sosial Anak Putus Sekolah. Vol. 4 No.2 November 2016. Makasar : Universitas Muhamadiyah Makasar.

Sugianto, Eddy.( 2017 ). Faktor penyebab anak putus sekolah tingkat sma di desa bukit lipai kecamatan batang cenaku kabupaten inderagiri hulu. Vol. 4 No. 2 – Oktober 2017. Riau : Universitas Riau

Skripsi

Fajariah, Nurul (2018) yang berjudul ‘’Faktor penyebab remaja putus Sekolah pada jenjang Sekolah Menengah Atas di Desa Bumi Restu Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten lampung Utara. Lampung : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

Farah, Mutiara. ( 2014 ). Faktor penyebab putus sekolah dan dampak negatifnya bagi anak. Surakarta : Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Gunawan, Heri (2010) tentang ‘’ Faktor penyebab dan dampak anak putus sekolah Studi kasus pada anak putus sekolah Tingkat SLTP dan SLTA di

Gunawan, Heri (2010) tentang ‘’ Faktor penyebab dan dampak anak putus sekolah Studi kasus pada anak putus sekolah Tingkat SLTP dan SLTA di