• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak banjir dan kekeringan di 5 provinsi

Sulawesi Tenggara

Kejadian bencana iklim seperti banjir, kekeringan, dan puting beliung dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tercatat beberapa kali terjadi di wilayah provinsi Sulawesi Tenggara. Bencana banjir yang terjadi di desa Ambuau (Kab.

Buton), desa Lalembuu (Kab. Konawe Selatan), desa Lasusua dan Desa Ranteangin (Kab. Kolaka Utara), dan desa Tetemotaha (Kab. Konawe), menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian seluas 100-200 hektar. Selain banjir, angin puting beliung juga beberapa kali terjadi di wilayah tersebut. Bencana kekeringan juga melanda lahan pertanian di desa Ngapaaha dan desa Pombulaa Jaya (Kab. Konawe Selatan), serta desa Lantari Jaya (Kab. Bombana).

Kerusakan yang terjadi di areal persawahan tersebut berkisar antara 50-200 hektar.

Sumatera Utara

Sejak tahun 2009, banjir tercatat terjadi di beberapa kabupaten di provinsi Sumatera Utara, yaitu Kab. Asahan, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Batubara, dan Kota Medan. Sementara bencana kekeringan terjadi di tahun 2011 di Kota Medan, Kab. Deli Serdang, Langkat, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Serdang Bedagai, dan Samosir.

Jawa Timur

Dari total jumlah kecamatan yang ada di provinsi Jawa Timur (662 kecamatan), sebanyak 73 kecamatan (11 persen) merupakan daerah rawan bencana banjir yang disebabkan oleh hujan lebat dan meningkatnya muka air sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.

Kalimantan Timur

Trend curah hujan, jumlah hari hujan, dan suhu udara rata-rata di provinsi Kalimantan Timur menunjukkan kecenderungan naik selama periode 1978-2011. Sementara untuk kelembaban udara cenderun menurun pada periode yang sama. Kondisi iklim secara umum adalah kemarau basah. Tingkat ketersediaan air masih cukup, kecuali pada konsi ekstrim seperti saat terjadinya fenomena El-Nino yang kuat seperti tahun 1992, 1997, dan 2002. Dampak pada lahan pertanian belum terlalu mengkhawatirkan karena selama ini persediaan air cukup. Permasalahan lebih disebabkan adanya serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).

Jawa Barat

Beberapa daerah di Jawa Barat seperti Indramayu, Cirebon, Majalengka, dan Subang sering mengalami kekurangan air dan berdampak pada tanaman pangan seperti padi dan palawija. Hingga akhir Juni 2012, kurang lebih 13.000 Ha sawah terancam kekeringan.

43 Dampak perubahan iklim pada sektor pertanian akan dilihat melalui berapa luas lahan gagal panen yang terjadi di Indonesia akibat banjir dan kekeringan. Evaluasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi tahun di mana terjadinya gagal panen terbesar pada tanaman padi di Indonesia akibat banjir dan kekeringan, dan mengidentifikasi provinsi mana yang mengalami gagal panen akibat banjir dan kekeringan terbesar. Data mengenai banjir dan kekeringan pada tanaman padi di seluruh provinsi di Indonesia diperoleh dari Sub Direktorat Dampak Perubahan Iklim, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Analisis Gagal Panen Akibat Banjir di Indonesia Periode 2001 – 2011

Selama periode 2001 – 2011, rata-rata luas lahan sawah yang terkena banjir di seluruh provinsi adalah 266.215 Ha, dan rata-rata luas lahan gagal panen sebesar 77.471 Ha. Jumlah lahan sawah yang mengalami gagal panen akibat banjir terjadi tertinggi pada tahun 2006, yaitu seluas 138.287 Ha, dari 330.195 Ha lahan sawah yang terkena banjir (Gambar 12).

Gambar 12 Luas banjir pada tanaman padi di Indonesia periode 2001-2011

44 Gambar 13 Luas banjir pada tanaman padi di seluruh provinsi tahun 2006

Jika ditinjau per provinsi pada tahun 2006 di mana gagal panen terjadi terluas pada tahun tersebut, maka dapat terlihat bahwa provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang mengalami lahan terkena banjir (101.619 Ha) sekaligus gagal panen (38.055 Ha) terbanyak dibandingkan provinsi lain (Gambar 13). Hasil penelitian (Estiningtyas et.al 2009) mengenai hubungan curah hujan dengan banjir dan kekeringan di lahan pertanian di Jawa Barat periode 1989 – 2006 menunjukkan kondisi yang beragam. Ada wilayah yang cukup luas mengalami banjir, sementara beberapa wilayah lain relatif lebih sedikit mengalami bencana banjir. Bencana banjir yang cukup luas pada umumnya dominan terjadi di wilayah pantai utara (pantura). Selain itu, temuan lainnya adalah daerah yang terkena banjir maupun kekeringan di lokasi sawah yang

45 relatif dekat dengan pantai lebih luas dibandingkan dengan daerah persawahan yang tidak dekat pantai.

Gambar 14 menunjukkan bagaimana profil pemetaan seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2006 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir. Pemetaan seluruh provinsi dilakukan dengan membagi seluruh provinsi ke dalam empat kuadran berdasarkan rata-rata curah hujan nasional dan rata-rata luas lahan gagal panen akibat banjir. Provinsi mana saja yang termasuk ke dalam setiap kuadran ditunjukkan pada tabel 3.

Gambar 14 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2006 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir

46 Tabel 5 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2006 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir NTB, Jambi, DKI Jakarta, Kep. Riau, Kalimantan Tengah, Lampung,

Kuadran I dan II merupakan kuadran di mana provinsi yang terdapat di dalamnya mengalami gagal panen akibat banjir di atas rata -rata nasional. Sebanyak 21 persen dari seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2006 mengalami gagal panen akibat banjir di atas rata -nasional. Sebagian besar provinsi (51 persen) mengalami curah hujan dan gagal panen di bawah rata – rata nasional (kuadran III). Tiga provinsi yang mengalami jumlah curah hujan dan gagal panen di atas rata-rata nasional tahun 2006 yaitu Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah. Sementara NAD, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jawa Timur, meskipun jumlah curah hujan di bawah rata-rata nasional, juga mengalami gagal panen di atas rata-rata (kuadran II).

jumlah curah hujan dan luas

47 Boks 4Banjir melanda lahan pertanian

Ratusan petani di empat desa di Kecamatan Kota Sampang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, yaitu Desa Gunung Maddeh, Desa Pasean, Desa Panggung, dan Desa Ruwek, gagal panen setelah tanaman pani mereka yang telah masuk waktu panen membusuk setelah terus menerus terendam banjir. (Kompas, 19 Maret 2012).

Ratusan hektar tanaman pertanian dan perkebunan di Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, gagal panen akibat banjir yang melanda daerah tersebut. (Harian Umum Pelita, 4 Oktober 2012).

Sedikitnya 3.000 hektar tanaman padi di Jawa Tengah mengalami gagal panen akibat banjir yang terjadi sejak 2 bulan terakhir. Dampak banjir terluas di Kabupaten Pati dengan luas kerusakan tanaman mencapai 1.985 hektar, disusul Kabupaten Grobogan 402 hektar , Cilacap 209 hektar, dan Demak 153 hektar. Di Semarang terdapat 65 hektar areal sawah yang puso, Purworejo 56 hektar, Kudus 55 hektar, Kudus 20 hektar, dan sejumlah daerah lainnya.

Tanaman padi yang terendam banjir lebih dari 3 hari akan rusak dan dipastikan gagal panen.(Bisnis Indonesia, 6 Februari 2012).

Petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat mengalami gagal panen akibat lahan persawahan mereka yang dilanda banjir. Setidaknya 305 hektar lahan terendam banjir hingga dua meter lebih, dan mengakibatkan gagal panen. Asisten II Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan Desri menyatakan banjir kali ini termasuk yang terbesar dalam 50 tahun terakhir, mengingat hampir 70 persen wilayah Pesisir Selatan terendam air akibat luapan sungai-sungai besar. Setidaknya 10 dari 12 kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan terkena banjir. (Berita Nasional- inilah.com, 4 November 2011).

Seluas 1.366 hektar sawah di Kabupaten Lebak, Banten, gagal panen karena tanaman padi membusuk akibat banjir. Tanaman padi yang terendam terparah berada di Kecamatan Wanasalam, yang termasuk sebagai lumbung pangan di Kabupaten Lebak. (tvonenews.tv 25 Januari 2012)

48 Analisis Gagal Panen Akibat Kekeringan di Indonesia periode 2001-2011

Gambar 15 Luas kekeringan pada tanaman padi di Indonesia periode 2001-2011

Selama periode 2001 – 2011, rata-rata luas lahan sawah yang terkena kekeringan di seluruh provinsi adalah 291.583 Ha, dan rata-rata luas lahan gagal panen akibat kekeringan sebesar 51.891 Ha. Tahun 2003 adalah tahun di mana jumlah lahan sawah mengalami gagal panen terbanyak akibat kekeringan di seluruh Indonesia, yaitu seluas 117.006 Ha, dari 568.619 Ha lahan sawah yang terkena kekeringan.

49 Gambar 16 Luas kekeringan pada tanaman padi di Indonesia tahun 2003

Jika dilihat per provinsi pada tahun 2003, maka dapat terlihat bahwa Jawa Barat adalah provinsi yang mengalami lahan terkena kekeringan (273.901 Ha) sekaligus gagal panen terbanyak (65.785 Ha). Gambar di bawah menunjukkan pemetaan seluruh provinsi pada tahun 2003 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan.

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000

Luas Kekeringan Pada Tanaman Padi di Indonesia Tahun 2003

Puso

Terkena kekeringan

50 Gambar 17 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2003 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan

Tabel 6 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2003 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan

51 Kuadran I dan II merupakan kuadran dimana provinsi yang terdapat di dalamnya mengalami gagal panen akibat kekeringan di atas rata-rata nasional. Sebanyak 12 persen dari seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2003 mengalami gagal panen akibat kekeringan di atas rata-rata nasional. Kuadran III menunjukkan sebanyak 42 persen dari seluruh provinsi mengalami curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan di bawah rata-rata nasional. Kuadran IV menunjukkan sebanyak 45 persen dari seluruh provinsi mengalami curah hujan di atas rata-rata nasional dan gagal panen akibat kekeringan di bawah rata-rata nasional. Terdapat dua provinsi yang mengalami jumlah curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan di atas rata-rata nasional tahun 2006 yaitu Jawa Tengah dan Sumatera Selatan. Sementara Jawa Barat dan Jawa Timur, meskipun jumlah curah hujan di bawah rata-rata nasional, juga mengalami gagal panen akibat kekeringan di atas rata-rata.

Dampak perubahan iklim pada lahan pertanian di bagian sebelumnya dilakukan dengan membandingkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir dan kekeringan di seluruh provinsi pada tahun terjadi gagal panen terbanyak akibat kekeringan (2003) dan gagal panen terbanyak akibat banjir (2006). Apabila dilihat secara proporsi antara luas panen dan gagal panen di kedua tahun tersebut, sebagian besar provinsidi Indonesia memiliki persentase yang sangat kecil, yaitu di bawah 1 persen.

Untuk gagal panen akibat kekeringan di tahun 2003, hanya empat provinsi dimana proporsi luas gagal panen dengan luas panennya di atas 1 persen, namun masih dibawah 5 persen (Tabel 6). Ketiga provinsi di mana gagal panen akibat kekeringan di atas rata-rata nasional yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan (Tabel 5) ternyata secara proporsi juga relatif lebih tinggi dibandingkan seluruh provinsi.

Tabel 7Empat provinsi dengan persentase gagal panen akibat kekeringan dan luas panen di atas 1 persen tahun 2003

52 Sementara untuk gagal panen akibat banjir di tahun 2006, terdapat lima provinsi di mana persentase antara gagal panen dan luas panennya di atas 1 persen namun masih di bawah 10 persen (Tabel 7).

Kelima provinsi ini yaitu NAD, Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan yang memiliki proporsi antara gagal panen dan luas panen relatif lebih tinggi dibandingkan seluruh provinsi, pada tabel 4 terlihat sebagai provinsi yang gagal panennya di atas rata-rata nasional.

Tabel 8Lima provinsi dengan persentase gagal panen akibat banjir dan luas panen di atas 1 persen tahun 2006

Provinsi Luas panen (Ha)

Gagal panen

(Ha) Proporsi (%)

NAD 320,789 24,951 7.78%

Sumatera Utara 705,023 10,085 1.43%

Jawa Barat 1,798,260 38,055 2.12%

Kalimantan Selatan 462,672 13,137 2.84%

Sulawesi Selatan 719,846 17,655 2.45%

Dari hasil analisis ini, maka dapat disimpulkan bahwa provinsi-provinsi yang memiliki gagal panen di atas rata-rata nasional pada tahun 2003 dan 2006, ternyata secara proporsi terhadap luas panennya juga relatif lebih tinggi dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia.

53 Boks 5 Kekeringan di beberapa daerah

Sebanyak 53 dari 430 desa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor merespon kejadian ini melalui penyaluran air bersih dengan 11 mobil tanki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk didistribusikan di 79 titik di 53 desa dari 9 kecamatan. (Kompas, 29 Agustus 2012).

Kekeringan saat musim kemarau menyebabkan sawah puso, krisis air, hingga konflik horizontal karena rebutan sumber daya. Sembilan provinsi menjadi prioritas penanggulangan kekeringan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Barat.

BNPB mengalokasikan Rp 60 miliar untuk itu. (Kompas, 18 Agustus 2012).

Kekeringan mengancam produksi padi

Akibat kekeringan selama musim kemarau, petani di Wonogiri mengalami banyak gagal panen, bahkan hasil panen turun hingga 80 persen. (Kompas, 24 Agustus 2012).

Sukino (65), petani di Desa Temon, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, mempunyai dua petak lahan podi yang masih dipanen. Dia sempat menyewa mesin diesel untuk menyedot air guna mengairi tanaman padinya. Hasilnya, hanya bisa dipanen 250 kilogram dari seharusnya 1 ton gabah kering panen.

Bowo (32), petani di Desa Belik Urip, Baturetno, mengaku sungai-sungai kecil yang menjadi sumber aliran irigasi, seperti Kalinekuk, Tirtomoyo, dan Temon, banyak yang kering. Meskipun di sungai-sungai tersebut dibangun dam-dam kecil, air yang ditampung mengering. Banyak petani yang membabat lahan padinya yang puso. Mereka menggantinya dengan tanaman palawija. Namun kondisi yang dialami tak jauh beda.

Bowo terpaksa membabat tanaman jagungnya untuk dijual sebagai pakan ternak, sehingga ia tetap mendapat penghasilan.

Sutiyo (45), pengurus kelompok tani Desa Temon, Kecamatan Baturetno, mengungkapkan kekeringan tahun ini merata. Hampir semuanya kena. Di daerah yang dekat sungai pun juga kurang air karena alirannya kecil, bahkan banyak yang mati.

Ratusan hektar lahan padi di enam kecamatan di wilayah Aceh Besar terancam puso akibat ketiadaan air irigasi menyusul kekeringan yang melanda wilayah itu sejak dua bulan lalu. Kekeringan ini menjadi yang terburuk dirasakan petani setempat dalam tiga tahun terakhir. Enam kecamatan di Aceh Besar yang terkena dampak kekeringan yaitu Montasik, Indrapuri, Darul Kamal, Lampanah, Seulimum, dan Darul Imarah. (Kompas, 7 Agustus 2012).

Muhammad (40), petani di Desa Aneuk, Kecamatan Montasik, berkata tahun lalu tidak sampai seperti ini.

Dulu air irigasi masih ada yang mengalir, tapi sekarang tak ada sama sekali. Padahal, saat ini sawah masih butuh digenangi air karena tanaman padi pada umumnya baru tanam.

Hamdani (43), petani di Desa Lamleubok, mengungkapkan untuk satu hektar dia sudah menghabiskan Rp 5 juta. Sebagian besar biaya untuk ongkos mengelola sawah. Ia tak mungkin menanam lagi, mengingat sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk menanam sejak awal Juli lalu.

54 Dampak perubahan iklim pada sektor kelautan dan perikanan

Di sektor perikanan, khususnya perikanan tangkap di laut, dampak perubahan iklim dapat berupa meningkatnya suhu air laut yang menyebabkan migrasi ikan, meningkatnya permukaan air laut, dan meningkatnya intensitas gelombang tinggi yang menyebabkan nelayan tidak dapat melaut. Nelayan tradisional dengan armada tangkap sederhana akan sangat rentan terhadap cuaca buruk di laut (Surtiari dalam Hidayati dan Aldrian, 2012). Hal ini paling dirasakan oleh nelayan tradisional dengan kapasitas kapal maksimum 10 GT, mengingat nelayan kelompok ini memiliki kapal dengan kapasitas terbatas. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusdatin KKP, jumlah nelayan dengan ukuran kapal maksimum 10 GT cenderung bertambah setiap tahunnya (Gambar 18). Dari sejumlah 87.713 Rumah Tangga Perikanan (RTP) dengan kapal ukuran maksimum 10 GT di tahun 2001, menjadi 129.914 RTP di tahun 2010.

Gambar 18 Jumlah RTP/Perusahaan perikanan tangkap dengan ukuran kapal motor < 10 GT

Sumber: Pusdatin KKP 0

20 40 60 80 100 120 140

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Ribu

Jumlah RTP/Perusahaan Perikanan Tangkap Dengan Ukuran Kapal Motor < 10 GT

Jumlah RTP/Perusahaan Perikanan Tangkap

55 Muhammad et al (2009) menjelaskan bahwa kondisi sumberdaya laut sudah terancam akibat penangkapan yang tidak ramah lingkungan (desctructive fishing) dan penangkapan dalam jumlah yang berlebihan (over fishing). Abrasi dan kerusakan terumbu karang menyebabkan menurunnya kemampuan reproduksi ikan sehingga jumlah ikan berkurang, seperti dirasakan oleh masyarakat nelayan di Pulau Miangas. Ancaman perubahan iklim tentunya akan menambah kerentanan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan mereka yang bekerja sebagai nelayan.

Boks 6 Proses asidifikasi berdampak pada ekosistem laut

Peningkatan CO2 di udara sebagian besar (+ 30%) diserap oleh laut sehingga mempengaruhi pH air laut. Dalam 100 tahun terakhir, pH air laut diperkirakan mengalami penurunan antara 0,14 sampai 0,35. Dampaknya paling jelas terlihat pada organisme dengan kerangka luar dari kapur, seperti kerang dan binatang karang.

Peningkatan kandungan CO2 dalam air laut menyebabkan berubahnya keseimbangan sistem karbonat.

Pertumbuhan terumbu karang di laut sangat tergantung dari kemampuan binatang binatang karang di dalamnya untuk menyusun kerangka luar dari kapur. Penurunan karbonat dan bikarbonat (sebagai akibat dari meningkatnya kandungan CO2) akan menurunkan kejenuhan aragonit sehingga akan memperlambat pertumbuhan terumbu karang di laut. Selain itu, kerangka kapur dari terumbu karang yang saat ini sudah kuat, bisa melemah dan terumbu karang akan mengalami erosi. Jika hal ini terjadi maka kehidupan ikan-ikan yang termasuk dalam kategori reef associated species akan terganggu.

Berdasarkan perkiraan World Resource Institute melalui dokumentasi FishBase, 70% dari ikan-ikan komersial yang ditangkap oleh nelayan termasuk dalam kategori reef associated species. Dengan demikian, meningkatnya kandungan CO2 di laut yang diserap dari udara, pada akhirnya akan mempengaruhi sumber mata pencaharian masyarakat dari perikanan tangkap (Hughes et.al, 2003).

Perubahan sistem karbonat air laut juga berpengaruh pada ikan. Sebagian besar spesies ikan mengalami penurunan kemampuan reproduksi pada kejenuhan aragonit yang lebih rendah. Sistem lainnya yang juga terganggu adalah tekanan osmosis dan laju metabolisme. Sebagai dampak turunannya, ikan akan semakin mudah terserang penyakit. Pada akhirnya, populasi ikan akan berkurang dan berdampak pada sumber mata pencaharian masyarakat pantai (Hughes et.al 2003, Nystrom M and Folke C 2001).

Sumber: Muhammad, Wiadnya dan Sutjipto2009

56 Dampak perubahan iklim pada penduduk miskin

Dampak perubahan iklim berdampak langsung pada hasil produksi pertanian maupun hasil tangkapan ikan dari laut. Penduduk miskin yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan terkena dampak tidak langsung dari perubahan iklim karena menurunnya penghasilan mereka. Oleh karena itu dikatakan penduduk miskin adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Analisis dampak perubahan iklim terhadap penduduk miskin dilakukan melalui pemetaan seluruh provinsi dengan bantuan analisis kuadran pada periode 2001-2011 untuk mengetahui provinsi mana saja yang mengalami gagal panen tertinggi sekaligus memiliki jumlah dan/atau persentase penduduk miskin di perdesaan tertinggi.

Pemetaan luas lahan gagal panen akibat banjir dan kekeringan dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan

Gambar 19menyajikan pemetaan setiap tahun di seluruh provinsi berdasarkan luas lahan gagal panen akibat banjir dan jumlah penduduk miskin di perdesaan. Pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui provinsi mana saja yang mayoritas berada di kuadran tertentu. Dengan demikian dapat dilihat provinsi mana yang mengalami baik gagal panen akibat banjir maupun jumlah penduduk miskin di atas rata-rata nasional, serta beberapa variasi lainnya. Hasil rekapitulasi selama periode 2001 – 2011 ditampilkan pada tabel 9.

57 Gambar 19Pemetaan seluruh provinsi berdasarkan luas gagal panen akibat banjir dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011

Dokumen terkait