Evaluasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kemiskinan di Indonesia
LAPORAN AKHIR
DISIAPKAN OLEH TIM EVALUASI
DIREKTORAT PENANGGULANGAN KEMISKINAN BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
DESEMBER 2012
Daftar Isi
1. Pendahuluan ... 6
Latar Belakang ... 6
Tujuan ... 7
Ruang Lingkup ... 8
Metodologi Evaluasi ... 8
2. Tinjauan Literatur ... 11
Kondisi iklim di Indonesia ... 11
Perubahan iklim... 12
Kemiskinan ... 14
Keterkaitan antara perubahan iklim dan kemiskinan ... 15
3. Perkembangan Perubahan Iklim dan Tingkat Kemiskinan di Indonesia ... 26
Perubahan iklim rata-rata ... 26
Kejadian iklim ekstrem... 31
Bencana iklim ... 33
Perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia periode 2001-2011 ... 34
4. Pemetaan dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan ... 37
Penduduk miskin sebagai kelompok yang paling rentan ... 37
Dampak perubahan iklim pada sektor pertanian ... 41
Dampak perubahan iklim pada sektor kelautan dan perikanan ... 54
Dampak perubahan iklim pada penduduk miskin ... 56
Analisis Enam Provinsi Temuan ... 72
5. Upaya Pemerintah dalam Menanggulangi Dampak Perubahan Ikim ... 84
6. Kesimpulan dan Rekomendasi ... 96
Referensi ... 99
3 Gambar
Gambar1 Bagan konseptual dampak perubahan iklim terhadap penduduk miskin ... 16
Gambar 2 Trend suhu minimum, maksimum, dan rata-rata di wilayah Indonesia periode 2003-2012 .... 26
Gambar 3 Trend curah hujan musiman di wilayah Indonesia periode 2003-2012 ... 28
Gambar 4Trend suhu air laut di perairan Indonesia ... 30
Gambar 5 Rata-rata tinggi muka laut (TML) tahun 2001-2008 dikurangi rata-rata TML tahun 1993-2000 ... 31
Gambar 6 Peta anomali curah hujan tahun 2010 dibanding curah hujan rata-rata periode 2003-2012 ... 32
Gambar 7 Tingkat kerawanan terhadap bencana alam ... 34
Gambar8Jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut daerah tahun 2001-2011 ... 35
Gambar 9 Persentase penduduk miskin di Indonesia menurut daerah tahun 2001-2011 ... 36
Gambar 10 Persentase penduduk miskin desa dan kota periode 2001-2011 ... 38
Gambar 11 Persentase penduduk miskin berdasarkan lapangan pekerjaan kepala rumah tangga tahun 2007 ... 39
Gambar 12 Luas banjir pada tanaman padi di Indonesia periode 2001-2011 ... 43
Gambar 13 Luas banjir pada tanaman padi di seluruh provinsi tahun 2006 ... 44
Gambar 14 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2006 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir... 45
Gambar 15 Luas kekeringan pada tanaman padi di Indonesia periode 2001-2011 ... 48
Gambar 16 Luas kekeringan pada tanaman padi di Indonesia tahun 2003 ... 49
Gambar 17 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2003 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat kekeringan ... 50
Gambar 18 Jumlah RTP/Perusahaan perikanan tangkap dengan ukuran kapal motor < 10 GT ... 54
Gambar 19Pemetaan seluruh provinsi berdasarkan luas gagal panen akibat banjir dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 57
Gambar 20 Pemetaan seluruh provinsi berdasarkan luas gagal panen akibat kekeringan dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 61
Gambar 21 Pemetaan seluruh provinsi berdasarkan luas gagal panen akibat banjir dengan persentase penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 65
Gambar 22 Pemetaan seluruh provinsi berdasarkan luas gagal panen akibat kekeringan dengan persentase penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 68
Gambar 23Luas gagal panen akibat banjir, jumlah penduduk miskin, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Barat periode 2001-2011 ... 73
Gambar 24Luas gagal panen akibat kekeringan, jumlah penduduk miskin, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Barat periode 2001-2011 ... 74
Gambar 25 Luas gagal panen akibat banjir, persentase penduduk miskin, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Timur periode 2001-2011 ... 75
Gambar 26 Luas gagal panen akibat kekeringan, persentase penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Timur periode 2001-2011... 76
4 Gambar 27 Luas gagal panen akibat banjir, jumlah penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Tengah periode 2001-2011... 77 Gambar 28 Luas gagal panen akibat banjir, persentase penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Tengah periode 2001-2011 ... 78 Gambar 29 Luas gagal panen akibat kekeringan, persentase penduduk miskin di perdesaan, dan laju PDRB Pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Jawa Tengah periode 2001-2011... 79 Gambar 30 Luas gagal panen akibat banjir, jumlah dan persentase penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi NAD periode 2001-2011 ... 80 Gambar 31 Luas gagal panen akibat banjir, jumlah penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Sulawesi Selatan periode 2001-2011 ... 81 Gambar 32 Luas gagal panen akibat kekeringan, persentase penduduk miskin di perdesaan, dan trend arah laju PDRB pertanian atas dasar harga konstan di Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2001-2011 ... 82
Tabel
Tabel1 Tabel kerangka pentahapan kegiatan evaluasi ... 10 Tabel2 Hubungan dampak perubahan iklim pada kemiskinan dan upaya pencapaian tujuan MDG untuk penanggulangan kemiskinan dan kelaparan... 20 Tabel 2Review hasil laporan dan studi terkait dampak perubahan iklim di Indonesia ... 21 Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk miskin menurut pulau, Maret 2012 ... 39 Tabel 4 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2006 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat banjir 46 Tabel 5 Pemetaan seluruh provinsi tahun 2003 berdasarkan curah hujan dan gagal panen akibat
kekeringan ... 50 Tabel 6Empat provinsi dengan persentase gagal panen akibat kekeringan dan luas panen di atas 1 persen tahun 2003 ... 51 Tabel 7Lima provinsi dengan persentase gagal panen akibat banjir dan luas panen di atas 1 persen tahun 2006 ... 52 Tabel 8 Definisi kelompok kuadran untuk pemetaan provinsi berdasarkan gagal panenakibat
banjir/kekeringan dan jumlah/persentase penduduk miskin di perdesaan ... 59 Tabel 9Jumlah posisi tiap provinsi pada setiap kuadran hasil pemetaan berdasarkan luas gagal panen akibat banjir dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 59 Tabel 10 Jumlah posisi tiap provinsi pada setiap kuadran hasil pemetaan berdasarkan luas gagal panen akibat kekeringan dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 63 Tabel 11 Jumlah posisi tiap provinsi pada setiap kuadran hasil pemetaan berdasarkan luas gagal panen akibat banjir dengan persentase penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 67 Tabel 12 Jumlah posisi tiap provinsi pada setiap kuadran hasil pemetaan berdasarkan luas gagal panen akibat kekeringan dengan persentase penduduk miskin di perdesaan periode 2001-2011 ... 70 Tabel 13 Alokasi pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim ... 89 Tabel 14 Identifikasi program sektoral penurunan emisi ... 90 Tabel 15 Upaya pemerintah daerah di lima provinsi dalam menanggulangi dampak perubahan iklim .... 94
5 Boks
Boks1 Pengertian iklim, cuaca, dan musim... 12
Boks2 Definisi Kemiskinan ... 14
Boks 3 Dampak banjir dan kekeringan di 5 provinsi... 42
Boks 4Banjir melanda lahan pertanian ... 47
Boks 5 Kekeringan di beberapa daerah ... 53
Boks 6 Proses asidifikasi berdampak pada ekosistem laut ... 55
6
1. Pendahuluan
Latar Belakang
Perubahan iklim global telah menewaskan 300.000 jiwa setiap tahunnya, menimbulkan kerugian finansial hingga mencapai 125 miliar dollar AS, dan merugikan sekitar 325 juta jiwa kaum miskin secara global (Global Humanitarian Forum, London, 2009).
Dampak perubahan iklim akan bervariasi di seluruh wilayah geografi di muka bumi. Negara berkembang cenderung akan merasakan dampak negatif yang paling berat dari perubahan iklim (IPCC, 2001). Hal ini disebabkanmayoritas negara berkembang masih menggantungkan perekonomiannya pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia, kelembagaan, dan finansial membatasi kapasitas kelompok negara ini untuk mengantisipasi maupun merespon dampak perubahan iklim tersebut. Lebih khusus lagi, perubahan iklim akan berdampak langsung pada aset yang dimiliki oleh penduduk miskin. Millenium Ecosystem Assessment (2005) dalam laporannya menyebutkan bahwa perubahan iklim berdampak pada ancaman yang nyata bagi mata pencaharian, ketahanan pangan, dan kesehatan bagi penduduk miskin.
Dalam konteks Indonesia, dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan secara eksplisit telah diungkap UNDP Indonesia dalam publikasinya yang berjudul Sisi Lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia Harus Beradaptasi Untuk Melindungi Rakyat Miskinnya, yang memberikan indikasi adanya dampak negatif terhadap pencapaian salah satu butir Millenium Development Goals, terkait dengan penanggulangan kemiskinan (UNDP, 2007). Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa perubahan iklim diperkirakan akan berdampak pada: a) hancurnya hutan, populasi ikan, padang rumput, dan lahan bertanam yang diandalkan oleh keluarga miskin sebagai sumber makanan dan penghasilan; b) rusaknya perumahan rakyat miskin, sumber air dan kesehatan, yang akan melemahkan kemampuan mereka mencari nafkah; dan c) meningkatnya ketegangan sosial soal penggunaan sumber-sumber yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu sumber nafkah dan memaksa masyarakat berpindah (UNDP, 2007).
7 Sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia mengandalkan mata pencahariannya sebagai petani. Perubahan iklim yang berdampak terhadap sektor pertanian tentunya dapat berimbas pada persoalan kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan kekeringan pada tanaman padi pada periode 1993 – 2002 oleh Kementerian Pertanian, diperoleh angka rata-rata lahan pertanian yang terkena kekeringan mencapai 220.380 Ha dengan lahan puso mencapai 43.434 Ha atau setara dengan kehilangan 190.000 ton Gabah Kering Giling (GKG), sedangkan yang terlanda banjir seluas 158.787 Ha dengan gagal panen atau puso seluas 39.912 Ha (setara dengan 174.000 ton GKG) (Kementerian Lingkungan Hidup, 2007). Selain sebagai petani, banyak masyarakat miskin yang berprofesi sebagai nelayan. Para nelayan ini turut pula merasakan dampak perubahan iklim yang ditandai meningkatnya frekuensi badai dan gelombang tinggi, rob, dan perubahan antara musim barat dan musim timur yang tidak menentu (Hidayati dan Aldrian, 2012). Waktu yang tepat untuk melaut pun sulit diprediksi dan berimbas pada penghasilan mereka.
Salah satu upaya agenda adaptasi dalam strategi pembangunan untuk menghadapi anomali iklim yaitu peningkatan kapasitas pengkajian ilmiah tentang perubahan iklim dan dampaknya (Sucahyono dan Aldrian, 2012). Referensi mengenai gambaran dan informasi dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia hingga saat ini masih sangat terbatas.
Beberapa Kementerian/Lembaga, akademisi, dan lembaga non pemerintah telah menginisiasi kajian persoalan ini. Oleh karena itu, untuk lebih jauh melihat bagaimana dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia, Direktorat Penanggulangan Kemiskinan BAPPENAS melakukan evaluasi terhadap persoalan ini.
Tujuan
Tujuan dari kegiatan evaluasi ini adalah untuk mengisi knowledge gap mengenai dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia. Sejauh ini, informasi yang tersedia masih terbatas, tersebar, dan sebagian besar dalam lingkup skala lokal dan regional. Sebagian besar referensi mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia belum secara langsung membahas dampak pada persoalan kemiskinan. Evaluasi ini bertujuan untuk merangkum dan memetakan informasi yang ada mengenai dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia.
8 Diharapkan hasil evaluasi ini dapat menjadi masukan bagi penyusunan kebijakan mengenai upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim khususnya yang terkait dengan penduduk miskin. Selain itu juga diharapkan untuk mengoptimalkan program penanggulangan kemiskinan yang telah berjalan.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan evaluasi ini adalah:
Mengidentifikasi sektor-sektor yang terkena atau berpotensi terkena dampak negatif perubahan iklim secara nasional.
Mengidentifikasi berbagai upaya dan langkah yang telah dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengurangi dampak perubahan iklim di Indonesia.
Memetakan dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan. Penduduk miskin yang menjadi fokus kegiatan evaluasi ini adalah mereka yang tinggal di perdesaan.
Metodologi Evaluasi
Meskipun umumnya evaluasi digunakan untuk menilai pengaruh atau dampak suatu intervensi publik baik berupa kebijakan dan program, evaluasi juga dapat digunakan untuk melihat pengaruh atau dampak suatu kejadian/fenomena terhadap kejadian/ fenomena lain, seperti halnya dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan. Dalam hal ini evaluasi ditujukan untuk menjelaskan bagaimana hubungan sebab akibat di antara dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, tinjauan literatur terhadap persoalan ini menjadi bagian yang sangat penting dalam evaluasi.
Sucahyono dan Aldrian (2012) menjelaskan bahwa salah satu komponen utama kegiatan adaptasi perubahan iklim di antaranya adalah kajian dan studi atau evaluasi dampak.Evaluasi dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia dilakukan dengan pendekatan sektoral. Pertanian dan perikanan tangkap di laut merupakan dua sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim. Di sisi lain, sebagian besar penduduk miskin di Indonesia bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan dan tinggal di perdesaan. Oleh karena itu kedua sektor yang menjadi fokus evaluasi ini adalah sektor pertanian dan perikanan tangkap laut.
9 Teknik evaluasi yang digunakan dalam kegiatan evaluasi ini adalah sebagai berikut:
a. Pengumpulan dan pengolahan data/informasi
Data dan informasi berupa hasil laporan, penelitian, berita di media, baik dari dalam maupun luar negeri yang terkait dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan. Selain itu, dokumen perencanaan maupun laporan kegiatan baik dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah juga menjadi bahan referensi penyusunan laporan evaluasi ini.
b. Pengolahan dan analisis data
Pengolahan dan analisis berbagai data sekunder dalam kerangka pemetaan dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di Indonesia.
c. Focus Group Discussion
Kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan dan membahas hasil yang diperoleh pada butir a dan b. Selain itu juga sebagai sarana membahas berbagai upaya daerah dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di daerah.
d. Kunjungan ke daerah
Pelaksanaan kunjungan ke daerah dilakukan ke 5 (lima) provinsi yaitu Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
e. Konsinyering
Kegiatan ini sebagai finalisasi berbagai kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya ke dalam bentuk laporan akhir kegiatan evaluasi.
10 Tabel1 Tabel kerangka pentahapan kegiatan evaluasi
11
2. Tinjauan Literatur
Tinjauan literatur untuk evaluasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kemiskinan di Indonesia terbagi ke dalam lima bagian. Bagian pertama dan kedua berisi penjelasan ringkas mengenai kondisi iklim di Indonesia serta penjelasan mengenai perubahan iklim. Pada bagian ini bahan referensi utama bersumber dari tulisan berjudul Perubahan Iklim (Sucahyono dan Aldrian, 2012) dalam buku Perubahan Iklim: upaya peningkatan pengetahuan dan adaptasi petani dan nelayan (Hidayati, Aldrian, Sucahyono et al. 2012). Bagian ketiga menjelaskan definisi dan konsep kemiskinan dari berbagai lembaga dalam dan luar negeri. Selanjutnya pada bagian keempat dijelaskan keterkaitan antara perubahan iklim dengan kemiskinan. Publikasi laporan, tulisan ilmiah, dan surat kabar menjadi bahan referensi utama. Tinjauan mengenai hasil studi dan laporan terkait dampak perubahan iklim di Indonesia terdapat pada bagian akhir.
Kondisi iklim di Indonesia
Setiap wilayah di muka bumi memiliki iklim yang berbeda. Iklim di suatu tempat dipengaruhi oleh letak lintang, lereng, ketinggian, serta seberapa jauh tempat tersebut dari perairan dan juga keadaan arus lautnya. Perbedaan iklim di bumi dikarenakan bentuk bumi yang bulat yang menyebabkan distribusi penerimaan sinar matahari tidak merata untuk setiap permukaan bumi. Bervariasinya bentuk topografi bumi juga menyebabkan perbedaan dalam merespon radiasi matahari yang diterima.
Wilayah Indonesia yang berbentuk negara kepulauan juga mempengaruhi kondisi iklim yang terjadi. Secara umum Indonesia termasuk ke dalam iklim tropis, yaitu rata-rata suhu udara panas dengan perbedaan secara ruang tidak signifikan. Iklim di Indonesia juga dicirikan dengan suhu udara dan kelembaban udara yang tinggi.
Tjasjono (1999 dalam Visa, n.d) menjelaskan curah hujan di Indonesia dipengaruhi oleh monsoon yang digerakkan oleh adanya sel tekanan tinggi dan sel tekanan rendah di benua Asia dan Australia secara bergantian. Pada bulan Desember, Januari, dan Februari, terjadi musim
12 dingin di belahan bumi utara akibat adanya sel tekanan tinggi di benua Asia, sedangkan di belahan bumi selatan pada waktu yang sama terjadi musim panas, akibat terjadi sel tekanan rendah di benua Australia. Perbedaan tekanan di kedua benua tersebut menyebabkan pada periode Desember, Januari, dan Februari bertiup angin dari tekanan tinggi ke tekanan rendah di Australia. Angin ini disebut monsoon Barat atau monsoon Barat Laut. Sebaliknya pada bulan Juni, Juli, dan Agustus, pergerakan sel tekanan tinggi di Australia menuju tekanan rendah di Asia, yang dinamakan monsoon Timur atau monsoon Tenggara.
Boks1 Pengertian iklim, cuaca, dan musim
Perubahan iklim
Perubahan iklim adalah berubahnya baik pola dan intensitas unsur iklim pada periode waktu yang dapat dibandingkan, biasanya terhadap rata-rata 30 tahun. Perubahan iklim dapat merupakan suatu perubahan dalam kondisi cuaca rata-rata atau perubahan dalam dalam distribusi kejadian cuaca terhadap kondisi rata-ratanya. Sebagai ilustrasi, berubahnya pola musim, lebih sering atau berkurangnya kejadian cuaca ekstrem, dan peningkatan luasan daerah
Iklim adalah rata-rata dan variasi dari unsur keadaan atmosfer seperti curah hujan, temperatur, tekanan, kelembaban, penguapan, angin, penyinaran matahari, selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan, tahun, hingga jutaan tahun (Sucahyono dan Aldrian, 2012).
Kurun waktu yang pada umumnya digunakan untuk menentukan iklim adalah 30 tahun.
Pengertian cuaca sedikit berbeda dengan iklim dalam hal waktu dan lokasi. Cuaca dapat diartikan sebagai kondisi atmosfer dalam waktu yang relatif singkat pada wilayah yang tidak begitu luas. Cuaca pada umumnya menyataan keadaan hujan dan suhu udara di suatu tempat dari hari ke hari. Unsur – unsur iklim sama dengan unsur – unsur cuaca.
Musim adalah pembagian tahun yang ditandai oleh adanya perbedaan rata – rata kondisi cuaca.
Terjadinya musim disebabkan adanya evolusi bumi terhadap matahari, serta adanya kemiringan sumbu bumi terhadap porosnya sebesar 23,5 derajat. Negara yang memiliki 4 musim: panas, gugur, dingin, dan semi terletak jauh dari ekuator, sementara negara yang berada dekat dengan ekuator seperti Indonesia yang beriklim tropis memiliki dua musim: hujan dan kemarau.
Pembagian musim hujan dan kemarau ini didasarkan atas frekuensi dan banyaknya curah hujan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggunakan kriteria banyaknya curah hujan selama sepuluh hari atau disebut “dasarian”.
13 rawan kekeringan dapat dipahami sebagai fenomena perubahan iklim. Fluktuasi yang periodenya lebih pendek dari beberapa dekade (misalnya 30 tahun), seperti El Nino, tidak dapat dikatakan sebagai perubahan iklim (Sucahyono dan Aldrian, 2012).
Menurut UU No. 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Perubahan Iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.
Pada skala lokal, pemahaman perubahan iklim di masyarakat berbeda-beda(Sucahyono dan Aldrian, 2012). Bagi para petani, perubahan iklim diartikan sebagai terjadinya musim hujan dan kemarau yang semakin sering dan tidak menentu, yang dapat mengganggu aktivitas petani dan mengancam hasil panen mereka. Sementara bagi para nelayan, perubahan iklim diartikan sebagai susanya membaca tanda-tanda alam (angin, suhu, astronomi, biota, arus laut) karena terjadi perubahan dari kebiasaan sehari-hari, sehingga nelayan sulit memprediksi daerah, waktu, dan jenis tangkapan. Bagi masyarakat umum, perubahan iklim dipandang sebagai ketidakteraturan musim.
Perubahan iklim secara umum berlangsung dalam waktu lama (slow pace) dan berubah secara lambat (slow onset). Perubahan iklim disebabkan baik oleh proses internal atau proses eksternal atau perubahan akibat perubahan komposisi atmosfer atau penggunaan lahan.
Perubahan berbagai parameter iklim yang berlangsung perlahan tersebut dikarenakan berbagai peristiwa ekstrem yang terjadi pada variabilitas iklim yangberlangsung secara terus menerus.
Peristiwa ekstrem menyebabkan berubahnya besaran statistik rata-rata iklim yang pada akhirnya menggeser atau merubah iklim pada umumnya. Dengan demikian pemantauan perubahan iklim dapat dilakukan dengan melakukan pemantauan kondisi iklim ekstrem. IPCC (2007) menyatakan bahwa kejadian iklim ekstrem adalah kejadian yang jarang terjadi pada tempat dan waktu tertentu, atau dengan kata lain merupakan suatu kejadian cuaca yang secara ekstrem berbeda dari keadaan biasanya, terutama menyangkut cuaca yang bukan pada musimnya.
14 Kemiskinan
Persoalan kemiskinan merupakan multidimensional problem. Definisi kemiskinan dan penyebabnya sangat beragam berdasarkan gender, usia, kebudayaan, dan konteks sosial ekonomi di mana kemiskinan terjadi. Menurut UNEP, diskusi mengenai kemiskinan tidak hanya terbatas pada aspek pendapatan, melainkan juga mencakup konsep keamanan dan kerentanan, identitas dan integrasi, serta budaya.
Boks2 Definisi Kemiskinan
Menurut definisi dari BPS, kemiskinan menurut penyebabnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor budaya di suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang atau sekelompok masyarakat sehingga membuatnya tetap melekat dengan kemiskinan. Kemiskinan seperti ini dapat dihilangkan atau dikurangi dengan mencegah faktor- faktor yang menghambat untuk melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik.
Penyebab yang kedua, kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang terjadi sebagai akibat ketidakberdayaan seseorang atau sekelompok masyarakat terhadap sistem atau tatanan sosial yang tidak adil, oleh karenanya mereka berada pada posisi tawar yang sangat lemah dan tidak memiliki akses untuk mengembangkan dan membebaskan diri mereka sendiri dari perangkap kemiskinan.
Beberapa definisi kemiskinan dari beberapa lembaga:
Kemiskinan adalah suatu kondisi kekurangan berbagai kebutuhan pokok dan kesempatan untuk memperolehnya. Dengan demikian, kemiskinan dilihat dalam berbagai aspek seperti pendidikan dasar, pelayanan kesehatan, kebutuhan gizi, kebutuhan air dan sanitasi, pendapatan, dan lapangan pekerjaan (ADB).
Kemiskinan adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kekurangan pendapatan yang berdampak pada ketidampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup (UNEP).
Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata – rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (BPS).
15 Secara konseptual, kemiskinan dibedakan menurut kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut.
Perbedaan di antara keduanya terletak pada standar penilaiannya. Standar penilaian kemiskinan relatif merupakan standar kehidupan yang ditentukan dan ditetapkan secara subyektif oleh masyarat setempat dan bersifat lokal serta mereka yang berada di bawah standar penilaian tersebut dikategorikan sebagai miskin secara relatif. Sedangkan standar penilaian kemiskinan secara absolut merupakan standar kehidupan minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang diperlukan, baik berupa makanan maupun non makanan. Standar kehidupan minimimum untuk memenuhi kebutuhan dasar ini disebut sebagai Garis Kemiskinan (GK). BPS mendefinisikan Garis Kemisikinan sebagai nilai rupiah yang harus dikeluarkan seseorang dalam sebulan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar asupan kalori sebesar 2.100 kkal/hari per kapira (Garis Kemiskinan Makanan) ditambah kebutuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang, yaitu papan, sandang, sekolah, dan transportasi serta kebutuhan individu dan rumah tangga dasar lainnya (Garis Kemiskinan Non Makanan).
Mengingat kompleksnya konsep kemiskinan yang ada, dalam evaluasi ini akan digunakan definisi kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik.
Keterkaitan antara perubahan iklim dan kemiskinan
Perubahan iklim dan kemiskinan merupakan dua persoalan utama yang tengah dihadapi oleh masyarakat global. Meskipun keduanya berada pada ranah keilmuan yang berbeda, keterkaitan di antara perubahan iklim dan kemiskinan telah banyak didiskusikan oleh banyak pihak. Isu utama yang diangkat adalah dampak dari perubahan iklim terhadap penduduk miskin.
Perubahan iklim akan menambah beban persoalan penduduk miskin. Dampak perubahan iklim terutama akan dirasakan paling berat oleh negara berkembang. Hal ini dikarenakan letak geografis dan kondisi iklimnya, ketergantungan yang tinggi pada sumberdaya alam dan sektor- sektor yang sensitif terhadap iklim, dan keterbatasan kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Lebih khusus lagi, kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim
16 adalah penduduk miskin, yang pada umumnya memiliki sumberdaya dan kapasitas yang terbatas untuk beradaptasi (IPCC 2001).
Meskipun penduduk miskin turut pula berkontribusi menyumbang gas rumah kaca, pada kenyataannya mereka justru kelompok yang paling menderita dalam menghadapi dampak dari perubahan iklim (Reid dan Swiderska, 2008). Lokasi geografi adalah faktor penentu pada kerentanan penduduk miskin. Sebagian besar dari mereka hidup di daerah pinggiran (marginal) dan rentan bencana alam terkait iklim seperti banjir, longsor, dsb.
Gambar1 Bagan konseptual dampak perubahan iklim terhadap penduduk miskin
Gambar 1 menggambarkan bagan konseptual pemikiran dampak perubahan iklim terhadap penduduk miskin. Bagan ini dibangun berdasarkan hasil tinjauan literatur guna memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara perubahan iklim dan dampaknya pada kemiskinan.
Fenomena perubahan iklim dapat dipahami dari dua sudut pandang, yaitu dari perubahan kondisi iklim rata-rata atau meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang terjadi pada rentang waktu tertentu di suatu lokasi. Kejadian bencana terkait cuaca ekstrem akan dijelaskan
17 lebih lanjut pada bab 3. Dampak perubahan iklim terhadap penduduk miskin secara tidak langsung terjadi melalui dampak yang terjadi pada sumber mata pencaharian mereka. Di Indonesia, dengan sebagian besar penduduk miskin berada di perdesaan dan berprofesi sebagai petani dan nelayan, maka sektor kelautan dan perikanan tangkap adalah dua sektor utama yang sangat berpengaruh pada mata pencaharian penduduk miskin. Kedua sektor ini sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Hertel dan Rosch (2010) menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim ditransmisikan ke penduduk miskin terutama melalui sektor pertanian.
Berbagai laporan dan hasil studi menyebutkan bahwa faktor iklim sangat berpengaruh pada hasil pertanian dan perikanan tangkap. Pada sektor pertanian, iklim merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi produktivitas tanaman padi. Kushardono et.al (1999) menjelaskan bahwa suhu dan radiasi merupakan unsur utama yang berpengaruh terhadap produktivitas tanaman semusim pada umumnya. Begitu pula dengan curah hujan, melalui pengaruhnya terhadap ketersediaan air tanah, juga menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Terkait dengan kejadian iklim/cuaca ekstrem, produksi padi di Indonesia juga sangat terpengaruh oleh fenomena ENSO yang menyebabkan banjir dan kekeringan (Boer dan Subbiah 2005; D’Arrigoa dan Wilson 2008; Naylor et al.2002, Naylor et al. 2001, dalam Perdinan dkk, 2008).
Demikian pula halnya dengan perikanan tangkap di laut, perubahan iklim juga berpengaruh terhadap aktivitas penangkapan ikan. Dampak perubahan iklim terhadap perikanan tangkap diantaranya (Surtiari dalam Hidayati dan Aldrian, 2012): a) Naiknya suhu permukaan air laut akan meningkatkan tingkat metabolisme ikan yang menyebabkan pertumbuhan ikan melambat (berkurangnya stok ikan), dan b) Nelayan tangkap tradisional dengan armada tangkap yang sederhana dan jangkauan wilayah tangkap yang terbatas sangat rentan terhadap cuaca buruk di laut yang menyebabkan berkurangnya hari melaut.
Dampak perubahan iklim yang terjadi pada lahan pertanian maupun aktivitas penangkapan ikan di laut mengurangi kesempatan para petani dan nelayan untuk mendapatkan penghasilan.
Gagal panen akibat banjir dan kekeringan, berkurangnya produktivitas hasil pertanian, berkurangnya jumlah tangkapan ikan, berkurangnya kesempatan melaut karena kondisi cuaca
18 yang tidak dapat diprediksi seperti sebelumnya, adalah sejumlah faktor yang menyebabkan petani dan nelayan tradisional sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dampak langsung perubahan iklim terhadap kemiskinan terjadi melalui dampak terhadap konsumsi rumah tangga dan dampak pada penghasilan (Hertel dan Rosch 2010, Ahmed et.al2009, Skoufias et.al 2011).
Selain dari aspek pendapatan, dampak perubahan iklim pada penduduk miskin juga dapat terjadi melalui mekanisme meningkatnya biaya hidup. Peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem akan menyebabkan rusaknya hasil pertanian dari kejadian ekstrem tersebut. Penurunan suplai hasil tanaman pangan yang signifikan berpotensi menaikkan harga bahan makanan pokok, yang akan berdampak pada penduduk miskin (Ahmed et.al, 2009).
Kekeringan yang melanda lahan pertanian dan mengakibatkan gagal panen juga berujung pada naiknya harga beras. Sejumlah daerah di Indonesia seperti Palembang di Sumatera Selatan, Semarang, dan Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah telah mengalami kenaikan harga beras di bulan September 2012, yang diakibatkan musim kemarau yang berujung kekeringan (Kompas, 4 dan 15 September 2012). Demikian pula dampak banjir pada lahan pertanian berakibat pada kenaikan harga beras. Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan lahan pertanian di dekat bantaran Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah telah mengakibatkan gagal panen (Republika, 8 November 2011 dan Okezone.com 26 Januari 2012). Dampak yang selanjutnya timbul adalah kenaikan harga beras yang semula Rp 8.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram di Sumatera Barat dan Rp 8.000 per kilogram menjadi Rp 8.500 per kilogram di Bojonegoro. Mengingat proporsi pengeluaran terbesar bagi penduduk miskin adalah untuk makanan, maka naiknya harga bahan makanan pokok seperti beras sebagai akibat berkurangnya pasokan beras karena gagal panen akibat banjir dan kekeringan tentunya berdampak langsung pada meningkatnya biaya hidup penduduk miskin.
Dampak negatif dari kenaikan harga beras seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dipahami dari sudut pandang penduduk miskin sebagai konsumen. Dari segi produsen, tentunya kenaikan harga beras ini meningkatkan penghasilan mereka. Namun demikian, hal ini hanya bersifat sementara mengingat kenaikan penghasilan mereka lebih dikarenakan
19 keuntungan yang didapat dari jumlah suplai beras yang berkurang di pasar yang pada akhirnya menaikkan harga. Jika suplai beras terus berkurang sebagai akibat banjir maupun kekeringan, tentunya dalam jangka panjang para petani juga akan mengalami kerugian.
Pengaruh kejadian iklim/cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada skala lokal mapun regional. Kekeringan yang melanda Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2012 ini telah mengancam pasokan pangan Indonesia, mengingat Indonesia sangat bergantung pada komoditas impor seperti jagung, kedelai, dan gandum. Kekeringan yang melanda hampir separuh kawasan pertanian di Midwest AS merupakan kekeringan yang paing parah yang terjadi dalam 50 tahun terakhir (Kompas, 24 Juli 2012). Produksi jagung di mana tahun lalu mencapai 376,2 juta ton menjadi 330 juta ton tahun ini. Penurunan hasil produksi juga terjadi pada produksi kedelai yang turun dari 81,25 juta ton menjadi 76,25 juta ton.
Dampak kekeringan di Amerika Serikat ini dirasakan paling berat oleh produsen tahu dan tempe karena mahalnya harga kedelai. Kenaikan harga kedelai dari sekitar Rp 5.500 per kilogram menjadi Rp 7.750 per kilogram membuat para perajin tahu dan tempe nyaris tidak memperoleh keuntungan dari usaha mereka (Kompas, 24 Juli 2012). Para perajin kecil ini bergantung pada pasokan kedelai untuk kelancaran produksi mereka. Naiknya harga kedelai akibat kekeringan yang melanda Amerika Serikat berdampak pada meningkatnya biaya hidup, baik biaya untuk produksi maupun biaya untuk konsumsi kebutuhan hidup. Jika sebelumnya penduduk miskin masih dapat mengkonsumsi bahan makanan kedelai, maka akibat kenaikan harga tersebut mereka terpaksa mengurangi konsumsi dari jumlah biasanya.
Dalam skala global, tentunya dampak perubahan iklim pada kemiskinan akan mempengaruhi upaya pencapaian tujuan pembangunan Millenium. Tabel 1 meringkas bagaimana keterkaitan antara perubahan iklim, kemiskinan, dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDG) yang pertama yaitu penanggulangan kemiskinan dan kelaparan.
20 Tabel2 Hubungan dampak perubahan iklim pada kemiskinan dan upaya pencapaian tujuan MDG untuk penanggulangan kemiskinan dan kelaparan
Perubahan pada iklim rata – rata, variabilitas, kejadian ekstrem, dan
kenaikan muka airLaut
Dampak pada kemiskinan Dampak pada Tujuan MDG No.1:
penanggulangan kemiskinan dan kelaparan
Peningkatan suhu dan perubahan pada jumlah curah hujan mengurangi hasil pertanian dan sumberdaya alam
Peningkatan kejadian bencana iklim
Penurunan hasil (output) industri dan produktivitas tenaga kerja, dampak pada perdagangan, fiskal, dan beban makroekonomi berujung pada penurunan pertumbuhan ekonomi serta upaya
penanggulangan kemiskinan
Mengurangi produktivitas dan keamanan dari mata pencaharian serta aset penduduk miskin
Meningkatnya kerentanan penduduk miskin
Perubahan iklim diperkirakan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sebagai akibat perubahan pada sistem alam dan sumberdaya alam, infrastruktur, serta
produktivitas tenaga kerja.
Penurunan dalam pertumbuhan ekonomi mempengaruhi secara langsung pada kemiskinan melalui kesempatan penghasilan yang berkurang
Perubahan iklim diperkirakan akan mengurangi aset penduduk miskin, contoh kesehatan, akses air bersih, tempat tinggal, dan infrastruktur
Perubahan iklim diperkirakan akan mengancam ketahanan pangan, khususnya di Afrika, ketahanan pangan akan semakin parah.
Sumber: dirangkum dari dokumen Climate change deepens poverty and challenges poverty reduction
strategies,Poverty and Climate Change, dan Millenium Ecosystem Assesment (ADB, DFID, EU, UNEP, UNDP, The World Bank, et .al).
Tabel 3Review hasil laporan dan studi terkait dampak perubahan iklim di Indonesia
No. Judul
1. Sisi Lain Perubahan Iklim, UNDP, 2007 Review, temuan, dan rekomendasi:
Pengaruh perubahan iklim lebih berat menimpa masyarakat palingmiskin
Sumber pendapatan penduduk miskin sangat dipengaruhi iklim, karena sebagian besar bekerja di sektor pertanian dan perikanan
Lokasi tempat tinggal penduduk miskin umumnya di daerah pinggiran yang rentan akibat bencana terkait iklim (banjir, kemarau panjang, dsb)
Beberapa wilayah sangat rentan terhadap berubah-ubahnya iklim, seperti NTT, mengalami kemarau panjang diikuti gagal panen, berdampak pada ketahanan pangan
Upaya-upaya adaptasi telah dilakukan oleh penduduk miskin secara tradisional dan turun temurun (pertanian, wilayah pesisir)
Upaya adaptasi di tiap sektor melalui program-program pembangunan yang berkelanjutan 2. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR), BAPPENAS, 2009
Review, temuan, dan rekomendasi:
Laporan dimaksudkan untuk mencakup kurun waktu 2010 – 2030
Menetapkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam 20 tahun ke depan di tiap sektor untuk adaptasi dan mitigasi
Target adaptasi ditujukan untuk sektor sumber daya air, kelautan dan perikanan, pertanian, dan kesehatan
Target mitigasi ditujukan untuk sektor kehutanan, energi, industri, transportasi, dan limbah/ persampahan
Analisis resiko sektoral untuk upaya adaptasi
Sumberdaya air
- Area yang berisiko tinggi kekurangan air:
a) Risiko sangat tinggi --> wilayah utara dan selatan Jawa Barat, wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, wilayah utara Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, NTB, dan Sulawesi Selatan
b) Risiko tinggi --> sekitar 75% wilayah Jawa dan Bali, wilayah utara, barat, dan selatan dari Pulau Lombok, dan Sulawesi Selatan - Banjir
Wilayah berisiko sangat tinggi: Daerah hilir Jawa, wilayah timur Sumatera, wilayah barat, selatan, dan timur Kalimantan, wilayah timur Sulawesi, dan wilayah selatan Papua
- Kekeringan
a) Wilayah berisiko sangat tinggi: wilayah tengah Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara b) Wilayah berisiko tinggi: sebagian besar wilayah tengah Jawa Tengah, Sumatera, dan Nusa Tenggara
Kelautan dan Perikanan
22
No. Judul
- Peraturan dan kebijakan yang ada belum ada yang secara spesifik menyebutkan perlunya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim
- Wilayah pesisir berisiko tinggi: wilayah timur Sumatera dan wilayah utara Jawa, Bali
Pertanian
- Perubahan iklim berdampak langsung dan tidak langsung terhadap produksi hasil pertanian
- Dampak perubahan iklim terhadap pertanian sangat tergantung pada lokasi dan tingkat kerentanannya (sawah di daerah pantai rentan terhadap kenaikan muka air laut)
- Produksi hasil pertanian sangat tergantung pada curah hujan dan temperatur
- Peraturan terkait iklim pada sektor pertanian: PerMen No. 47/ 2006, No. 26/2007, dan No. 14/2009
- Wilayah Jawa dan Bali sebagai produsen utama penghasil beras merupakan wilayah yang berisiko sangat tinggi terhadap kekurangan air, banjir, dan kekeringan
Berdasarkan analisis risiko pada tingkat makro di sektor sumber daya air, kelautan dan perikanan, kesehatan, dan pertanian, wilayah Pantura Jawa merupakan wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim
Program-program adaptasi dalam RPJM 2010-2014 difokuskan pada penguatan kapasitas dalam hal data, informasi, model perubahan iklim, dan analisis risiko
Pentahapan target 5 tahunan
2015: Hasil peneitian yang ekstensif mengenai dampak perubahan iklim dan pemetaan kerentanan di tingkat lokal telah tersedia, guna mendukung terwujudnya sistem database informasi untuk adaptasi
2020: Regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh setiap kementerian/ lembaga telahmengakomodir perubahan iklim
2025: Seluruh kegiatan pembangunan akan mempertimbangkan dan melaksananakan pengurangan emisi gas CO2 dan proses adaptasi lebih lanjut
2030: Seluruh risiko akan dampak perubahan iklim secara signifikan akan berkurang
3. Indonesia Country Report: Climate Variability and Climate Changes, and their Implications, Kementerian Lingkungan Hidup, 2007 Review, temuan, dan rekomendasi:
- Tipe bencana-terkait iklim yang sering terjadi di Indonesia (climate hazards) yaitu banjir, kekeringan, longsor, dan kebakaran hutan - Pada tahun 2001-2004, sekitar 530 bencana banjir dilaporkan terjadi hampir di seluruh provinsi
- Dampak El-Nino (1994,1997,2002,2003,2004,2006) pada 8 bendungan di pulau Jawa, terjadi penurunan energi listrik yang dihasilkan dari PLTA
- Perubahan iklim, hidrologi, dan muka air laut di Indonesia pada masa lalu:
Temperatur: Data (1980-2002) menunjukkan peningkatan temperatur yang signifikan
Curah hujan: Data (1950-1997) menunjukkan penurunan curah hujan tahunan di seluruh Indonesia. Selama kurun waktu 1961-1990 dan 1991-2003 di sebagian besar wilayah Sumatera awal musim hujan terlambat datang (10-20 hari), sementara musim kemarau datang lebih awal (10-60 hari)
23
No. Judul
Kenaikan muka air laut: Data kurang lengkap - Strategi ketahanan pangan jangka panjang seperti:
- mengurangi konsumsi beras - diversifikasi pangan
- peningkatan luas areal pertanian, peningkatan produktivitas - perencanaan waktu dan pola tanam
- intensifikasi dan konservasi lahan serta air
4. Climate change in Indonesia - implications for humans and nature, WWF Review, temuan, dan rekomendasi:
Temperatur Indonesia lebih hangat sejak tahun 1900, rata-rata temperatur tahunan meningkat 0.3 derajat Celcius
Penurunan curah hujan terjadi di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara), dan sebaliknya di sebagian besar wilayah Kalimantan dan Sulawesi Utara)
Sektor yang sangat rentan dan sensitif terhadap perubahan temperatur dan curah hujan: ketersediaan air dan produksi pangan (menurut IPCC dalam Cruz et al., 2007)
Kenaikan temperatur, kemarau panjang, dan banjir berdampak pada penurunan produksi pertanian
Tantangan bagi Indonesia utamanya adalah menjalankan strategi dan program adaptasi yang meningkatkan ketahanan 5. Perubahan iklim tingkatkan kemiskinan, Kompas, 21 Februari 2011
Review, temuan, dan rekomendasi:
Perubahan iklim berdampak pada penurunan produktivitas pertanian sehingga pendapatan petani semakin kecil
Akibat perubahan iklim, waktu tanam menjadi bergeser dimanadahulu musim panen dua kali setahun, kini hanya satu kali
Dua pertiga warga miskin Indonesia berada di pedesaan dan mengandalkan hidupnya dari pertanian 6. Welfare impacts of rainfall shocks in rural Indonesia, World Bank, 2011
Review, temuan, dan rekomendasi:
Penduduk miskin paling rentan terhadap dampak perubahan iklim disebabkan:
- lokasi geografi - aset yang terbatas
- kualitas sumber daya manusia yang rendah
- ketergantungan yang tinggi pada sumber daya alam untuk penghasilan dan konsumsi
24
No. Judul
7. Climate volatility deepens poverty vulnerability in developing countries, Ahmed S.A, Diffenbaugh N.S, Hertel, T.W 2009 Review, temuan, dan rekomendasi:
Studi ini menghitung kerentanan penduduk miskin akibat fluktuasi perubahan iklim, dalam konteks frekuensi dan magnitude dari kejadian musim kemarau ekstrim, kering, dan basah ekstrim. Untuk menghitung kerentanan tersebut, fokus diberikan pada respon terhadap kejadian iklim ekstrem yang terjadi sekali setiap 30 tahun
Indonesia termasuk salah satu 16 negara sampel yang dipilih
Kejadian iklim ekstrim mempengaruhi kemiskinan melalui dampaknya pada produktivitas hasil pertanian dan kenaikan harga bahan makanan pokok yang sangat penting bagi penduduk miskin di negara berkembang khususnya
Menggunakan comparative static computable general equilibrium (CGE) model
Penduduk miskin diklasifikasikan lagi berdasarkan sumber utama penghasilan: agricultural self employed (farm income), non-agricultural, urba labor, rural labor, transfer payment dependent, urban diverse, dan rural diverse
Peningkatan presentase kemiskinan akibat kejadian iklim yang terjadi sekali setiap 30 tahun berdasarkan kelompok sosial ekonomi penduduk miskin di Indonesia dengan data tahun 2001 adalah agricultural (29.5 %), non agricultural (12.1%), urban labor (19.2 %), rural labor (23.9 %), transfer 5.9 %, urban diverse 17.9 %, rural diverse 19 %
8. Perubahan iklim: Upaya peningkatan pengetahuan dan adaptasi petani dan nelayan melalui radio, ICCTF - BMKG – LIPI, 2012 Review, temuan, dan rekomendasi:
Beberapa dampak perubahan iklim di Indonesia:
Pergeseran musim
Sepanjang tahun 2010 hampir seluruh kawasan Indonesia hanya mengalami musim hujan. Dampak dari anomali iklim ini dirasakan di berbagai sektor, baik pada produksi pertanian dan perkebunan, perikanan, transportasi, dan gangguan spesies hewan atau tumbuhan tertentu. Musim hujan sepanjang tahun menyebabkan mundurnya musim tanam dan ledakan populasi ulat bulu di Pulau Jawa
Meningkatnya puting beliung
Angin puting beliung sering terjadi pada musim pancaroba atau pada musim penghujan jika pada periode musim penghujan diikuti dengan udara panas tiga hari atau pada hari sebelumnya. Sepanjang tahun 2007 - Maret 2008 telah terjadi 23 kejadian puting beliung di wilayah Jawa Barat, termasuk Provinsi Banten dan DKI Jakarta
Meningkatnya cuaca ekstrem
Kebakaran hutan akibat kemarau panjang tahun 2002, 2004, dan 2006, serta musim hujan sepanjang tahun 2010
Perubahan frekuensi kejadian El Nino dan La Nina
Dampak El Nino tidak sama untuk seluruh wilayah Indonesia (Aldrian dan Susanto, 2003), tergantung pada pola curah hujan suatu daerah. Daerah dengan pola hujan monson dipengaruhi kuat oleh El Nino. Perubahan iklim menyebabkan frekuensi kejadian El Nino akan meningkat dan mengakibatkan kekeringan terjadi lebih sering di wilayah Indonesia
ROB , gelombang tinggi, penyebaran penyakit, ketersediaan air, dan perubahan biodiversitas
25
No. Judul
Beberapa temuan hasil kajian mengenai pemahaman petani dan nelayan di 5 kabupaten dan kota (Kab. Indramayu, Kota Batu, Kab. Serdang Bedagai, Kota Baubau dan Kamal Muara, Jakarta Utara) terkait perubahan iklim serta adaptasi yang dilakukan
Petani lebih banyak melakukan tindakan adaptasi yang bersifat jangka pendek. Pada kejadian anomali iklim tahun 2010-2011 (hujan sepanjang tahun), sebagian besar petani mempertahankan tanamannya dengan memberikan pupuk sebanyak-banyaknya. Pertimbangan jangka panjang yang tidak diperhatikan adalah dampak penggunaan pupuk yang berlebihan terhadap kualitas tanah dan produksi tanaman.
Tindakan adaptasi lainnya adalah merubah jenis bibit atau benih, merubah waktu tanam, memperbaiki irigasi, dan merubah cara pengolahan tanah
Kemampuan adaptasi oleh nelayan sangat ditentukan oleh jenis nelayannya. Nelayan tradisional dengan alat tangkap sederhana memiliki kemampuan adaptasi yang relatif kurang, terutama karena keterbatasan modal yang dimiliki. Cara beradaptasi menghadapi kondisi cuaca ekstrem diantaranya dengan tidak melaut sementara atau dengan menyiasati teknik melaut seperti merubah alat tangkap dan armada tangkap, dan merubah wilayah tangkap serta waktu melaut
Pada studi ini, program di radio dipilih menjadi media dalam sosialisasi perubahan iklim kepada petani dan nelayan
3. Perkembangan Perubahan Iklim dan Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Perubahan iklim rata-rata
Perubahan iklim pada dasarnya telah berlangsung sejak jutaan tahun yang lalu sebagai mekanisme alami yang terjadi di atmosfer bumi. Seiring dengan bertambahnya penduduk manusia dan berbagai aktivitas manusia yang berdampak langsung pada lingkungan, perubahan iklim tidak lagi hanya disebabkan oleh peristiwa alam. Kemajuan pembangunan ekonomi di berbagai belahan dunia berdampak pada kondisi iklim global di permukaan bumi.
Kondisi suhu di Indonesia mulai meningkat sejak abad ke-20. Kenaikan temperatur di Indonesia tercatat telah meningkat sekitar 0,3oC sejak tahun 1900. Tahun 1990-an menjadi dekade terpanas pada abad ini dan tahun 1998 adalah tahun terpanas – hampir 1oC di atas rata-rata periode 1961 – 1990 (Hulme dan Sheard, 1999). Beberapa parameter perubahan iklim di Indonesia pada periode 2001 – 2012 disajikan pada beberapa gambar berikut.
Gambar 2 Trend suhu minimum, maksimum, dan rata-rata di wilayah Indonesia periode 2003- 2012
27
Sumber: Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, BMKG 2012
Gambar di atas menunjukkan bahwa telah terjadi trend kenaikan suhu minimum dan maksimum di wilayah Indonesia pada periode 2003 – 2012. Trend kenaikan suhu minimum tertinggi terjadi merata di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, sebagian besar wilayah Kalimantan, sebagian kecil wilayah Sulawesi dan Papua. Sementara itu, trend kenaikan suhu maksimum tertinggi terjadi di wilayah Sumatera, sebagian kecil wilayah Kalimantan, Sulawesi, NTB dan NTT, Maluku dan sebagian besar wilayah Papua.
Jika dilihat dari tingkat gradasi warna yang ditunjukkan, maka dapat disimpulkan bahwa trend kenaikan suhu minimum lebih tinggi dibandingkan dengan trend kenaikan suhu maksimum di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada periode 2003 – 2012, terjadi peningkatan suhu minimum di wilayah Indonesia sekitar 0.01 - 0.03oC/bulan. Untuk kondisi trend suhu rata-rata, terlihat bahwa hanya wilayah Jawa yang mengalami kenaikan trend suhu rata-rata tertinggi sekitar 0.02oC/bulan, diikuti oleh sebagian wilayah Sumatera berkisar antara 0-0.01oC/bulan.
Semakin meningkatnya suhu udara baik suhu minimum, maksimum maupun suhu rata-rata akan memberikan dampak fisik bagi manusia. Kecenderungan kenaikan suhu minimum mengindikasikan bahwa suhu pada malam hari akan cenderung semakin naik, hal tersebut akan menimbulkan semakin tidak nyamannya udara pada malam hari akibatnya manusia akan lebih banyak menggunakan pendinginan ruangan sehingga terjadi pemborosan energi.
Selain pemborosan energi, semakin hangat suhu udara pada malam hari (25 – 27 oC) akan
28 memicu semakin meningkatkan perkembangbiakan nyamuk (Epstein et al 1998 dalam Suwito dkk, 2010). Sedangkan kenaikan suhu maksimum mengindikasikan semakin panasnya suhu udara pada siang hari, kondisi ini akan memicu semakin meningkatnya potensi terjadinya kebakaran.
Gambar 3 Trend curah hujan musiman di wilayah Indonesia periode 2003-2012
Sumber: Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, BMKG 2012
Untuk trend curah hujan musiman di wilayah Indonesia selama periode 2003 – 2012, terlihat beberapa wilayah yang mengalami penurunan curah hujan cukup signifikan (Gambar 3).
Penurunan curah hujan paling tinggi hingga sekitar 100 mm/tahun (bulan September, Oktober, dan November) terjadi di wilayah Sumatera bagian utara. Wilayah Jawa bagian barat juga demikian dengan tingkat penurunan sekitar 50 mm/tahun (bulan Desember, Januari, dan
29 Februari). Sebaliknya, peningkatan curah hujan yang cukup tinggi sekitar 150 – 175 mm/tahun terjadi di wilayah Sulawesi bagian tengah dan selatan (bulan September, Oktober, dan November), dan peningkatan sangat tinggi sekitar 250 mm/tahun (bulan Juni, Juli, dan Agustus) terjadi di wilayah Maluku dan sebagian wilayah Papua.
Semakin meningkatnya curah hujan pada musim penghujan akan semakin meningkatkan potensi terjadinya banjir dan tanah longsor, sebaliknya semakin berkurangnya curah hujan pada musim kemarau akan semakin meningkatkan potensi terjadinya kekeringan. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah dan masyarakat karena bencana banjir maupun kekeringan yang terjadi dapat menimbulkan jumlah kerugian yang sangat besar.
Gambar 4 menunjukkan trend suhu air laut di wilayah Indonesia selama periode tahun 2003 – 2012. Secara umum dapat terlihat bahwa peningkatan trend suhu air laut sebesar 0.01 – 0.02oC terjadi hampir merata di seluruh perairan Indonesia. Kondisi trend suhu air laut di wilayah Samudera Pasifik menunjukkan trend penurunan, hal tersebut berkebalikan dengan kondisi trend suhu air laut di wilayah perairan Indonesia. Hal tersebut menjadi suatu hal yang menarik, karena konektivitas antara suhu air laut di perairan Indonesia dengan suhu air laut Samudera Pasifik memegang peranan penting dalam mempengaruhi kondisi iklim di wilayah Indonesia.
Pada saat suhu air laut di Samudera Pasifik mengalami pendinginan (anomali negatif) bersamaan dengan itu suhu air laut di perairan Indonesia menghangat (anomali positif) maka kondisi iklim (curah hujan) di wilayah Indonesia akan cenderung lebih basah, kondisi tersebut lebih dikenal dengan fenomena La Nina. Sebaliknya, pada saat suhu air laut di Samudera Pasifik menghangat (anomali positif) bersamaan dengan itu suhu air laut di perairan Indonesia mengalami pendinginan (anomali negatif) maka kondisi iklim (curah hujan) di wilayah Indonesia akan cenderung lebih kering, kondisi tersebut lebih dikenal dengan fenomena El Nino. Apabila melihat trend suhu air laut antara kedua perairan yang saling berkebalikan, maka fenomena La Nina yang terjadi saat ini cenderung semakin kuat.
30 Gambar 4Trend suhu air laut di perairan Indonesia
Sumber: Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, BMKG 2012
Kenaikan Tinggi Muka Laut (TML) merupakan salah satu konsekuensi akibat terjadinya pemanasan global. Analisis perubahan tinggi muka air laut di antara periode 2001 – 2008 (gambar 5) dilakukan oleh Ibnu Sofyan et.al (2011). Gambar 5 menunjukkan perubahan TML menggunakan data altimeter berdasarkan analisa komparatif selama 7 tahun. Kenaikan TML bervariasi antara 2 cm sampai 12 cm, dan rata-rata kenaikan sebesar 6 cm. Kenaikan TML terbesar terjadi di Samudera Pasifik bagian barat dengan kenaikan sebesar 8 cm, dan terendah terjadi di pantai selatan Pulau Jawa, Laut Cina Selatan, dan pantai barat Filipina, tepatnya di lokasi Mindanao Eddy atau Pusaran Mindanao. Perbedaan tingkat kenaikan TML antara
31 Samudera Pasifik dan Hindia mungkin berdampak terhadap perubahan karakteristik Indonesia Through Flow (ITF) yang akan merubah pola iklim regional di Indonesia. Tingginya kenaikan TML di Samudera Pasifik dibandingkan dengan Samudera Hindia mempertinggi intensitas transport massa air laut hangat dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Pada akhirnya peningkatan intensitas ITF ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pola hujan lokal di Indonesia.
Gambar 5 Rata-rata tinggi muka laut (TML) tahun 2001-2008 dikurangi rata-rata TML tahun 1993-2000
Sumber: Sofyan et. al 2011
Kejadian iklim ekstrem
Kejadian iklim ekstrem di Indonesia biasanya terkait fenomena El Nino Southern Oscillation atau ENSO, karena Indonesia terletak di antara dua samudera, yaitu Pasifik dan Hindia. Kejadian El Nino akan menyebabkan kekeringan di wilayah Indonesia terutama di wilayah yang mempunyai pola curah hujan monsunal. Kejadian La Nina akan menyebabkan peningkatan curah hujan dan kejadian banjir (Bell et al 1999 dalam Sucahyono dan Aldrian, 2012;
Kementerian Lingkungan Hidup, 2010). Dalam Laporan Indonesia Country Report: Climate Variability and Climate Changes and Their Implication tahun 2007, disebutkan bahwa ENSO mempengaruhi curah hujan tahunan di Indonesia melalui: i) musim kemarau lebih panjang ketika El Nino terjadi dan musim kemarau lebih pendek ketika La Nina terjadi, ii) Awal musim hujan datang terlambat ketika El Nino dan lebih awal ketika La Nina, iii) pengurangan signifikan
32 pada jumlah curah hujan pada musim kemarau ketika El Nino dan peningkatan curah yang signifikan di musim kemarau ketika terjadi La Nina; dan iv) kekeringan muncul pada musim hujan, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Gambar 6 Peta anomali curah hujan tahun 2010 dibanding curah hujan rata-rata periode 2003-2012
Sumber: Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, BMKG 2012
Selama periode 2001 – 2011, tahun 2010 merupakan tahun terjadinya anomali iklim yang sangat signifikan yang melanda wilayah Indonesia (Gambar 6). Hal ini ditandai dengan fenomena kemarau basah sehingga sepanjang tahun terjadi musim hujan. Kejadian ini merupakan salah satu contoh iklim ekstrem sebagai akibat terjadinya perubahan iklim di Indonesia (Sucahyono dan Aldrian, 2012). Pada tahun 2010 terjadinya fenomena La Nina memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi curah hujan di wilayah Indonesia, terlebih pada saat musim kemarau (Juni –November). Dimana pada musim kemarau (Juni, Juli,
33 Agustus dan September, Oktber, November) curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan, terlebih di wilayah Indonesia sebelah selatan ekuator. Berdasarkan gambar di atas pada periode JJA dan SON, telah terjadi peningkatan curah hujan yang sangat signifikan yakni hingga mencapai 250% terhadap rata-rata curah hujan periode tahun 2003 – 2010 dalam periode musim yang sama. Kondisi tersebut menjadikan musim kemarau tahun 2010 dikenal sebagai kemarau basah, karena jumlah curah hujan yang terjadi pada saat itu sangatlah besar. Sedangkan pada musim hujan (Desember-Mei) jumlah curah hujan di wilayah Indonesia tahun 2010 juga mengalami peningkatan meskipun peningkatannya tidak sebesar periode musim kemarau (Juni-November).
Bencana iklim
Fenomena ENSO juga sering dikaitkan dengan terjadinya bencana iklim. Tipe bencana iklim yang sering terjadi di Indonesia pada umumnya berupa banjir, kekeringan, longsor, dan kebarakaran hutan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2007). Selain disebabkan oleh fenomena ENSO, bencana iklim di Indonesia juga disebabkan oleh lokasi dan pergerakan badai siklon tropis di Samudera Hindia sebelah selatan selama bulan Januari hingga April dan Samudera Pasifik sebelah timur pada bulan Mei hingga Desember. Dampak badai tropis di wilayah Indonesia biasanya berupa angin kencang dan hujan deras selama beberapa hari. Pada tahun 2001 – 2004, sekitar 530 bencana banjir dilaporkan terjadi hampir di seluruh provinsi (Kementerian Lingkungan Hidup, 2007).
Dalam skala regional, Handayani (2010) menyebutkan bahwa bencana akibat cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, badai, gelombang pasang di wilayah Sumatera antara tahun 1965 - 2007 berjumlah 245 kejadian, di mana 22 % dari total kejadian terjadi di Sumatera Utara. UNDP (2007) menyebutkan bahwa wilayah Indonesia sangat rentan terhadap banyak ancaman yang berkaitan dengan iklim seperti banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan (Gambar 7).
34 Gambar 7 Tingkat kerawanan terhadap bencana alam
Sumber: UNDP 2007
Perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia periode 2001-2011
Jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia cenderung menurun selama periode 2001 – 2011 (Gambar 8 dan 9). Pada tahun 2001, persentase penduduk miskin baik di desa dan kota tercatat sebanyak 18,4 persen (37,9 juta orang). Angka kemiskinan terus menurun dan mencapai 35,1 juta orang (15,9 persen dari total penduduk) pada tahun 2005. Angka kemiskinan meningkat menjadi 17,7 persen (39,3 juta orang) pada tahun 2006, atau meningkat sebanyak 6,6 persen (4,2 juta orang) dibanding tahun 2005. Kenaikan tingkat kemiskinan ini sebagai akibat dari kebijakan pemerintah menaikkan harga minyak pada tahun 2005 yang berdampak pada meningkatnya harga-harga kebutuhan dasar.
35 Gambar8Jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut daerah tahun 2001-2011
Sumber: BPS
Selama periode 2007 – 2011, angka kemiskinan kembali turun. Tahun 2007 penduduk miskin tercatat sebanyak 37,17 juta orang (16,5 persen). BPS (2011) dalam laporan Data Strategis 2011 menyebutkan bahwa beberapa program pemerintah yang ditujukan bagi penduduk miskin dijalankan pemerintah sejak tahun 2005 memiliki dampak positif bagi penurunan angka kemiskinan. Seperti terlihat pada gambar, jumlah dan persentase penduduk miskin terus menurun. Pada tahun 2011, persentase penduduk miskin menurun menjadi 12.4 persen (30,01 juta orang).
0 10 20 30 40 50
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Jumlah (juta)
Tahun
Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah Tahun 2001-2011
Kota Desa Kota+Desa
36 Gambar 9 Persentase penduduk miskin di Indonesia menurut daerah tahun 2001-2011
Sumber: BPS
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Kota 9.8 14.5 13.6 12.13 11.68 13.47 12.52 11.65 10.72 9.87 9.23 Desa 24.8 21.1 20.2 20.11 19.98 21.81 20.37 18.93 17.35 16.56 15.72 Kota+Desa 18.4 18.2 17.4 16.66 15.97 17.75 16.58 15.42 14.15 13.33 12.49
0 5 10 15 20 25 30
Persentase (%)
Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah Tahun 2001-2011
Kota Desa Kota+Desa
37
4. Pemetaan dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan
Penduduk miskin sebagai kelompok yang paling rentan
Dinamika kehidupan masyarakat akan selalu dihadapkan pada berbagai kondisi yang potensial mengancam kehidupan mereka, seperti perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan, serta perubahan sosial ekonomi. UNEP (2009) menyebutkan bahwa kerentanan didefinisikan sebagai potensi suatu sistem mengalami dampak buruk seperti kerugian dan kerusakan sebagai akibat faktor tekanan eksternal. Tekanan eksternal di sini dapat berupa perubahan iklim, termasuk keragaman iklim, dan iklim ekstrem. Kerentanan dipandang sebagai suatu fungsi dari tingkat keterpaparan (exposure), tingkat sensivitas pada dampak, dan kemampuan beradaptasi.
Tingkat sensitivitas merupakan kondisi internal dari sistem yang menunjukkan derajat kerawanannya terhadap gangguan. Sementara kemampuan adaptasi menunjukkan kemampuan suatu sistem melakukan penyesuaian untuk mengurangi dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif. Dalam bentuk persamaan matematis, Kates (2001 dalam Tubiello et.al 2008) memaparkan konsep kerentanan (vulnerability) sebagai berikut:
Vulnerability = (Exposure, Sensitivity (Exposure), Adaptive Capacity)
Keterpaparan yang dimaksud dapat berupa bencana alam seperti kekeringan, fluktuasi harga, serta kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan lainnya. Tingkat keparahan akibat dampak tidak hanya tergantung pada jenis paparan, tetapi juga sensivitas dari obyek atau subyek yang terkena, serta kemampuan beradaptasi.
Kerentanan terhadap perubahan iklim menurut UNEP (2009) dapat dipahami sebagai kondisi masyarakat atau komunitas yang tinggal di suatu wilayah yang juga rentan baik karena lokasi geografinya (contoh daerah pesisir) atau rentan terhadap dampak perubahan iklim di wilayah tersebut (banjir di lahan pertanian, kota pesisir pantai, dsb). Dengan kata lain, kerentanan