BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Emosi
2.3.7. Dampak Emosi pada Perempuan yang Mengalami
Seperti yang di sebutkan diatas tadi bahwa fisik, lingkungan dan pengalaman adalah mempengaruhi emosi perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hal itu diperkuat dengan Johana (2006) bahwa perempuan profesional yang bekerja mampu menangkap dan mengartikan dan menilai emosi dasar manusia seperti jijik, marah, sedih, takut,senang dan terkejut, namun perempuan menilai rasa malu lebih intens dari pada pria. Hampir semua emosi negatip mewakili perasaan yang timbul akibat kekerasan yang dialami nya. Emosi itu bercampur aduk sehingga mengakibatkan ketidakstabilan emosi. Apabila ketidakstabilan emosi itu di biarkan akan berujung pada kecemasan, stress, depresi bahkan tindakan ingin bunuh diri.
A. Kecemasan
Kecemasan berkaitan dengan tidak pasti dan tidak berdaya, keadaan emosi ini tidak mempunyai obyek yang spesifik. Kecemasan berbeda dengan rasa takut, yang merupakan intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Perbedaan rasa takut dan kecemasan, ketakutan adalah merasa gentar atau tidak berani terhadap objek (Kartini Kartono, 1998). Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam realitas, kepribadian masih utuh namun perilaku masih dalam batas normal (Dadang hawari, 2011).
1. Ciri Kepribadian Pencemas
Seseorang akan menderita gangguan cemas mana kala yang bersangkutan tidak mampu mengatasi stressor psikososial yang dihadapinya. Tetapi orang-orang tertentu meskipun tidak ada stressor psikososial, yang bersangkutan menunjukkan kecemasan juga, yang ditandai dengan corak atau kepribadian pencemas, yaitu antara lain : (1) Memandang masa depan dengan was-was, (2) Kurang percaya diri, gugup apabila tampil dimuka umum, (3) Sering merasa tidak bersalah, menyalahkan orang lain, (4) Tidak mudah mengalah, (5) Gerakan sering serba salah, (6) Sering kali mengeluh ini dan itu (keluhan-keluhan somatik), Khawatir yang berlebihan terhadap penyakit, (7) Mudah tersinggung, (8) Suka membesar-besarkan masalah yang kecil, (9) Dalam mengambil keputusan, sering mengalami rasa bimbang dan ragu, (10) Bila mengemukakan sesuatu atau bertanya sering kali berulang-ulang (11) Kalau sedang emosi sering kali bertindak histeris (Dadang Hawari, 2011)
2. Jenis Tingkat Kecemasan
Stuart (2007) mengidentifikasi ansietas (cemas) dalam 4 tingkatan, setiap tingkatan memiliki karakteristik dalam persepsi yang berbeda, tergantung kemampuan individu yang ada dan dari dalam dan luarnya maupun dari lingkungannya, tingkat kecemasan atau pun ansietas yaitu :
a. Cemas Ringan : cemas yang normal menjadi bagian sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
b. Cemas sedang : cemas yang memungkinkan sesorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting. c. Cemas berat : cemas ini sangat mengurangi lahan persepsi individu
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal yang lain. Semua prilaku ditunjukkan untuk mengurangi tegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
d. Panik : Tingkat panik dari suatu ansietas berhubungan dengan ketakutan dan mampu melakukan suatu walaupun dengan pengarahan, panik mengakibatkan disorganisasi kepribadian, dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran
yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart & Sundent, 2000).
Kecemasan dapat menyebabkan penurunan frekuensi, kekuatan, dan ketertarikan dalam interaksi komunikasi pada individu sehingga individu memiliki keengganan dalam berkomunikasi. Kecemasan yang tinggi menghindari situasi komunikasi, namun saat individu didorong untuk berpartisipasi, individu tersbut akan berkomunikasi sesedikit mungkin. Individu-individu yang mengalami kecemasan yang tinggi akan merasa kurang puas dengan pekerjaan mereka, mungkin karena mereka kurang berhasil dalam membangun hubungan–hubungan interpersonal. Semua perilaku ini tidak mengartikan bahwa kecemasan terjadi pada orang yang tidak bahagia. Kebanyakan individu yang cemas telah belajaratau dapat belajar untuk menangani kecemasan berkomunikasi mereka.
Ciri-ciri kecemasan menurut DSM IV yaitu perasaan ketakutan, terganggu konsentrasi, merasa tegang dan gelisah, antisipasi yang buruk, cepat marah dan resah, merasakan ada tanda bahaya, jantung berdebar, berkeringat, mual atau pusing, peningkatan frekwensi buang air besar, sesak nafas, ketegangan otot, sakit kepala dan kelelahan serta insomnia.
B. Stress
1. Definisi Stres
Stress adalah interaksi antara individu dan lingkungan yang ditandai oleh ketegangan emosional dengan berpengaruh terhadap kondisi mental dan fisik seseorang. Stress adalah sebagai ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan respon di bawah suatu kondisi dimana kegagalan sejalan dengan tuntutan yang mempunyai konsekuensi penting (Jefrey, 2003)
Menurut Dadang Hawari (2001) stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap
stressor psikososial. Secara umum Sunaryo (2004) stres adalah reaksi tubuh terhadap
situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan dan emosional. Stres juga merupakan suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang menimbulkan ketegangan dalam diri seseorang. Di kuatkan oleh Zulfan (2012) bahwa stress merupakan reaksi tubuh dan psikis terhadap tuntutan lingkungan kepada seseorang 2. Penggolongan Stress
Menurut Sri kusmiati (dalam Sunaryo,2004)dapat di golongkan:
a. Stress fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang atau tersengat arus listrik. b. Stress kimiawi, disebabkan oleh prose kimiawi, gas beracun, hormone,
obat-obatan.
c. Stress mikrobiologik, disebabkan virus, bakteri dan parasit.
d. Stress Psikis dan emosional disebabkan oleh gangguan interpersonal,sosial, budaya dan agama.
Selye (dalam Abdul, 2011) menggolongkan stres menjadi dua golongan ; a. Distress (stres negatif) Selye menyebutkan distress merupakan stres yang
merusak atau bersifat tidak menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
b. Eustress (stres positif) Selye menyebutkan bahwa eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan. Hansaon (dalam Rice, 1992) mengemukakan frase joy of stress untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari adanya stres. Eustress dapat mengakibatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi, dan performansi individu. Eustress juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya karya seni.
3. Faktor Predisposisi Stress
Berbagai jenis unsur mempengaruhi bagaiman seseorang individu merasakan dan merespons suaty peristiwa yang menimbulkan stress. Faktor predisposisi ini sangat berperan dalam menentukan apapun suatu respon adaptif atau maladaptif. Jenis faktor predisposisi adalah genetik, pengalaman masa lalu dan kondisi saat ini. Pengaruh genetik adalah keadaan kehidupan seseorang yang memperoleh keturunan. Pengalaman masa lalu adalah kejadian yang menghasilkan suatu pola pembelajaran yang dapat mempengaruhi respon penyesuaian individu, termasuk pengalaman sebelumnya terhadap tekanan stress tersebut atau tekanan lainnya.
Kondisi saat ini yang meliputi faktor kerentanan yang mempengaruhi kesiapan fisik, psikologis, dan sumber sosial individu untuk menghadapi tuntutan nya (Ermawati,2010)
4. Penyebab Stress
Taylor (dalam Abdul, 2011) merinci beberapa karakteristik kejadian yang berpotensi dan dinilai dapat menciptakan stress yaitu :
a. Kejadian negative agaknya lebih banyak menimbulkan stress dari pada kejadian positip.
b. Kejadian yang tidak terkontrol dan tidak terprediksi lebih membuat strss daripada kejadian terkontrol dan terprediksi.
c. Manusia yang tugasnya melebihi kapasitas lebih mudah mengalami stress dari pada orang yang lebih sedikit.
Sunaryo (2004) mengatakan faktor yang mempengaruhi stress: (a) Faktor biologis:konsitusi tubuh, kondisi fisik, neurofisiologik dan neurohormonal, (b) faktor psikoedukatif yaitu perkembangan kepribadian, pengalaman dan kondisi lain yang mempengaruhi. Berbeda dengan Maramis (dalam Sunaryo,2004) sumber stress
psikologik adalah frustasi, konflik, tekanan dan krisis.
5. Kemampuan Individu Menahan Stress
Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menahan stress. Hal ini bergantung pada (1) sifat dan hakikat stress; yaitu intensitas, lamanya, lokal dan umum,(2) Sifat Individu yang terkait proses adaptasi. Menurut Prof. Dadang
Hawari (2001) bahwa stress apabila ditinjau dari tipe kepribadian individu dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Tipe yang rentan
Mempunyai ciri; ambisius, agresif, kompetitif yang kurang sehat, banyak jabatan rangkap, emosional, terlalu percaya diri, self kontrol yang kuat, sifat kaku, terlalu waspada, organisatoris, leader, workaholic, kurang rileks dan sering terburu-buru, Kurang ramah dan sulit dipengaruhi, tak mudah bergaul
2. Tipe yang Kebal
Mempunyai ciri: ambisi nya wajar,berkompetisi secara sehat, tidak agresif, cara bicara tenang, tidak memaksakan diri dalam menghadapi tantangan, mudah bergaul dan ramah.
6. Gejala dan Tanda-Tanda Stress
a. Fisik, yaitu mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, sakit kepala, gelisah, dan lain-lain.
b. Perilaku yaitu perasaan bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, serta kehilangan semangat. c. Watak dan kepribadian yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yang berlebihan,
cemas menjadi lekas panik, kurang percaya diri, dan lain-lain.
d. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung, suasana hati mudah berubah-ubah, mudah menangis dan depresi, gugup.
e. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun berlebihan.
f. Interpersonal, yaitu acuh dan mendiamkan orang lain, menutup diri secara berlebihan (Cooper, 1995). Sering berkemih dan libido menurun ditambah kan oleh Dadang hawari (2011).
7. Tahap-Tahap Stress
a. Tahap peringatan : ada respon fisiologis yang rumit yang dialami adanya stresor,. munculnya ketegangan otot, detak jantung meningkat.
b. Tahap resistensi : tubuh menggunakan seluruh kemampuannya untuk melawan reaksi stress.
c. Tahap kelelahan : sumber daya habis, resistensi menurun. Penyakit atau kematian datang.
C. Depresi
1. Definisi Depresi
Depresi adalah gangguan mental umum yang menyajikan dengan mood depresi, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, tidur terganggu atau nafsu makan, energi rendah, dan hilang konsentrasi. Masalah ini dapat menjadi kronis atau berulang dan menyebabkan gangguan besar dalam kemampuan individu untuk mengurus tanggung jawab sehari-harinya (WHO, 2011). Episode depresi biasanya berlangsung selama 6 hingga 9 bulan, tetapi pada 15-20% penderita bisa berlangsung selama 2 tahun atau lebih.
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri. Depresi juga merupakan sebuah kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP ( Kaplan, 2007). Hal Ini diperkuat oleh Abdul Nasir (2011) Depresi adalah keadaaan emosional yang ditandai kesedihan yang sangat, perasaan bersalah, menarik diri, kehilangan minat tidur dan melakukan hubungan sex juga hal yang menyenangkan lainnya. Orang yang mengalami depresi memiliki cirri: (a) Sulit berkonsentrasi, kata monoton, suara pelan, (b) Memilih untuk sendirian dan berdiam diri, atau justru tak bisa diam, (c) Sulit menemukan solusi permasalahan.
2. Penyebab Depresi
Dasar penyebab depresi yang pasti tidak diketahui, banyak usaha untuk mengetahui penyebab dari gangguan ini. Menurut Kaplan, faktor-faktor yang dihubungkan dengan penyebab depresi dapat dibagi atas: faktor biologi, faktor genetik dan faktor psikososial. Dimana ketiga faktor tersebut juga dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
a. Faktor Biologi
Faktor neurotransmiter: Dari biogenik amin, norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood. Norepinefrin hubungan yang dinyatakan oleh penelitian ilmiah dasar antara turunnya regulasi reseptor B-adrenergik dan respon antidepresan secara klinis memungkinkan indikasi peran sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti-bukti
lainnya yang juga melibatkan presinaptik reseptor adrenergik dalam depresi, sejak reseptor reseptor tersebut diaktifkan mengakibatkan penurunan jumlah norepinefrin yang dilepaskan. Presipnatik reseptor adrenergik juga berlokasi di neuron serotonergik dan mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan. Dopamin juga sering berhubungan dengan patofisiologi depresi. Faktor neurokimia lainnya seperti gamma aminobutyric acid (GABA) dan neuroaktif peptida (vasopressin dan opiate endogen) telah dilibatkan dalam patofisiologi gangguan mood,
b. Faktor Genetik
Data genetik menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam perkembangan gangguan mood adalah genetik. Pada penelitian anak kembar terhadap gangguan depresi berat pada anak, pada anak kembar monozigot adalah 50%, sedangkan dizigot 10-25% (Sadock & Sadock, 2010). Menurut penelitian Hickie et al., menunjukkan penderita late onset depresi terjadi karena mutasi pada gene methylene tetrahydrofolate reductase yang merupakan kofaktor yang terpenting dalam biosintesis monoamin. Mutasi ini tidak bisa diketemukan pada penderita early onset depresi .
c. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan dimana suatu pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa atau kejadian dalam kehidupan yang penuh ketegangan sering mendahului episode gangguan mood. Suatu teori menjelaskan bahwa stres yang menyertai episode pertama akan menyebabkan perubahan fungsional neurotransmitter dan sistem pemberi tanda intra neuronal yang akhirnya perubahan
tersebut menyebabkan seseorang mempunyai resiko yang tinggi untuk menderita gangguan mood selanjutnya.
Faktor kepribadian premorbid menunjukkan tidak ada satu kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus sebagai predisposisi terhadap depresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat mengalami depresi, walaupun tipe kepribadian seperti dependen, obsesi kompulsif, histironik mempunyai risiko yang besar mengalami depresi dibandingkan dengan lainnya.
Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamik : Freud (1917) menyatakan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankoli. Ia menyatakan bahwa kemarahan orang depresi diarahkan kepada diri sendiri karena mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi merupakan suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap objek yang hilang . Menurut penelitian Bibring mengatakan depresi sebagai suatu efek yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam dirinya. Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka putus asa.
Beck menunjukkan perhatian gangguan kognitif pada depresi. Dia mengidentifikasikan 3 pola kognitif utama pada depresi yang disebut sebagai triad kognitif, yaitu pandangan negatif terhadap masa depan, pandangan negatif terhadap diri sendiri, individu menganggap dirinya tak mampu, bodoh, pemalas, tidak berharga, dan pandangan negatif terhadap pengalaman hidup.
3. Tanda dan Gejala Depresi
Pada penderita depresi dapat ditemukan berapa tanda dan gejala umum menurut Diagnostic Manual Statistic IV (DSM-IV): Perubahan yang terjadi meliputi :
a. Perubahan Pikiran : Merasa bingung, lambat dalam berfikir, penurunan konsentrasi
dan sulit mengungat informasi, sulit membuat keputusan dan selalu menghindar,
kurang percaya diri, merasa bersalah dan tidak mau dikritik,pada kasus berat
sering dijumpai adanya halusinasi ataupun delusi, adanya pikiran untuk bunuh diri. b. Perubahan Perasaan : Penurunan ketertarikan ddengan lawan jenis dan melakukan
hubungan suami istri,merasa bersalah, tak berdaya, tidak adanya perasaan,merasa sedih, Sering menangis tanpa alasan yang jelas iritabilitas, marah, dan terkadang agresif,
c. Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari : Menjauhkan diri dari lingkungan sosial, pekerjaanm menghindari membuat keputusan, menunda pekerjaan rumah,penurunan aktivitas fisik dan latihan, penurunan perhatian terhadap diri sendiri,peningkatan
konsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang (American Psychiatric Association,
2000) D. Bunuh Diri
Gangguan mood sering di hubungkan dengan bunuh diri. Meski perempuan cenderung untuk lebih banyak mencoba bunuh diri,sebenarnya banyak laki-laki yang berhasil, mungkin karena mereka lebih memilih cara mematikan yang mengerikan.Orang yang mencoba bunuh diri sering mengalami depresi namun masih
kontak dengan realitas. Niat bunuh diri biasanya mengindikasikan bahwa individu memahami sifat fisik dan konsekuensi dari tindakan merusak diri (Jefrey, 2003).
2.4. Aktivitas Seksual