BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kekerasan dalam Rumah Tangga
2.1.1. Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga
Beberapa istilah yang berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga, Wife Abuse, Wife Bathering, Wife Beating, Spouse Abuse, Domestic Violance, Violance Against Women. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) “KEKERASAN” diartikan dengan perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik. Dengan demikian kekerasan merupakan wujud perbuatan yang lebih bersifat fisik yang mengakibatkan luka, cacat, sakit atau unsur yang perlu di perhatikan adalah berupa paksaan atau ketidak relaan pihak yang dilukai. Sedangkan pengertian rumah tangga tidak dapat ditemukan dalam deklarasi PBB, namun secara umum dapat diketahui bahwa rumah tangga merupakan organisasi terkecil dalam masyarakat yang terbentuk karena adanya ikatan perkawinan. Yang dijumpai adalah pengertian “KELUARGA” yang tercantum dalam pasal 1 ke 30 UU No 8 Tahun 1981 tentang KUHP yaitu : keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah sampai derajad tertentu atau hubungan perkawinan.
Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasaan terhadap Perempuan mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin (gender based violence) yang berakibat atau mungkin berakibat
kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual,ataupun psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi.
Pasal 2 menjelaskan kekerasan terhadap perempuan harus dipahami tak hanya terbatas pada tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis yang terjadi di dalam keluarga dan masyarakat, termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas perempuan kanak-kanak, kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin, perkosaan dan perkawinan (marital rape), pengrusakan alat kelamin perempuan, dan praktik kekejaman tradisonal lain terhadap perempuan, kekerasan di luar hubungan suami istri dan kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi perempuan, perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman seksual di tempat kerja dalam lembaga pendididkan dan sebagainya, perdagangan perempuan, dan pelacuran paksa, serta termasuk kekerasan yang dilakukan dan di benarkan oleh negara dimanapun terjadinya. (Rika,2009)
2.1.2 Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 mengatakan bahwa : setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman atau melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (1) Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.
Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul, melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya. (2) Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau, menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. (3) Kekerasan seksual meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. (4) Kekerasan ekonomi adalah setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri (Moerti, 2010).
Cookfair (1996) mengungkapkan kekerasan terhadap perempuan terdiri dari (1) Kekerasan fisik (Physical Abuse) merupakan kekerasan yang dilakukan berulang-ulang seperti mendorong, mendesak, menampar, menendang, menyerang, dengan senjata, menahan, menolak, (2) Kekerasan emosional atau psikologis (Emotional
Abuse) yang mungkin di dahului atau bersamaan dengan kekerasan fisik, seperti mengancam, atau melukai fisik, mengisolasi atau cemburu, merampas, mengintimidasi, menghina dan terus mengkritik, (3) Kekerasan seksual (Sexual Abuse) adalah pemaksaan seksual. Hasil penelitian Djannah dkk (2003) menambahkan dari ketiga bentuk kekerasan yang diatas adalah bentuk kekerasan ekonomi. Bentuk kekerasan ini seperti perilaku suami yang membatasi istri untuk bekerja, untuk menghasilkan uang, dan atau membiarkan istri bekerja untuk di eksploitasi atau menelantarkan keluarga dari tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Jadi ekonomi ini dapat menimpa istri yang bekerja maupun yang menjadi ibu rumah tangga.
2.1.3 Faktor yang Mendorong terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga Quratul uyun (2002) mengatakan bahwa faktor budaya patriarki yang mengganggap pria memiliki kekuasaan yang dominan mengakibatkan perasaan inferior bagi perempuan. Nevid (1997) sendiri menambahkan bahwa kekerasan yang terjadi menunjukan proses normalisasi strategi pria untuk menguasai wanita. Adapun faktor yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga khususnya yang dilakukan oleh suami terhadap istri telah diungkap kan oleh Moerti (2010); (1) Masalah keuangan, (2) Cemburu, (3) Masalah anak, (4) Masalah mertua, (5) Masalah Saudara, (6) Masalah sopan santun, (7) Masalah masa lalu, (8) Masalah salah paham, (9) Masalah tidak memasak, (10) Suami mau menang sendiri
Sedikit berbeda dengan Hakimi dkk (2011) faktor pemicu tindak kekerasan justru terjadi karena hal yang sepele seperti tidak meyediakan makan yang tepat pada waktunya, tidak mampu merawat anak dan rumah dengan baik, menolak suami berhubungan seks, menanyakan pengeluaran ekonomi suami. Erni Sulastri (2003) menambahkan perselingkuhan, penolakan hubungan sex serta lingkungan menjadi faktor kekerasan dalam rumah tangga tersebut.
2.1.4 Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga
Akibat dari kekerasan dapat mempengaruhi mental dan kesehatan fisik perempuan. Hal tersebut di kemukakan juga oleh Nevid dkk (1997) bahwa kekerasan terhadap istri menyebabkan depresi, harga diri rendah resiko luka fisik serta trauma sampai menyebabkan kematian. Lips (1998) menyatakan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga sering merasa menjadi orang yang tidak mampu (powerlessness) dan tak berdaya (helpness). Erni Sulastri (2003) mengatakan adanya rasa sakit bekas kekerasan fisik, sakit juga terasa pada daerah vagina perasaan cemas, takut tertekan dan kehilangan percaya diri hingga stress
Hasbianto (1996) mengatakan bahwa secara psikologis tindak kekerasan terhadap istri mengakibatkan gangguan emosi, kecemasan dan depresi yang secara konsekwensi logis dapat mempengaruhi kesehatan reproduksinya. Yang menarik adalah gambaran diri perempuan sebagai korban kekerasan yang dianiaya secara verbal seperti dengan mengatakan bahwa ia memiliki arti, tolol, dan semua label lainnya, maka semakin perempuan melihat bahwa memang begitulah dirinya.
Kekerasan yang terjadi pada perempuan bekerja selain berdampak pada dirinya juga pada lingkungan sekitarnya. Perlakuan kejam yang dialami para korban itu mengakibatkan timbulnya berbagai macam penderitaan seperti: (a). Jatuh sakit akibat stres seperti sakit kepala, asma, sakit perut, (b) Menderita kecemasan, depresi, dan sakit jiwa akut, (c) Berkemungkinan untuk bunuh diri atau membunuh pelaku, (d) Kemampuan menyelesaikan masalah rendah (e) kemungkinan keguguran dua kali lebih tinggi bagi korban yang hamil, (f) bagi yang menyusui, ASI sering kali terhenti akibat tekanan jiwa, (g) lebih berkemungkinan bertindak kejam terhadap anak, karena tidak dapat menguasai diri akibat penderitaan yang berkepanjangan dan tidak menemukan jalan keluar (Erna, 2011)
Hayati (2000) berpendapat bahwa kekerasan yang dialami oleh istri berdampak pada kesehatannya. Dampak kekerasan itu berupa kelainan fisik berupa kecacatan bahkan yang paling tragis bisa menimbulkan kematian. Secara psikologis berupa, tekanan mental, menurunnya rasa percaya diri , ketidakstabilan emosi serta rasa ketergantungan pada suami yang menyiksanya. Apabila ia memiliki anak kemungkinan anak dibimbing dengan kekerasan, peluang berlaku kejam pada anak akan semakin meningkat, anak dapat mengalami depresi, dan berpotensi untuk melakukan kekerasan terhadap pasangan nya ketika ia sudah dewasa seperti yang pernah dilihatnya. Bagi perempuan pekerja mempengaruhi kinerja nya di kantor, lebih banyak membuang waktu untuk mencari bantuan, cerita kepada teman, psikolog atau psikiater dan merasa takut kehilangan pekerjaan nya. Dan gangguan kesehatan reproduksi seperti terjadi nya abortus, kehamilan yang tak diingin kan bahkan
aktivitas seksual yang dingin. Dampak yang paling sering tidak nampak dan berbekas berupa tekanan emosional dan gangguan aktifitas seksual (Kossek & Ozeki, 1998). Fatahillah (2002) mengatakan bahwa ada beberapa hambatan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yaitu : (1) Persepsi masyarakat Indonesia terhadap KDT menganggab bahwa itu adalah masalah pribadi, (2) Paradigma legalistik aparat penegak hukum yang belum memberikan perlindungan penuh terhadap korban, (3) Kekerasan fisik yang hanya jadi bukti akurat ada kekerasan dalam rumah tangga menyebabkan kekerasan yang lain terabaikan.