• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Fenomena Istidrāj terhadap Kepribadia

BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG ISTIDRĀJ

D. Dampak Fenomena Istidrāj terhadap Kepribadia

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”

Menurut penjelasan yang telah dipaparkan bahwa pandangan para mufassir mengenai makna istidrāj bahwa Quraish Shihab, Thabarī, Hasbi al-Shidiqī dan Hamka berpendapat sama mengenai makna istidrāj adalah memperlakukan mereka secara lahiriah baik, tetapi untuk mengarahkan mereka menuju kebinasaan. Adapun Imam al-Qusairī, Abu Bakar al-Jazairī dan Sayyid Qutbh, Ibnu „Asyūr dan Wahbah al-Zuhalī berpendapat mengenai istidrāj yaitu menghukum mereka atau mendekatkan mereka kepada hukuman tanpa disadarinya. Maka dari itu, penulis menyimpulkan bahwa makna istidrāj menurut para mufassir yaitu pemberian nikmat untuk manusia dan menjadikan mereka lalai dan celaka.

D. Dampak Fenomena Istidrāj terhadap Kepribadian Seseorang

Tipu daya dunia seringkali melenakan orang yang tidak meminta perlindungan kepada Allah Swt ataupun orang yang melupakan anugrah-Nya.

40 Hamka, Tafsir al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985), Juz 9, h. 183.

Sebagaimana Allah Swt menyatakan dalam firman-Nya surat al-Infithar ayat 6, yaitu sebagai berikut:



“ Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”

Jika seseorang itu telah terperdaya maka tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Allah Swt bahkan oleh kerabat dekat pun. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an surat Luqman ayat 33, sebagai berikut:

ۚ ۚ



“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

Keterperdayaan mereka tidak akan ada yang bisa menahannya, maka tidak ada jalan selain meminta pertolongan kepada Allah Swt. Seperti yang dikutip oleh Damanhuri dalam tulisannya bahwa orang yang telah terperdaya dan merasakan adzabnya maka mereka akan merasakan kesedihan yang teramat sangat dan gundah gulana dalam hatinya.41

41 Damanhuri, “ Istidrāj dalam Mawa‟iz Al-Badi‟ah,” Substantia, No.2 (Oktober 2010): h.

447.

35

Begitu juga orang yang tertimpa istidrāj akan menjadikan dirinya bangga (sombong)42 atas apa yang ada pada dirinya karena kelebihan atau nikmat yang diberikan Allah Swt kepadanya. Misalnya jika terjadi kepada orang yang berilmu, Allah Swt memberikan pemahaman, kecerdikan dan bisa berbicara fasih sehingga mereka menyangka telah memiliki ilmu hakikat.43 Mereka menjadi merendahkan orang lain lebih rendah daripadanya. Begitulah Allah Swt menimpakan istidrāj kepada orang lalai akan mengingat-Nya, sangat halus sehingga sampai tidak menyadarinya.

Sifat sombong hanya berhak dimiliki oleh Allah Swt semata karena Dia yang memiliki segalanya. Jika manusia ada yang bersifat sombong, hakikatnya dia telah mengingkari kekuasaan Allah Swt. Dia merasa apa yang dimilikinya menjadikannya lebih baik daripada orang lain. Dia tidak menyadari semuanya adalah milik Allah yang dititipkan kepadanya. Oleh sebab itu tidak ada gunanya membiarkan kesombongan pada manusia, karena sesungguhnya hanya akan membinasakan dirinya sendiri.44

Ciri ketakaburan orang yang berilmu adalah ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Kemudian ketakaburan orang yang

42 Imam al-Ghazali menuturkan sebagaimana yang dikutip oleh Didi Junaedi dalam tulisannya, bahwa takabur/ sombong terbagi menjadi dua bagian: Pertama, Takabur dalam urusan agama. Kedua, Takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi juga dalam dua bagian, yaitu: Pertama, Takabur karena ilmu. Kedua, Takabur karena amal. Lihat, Didi Junaedi, Agar Allah Selalu Menolongmu!; Melihat Sisi Baik dari Setiap Ujian ( Jakarta: Suluk, 2011), Cet- 1, Jilid 2, h. 38

43 Damanhuri, “ Istidrāj dalam Mawa‟iz Al-Badi‟ah”, h. 449.

44 Al-Qur‟an mencatat sifat sombong pertama kali ditunjukan kepada iblis ketika diperintahkan oleh Allah Swt untuk sujud kepada Nabi Adam as. Seperti dinyatakan dalam al-Qur‟an surat al-„Araf ayat 12, sebagai berikut:



“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". Lihat, Didi Junaedi, Agar Allah Selalu Menolongmu, h. 36-37.

banyak amal yaitu ia merasa dirinya telah beramal lebih dari orang lain lakukan.

Ia merasa amalannya lebih bagus sehingga bisa merendahkan orang lain, padahal hanya Allah Swt yang mengetahui amal yang telah hamba-Nya lakukan. 45 Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat Muhammad ayat 30-31:

ۚ ۚ





“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan Mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Selanjutnya, akibat dari berpaling mengingat Allah Swt menurut Mohsen Qira‟ati diantaranya: Pertama, Terhalang dari jalan yang benar. Tidak dipungkiri bahwa Allah Swt selalu menunjukan jalan yang lurus kepada hambaNya, akan tetapi manusia seringkali menyalahi jalan tersebut. Begitu juga syetan akan terus menghalangi manusia dari jalan yang benar. Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an surat al-Zukhruf ayat 37, yaitu:



45 Damanhuri, “ Istidrāj dalam Mawa‟iz Al-Badi‟ah”, h. 452.

37

“Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”

Kedua, Terjebak ke dalam pikiran yang sesat. Dimana mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk, akan tetapi sejatinya mereka jauh dari petunjuk itu.

Ketiga, mereka tidak lagi dapat menerima pelajaran. Dengan kata lain mereka sudah sangat jauh dari Allah Swt hingga hati dan pikiran mereka tidak lagi memahami hikmah pelajaran sekitarnya karena hati mereka sudah buta.

Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an surat al-Shaffat ayat 13, yaitu:



“Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya.”

Keempat, Mereka tidak mau bertobat atas apa yang mereka lakukan karena mereka meyakini bahwa mereka tidak menyimpang dari Allah Swt. Kelima, Kehidupan mereka serasa menjadi sempit.46 Dalam surat Thāhā ayat 124 dinyatakan:



“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".

Allah Swt menimpakan istidrāj kepada orang yang terlena akan nikmat dari Allah Swt dan berpaling dari mengingatNya. Keterlenaan itu timbul dari kecenderungan pada dunia yang berlebihan, sehingga bagi mereka dunia adalah segalanya. Begitu juga karena keterlenaan itu akan berdampak pada dirinya untuk memiliki sifat seperti sombong, dan sifat tersebut akan mengakar kuat dalam

46 Mohsen Qira‟ati, Poin-Poin Penting Al-Qur‟an, h. 634.

dirinya. Oleh karena itu, sekuat mungkin harus dihindari segala larangan-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya agar tidak menjadi golongan orang yang tertimpa istidrāj.

39 BAB III

PEMAKNAAN DAN SEBAB-SEBAB ISTIDRĀJ DALAM AL-QUR’AN

Ayat-ayat al-Qur‟an membahas tentang berbagai macam permasalahan kehidupan. Salah satunya yaitu tentang istidrāj, dimana tersebar dalam beberapa surat. Maka untuk mengetahuinya harus ditelusuri dahulu secara mendalam tentang ayat yang membahas istidrāj itu sendiri. Kata istidrāj dalam al-Qur‟an terulang hanya dua kali dalam bentuk fiil mudhari. Keduanya diawali dengan huruf ( ) yang menunjukan makna “akan” dengan menggunakan kata

( ). Menurut kamus Al-Mursyid Ilā Āyāti al-Qur‟ān al-Karȋm wa

Kalimāt, kata tersebut terdapat dalam dua tempat yaitu dalam surat al-„Araf ayat 182 dan surat al-Qalam ayat 44. 1

Surat al-„Araf ayat 182 yaitu sebagai berikut :



“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”2

1 Muhammad Faris Barakat, Al-Mursyid Ilā Āyāti al-Qur‟ān al-Karȋm Wa Kalimāt, h. 162.

2 Munasabah ayat ini dan ayat sebelumnya adalah bahwa pada ayat sebelumnya, mengungkapkan tentang orang yang mengajak dan menuntun kepada haq serta menegakan keadilan. sebaliknya ayat setelahnya menjelaskan tentang orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, baik kekuasaan, keesaan dan juga menjelaskan siksaNya. Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah), vol. 4, h. 391.

Dan kedua terdapat dalam surat al-Qalam ayat 44 yaitu sebagai berikut:

ۖ

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Al Quran). nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui”3

Dari kedua ayat ini, maka penulis akan menguraikannya menjadi tema-tema berikut:

A. Makna dan Hakikat Istidrāj

Berdasarkan paparan sebelumnya mengenai istidrāj, bahwa jika seseorang terlihat diberikan sesuatu dari perkara dunia yang diinginkan, sedangkan dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka dapat diketahui bahwa hal tersebut adalah istidrāj. Dimana istidrāj bisa menjauhkan manusia dari sisi-Nya, sedangkan manusia jika tanpa Allah Swt tidak ada apa-apanya. Makna dari istidrāj seperti yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya yaitu pemberian nikmat untuk menjadikan mereka lalai dan celaka.

Adapaun hakikat dari istidrāj itu sendiri adalah tidak dihukum langsung oleh Allah Swt ketika mereka melakukan maksiat, mereka masih diberikan waktu,

3 Munasabah ayat ini dengan ayat sebelumnya adalah bahwa pada ayat sebelumnya, diterangkan balasan yang diterima oleh orang kafir dan orang yang beriman berbeda, yaitu bagi orang yang beriman Allah Swt menyediakan surga yang penuh dengan kenikmatan. Sedangkan bagi orang yang kafir Allah sediakan neraka yang penuh dengan penderitaan yang kesengsaraan dan panasnya api tidak ada yang bisa menahannya. Selanjutnya ayat-ayat berikutnya menerangkan bahwasannya orang-orang kafir telah diberi kesempatan untuk mengikuti seruan Rasulullah Saw selama hidup mereka, tetapi sangat disayangkan mereka tidak menggunakan kesempatan itu.

Bahkan mereka malah menghalang-halangi seruan itu. Lihat, Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, Edisi yang disempurnakan (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), Jilid 10, h. 288.

41

berupa penangguhan. Tidak seperti umat terdahulu yang langsung diadzab.

Dimana mereka yang tidak beriman, yaitu yang menutup mata hatinya4 dan menutup pendengarannya5dari melihat dan mendengar ayat-ayat Allah Swt, akan diberikan penambahan waktu untuk tidak dibinasakan tanpa mereka sadari. Yang mereka sadari bahwa semuanya adalah sebuah kebaikan. Padahal kebaikan itu bukan kebaikan sesungguhnya, akan tetapi merupakan kebaikan yang melalaikan, contohnya kesempatan hidup dan keluasan harta.

Didalam kedua ayat ( surat al-„Araf ayat 182 dan surat al-Qalam ayat 44) yang difokuskan dalam penelitian ini yaitu menjelaskan bahwa orang yang tertimpa istidrāj akan dibinasakan ataupun didekatkan kepada kebinasaan tanpa mereka ketahui. Ibnu Katsir berpendapat bahwa maksud dari siksaan itu adalah Allah Swt membukakan pintu-pintu rizki dan berbagai macam mata pencaharian untuk mereka hidup di dunia, hingga mereka terpedaya dengan kondisinya yang

4 Menurut Al-Thabari dalam tafsirnya dijelaskan bahwa makna tersebut adalah bahwa mereka memiliki mata akan tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt dan bukti keesaan-Nya. Dimana mereka harus merenungi dan memikirkannya. Akan tetapi mereka tidak melakukannya. Oleh karena itu, Allah Swt menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak mau melihat tanda-tanda kekuasan Allah Swt. Lihat, Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Tafsir Al-Thabari, Penerjemah Abdul Somad dan Yusuf Hamdani ( Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Jilid 11, h. 801.

5 Al-Thabari memaknainya bahwa mereka tidak mau mendengarkan ayat-ayat Kitab suci Allah Swt hingga mereka bisa merenungkannya. Akan tetapi mereka malah menolaknya dan mengatakan untuk jangan mendengarkan ayat-ayat al-Qur‟an bahkan mereka membuat sesuatu seperti al-Qur‟an supaya bisa mengalahkannya. Seperti disebutkan dalam al-Qur‟an surat Fushilāt ayat 26, sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka".

Juga dalam surat al-Baqarah ayat 171:

“ Mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” Lihat, Al-Thabari, Tafsir Al-Al-Thabari, h. 802.

sedang mereka alami.6 Al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Al-Ḍahak bahwa cara untuk membinasakan mereka yaitu jika setiap kali manusia berbuat maksiat maka Allah Swt akan menambahkan lagi kenikmatannya. Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa pada suatu hari Ẓunun ditanya tentang tipu daya yang paling sering menghinggapi seorang hamba, kemudian dia menjawab bahwa tipu daya yang sering menghinggapi seorang hamba yaitu dengan sesuatu yang paling baik dari pemberian-pemberian. Namun semua itu menjadikan mereka tidak pernah bersyukur atas nikmat tersebut.7 Kemudian Al-Ṭabari menakwilkan cara Allah Swt dalam menyiksa mereka yaitu dengan menghiasi perbuatan jeleknya, sehingga ia menyangka bahwa perbuatannya adalah perbuatan baik.8 Begitu juga Ahmad Sonhaji menguraikan dalam tafsirnya yaitu dengan cara memberikan berbagai macam nikmat seakan-akan hidup mereka dipenuhi kesenangan dan kemewahan. Tetapi sebenarnya mereka dijadikan umpan untuk menyeret mereka sedikit demi sedikit dan menjadikan mereka lalai dengan kesenangan atau ketenaran yang mereka nikmati.

Kemudian nanti Allah Swt membinasakan mereka secara mengejutkan dari sisi yang tidak disangka-sangka.9

Selain itu Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah Swt menganugrahkan kenikmatan kepada mereka dengan menjadikan mereka lupa daratan atau seperti kacang lupa akan kulitnya10 Dan ia menambahkan dalam tafsirnya bahwa siksaan itu datang dengan menggunakan tangga dengan tenang menuju arah yang mereka

6 Ahmad Syakir, „Umdah Al-Tafsīr „An al-Hāfidz ibn Katsīr (Jakarta: Darus Sunah, 2014), Jilid 3, Cet ke-2, h. 239.

7 Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Penerjemah Sudi Rosadi, dkk (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Jilid 7, h.832.

8 Jarir Al-Thabari, Tafsir Al-Thabari, Penerjemah Abdul Somad dan Yusuf Hamdani (Jakarta: Pustaka Azam, 2008), h. 814.

9 Ahmad Sonhaji B. Mohamad, Tafsir Al-Qur‟an, Juz 9, h. 125

10 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol 4, h. 391.

43

tidak ketahui dan juga tidak disadarinya bahwa tempat tersebut dapat membinasakan mereka.11Begitu juga Badan Pentashihan al-Qur‟an menambahkan dalam tafsirnya yaitu Allah Swt memberikan mereka kenikmatan tanpa melupakan kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan.12 Adapula menurut Sayyid Qutbh dalam tafsirnya menyebutkan cara Allah Swt membinasakan mereka yaitu dengan membiarkan mereka berbuat maksiat untuk menarik mereka secara pelan-pelan kepada kebinasaan. Begitu juga untuk mematangkan balasan tipu daya dan rencana terhadap mereka.13

Selanjutnya, Bintu Syati‟ memaknai istidrāj dengan mengambil perlahan-lahan derajat demi derajat. Sebagaimana yang dikutip oleh Bintu Syati‟ dari al-Ṭabari, ia menafsirkan bahwa istidrāj yaitu Allah Swt menghiasi dengan perhiasan atau kemewahan dunia sampai mereka mengira semuanya adalah kebaikan bagi mereka hingga sampai batas waktu Allah Swt mengambil kembali secara tiba-tiba tanpa mereka rasakan.14

Selanjutnya, ada beberapa pendapat tentang makna istidrāj dalam tafsir al-Qurṭubi disebutkan:

Menurut Sufyan Al-Tsauri bahwa makna istidrāj adalah bahwa Allah Swt akan memberikan nikmat-nikmat kepada mereka dan akan membuat mereka lupa.

Al-Hasan memaknainya bahwa banyak orang yang yang ditarik ke arah kebinasaan dengan disertai pemberian kebaikan yang berangsur-angsur. Begitu juga banyak orang yang diuji dengan sanjungan- sanjungan dan tertipu oleh

11 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol 4, h. 392

12 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, Tafsīr Al-Wajīz Li Al-Qur‟ān Al-Karīm; Tafsir Ringkas Al-Qur‟an Al-Karim ( Jakarta: Badan Litbang dan Diklat, 2016), h. 466.

13 Sayyid Quthb, Tafsir Fī Zhilal Al-Qur‟an, jilid 5, h. 468

14 Bintu Syāthī, al-Tafsīr Al-Bayānī li Al-Qur‟ān al-Karīm (Mesir: Dar al-Ma‟arif, 1962), jilid 2, h. 69.

perlindungan yang diberikan. Kemudian Abu Rauq memaknainya bahwa setiap kali mereka melakukan kesalahan-kesalahan, maka Allah Swt memperbaharui kenikmatan untuk mereka dan membuat mereka lupa untuk memohon ampun kepada-Nya. Dan selanjutnya dalam tafsirnya, al-Qurṭubi menyatakan pula pendapat yang lainnya tentang makna istidrāj tersebut yaitu bahwa Allah Swt akan menarik sedikit demi sedikit dan tidak pula menjadikan mereka terkejut dengan tarikan tersebut. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa ada seseorang laki-laki dari kaum Bani Israil menyatakan bahwa dia banyak melakukan perbuatan maksiat kepada Allah Swt akan tetapi Allah Swt tidak memberikan hukuman dengan sesuatu apapun. Kemudian Allah Swt memberikan wahyu kepada utusan-Nya yang hidup pada masanya. Lalu Allah Swt memberikan perintah kepada utusan-Nya untuk memberitahukan kepada lelaki tersebut bahwa Allah Swt telah banyak melimpahkan hukuman kepadanya akan tetapi dia tidak menyadarinya. Dan juga Allah Swt menyatakan bahwa butanya kedua mata dan keras hatinya sehingga dia tidak menyadarinya hal tersebut merupakan sebuah istidrāj dan hukuman untuknya.15

Selanjutnya Allah Swt mengancam mereka dengan siksa yang sangat pedih dan rencana-Nya tidak dapat dihalangi oleh siapapun. Seperti dinyatakan dalam ayat setelahnya yaitu:

ۚ



“Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh.”

15 Al-Qurṭubi, al-jami‟ li Ahkām al-Qur‟an, Penerjemah Ahmad Khatib, dkk ( Jakarta:

Pustaka Azam, 2009), Jilid 19, h. 137

45

Abu Hafs Umar memaknai kalimat “Wa Umlī Lahum” 16 dengan memperpanjang waktu, 17 Wahbah Zuhaili juga memaknainya demikian.

Kemudian menurut al-Qurṭubi memaknai kalimat tersebut bahwasannya Allah Swt akan memberi tangguh kepada mereka dan akan memperpanjang waktu mereka. Kemudian al-Qurṭubi memberikan alasan bahwa asal kata umlī adalah periode masa. Sedangkan makna Amlāllahu (Allah Swt memperpanjang untuknya), adapaun malawān adalah malam dan siang. Adapun menurut pendapat lain tentang kalimat tersebut menurutnya adalah mempercepat kematian untuk mereka. 18

Kemudian kata “ al-Kaid” menurut Muhammad Abdul Haq adalah sebuah isyarat akibat dari perlakuan orang kafir hingga mereka diberi tangguh.19 “al-Matīn” menurut al-Qurṭubi berasal dari kata “al-Matnu” yang berarti daging yang tebal yang berada dalam sisi tulang sulbi. Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah kaum Quraisy yang suka mengolok-ngolok. Setelah itu mereka ditangguhkan hukumannya selama beberapa waktu, lalu mereka semua dibinasakan Allah Swt dalam satu malam. Rasulallah Saw bersabda, yang artinya:

“ Sesungguhnya Allah Swt akan memberikan penangguhan siksa pada orang yang zalim, tetapi ketika Dia mengazabnya Dia tidak kan melepaskannya”

Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat yang berbunyi: “Dan begitulah azab

16 Ibnu „Asyur berpendapat, bahwa kata “al-Imlā” termasuk kedalam bentuk “If‟āl” yang artinya adalah pennagguhan. Huruf hamzah dalam kata “ Imlā” adalah masdar yang digantikan dengan wau. Dimana dibentuk dari kata malāwah yang mempunyai arti yaitu hidup yang sebentar.

Kemudian huruf lam dalam kata lahum, Ibnu ;Asyur memaknainya dengan lam Litabyīn untuk menjelaskan hubungan dengan perbuatannya. Lihat, Ibnu „Asyur, Tafsīr al-Tahrīr wa al-Tanwīr, h.

191.

17 Abi Hafs Umar, Al-Lubāb Fī „Ulūm Al-Kitāb, h. 304.

18 Al-Qurṭubi, al-jami‟ li Ahkām al-Qur‟an,h. 138.

19 Muahmmad Abdul Haq Al-Andalusi, Muharar Al-Wajīz Fī Tafsīr al-Kitāb al-„Azīz (Beirut: Dar Kitab al-„Ilmiyah, 2001), Jilid 5, h. 353.

Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.

Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”(QS. Hud ayat 102).20

Begitu juga dalam surat ali Imrān ayat 178, sebagai berikut:

ۚ

ۚ



“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka.

Sesunggguuhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”

Zamakhsari mengungkapkan dalam kitab tafsirnya bahwa seharusnya kebaikan yang Allah Swt berikan seperti diberi umur yang panjang, kesehatan, dan rizki yang berlimpah menjadikan mereka syukur dan taat. Akan tetapi dengannya menyebabkan mereka menjadi kafir dengan pilihan yang mereka tetapkan. 21

Penangguhan Allah Swt adalah suatu ancaman yang diberikan kepada mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt. Seperti ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa bahwa Nabi Muhammad bersabda:

20 Imam Al-Zaibidi, Ringkasan Hadis Shahih Al-Bukhari, Penerjemah Ahmad Zaidun ( Jakarta: Pustaka Amani, 2002), h. 859.

21 Zamakhsari, al-Kasysyāf „, h. 192.

47

“ Sesungguhnya Allah benar-benar memberi waktu kepada orang-orang yang zalim, sehingga apabila Dia mengambilnya, maka dia (orang) tidak dapat melepaskan diri.”22

Allah Swt juga menegaskan dalam firman-Nya surat al-Mu‟minūn ayat 55-56, sebagai berikut:





ۚ



“ Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”

Penangguhan yang Allah Swt berikan adalah sebuah balasan atas tipu daya mereka. Begitu juga dalam kehidupan di zaman modern ini, banyak darin orang yang berilmu bangga akan kepandaiannya hingga ia menyalahgunakan kepandaiannya dalam hal diluar syari‟at islam. Misalnya karena kepandaiannnya

Penangguhan yang Allah Swt berikan adalah sebuah balasan atas tipu daya mereka. Begitu juga dalam kehidupan di zaman modern ini, banyak darin orang yang berilmu bangga akan kepandaiannya hingga ia menyalahgunakan kepandaiannya dalam hal diluar syari‟at islam. Misalnya karena kepandaiannnya

Dokumen terkait