• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istidrāj dalam Pandangan Para Mufassir

BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG ISTIDRĀJ

C. Istidrāj dalam Pandangan Para Mufassir

Dalam pembahasan ini, penulis akan memaparkan bagaimana para mufassir memaknai istidrāj. Diantaranya yaitu: Quraish Shihab misalnya mengemukakan bahwa makna Istidrāj adalah memindahkan dari satu tahap ke tahap yang lain guna mencapai satu tujuan. Menurutnya kata tersebut populer dalam arti perlakuan yang secara lahiriah baik, tetapi bertujuan memberi sanksi terhadap yang melanggar. Semuanya terjadi tahap demi tahap sehingga mencapai puncaknya dengan jatuhnya siksa.24 Sama hal nya dengan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy menjelaskan bahwa makna Istidrāj adalah pemanjaan agar lebih terjerumus kepada kehinaan. 25 Begitu juga ia memaknai istidrāj dengan mengambil dari mereka secara berasngsur-angsur, setapak demi setapak dan didekatkan dengan adzab, dan mereka tidak menyadarinya.26 Al-Thabari juga sependapat mengenai makna dari Istidrāj adalah tipuan halus kepada orang yang diberi tenggang waktu sehingga ia merasa bahwa yang memberikan tenggang waktu itu, berbuat baik kepadanya sehingga pada akhirnya ia terjerumus kedalam hal yang tidak disenangi. Kemudian ia menambahkan tentang orang yang tertimpa

24 Shihab, Tafsȋr al-Misbāh (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 14 , h. 264

25 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsīr Al-Qur‟an Al-Majīd Al-Nūr ( Semarang: PT.

Pustaka Rizki Putra, 2000), Jilid 5 , h. 4319.

26 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsīr Al-Qur‟an Al-Majīd Al-Nūr, Jilid 2, h. 4319

29

Istidrāj yaitu Allah Swt menghiasai perbuatan jeleknya, sehingga ia menyangka bahwa perbuatannya adalah perbuatan baik.27

Selanjutnya, mengutip dari Imam al-Qusyairi bahwa yang dimaksud dengan istidrāj adalah mendekatkan mereka dengan hukuman tanpa disadarinya.

Begitu juga ia menambahkan beberapa pendapat lainnya tentang definisi istidrāj yaitu setiap mereka melakukan maksiat maka bertambah pula nikmat yang diberikan Allah Swt kepada mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka tidak dihukum ketika sedang melakukan kesalahan tersebut, akan tetapi hukuman itu dilakukan setelahnya. Kemudian ada juga yang mengatakan tentang istidrāj yaitu berhura-hura dengan nikmat dan juga melupakan-Nya. Begitu juga tipuan dengan penanguhan waktu. Dan terakhir, ada juga yang mengatakan tantang makna istidrāj yaitu memperlihatkan kenikmatan dan menyembunyikan kekacauan.28Sama hal nya dengan Abu Bakar Jabir menjelaskan bahwasannya ketika mereka melakukan kemaksiatan yang baru maka Allah memberikan kepada mereka nikmat yang baru sehingga suatu saat Allah menghukum mereka ketika mereka tidak menyadarinya. Menurutnya makna Istidrāj itu sendiri adalah menghukum dengan bertahap, setingkat demi setingkat.29 Begitu juga Sayyid Qutbh berpendapat bahwa penangguhan siksaan (Istidrāj) adalah sesuatu kekuatan yang tidak diperhitungkan dengan semestinya dan yang dilupakan oleh orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt. Dan begitu juga penangguhan

27 Abu Jafar Muhammad bin Jarir At-Thabari, Tafsir At-Thabari, Penerjemah Abdul Somad dan Yusuf Hamdani, ( Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Jilid 11, h. 814.

28 Imam Qusyairi, Lathāif al- Isyārat: Tafsīr Sūfī Kamil li al-Qur‟an al-Karīm, Juz 3 ( t.tp: t.p, 1983), h. 622.

29 Abū Bakar Jabīr Al-Jazairī, Tafsīr Al-Qur‟ān Al-Aisār ( Jakarta: Darus Sunah, 2015), jilid 3, h. 208.

tersebut ditimpakan kepada mereka tanpa diketahuinya.30 Kemudian Ibnu „Asyūr berpendapat bahwa makna istidrāj adalah menarik mereka ke arah kebinasaan, akan tetapi balasan itu diakhirkan untuk memberikan mereka pelajaran.31 Dan Wahbah Zuhalī Juga sependapat tentang makna istidrāj yaitu merendahkan mereka sedikit demi sedikit menuju arah kehancuran.32

Orang yang tertimpa Istidrāj pada umumnya mereka bergelimang harta ataupun kekuasaan. Akan tetapi mereka melupakan siapa yang memberinya ataupun selalu berbuat maksiat. Jika melihat orang yang demikian dalam sebuah hadits yang dikutip oleh Muhammad Mukharar dalam karya tulisnya disebut dengan Istidrāj.33 Imam Al-Syaukani menjelaskan lebih lanjut dalam kitab tafsirnya bahwa Allah Swt membuat mereka lupa mensyukurinya sehingga mereka tenggelam di dalam kesesatan dan tidak akan bisa keluar dari kesesatan tersebut kecuali mereka mendapatkan kedudukan di sisi-Nya.34 Dikutip dari Sa‟id Hawa Rasulullah Saw bersabda :

30 Sayyid Quthb, Tafsir Fī Zhilal Al-Qur‟an; Di Bawah Naungan Al-Qur‟an, Penerjemah M Misbah ( Jakarta: Robbani Press, 2006), Jilid 5, h. 467.

31 Ibnu „Asyur, Tafsīr al-Tahrīr wa al-Tanwīr (Tunisia: Dār Suhūn, t.t ), h. 101.

32 Wahbah al-Zuhailī, al-Tafsīr al-Munīr Fī al-„Aqīdah wa al-Syarī‟ah wa al-Manhaj ( Beirut: Dār al-Fikri, 2014), Juz ke-5, h. 194.

33 Ahmad Mukharrar, “Istidrāj dalam perspektif al-Qurṯubī dalam Tafsir al-Jamī li Ahkām al-Qur‟an,” ( Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, 2016), h. 5.

34 Imam Al-Syaukani, Tafsir Fath Al-Qadīr, Penerjemah Amir Hamzah, ( Jakarta:

Pustaka Azzam, 2010), Jilid 4, h. 341.

31

“ Diceritakan dari Imam Ahmad dari „Aqabah bin „Āmir dari Rasulullah Saw bersabda: Jika kalian melihat Allah Swt memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu merupakan Istidrāj. kemudian Rasulullah Saw membaca ayat:“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”35

Mengutip dari tulisan Ibnu Qayim al-Jauziyah bahwa ulama salaf mengatakan tentang istidrāj yaitu:” Jika Allah Swt melimpahkan berbagai macam nikmat kepada seorang hamba, sementara dia berbuat maksiat kepada-Nya, maka berhati-hatilah bahwa itu adalah Istidrāj.36 Dimana semuanya hanyalah sebuah kesenangan duniawi. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat Al-Zukhruf ayat 33-35 yaitu :





ۚ

ۚ



“ Dan Sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (kami buatkan

35 Sa‟id Hawa, Al-Asās al-Tafsīr ( T.tp: Dar al-Salam, 1983), Juz ke-3, h. 1631.

36 Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Penawar Hati yang Sakit; Seri Penyucian Hati , Penerjemah Ahmad Turmudzi (Jakarta: Gema Insani, 2003), h. 45.

pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Istidrāj adakalanya disebut sebagai jurang kebinasaan. Seseorang yang jauh dari Allah Swt dan tidak mengenal-Nya maka akan terjerambab kedalam jurang kebinasaan juga termakan akan tipu daya yang sementara. Orang yang tertimpa istidrāj akan dibiarkan oleh Allah Swt dalam kesesatan, dan didekatkan pada kebinasaan.37 Seperti yang dikemukakan oleh Ali al-Ṣa‟buni tentang istidrāj bahwa keadaan mereka didekatkan kepada kehancuran dan hukuman yang diberikan akan dilipatgandakan.38 Seperti yang tertera dalam firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 15, sebagai berikut:

....



“... Dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”

Kesesatan mereka Allah biarkan tanpa disadarinya, juga kelalaian terhadap isyarat yang selalu Allah hadirkan akan diindahkannya karena Allah telah menjadikan hati mereka lalai akan mengingatnya.39 Juga Hamka menambahkan

37 Usin S Artyasa, Ingin Sukses dan Berkah? Awali dengan Bismillah ( Bandung: Ruang kata, 2012), Cet. 1, h. 140.

38 Muhammad Ali al-Ṣa‟bunī, Qabas Min Nūr al-Qur‟an al-Karīm, Penerjemah Kathr Suhardi (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000), h. 112.

39Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya surat al-Kahfi ayat 28, sebagai berikut:

33

bahwa mereka diberi segala kesempatan yang sesuai dengan selera mereka, kemudian Allah hancurkan. Semuanya tanpa disadari oleh yang bersangkutan, sebab Allah menjadikan mereka lupa.40 Sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an surat al-Hasyr ayat 19, sebagai berikut:

ۚ



“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”

Menurut penjelasan yang telah dipaparkan bahwa pandangan para mufassir mengenai makna istidrāj bahwa Quraish Shihab, Thabarī, Hasbi al-Shidiqī dan Hamka berpendapat sama mengenai makna istidrāj adalah memperlakukan mereka secara lahiriah baik, tetapi untuk mengarahkan mereka menuju kebinasaan. Adapun Imam al-Qusairī, Abu Bakar al-Jazairī dan Sayyid Qutbh, Ibnu „Asyūr dan Wahbah al-Zuhalī berpendapat mengenai istidrāj yaitu menghukum mereka atau mendekatkan mereka kepada hukuman tanpa disadarinya. Maka dari itu, penulis menyimpulkan bahwa makna istidrāj menurut para mufassir yaitu pemberian nikmat untuk manusia dan menjadikan mereka lalai dan celaka.

Dokumen terkait