BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Definisi Gigi Impaksi
2.2.4 Dampak Impaksi Molar Ketiga
Perikoronitis adalah gejala yang paling umum terjadi pada impaksi molar ketiga diikuti dengan karies gigi molar ketiga atau molar kedua. Perikoronitis adalah kondisi peradangan akut yang berada pada gigi molar ketiga rahang bawah yang sebagian erupsi. Gambaran klinis meliputi nyeri, pembengkakan, pembukaan mulut terbatas, kesulitan menelan, deman, malaise, dan limfadenopati. Perikoronitis dapat dikelompokkan menjadi tipe akut, sub akut, dan kronis. Jika perawatan yang dilakukan tidak tepat, perikoronitis dapat berlanjut ke selulitis, osteomielitis, atau infeksi wajah.23,28
b) Karies
Karies terjadi pada impaksi gigi molar ketiga atau gigi molar kedua bagian distal. Posisi gigi molar ketiga dan fisura oklusal gigi yang dalam mendukung akumulasi biofilm pada gigi dan menyebabkan karies gigi. Molar ketiga rahang berkontak dengan cemento-enamel gigi molar kedua berisiko terjadi karies serviks distal pada gigi molar kedua.23,28
c) Resopsi gigi molar kedua
Setiap gigi yang sedang erupsi mempunyai daya tumbuh ke arah oklusal gigi tersebut. Jika pada stadium erupsi, gigi mendapat hambatan dari gigi tetangga maka gigi mempunyai daya untuk melawan hambatan tersebut. Gigi molar ketiga menekan gigi molar kedua selama erupsi gigi molar ketiga menimbulkan resorpsi akar gigi molar kedua.28,30
d) Kista
Gigi yang terpendam mempunyai daya untuk perangsang pembentukan kista atau bentuk patologi terutama pada masa pembentukan gigi. Benih gigi tersebut mengalami hambatan sehingga pembentukannya terganggu menjadi tidak sempurna dan dapat menimbulkan primordial kista dan folikular kista. Kista yang sering terjadi adalah dentigerous cyst.28,31
2.2.5 Indikasi dan Kontraindikasi Ektraksi Gigi Molar Ketiga Indikasi:32
a) Perikoronitis rekuren atau parah.
b) Penyakit periodontal dengan kedalaman saku 5 mm atau lebih distal ke gigi molar kedua.
c) Karies yang tidak dapat direstorasi pada gigi molar ketiga.
d) Resorpsi molar ketiga atau gigi tetangga.
e) Karies pada gig molar kedua dimana ekstraksi gigi molar ketiga akan membuat restorasi lebih sederhana.
f) Periodontitis apikal.
g) Kista atau tumor yang berhubungan dengan molar ketiga atau gigi
tetangga.
h) Bila diperlukan untuk operasi ortognatik.
i) Ekstraksi molar ketiga pada garis fraktur.
Kontraindiakasi:32
a) Molar ketiga buds pada anak muda tidak boleh dienukleasi.
b) Molar ketiga tanpa gejala dan bebas patologi yang benar-benar tertutup oleh tulang tidak boleh ekstraksi.
c) Ekstraksi secara rutin gigi molar ketiga bebas patologi tanpa gejala yang sebagian atau seluruhnya ditutupi oleh jaringan lunak tidak dianjurkan.
d) Pasien kompromis medis.
2.2.6 Evaluasi Klinik a) Riwayat Pasien
Riwayat lengkap harus diperoleh sebelum pemeriksaan fisik, dimulai dengan keluhan utama pasien dan riwayat penyakit saat ini untuk membimbing pemeriksaan dan akhirnya perawatan.33
b) Pemeriksaan Fisik33
Pemeriksaan fisik terbagi atas pemeriksaan umum dan pemeriksaan lokal.
• Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan ekstraoral dilakukan pada kepala dan leher untuk mengevaluasi molar ketiga. Sendi Temporomandibular harus dinilai untuk mengevaluasi pretreatment TMD, seperti mengklik, popping, crepitus, laxity, dan kelembutan pada palpasi. Pemeriksaan ini untuk mengevaluasi tanda-tanda infeksi, seperti edema, eritema, dan asimetri. Leher harus menjalani palpasi untuk menilai apakah ada limfadenopati.
Pemeriksaan intraoral harus mencakup pemeriksaan rongga mulut secara menyeluruh dan fokus pada area molar ketiga.
• Pemeriksaan Lokal
Pemeriksaan klinis pada area molar ketiga harus menilai apakah gigi molar ketiga terlihat di rongga mulut dan apakah gigi impaksi atau tidak ada, karena agenesis molar ketiga terjadi pada 20% pasien.
Hal yang harus diperhatikan:
➢ Penyakit periodontal
➢ Karies gigi
➢ Perikoronitis
➢ Molar kedua atau resorpsi gigi tetangga
➢ Karies molar pertama atau kedua sebagai prediktor untuk perkembangan karies molar ketiga
➢ Kista atau pertumbuhan tumor
➢ Gigi anterior berjejal
➢ Adanya pemakaian gigi tiruan
Hal yang harus diperhatikan terkait dengan akses bedah dan operasi molar ketiga:
➢ Body mass index
➢ Trismus
➢ Kelenturan pipi
➢ Macroglossia
2.2.7 Perawatan Gigi Impaksi
Rencana perawatan tergantung pada keluhan dan riwayat pasien, evaluasi fisik, penilaian radiografi, diagnosis, dan prognosis. Menejamen meliputi observasi, exposure, transplatasi gigi molar ketiga, dan ekstraksi gigi molar ketiga.28
a) Observasi
Jika molar ketiga yang terpendam di rahang dengan tidak nampak folikelnya, tidak ada riwayat pasien, dan tanda-tanda patologi yang terkait sesuai untuk melakukan observasi dalam jangka waktu yang pajang.
b) Exposure
Pilihan ini dipertimbangkan jika ada kemungkinan bahwa gigi molar ketiga dapat erupsi menjadi oklusi yang berguna namun terhambat oleh folikel, tulang sklerotik, jaringan lunak hipertrofik, dan odontoma. Jika molar kedua tidak ada, exposure molar ketiga yang diblokir dapat dipertimbangkan.
c) Transplatasi gigi molar ketiga
Berbagai bentuk mahkota dan akar pada molar ketiga yang impaksi cocok untuk transplantasi ke molar yang lain, bikuspid dan bahkan lokasi cuspid tergantung pada anatomi permukaan koronal dan radikular.
d) Ekstraksi gigi molar ketiga
Pencabutan gigi molar ketiga yang terdapat tanda-tanda patologis untuk mencegah proses patologis yang diharapkan.
2.3 Pengertian Panoramik
Radiografi panoramik adalah teknik radiografi ekstraoral yang digunakan untuk memeriksa rahang atas dan rahang bawah dalam satu film. Radiografi panoramik juga disebut sebagai rotational panoramic radiography atau pantomography.34
2.3.1 Teknik Pengambilan Radiografi Panoramik
Pasien diminta berdiri tegak. Ruas vertebral harus lurus untuk menghindari superimposisi pada gambar radiografi. Pasien diminta menggigit bite-block. Gigi rahang atas dan bawah ditempatkan pada posisi edge-to-edge agar sejajar dengan focal trough. Dataran midsagital tegak lurus ke lantai. Kepala pasien tidak boleh ditekuk atau dimiringkan. Garis imajiner yang membentang dari celah infraorbital ke pusat meatus pendengaran eksternal harus sejajar dengan lantai. Lidah harus menyentuh langit-langit mulut selama pemaparan. Pasien harus tetap diam selama pemaparan. Pengolahan film serupa dengan pengolahan film radiografi lainnya. Gambar 6 menunjukkan berbagai struktur yang divisualisasikan dalam radiografi panoramik.34
Gambar 6. Struktur yang divisualisasikan dalam radiografi panoramik.34
2.3.2 Indikasi dan Kontraindikasi Pengunaan Radiografi Panoramik a. Indikasi:35
1. Sebagai pengganti full mouth ekstraoral radiografi periapikal 2. Evaluasi perkembangan gigi anak-anak pada fase gigi bercampur.
3. Bantu menilai pasien selama perawatan ortodonti.
4. Untuk mengetahui lokasi dan ukuran lesi seperti kista, tumor, dan anomali perkembangan di tubuh dan ramus mandibula.
5. Pemeriksaan sebelum pembedahan seperti ekstraksi gigi impaksi, enukleasi kista, dll.
6. Deteksi fraktur wajah tengah ketiga dan mandibula setelah trauma wajah.
7. Pemeriksaan berkala untuk mengertahui penjalanan patologi penyakit atau penyembuhan tulang selepas operasi.
8. Evaluasi dan pemeriksaan disfungsi temporomandibular joint.
9. Untuk mempelajari antrum, terutama untuk mempelajari dasar, dinding posterior, dan anterior antrum.
10. Pemeriksaan penyakit periodontal dengan pandangan keseluruhan tingkat tulang alveolar.
11. Penilaian untuk penyakit tulang yang tersembunyi sebelum memasang gigi tiruan penuh atau sebagian.
12. Evaluasi perkembangan anomali.
13. Evaluasi tinggi vertikal tulang alveolar sebelum memasang implan.
b. Kontraindikasi:36
1. Tidak sesuai digunakan untuk menentukan panjang akar gigi.
2. Tidak sesuai digunakan untuk menilai kondisi kondilus.
3. Tidak sesuai digunakan untuk mendeteksi karies oklusal, palatal, dan lingual.
2.3.3 Keuntungan dan Kerugian Radiografi Panoramik Keuntungan:37
a) Semua jaringan pada area yang luas dapat tergambarkan, termasuk gigi anterior bahkan ketika pasien tidak dapat membuka mulutnya.
b) Gambaran radiografi mudah dipahami pasien dan media pembelajaran.
c) Gerakan pasien di bidang vertikal mendistorsi hanya bagian gambaran yang diproduksi pada saat itu.
d) Posisi pasien relatif sederhana dan minim keahlian dibutuhkan.
e) Gambaran yang luas dapat menilai dengan cepat penyakit yang tidak terduga.
f) Kedua sisi mandibula dapat ditampakkkan pada satu film, sehingga mudah untuk menilai adanya fraktur.
g) Gambaran yang luas dapat digunakan untuk evaluasi periodontal dan penilaian orthodontik.
h) Dinding antral, medial dan posterior dapat diperlihatkan dengan baik.
i) Kedua condylar ditunjukkan pada satu film supaya pembandingan yang mudah.
j) Pasien menerima dosisi radiasi yang rendah.
k) Perkembangan teknik pembatasan lapangan yang menghasilkan pengurangan dosis lebih lanjut.
Kerugian:37
a) Gambaran tomografi hanya menampilan bagian tubuh pasien. Stuktur atau abnormalitas yang bukan di bidang tumpu tidak bisa jelas.
b) Bayangan jaringan lunak dan udara dapat mengkaburkan struktur jaringan keras.
c) Bayangan artefak bisa mengkaburkan struktur di bidang tumpu.
d) Pergerakan tomografi bersama dengan jarak antara bidang tumpu dan film menghasilkan distorsi dan magnifikasi pada gambaran.
e) Penggunaan film dan intensifying screen secara tidak langsung dapat menurunkan kualitas gambar.
f) Teknik pemeriksaan tidak cocok untuk anak-anak di bawah enam tahun atau pasien non-kooperatif karena lamanya waktu paparan.
g) Beberapa pasien tidak sesuai dengan bentuk bidang tumpu dan beberapa struktur akan keluar dari fokus.
h) Gerakan pasien selama pemaparan dapat menimbulkan kesulitan dalam interpretasi gambaran radiografi
2.3.4 Radiografi Panoramik Impaksi Molar Ketiga
Impaksi Molar ketiga dapat dilihat melalui radiografi panoramik untuk mengetahui inklinasi, kedalaman, dan hubungannya dengan ramus.38
Gambar 7. Impaksi molar ketiga mandibula kiri kelas I-B
Gambar 8. Impaksi molar ketiga mandibula kiri kelas II-C
Gambar 9. Impaksi molar ketiga mandibula kanan kelas III-A
2.4. Kerangka Teori
p
Suku Tionghoa, Suku Minangkabau, Suku Batak
Impaksi Molar Ketiga
Radiografi Panoramik Impaksi Molar Ketiga
2.5. Ke rangka Konsep
Mahasiswa Suku Tionghoa, Minangkabau, dan Batak yang Impaksi Molar Ketiga
Maksila
Mandibula
Inklinasi Menurut George Winter
Kedalaman Menurut
Archer
Radiografi Panoramik
Inklinasi Menurut George Winter Kedalaman
Menurut Pell dan Gregory Hubungannya
dengan Ramus Menurut
Pell dan Gregory
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dimana pada penelitian ini peneliti hanya mendekripsikan hasil pengamatan dari impaksi molar ketiga yang terlihat pada gambaran panoramik lalu mengelompokkan hasil pengamatan berdasarkan klasifikasi inklinasi, kedalaman, dan hubungan dengan ramus yang sudah ada.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan Unit Radiologi Kedokteran Gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Universitas Sumatera Utara karena menyediakan pesawat radiografi panoramik digital OS 200 D 1-4-1, dosen akan membimbing peneliti dalam melakukan tindakan penelitian, dan di unit radiologi FKG USU sudah banyak dilakukan penelitian. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Februari- April 2018.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
33.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau yang berusia 20-25 tahun di Universitas Sumatera Utara.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau yang mempunyai gigi molar ketiga maksila dan mandibula. Cara pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Kriteria inklusi:
1. Suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau asli (dua keturunan di atas) dan berusia 20-25 tahun.
2. Mempunyai gigi molar kedua dan ketiga maksila dan mandibula.
3. Telah menyetujui lembar informed consent.
Kriterisa eksklusi:
1. Pernah melakukan odontektomi.
Besar Sampel:
Besar sampel dihitung berdasarkan rumus
Rumus:
n= 𝑍𝛼 𝑥
2𝑝.𝑞 𝑑²
Rumus ini untuk perhitungan besar sampel data deskrit yang biasanya digunakan dalam jenis penelitian deskriptif yang tidak terbentuk angka-angka.
Keterangan:
n : Besar sampel Zα : 5 % (1,96)
p : Prevalensi penelitian sebelumnya (Loh, 2015 sebesar 63,5 %) q : (100-P)= 36,5 %
d : Ketetapan presisi (10 %)
Sehingga didapat hasil:
Dengan memakai rumus diperoleh besar subjek minimal 89 orang mahasiswa USU. Pada penelitian ini menggunakan 90 subjek pada suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau, 30 orang suku Tionghoa, 30 orang suku Batak, dan 30 orang suku Minangkabau.
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.4.1 Variabel Penelitian
Adapun variabel yang ada pada penelitian ini adalah:
- Impaksi gigi molar ketiga
- Suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau - Usia
3.4.2 Definis Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Pengukuran lengkung rahang pada jangka waktu yang
Klasifikasi menurut George Winter
I. Berdasarkan inklinasi gigi molar maksila dan ketiga miring secara distal/posterior dari gigi molar kedua.
Horisontal : Sumbu panjang molar ketiga adalah horisontal.
d. Vertikal : Sumbu panjang molar ketiga sejajar dengan sumbu panjang molar kedua. molar ketiga vertikal
Sudut yang
dengan mahkota gigi arah ke kanal alveolar inferior.
Klasifikasi menurut Pell dan Gregory
Ⅱ: Berdasarkan letak molar ketiga mandibula di dalam rahang
a. Posisi A : Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi garis oklusal.
b. Posisi B : Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah garis oklusal tapi masih lebih tinggi daripada garis servikal molar kedua.
c. Posisi C : Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah
kedua dengan cara
a. Kelas I: Ruangan yang tersedia cukup untuk erupsi molar ketiga antara batas anterior ascending ramus dengan dengan distal gigi molar kedua kurang dari ukuran mesio-distal molar ketiga.
c. Kelas Ⅲ: Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada dalam
ⅠV. Berdasarkan letak molar ketiga maksila di dalam rahang gigi a. Kelas A: Bagian terendah gigi molar ketiga setinggi bidang oklusal molar kedua. bawah garis servikal molar kedua. indonesia yang asal usul leluhur mereka berasal dari China. (dua keturunan di atasnya baik dari pihak ayah ditemukan di Sumatera Utara. (dua keturunan di
Suku Batak
atasnya baik dari pihak
Salah satu suku asli yang mendiami daerah Sumatera Barat. (dua keturunan di atasnya baik dari pihak ayah dihitung sejak ulang tahun terakhir.
Kuesioner 20-25 tahun Interval
3.5 Alat dan Bahan Alat Penelitian
Alat yang digunakan adalah:
a) Pesawat radiografi panoramik merek Instrumentarium model OS 200 D 1-4-1
b) Software Cliniview versi 10.1.2 c) Alat tulis
Bahan Penelitian a) Lembar kuesioner
b) Lembar pencatatan hasil pengukuran
3.6 Prosedur Penelitian
a) Wawancara dan pemeriksaan intraoral untuk memastikan gigi molar kedua dan ketiga subjek masih ada atau belum dicabut.
b) Pemberian lembar kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai gigi molar ketiga kepada subjek penelitian.
c) Pengumpulan kuesioner yang telah diisi dan melakukan screening.
d) Pemberian informed consent setelah menyampaikan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan yang akan dilakukan kepada subjek penelitian.
e) Melakukan radiografi panoramik terhadap subjek lebih kurang satu menit.
f) Melakukan pengukuran terhadap inklinasi impaksi molar ketiga maksila dan mandibula menurut klasifikasi George Winter dengan cara mengevaluasi posisi gigi molar ketiga terhadap gigi molar kedua pada radiografi panoramik.
g) Melakukan pengukuran terhadap kedalaman impaksi molar ketiga mandibula menurut klasifikasi Pell dan Gregory dengan cara mengevaluasi bagian tertinggi gigi molar ketiga mandibula terhadap garis oklusal pada radiografi panoramik.
h) Melakukan pengukuran terhadap kedalaman impaksi molar ketiga mandibula menurut klasifikasi Pell dan Gregory dengan cara mengevaluasi bagian tertinggi gigi molar ketiga mandibula terhadap garis oklusal pada radiografi panoramik.
i) Melakukan pengukuran terhadap kedalaman impaksi molar ketiga maksila munurut klasifikasi Archer dengan cara mengevaluasi bagian tertinggi gigi molar ketiga maksila terhadap garis oklusal pada radiografi panoramik.
j) Mencatat setiap pengukuran yang telah dilakukan oleh peneliti.
k) Pengamatan dilakukan oleh penelitian dan radiologist berdasarkan radiografi panoramik.
l) Menganalisis data yang diperoleh.
3.7 Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data secara manual untuk mengetahui distribusi masing-masing variabel dengan menggunakan table distrubusi frekuensi dan disajikan dalam bentuk persentase. Penelitian ini adalah analisis univariat yang terdiri dari inklinasi, kedalaman, dan hubungan dengan ramus gigi molar ketiga.
3.8 Etika Penelitian
Etika penelitian dalam penelitian ini mencakup:
1. Lembar persetujuan (informed consent)
Peneliti melakukan pendekatan dan memberikan lembar persetujuan kepada responden kemudian menjelaskan lebih dulu tujuan penelitian, tindakan yang akan dilakukan serta menjelaskan manfaat yang diperoleh dari hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.
2. Ethical Clearance
Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari komisi etik (Health Research Ethical Committee of North Sumatera) dengan nomor surat 40/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2018.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Data Demografis Sampel
Sampel pada penelitian ini sebanyak 90 orang yaitu 30 mahasiswa suku Tionghoa, suku Batak, dan suku Minangkabau. Penelitian ini dilakukan untuk memeriksa gigi yang mengalami impaksi pada gigi 18, 28, 38 dan 48 pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau berdasarkan inklinasi, kedalaman gigi molar ketiga serta hubungan gigi molar ketiga dengan ramus.
Prevalensi gigi molar ketiga yang erupsi sempurna sebesar 14,2%, agenesis sebesar 3,3% dan impaksi sebesar 82,5% pada mahasiswa suku Tionghoa. Prevalensi gigi molar ketiga yang erupsi sempurna sebesar 15,8%, agenesis sebesar 7,5%, dan impaksi sebesar 76,7% pada mahasiswa suku Batak. Prevalensi gigi molar ketiga yang erupsi sempurna sebesar 11,7% , agenesis sebesar 10,8 %, dan impaksi sebesar 77,5% pada mahasiswa suku Minangkabau.
Tabel 1. Persentase keadaan gigi molar ketiga pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau
No Suku Erupsi Sempurna Agenesis Gigi Impaksi Total
N % N % N % N %
1 Tionghoa 17 14,2 4 3,3 99 82,5 120 100
2 Batak 19 15,8 9 7,5 92 76,7 120 100
3 Minangkabau 14 11,7 13 10,8 93 77,5 120 100
Tabel 2. Persentase impaksi gigi molar ketiga berdasarkan elemen gigi pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau
No Suku Gigi Erupsi
4.2 Persentase Impaksi Gigi Molar Ketiga Pada Maksila Sebelah Kanan dan Kiri Berdasarkan Inklinasi
Pada mahasiswa suku Tionghoa, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga pada maksila sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu distoangular sebesar 50% dan maksila sebekah kiri yaitu distoangular sebesar 50%. Posisi impaksi molar ketiga pada maksila yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah distoangular sebesar 50%.
Pada mahasiswa suku Batak, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga pada maksila sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu distoangular dan vertikal sebesar 40,9% dan pada maksila sebekah kiri yaitu distoangular sebesar 50%. Posisi
molar ketiga pada maksila yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah distoangular sebesar 45,2%.
Pada mahasiswa suku Minangkabau, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga pada maksila sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu distoangular sebesar 54,4% dan pada maksila sebekah kiri yaitu vertikal sebesar 52,5%. Posisi impaksi molar ketiga pada maksila yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah distoangular sebesar 46,7%.
Tabel 3. Persentase impaksi gigi molar ketiga pada maksila sebelah kanan dan kiri berdasarkan inklinasi pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau N
Keteranagan: Mesioangular(M.A), Distoangular(D.A), Vertikal(V), Horizontal(H), Lain-lain(L.L)
4.3 Persentase Impaksi Gigi Molar Ketiga Pada Maksila Sebelah Kanan dan Sebelah Kiri berdasarkan kedalaman
Pada mahasiswa suku Tionghoa,molar ketiga pada maksila sebelah kanan yang sering mengalami impaksi molar ketiga berdasarkan kedalamannya yaitu kelas C sebesar 59,1% dan pada maksila sebelah kiri yaitu kelas C sebesar 58,3%. Kedalaman molar ketiga impaksi paling sering terjadi pada maksila adalah kelas C sebesar 58,7%.
Pada mahasiswa suku Batak, molar ketiga pada maksila sebelah kanan yang sering mengalami impaksi molar ketiga berdasarkan kedalaman yaitu kelas B dan kelas C sebesar 45,5% dan pada maksila sebelah kiri yaitu kelas C sebesar 50%. Kedalaman molar ketiga impaksi yang paling sering terjadi pada maksila adalah kelas C sebesar 47,6%.
Pada mahasiswa suku Minangkabau, molar ketiga pada maksila sebelah kanan yang sering mengalami impaksi molar ketiga berdasarkan kedalaman yaitu kelas C sebesar 54,5% dan pada maksila sebelah kiri yaitu kelas B sebesar 47,8%. Kedalaman impaksi molar ketiga yang paling sering terjadi pada maksila adalah kelas C sebesar 48,9%.
Tabel 4. Persentase impaksi gigi molar ketiga pada maksila sebelah kanan dan kiri berdasarkan kedalaman pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau
No Suku Regio Kedalaman Total
Kelas A Kelas B Kelas C
N % N % N % N %
1 Tionghoa Kanan 2 9,1 7 31,8 13 59,1 22 100 Kiri 0 0 10 41,7 14 58,3 24 100 Total 2 4,3 17 37 27 58,7 46 100 2 Batak Kanan 2 9,1 10 45,5 10 45,5 22 100
Kiri 2 10 8 40 10 50 20 100
Total 4 9,5 18 42,9 20 47,6 42 100 3 Minang Kanan 3 13,6 7 31,8 12 54,5 22 100 Kiri 2 8,7 11 47,8 10 43,5 23 100 Total 5 11.1 18 40 22 48,9 45 100
4.4 Persentase Impaksi Gigi Molar Ketiga Pada Mandibula Sebelah Kanan dan Kiri Berdasarkan Inklinasi
Pada mahasiswa suku Tionghoa, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga pada mandibula sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu mesioangular sebesar 38,5% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu mesioangular sebesar 44,4 %. Posisi impaksi molar ketiga pada mandibula yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah mesioangular sebesar 41,5%.
Pada mahasiswa suku Batak, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga mandibula sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu mesioangular sebesar 68,0% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu mesioangular sebesar 72 %. Posisi impaksi molar ketiga pada mandibula yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah mesioangular sebesar 70%.
Pada mahasiswa suku Minangkabau, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga mandibula sebelah kanan berdasarkan inklinasi yaitu mesioangular sebesar 64,0% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu mesioangular sebesar 69,6%.
Posisi impaksi molar ketiga pada mandibula yang sering terjadi berdasarkan inklinasi adalah mesioangular sebesar 66,7%.
Tabel 5. Persentase impaksi gigi molar ketiga pada mandibula sebelah kanan dan kiri berdasarkan inklinasi pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau
Total 35 70 0 0 9 18 6 12 0 0 50 100 3 Minang Kanan 16 64 0 0 4 16 4 16 1 4 25 100 Kiri 16 69,6 0 0 4 17,4 2 8,7 1 4,3 23 100 Total 32 66,7 0 0 8 16,7 6 12,5 2 4,2 48 100
Keteranagan: Mesioangular(M.A), Distoangular(D.A), Vertikal(V), Horizontal(H), Lain-lain(L.L)
4.5 Persentase Impaksi Gigi Molar Ketiga Pada Mandibula Sebelah Kanan dan Sebelah Kiri berdasarkan kedalaman
Pada mahasiswa suku Tionghoa, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga pada mandibula sebelah kanan berdasarkan kedalamannya yaitu level B sebesar 61,5% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu level B sebesar 56,6 %. Kedalaman impaksi molar ketiga yang paling sering terjadi pada mandibula adalah level B sebesar 58,5%.
Pada mahasiswa suku Batak, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga mandibula sebelah kanan berdasarkan kedalamannya yaitu level A sebesar 48,0% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu level B sebesar 56%. Kedalaman impaksi molar ketiga yang paling sering terjadi pada mandibula adalah level B sebesar 50%.
Pada mahasiswa suku Minangkabau, posisi yang sering mengalami impaksi molar ketiga mandibula sebelah kanan berdasarkan kedalamannya yaitu level B sebesar 60,0% dan pada mandibula sebelah kiri yaitu level B sebesar 39,1 %. Kedalaman impaksi molar ketiga yang paling sering terjadi pada mandibula adalah level B sebesar 50%.
Tabel 6. Persentase impaksi gigi molar ketiga pada mandibula sebelah kanan dan kiri berdasarkan kedalaman pada mahasiswa suku Tionghoa, Batak, dan Minangkabau
No Suku Regio Kedalaman Total
Level A Level B Level C
N % N % N % N %
1 Tionghoa Kanan 8 30,8 16 61,5 2 7,7 26 100 Kiri 7 25,9 15 56,6 5 18,5 27 100 Total 15 28,3 31 58,5 7 13,2 53 100
2 Batak Kanan 12 48 11 44 2 8 25 100
Kiri 10 40 14 56 1 4 25 100
Total 22 44 25 50 3 6 50 100
3 Minang Kanan 6 24 15 60 4 16 25 100
Kiri 8 34,8 9 39,1 6 26,1 23 100 Total 14 29,2 24 50 10 20,8 48 100
4.6 Persentase Impaksi Molar Ketiga Pada Mandibula Sebelah Kanan dan
4.6 Persentase Impaksi Molar Ketiga Pada Mandibula Sebelah Kanan dan