BAB II LANDASAN TEORI
C. Suku Batak Toba
3. Dampak Infertilitas Dalam Budaya Batak Toba
Infertilitas menyebabkan stresss dan berpengaruh negatif terhadap kesehatan pria dan wanita. Pasangan seringkali mengalami depresi, rasa bersalah, cemas, ketegangan dalam hubungan dan isolasi selama proses fertility treatment
(DeGenova, 2005). Semakin tinggi stress, semakin rendah self-esteem pasangan
dan kontrol internalnya serta semakin tinggi konflik interpersonal (Abbey, Andrews, dan Halman, 1994). Mereka merasa bahwa mereka telah gagal,
saling menyalahkan satu sama lain dan mereka sangat cemas ketika berusaha untuk hamil. Banyak orang yang infertil merasakan emosi seperti marah, panik, putus asa dan sedih yang nantinya dapat berpengaruh terhadap aktivitas seksual mereka (Read, 2004).
4. Upaya Medis Untuk Pasangan Infertil
DeGenova (2005) menjelaskan bahwa treatment untuk menghasilkan keturunan tergantung pada penyebabnya. Pembedahan dan hormonal adalah cara yang umum dilakukan. Ada juga pasangan yang dianjurkan dengan metode
fertility kemudian mereka dapat melakukan intercourse ketika kemungkinan besar pihak wanita ovulasi. Jika tidak berhasil pasangan boleh mempertimbangkan metode alternatif lain yang tersedia.
1) Artificial insemination adalah penyuntikan sperma ke dalam vagina atau uterus wanita untuk tujuan menghasilkan kehamilan (Cushner, 1986).
2) In vitro fertilization (IVF) melibatkan pengeluaran sel telur dari seorang wanita, membuahi sel telur itu dengan sperma dalam laboratorium, tumbuh selama 3 atau 4 hari dan kemudian menanamkan satu atau lebih blastosit
berikutnya (pre-embrio) pada dinding rahim.
3) Embryo transplant dimana embrio dikembangkan lebih dari 14 hari. Tidak melibatkan pembedahan, proses transfer dari donor ke resipien dicapai dengan melalui chateter yang dirancang secara special (pipa ke dalam saluran tubuh).
4) Gamete intrafallopian transfer (GIFT), sel telur dan sperma dimasukkan secara langsung ke dalam tuba fallopi dimana pembuahan normal terjadi.
5) Ovum transfer, dimana donor wanita diinseminasi buatan oleh sperma dari pasangan infertile wanita lainnya. Zigot (dibuahi sel telur) dikeluarkan setelah 5 hari dan ditransplasi ke dalam calon ibunya yang akan membawa anak tersebut selama dalam kandungan.
C. SUKU BATAK TOBA 1. Batak Toba
Orang Batak adalah salah satu suku dari Bangsa Indonesia yang tinggal di Sumatera Utara. Sumatera adalah pulau terbesar kedua sesudah kalimantan dan terletak diujung barat Indonesia. Orang Batak mendiami dataran tinggi Bukit Barisan sekitar Danau Toba (Nainggolan, 2012).
Suku Batak merupakan etnis keenam terbesar di Indonesia sesudah Jawa, Sunda, Tionghoa-Indonesia, Melayu dan Madura. Pada waktu itu penduduk Indonesia sudah ada sebanyak 237.641.326 jiwa. Suku Batak terdiri atas enam sub-suku yaitu Angkola dan Mandailing di sebelah selatan, Toba di pusat, Dairi/Pakpak di sebelah Barat-laut, Karo di sebelah Utara, dan Simalungun di sebelah Timur-laut (Nainggolan, 2012).
Orang Batak Toba terutama hidup dari pertanian. Berabad-abad lamanya mereka mengusahakan pertanian sawah dengan pengairan terpadu maka tidak heran kalau orang Batak Toba berdiam di lembah-lembah dan sekitar Danau Toba sebab disana ada cukup air untuk persawahan. Kondisi geografis lembah membuat mereka hidup dalam ruang yang terbatas dan terisolasi. Komunitas-komunitas ini hidup dalam ikatan keluarga yang kuat (Nainggolan, 2012).
2. Nilai Anak Dalam Budaya Batak Toba
Harahap & Siahaan (1987) mengemukakan lima nilai peran anak dalam budaya Batak Toba yaitu :
a. Pencapai tujuan hidup yang ideal
Harahap & Siahaan (1987) menyatakan bahwa tujuan hidup yang ideal tercakup dalam nilai 3H yakni hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Lubis (1997) menjelaskan bahwa hagabeon sama artinya dengan bahagia dan sejahtera. Kebahagiaan yang dimaksudkan disini adalah kebahagiaan dalam keturunan. Keturunan dipandang sebagai pemberi harapan hidup karena keturunan itu adalah suatu kebahagiaan yang tidak ternilai bagi orang tua, keluarga dan kerabat
Hamoraon (kekayaan) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, dimana kekayaan ini diidentikkan dengan harta kekayaan dan anak. Tanpa anak individu tidak akan merasa kaya meskipun banyak harta seperti yang diungkapkan dalam ungkapan; “Anakkonhi do hamoraon diahu” (anakku adalah harta yang paling berharga bagi saya).
Hasangapon (kemuliaan & kehormatan) merupakan kedudukan seseorang dalam lingkungan masyarakat. Untuk mencapai hasangapon seseorang harus terlebih dahulu berketurunan (gabe) dan memiliki kekayaan (mora). Diantara nilai
hamoraon, hagabeondan hasangapon, nilai hagabeon merupakan nilai yang paling penting dimana nilai hagabeon mengungkap makna bahwa orang Batak Toba sangat mendambakan kehadiran anak dalam keluarga
b. Pelengkap Dalihan Na Tolu
Anak juga dapat berperan sebagai pelengkap adat Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu merupakan suatu ungkapan yang menyatakan kesatuan hubungan kekeluargaan pada suku Batak Toba. Ketiga hubungan kekeluargaan itu adalah ;
1. Hula-hula (keluarga dari pihak pemberi istri/wanita) 2. Dongan sabutuha (kawan semarga)
3. Boru (keluarga dari pihak penerima istri/wanita)
Anak laki-laki nantinya akan beristri dan keluarga pihak pemberi istri akan disebut dengan hula hula sedangkan anak perempuan akan bersuami dan keluarga pihak penerima istri akan disebut boru. Dengan demikian lengkaplah unsur
Dalihan Na Tolu yaitu dongan sabutuha, hula hula dan boru
(Harahap & Siahaan, 1987).
c. Penambah ”sahala” orang tua
Anak juga dipandang dapat menambah sahala (wibawa) orang tua. Ph.L.Tobing menyatakan sahala sebagai salah satu aspek dari tondi (roh). Seorang yang memiliki kewibawaan kekayaan dan keturunan adalah orang yang memiliki sahala. Sahala seseorang bertambah bila hal-hal tersebut bertambah (Harahap & Siahaan, 1987).
d. Pewaris harta kekayaan
Dalam budaya Batak Toba, yang menjadi pewaris seutuhnya adalah anak laki-laki, sementara anak perempuan bisa memiliki sebagian harta warisan apabila saudaranya laki-laki tersebut mau berbagi sebagian dari harta yang dia warisi (Vergouwen, 1986).
e. Penerus garis keturunan (marga)
Anak juga dipandang dapat meneruskan marga dari ayahnya. Marga merupakan asal-mula nenek moyang yang terus dipakai di belakang nama (Gultom, 1992). Masyarakat umum Batak mengartikan marga sebagai kelompok suku dan suku induk, yang berasal dari rahim yang sama (Vergouwen, 1986). Keyakinan ini disebabkan oleh penetapan struktur garis keturunan mereka yang menganut garis keturunan laki-laki (patrilineal) yang berarti bahwa garis marga orang Batak Toba diteruskan oleh anak laki-laki. Jika orang Batak Toba tidak memiliki anak laki-laki maka marga tadi akan punah. Adapun posisi perempuan Batak Toba adalah sebagai pencipta hubungan besan karena perempuan harus menikah dengan laki-laki dari kelompok patrilineal yang lain.
3. Dampak Infertilitas Dalam Budaya Batak Toba
Vergouwen (1986) menyatakan ada beberapa dampak yang ditimbulkan apabila dalam sebuah keluarga tidak memiliki keturunan yaitu :
a. Garis keturunan punah
Sistem kekerabatan orang Batak adalah patrilineal. Garis keturunan laki-laki diteruskan oleh anak laki dan menjadi punah kalau tidak memiliki anak laki-laki. Laki-laki itulah yang membentuk kelompok kekerabatan; perempuan menciptakan hubungan besan karena ia harus menikah dengan laki-laki dari kelompok patrilineal lainnya.
b. Mengangkat anak (adopsi)
Di masyarakat Batak, jarang sekali pasangan yang mandul mau mengangkat anak. Menurut alam pikiran orang yang belum memeluk agama, tidak mempunyai
keturunan laki-laki berarti hidup sengsara di alam baka. Bahkan orang Kristen masih berpikir bahwa tidak ada hal yang lebih buruk selain keadaan yang demikian. Untuk menghindari keadaan seperti itu, biasanya akan mengangkat anak. Mengangkat anak baru bisa mempunyai makna jika ada kemungkinan mendapatkan anak angkat laki-laki yang dapat melanjutkan galur bapak angkat. c. Beristri dua (bigami)
Salah satu alasan mengapa orang mengambil istri kedua ialah karena ia tidak memiliki keturunan, terutama kegagalan mendapatkan anak laki-laki. Mengambil istri kedua karena tidak mendapat anak tidak berarti karena ada persoalan antara suami-istri. Dalam kenyataannya justru istri sendirilah yang sering mendesak suami agar mengambil istri muda dengan harapan akan mendapatkan anak laki-laki, walaupun istri pertama itu mungkin sudah melahirkan tetapi perempuan. d. Bercerai
Penyebab utama berakhirnya suatu perkawinan tampaknya adalah ketidakmampuan seksual/cacat lain yang tak memungkinkan persenggamaan yang lazim. Kemandulan juga menjadi penyebab perceraian. Hal ini biasanya diperkirakan sebagai akibat dari tidak adanya keselarasan antara tondi pasangan sehingga dapat menghalangi lahirnya keturunan.
e. Tidak ada pewaris harta kekayaan
Harta peninggalan orang tua sepenuhnya diwarisi oleh anak laki-laki. Pewarisan menurut garis laki-laki disebut dengan mangihut-ihuton
(menggantikan, melanjutkan) lelaki harus mewarisi apa yang ditinggalkan bapaknya. Anak perempuan tidak mempunyai hak tertentu dalam warisan orang
tuanya. Anak perempuan dalam hal ini bisa memiliki sebagian dari warisan yang ditinggalkan apabila ia dengan baik-baik meminta kepada saudaranya laki-laki untuk memberikan sebagian dari harta yang diwarisinya. Disaat masih hidup seseorang dapat juga menyisihkan sebagian hak miliknya untuk anak perempuan, selain harta bawaan yang sudah diterimanya. Pemberian bisa diterima pada waktu itu atau dikemudian hari sewaktu anak perempuan itu kawin yakni sebagai
pauseang. Jatah yang diberikan kepada anak perempuan setelah bapaknya meninggal juga disebut dengan parmanomanoan (yang diterima dari yang meninggal sebagai kenang-kenangan).