DAMPAK INVASI MATARAM ISLAM TERHADAP TUBAN
Setelah peristiwa invasi yang dilakukan oleh Sultan Agung Mataram ke Tuban pada tahun 1619, terdapat dampak-dampak yang dapat dirasakan, baik oleh kadipaten Tuban sendiri maupun bagi Mataram Islam. Dampak-dampak yang dimaksud diantaranya
A. Dampak Sosial-Politik
Peristiwa invasi yang dilakukan oleh Sultan Agung terhadap Tuban tentunya mengakibatkan dampak sosial-politik, baik bagi Tuban maupun bagi Mataram. Dampak sosial-politik yang dimaksud antara lain:
1. Dampak bagi Tuban, diantaranya:
a. Tuban tidak lagi dapat mengelola pemerintahannya sendiri. Hal ini dikarenakan sejak Mataram berhasil melakukan invasi terhadap Tuban, penguasa Tuban merupakan adipati-adipati yang diangkat oleh raja-raja dari kerajaan Mataram Islam.1
b. Kota Tuban menjadi sepi. Hal ini dikarenakan, meskipun Mataram berhasil menundukkan Tuban, mereka tidak memindahkan kependudukan Mataram ke Tuban, sehingga di
1
De Graaf, Kerajaan Islam Pertama: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, Terj. Grafiti Pers dan KITLV (Jakarta: Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, 2001), 153.
65
Tuban terjadi kekosongan kependudukan akibat pribumi Tuban juga banyak yang melarikan diri ketika peristiwa invasi Mataram tersebut terjadi
c. Kehancuran Tuban berdampak pada semakin melemahnya kekuatan Surabaya sebagai pusat kekuatan pesisir kala itu. Menurut De Graaf, salah satu akibat moral dari takluknya Tuban oleh kerajaan pedalaman ini adalah Surabaya merasa begitu terpukul atas kekalahan Tuban pada tahun 1619, sehingga jelas mereka takut orang Mataram datang ke kota Surabaya.2
d. Berakhirnya dominasi penguasa daerah Timur atas laut 2. Dampak bagi Mataram, diantaranya:
a. Mataram memiliki armada laut yang kuat. Jatuhnya Tuban akibat invasi tahun 1619, menjadikan raja Mataram dapat menguasai armada laut Tuban yang dikenal kuat.3
b. Dominasi Mataram tidak hanya sebatas di wilayah darat saja, tetapi juga perairan
c. Mataram memiliki pasukan tambahan yang ia gunakan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
d. Kekuasaan Mataram di Jawa menjadi semakin kuat
2
H. J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, Terj. Grafiti Pers dan KITLV (Yogyakarta. Jakarta: Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti, 2002), 61.
3
66
B. Dampak Sosial-Ekonomi
Tuban diketahui sejak awal merupakan sebuah pelabuhan niaga yang terkenal. Ia bahkan menjadi pelabuhan penting yang pertama kali disinggahi, ketika pedagang-pedagang dari negara lain pergi ke pulau Jawa. Peran Tuban yang begitu penting tersebut sudah pasti mengembangkan perekonomian Tuban pada masa itu. Namun sejak Tuban dikuasai oleh Mataram, secara tidak langsung, pelabuhan Tuban juga diambil alih oleh Mataram. Kejadian ini memberikan dampak sosial- ekonomi yang tidak hanya dirasakan oleh kadipaten Tuban, namun juga Mataram. Dampak-dampak yang terjadi diantaranya:
1. Dampak bagi Tuban
a. Perekonomian Tuban mati. Hal ini tidak hanya berpengaruh bagi perekonomian Tuban, tapi juga bagi Surabaya. Hal tersebut dikarenakan Tuban menjadi salah satu pondasi penting Surabaya dalam menguasai wilayah pesisir utara Jawa
b. Tuban tidak lagi menjadi pelabuhan penting bagi kerajaan yang membawahinya. Hal ini terjadi dikarenakan setelah Mataram menguasai Tuban, Mataram tidak memilih Tuban sebagai pelabuhan terpentingnya, melainkan Jepara, yang memang telah menjadi pelabuhan penting bagi Mataram sejak masa Senopati.4
4
Edi Sedyawati et al., Tuban: Kota Pelabuhan di Jalan Sutera (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992), 40.
67
2. Dampak bagi Mataram
a. Mataram mengalami bencana kelaparan yang drastis akibat banyaknya orang yang dibawanya dalam misi penaklukan wilayah timur, salah satunya Tuban.5
b. Ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung pada ekonomi agraris seperti sebelumnya, namun juga berasal dari pelayaran dan perdagangan
c. Perekonomian Mataram lebih unggul. Hal ini jelas terjadi, karena Tuban yang sebelumnya ikut mendominasi pasar dagang melalui jalur laut, sejak invasi diakuisisi oleh Mataram
C. Dampak Sosial-Budaya
Dampak lain yang dapat dirasakan Tuban setelah peristiwa invasi Mataram pada tahun 1619 adalah menyangkut bidang sosial-budaya, antara lain:
1. Almanak Jawa yang saat Sultan Agung berkuasa berubah menjadi kalender Hijriyah, juga berpengaruh di Tuban. Meskipun disisi lain, perhitungan tahun saka masih tetap digunakan.
2. Akulturasi kebudayaan jawa dengan Islam yang dipadukan dan dikenal sebagai Islam Kejawen, yang populer pada masa Sultan Agung juga berpengaruh di Tuban
5
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sebelum abad ke-17, Tuban merupakan kadipaten yang berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara. Kerajaan- kerajaan besar yang dimaksud adalah Kahuripan, Singasari, Kediri, Majapahit, Demak, dan Pajang. Peran Tuban sebagai kota pelabuhan memberikan banyak kontribusi bagi kemakmuran kerajaan-kerajaan yang membawahinya. Sejak abad ke-11, Tuban menjadi pelabuhan niaga yang vital pada masa raja Airlangga dari kerajaan Kahuripan. Ia dikenal sebagai pelabuhan antar negara yang berperan sebagai jalur perdagangan. Diketahui bahwa negara-negara lain akan singgah ke kota ini, ketika ia berkunjung ke Jawa. Keadaan ini terus berkembang bahkan ketika Tuban berada dalam penguasaan kerajaan Majapahit. Ketika itu Tuban dijadikan pelabuhan utama yang akan disinggahi oleh orang-orang dari negara-negara lain, sebelum mereka bisa mencapai Majapahit.
69
2. Sultan Agung dikenal sebagai seorang penguasa yang ekspansionis. Misi ekspansinya yang bertujuan untuk menyatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Mataram ini, dilancarkan melalui invasi-invasi yang dilakukan kepada wilayah-wilayah Bang Wetan, salah satunya Tuban, juga wilayah-wilayah lain yang ia pikir mampu mengukuhkan kekuasaannya yang absolut di tanah Jawa. Politik invasi Sultan Agung dilakukan dengan cara mempersiapkan sejak dini pasukan-pasukan yang berasal dari rakyatnya sendiri, dengan cara memilihkan diantara mereka wakil-wakil dari tiap daerah yang memiliki wewenang sesuai dengan seberapa besar daerah atau seberapa banyak anggota kepala keluarga yang dinaunginya. Selain itu, kesatuan politik Sultan Agung mungkin diakibatkan oleh hanya Mataram yang berhak mengelola daerah-daerah bawahannya, sehingga tidak ada wilayah bawahannya yang berkhianat sebab kekuasaan Mataram tersebar di setiap daerah-daerah yang berada dalam kekuasaannya.
3. Ada tiga dampak yang terjadi akibat peristiwa invasi Sultan Agung ke Tuban, yaitu dampak di bidang sosial-politik, bidang sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. Dampak di bidang sosial-politik yang dialami oleh Tuban, diantaranya Tuban tidak lagi berhak mengelola pemerintahannya sendiri, karena sejak itu penguasa-penguasa Tuban dipilih secara langsung oleh Mataram. Di sisi lain, Mataram memiliki tambahan kekuatan yang berasal dari Tuban yang berkuasa di wilayah
70
pesisir. Sedangkan dampak di bidang sosial-ekonomi bagi Tuban, diantaranya perekonomian Tuban mati yang berakibat juga pada semakin melemahnya perekonomian Surabaya sebagai penguasa koalisi pesisir di Bang Wetan. Di sisi lain, perekonomian Mataram semakin berkembang karena ekonomi Mataram sejak saat itu tidak hanya tergantung pada ekonomi agraris, tetapi juga berasal dari pelayaran dan perdagangan. Dampak sosial-budaya yang terjadi di Tuban adalah akulturasi budaya Islam Kejawen yang populer pada masa Sultan Agung juga berpengaruh di Tuban.
B. Saran
Sejarah dapat memberikan gambaran mengenai perjuangan para pemimpin terdahulu untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran pada masanya. Beberapa sifat kepemimpinan para penguasa terdahulu bisa dijadikan contoh untuk generasi masa mendatang, sehingga mampu menjadi generasi penerus yang memiliki karakter pemimpin. Di sisi lain, mengingat kekurangan-kekurangan yang ada di dalam skripsi ini, penulis akan memberikan beberapa saran, antara lain:
1. Penulis berharap adanya pihak yang meneruskan penelitian yang membahas tentang invasi Mataram ke Tuban, sehingga mampu menemukan dampak-dampak lain yang terjadi di Tuban akibat dari peristiwa tersebut.
71
2. Saran bagi pembaca. Kebijakan dan ketegasan Sultan Agung sebagai pemimpin patut dijadikan contoh dalam kehidupan. Perjuangannya dalam usaha menyatukan kekuasaan politik di Pulau Jawa, patut dijadikan teladan untuk selalu bersatu dalam ke-bhinekaan pada masa sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
A. M. Sadirman. Memahami Sejarah. Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2004. Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2007.
Abimanyu, Soedjipto. Kitab Terlengkap Sejarah Mataram. Yogyakarta: Saufa, 2015.
Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta. Babad Sultan Agung. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980.
. Pararaton. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980.
Edi Sedyawati et.al. Tuban: Kota Pelabuhan di Jalan Sutera. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992.
Graaf, De. Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati. Jakarta: PT Pustaka Garfiti Press, 1987.
. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2001.
. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2002.
Harun, Yahya. Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI dan XVII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera, 1995.
J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002.
Kartodirjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Kresna, Ardian. Sejarah Panjang Mataram: Menengok Berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Diva Press, 2011.
Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya Bagian III. Penj. Winarsih Partaningrat Arifin et.al. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
M. C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Terj. Satrio Wahono et.al. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007.
Mukarrom, Ahwan. Kerajaan-kerajaan Islam Indonesia. Surabaya: Jauhar, 2010. Muljana, Slamet. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit.
Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2012.
, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit. Jakarta: Inti Sedayu Press, 1983.
, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara- negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2009.
Notosusanto, Nugroho. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer. Jakarta: Yayasan Idayu, 1978.
P. K. Hugiono. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta, 1992.
Pires, Tom. Suma Oriental. Terj. Anggita Pramesti dan Adrian Perkasa. Yogyakarta: Ombak, 2016.
Poesponegoro, Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Cetakan ke-4. Jakarta: Balai Pustaka, 2010.
Raffles, Thomas Stamford. The History of Java. Terj. Eko Prasetyaningrum et.al. Yogyakarta: Narasi, 2014.
Reid, Anthony. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.
Roelofsz, Meilink. Perdagangan Asia dan Pengaruh Eropa di Nusantara. Terj. Aditya Pratama. Yogyakarta: Ombak, 2016.
Soeparmo, R. Catatan Sejarah 700 Tahun Tuban. Tuban: Pemerintah Kabupaten Tuban, 1983.
Swie, Tan Khoen. Serat Babad Thuban. Kediri:Tan Khoen Swie, 1936.
Syaodih Sukmadinata, Nana. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Tim Penyusun. Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony. Tuban: Pemerintah Kabupaten Tuban, 2015.
Vlekke, Bernard H. M. Nusantara Sejarah Indonesia. Terj. Samsudin Berlian. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.
W. L. Olthof. Babad Tanah Jawi. Terj. H. R. Sumarsono. Yogyakarta: Narasi, 2011.
Laporan Penelitian
Nurhadi. Perang dan Krisis Pangan pada Masa Mataram Islam. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1991.
Skripsi dan Jurnal
Mufidah, Laila. Ambisi Mataram Islam untuk Menguasai Blambangan: Masa Sultan Agung dan Amangkurat I Abad ke-17. Skripsi, UIN Sunan Ampel Fakultas Adab, Surabaya, 2016.
Samuel Hartono et. al. Alun-alun dan Revitalisasi Identitas Kota Tuban. Jurnal, Universitas Kristen Petra, Surabaya, 2005.
Website
Saptono, “Teori Hegemoni Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer”, dalam repo.isi-
dps.ac.id/.../Teori_Hegemoni_Sebuah_Teori_Kebudayaan_Kontemporer.p df (31 Mei 2017)