• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA TEORI

3.7. Dampak Kebijakan Fiskal terhadap Perekonomian

Otonomi daerah memberikan kebebasan kepada pemerintah daerah untuk menggunakan anggaran sesuai dengan keperluan daerah. Asumsinya, pemerintah daerah lebih mengerti kondisi daerahnya, sehingga alokasi anggaran lebih tepat dan sesuai kebutuhan. UU No 32/2004 tentang desentralisasi fiskal memberikan jaminan kepada pemerintah daerah untuk menggunakan APBD sesuai kebutuhan daerah.

Mazhab ekonomi Keynesian dan neo-Keynesian memberikan saran bahwa campur tangan pemerintah dalam perekonomian sangat diperlukan untuk

82

menciptakan keseimbangan perekonomian dalam jangka pendek. Dalam kondisi ekonomi booming, maka pemerintah dapat mengurangi campur tangannya dalam perekonomian. Pada saat perekonomian mengalami overheating atau aktivitas ekonomi yang terlalu dinamis, maka pemerintah bisa mengerem laju pertumbuhan ekonomi untuk menghindari resesi. Sebaliknya, dalam kondisi perekonomian lesu, maka pemerintah harus membantu menggairahkan kondisi ekonomi.

Dengan adanya UU No 32/2004 berarti pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk turut serta memberikan stimulus dalam perekonomian. Hal ini dilakukan dengan pengelolaan APBD secara benar, namun tampaknya kurang dipahami benar oleh pemerintah daerah. Banyak kasus kebijakan pemerintah daerah yang tidak mempunyai tujuan menggerakkan perekonomian daerah. Dalam menentukan anggaran pembangunan, banyak proyek pemerintah daerah yang tidak dapat dilihat multiplier effect-nya bagi perekonomian.

Menurut Goeltom (1997), peran pemerintah dalam sistem perekonomian modern dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: (1) peran alokasi, yaitu peran dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi, (2) peran distribusi, yaitu mendistribusikan kembali faktor-faktor produksi dan hasilnya, dan (3) stabilisasi, yaitu menjamin stabilitas ekonomi dan politik.

Dalam implementasinya terjadi trade off antara satu tujuan dengan tujuan lain. Peran stabilisasi dapat trade off dengan distribusi, peran alokasi dapat trade off dengan stabilisasi. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya dilakukan kombinasi kebijakan secara terpadu (mixed policy). Meskipun secara teoritis, peran pemerintah dapat dipisahkan, tetapi dalam implementasinya tidak dapat

83

dipisahkan, sehingga kebijakan pemerintah semestinya harus diputuskan melalui pertimbangan yang menyeluruh dari berbagai aspek.

Untuk menganalisis dampak belanja pemerintah terhadap pencapaian kinerja bidang pendidikan, model analisis yang digunakan direfleksikan dalam bentuk hubungan matematis sebagai berikut: E = f(X ,Z), dimana: E adalah indikator sosial yang menunjukkan kinerja bidang pendidikan dan kesehatan sebagai fungsi dari pengeluaran pendidikan dan kesehatan (X), dan vektor variabel sosial ekonomi (Z) yang diperlakukan sebagai variabel kontrol. Pilar pokok kebijakan/ program pembangunan adalah :

1. Pemberdayaan: partisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan menyangkut kehidupan dan mendapat manfaat dari pembangunan serta pengentasan kemiskinan

2. Produktivitas dalam meningkatkan mutu modal manusia: SDM, kesehatan masyarakat dan peningkatan tingkat pendapatan.

3. Pemerataan dalam distribusi pendapatan, meliputi redistribusi asset negara, akses ke sumberdaya ekonomi, fasilitas sosial, proses pengambilan keputusan 4. Berkelanjutan, yaitu tersedianya SDA bagi generasi mendatang pembangunan

berkelanjutan: pertumbuhan terkendali dan pelestarian lingkungan SDA dan keanekaragaman hayati.

Kebijakan fiskal (fiscal policy) merupakan salah satu kebijakan makroekonomi yang secara khusus berkaitan dengan kebijakan penerimaan dan pengeluaran negara. Instrumen kebijakan fiskal adalah pajak, pengeluaran pemerintah dan pembayaran transfer (transfer payment). Dalam melaksanakan kebijakan fiskal, maka variabel-variabel ini akan diubah sesuai dengan tujuan

84

yang ingin dicapai oleh pemerintah. Kebijakan Fiskal berarti penggunaan pajak, pinjaman masyarakat, pengeluaran masyarakat oleh pemerintah untuk tujuan stabilisasi atau pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks negara berkembang peranan kebijakan fiskal adalah untuk memacu laju pembentukan modal dan sebagai piranti pembangunan ekonomi. Menurut Jhingan (2004), beberapa tujuan kebijakan fiskal adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan laju investasi, baik di sektor swasta maupun pemerintah.

2. Mendorong investasi sosial secara optimal sesuai dengan keinginan masyarakat, mendorong investasi pada overhead sosial dan ekonomi, seperti investasi di bidang pendidikan, kesehatan dan fasilitas latihan tehnik untuk overhead sosial. Kedua kategori ini menghasilkan ekonomi eksternal yang cenderung memperluas pasar, meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi.

3. Meningkatkan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran atau setengah pengangguran. Pengeluaran pemerintah harus diarahkan pada penyediaan overhead sosial dan ekonomi, yang notabene pengeluaran ini akan lebih banyak menciptakan lapangan pekerjaan dan menaikkan efisiensi produksi perekonomian jangka panjang.

4. Meningkatkan stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian internasional. 5. Menanggulangi inflasi, misalnya dengan diberlakukannya pajak langsung

progresif yang dilengkapi dengan pajak komoditi.

6. Meningkatkan dan meredistribusikan pendapatan nasional agar dapat mengurangi ketimpangan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

85

Menurut Psacharopoulos (1977), kesempatan sekolah di semua tingkat telah mendorong pertumbuhan ekonomi agregat melalui:

1. Terciptanya angkatan kerja yang lebih produktif karena bekal pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik.

2. Tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas dan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan bagi guru, pekerja bangunan, pencetakan buku sekolah, pembuat seragam sekolah dan pekerja lain yang terkait dengan sekolah.

3. Terciptanya kelompok pemimpin yang terdidik untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh ekspatriat atau di lembaga pemerintah, perusahaan publik, swasta serta profesi.

4. Tersedianya berbagai program pendidikan dan pelatihan yang mendorong kemampuan baca tulis dan keterampilan dasar dan mendorong terciptanya sikap-sikap modern dalam masyarakat.

Kebijakan fiskal dalam bentuk peningkatan pengeluaran pemerintah menyebabkan kurva agregat demand bergeser dari AD0 ke AD1 dan output

bertambah dari Y0 ke Y1. Peningkatan pengeluaran pemerintah untuk pendidikan

dan kesehatan akan meningkatkan kapabilitas dan produktivitas tenaga kerja. Peningkatan produktivitas tenaga kerja akan menyebabkan output bertambah dan menggeser kurva agregat supply dari AS0 ke AS1. Oleh karena tingkat upah riil

sama dengan marginal product of labor (MPL = w), maka peningkatan produktivitas akan meningkatkan output dan tidak menyebabkan harga naik, sehingga keseimbangan akhir akan berada pada titik Y2-P0.

86

Peningkatan investasi SDM menyebabkan ouput meningkat dari dua sisi, yaitu sisi agregat demand dan agregat supply secara bersamaan serta tidak menimbulkan efek inflasioner. Sebagai dampak akhirnya, peningkatan investasi SDM menyebabkan output meningkat dari Y0 ke Y2 dan harga tetap pada P0

(Branson dan Litvack, 1981). Selengkapnya tentang dampak investasi SDM pada pasar barang seperti dijelaskan pada Gambar 8 berikut ini:

Sumber: Branson dan Litvack (1981)

Gambar 8. Dampak Investasi SDM pada Pasar Barang

Peningkatan investasi SDM dapat meningkatkan output dan penyerapan tenaga kerja, sehingga pengangguran, ketimpangan pendapatan, dan kemiskinan berkurang. Dampak akhirnya adalah tercapainya tujuan pebangunan growth dan equity secara simultan.

Y Y0 Y1 P P0 AD1 AD0 AS0 AS1 Y2

87