4. Special Operation (SO)
2.4 Dampak Konflik Terhadap Krisis Pangan
Salah satu penyebab krisis pangan di Myanmar yaitu adanya konflik etnis yang tidak berkesudahan seperti konflik Rohingya. Konflik ini terjadi akibat adanya penolakan etnis Rohingya atau tidak adanya pengakuan legal dari pemerintah Myanmar. Penganiayaan terhadap komunitas Rohingya memiliki akar panjang yang mulai tumbuh sejak tahun 1970-an dan sejak itu karena kebijakan diskriminatif pemerintah Myanmar, mereka dipaksa untuk meninggalkan negara asal mereka ke Bangladesh. Faktor ekonomi dan politik harus dipertimbangkan untuk memahami akar penyebab penganiayaan ini, pemindahan paksa, dan kerentanan terhadap orang-orang Rohingya. Negara miskin Arakan diberkati dengan sumber daya alam yang cukup untuk memahami mengapa otoritas negara begitu tertarik pada bagian Myanmar ini.
Perampasan tanah atas nama proyek-proyek pembangunan seperti;
perluasan pangkalan militer, eksploitasi sumber daya alam, proyek pertanian, infrastruktur, dan pariwisata.33
Penyebab struktural konflik ini adalah perbedaan agama dan etnis.
Krisis Rohingya pertama kali muncul di garis depan pada tahun
1977-33 Mahmud, Md. Tareq. 2019. A Conflict Profile On The Rohingya Conflict in Myanmar.
Journal of Social Research Vol.14. Hal. 2
78
1978 yang merupakan awal dari pemindahan paksa terhadap komunitas etnis ini. Sejak itu tindakan keras terhadap masyarakat telah berlangsung secara berkala; awal 1990-an hingga sekarang. Setelah Myanmar memenangkan kemerdekaan dari pemerintahan Inggris pada tahun 1948, populasi Muslim memulai pemberontakan di Negara Bagian Rakhine untuk mencari persamaan hak dan otonomi daerah. Ini sangat didorong kembali oleh pemerintah dan diyakini telah semakin memperkuat titik perselisihan antara dua kelompok agama besar di wilayah tersebut.
Meningkatnya Islamofobia juga memberi alasan fundamentalis bagi umat Buddha untuk melanjutkan agenda bahwa etnis Rohingya merupakan ancaman terhadap budaya yang mayoritas beragama Budha di negara itu.34
Konflik ini kemudian pecah pada tahun 2012, yang melibatkan Muslim Rohingya dan Budha dari etnis Rakhine. Pecahnya konflik ini berawal dari adanya pemerkosaan terhadap seorang wanita Budha yang dilakukan oleh pria Muslim. Hal tersebut yang memicu adanya pembalasan yang dilakukan oleh etnis Rakhine yang merupakan mayoritas Budha. Peristiwa tersebut yang memicu adanya kekerasan eksplosif yang menelan korban lebih dari 200 orang. Pasca kejadian tersebut, pengungsi Rohingya dipaksa untuk keluar rumah dan mulai terjadinya pembatasan dalam pekerjaan dan kebebasan beragama.
34 Ibid
79
Kekerasan yang terjadi pada 2012 ini juga disebut dengan pembersihan etnis karena telah menyebabkan banyak korban yang di alami oleh etnis Rohingya35. Krisis mulai terungkap lagi pada tahun 2017 yang mengakibatkan pemindahan 700.000 Rohingya di Bangladesh dengan total keseluruhan sebanyak 1,3 juta orang. Sejak itu mulai banyak terjadi kekerasan yang dirasakan oleh etnis Rohingya, sekitar 6700 etnis Rohingya tewas di antaranya ada 730 adalah anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Selain itu perempuan dan gadis Rohingya diperkosa dan dianiaya oleh militer Myanmar.36
Adanya kekerasan baru di Kachin dan Shan serta meningkatnya kekerasan di Rakhine, keadaan kemanusiaan yang sudah rapuh situasi di negara ini telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir, membuat lebih dari 1 juta orang kehilangan tempat tinggal tempat asal sejak Juni 2011.
Delapan persen dari pengungsi adalah wanita dan anak-anak. Dengan batasan pada gerakan dan kurangnya akses ke mata pencaharian, bantuan eksternal telah menjadi garis hidup bagi banyak orang. Situasi konflik yang berlarut-larut dan kekerasan telah memicu mekanisme penanggulangan negatif, kekerasan seksual yang meningkat, pemaksaan
35 Sadewa, Dzikiara Pesona. 2020. Pengaruh Keterlibatan Food and Agricalture Organization (FAO) dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pertanian Pasca-Konflik Krisis Pangan Etnis Rohingya di Myanmar. Insignia Journal of International Relations Vol.
7 No. 1. Diakses dalam
http://jos.unsoed.ac.id/index.php/insignia/article/view/2243/1423 pada 10 Juni 2020 pukul 14.12
36 Op, Cit. Mahmud hal. 7
80
rekrutmen, perdagangan manusia dan kerentanan terhadap praktik migrasi berisiko yang khususnya memengaruhi perempuan, anak.
Membantu dalam hal untuk bertahan hidup dengan bermartabat tetap menjadi tantangan utama. Konflik etnis dan kontaminasi ranjau darat secara luas di Negara Bagian Kachin dan Shan menghambat akses para pengungsi internal ke lahan pertanian dan peluang mata pencaharian lainnya, memperkuat ketergantungan mereka pada bantuan kemanusiaan.
Di Kachin, pertempuran antara pasukan pemerintah dan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) yang telah menggusur 91.000 orang-orang sejak 2011 berlanjut sepanjang 2017. Sekitar 40 % orang terlantar berada di daerah Kachin. Negara di luar kendali pemerintah di mana para aktor internasional memiliki akses kemanusiaan yang sangat terbatas atau tidak ada sama sekali Juni 2016. Di Negara Bagian Shan, 15.000 orang tetap mengungsi sejak pecahnya konflik etnis pada tahun 2011.37
Pasca konflik Rohingya menyebabkan banyak kerugian dan kerusakan yang dialami oleh etnis Rohingya. Banyak tempat tinggal dan rumah ibadah yang hancur yang kemudian berakibat pada lebih dari 140.000 etnis Rohingya terlantar dan kemudian mengungsi ke berbagai negara tetangga. Selain itu etnis Rohinya mulai mengalami keadaan yang
37 World Food Programme. 2017. Supporting Transition by Reducing Food Insecuriity and Undernutrition Among the Most Vulnerable. Standard Projeect Report 2017. Diakses dalam https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-0000069855/download/ pada 11 Juni 2020 pukul 10.11
81
darurat dan mulai timbul rasa tidak nyaman dalam melakukan aktivitas karena disebabkan adanya banyak diskriminasi dan kekerasan. Dampak lain yang sangat berpengaruh yaitu dari factor kesehatan yang sangat memprihatinkan, dimana indeks kesehatan pasca konflik di Myanmar mengalami tingkat yang buruk dan tersebarnya kekurangan gizi secara luas. Hal ini sangat dirasakan oleh etnis Rohingya sebagai etnis minoritas.
Peningkatan anak yang mengalami gizi buruk ters meningkat drastis setiap tahunnya. Peningkatan ini terjadi sejak tahun 2012, dan sejak itu mulai banyak ditemukan anak Rohingya dengan jumlah lebih dari 40.000 jiwa yang membutuhkan bantuan. Anak-anak yang memiliki presentase sebanyak 40% dari seluruh pengungsi ynag rentan terhadap kelaparan.38
Adanya peningkatan pertempuran sejak 2018 di Negara Bagian Rakhine antara Tentara Arakan dan militer Myanmar, serta intensifikasi konflik bersenjata etnis di negara-negara Kachin dan Shan sejak 2011, telah semakin berkontribusi pada ketidakstabilan. Diperkirakan 823.600 orang yang tinggal di daerah yang terkena dampak konflik rentan terhadap kerawanan pangan. Lebih dari 240.000 orang tetap terlantar secara inner dengan akses terbatas ke lahan pertanian dan peluang mata pencaharian lainnya.39 Krisis pangan dan gizi buruk terus mengalami peningkatan
38 Op, cit. Sadewa
39 WFP Myanmar. 2019. Relief. Diakses dalam https://docs.wfp.org/api/documents/WFP-
0000105025/download/?_ga=2.136453491.2119991951.1591733647-1675125245.1586111241 pada 11 juni 2020 pukul 10.30
82
setiap tahunnya yang banyak dialami oleh pengungsi Rohingya. Di negara bagian Kachin, Kayin, Rakhine, dan Shan di Burma ada lebih dari 734.000 orang yang terkena dampak konflik sehingga mengalami krisis pangan akut dan sekitar 175.000 anak-anak dan wanita memerlukan layanan nutrisi yang menyelamatkan jiwa.40 Hal-hal tersebut yang memicu peran penting organisasi internasional sebagai actor sukarela yang memberi bantuan terhadap krisis pangan dan gizi buruk yang terjadi di Myanmar. WFP menjadi salah satu organisasi internasional yang berperan penting dalam mengatasi krisis pangan yang terjadi pasca konflik di Myanmar.
40 Op,cit. USAID.