• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Serat Makanan

5. Dampak Kurang Serat a.Konstipasi

Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami stasis usus besar, sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja (feses) yang dikeluarkanpun terlalu kering dan keras. Tanda klinis konstipasi, yaitu : feses yang keras, defekasi kurang dari 3 kali seminggu, menurunnya bising usus, adanya keluhan pada rectum, nyeri pada saat mengejan atau defekasi, dan adanya perasaan masih ada sisa feses. Kemungkinan penyebab terjadinya konstipasi, antara lain : pola defekasi yang tidak teratur, nyeri saat defekasi

16

karena hemorroid, menurunnya peristaltik karena stres psikologis, penggunaan obat (seperti Antasida, Laksative, atau Anestesi), dan proses menua (Behrman dkk, 1996).

Konstipasi dapat terjadi, jika defekasi tertunda terlalu lama yang kemudian feses menjadi terlalu kering, sehingga sulit untuk dikeluarkan. Jika isi kolon tertahan dalam waktu yang lebih lama dari normal, jumlah H2O yang diserap akan melebihi normal, sehingga feses mejadi kering dan keras. Variasi normal frekuensi defekasi di antara individu adalah dari setiap kali makan sampai sekali seminggu. Apabila frekuensi tertunda melebihi waktu yang normal bagi individu yang bersangkutan, maka dapat terjadi konstipasi dengan gejala-gejala penyertanya (Sherwood, 2001). b. Divertikulum

Adalah terbentuknya kantung empedu yang abnormal pada dinding usus dan disertai dengan peradangan (Sulistijani, 2002 dan Larsen, 2003). Dalam kasus ini, asupan serat tidak larut sangat diperlukan agar volume feses besar, lunak dan mudah dikeluarkan. Ini dapat menurunkan tekanan intra kolon, sehingga dapat meredakan gejala dan mengurangi serangan inflamasi divertikulum (Beck, 1993). Penderita divertikulum harus banyak mengonsumsi sayur-sayuran segar, buah-buahan segar, biji gandum setiap harinya (Larsen, 2003).

c. Kanker Kolon

Merupakan polip (tonjolan) yang abnormal pada dinding usus. Salah satu pemicu timbulnya kanker kolon adalah kurangnya konsumsi

serat makanan dan terlalu tingginya konsumsi makanan berlemak (Larsen, 2003).

Peran serat dalam kanker kolon hanya sebagai pencegah, bukan mengobati. Konsumsi serat makanan yang seimbang dan teratur mampu menangkal serangan kanker kolon. Ini karena serat makanan larut air di dalam kolon akan difermentasikan oleh bakteri kolon menjadi asam lemak rantai pendek yang berfungsi sebagai anti kanker. Terbentuknya asam lemak rantai pendek akan mengikat asam empedu yang bersifat karsinogenik. Selanjutnya, asam tersebut akan dibuang bersamaan dengan feses melalui anus (Sulistijani, 2002).

d. Wasir (Hemorrhoid)

Adalah terjadinya pelebaran darah balik dan pembengkakan jaringan sekitarnya di daerah anus atau dubur (Sugiharto, 2002). Penyakit ini banyak diderita oleh orang dewasa. Konsumsi serat makanan yang tidak larut dalam air lebih ditingkatkan dapat membantu feses agar tetap lunak dan bervolume besar, sehingga dapat mengurangi tekanan pada anus (Sulistijani, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya wasir, antara lain : faktor keturunan, tekanan di dalam perut yang terlalu besar, kehamilan, jenis pekerjaan, konsumsi rendah serat. Faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain (Sugiharto, 2002).

e. Gangguan Metabolisme

Gangguan ini yang dimaksud adalah Obesitas (kegemukan) yang merupakan refleksi ketidakseimbangan konsumsi makanan dan

18

pengeluaran energy dari aktivitas fisik dan olahraga (Larsheslet, 1997 dan Khomsan, 2004). Beberapa ahli mengklasifikasikan kegemukan. Jika nilai IMT >25 dan obesitas IMT >30 (Gibson, 1993).

Obesitas ini disebabkan oleh kegemaran makan yang berlebihan terutama makanan tinggi kalori tanpa diimbangi oleh aktivitas fisik yang cukup (kurang gerak), sehingga energi tersimpan dalam tubuh sebagai lemak tubuh dan adanya gangguan metabolik dalam tubuh, misalnya kejadian tumor hipotalamus yang dapat menyebabkan hiperfagia yakni nafsu makan meningkat (Khomsan, 2004).

f. Hipertensi

Adalah tekanan sistolik atau diastolik lebih besar dari 130/90 mmHg. Orang yang mengonsumsi serat tinggi umumnya mempunyai tekanan darah lebih rendah daripada orang yang tidak mengkonsumsi serat (Khomsan, 2003).

g. Diabetes Mellitus (DM)

Adalah suatu kondisi dimana kadar gula dalam darah lebih tinggi dari normal (60-145 mg/dl) (Joseph, 2002). Suyono (1999) menjelaskan bahwa, Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin, baik absolute maupun relatif. Insulin merupakan suatu zat hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pangkreas yang berfungsi dalam metabolisme pengolahan makanan menjadi energi.

Rekomendasi asupan serat untuk penderita diabetes sama dengan orang yang tidak diabetes, yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 g serat

makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia, anjurannya kira-kira 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut. Suatu penelitian di Amerika membuktikan bahwa, diet tinggi serat yaitu 25 g/hari mampu memperbaiki pengontrolan gula darah, menurunkan peningkatan insulin yang berlebihan di dalam darah, serta menurunkan kadar lemak dalam darah (Joseph, 2002).

Konsumsi pangan yang kaya akan serat terbukti dapat menurunkan kadar glukosa dan insulin. Menu dengan karbohidrat tinggi (55%-70%) dan serat pangan tinggi (50-80 g/hari) berhasil menyembuhkan penyakit Diabetes Mellitus (DM). banyak penelitian yang membuktikan bahwa respon glukosa plasma insulin terhadap jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dipengaruhi oleh kadar serat dalam makanan (Bangun, 2003). h. Jantung Koroner

Saat ini, penyakit jantung merupakan penyakit utama penyebab kematian di Indonesia. Penyakit jantung koroner disebabkan oleh kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, agar lemak mudah masuk dalam peredaran darah dan diserap tubuh, maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol. Sebagian sisa lemak akan disimpan di hati dan di metabolisme tubuh menjadi kolesterol pembentuk asam empedu yang berfungsi sebagai pencerna lemak. Semakin banyak mengkonsumsi lemak, berarti semakin meningkat pula kadar kolesterol dalam darah. Penumpukan kolesterol tersebut dapat menyebabkan terjadinya penebalan (aterosklerosis) pada pembuluh nadi koroner (arteri

20

berkurang. Serangan jantung koroner pun akan lebih mudah terjadi, jika ketika pembuluh nadi koroner mengalami penyumbatan. Ketika itu pula aliran darah yang membawa oksigen ke dalam jaringan dinding jantung berhenti (Sulistijani, 2002).

C. Pengetahuan

Dokumen terkait