PETUNJUK BELAJAR
DAMPAK MADZHAB TERHADAP PERKEMBANGAN FIQIH
Sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa madzhab fiqh dapat dikelompokkan menjadi tiga madzhab utama: Sunni, Syi’ah, dan Khawariji. Dari tiga madzhab itu berkembang madzhab yang lebih kecil, misalnya madzhab Sunni sampai sekarang berkembang menjadi empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali (al-Madzahib
al-Arba’ah); madzhab Syi’ah berkembang menjadi Madzhab Ja’fari [Imami], Zaidi, dan
Isma’ili; terakhir madzhab Khawarij menyisakan satu madzhab; madzhab Ibadi.
Ketiga madzhab tersebut mempunyai karakteristik masing-masing dalam menggali hukum Islam dan menyebarkan pemahamannya kepada masyarakat. Begitu pula, dalam proses pembentukan dan penulisan kitab fiqhnya, masing-masing memiliki sistematika yang berbeda. Proses pembantukan tersebut, secara operasional, menurut Schahct, terungkap dalam uraian berikut ini:
“Masa penulisan hukum Islam dimulai sekitar tahun 150 K (767 M) dan semenjak saat itu perkembangan hukum yang bersikap teknis dapat diikuti langkah demi langkah dari satu ulama ke ulama berikutnya. Di Irak, perkembangan hukum harus dinisbahkan berturut-turut kepada Hammad ibn Abi Sulaiman, ahli hukum Kufah (wafat 150 H/738 M) dan doktrin-doktrin dari Ibn Aby Layla (wafat 148 H/765 M) dan doktrin Abu Hanifah (wafat 150 H/767M), Abu Yusuf (wafat 182 H/798 M) serta doktrin
dari Syaibani (wafat 189 H/805 M), orang syria Awza’I (wafat 157 H/774 M) menggambarkan satu tipe hukum lama dan Malik (wafat 179 H/795 M) doktrinnya rata-rata menjadi anutan aliran hukum Madinah. Selama periode kedua, pemikiran hukum secara teknis berkembang secara cepat dari permulaannya dengan menggunakan metode analogi.”
Lebih tegas lagi, Schacht mengatakan bahwa yurisprudensi hukum Islam lahir dari satu pusat, yakni madzhab Irak sebagaimana pendapat Goldziher. Madzhab Irak ini lebih berkembang dan sistematis dibanding madzhab Madinah.
Dampak nyata dalam bentuk penulisan kitab fiqh dapat dilihat dari karya-karya para imam atau murid imam madzhab fiqh. Misalnya, Kitab-kitab fiqh disusun berdasarkan permintaan penguasa dan pemerintah pun mulai menganut salah satu madzhab fiqh resmi negara, seperti dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menjadikan aqh Madzhab Hanafi sebagai pegangan para hakim di pengadilan. Di samping sempurnanya penyusunan kitab-kitab fiqh dalam berbagai madzhab, juga disusun kitab-kitab usul fiqh, se[erti kitab Ar-Risalah yang disusun oleh Imam Asy-Syafi’i. sebagaimana pada periode ketiga, pada periode ini, fiqh iftiradi semakin berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi pendekatan aktual di kala itu, tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoretis. Selain itu, penulisan sunnah dikenal dengan “kutub al-sittah”” (Bukhari, Nuslim, Nasai, Ibn Majjah, Dawud, dan Tirmidzi) yang jumlahnya berpuluh jilid serta penulisan tafsir telah dilakukan seperti tafsir ibn juraih, Saddi danMuhammad bin Ishaq yang dikembangkan oleh Ibn Jarir Ath-Thabari (ulama tafsir terkenal).
Dalam analisis Qordri Azizy, penulisan kitab-kitab fiqh tidak lepas dari madzhab besar atau imam sebelimnya. Ia ungkapkan sebagai berikut:
“…Ulama pada akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 pada umumnya mengikatkan diri pada suatu madzhab besar, namun sebenarnya mereka juga tetap mengembangkan pemikiran mereka juga tetap mengembangkan pemikiran mereka, meskipun dalam proses pengembangannya terkadang harus terjadi perbedaan dengan pendapat imam-imam mereka. Di samping secara formalitas mengikat diri kepada madzhab tertentu, metodologi berpikirnya barangkali terikat hanya pada dasar-dasar pokoknya. Sebagai contoh, misalnya al-Thahawi, memiliki banyak perbedaan dengan para imam asalnya, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Asy-Ayaibani, dia masih mengikat diri secara formal pada madzhab Hanafi dan dalam waktu yang bersamaan, ia juga mengenbangkan lebih maju lagi madzhab ini secara teoretis…”
Peralihan dari tredisi ijtihad kepada tradisi taklid pun terjadi sebagai dampak madzhab besar terhadap para pengikut atau murudnya. Sebagai contoh, uraian yang terdapat dalam Al-Majmu karya An-Nawawi, Al-Mustasfha, dan Ihya Ulum Ad-Din karya
Al-Ghazali, dan masih banyak lagi. Mereka juga giat meneliti dan mengklarifikasikan permasalahan fiqh dan memperdebatkannya dalam forun-forum ilmiah sehingga dapat diketahui mana pendapat yang disepakati dan mana pendapat yang diperselisihkan. Kemudian, mereka bukukan dalam bentuk kitab seperti Al-Inshaf karya Al-Bathliyusi,
Bidaya Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd (w. 595 H), Al-I’tisham karya Asy-Syatibi dan
lain-lainnya yang merupakan embrio bagi kelahiran ilmu fiqh al-muqaram pada periode selanjutnya.
Fuqaha juga sangat berkreasi dalam bidang usul fiqh. Mereka mempelajari metode-metode yang dirumuskan oleh fuqaha sebelumnya, menyempurnakan , dan dan menganalisis hasil penerapan masing-masing metode kepada masalah-masalah fiqhiyyah sehingga fase ini telah dapat menelurkan puluhan kitab dalam bidang qawaid
fiqhiyyah, seperti al-Asybah was al-Nadhair oleh Ibnu Nujaim (w. 969 H0, Al-Qawaid oleh
Ibnu Jizy (w. 741 H). Al-Qawaid oleh Ibnu Rajab (w. 790 H) dan sebagainya.
Begitu pula dampak madzhab terhadap penulis fiqh pada madzhab Syi’ah [Ja’fari, Ismail, dan Zaidiyah] dan madzhab Khawarij [ibadi], berikut ini:
Madzhab Syi’ah [Ja’fari] menghimpun beberapa kitab pedomannya sebagai berikut:
1. Al-Kafi fi ilm Ad-Din, karya Muhammad ibn Yakub ibn Ishaq Al-Kulaini (w. 328 H); 2. Basyairu al-Darajat fi ulum Ali Muhammad wa ma khassahum Allah bih, karya Ibnu Jafar
Muhammad id Al-Hasan;
3. Man laa yahdhur Al-faqih, karya Abu Jafar Muhammad bin Ali Husain; 4. Al-Itibar dan al-Tahdzhib, karya Muhammad bin Hasan Al-Thusi. 5. Syarai’ al-Islam, karya Ja’far ibn Hasan Al-Hully (678 H)
6. Syarah Jawahirul Kalam, karya Muhammad Hasan Al-Najmi
7. Miftahu Al-Karamah, karya Muhammad Al-Jawad ibn Muhammad Al-Husein (1226
H)
8. Wasail al-Syi’ah ila Masail al-Syari’ah, karya Muhammad Al-Hasan ibn Ali Al-Hari
(1104 H).
Sementara itu, madzhab Zaidiyah, meskipun sedikit, madzhab ini mamiliki format penulisan fiqh, yakni Al-Majmu [fatwa-fatwa Zaid ibn Ali], baik bidang hadis maupun fiqh, yang dikumpulkan oleh Abu Khalid ‘Amar bin Khalid Al-Wasithi (w. 150 H) dan
al-Raudhu An-Nadhir Syarh Majmu’ al-Fiqh al-Kabir karya Syafrudin Husein Ibn Ahmad
Al-Haimi Al-Yamini al-Son’ani (1221 H).
Adapun kitab resmi Fiqh madzhab Ismaili, Da’aim al-Islam, karya Numan Ibn Muhammad At-Tamimi (w. 974 H).
Adapun madzhab Khawarij, format penulisan kitab yang dijadikan rujukan oleh madzhab Ibadiyah adalah Musnad Ar-RAb’I karya Rabi’ bin Habib al-Farahidi al-Umani
al-Bashri dan kitab Ashdag Al-Manahij fi Tamyiz Al-Ibadiyah Min Al-Khawarij karya ulama mutqkhir Ibadi, Salim bin Hamud.
Dampak madzhab tehadap bentuk penulisan kitab fiqh terdapat tiga macam bentuk kitab, yaitu:
1. Matan, yaitu kitab yang mengumpulkan masalah-masalah pokok yang disusun
dengan uraian yang mudah. Akan tetapi, kemudian ada pula dengan uraian yang sukar, sehingga membutuhkan syarh (keterangan).
2. Syarh, yaitu kitab yang merupakan komentar dari kitab matan. 3. Hasyiah, yang merupakan komentar dari syarh.
Ketiga bentuk kitab di atas, sampai sekarang masih banyak digunakan di tengah-tengah masyarakat luas. Di samping itu, selain dipelajari di tengah-tengah-tengah-tengah masyarakat umum, juga dipelajari di pasantren-pasantren di Indonesia. Bahkan, para cendikiawan pun tidak sedikit yang mempergunakan buku-buku tersebut sebagai rujukan. Meskipun penggunaan kitab-kitab tersebut selektif dan bergantung pada paham dan aliran yang dianut.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa dampak madzhab terhadap pembentukan dan penulisan kitab fiqh tidak hanya didasarkan pada idealisme masing-masing madzhab, tetapi juga campur tangan penguasa yang berkeinginan memiliki madzhab resmi dengan kitab yang dianutnya, seperti Al-Kharraj karya Abu Usuf (murid Imam Hafani), Al-Muwaththa karya Imam Maliki, dan sebagainya. Hal ini berlaku pula kepada madzhab Syi’ah yang memiliki ciri khas tersendiri dalam pemberlakuan fiqh di negaranya seperti adanya wilayah al-qadla, wilayah al-faqih, dan wilayah al-hukm.