• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGABUNGAN PERBANDINGAN HUKUM DENGAN PERBANDINGAN MADZHAB SEBUAH PENDEKATAN BARU

Dalam dokumen 4Perbandinganmadzhab (Halaman 196-200)

Pesan Imam Madzhab dan Pendekatan Madzhab di Jaman

PENGGABUNGAN PERBANDINGAN HUKUM DENGAN PERBANDINGAN MADZHAB SEBUAH PENDEKATAN BARU

1. Paradigma Perbandingan Hukum

Perbandingan madzhab dengan perbandingan hukum pada dasarnya sama sama meskipun berbeda disipilin ilmu. Akan tetapi dalam wilayah penelitian, keduanya tidak bisa dipisahkan. Juhaya S. Praja jelas pula mengungkapan bahwa Perbandingan madzhab sebagai metode dan ilmu tidak jauh berbeda atau sama saja dengan perbandingan hukum yang dikenal dalam kajian hukum pada umumnya… Secara semantik, kata “perbandingan” baik secara bahasa Arab ataupun “perbandingan” secara bahasa Inggris (comparison) adalah sama. Sebagaimana halnya dalam ilmu-ilmu sosial, misalnya sosiologi, perbandingan dapat dikatakan. sebagai suatu kegiatan untuk mengadakan identifikasi terhadap persamaan dari atau perbedaan dua gejala tertentu atau lebih, Perumusan mengenai perbandingan dapat disimak dari para ahli berikut:

1. Thomas Ford menyatakan, suatu studi sistematis tentang dua masyarakat atau lebih dengan tujuan mengetahui perbedaan atau persamaan yang signifikan di antara dua masyarakat)

2. Hugo F. Reading menyatakan, membandingkan dua masyarakat dan lembaga-lembaga untuk mengungkapkan ikatan-ikatan dan korelasi-korelasinya

3. Sumaji Hartono menjelaskan bahwa perbandingan hukum adalah metode penyelidikan. Metode ini dipakai untuk membandingkan salah satu lembaga hukum (legal institution) dari system hukum yang satu dengan lembaga hukum, yaing kurang lebih sama dengan system hukum yang lain. Dengan membanding-bandingkan itu, dapat ditemukan unsure-unsur persamaan, berikut unsure perbedaan dari kedua system hukum itu,

4. Guy E, Swanson mempertegas bahwa semua ilmu atau penelitian berkaitan dengan perbandingan. Ia ungkapkan “…all research entails comparison; comparison

with what was, with what might be, and with what might have been; comparison among practical and what meets some general standars (semua penelitian terikat dengan

perbandingan yang meliputi, 1. perbandingan dengan apa yang telah terjadi, 2. perbandingan dengan apa yang mesti terjadi, 3. perbandingan dengan apa yang mesti telah terjadi dan 4. perbandingan dengan apa yang dipraktikan dan apa penemuan yang sesuai dengan standar umum.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbandingan hukum dapat dimasukkan ke dalam program ilmu perbandingan madzhab. Karena setiap penelitian akan sangat berkaitan dengan perbandingan, dalam hal ini baik perbandingan madzhab maupun perbandingan hukum.

Ilmu perbandingan madzhab untuk menunjukkan metode dan ilmu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dapat ditopang oleh ilmu perbandingan hukum yang

menggunakan pendekatan ilmu-ilmu social. Pada tataran ini, perbandingan hukum adalah salah satu program studi dari ilmu perbandingan madzhab.

“Penggabungan” atau istilah “disandingkan”, “ditopang” istilah Juhaya dan sebagainya, pada dasarnya ilmu perbandingan madzhab dan perbandingan hukum memiliki titik temu, yakni keduanya sama-sama perbandingan. Inilah modal dasar, keduanya bisa saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, baik sebagai metode ataupun ilmu.

Secara operasional, kedua paradigma yang ada pada kedua perbandingan ini bila diterapkan, akan melahirkan hukum yang “objektif”, “empiric”, “sosiologis” dan “Islami’.

Meskipun, demikian, menggabungkan dua perbandingan dalam satu atap, bukan berarti tidak mengalami kesulitan. Salah satu kesulitan dalam perbandingan hukum adalah apakah yang seharusnya dibandingkan? Apakah bidang-bidang tata hukumnya apakah kaidah-kaidahnya, apakah pengertian-pengertian dasarnya dan seterusnya. Dalam hal ini, Schlesinger menjelaskan kesulitan, di antaranya kesalah pahaman dalam menerapkan konsep abstrak atau istilah dalam pembahasan, sedangkan konsep tersebut tidak dikenal oleh sebagian orang atau bahkan berdampak terhadap makna dan konotasi yang berbeda. Hal tersebut, dalam analisis Juhaya, dapat diatasi dengan menggunakan metode faktual untuk menguji definisi- definisi, umum atau konsep yang mengenal batas tertentu. Solusi lain dalam perbandingan ini adalah menetapkan kerangka dasar yang mungkin dapat diambil dalam bidang tata hukum.

Uraian, berikut sebagai contoh perbandingan hukum dengan perbandingan madzhab dalam kasus tertentu sebagaimana temuan Juhaya, sebagai berikut:

“…..secara operasional, perbandingan; dimulai dari bidang tata hukum, misalnya diambil hukum keluarga dengan bidang hukum perkawinan setelah itu diterapkan pengertian dasar sistem hukum yang relatif universal, yakni masyarakat hukum, subjek hukum, hak. dan kewajiban, peristiwa hukum, hubungan hukum dan objek.

Untuk mengetahui perpaduan perbandingan dengan paradigma yang dimiliki oleh masing-masing perbandingan tersebut madzhab dan hukum, berikut ini dijelaskan secara rinci.

a. Porbandingan Hukum Deskriptif

Studi ini bertujuan mengumpulkan bahan-bahan tentang system perbagai masyarakat atau bagian masyarakat. Cara penyajian perbandingan hukum dengan menggunakan subspesialisasi ini dapat didasarkan pada lembaga-lembaga hukum tertentu ataupun kaidah- kaidah hukum tertentu yang merupakan bagian dari I.embaga tersebut. Pada penelitian ini sangat ditonjolkan analisis deskriptif disandarkan kepada lembaga hukum.

Lebih lanjut, Sunarjati Hartono, menjelaskan bahwa pada studi perbandingan hukum ini akan ditemukan dua sistem hukum yang sama, namun penerapan satu kaidah hukum yang sama di dalam sistern ,hukum yang satu temyata berbedadengan penerapannya di dalam hukum yang lam. Sebaga contoh: penerapan kaidah-kaidah hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran di Saudi-Arabia berbeda dengan di Mesir, Iran, Afganistan, Malaysia’ dan di Indonesia. Juga penerapan kaidah-kaidah hukum positif akan berbeda antara di Amerika, Belanda, India, dan di negara manapun.

Oleh karena itu, dalam upaya memunculkan penerapan hukum dalam studi perbandingan hukum diperlukan sebuah alat analisis yang menyeluruh terhadap kaidah-kaidah hukum, yakni dengan mendekatan analisis deskriftif.

b. Perbandingan Sejarah Hukum

Van Apeldorn menjelaskan bahwa yang disebut dengan sejarah hukum adalah pertelaahsn sejumlah peristiwa yuridik dari zaman dahulu yang disusun secara kronologis. Jadi sejarah adalah proses, bukan sesuatu yang terhenti melainkan sesuatu yang bergerak bukan mati, melainkan hidup.

Makna tarikh atau history (Inggris), adalah cabang ilmu Pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa. Definisi serupa diungkapkan oleh Abdurahman As-Sakhawi” bahwa sejarah adalah seni yang berkaitan serangkaian anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa. Secara teknis formula, Nisar Ahmad

Faruqi menjelaskan formula yang digunakan di kalangan sarjana Barat bahwa sejarah terdiri dari (man+time+space=history)

Hukum adalah gejala sejarah, ia mempunyai sejarah. Hukum sebagai gejala sejarah berarti tunduk pada pertumbuhan yang terus menerus. Pengertian perubahan memuat dua arti; unsur perubahan dan unsur stabilitas. Apa yang tumbuh adalah stabil. walaupun ia berubah karena segala yang hidup selalu berubah. dengan mempelajarii sejarah, hukum, tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat, diketahui. Di samping itu, mempelajari lembaga atau institusi hukum yang memberlakukan hukum itu. Karena bagaimana pun hukum senantiasa beriringan dengan sejarah peradaban manusia yang tidak luput dari perubahan, rekonstruksi, evolusi hukum, bahkan elekonstruksi hukum.

c. Perbandingan Jurisprodensi

Paradigma terakhir dari perbandingan hukum adalah perbandingan jutisprudensi. Suatu perbandingan tentang doktrin di mana hukum itu berlaku, yakni suatu bangunan umum yang menyajikan suatu ajaran tentang ditinya sendiri sebagai hasil.baik perkembangan studi hukum sebagai suatu ilmu sosial, maupun sebagai hasil dari kebangkitan suatu kesadaran hukum internasional.

2. Paradigma Perbandingan Madzhab

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, paradigma yang ada pada perbandingan madzhab ada dua, yakni, perbandingan metodologi dan perbandingan sistem sosial masyarakat.

a. Perbandingan Metodologi

Pembicaraan tentang perbandingan, metodologi ini tidak terlepas dari dua pola istinbath; pola pertama,disebut abi ar-ra’yu dan pola kedua, ahl al-hadis, meskipun pada realitasnya’. kedua pola ini tidak kaku atau rigid dalam menggali hukum Islam. Artinya, pola. ahl al-rayu tidak selalu menggantungkan terhadap “ra’yu”, semata, begitu juga ahl al-badis tidak “selalu” menggantungkan terhadap nash-nash Al-Quran ataupun Al-Hadis.

Realitas sejarah dua pola istinbab seperd tampaknya hanya ciri atau khas masing-masing saja, tidak secara umum. Sebagaimana dijelaskan oleh Nurcholish Madjid, bahwa:

“…jika dikatakan bahwa oRang-orang Hijaz adalah Ahl Ar-Riwayah (Kelompok Riwayat karena mereka banyak berpegang pada penuturan masa lampau, seperti Hadis, sebagai, pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl Ar- Ray (Kelompok Penalaran, dengan isyarat tidak banyak mementingkan riwayat), sesungguhnya itu hanya karaktetistik gaya intelektual Masing-masing daerah itu. Adapun pada peringkat individu, cukup banyak. dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. Di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi’ah yang tergolong Kelompok Penalaran, dan di kalangan para sarjana Irak, penganut dan pembela Kelompok Riwayat yang sangat tegar, yaitu Ahmad ibn Hanbal. Di samping itu, membuat generalisasi bahwa suatu kelompok hanya Melakukan satu metode penetapan hukum atau tasyri’, apakah itu penalaran atau penuturan riwayat, adalah tidak tepat. Terdapat persilangan antara keduanya, meskipun masing-masing tetap dapat dikenali cirri utamanya dari kedua kategori tersebut...”

Dinamika metodologis pada tataran selanjutnya, sebenarnya sudah melebur dan berbaur dengan konsep Imam Asy-Syafi’i terutama dalam kitabnya Ar-Risalah. Bahkan dalam analisis juhaya S. Praja,” gabungan antara dua pola tersebut melahirkan golongan “ahl al-ikhtiyat” (ahli kehati-hatian).

Metodologi imam madzhab dalam perbandingan madzhab adalah sebagai modal dasar atau kerangka ijtihad dalam penggahan hukum Islam. Langkah berikutnya, dalam analisis Wihad Afif adalah “memilih hukum dari madzhab-madzhab” (talfiq menuju eklektism), jika tidak memadai dalam aspek-aspek tertentu, maka diperlukan “ijtihad jama’i madzhabi” (ijtihad kesepakatan madzhab-madzhab),

dan apabila tidak memada’i, maka jalan yang terakhir adalah ditempuh dengan “Ijtihad jamai mutlaq” (tidak terikat oleh madzhab tertentu)

b. Perbandingan sistems, sosial masyarakat

Dalam pembahasan terakhir dari perbandingan madzhab adalah aspek perbandingan sistem sosial masyarakat. Mengetahui sistem sosial atau masyarakat tertentu akan memberikan pengaruh besar terhadap penetapan hukum. Sebagaimana faktor-faktor pendukung berkembangnya madzhab, persoalan sistem sosial merupakan faktor dominan dalam penetapan hukum. Hal itu terbukti, fatwa lmam Syafi’i yang memiliki dua pola; qaul qadim dan qaul jadid Dua fatwa ini jelas dipengeruhi oleh tatanan masyarakat tempat Imam Syafi’i hidup.

Konsep takhrij al-ahkam, metode mengeluarkan hukum secara akademik atau memenuhi unsur-unsur ijtihad hanya berbicara tentang status hukum itu dikeluarkan dari sumber atau dalil. Persoalan lainnya adalah proses penerapan hukum atau yang dikenal tathbiq a1-ahkam. Hukum yang sudah ditetapkan dengan kategori haram, halal, wayu, sunnah atau makruh, bisa jadi tidak bisa diterapkan di tempat atau masa tertentu. Misalnya, menutup aurat itu wajib dengan memakai baju, sementara di suku Dayak atau Asmat, tradisi memakai baju berbeda dengan kebanyakan orang lain. Oleh karena itu, tidak heran apabila penerapan hukunm di satu daerah, bahkan negara akan berbeda dengan daerah atau negara lain.

Oleh karena itu, kaidah perubaban hukum sangat dipengarubi oleh perubahan zaman,

keadaan, dan tempat [situasi dan kondisi], tepat. Sebab, lahirnya kaidah tersebut juga

sangat tidak menafikan faktor realitas yang ada.

Dalam wacana keilmuan hukum secara umum, hal itu terlihat dengan adanya faktor sosial yang memiliki peran sentral dalam perubahan hukum. Bagi pengikut aliran hukum, Roscoe Pound (1870-1964), Dekan Harvard Law School, yang menekankan peran factor sosial dalam. perjalanan hukum, atau pengikut madzhab hukum kontemporer bernama legal Incentives School, yang menggunakan model pilihan rasional untuk memperoleh efek hukum yang diharapkan dan untuk kemudian mengunakan kenyataan masyarakat sebagai alat pengukur kelayakan sebuah hukum untuk diterapkan, reformulasi dan reformasi hukum merupakan sebuah kewajaran dan, bahkan, keharusan sejarah. Karena seungguhnya, fenomena sosial kemasyarakatan tidaklah statis atau tetap, melainkan selalu berubah, dan yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri.

Oleh karena itu, pembahasan dalam paradigma akhir dari perbandingan madzhab ini berkaitan dengan ilmu sosial lainnya, bahkan perlu ditopang oleh i1mu-ilmu tersebut seperti sogiologi, antropologi, dan sebagainya.

Dalam dokumen 4Perbandinganmadzhab (Halaman 196-200)