• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian pada Tn. S dengan melakukan anamnesa pada pasien dan keluarga, melakukan pemeriksaan fisik dan mendapatkan data dari pemeriksaan penunjang medis. Pembahasan akan dimulai dari :

4.1.1 Identitas

Data yang di dapatkan pada Tn. S berusia 55 tahun, sudah menikah berjenis kelami laki – laki, pendidikan SD, pekerjaan sebagai pedagang pasar dan buruh tani, faktor resiko penyebab CVA pada laki – laki lebih cenderung tinggi karena faktor seperti merokok, memiliki riwayat hipertensi. (Rendy dan Margareth, 2012)

4.1.2 Riwayat Kesehatan

4.1.2.1 Riwayat Kesehatan Sekarang

Pada riwayat kesehatan sekarang pasien tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus, pasien datang dengan keluhan tangan kanan dan kaki kanan tidak bisa bergerak. Menurut Rendy dan Margareth,

58

59

(2012) mengatakan bahwa pada pasien CVA Bleeding mengeluh tangan dan kaki tidak bisa bergerak dan serangan sering kali berlangsung mendadak pada saat melakukan aktivitas. Penyebab kelumpuhan ini di akibatkan pecahnya pembuluh darah di dalam otak, pemicu pecahnya pembuluh darah di otak bisa karena tekanan darah tinggi ( hipertensi), cedera kepala berat

4.1.2.2 Riwayat Kesehatan Dahulu

Pada riwayat kesehatan dahulu pasien terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Pada tinjauan kasus pasien mengatakan adariwayat hipertensi. Pada tinjauan pustaka pasien cva bleeding mungkin pernah memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, stroke, jantung karena merupakan factor resiko terjadi stroke , (Rendy dan Margareth, 2012)

Hasil pengkajian didapatkan klien tidak pernah mengetahui apakah klien mempunyai penyakit hipertensi karena tidak pernah cek kesehatan di pelayanan kesehatan, klien belum pernah mengalami stroke sebelumnya dan tidak mempunyai alergi,

4.1.2.3 Riwayat Kesehatan Keluarga

Pada riwayat kesehatan keluarga terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Pada tinjauan pustaka biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes melitus, atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu (Rendy dan Margareth, 2012) pada tinjaun kasus keluarga tidak mempunyai riwayat hipertensi

4.1.3 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik didapatkan beberapa masalah yang bisa dipergunakan sebagai data dalam menegakkan diagnosa keperawatan yang aktual maupun resiko. Adapun pemeriksaan dilakukan berdasarkan persistem yaitu :

4.1.3.1 (B1) Breathing

Pada tinjauan pustaka pasien Cva pada klien dengan tingkat kesadaran compos mentis, pengkajian inspeksi pernapasannya tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan ronkhi ( Muttaqin, 2008).

Pada sistem pernafasan tidak terjadi kesenjangan tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pasien tidak mengalami sesak, tidak ada otot bantu nafas perkusi thorax resonan, tidak ada alat bantu pernafasan / pernafasan spontan.

4.1.3.2 (B2) Blood

Pada tinjauan pustaka pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke.Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif (muttaqin, 2008).

Pada sistem kardiovascular tidak terjadi kesenjangan karena pada tinjauan pustaka dan tinjauan kasus pasien tidak ada nyeri dada, irama jantung teratur, Ictus Cordis teraba kuat di ICS V mid clavicula, bunyi jantung : S1 dan S2 Tunggal, CRT

<3 detik, tidak terdapat sianosis, dan terjadi peningkatan TD 160/100 mmHg, tidak terdapat clubbing finger, dan tidak ada pembesaran JVP, pasien juga mengalami peningkatan tekanan darah yang menandakan adanya Hipertensi

61

4.1.3.3 (B3) Brain

Pada tinjauan pustaka didapatkan pasien kesadaran biasanya menurun dan perdarahan otak, adanya sumbatan pembuluh darah otak, vasospasme serebral, edema otak, terhambatnya sirkulasi serebral. Pada sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Kesulitan berkomunikasi, pada kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berfikir. Status mental koma, kelemahan pada ekstremitas, paraliase otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran (Doenges, 2009)

Pada tinjauan kasus didapatkan kesadaran compos mentis karena tidak ada tanda – tanda peningkatan tekanan intra cranial dengan GCS 4-5-6, orientasi baik, tidak terdapat kejang dan kaku kuduk, tidak ada nyeri kepala, dan tidak ada kelainan nervus cranialis. Terdapat perubahan fungsi motorik yaitu kelumpuhan tangan kanan dan kaki kanan, istirahat di rumah ± 6 jam, saat di RS ± 8 jam/hari

Pada sistem persyarafan antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka terdapat kesenjangan karena didalam tinjauan kasus klien mengalami kesadaran penuh sehingga tidak terjadi komplikasi seperti ditinjauan pustaka.

4.1.3.4 (B4) Bladder

Pada tinjauan pustaka didapatkan setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang kontrol sfingter urine eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan

kateterisasi intermiten dengan teknik steril. Inkontinensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas (Doenges, 2009)

Pada tinjauan kasus didapatkan bentuk alat kelamin normal dan bersih, terpasang kateter dengan jumlah urine 1500 /24 jam dengan warna kuning dan bau khas

Pada sistem perkemihan tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.

4.1.3.5 (B5) Bowel

Pada tinjauan pustaka didapatkan didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut. Mungkin mengalami inkontinensia alvi atau terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya gangguan syaraf V yaitu pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan rahang bawah pada sisi ipsilateral dan kelumpuhan seisi otot – otot pterigoideus dan pada saraf IX dan X yaitu kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut (Doenges, 2009)

Pada tinjauan kasus didapatkan keadaan mulut kotor, mukosa bibir kering, terdapat caries, dan saat di RS tidak menggosok gigi. Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan tidak ada pembesaran tonsil. Tidak ada nyeri abdomen, tidak kembung dan peristaltik usus 10 x/menit. Pasien mengatakan saat dirawat di RS belum BAB

Pada sistem pencernaan terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Pada tinjauan kasus ditemukan saat di rumah sakit pasien Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan tidak ada pembesaran tonsil.

63

4.1.3.6 (B6) Bone

Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien kekurangan oksigen kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan buruk. Selain itu, perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitas fisik. Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat, (Muttaqin, 2008).

Pada tinjauan kasus didapatkan pasien Kemampuan pergerakan sendi dan tungkai (ROM) terbatas, tidak ada fraktur, tidak terdapat dislokasi, akral pasien hangat turgor kulit elastis, tidak ada oedema kebersihan kulit bersih, kekuatan otot 0-5, 0-5 ADL di bantu total

Pada sistem muskuloskeletal dan integumen tidak terdapat kesenjangan karena pasien kesulitan untuk beraktivitas karena pecahnya pembuluh darah di otok menyebabkan kelumpuhan

Dokumen terkait