• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA BLEEDING DI RUANG KRISSAN RSUD BANGIL - PASURUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA BLEEDING DI RUANG KRISSAN RSUD BANGIL - PASURUAN"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA BLEEDING DI RUANG KRISSAN RSUD BANGIL -

PASURUAN

Oleh :

MUHAMMAD IQBAL FIRMANSYAH NIM : 1601020

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO

2019

(2)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA BLEEDING DI RUANG KRISSAN RSUD BANGIL -

PASURUAN

Sebagai Prasyarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Oleh :

MUHAMMAD IQBAL FIRMANSYAH NIM : 1601020

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO

2019

ii

(3)

SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Muhammad Iqbal Firmansyah

NIM : 1601020

Tempat, Tanggal Lahir : Lumajang, 12 Mei 1997

Institusi : Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah berjudul: “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CVA BLEEDING DI RUANG KRISSAN RSUD BANGIL – PASURUAN” adalah bukan Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi.

Sidoarjo, 15 Mei 2019 Yang Menyatakan,

Muhammad Iqbal Firmansyah Mengetahui,

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes

NPP. 89060022 NIDN. 0703087801

iii

(4)

Nama : Muhammad Iqbal Firmansyah

Judul : Asuhan Keperawatan Pada Tn. s Dengan Diagnosa Medis CVA Bleeding Di Ruang Krissan Rsud Bangil – Pasuruan

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal : 19 Juni 2019

Oleh :

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes

NPP. 89060022 NIDN. 0703087801

Mengetahui, Direktur

Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Agus Sulistyowati, S.Kep,M.Kes NIDN. 0703087801

iv

(5)

HALAMAN PENGESAHAN

Telah diuji dan disetujui oleh Tim Penguji pada sidang di program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Tanggal : 27 Mei 2019 TIM PENGUJI

Tanda Tangan Ketua : Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS ( )

Anggota : 1. Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes ( )

2. Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep ( )

Mengetahui, Direktur

Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Agus Sulistyowati, S.Kep,M.Kes NIDN. 0703087801

v

(6)

Tetap bersabar

Masa depan masih panjang

Tetap optimis

Muhammad Iqbal Firmansyah

vi

(7)

PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas akhir ini bisa selesai dengan baik.

Ku persembahkan karya kecil ini. Untuk cahaya hidup, yang senantiasa ada saat suka maupun duka, selalu setia mendampingi, saat ku lemah tak berdaya (kedua orang tua) yang selalu memanjatkan doa untuk putrimu tercinta dalam setiap sujud-Nya. Terimakasih untuk semuanya.

Untuk bapak dan ibu dosen terutama Ibu Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.NS., M.Kep, Ibu Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes, dan Bapak Ns.

Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS, terimakasih atas bimbingan dan ilmu yang sudah diberikan selama ini, tanpa bapak dan ibu semua itu tidak akan berarti.

Tak lupa juga untuk teman-temanku yang selalu memberi semangat untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Untuk tujuan yang harus dicapai, untuk impian yang akan dikejar, untuk sebuah penghargaan, agar hidup jauh lebih baik dan bermakna, karna tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian tapi hidup tanpa tujuan. Teruslah bermimpi dan mewujudkan tujuan hidupmu.

vii

(8)

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul ‘’Asuhan Keperawatan Pada Tn. s Dengan Diagnosa Medis CVA Bleeding Di Ruang Krissan Rsud Bangil – Pasuruan “ ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa

2. Orang Tua yang selalu memberi dukunngan secara moril dan materil

3. Ibu Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo dan pembimbing 2

4. Ibu Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep selaku pembimbing satu 5. Bapak Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS selaku ketua penguji 6. Responden

7. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.

Sidoarjo, 15 Mei 2019

Penulis

viii

(9)

DAFTAR ISI

Sampul Depan ... i

Lembar Judul ... ii

Surat Pernyataan ... iii

Lembar Persetujuan ... iv

Halaman Pengesehan ... v

Motto ... vi

Persembahan ... vii

Kata Pengantar ... viii

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xi

Daftar Gambar ... xii

Daftar Lampiran ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Metode Penulisan ... 5

1.5.1 Metode ... 5

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 5

1.5.3 Sumber Data ... 6

1.5.4 Studi Kepustakaan ... 6

1.6 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Konsep Medis Cerebrovascular Accident ... 8

2.1.1 Definisi ... 8

2.1.2 Klasifikasi ... 9

2.1.3 Etiologi ... 10

2.1.4 Patofisiologi ... 12

2.1.5 Manifestasi Klinis ... 15

2.1.6 Penatalaksanaan ... 18

2.1.7 Komplikasi ... 20

2.1.8 Faktor Resiko ... 21

2.1.9 Dampak Masalah ... 22

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada CVA ... 22

2.2.1 Pengkajian ... 22

2.2.2 Diagnosa Keperawatan ... 27

2.2.3 Perencanaan Keperawatan ... 28

2.2.4 Pelaksanaan Keperawatan ... 35

ix

(10)

BAB III TINJAUAN KASUS ...38

3.1 Pengkajian ...38

3.2 Analisa Data ...47

3.3 Diagnosa Keperawatan ...46

3.4 Intervensi Keperawatan ...50

3.5 Implementasi Keperawatan ...53

BAB IV PEMBAHASAN ...58

4.1 Pengkajian ...58

4.2 Diagnosa Keperawatan ...63

4.3 Intervensi Keperawatan ...65

4.4 Implementasi Keperawatan ...66

4.5 Evaluasi Keperawatan...67

BAB V PENUTUP ...69

5.1 Simpulan ...69

5.2 Saran ...71

DAFTAR PUSTAKA ...73

LAMPIRAN...75

x

(11)

DAFTAR TABEL

No Tabel Judul Tabel Hal

Tabel 2.1 Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran

arteri, peningkatan TIK

...

28

Tabel 2.2 Resiko jatuh berhubungan dengan kerusakan gerak

motorik

...

29

Tabel 2.3 Defisit perawatan diri: mandi, berpakaian, makan, toileting, berhubungan dengan kelemahan dan ketidakmampuan untuk

merasakan bagian

tubuh

...

30

Tabel 2.4 Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hambatan fisik,

kerusakan neuromuskuler

...

31

Tabel 2.5 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler

...

32

Tabel 2.6 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan neuromuskuler : kelemahan, parestesia atau paralisis ...

33

Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan

Laboraturium

...

44

(12)
(13)

Tabel 3.2 Analisadata pada pasien dengan diagnosa cva bleeding

...

46

Tabel 3.3 Rencanatindakan keperawatan pada pasien cva bleeding

...

50

Tabel 3.4 Tindakankeperawatan pada pasien cva bleeding

...

53

Tabel 3.5 Evaluasikeperawaatan pada pasien cva bleeding

...

56

xii

(14)

No Gambar Judul Gambar Hal

Gambar 2.1 Kerangka

Masalah

...

36

Gambar 3.1 Genogram

keluarga

...

40

xiii

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat izin penelitian dari kampus ...75 Lampiran 2 Informed Consent ...76 Lampiran 3 Lembar Konsul ...77

xiv

(16)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke atau CVA ( Cerebrovascular Accident ) merupakan gangguan neurologik mendadak akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak (Auryn, Virzara, 2009). Gejala – gejala berlangsung selama 24 jam atau lebih, berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses pikir daya ingat, dan bentuk kecacatan lain yang menyebabkan kematian sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008). Masyarakat menganggap bahwa stroke adalah penyakit yang hanya menyerang orang tua atau lansia. Pada kenyataan stroke tidak hanya menyerang orang tua tetapi usia produktif. Dilihat dari kelompok umur, di Indonesia, penderita stroke tersebut terbanyak pada kelompok umur yang produktif. Gaya hidup sering menjadi penyebab berbagai penyakit yang usia produktif, karena generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol tapi rendah serat. Selain banyak mengkonsumsi kolesterol, mereka mengkonsumsi gula yang berlebihan sehingga akan menimbulkan kegemukan yang berakibat terjadinya penumpukan energi dalam tubuh (Dourman, 2013). Fenomena yang terjadi pada masyarakat awam biasanya penderita stroke hanya dibiarkan tidur saja tanpa ada perubahan gerakan apapun ketika penderita sudah mengalami kelumpuhan, penderita akan mengalami atrofi otot dan ulcus dekubitus karena tidak adanya pergerakan dalam waktu yang lama. Selain itu penderita terkadang dibawa ke pengobatan alternatif obat herbal dan tidak kunjung sembuh malah memperparah kondisi penderita (Wulan, 2011)

1

(17)

2

Seseorang menderita stroke karena memiliki perilaku yang dapat meningkatkan faktor risiko stroke. Gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik, dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke (Aulia dkk, 2008). Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak akut fokal maupun global akibat terhambatnya peredaran darah ke otak. Gangguan peredaran darah otak berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan zat makanan menjadi terganggu. Stroke bukan merupakan penyakit tunggal tetapi merupakan kumpulan dari beberapa penyakit diantaranya hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus dan peningkatan lemak dalam darah atau dislipidemia. Penyebab utama stroke adalah thrombosis serebral, aterosklerosis dan perlambatan sirkulasi serebral merupakan penyebab utama terjadinya thrombus. Stroke hemoragik dapat terjadi di epidural, subdural dan intraserebral. Beberapa komplikasi akibat setroke yaitu hipoksia serebral. Dengan demikian diperlukan intervensi dini sehingga dapat menghentikan dan bahkan memulihkan bagian yang mengalami kerusakan. Selain timbul gejala umum diatas stroke juga mengakibatkan kematian. Kematian disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nucleus kaudatus, thalamus, dan pons.

Salah satu upaya pencegahan yang dapat di lakukan untuk menanggulangi terjadinya serangan berulang atau kekambuhan pada penderita setroke adalah memodifikasi gaya hidup yang berisiko dengan diet rendah lemak untuk mencegah trombus. Perawat dapat memberikan penyuluhan tentang bahaya stroke

(18)

dan membentuk strategi penanggulangan stroke di masyarakat yang mencakup sistem pengobatan dan pemulihan supaya masyarakat memiliki suatu pedoman yang benar mengenai sistem penanggulangna stroke. Upaya rehabilitatif diantaranya perawat dapat menganjurkan terapi fisik atau fisioterapi. Terapi wicara juga di perlukan untuk pasien yang mengalami gangguan atau kesulitan berbicara.

Mengontrol berat badan dan kolesterol pada tubuh, mengendalikan faktor penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol, diet rendah lemak dan garam, berolahraga atau aktivitas fisik, berhenti merokok, berenti minum beralkohol, berhenti memakai obat – obatan terlarang (Wiwit, 2010).

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengetahui lebih lanjut dari perawatan penyakit ini maka penulis akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melakukan asuhan keperawatan Cerebrovascular Accident dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut “

Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan ? “

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengkaji pasien dengan diagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

(19)

4

1.3.2.2 Merumuskan diagnose keperawatan pada pasien dengandiagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

1.3.2.3 Merencanakan asuhan keperawatan pada pasien dengandiagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

1.3.2.4 Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

1.3.2.5 Mengevaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose Cerebrovascular Accident di ruang Krisan RSUD Bangil Pasuruan.

1.4 Manfaat

Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat:

1.4.1 Akademis, hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien Cerebrovascular Accident.

1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini akan bermanfaat bagi : 1.4.2.1 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit

Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di RS agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien Cerebrovascular Accident dengan baik

1.4.2.2 Bagi peneliti

(20)

Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada pasien dengan Cerebrovascular Accident

1.4.2.3 Bagi profesi kesehatan

Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Cerebrovascular Accident

1.5 Metode Penulisan

1.5.1 Metode

Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara

Data diambil / diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain.

1.5.2.2 Observasi

Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien

(21)

6

1.5.2.3 Pemeriksaan

Meliputi pemeriksaan fisik dan laboraturium yang dapat menunjang menegakkan diagnose dan penanganan selanjutnya

1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari klien 1.5.3.2 Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medic perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain 1.5.4 Studi kepustakaan

Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.

1.6 Sistematika Penulisan

Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi

1.6.2 Bagian inti, terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab berikut ini :

(22)

Bab 1 : pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika penulisan studi kasus

Bab 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut pandang medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnose kista ovarium serta kerangka masalah

Bab 3 : Tinjauan kasus berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan

Bab 5 : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran 1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Medis Cerebrovaskular Accident 2.1.1 Definisi

Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang disebabkan karena berkurangnya atau terhentinya suplay darah secara tiba-tiba. Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati dan tidak dapat berfungsi lagi. Kadang pula stroke disebut dengan CVA (cerebrovaskular accident). Orang awam cederung menganggap stroke sebagai penyakit. Sebaliknya, para dokter justru menyebutnya sebagai gejala klinis yang muncul akibat pembuluh darah jantung yang bermasalah, penyakit jantung atau secara bersamaan (Auryn, Virzara, 2009).

Stroke adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan neurologis yang disebabkan oleh adanya gangguan suplai darah kebagian dari otak. Dua jenis stroke yang utama adalah iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik disebabkan oleh adanya penyumbatan akibat gumpalan aliran darah baik itu sumbatan karena trombosis (pengumpulan darah yang menyebabkan sumbatan di pembuluh darah) atau embolik (pecahnya gumpalan darah /benda asing yang ada didalam pembuluh darah sehingga dapat menyumbat pembuluh darah kedalam otak) ke bagian otak.

Perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang subaraknoid adalah penyebab dari stroke hemoragik (Joyce and Jane, 2014).

8

(24)

Jadi dapat disimpulkan stroke adalah kerusakan jaringan otak atau perubahan neurologi yang disebabkan oleh berkurangnya atau terhentinya suplay darah secara tiba-tiba ke otak.

2.1.2 Klasifikasi

Klasifikasi stroke (Arif Muttaqin, 2008) 2.1.2.1 Stroke Hemoragik (SH)

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaracnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah pada area otak tertentu. Biasanya kejadian saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga saat istrirahat.Kesadaran klien umumnya menurun .Perdarahan otak dibagi menjadi 2 yaitu:

1) Perdarahan intraserebral

Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak.

Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena heniasi otak. Pendarahan intraserebri yang disebabkan hipertensi sering dijumpai di daerah putamen, talamus, pons, dan serebellum.

2) Perdarahan subaracnoid

Pendarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma. Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar parenkim otak. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subarakhnoid menyebabkan TIK meningkat mendadak,

(25)

10

merenggangnya struktur peka nyeri, dan vasospasme pembuluh darah serebri yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia, dan lainnya).

Pecahnya arteri dan keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan terjadinya peningkatan TIK yang mendadak, merenggangnya struktur peka nyeri, sehingga timbul kepala nyeri hebat. Sering juga dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda merangsang selaput otak lainnya. Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan pendarahan subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebri. Vasospasme ini dapat mengakibatkan arteri di ruang subbarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lainnya).

2.1.2.2 Stroke Non Haemoragik (SNH)

Dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebri, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur, atau di pagi hari.

Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik

2.1.3 Etiologi

Seperti yang sudah disinggung di atas, stroke terjadi karena adanya penghambatan atau penyumbatan aliran darah sel-sel darah merah yang menuju ke jaringan otak, sehingga menyebabkan pembuluh darah otak menjadi tersumbat (iskemic stroke) atau pecah (hemoragik stroke). Secara

(26)

sederhana stroke terjadi jika aliran darah ke otak terputus. Otak kita sangat tergantung pada pasokan yang berkesinambungan, yang dialirkan oleh arteri.

Asupan oksigen dan nutrisi akan dibawa oleh darah yang mengalir kedalam pembuluh-pembuluh darah yang menuju ke sel-sel otak. Apabila aliran darah atau aliran oksigen dan nutrisi itu terhambat selama beberapa menit saja maka dapat terjadi stroke. Penyempitan pembuluh darah menuju sel-sel otak menyebabkan aliran darah dan asupan nutrisi ke otak akan berkurang. Selain itu, endapan zat-zat lemak tersebut dapat terlepas dalam bentuk gumpalan-gumpalan yang suatu saat dapat menyumbat aliran darah ke otak sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi itulah penyebab mendasar bagi terciptanya stroke.

Selain itu, hipertensi juga dapat menyebabkan tekanan yang lebih besar sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan pembuluh darah akan mudah pecah. Hemoragik stroke dapat juga terjadi pada mereka yang menderita penyakit hipertensi (Auryn, Virzara 2009). Sedangkan Menurut Widyanti & Triwibowo 2013 yaitu faktor resiko terjadinya stroke dibagi menjadi dua, yaitu faktor resiko yang tidak dapat diubah dan dapat diubah.

2.1.3.1 Faktor yang tidak dapat diubah: umur, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat transient Ishemic Attack (TIA) atau stroke, penyakit jantung.

2.1.3.2 Faktor yang dapat diubah: Hipertensi, kadar hemotokrit tinggi, diabetes, merokok, penyalahgunaan obat, konsumsi alkohol, kontrasepsi oral, hematokrit meninggi dan hiperurisehol.

(27)

12

Menurut Ginsberg Lionel (2007), penyebab tersering stroke adalah penyakit degenaratif arterial, baik aterosklerosis pada pembuluh darah besar maupun penyakit pembuluh darah kecil. Kemungkinan berkembangnya penyakit degeneratif arteri yang signifikan meningkat pada beberapa faktor risiko vaskular diantaranya: Umur, Riwayat penyakit vaskular dalam keluarga, Hipertensi, Merokok, Diabetes melitus dan Alkohol.

2.1.4 Patofisiologi

Otak kita sangat sensitif terhadap kondisi penurunan atau hilangnya suplai darah. Hipoksia dapat menyebabkan iskemik serebral karena tidak seperti jaringan pada bagian tubuh lain, misalnya otok, otak tidak bisa menggunakan metabolisme anaerobik jika terjadi kekurangan oksigen atau glukosa. Otak diperfusi dengan jumlah yang banyak dibandingkan dengan orang lain yang kurang vital untuk mempertahankan metabolisme serebral.

Iskemik jangka pendek dapat mengarah pada penurunan sistem neurologi sementara atau TIA (transient Ishemic Attack). Jika aliaran darah tidak diperbaiki, terjadi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada jaringan otak atau infrak dalam hitungan menit. Luasnya infrak bergantung pada lokasi dan ukuran arteri yang tersumbat dan kekuatan sirkulasi kolateral ke arah yang disuplai. Iskemik dengan cepat bisa mengganggu metabolisme. Kematian sel dan perubahan yang permanen dapat terjadi dalam waktu 3-10 menit. Dalam waktu yang singkat pasien yang sudah kehilangan kompensasi autoregulasi akan mengalami manifestasi dari gangguan neurologi. Beberapa proses reaksi biokimia akan terjadi dalam hitungan

(28)

menit pada kondisi iskemik serebral. Reaksi-reaksi tersebut seperti neurotoksin, oksigen radikal bebas, mikrooksidasi. Hal ini dikenal dengan perlukaan sel-sel saraf sekunder. Bagian neuropenubra paling dicurigai terjadi sebagai akibat iskemik serebral. Bagian yang membengkak setelah iskemik bisa mengarah kepada penurunan fungsi saraf sementara. Edema bisa berkurang dalam beberapa jam atau hari klien bisa mendapatkan kembali beberapa fungsi-fungsinya (Joyce and Jane 2014).

2.1.4.1 Perdarahan intraserebral

Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom yang menekan jaringan otak dan menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di daerah putamen, talamus, sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum.

Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur dinding pembuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.

2.1.4.2 Perdarahan subaraknoid

Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma paling sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi willisi.

AVM dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan pie meter dan ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan keluarnya darah ke ruang subarakhnoid mengakibatkan terjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka

(29)

14

nyeri, sehingga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya.

Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan subarakhnoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuliuh darah serebral.

Vasospasme ini seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di riang subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain).

Otak dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi.

Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma.

Keutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak. (Setiono, 2014).

(30)

2.1.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis Stroke tergantung dari sisi atau bagian mana yang terkena, rata-rata serangan, ukuran lesi dan adanya sirkulasi kolateral.

Gejala klinis pada Stroke akut:

2.1.5.1 Kelumpuhan wajah atau anggota badan sebelah (hemiparesis) yang timbul secara mendadak.

2.1.5.2 Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan.

2.1.5.3 Penurunan kesadaran (konfusi, delirium, letargi, stupor atau koma).

2.1.5.4 Afasia (kesulitan dalam bicara).

2.1.5.5 Gangguan penglihatan, diplopia, Ataksia.

2.1.5.6 Verigo, mual, muntah dan nyeri kepala

Kelainan neurologis yang terjadi akibat serangan stroke bisa lebih berat atau lebih luas, berhubungan dengan koma atau stupor dan sifatnya menetap. Selain itu, stroke bisa menyebabkan depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi (Auryn, Virzara 2009).

Stroke juga menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah yang tersumbat), ukuran area perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori).

Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya. Pada stroke iskemik, gejala utamanya yang timbul adalah defisit neurologis secara mendadak atau sumbatan. Kondisi tersebut didahului gejala prodormal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun pagi dan kesadaran biasanya tidak menurun kecuali bila embolus cukup besar. Biasanya terjadi pada usia diatas 50 tahun.

(31)

16

Stroke akibat PIS (pendarahan intraserebral) mempunyai gejala prodormal yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali terjadi pada siang hari, saat beraktivitas atau emosi (marah). Mual dan muntah sering terdapat permulaan serangan. Hemiparasis/hemiplegi biasanya terjadi pada permulaan serangan, kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma (60% terjadi kurang dari setengah jam, 23% antara setengah jam s.d 2 jam, dan 12% terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari). Pada pasien PSA (pendarahan subaraknoid) gejala prodrormal berupa nyeri kepala hebat dan akut, kesadaran sering terganggu & sangat bervariasi, ada gejala/tanda rangsangan maningeal, oedema pupil dapat terjadi bila ada subhialoid karena pecahnya aneurisma pada arteri komunika anterior atau arteri karotis internal, sedangkan menurut Widyanto dan triwibowo (2013).

Berikut ini merupakan manifestasi yang umum terjadi pada penderita stroke:

1) Kehilangan motorik

Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron atas melintas, gangguan kontrol motor voluter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukan kerusakan pada neuron motor pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi motor paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu bagian tubuh). Bila stroke menyerang bagian kiri otak, terjadi hemiplegia kanan. Bila yang terserang adalah bagian kanan otak, yang terjadi adalah hemiplegi kiri dan yang lebih ringan disebut hemiperesis kiri.

(32)

2) Kehilangan komunikasi

Disfungsia bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan sebagai berikut:

(1). Disartria (kesulitan berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit dimengerti (bicara pelo atau cedal) yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.

(2). Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara), yang terutama ekspresi atau reseptif.

(3). Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) seperti dilihat ketika penderita stroke mengambil sisir dan berusaha menyisir rambutnya.

3) Gangguan persepsi

Persepsi adalah ketidakmampuan untuk menginterpretasikan sensasi.

Stroke dapat mengakibatkan:

(1) Disfungsi persepsi visual

Terjadi karena gangguan jarak sensori primer diantara mata dan korteks visual.

(2) Gangguan hubungan visual spasial (mendapatkan gangguan dua atau lebih objek dalam area spasial). Sering terjadi pada klien hemiplegia kiri. Penderita mungkin tidak dapat memakai pakaian tanpa bantuan karena ketidakmampuan untuk memcocokan pakaian ke bagian tubuh.

(3) Kehilangan sensori

Kehilangan senrori dapat berupa kerusakan sentuhan ringan atau mungkin berat dengan kehilangan propiosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi

(33)

18

dan gerakan bagian tubuh) serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimulus visual dan auditorius.

(4) Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis

Bila kerusakan terjadi pada lobus frontal, mempelajari kapasitas, memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin rusak. Disfungsi ini dapat dibuktikan dalam lapang perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi yang menyebabkan penderita menghadapi masalah frustasi. Masalah psikologik lain juga umunya terjadi dan dimanifestasikan oleh labilitas emosional, bermusuhan frustasi, dendam dan kurang berkerja sama.

(5) Disfungsi kandung kemih

Setelah stroke, klien dapat mengalami inkonensia urinarius sememtara karena konfunsi dan ketidakmampuan mengungkapkan kebutuhan.

2.1.6 Penatalaksanaan

2.1.6.1 Menurunkan kerusakan iskemik cerebral

Infark serebral terdapat kehilangan secara menetap inti central jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa diselamatkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol atau memperbaiki disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.

2.1.6.2 Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK

Dengan meninggikan kepala 15 – 30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.

(34)

1) Pengobatan

(1) Anti koagulan : Heparin untuk menurunkan kecenderungan perdarahan pada fase akut.

(2) Obat anti trombolik : Diharapkan mencegah peristiwa trombolitik.

(3) Diuretika : Untuk menurunkan edema serebral.

2) Penatalaksanaan Pembedahan (1) Endarterektomi karotis

Dilakukan untuk memperbaiki peredaran darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskuler yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anastesi umum sehingga saluran pernafasan dan control ventilasi yang baik dapat dipertahankan.

(2) Craniotomy decompresi

Tindakan ini adalah yang paling sering dilakukan pada CVA bleeding. Operasi yang dilakukan adalah membuka tulang kepala secara lebar sebagai upaya memberikan ruang bagi jaringan otak yang bengkak dan tekanan intracranial yang tinggi. Tindakan ini biasanya dilanjutkan dengan duraplasty yaitu membuka durameter sebagai selaput yang membatasi otak dan memberikan penutup tambahan sebagai cadangan bila otak membengkak beberapa hari pasca onset. Pada operasi ini dilakukan juga evakuasi hematom dengan teknik mikro. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan bantuan mikroskop khusus sehingga perlukaan pada jaringan otak bisa dibatasi seminimal mungkin tetapi evakuasi hematom tetap dapat optimal. Pada operasi craniotomy tulang tengkorak tidak langsung

(35)

20

dikembalikan ke posisi semula akan tetapi disimpan di freezer dengan cara khusus dan steril. Tujuannya adalah untuk memberikan cadangan ruang bagi otak yang akan membengkak pada beberapa hari pertama pasca serangan stroke. Selanjutnya 1-3 bulan kemudian dapat dilakukan kembali pengembalian tulang melalui operasi cranioplasty.

(3) Eksternal ventricular drainage

Operasi ini adalah mengeluarkan hematom yang berada pada intraventrikel.

Pada kasus intracerebral hemoragik sering kali disertai dengan intraventrikular hemoragik yang berakibat sumbatan aliran liquor ke spinal. Efek sekundernya adalah hidrosefalus obstruktif dan mengancam jiwa pasien. Pada kondisi seperti ini operasi sangat membantu mengurangi efek hidrosefalus sekaligus mengeluarkan hematom yang ada di dalam ventrikel.

(4) Clipping aneurisma

Tindakan ini dilakukan pada kasus intracerebral hemoragik yang telah ditangani dengan DSA dan embolisasi akan tetapi masih belum optimal misalnya pada giant aneurisma. Operasi ini dilakukan sebagai upaya tambahan untuk mencegah terjadinya rebleeding.(Mahdian, 2010) 2.1.7 Komplikasi cerebrovaskular accident

Komplikasi menurut Wijaya dan Putri (2013) antara lain : 2.1.7.1 Berhubungan dengan immobilisasi

1) Infeksia pernafasan

2) Nyeri berhubungan dengan daerah yang tertekan 3) Konstipasi

4) Tromboflebitis

(36)

2.1.7.2 Berhubungan dengan mobilisasi 1) Nyeri pada daerah punggung 2) Dislokasi sendi

2.1.7.3 Berhubungan dengan kerusakan otak 1) Epilepsi

2) Sakit kepala 3) Kraniotomi 4) Hidrosefalus 2.1.8 Faktor Resiko

2.1.8.1 Usia: makin bertambah usia resiko stroke makin tinggi, hal ini berkaitan dengan elastisitas pembuluh darah

2.1.8.2 Jenis kelamin: laki-laki mempunyai kecenderungan lebih tinggi 2.1.8.3 Ras dan keturunan: stroke lebih sering ditemukan pada kulit putih 2.1.8.4 Hipertensi: hipertensi menyebabkan aterosklerosis pembuluh darah

serebral sehingga lama-kelamaan akan pecah menimbulkan perdarahan 2.1.8.5 Penyakit jantung: pada fibrilasi atrium menyebabkan penurunan kardiak

output, sehingga terjadi gangguan perfusi serebral

2.1.8.6 Diabetes mellitus: terjadi gangguan vaskuler, sehingga terjadi hambatan dalam aliran darah ke otak

2.1.8.7 Polisitemia: kadar Hb yang tinggi (> 16 mg/dl) menimbulkan darah menjadi lebih kental dengan demikian aliran darah ke otak lebih lambat 2.1.8.8 Perokok: rokok menimbulkan plaque pada pembuluh darah oleh nikotin

sehingga terjadi aterosklerosis

(37)

22

2.1.8.9 Alcohol: pada alkoholik dapat mengalami hipertensi, penurunan aliran darah ke otak dan aritmia

2.1.8.10 Peningkatan kolesterol: kolesterol dalam tubuh menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya lemak sehingga aliran darah lambat

2.1.8.11 Obesitas: pada obesitas kadar kolesterol darah meningkat dan terjadi hipertensi (Tarwoto, 2007)

2.1.9 Dampak Masalah

2.1.9.1 Dampak Fisik : Kelumpuhan salah satu bagian sisi tubuh, terganggunya koordinasi serta keseimbangan tubuh. Beberapa orang mengalami kelelehan pada minggu pertama setelah stroke.

2.1.9.2 Dampak psikologis : Setelah seseorang menderita stroke gangguan psikologis seperti frustasi dan depresi bisa terjadi. Dukungan dari keluarga sangatlah penting untuk mengembalikan kondisi psikologis dilakukan jika diperlukan agar tidak terlalu menghambat kehidupan dalam keluarga 2.1.9.3 Dampak pada keluarga : Perubahan peran keluarga dapat terjadi setelah

serangan stroke. Misalnya pada saat dirawat di rumah sakit peran seorang ibu yang merawat anaknya harus digantikan oleh suami atau anggota keluarganya yang lain, atau bahkan anak dituntut untuk mandiri sedini mungkin

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Cerebrovaskular Accident 2.2.1 Pengkajian

Menurut (Rendy dan Margareth, 2012) pengkajian merupakan pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenali

(38)

masalah-masalah, kebutuhan kesehatan, dan keperawatan pasien dengan baik mental, sosial dan lingkungan.

2.2.1.1 Indetitas Klien

Perlu ditanyakan: nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk RS, no. RM, alammat.

2.2.1.2 Riwayat kesehatan 1) Keluhan utama

Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi, dan penurunan tingkat kesadaran.

2) Riwayat penyakit sekarang

Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, selain gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan perubahan di dalam intrakranial. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, tidak responsif, dan konia.

3) Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, dan kegemukan.Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat antihipertensi, antilipidemia,

(39)

24

penghambat beta, dan lainnya.Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral.Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.

4) Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes melitus, atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.

5) Pengkajian psikososiospiritual

Pengkajian psikologis klien stroke meliputi bebera pa dimensi yang memungkinkan perawat untuk rnemperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku klien.Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

6) Pemeriksaan fisik (1) B1 (Breathing)

Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien stroke dengan penurunan tingkat kesadaran koma. Pada klien dengan tingkat kesadaran compos mentis,

(40)

pengkajian didapatkan didapatkan (2) B2 (Blood)

inspeksi pernapasannya tidak ada kelainan. Palpasi toraks taktil premitus seimbang kanan dan kiri.Auskultasi tidak bunyi napas tambahan ronkhi (Muttaqin, 2008).

Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke.Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif (tekanan darah >200 mmHg) (Muttaqin, 2008).

(3) B3 (Brain)

Kesadaran biasanya menurun dan perdarahan otak, adanya sumbatan pembuluh darah otak, vasospasme serebral, edema otak, terhambatnya sirkulasi serebral. Pada sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Kesulitan berkomunikasi, pada kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berfikir. Status mental koma, kelemahan pada ekstremitas, paraliase otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran

(4) B4 (Bladder)

Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang kontrol sfingter urine eksternal hilang atau berkurang.Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten

(41)

26

dengan teknik steril.Inkontinensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas (Muttaqin, 2008).

(5) B5 (Bowel)

Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut. Mungkin mengalami inkontinensia alvi atau terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya gangguan syaraf V yaitu pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan rahang bawah pada sisi ipsilateral dan kelumpuhan seisi otot – otot pterigoideus dan pada saraf IX dan X yaitu kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut

(6) B6 (Bone)

Stroke adalah penyakit UMN dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Oleh karena neuron motor atas menyilang, gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak.

Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh, adalah tanda yang lain. Pada kulit, jika klien kekurangan oksigen kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan buruk. Selain itu, perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitas fisik.

Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi,

(42)

serta mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat (Muttaqin, 2008).

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Pernyataan yang jelas tentang masalah klien dan penyebab. Selain itu harus spesifik berfokus pada kebutuhan klien dengan mengutamakan prioritas dan diagnosa yang harus muncul dapat di atasi dengan tindakan keperawatan, (Muttaqin, 2008)

Diagnosa yang mungkin muncul :

2.2.2.1 Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan aliran arteri, peningkatan TIK cerebral.

2.2.2.2 Resiko jatuh berhubungan dengan kerusakan gerak motorik

2.2.2.3 Defisit perawatan diri: mandi, berpakaian, makan, toileting,berhubungan dengan kelemahan dan ketidakmampuan untuk merasakan bagian tubuh.

2.2.2.4 Hambatankomunikasi verbal berhubungan dengan hambatan fisik, kerusakan neuromuskuler.

2.2.2.5 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler.

2.2.2.6 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan neuromuskuler : kelemahan, parestesia atau paralisis

(43)

28

2.2.3 Rencana Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang di laksanakan untuk menanggulangi masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.

Tabel 2.1 Intervensi keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran arteri, peningkatan TIK NOTujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL 1 Setelah dilakukan tindakan Monitori tekanan Untuk

keperawatan selama 3x24 darah tiap 4 jam, mengevaluasi jam diharapkan perfusi nadi apical dan perkembangan

jaringan serebral adekuat neurologi tiap 10 peyakit dan

Kriteria Hasil : menit. keberhasilan

Tidak ada keluhan sakit terapi

kepala, pusing

TTV :

TD : 120/80 mmHg Pertahankan tirah Tirah baring baring pada posisi

Nadi : 80 x/menit membantu

semi fowler

Suhu : 36,2℃ menurunkan

sampai tekanan

RR : 18 x/menit kebutuhan

darah

Tingkat kesadaran : oksigen, posisi

dipertahankan

compos mentis duduk

pada tingkat yang

Tidak ada : meningkatkan

normal

Mual dan muntah aliran darah arteri

Merasa bingung, linglung,

Pantau data Indicator perfusi gelisah atau timbul

laboratorium atau fungsi organ perubahan perilaku

Kolaborasi golongan inhibitor pemberian obat- secara umum

obatan menurunkan

anthipertensi tekanan darah

melalui efek

kombinasi

penurunan

tahanan perifer,

menurunya curah

jantung

(44)

Tabel2.2 Intervensi keperawatan resiko jatuh berhubungan dengan kerusakan gerak motorik

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL 2 Setelah dilakukan Bina hubungan Untuk ada rasa

tindakan keperawatan

saling percaya percaya antara px

selama 3x24 jam dan tenaga medis

diharapkan resiko jatuh

tidak ada Jelaskan apa saja Agar pasien tahu Kriteria Hasil :

yang dapat menjadi apa saja yang

- Pasien mengetahui dapat

perilaku yang faktor resiko jatuh menyebabkan jatuh

menyebabkan resiko

- Menciptakan Identifikasi perilaku Agar mudah menciptakan lingkungan yang aman dan faktor yang

lingkungan yang - Tidak ada kejadian memepengaruhi aman bagi pasien

jatuh resiko jatuh

Identifikasi

karakteristik Meminimalisir

resiko jatuh

lingkungan yang pasien

dapat meningkatkan potensi jatuh

Tingkatkan keaman pasien

(45)

30

Tabel 2.3 Intervensi keperawatan defisit perawatan diri: mandi, berpakaian, makan, toileting, berhubungan dengan kelemahan dan

ketidakmampuan untuk merasakan bagian tubuh

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL 3 Setelah dilakukan Kaji kemampuan Melalui tindakan

tindakan keperawatan klien untuk ini perawat dapat selama 3x24 jam perawatan diri menentukan

diharapkan pasien mampu tindakan yang

untuk melakukan sesuai untuk

perawatan diri memenuhi

Kriteria Hasil kebutuhan pasien

1) Pasien dapat Pantau kebutuhan Penguatan dan merawat diri berpakaian. klien untuk alat penghargaan akan 2) Pasien dapat bantu dalam mendorong merawat diri mandi dan mandi, pasien untuk terus

toileting. berpakaian, berusaha

3) Pasien dapat makan dan merawat diri makan toileting.

4) Pasien tampak Rapi

Berikan bantuan Membantu pasien 5)Kebersihan mulut

hingga klien mencapai tingkat bersih

sepenuhnya dapat fungsional

mandiri tertinggi sesuai

kemampuannya

Dukung klien Demonstrasi

untuk ulang dapat

menunjukan mengidentifikasi

aktivitas normal area masalah dan

sesuai meningkatkan

kemampuan kepercayaan diri

mandiri pasien

Libatkan keluarga Keterlibatan

dalam pemenuhan keluargabegitu

kebutuhan berarti dalam

perawatan diri proses

klien penyembuhan

(46)

Tabel 2.4 Intervensi keperawatan hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hambatan fisik, kerusakan neuromuskuler

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL

4 Setelah dilakukan Berikan metode Memenuhi tindakan keperawatan alternatif kebutuhan selama 3x24 jam komunikasi komunikasi sesuai diharapkan pasien dapat misalnya bahasa dengan

berkomunikasi dengan isyarat kemampuan klien

lancar

Kriteria Hasil : Antisipasi setiap Mencegah rasa 1)Terciptanya suatu kebutuhan klien putus asa dan komunikasi dimana saat berkomunikasi ketergantungan kebutuhan klien dapat pada orang lain

terpenuhi

2)Klien mampu merespon setiap

Bicaralah dengan Mengurangi berkomunikasi secara

klien secara pelan kecemasan dan verbal maupun isyarat

dan gunakan kebinggunan pada pertanyaan yang saat

jawabannya “ya” berkomunikasi atau “tidak”

Anjurkan kepada mengurangi rasa keluarga untuk isolasi sosial dan

tetap meningkatkan

berkomunikasi komunikasi yang dengan klien efektif

Hargai kemampuan memberi

klien dalam semangat pada berkomunikasi klien agar lebih

sering melakukan

komunikasi

Kolaborasi dengan melatih klien fisioterapis untuk berbicara secara latihan Bicara mandiri dengan

baik dan benar

(47)

32

Tabel 2.5 Intervensi keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL 5 Setelah dilakukan tindakan Jelaskan Nutrisi yang

keperawatan selama 3x24 pentingnya nutrisi adekuat jam diharapkan kebutuhan bagi klien membantu

nutrisi pasien dapat meningkatkan

terpenuhi kekuatan otot

Kriteria Hasil : Kaji kemampuan Untuk Tidak terjadi penurunan klien dalam menetapkan berat badan, tidak ada mengunyah dan jenis makanan tanda-tanda malnutrisi, menelan yang akan

mampu mengidentifikasi diberikan

kebutuhan nutrisi, kepada klien

menunjukkan peningkatan

fungsi pengecapan dan Letakkan kepala Memudahkan menelan, HB dan albumin lebih tinggi pada klien untuk dalam batas normal HB: waktu selama & menelan 13,4 – 17,6 dan Albumin: sesudah makan

3,2 - 5,5 g/dl

Anjurkan makan Tidak memberi

sedikit tapi sering rasa bosan dan

pemasukan

nutrisi dapat

ditigkatkan

Kolaborasi dalam membantu

pemberian cairan memberi cairan

parenteral atau dan makanan

memberi makanan pengganti jika

melalui NGT klien tidak

mampu

memasukan

secara peroral

(48)

Tabel 2.6 Intervensi keperawatan kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan neuromuskuler : kelemahan, parestesia atau paralisis

NO Tujuan / Kriteria Hasil INTERVENSI RASIONAL 6 Setelah dilakukan Kaji kemampuan Mengidentifikasi

tindakan keperawatan secara fungsional kekuatan atau selama 3x24 jam atau luasnya kelemahan otot diharapkan Pasien dapat kerusakan awal

bermobilisasi sesuai

kemampuan

Kriteria Hasil :

Pasien mampu melakukan Mulai melakukan Meminimalkan aktivitas, pasien mampu latihan rentang atrofi otot, mobilisasi secara bertahap gerak, aktif dan meningkatkan (menggerakkan jari pasif pada semua sirkulasi, tangan dan kaki, ekstremitas membantu

mengepal tangan, mencegah

mengangkat tangan dan kontraktur

kaki)

Anjurkan keluarga Menurukan untuk melatih resiko terjadinya pasien mobilisasi hiperkalsiuria secara bertahap dan osteoporosis seperti latihan jika masalah meremas bola utamanya adalah karet, melebarkan perdarahan.

jari-jari dan Catatan:

kaki/telapak stimulasi yang berlebihan dapat

menjadi

pencetus adanya perdarahan yang

berulang

(49)

34

Bangunkan dari membantu kursi segera menstabilkan mungkin setelah takanan darah tanda-tanda vital (tonus

stabil kecuali pada vasomotor haemoragic terjaga), serebral meningkatkan

keseimbangan

keseimbangan

ekstremitas dalam posisi

normal dan

pengosonga

kantunng kemih

atau ginjal.

Menurunkan

resiko terjadinya

batu kandug

kemih dan

infeksi karena urine yang statis

Kolaborasi dengan Program yang ahli fsioterapi khusus dapat secara aktif, latihan dikembangkan resistif, dana untuk ambulasi pasien menemukan

kebutuhan yang berarti menjaga

kekurangan

tersebut keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan

(50)

2.2.4 Implementasi

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan adalah mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, memfasilitasi koping. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi independent (suatu tindakan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk/ perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya).

Dependent (suatu tindakan dependent berhubungan dengan pelaksanaan

rencana tindakan medis, tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis dilaksanakan) dan interdependent suatu tindakan yang memerlukan kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya, misalnya tenaga social, ahli gizi, fisioterapi dan dokter. (Nursalam, 2011)

2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi yang diharapkan setelah pasien memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan rencana tujuan dalam perencanaan serta pasien pulang (Doenges, 2012)

(51)

3 6

2.3 Kerangka Masalah

Faktor Pencetus / Penimbunan lemak /

Lemak yang

sudah Menjadi kapur /

Etiologi

Kolesterol

yang nekrotik dan mengandung kolesterol

meningkat dalam darah berdegenerasi dengan infiltrasi limfosit

(trombus

)

Ateriosklerosis Pembuluh darah menjadi kaku Penyempitan pembuluh

dan pecah darah (oklusi vaskuler)

Thrombus / emboli di Stroke hemoragik Kompresi Aliran darah terhambat

cerebral

jaringan otak

Stroke non hemoragik Eritrosit bergumpal,

endotel rusak

Heriasi

Suplai darah dan O2 keotak Proses metabolism dalam Cairan plasma hilang

otak terganggu

Resiko ketidakefektifan Peningkatan TIK Edema cerebral

perfusi jaringan otak

Arteri carotis interna Arteri vetebra Arteri cerebri media Gangguan rasa basilari

s nyaman nyeri

Disfungsi N.II (optikus)

Kerusakan N.I (olfaktorius),

N.II (optikus, N. Kerusakan Disfungsi N.XI

Penurunan aliran darah ke IV(trokelearis), N.XII neurocarebrospinal N. VII (assesoris) ( facialis), N.IX

retina (hipoglosus)

(glossofaringeus)

Penurunan kemampuan retina Perubahan ketajaman sensor

Penurunan fungsi motorik untuk menangkap objek /

penghidung, pengelihatan dan

Control otot facial /

dan muskuluskeletal

bayangan pengecap oral menjadi lemah

Kebutaan

Ketidakmampuan menghidu, Ketidakmampuan bicara Kelemahan pada satu /

ke empat anggota gerak melihat, mengecap

Kerusakan artikular,

Resiko jatuh tidak dapat berbicara

Gangguan perubahan Hemiparase / plegi

(disatria)

persepsi sensori kanan dan kiri

Kerusakan Kerusakan

Tirah baring lama

komunikasi verbal

neurocarebrospinal N. VII (

facialis), N.IX

(glossofaringeus)

Kerusakan mobilitas

(52)

(glosovaringeus)

(53)

37

Proses menelan tidak efektif

Refluks

Disfagia

Anoreksia

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh

Gambar 2.1 Pohon masalah pada pasien dengan CVA (Sumber : Amin Huda dan Hadi Kusuma, 2016 )

(54)

TINJAUAN KASUS

Pada bab ini akan disajikan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan yang dimulai dari tahap pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi pada tanggal 06 Desember 2018 di Ruang Krissan RSUD Bangil PASURUAN.

Data diambil tanggal : 06 Desember 2018 Jam : 20.10 Tgl. MRS : 05-12-2018 Ruang rawat/kelas : Krissan No. Rekam medis : 0038xxx Diagnosa medis : CVA Bleeding

3.1 Pengkajian 3.1.1 Identitas Pasien

Klien atas nama TN. S berusia 55 tahun beragama islam, klien tinggal di Rowo Gempol – Pasuruan, klien bekerja sehari – hari sebagai pedagang di pasar dan buruh tani dengan pendidikan terakhir SD, klien menikah dengan Ny. R dan dikaruniai satu orang anak. Klien MRS pada tanggal 05 Desember 2018 di ruang Krissan RSUD Bangil.

3.1.2 Riwayat Keperawatan

3.1.2.1 Riwayat keperawatan sekarang

1) Keluhan utama pasien mengatakan tangan dan kaki kanan tidak bisa bergerak 2) Riwayat penyakit sekarang pasien di bawa ke IGD tanggal 05-12-2018 sebelum

di bawa ke rumah sakit pasien melakukan aktivitas berat, pasien mengalami kelumpuhan separuh, pada saat selesai makan dan jatuh jam 18.00 pingsan (-) muntah (-) kejang (-) TD = 160/100 mmHg, N = 80x/menit, RR

18x/menit, S = 36,2◦C. Lalu di pindah ke ruang krissan pada tanggal 05-12- 2018 dengan TD = 190/100 mmHg, N = 88x/menit, RR = 20x/menit, S =

38

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada tinjauan pustaka di Intervensi Keperawatan dengan diagnosa Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Inflamasi pada persendian dibuktikan dengan kaki yang sulit

Sedangkan pada tinjauan kasus, penulis mendapatkan 7 diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan pneumonia yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan

4.2 Diagnosa Keperawatan 4.2.1 Berdasarkan tinjauan pustaka diagnose yang ditemukan adalah: 4.2.1.1 Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit dan

PEMBAHASAN Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena rencana tindakan keperawatan dengan diagnose nyeri akut berhubungan dengan

Pada diagnosa defisit perawatan diri : mandi berhubungan dngan kelemahan fisik perencanaan tindakan keperawatan yang telah dilakukan adalah : Menganjurkan kepada keluarga untuk memberi

Pada tinjauan kasus hanya ditemukan dua diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan, post operative fracture, dikarenakan klien mengalami nyeri akibat

Pada tinjauan pustaka terdapat diagnosa keperawatan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi sedangkan pada tinjauan kasus tidak terdapat diagnosa keperawatan defisit