KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI
DI KELURAHAN WIROGUNAN KOTA PASURUAN
Oleh :
ICHA KURNIA TANJUNG 1801065
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2021
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI
DI KELURAHAN WIROGUNAN KOTA PASURUAN
Sebagai Prasyarat untuk memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Di Politeknk Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Oleh :
ICHA KURNIA TANJUNG 1801065
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2021
i
MOTTO
“ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri ” (QS. Ar Ra’d :11).
“dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya “ (An Najm : 39)
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu pengetahuan yang seharusnya yang ditujukan untuk mencari ridho Allah bahkan hanya untuk
mendapatkan kedudukan/kekayaan duniawi maka ia akan mendapatkan baunya surga nanti pada hari kiamat
(riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu) “
v
LEMBAR PERSEMBAHAN
Alhamdulillah Hirobbilalamin saya ucapkan kepada Allah S.W.T karna atas ijinnya tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.
Tugas akhir ini saya permsembahkan kepada :
Untuk Papa dan Mama saya ucapkan banyak terima kasih karena selama ini telah memberi dukungan do’a dan semangat. Semoga Allah S.W.T memberi saya kesempatan untuk membahagiakan kalian kelak.
Untuk Bapak dan Ibu dosen, Terutama untuk ibu Agus Sulistyowati, S.Kep, M.Kes, Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra , S.Kep.,MNS dan bapak Bagus Dwi Cahyono, S.ST.,M.Kes Terima kasih saya ucapkan atas ilmu, bimbingan dan pelajaran hidup yang telah diberikan kepada saya tanpa bapak dan ibu dosen semua ini tidak akan berarti.
Untuk sahabat saya Na’Imatur rodiyah, Novita Ningrum, Resti Avi Dimayanti dan Siti Aisyah, Terima kasih karna hingga saat ini tetap mensupport dan saling memberi semangat. Semangat kebersamaan tetap terjalin erat.
Untuk Sugik Nur Hantoro yang selalu mendukung dalam kelancaran skripsi ini, terimakasih atas dukungannya dan pengorbanan mencari referensi untuk skripsi ini serta ketulusan, Support yang tak terlupakan dan berbagi keluh kesah bersama.
Untuk teman seperjuangan saya yang tidak dapat disebutkan satu persatu saya ucapkan terima kasih atas kebersamaan selama ini, ada suka dan duka yang kita lewati tetapi taka pa semua itu untuk pendewasaan kita masing-masing. Semoga kita dapat meraih kesuksesan sesuai yang harapan kita. Aminn.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat yang dilimpahkan-Nya sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI KELURAHAN WIROGUNAN”. Penulis membuat proposal skripsi ini untuk memenuhi sebagian persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Akademi keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal skripsi ini tidak mungkin akan terwujud apabila tidak ada bantuan dari berbagai pihak, melalui kesempatan ini izinkan penulis menyampaikan ucapan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
2. Untuk Orangtua papa saya Nasip Tanjung dan mama saya Silvi Mudji Kurniawaty yang telah memberikan dukungan dan motivasi dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini dari awal hingga akhir.
3. Agus Sulistyowati, S.Kep., Ns., M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo yang telah mengesahkan.
4. Bagus Dwi Cahyono, S.ST.,M.Kes selaku pembimbing I yang selalu bijaksana memberikan bimbingan, mencurahkan perhatian, doa dan nasehat serta yang selalu meluangkan waktunya untuk membantu penulis menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
5. Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra , S.Kep.,MNS, selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan, nasehat serta waktunya selama penulisan karya tulisan ilmiah ini.
6. Para sahabat yang telah mendukung untuk terselesaikan Karya Tulis Ilmiah ini tepat waktu, teman-teman seperjuangan yang telah menemani selama saya menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
vii
7. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini yang tidak bias disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.
Sidoarjo, Februari 2021
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Sampul Depan ... i
Lembar Judul ... ii
Lembar Pernyataan... iii
Lembar Persetujuan ... iv
Lembar Pengesahan ... v
Motto ... vi
Persembahan ... vii
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xi
Daftar Gambar ... xii
Daftar Lampiran ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Metode Penulisan ... 6
1.5.1 Metode... 6
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 7
1.5.3 Sumber Data ... 7
1.5.4 Studi Kepustakaan ... 8
1.6 Sistematika Penulisan ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Konsep Penyakit Hipertensi ... 9
2.1.1 Definisi hipertensi ... 9
2.2 Konsep Dasar lansia ... 10
2.2.1 Definisi Lansia ... 10
2.2.2 Batasan Lansia ... 10
2.2.3 Klasifikasi Lansia ... 10
2.2.4 Kebutuhan Dasar Lansia ... 11
2.2.5 Hipertensi Pada Lansia ... 12
2.2.6 Etiologi ... 12
2.2.7 Patofisiologi ... 14
2.2.8 Patwhay Nyeri Pada Hipertensi ... 16
2.2.9 Komplikasi ... 17
2.2.10 Klasifikasi ... 18
2.2.11 Penatalaksanaan ... 19
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Nyeri Akut ... 24
2.3.1 Pengkajian ... 24
2.3.2 Diagnosa Keperawatan... 28
2.3.3 Intervensi ... 29
2.3.4 Implementasi ... 32
2.3.5 Evaluasi ... 32
ix BAB 3 TINJAUAN KASUS... 35
3.1 Pengkajian ... 35
3.2 Analisa Data ... 47
3.3 Diagnosa Keperawatan... 49
3.4 Intervensi ... 50
3.5 Implementasi ... 52
3.6 Evaluasi ... 54
BAB 4 PEMBAHASAN ... 56
4.1 Pengkajian ... 56
4.2 Diagnosa Keperawatan... 58
4.3 Intervensi ... 69
4.4 Implementasi ... 60
4.5 Evaluasi ... 61
BAB 5 PENUTUP ... 63
5.1 Simpulan ... 63
5.2 Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 66
x
No Gambar Judul Tabel Hal
Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah orang dewasa ... 18
Tabel 2.2 klasifikasi indeks massa tubuh (IMT) ... 22
Tabel 3.1 Pemeriksaan Fisik Thorax, Cardiovaskuler dan Abdomen ... 40
Tabel 3.2 Pengkajian Kognitif (SPMSQ) ... 43
Tabel 3.3 Pengkajian Katz Indeks ... 44
Tabel 3.4 Pengkajian Apgar Keluarga ... 44
Tabel 3.5 Pengkajian Skala Depresi ... 45
Tabel 3.6 Analisa Data Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 47
Tabel 3.7 Analisa Data Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 48
Tabel 3.8 Diagnosa Keperawatan Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 49
Tabel 3.9 Intervensi Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 50
Tabel 3.10 Intervensi Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 51
Tabel 3.11 Pelaksanaan Tindakan Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 52
Tabel 3.12 Evaluasi Pada Ny. S dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan ... 54
xi
DAFTAR GAMBAR
No Gambar Judul Gambar Hal
Gambar 2.1 Patwhay ... 16 Gambar 2.4 Kerangka Masalah ... 33
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No Gambar Judul Gambar Hal
Lampiran 1 : Surat Pengantar Studi Penelitian……….68
Lampiran 2 : Lembar Konsultasi Bimbingan (Pembimbing 1)... 69
Lampiran 3 : Lembar Konsultasi Bimbingan (Pembimbing 2)... 70
Lampiran 4 : SAP Hipertensi ... 71
Lampiran 5 : Persetujuan Menjadi Responden (Informed Consent) ... 75
Lampiran 6 : Leaflet Hipertensi ... 76
xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembuluh gelap (silent killer), karena penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi penderitanya. Gejala tersebut seringkali dianggap gangguan biasa, sehingga penderita terlambat menyadari akan datangnya penyakit. Selama ini hipertensi didiagnosis dan ditangani dengan pengobatan secara teratur. Salah satu gejala hipertensi adalah nyeri kepala. Nyeri sendiri adalah suatu kondisi dimana seseorang merasakan perasaan yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan yang disebabkan oleh kerusakan jaringan yang telah rusak atau yang berpotensi untuk rusak. Nyeri kepala pada pasien hipertensi disebabkan oleh kerusakan vaskuler pada seluruh pembuluh perifer. Perubahan arteri kecil dan ateola menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, yang mengakibatkan aliran darah akan terganggu.orang yang hipertensi dapat terjadi karena adanya pening katan tekanan pada pembuluh darah ke otak sehingga pasien seperti merasa nyeri tegang atau pegal.
Seiring dengan berkembangnya zaman prevalensi hipertensi pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa proporsi penyebab kematian tertinggi yaitu penyakit tidak menular (PTM) termasuk hipertensi (6,7%), sementara Di Jatim, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, pada 2018 terdapat 2.005.393 kasus hipertensi yang dilayani di Puskesmas. Dari
1
jumlah itu 826.368 di antaranya adalah pria dan sisanya 1.179.025 adalah penderita wanita.
Angka tersebut meningkat dibanding tahun 2017 lalu yang sepanjang Januari – Desember terdapat 589.870 kasus dengan rincian 215.781 penderita pria dan 374.089 penderita wanita. Puskesmas sekargadung terdapat 50 orang yang mengalami hipertensi yang terdiri 19 Laki-Laki, wanita 12 orang berusia 40-50 tahun, 8 orang 50-60 tahun, 10 orang berusia 60 tahun keatas sedangkan pada laki- laki 3 orang berusia 40-50 tahun, 7 orang berusia 50-60 tahun dan 8 orang berusia 60 tahun ke atas. Sedangkan di kelurahan wirogunan kota pasuruan 6 orang yang mengalami hipertensi , 2 orang yang merasakan mudah marah, sulit tidur, 2 orang lagi juga merasakan nyeri dikepala, sulit tidur, dan 2 orang lagi merasakan pandangan kabur, tidak merasakan nyeri kepala, sulit tidur, dan mudah marah.
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberculosis yakni 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia, menteri kesehatan Indonesia, hipertensi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena tidak ada gejala atau tanda khas sebagai besar kasus hipertensi di masyarakat belum tedeteksi. Keadaan ini tentunya sangat berbahaya, yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat.
Dari bukti-bukti yang telah ada diatas tak heran jika hipertensi bisa menjadi masalah yang menyebabkan morbiditas, dan morbilitas yang cukup tinggi pada msyarakat di Indonesia khususnya di pasuruan yang tentunya didukung oleh beberapa factor seperti, mengadopsi gaya hidup yang tidak sehat, merokok,
3
kurang aktivitas fisik, stress, makanan tinggi lemak dan kalori, serta konsumsi alcohol, terlalu banyak mengonsumsi natrium (garam) stress. Sehingga inilah yang menjadi tantangan utama masalah kesehatan di masa yang akan datang dimana WHO memperkirakan, pada tahun 2020 prevalensi ini akan ini akan meningkat di beberapa Negara berkembang dan salah satunya Indonesia.
Pada dasarnya pengobatan hipertensi dibagi menjadi dua yaitu pengobatan farmakologis dan non farmakologis kebanyakan masyarakat menggunakan obat- obatan farmakologis untuk mengurangi nyeri padahal penggunaan obat – obatan tersebut memberi efek samping yang merugikan bagi tubuh. obat yang sering di gunakan untuk orang hipertensi yaitu captopril, lisinopril, bisoprol, atenolol.
Pengobatan untuk penderita hipertensi dapat dilakukan secara berkala dalam menurunkan tekanan darah melalui obat-obat anti hipertensi namun adapula beberapa alternative dalam pengobatan hipertensi, yaitu dengan gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor resiko, dengan cara lakukan olahraga teratur, atasi stress dan emosi, hentikan kebiasaan merokok, hindari minuman beralkohol, dan periksa tekanan darah 2-3 kali seminggu . penanganan yang tidak diberikan akan mengakibatkan tekanan darah semakin tinggi sehingga menimbulkan komplikasi kondisi darurat seperti penyakit jantung koroner, stroke, penyakit ginjal hingga kematian.
Dalam beberapa artikel memuat hasil penelitian mengenai terapi relaksasi progresif yang dapat terjadi salah satu terapi yang sederhana dalam menurunkan tekanan darah walaupun secara medis hal ini belum bisa dipastikan namun terapi relaksasi progresif ini diyakini oleh peneliti sangat efektif dalam menurunkan stress, mengurangi nyeri, mencegah penyakit, oleh sebab itu, berdasarkan fakta
yang ada, maka peneliti berminat dan merasa perlu mengambil masalah ini untuk mengetahui adanya pengaruh Terapi Relaksasi Progresif terhadap penurunan Tekanan Darah pada pasien hipertensi di Kelurahan Wirogunan kota Pasuruan.
Relaksasi sendiri adalah suatu prosedur dan teknik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan, dengan sengaja untuk membuat relaksasi otot-otot tubuh setiap saat, sesuai dengan keinginan.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Klien dengan Hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan” dengan pertimbangan banyaknya jumlah penderita hipertensi di Kelurahan Wirogunan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang diatas, maka rumusan masalaj sebagai berikut :
Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Lansia dengan Hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan ?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengidentifikasi asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa hipertensi di Keluarahan Wirogunan Kota Pasuruan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengkaji Ny.S dengan diagnosa hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan
5
1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny.S dengan diagnosa hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan
1.3.2.3 Merencanakan asuhan keperawatan pada Ny.S dengan diagnosa hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan
1.3.2.4 Melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny.S dengan diagnosa hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan
1.3.2.5 Mengidentifikasi Ny.S dengan diagnosa hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan
1.3.2.6 Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny.S dengan diagnosa hipertensi Kota Pasuruan
1.4 Manfaat Penelitian
Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat :
1.4.1 Bagi institusi pendidikan
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan, bahan pembelajaran dan memberikan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan dengan kasus hipertensi.
1.4.2 Bagi institusi
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di RSUD agar dapat melakukan asuhan keperawatan dengan kasus hipertensi dengan baik
1.4.3 Bagi Profesi
Penelitian ini dapat mengembangkan konsep asuhan keperawatan pada pasien hipertensi
1.4.4 Bagi Peniliti selanjutnya
Hasil studi ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya, yang akan melakukan studi pada asuhan keperawatan lansia dengan hipertensi di Kelurahan Wirogunan Kota Pasuruan.
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Menggunakan metode studi kasus yaitu metode rancangan penelitian dengan cara meneliti permasalahan melalui suatu kasus yang mencakup pengkajian suatu unit penelitian secara intensif misalnya satu klien, keluarga, kelompok, komunitas atau instuti. Metode ini dilakukan dalam rentang waktu bulan Januari – Maret 2021.
1.5.2 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dengan melalui teknik pengumpulan data observasi dan pemeriksaan
1.5.2.1 Wawancara
Data diambil / diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain.
1.5.2.2 Observasi
Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien
7
1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang menegakkan diagnosa dan penanganan selanjutnya.
1.5.3 Sumber data 1.5.3.1 Data primer
Data pertama kali yang dikumpulkan oleh peneliti melalui upaya pengambilan data di lapangan langsung
1.5.3.2 Data sekunder
Data yang sebelumnya dan dengan sengaja dikumpulkan oleh peneliti yang digunakan untuk melengkapi kebutuhan data penelitian
1.5.3.3 Studi kepustakaan
Data yang mengambil dari perpustakaan untuk mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang di bahas.
1.6 Sistematika penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.6.1 Bagian awal
Memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, kata pengantar, daftar isi.
1.6.2 Bagian inti
Bagian ini terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub- bab berikut ini :
1.6.2.1 Bab 1 : pendahuluan, berisi latar belkang masalah, tujuan, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan studi kasus.
1.6.2.2 Bab 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan hipertensi, serta kerangka masalah.
1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Hipertensi 2.1.1 Definisi
Hipertensi adalah keadaan seseorang yang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal sehingga mengakibatkan peningkatan angka morbiditas maupun mortalitas, tekanan darah fase sistolik 140 mmHg menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 mmHg menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto,2014).
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya (Sylvia A. Price, 2015).
Tekanan darah tinggi atau yang juga dikenal dengan sebutan hipertensi ini merupakan suatu meningkatnya tekanan darah di dalam arteri atau tekanan systole
> 140 mmhg dan tekanan diastole sedikitnya 90 mmHg. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, di mana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.
9
2.2 Konsep Dasar Lansia 2.2.1 Definisi
Lansia atau menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang menyebabkan penyakit degenerative misal, hipertensi, arterioklerosis, diabetes mellitus dan kanker (Nurrahmani, 2012).
2.2.2 Batasan Lansia
Batasan umur lansia menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) lanjut usia meliputi :
2.2.2.1 Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45-59 tahun.
2.2.2.2 Lanjut usia (elderly), kelompok 60-74 tahun.
2.2.2.3 Lanjut usia (old), kelompok usia 74-90 tahun
2.2.2.4 Lansia sangat tua (very old), kelompok usia >90 tahun 2.2.3 Klasifikasi Lansia
Depkes RI (2003) mengklasifikasi lansia dalam kategori berikut :
2.2.3.1 Pralansia (prasenilis), seseorang yang berada pada usia antara 45- 59 tahun
2.2.3.2 Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun lebih
2.2.3.3Lansia yang beresiko tinggi, seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang lansia yang berusia 60 tahun atau lebih yang memiliki masalah kesehatan
2.2.3.4 Lansia potensial, lansia yang masih mampu melakukan
11
pekerjaan atau melakukan kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa
2.2.3.5 Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya atau tidak bisa mencari nafkah sehingga dalam kehidupannya bergantung pada orang lain
2.2.4 Kebutuhan Dasar Lansia
Kebutuhan lanjut usia adalah kebutuhan manusia pada umumnya, yaitu kebutuhan makan, perlindungan makan, perlindungan perawatan, kesehatan dan kebutuhan sosial dalam mengadakan hubunagan dengan orang lain, hubungan antar pribadi dalam keluarga, teman-teman sebaya dan hubungan dengan organisasi-organisasi sosial, dengan penjelasan sebagai berikut :
2.2.4.1 Kebutuhan utama, yaitu :
1) Kebutuhan fisiologi/ biologis seperti, makanan yang bergizi, seksual, pakaian, perumahan/tempat berteduh
2) Kebutuhan ekonomi berupa penghasilan yang memadai 3) Kebutuhan kesehatan fisik, mental, perawatan pengobatan
4) Kebutuhan psikologis, berupa kasih sayang adanya tanggapan dari orang lain, ketentraman, merasa berguna, memilki jati diri, serta status yang jelas
5) Kebutuhan sosial berupa peranan dalam hubungan-hubungan dengan orang lain, hubungan pribadi dalam keluarga, teman-teman dan organisasi sosial
2.2.4.2 Kebutuhan sekunder, yaitu :
1) Kebutuhan dalam melakukan aktivitas
2) Kebutuhan dalam mengisi waktu luang/rekreasi
3) Kebutuhan yang bersifat kebudayaan, seperti informai dan pengetahuan
4) Kebutuhan yang bersifat politis, yaitu meliputi status, perlindungan hukum, partisipasi dan keterlibatan dalam kegiatan di masyarakat dan Negara atau pemerintah
5) Kebutuhan yang bersifat keagamaan/spiritual, seperti memahami makna akan keberadaan diri sendiri di dunia dan memahami hal-hal yang tidak diketahui/ diluar kehidupan termasuk kematian.
2.2.5 Hipertensi pada lansia
Pada usia lanjut, hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan sistolik. Sedangkan mnurut WHO memakai tekanan diastolik tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya hipertensi. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur yang disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah kaku, sebagai peningkatan pembuluh darah sistolik.
2.2.6 Etiologi
Menurut Smeltzer dan Bare (2000) penyebab hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu :
2.2.6.1 Hipertensi Esensial atau Primer
Menurut Lewis (2000) hipertensi primer adalah suatu kondisi hipertensi dimana penyebab sekunder dari hipertensi tidak ditemukan. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi esensial sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. Onset hipertensi primer terjadi pada usia
13
30-50 tahun. Pada hipertensi primer tidak ditemukan penyakit renovakuler, aldosteronism, pheochro-mocytoma, gagal ginjal, dan penyakit lainnya.
Genetik dan ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya hipertensi primer, termasuk faktor lain yang diantaranya adalah faktor stress, intake alkohol moderat, merokok, lingkungan, demografi dan gaya hidup.
2.2.6.2 Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme). Golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada :
1) Elastisitas dinding aorta menurun
2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kekmampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5) Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
2.2.7 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol kontruksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke kordaspinalis dari keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkam dalam bentuk imputs yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini neuron pre- ganglion melepaskan asrtikotin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya neropinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagi factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi, medulla adrenal menyekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokontriktor pembuluh darah vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin.
Renin yang dilepaskan merangsang pembentukan angiotensin, yang kemudian diubah menjadi angiotensis II, suatu vasokontriksi kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosterone oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua factor ini cenderung
15
mencetuskan keadaan hipertensi. Untuk factor ini cenderung keadaan hipertensi.
Untuk pertimbangan gerontology perubahan struktual dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner & suddarth, 2002)
2.2.8 Patwhay Nyeri Akut pada Hipertensi
Gambar 2.1 Klasifikasi Patwhay Hipertensi Nyeri Akut
17
2.2.9 Komplikasi
Menurut Edward K. Chung Kompliasi yang ditimbulkan oleh hipertensi yaitu :
2.2.9.1 Penyakit jantung hipertensi
Tidak jarang hubungan sangat tinggi antara arterioklerosis dan hipertensi maka komplikasi insufiensi koronaria, infarkmiokard, dan aneurisma ventrikel: tampak selama perjalnana penyakit hipertensi menahun, EKG dan foto thorak merupakan alat diagnostic yang sangat penting untuk menentukan pengesifitas penyakit jantung hipertensi.
2.2.9.2 Gagal ginjal
Gagal ginjal menyebabkan perubahan nefrosleosis sewaktu pembuluh darah terlibat yang diakibatkan mukturia, proterinuria dan pengurangan kemampuan pemekatan ginjal.
Dengan progesifitas hipertensi, maka penebalan dinding arteri kecil dan arteriola berlanjut.
2.2.9.3 Ensefalopati
Merupakan suatu keadaan peningkatan tekanan darah arteri disertai dengan mual, muntah dan nyeri kepala yang berlanjutan ke koma dan disertai tanda klinik deficit neurologi.
2.2.9.4 Stroke
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan darah tinggi di otak, atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri- arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang.
Arteri-arteri otak yang mengalami aterosklerosis dapat menjadi lemah, sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba-tiba, seperti orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut, atau lengan terasa kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak.
2.2.10 Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan hasil ukur tekanan darah menurut Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Bloods Preassure (JNC) ke-VIII dalam Smeltzer & Bare (2010) yaitu <130 mmHg untuk tekanan darah systole dan <85 mmHg untuk tekanan darah diastole.
Klasifikasi tekanan darah orang dewasa berusia 18 tahun keatas tidak sedang memakai obat antihipertensi dan tidak sedang sakit akut.
Tabel 2.1 klasifikasi tekanan darah menurut WHO (2013)
Kategori Sistol
(mmHg)
Diastol (mmHg)
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99
Sub grup : perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109
19
Tingkat 3 (hipertensi berat) ≥ 180 ≥ 110
2.2.11 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
2.2.11.1 Penatalaksanaan Nonfarmakologi
Modifikasi gaya hidup dalam penatalaksanaan nonfarmakologi sangat penting untuk mencegah tekanan darah tinggi. Penatalaksanaan nonfarmakologis pada penderita hipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah tinggi dengan cara memodifikasi faktor resiko yaitu :
2.2.11.1.1 Mempertahankan berat badan ideal
Mempertahankan berat badan yang ideal sesuai Body Mass Index dengan rentang 18,5 – 24,9 kg/m2. BMI dapat diketahui dengan rumus membagi berat badan dengan tinggi badan yang telah dikuadratkan dalam satuan meter. Obesitas yang terjadi dapat diatasi dengan melakukan diet rendah kolesterol kaya protein dan serat. Penurunan berat badan sebesar 2,5 – 5 kg dapat menurunkan tekanan darah diastolik sebesar 5 mmHg (Dalimartha, 2008).
2.2.11.1.2 Mengurangi asupan natrium (sodium)
Mengurangi asupan sodium dilakukan dengan melakukan diet rendah garam yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCl atau 2,4 gr garam/hari), atau dengan mengurangi konsumsi garam sampai
dengan 2300 mg setara dengan satu sendok teh setiap harinya.
Penurunan tekanan darah sistolik sebesar 5 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 2,5 mmHg dapat dilakukan dengan cara mengurangi asupan garam menjadi ½ sendok teh/hari (Dalimartha, 2008).
2.2.11.1.3 Batasi konsumsi alkohol
Mengonsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau lebih dari 1 gelas per hari pada wanita dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol dapat membantu dalam penurunan tekanan darah (PERKI, 2015).
2.2.11.1.4 Makan K dan Ca yang cukup dari diet
Kalium menurunkan tekanan darah dengan cara meningkatkan jumlah natrium yang terbuang bersamaan dengan urin. Konsumsi buah-buahan setidaknya sebanyak 3-5 kali dalam sehari dapat membuat asupan potassium menjadi cukup. Cara mempertahankan asupan diet potasium (>90 mmol setara 3500 mg/hari) adalah dengan konsumsi diet tinggi buah dan sayur.
2.2.11.1.5 Menghindari merokok
Merokok meningkatkan resiko komplikasi pada penderita hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke. Kandungan utama rokok adalah tembakau, didalam tembakau terdapat nikotin yang membuat jantung bekerja lebih keras karena mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi denyut jantung serta tekanan darah (Dalimartha, 2008).
2.2.11.1.6 Penurunan stress
21
Stress yang terlalu lama dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara. Menghindari stress pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara relaksasi seperti relaksasi otot, yoga atau meditasi yang dapat mengontrol sistem saraf sehingga menurunkan tekanan darah yang tinggi (Hartono, 2007).
2.2.11.1.7 Terapi relaksasi progresif
Di Indonesia Indonesia, penelitian relaksasi progresif sudah cukup banyak dilakukan. Terapi relakasi progresif terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi (Erviana, 2009).
Teknik relaksasi menghasilkan respon fisiologis yang terintegrasi dan juga menganggu bagian dari kesadaran yang dikenal sebagai “respon relaksasi Benson”. Respon relaksasi diperkirakan menghambat sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat serta meningkatkan aktivitas parasimpatis yang dikarekteristikan dengan menurunnya otot rangka, tonus otot jantung dan mengganggu fungsi neuroendokrin. Agar memperoleh manfaat dari respons relaksasi, ketika melakukan teknik ini diperlukan lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman.
2.2.11.1.8 Obesitas
Saat asupan natrium berlebih, tubuh sebenarnya dapat membuangnya melalui air seni. Tetapi proses ini bisa terhambat, karena kurang minum air putih, berat badan berlebihan, kurang gerak atau ada keturunan hipertensi maupun diabetes mellitus. Berat badan yang berlebih akan membuat aktifitas fisik menjadi berkurang. Akibatnya jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah.Obesitas dapat ditentukan dari hasil
indeks massa tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan (Supariasa, 2012).
Tabel 2.2 klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Kategori IMT
Kurus Kekurangan BB tingkat berat <17,0 Kekurangan BB tingkat ringan 17,0-
18,4
Normal 18,5-
25,0 Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan 25,1-
27,0 Obesitas Kelebihan BB tingkat berat <27,0
2.2.11.2 Penatalaksanaan Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi menurut Saferi & Mariza (2013) merupakan penanganan menggunakan obat-obatan, antara lain :
2.2.11.2.1 Golongan Diuretik
Diuretik thiazide biasanya membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga
23
menurunkan tekanan darah.
2.2.11.2.2 Penghambat Adrenergik
Penghambat adrenergik, merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa- blocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah istem saraf yang dengan segera akan memberikan respon terhadap stress, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
2.2.11.2.3 ACE-inhibitor
Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.
2.2.11.2.4 Angiotensin-II-bloker
Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip ACE-inhibitor.
2.2.11.2.5 Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme yang berbeda.
2.2.11.2.6 Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah.
2.2.11.2.7 Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan cepat dan segera.
Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena : diazoxide, nitroprusside, nitroglycerin, labetalol.
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Nyeri Akut 2.3.1 Pengkajian
2.3.1.1 Identitas
Meliputi : Nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, alamat sebelum tinggal di panti, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan sebelumnya, pendidikan terakhir, tanggal masuk panti, kamar dan penanggung jawab.
2.3.1.1.1 Riwayat Masuk Panti :
Menjelaskan mengapa memilih tinggal di panti dan bagaimana proses nya sehingga dapat bertempat tinggal di panti.
2.3.1.1.2 Riwayat Keluarga
Menggambarkan silsilah (kakek, nenek, orang tua, saudara kandung, pasangan, dan anak-anak)
2.3.1.1.3 Riwayat Pekerjaan
Menjelaskan status pekerjaan saat ini, pekerjaan sebelumnya, dan sumber- sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan yang tinggi.
2.3.1.2 Riwayat Lingkup Hidup
Meliputi : tipe tempat tinggal, jumlah kamar, jumlah orang yang tinggal di rumah, derajat privasi, alamat, dan nomor telpon.
2.3.1.3 Riwayat Rekreasi
Meliputi : hoby/minat, keanggotaan organisasi, dan liburan
25
2.3.1.4 Sumber/ Sistem Pendukung
Sumber pendukung adalah anggota atau staf pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat atau klinik
2.3.1.5 Deksripsi Harian Khusus Kebiasaan Ritual Tidur
Sumber pendukung adalah anggota atau staf pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat atau klinik
2.3.1.6 Deksripsi Harian Khusus Kebiasaan Ritual Tidur
Menjelaskan kegiatan yang dilakukan sebelum tidur. Pada pasien lansia dengan hipertensi mengalami susah tidur sehingga dilakukan ritual ataupun aktivitas sebelum tidur.
2.3.1.7 Status Kesehatan Saat Ini
Meliputi : status kesehatan umum selama stahun yang lalu, status kesehatan umum selama 5 tahun yang lalu, keluhan-keluhan kesehatan utama, serta pengetahuan tentang penatalaksanaan masalah kesehatan.
2.3.1.8 Obat-Obatan
Menjelaskan obat yang telah dikonsumsi, bagaimana mengonsumsinya, atas nama dokter siapa yang menginstruksikan dan tanggal resep
2.3.1.9 Status Imunisasi
Mengkaji status imunisasi klien pada waktu dahulu 2.3.1.10 Nutrisi
Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan dan minum, pola konsumsi makanan dan riwayat peningkatan berat badan. Biasanya
pasien dengan hipertensi perlu memenuhi kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air, lemak, dan serat. Tetapi diet rendah garam juga berfungsi untuk mengontrol tekanan darah pada klien.
2.3.1.11 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan suatu proses memeriksa tubuh pasien dari ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe) untuk menemukan tanda klinis dari suatu penyakit dengan teknik inpeksi, aukultasi, palpasi dan perkusi.
2.3.1.11.1 Pada pemeriksaan kepala dan leher meliputi pemeriksaan bentuk kepala, penyebaran rambut, warna rambut, struktur wajah, warna kulit, kelengkapan dan kesimetrisan mata, kelopak mata, kornea mata, konjungtiva dan sclera, pupil dan iris, ketajaman penglihatan, tekanan bola mata, cuping hidung, lubang hidung, tulang hidung, dan septum nasi, menilai ukuran telinga, ketegangan telinga, kebersihan lubang telinga, ketajaman pendengaran, keadaan bibir, gusi dan gigi, keadaan lidah, palatum dan orofaring, posisi trakea, tiroid, kelenjar limfe, vena jugularis serta denyut nadi karotis.
2.3.1.11.2 Pada pemeriksaan payudara meliputi inpeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (warna kemerahan pada mammae, oedema, papilla mammae menonjol atau tidak, hiperpigmentasi aerola mammae, apakah ada pengeluaran
27
cairan pada putting susu), palpasi (menilai apakah ada benjolan, pembesaran kelenjar getah bening, kemudian disertai dengan pengkajian nyeri tekan).
2.3.1.11.3 Pada pemeriksaan thoraks meliputi inspeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (bentuk dada, penggunaan otot bantu pernafasan, pola nafas), palpasi (penilaian vocal premitus), perkusi (menilai bunyi perkusi apakah terdapat kelainan), dan auskultasi (peniaian suara nafas dan adanya suara nafas tambahan).
2.3.1.11.4 Pada pemeriksaan jantung meliputi inspeksi dan palpasi (mengamati ada tidaknya pulsasi serta ictus kordis), perkusi (menentukan batas-batas jantung untuk mengetahui ukuran jantung), auskultasi (mendengar bunyi jantung, bunyi jantung tambahan, ada atau tidak bising/murmur).
2.3.1.11.5 .Pada pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (bentuk abdomen, benjolan/massa, bayangan pembuluh darah, warna kulit abdomen, lesi pada abdomen), auskultasi(bising usus atau peristalik usus dengan nilai normal 5-35 kali/menit), palpasi (terdapat nyeri tekan, benjolan/masa, benjolan/massa, pembesaran hepar dan lien) dan perkusi (penilaian suara abdomen serta pemeriksaan asites).
2.3.1.11.6 Pemeriksaan kelamin dan sekitarnya meliputi area pubis, meatus uretra, anus serta perineum terdapat kelainan atau tidak.
2.3.1.11.7 Pada pemeriksaan muskuloskletal meliputi pemeriksaan kekuatan dan kelemahan eksremitas, kesimetrisan cara berjalan.
2.3.1.11.8 Pada pemeriksaan integument meliputi kebersihan, kehangatan, warna, turgor kulit, tekstur kulit, kelembaban serta kelainan pada kulit serta terdapat lesi atau tidak.
2.3.1.11.9 Pada pemeriksaan neurologis meliputi pemeriksaan tingkatan kesadaran (GCS), pemeriksaan saraf otak (NI- NXII), fungsi motorik dan sensorik, serta pemeriksaan reflex.
2.3.2 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang di dapat melalui observasi, wawancara atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnose keperawatan sebagai berikut :
2.3.2.1 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisiologis : peningkatan tekanan vaskuler serebral (D.0077)
2.3.2.2 Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur (D.0055)
29
2.3.2.3 Intoleransi aktifitas aktifitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. (D.0056)
2.3.3 Intervensi
Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan
No.
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
Kode Diagnosa Kode Luaran Kode intervensi
1. D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan
L.08066
Luaran utama : Tingkat nyeri
Setelah dilakukan 3x24 jam
I.08238
Intervensi utama : Manajemen nyeri
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, peningkatan tindakan asuhan keperawatan kualitas, dan intensitas nyeri
tekanan
vaskuler serebral Gejala dan Tanda Mayor
diharapkan klien dapat : 1.frekuensi nyeri berkurang 2.kesulitan tidur cukup menurun
3.ekpresi wajah saat nyeri
2. Identifikasi skala nyeri
3. Identifikasi respon nyeri non-verbal
4. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri 5. Ajarkan teknik non-farmakologis (mis, terapi pijat,
kompres dingin/hangat) untuk mengurangi nyeri Subjektif
menurun 6. Jelaskan penyebab, periode , dan pemicu nyeri
7. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu 1.mengeluh nyeri
Luaran tambahan :
Intervensi pendukung : Intervensi utama
Objektif Kontrol nyeri Terapi relaksasi otot progresif
1.Tampak meringis Setelah dilakukan 3x24 jam Observasi
2. gelisah
3. sulit tidur L.08063
tindakan asuhan keperawatan
diharapkan klien dapat : I.09326
1. identifikasi tempat yang tenang dan nyaman 2. monitor secara berkala untuk memastikan otot rileks Gejala dan tanda
1.keluhan nyeri pada klien menurun
3.monitor adanya indikator tidak rileks Terapeutik
Minor Subjektif 1.-
2.klien melaporkan nyeri terkontrol meningkat
3.kemampuan menggunakan
1.atur lingkungan agar agar tidak ada gangguan saat terapi 2.berikan posisi bersandar pada kursi atau posisi lainnya yang nyaman
Objektif
teknik non-farmakologis menurun
3. hentikan sesi relaksasi secara bertahap
4. beri waktu mengungkapkan perasaan tentenag terapi 30
1.Tekanan darah meningkat
Edukasi
1. anjurkan memakai pakaian yang nyaman dan tidak sempit
2. anjurkan melakukan relaksasi otot rahang 3.anjurkan fokus pada sensasi otot yang relaks 4.anjurkan bernapas dalam dan perlahan
31
No.
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
Kode Diagnosa Kode Luaran Kode intervensi
2. D.0077 Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur Gejala dan tanda mayor
Subjektif 1.mengeluh sulit tidur
2.mengeluh pola tidur berubah Objektif 1.-
L.08064 Luaran utama : Tingkat nyeri
Setelah dilakukan 3x24 jam
tindakan asuhan
keperawatan diharapkan klien dapat :
1. Jumlah jam tidur dalam batas normal 6-8 jam/hari 2.Tidak menunjukkan perilaku gelisah
3.Wajah tidak pucat dan konjungtiva tidak anemis
1.05174 Intervensi utama : Dukungan Tidur Observasi
1.Identifikasi pola aktivitas dan tidur 2.Identifikasi Faktor Pengganggu Tidur
3. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman 4. Beri kesempatan klien untuk istirahat/tidur
Terapeutik
1. tetapkan Jadwal tidur rutin
2. Modifikasi lingkungan (mis. Pencahayaan, kebisingan,suhu,matras,dan tempat tidur) batasi waktu tidur siang
3. lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis.
Pijat, pengaturan posisi,terapi akupresur)
4. sesuaikan jadwal pemberian obat dan/ atau tindakan untuk menunjang siklus tidur terjaga
Edukasi
1.jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit 2.anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
3. anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur
32
Intervensi
No.
Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
Kode Diagnosa Kode Luaran Kode intervensi
2. Verbalisasi lelah cukup menurun
3. sakit kepala cukup
menurun 33
3. D.0056 Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelemahan
L.05047 Luaran utama : Toleransi Aktivitas
Setelah dilakukan 3x24 jam
tindakan asuhan
1.05178 Intervensi utama : Manajemen Energi Observasi
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan Gejaala dan Tanda
keperawatan diharapkan klien dapat :
kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik dan emosional
Minor : 1.Kemudahan dalam 3. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
Subjektif 1.Nyeri saat
melakukan aktivitas sehari- hari cukup menurun
aktivitas Terapeutik
bergerak 2.kekuatan tubuh bagian 1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.
2.enggan bawah cukup menurun Cahaya,suara,kunjungan)
melakukan pergerakan
3. Keluhan lelah menurun 2. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/ atau aktif 3. Berikan Aktivitas distraksi yang menenangkan 3.Merasa cemas
saat bergerak
Luaran Tambahan Tingkat Keletihan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
Setelah dilakukan 3x24 jam 2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap Obejektif
1. Sendi kaku 2. Gerakan tidak terkoordinasi 3. Gerakan terbatas 4. Fisik Lemah
tindakan asuhan
keperawatan diharapkan klien dapat:
1. Kemampuan melakukan aktivitas rutin cukup menurun
3. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap 4. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
2.3.4 Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat oleh untuk mencapai hasil yang efektif dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan dan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian rencana yang telah ditentukan tercapai.
2.3.5 Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Penilaian proses menentukan apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan poses mulai dari pengkajian, diagnose , perencanaan, tindakan dan evaluasi itu sendiri. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir : S : respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telak dilaksanakan O : respon objektif klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan
A : analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan masalah tetap atau muncul masalah baru atau data kontradiktif dengan masalah dengan masalah yang ada
P : perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien
35
Faktor Resiko yang dapat diubah :
1.
Faktor resiko yang dapat di ubah :
Konsumsi Garam Konsumsi Rokok dan Kopi
Konsumsi Alkohol Stress
Obesitas (IMT) Indeks Massa Tubuh Faktor resiko yang tidak dapat diubah :
Genetik Umur Jenis Kelamin Ras/Suku Bangsa
Hipertensi pada lansia Dengan risiko nyeri akut
2.4 Kerangka Masalah
BAB 3
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Hipertensi maka penulis menyajikan suatu kasus yang penulis amati tanggal 22 Februari 2021 pada pukul 09.00 WIB. Anamnesa di peroleh dari klien.
3.1 Pengkajian
3.1.1 Hari/ Tgl : Rabu, 22 Februari 2021 3.1.2 Jam : 09.00
3.1.3 Nama Mhs: Icha Kurnia Tanjung
3.2 Identitas
3.2.1 Nama : Ny. S
3.2.2 Tempat /tgl lahir : 62 Tahun 3.2.3 Jenis Kelamin : Perempuan 3.2.4 Status Perkawinan : Kawin
3.2.5 Agama : Islam
3.2.6 Suku : Jawa
3.2.7 Penampilan : bersih
3.2.8 Alamat : kelurahan wirogunan
3.2.9 Diagnosa medis : hipertensi
37
3.3 Riwayat Pekerjaan dan Status Ekonomi 3.3.1 Pekerjaan saat ini : Tidak Bekerja 3.3.2 Pekerjaan sebelumnya : Tidak Bekerja 3.3.3 Sumber pendapatan : dari anak 3.3.5 Kecukupan pendapatan: kecukupan
3.4 Lingkungan tempat tinggal
3.4.1 Kebersihan dan kerapihan ruangan : lantai bersih dan rapi 3.4.2 Penerangan : penerangan baik menggunakan listrik
3.4.3 Sirkulasi udara : sirkulasi ruang dengan baik, tetapi sirkulasi ruang belakaang kurang baik
3.4.4 Keadaan kamar mandi & WC : bersih
3.4.5 Pembuangan air kotor : tersedia dibelakang rumah 3.4.6 Sumber air minum : air pdam di masak
3.4.7 Pembuangan sampah : tempat pembuangan berada di tong sampah
3.4.8 Sumber pencemaran : tidak ada
3.4.9 Privasi : Ny.S mendapatkan privasi
dengan baik
3.4.10 Risiko injuri : Kamar mandi, dan jalan ke
tempat pembuangan sampah 3.5 Riwayat Kesehatan
3.5.1 Status kesehatan saat ini
3.5.1.1 Keluhan utama selama 1 tahun terakhir : klien mengeluh sering merasakan pusing kepala, gelisah
3.5.1.2 Gejala yang dirasakan : klien mengatakan sering merasakan nyeri kepala dan sulit tidur jam tidur tidak teratur
3.5.1.3 Faktor pencetus : mengonsumsi terlalu banyak makanan tinggi garam, memiliki keluarga dengan riwayat tekanan darah tinggi
3.5.1.4 Timbulnya keluhan : hilang timbul
3.5.1.5 Upaya mengatasi : beristirahat dan meminum resep dari dokter
3.5.1.6 Pergi ke RS/klinik pengobatan/dokter praktek/bidan/perawat : dokter praktek langganan
3.5.1.7 Mengkonsumsi obat-obatan sendiri ? obat tradisional ? : obat dari dokter
3.5.2 Riwayat Kesehatan Masa Lalu
3.5.2.1 Penyakit yang pernah diderita : hipertensi
3.5.2.2 Riwayat alergi ( obat, makanan, binatang, debu dll ) : tidak ada
3.5.2.3 Riwayat kecelakaan : tidak ada
39
3.5.2.4 Riwayat pernah dirawat di RS : tidak pernah 3.5.2.5 Riwayat pemakaian obat : meminum obat-
obatan dari dokter tapi klien tidak bisa memberi tahu jenisnya karena sudah habis
3.6 Riwayat penyakit keluarga :
3.1 Genogram Keterangan :
: perempuan : laki-laki : meninggal : klien
: tinggal serumah
3.7 Pola Fungsional
3.7.1 Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan : pasien tampak kurang baik, klien tidak tahu makanan yang harus di hindari
3.7.2 Nutrisi metabolik : pasien makan 3x1 hari dengan gizi seimbang,
frekuensi 1 porsi habis, pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, minum 8 gelas per hari, frekuensi minum 2000ml/hari 3.7.3 Eliminasi :
BAK : kurang lebih 5 kali, warna kencing kuning cerah, bau khas kencing
BAB : 2 kali sehari, padat dengan bau khas, berwarna kecoklatan
3.7.4 Aktifitas Pola Latihan : pasien membersihkan rumahnya kalau nyeri kepala tidak kambuh
3.7.5 Pola istirahat tidur : klien mengatakan kurang lebih 3 jam/hari, tidur siang 1 jam sehari, malam kurang lebih 2 jam sehari, pasien mengatakan tidur tidak nyaman saat nyeri kepala
3.7.6 Pola Kognitif Persepsi : penglihatan pasien mengalami kabur 3.7.7 Pola personal hygiene : mandi 2 kali sehari, pakai sabun, mandi
pagi dan sore secara mandiri
3.7.8 Nilai-Pola Keyakinan : pasien tetap menjalankan sholat karena dengan sholat dan tetap dekat dengan allah makan pasien yakin akan jika dia selalu sehat
3.8 Pemeriksaan Fisik
3.8.1 Keadaan umum : baik
3.8.2 TTV
suhu : 36,5˚C
TD : 150/90mmhg
Nadi : 86x/menit
41
RR : 16x/menit
3.8.3 BB/TB : 62 kg/ 155cm
3.8.4 Kepala : bentuk simetris
Rambut : hitam ada putih
Mata : simetris kanan
kiri, konjutngtiva anemis, sklera putih kekuningan, dan pupil baik terhadap rangsangan cahaya
Telinga : simetris kanan
kiri, ukuran sedang, dan bersih
Mulut, gigi dan bibir : bibir tampak
pucat, gigi tampak putih kekuningan2, gigi rapi, mulut bersih
3.8.5 Dada :
Pemeriksaan Thorak Cardiovaskuler Abdomen
Palpasi Tidak ada nyeri tekan,
pergerakan antara kanan dan kiri seimbang
Ictus cordis teraba Saat dipalpasi perutnya tidak teraba dan tidak ada nyeri tekan
Perkusi Sonor Batas jantung normal:
batas atas (N=ICS II) Batas bawah (N=ICS V)
Mid Clavikula Sinistra), batas kanan (N=ICS IV Mid sternalis Dextra) Batas kanan : pekak Batas Kiri : Pekat
Timpani
Auskultasi Tidak ada suara nafas tambahan seperti ronchi dan whezing
Tidak ada suara tambahan
Tidak dikaji
Inspeksi Pergerakan dada simetris, bentuknya normal chest
Ictus cordis tidak tampak
Bentuknya datar
Tabel 3.1 Pemeriksaan Dada Pada Ny. S Dengan Diagnosa Medis Hipertensi Di Kelurahan Wirogunan
3.8.6 Kulit : lembab dan tidak terdapat penyakit kulit
3.8.7 Ekstremitas Atas :
Kekuatan otot 5 5
5 5
3.8.8 Ekstremitas bawah : pada kaki tidak
ada edem, gaya berjalan pada klien normal
3.9 Pengkajian Khusus ( Format Terlampir )
3.9.1 Fungsi kognitif SPMSQ : kerusakan intelektual ringan 3.9.2 Status fungsional (Katz Indeks ) : klien mandiri
3.9.3 MMSE : -
3.9.3 APGAR keluarga : keluarga peduli dengan klien 3.9.4 Skala Depresi : depresi ringan
3.9.5 Screening Fall : -
3.9.6 Skala Norton : -
43
4.0 Pengkajian Status Fungsional Kognitif, Afektif, Psikologis dan Sosial 4.0.1 Short Porteble Mental Status Questionaire (SPMSQ)
Tabel 3.2 Pengkajian SPMSQ (Short Porteble Mental Status Questionaire)
No Item pertanyaan Benar salah
1. jam berapa sekarang?
Jawab : 09.00
✓
2. Tahun berapa sekarang ? Jawab : 2021
✓ 3. Kapan bapak/ibu lahir?
Jawab : tidak tahu, saya sudah lupa
✓ 4. Berapa umur bapak/ ibu sekarang?
Jawab : 62 tahun
✓ 5. Dimana alamat bapak/ibu sekarang?
Jawab : perumahan taman asri 2
✓ 6. Berapa jumlah anggota keluarga yang tinggal
bersama bapak/ibu?
Jawab : 2 orang
✓
7. Siapa nama anggota keluarga yang tinggal bersama bapak/ibu?
Jawab : heri dan menantu
✓
8. Tahun berapa Hari Kemerdekaan indonesia?
Jawab : 1945
✓ 9. Siapa nama presiden republik indonesia
sekarang?
Jawab : joko widodo
✓
10. Coba hitung terbalik dari angka 10 ke 1?
Jawab : iya bisa
✓
JUMLAH 6 1
Hasil interpretasi
Kesalahan 0-2 = fungsi intelektual utuh Kesalahan 3-4 = kerusakan intelektual ringan Kesalahan 5-7 = kerusakan intelektual sedang Kesalahan 8=10 = kerusakan intelektual berat Jadi hasil interpretasi : fungsi intelektual utuh
4.1 Tabel pengkajian Katz Indeks Tabel 3.3 Pengkajian Katz Indeks
No Aktivitas Mandiri Tergantung
1. Mandi ✓ -
2. Berpakaian ✓ -
3. Kekamar mandi ✓ -
4. Berpindah ✓ -
5. Kontinen ✓ -
6. Makan ✓ -
Jadi Ny. S mandiri dalam Aktivitas 4.2 APGAR KELUARGA
Tabel 3.5 Pengkajian Apgar Keluarga
NO ITEMS PENILAIAN SELALU
(2)
KADANG- KADANG
(1)
TIDAK PERNAH
(0) 1. A: Adaptasi
Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman- teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
√
2. P: Partnership
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
membicarakan sesuatu dengan saya dan
mengungkapkan masalah saya.
√
3. G: Growth
Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan aktifitas atau arah baru.
√
4. A : Afek
Saya puas dengan carakeluarga saya (teman-teman)
mengekspresikan afek dan
√