ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OPERATIVE CLOSED
FRACTURE FEMURE SINISTRA DI RUANG MELATI RSUD BANGIL PASURUAN
OLEH :
SHERLY AYUNDA PERMATA JUWITA NIM 1701043
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2020
ii
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OPERATIVE CLOSED
FRACTURE FEMURE SINISTRA DI RUANG MELATI RSUD BANGIL PASURUAN
Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep)
Di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
OLEH :
SHERLY AYUNDA PERMATA JUWITA NIM 1701043
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2020
iii Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Sherly Ayunda Permata Juwita
NIM : 1701043
Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 05 Nopember 1998
Institusi : Akademi Keperawatan Kerta Cendekia
Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah berjudul :
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.K DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OPERATIVE CLOSED FRACTURE FEMURE SINISTRA DI RUANG MELATI RSUD BAGIL PASURUAN.”
adalah bukan Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi.
Sidoarjo, 16 Juni 2020
Mengetahui,
Yang Menyatakan, Mahasiswa
SHERLY AYUNDA P.J NIM 1701043
Pembimbing 1
Ns. Meli Diana, S.Kep.,M.Kes NIDN. 0724098402
Pembimbing 2
Ns. Marlita Dewi Lestari, S.Kep.,M.Kes NIDN. 0709038302
iv Nama : Sherly Ayunda Permata Juwita
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Tn. K Dengan Diagnosa Medis Post Operative Closed Fracture Femure Sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan.
Telah disetujui untuk diajukan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada Tanggal : 16 Juni 2020
Oleh
Mengetahui, Direktur
HALAMAN PEN
HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PENGESAHAN Pembimbing 1
Ns. Meli Diana, S.Kep., M.Kes NIDN. 0724098402
Pembimbing 2
Ns. Marlita Dewi Lestari, S.Kep., M.Kes NIDN. 0709038302
v
Tanggal : 16 Juni 2020 TIM PENGUJI
Tanda Tangan
Ketua : Ns.Faida Annisa, S.Kep., MNS Anggota : 1. Ns. Marlita Dewi Lestari, S.Kep M.Kes
2. Ns. Meli Diana, S.Kep., M.Kes
Mengetahui, Direktur
KATA PENGANTAR
( )
( ) ( )
vi
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayat hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. K Dengan Diagnosa Medis Post Operative Closed Fracture Femure Sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai dengan baik.
2. Orang tua tercinta yang selalu mendukung dan mendoakan sehingga semua bisa berjalan lancar.
3. Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
4. Ns. Meli Diana, S.Kep., M.Kes selaku pembimbing 1 dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
5. Ns. Marlita Dewi Lestari, M.Kes selaku pembimbing 2 dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
6. Para responden keluarga Klien.
7. Pihak – pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa Karya Tulis ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca dan bagi keperawatan.
vii
Penulis
Sherly Ayunda P.J NIM. 1701043
viii
Surat Pernyataan... iii
Lembar Persetujuan ... vi
Halaman Pengesahan ... v
Kata Pengantar ... vi
Daftar Isi... viii
Daftar Gambar ... x
Daftar Tabel ... xi
Daftar Lampiran ... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1 Akademis ... 5
1.4.2 Praktis ... 5
1.5 Metode Penulisan ... 6
1.5.1 Metode ... 6
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 6
1.5.3 Sumber Data ... 6
1.6 Sistematika Penulisan Metode ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Konsep Penyakit ... 8
2.1.1 Definisi ... 8
2.1.2 Etiologi ... 8
2.1.3 Klasifikasi ... 9
2.1.4 Patofisiologi ... 12
2.1.5 Manifestasi Klinis ... 13
2.1.6 Pemeriksaan Penujang ... 13
2.1.7 Komplikasi ... 14
2.1.8 Penatalaksanaan ... 16
2.1.9 Proses Penyembuhan Tulang ... 18
2.1.10 Dampak Masalah ... 19
2.2 Konsep Askep ... 21
2.2.1 Pengkajian ... 21
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ... 26
2.2.3 Rencana Kepeawatan ... 27
2.2.4 Implementasi Keperawatan ... 32
2.2.5 Evaluasi Keperawatan ... 33
2.3 Kerangka Masalah ... 34
ix
3.2.1 Analisa Data ... 45
3.2.2 Daftar Diagnosa ... 47
3.2.3 Daftar Diagnosa Berdasarkan Prioritas ... 47
3.3 Intervensi Keperawatan ... 48
3.4 Implementasi Keperawatan ... 50
3.5 Evaluasi Keperawatan ... 54
3.5.1 Catatan Perkembangan ... 54
3.5.2 Evaluasi Akhir ... 56
BAB 4 PEMBAHASAN ... 58
4.1 Pengkajian Keperawatan ... 58
4.2 Diagnosa Keperawatan... 66
4.3 Intervensi Keperawatan ... 67
4.4 Implementasi Keperawatan ... 67
4.5 Evaluasi Keperawatan ... 69
BAB 5 PENUTUP ... 71
5.1 Kesimpulan ... 71
5.2 Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 74
LAMPIRAN ... 76
No Gambar Judul Gambar Hal
Gambar 2.1 Kerangka Masalah ... 34 Gambar 3.1 Genogram ... 37
xi
No Tabel Judul Tabel Hal
Tabel 3.1 Hasil Laboratorium ... 43 Tabel 3.2 Analisa Data pada Tn. K dengan diagnosa medis post
operative closed fracture femur sinistra ... 45 Tabel 3.3 Intervensi Keperawatan pada Tn. K dengan diagnosa medis
post operative closed fracture femur sinistra ... 48 Tabel 3.4 Implementasi Keperawatan pada Tn. K dengan diagnosa
medis post operative closed fracture femur sinistra ... 50 Tabel 3.5.1 Catatan Perkembangan pada Tn. K dengan diagnosa medis
post operative closed fracture femur sinistra ... 54 Tabel 3.5.2 Evaluasi Keperawatan pada Tn. K dengan diagnosa medis post
operative closed fracture femur sinistra ... 56
xii
No Lampiran Judul Lampiran Hal
Lampiran 1 Lembar Informed Consent ... 76
Lampiran 2 Surat Ijin Pengambilan Studi Kasus ... 77
Lampiran 3 Surat Balasan Pengambilan Studi Kasus ... 78
Lampiran 4 Lembar Konsultasi ... 79
1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2014). Fraktur lebih sering terjadi pada laki – laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor, sedangkan pada orang tua wanita lebih sering mengalami fraktur dari pada laki – laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopouse (Reeves, 2013). Fenomena pada zaman dahulu yang terjadi di masyarakat orang fraktur atau patah tulang tidak harus dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu, tetapi yang sering kita jumpai di masyarakat fraktur atau patah tulang dibawa ke sangkal putung. Sehingga fenomena di masyarakat sampai sekarang sering kita jumpai jika fraktur atau patah tulang sering di bawah ke sangkal putung (Mulyono, 2006, dikutip oleh Sari, 2013). Walaupun tulang dapat menyatu sendiri, namun jika posisinya tidak diatur, maka penyatuan tulang dapat menimbulkan dampak negatif seperti gangguan pada saraf berupa kesemutan sampai gangguan fungsi gerak dan bentuk yang tidak simetris (Habib, 2010)
WHO (Badan Kesehatan Dunia) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat 5,6 juta orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat
kecelakaan lalu lintas (WHO 2012). Rieskesdas 2018 menunjukkan proporsi disabilitas pada umur 5-7 tahun sebesar 3,3% dan pada umur 18-59 tahun sebesar 22%, pada umur 60 ke atas 2,6% mengalami disabilitas berat dan ketergantungan total, terjadi penurunan cidera yang terjadi di jalan raya yaitu 42,8%. Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa total penderita fraktur yang dirawat di RSUD Bangil Pasuruan pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2019 sebanyak 225 pasien (Rekam Medik RSUD Bangil, 2019).
Fraktur di sebabkan oleh beberapa penyebab seperti adanya trauma tumpul maupun terbuka, penekanan, penekukan. Manifestasi klinis fraktur yaitu hilangnya fungsi anggota gerak, nyeri pembengkakan dan deformitas akibat pergeseran fragmen tulang, krepitasi akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya, pembengkakan dan perubahan warna lokal pada daerah fraktur akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Kehilangan fungsi tubuh permanen merupakan kondisi yang di takutkan pasien fraktur (Smeltzer, 2010). Rasa nyeri bisa timbul hampir pada setiap area fraktur, bila tidak diatasi dapat menimbulkan efek yang membahayakan yang akan mengganggu proses penyembuhan dan dapat meningkatkan angka morbiditas dan moralitas, untuk itu perlu penanganan yang lebih efektif untuk meminimalkan nyeri yang dialami oleh pasien, secara garis besar ada dua manajemen untuk mengatasi nyeri yaitu manajemen farmakologi dan non farmakologi dan non farmakologi. Salah satu cara untuk menurunkan nyeri pada pasien fraktur secara non farmakologi adalah diberikan kompres dingin pada area nyeri (Potter & Perry, 2013). Komplikasi awal yang muncul yaitu
kerusakan arteri, kompartemen syndrom, fat embolism syndrome, infeksi, dan avaskuler nekrosis serta syok, komplikasi dalam waktu yang lama delayed union, non union, mal union (Wahid, 2013).
Untuk mencegah terjadinya fraktur dapat dilakukan dengan upaya preventif dengan menghindari terjadinya trauma, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan dengan cara hati – hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan memakai alat pelindung diri. Sedangkan upaya kuratif adalah perawat secara mandiri dapat merawat luka steril setelah dilakukan pembedahan, mengajarkan manajemen nyeri kepada pasien dan keluarga tentang nyeri yang dialami oleh pasien akibat teknik pembedahan dengan memberikan penyuluhan tentang teknik relaksasi nafas dalam, perawat dapat menganjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi secara bertahap, serta berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat analgesik untuk menghilangkan nyeri, pemberian terapi obat antibiotik untuk mencegah kelanjutan terjadinya infeksi, melakukan fiksasi dengan gift atau spalk sebelum pembedahan serta pemasangan plat dan wire pada saat pembedahan.
Pada upaya rehabilitatif, yaitu dengan memberikah Health Education ( pendidikan kesehatan ) tentang pencegahan infeksi lebih lanjut dengan pemberian antibiotik dan rawat luka steril setelah dilakukan pembedahan, menganjurkan untuk kontrol secara rutin untuk melihat perkembangan tulang setelah pembedahan, menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi protein dan kalsium untuk mempercepat regenerasi tulang,menganjurkan pasien untuk mengikuti progam olahraga (di bawah
bimbingan seorang terapis atau dokter) serta latihan dalam air untuk mengurangi beban kerja otot, serta memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi dini secara bertahap (Asmadi, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui lebih lanjut dari perawatan penyakit ini maka penulis akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melakukan asuhan keperawatan post operative closed fracture femure dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimana asuhan keperawatan pada Tn.K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada Tn.K dengan diagnose medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengkaji pasien Tn.K diagnose medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn.K dengan diagnose medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.3.2.3 Merencanakan tindakan keperawatan pada Tn.K dengan diagnose medis post operative closed fracture femure sinistra di RSUD Bangil
1.3.2.4 Melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn. K dengan diagnose post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.3.2.5 Mengevaluasi tindakan keperawatan pada Tn.K dengan diagnose medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.3.2.6 Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn.K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femure sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil.
1.4 Manfaat
Terkait dengan tujuan maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1.4.1 Akademis, hasil studi kasus ini merupakan sumbangan sebagai ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien post operative closed fracture femure.
1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini akan bermanfaat bagi : 1.4.2.1 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di RS agar dapat melakukan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa post operative closed fracture femure dengan baik.
1.4.2.2 Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peniliti berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada klien dengan post operative closed fracture femure.
1.4.2.3 Bagi profesi kesehatan
Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang kebih baik tentang asuhan keperawatan pada klien post operative closed fracture femure.
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1.5.2 Teknik pengumpulan data 1.5.2.1 Wawancara
Data diambil/diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga, maupun tim kesehatan lain.
1.5.2.2 Observasi
Data yang diambil melalui pengamatan pada klien.
1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang menegakkan diagnosa dan penanganan selanjutnya.
1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data primer
Data primer adalah data yang di peroleh dari klien.
1.5.3.2 Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medis perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain.
1.5.4 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang di bahas.
1.6 Sistematika Penulisan Metode
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahamu studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.
1.6.2 Bagian inti, terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab sebagai berikut :
Bab 1 : Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika penulisan studi kasus.
Bab 2 :Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis.
dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa post operative closed fracture femure serta kerangka masalah.
Bab 3 : tujuan kasus berisi tentang deskripsi data hasil pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Bab 5 : Penutup , berisi tentang simpulan dan saran.
1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
8
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep penyakit dan asuhan keperawatan pada Fraktur. Konsep penyakit akan diuraikan definisi, etiologi dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan masalah-masalah yang muncul pada penyakit Fraktur dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
2.1 Konsep Penyakit 2.1.1 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2014). Fraktur adalah patahnya kontinuitas yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Doenges, 2010).
2.1.2 Etiologi
Menurut Doenges 2010, etiologi fraktur antara lain :
2.1.2.1 Trauma langsung, yaitu fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat rudapaksa misalnya benturan pada anterbrachi yang mengakibatkan fraktur.
2.1.2.2 Trauma tak langsung, yaitu suatu trauma yang menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat kejadian kekerasan.
2.1.2.3 Fraktur patologik, stuktur yang terjadi pada tulang yang abnormal (kongenital, peradangan, neuplastik dan metabolik)
2.1.3 Klasifikasi Fraktur
Berdasarkan Nur Afif & Kusuma (2015), Fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologis, klinis, dan radiologis. Berikut klasifikasi yang dikemukakan :
2.1.3.1 Klasifikasi Fraktur berdasarkan etiologis 1) Fraktur traumatic
2) Fraktur patalogis terjadi pada tulang adanya kelainan/penyakit yang menyebabkan kelemahan pada tulang (infeksi, tumor dan keliana bawaan) dan dapat terjadi secara spontan atau akibat terjadi trauma jaringan.
3) Fraktur stress terjadi karena danya stress yang kecil yang berulang- ulang pada daerah tulang yang menompang berat bdan. Fraktur stress jarang sekali di temukan pada anggota gerak atas.
2.1.3.2 Klasifikasi Fraktur berdasarkan klinis
1) Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dan dunia luar.
2) Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dan dunia luar.
3) Fraktur dengan komplikasi, misal mal-union, delayed, union, naunion dan infeksi tulang.
2.1.3.3 Klasifikasi fraktur berdasarkan radiologis 1) Lokalisasi :
(1) Diafisal : Fraktur yang terjadi pada diafisis tulang (2) Metafisal : Fraktur yang terjadi pada metafisis tulang
(3) Intra-antikuler : Fraktur yang terjadi pada area epifisis (tulang rawan epifisis)
(4) Fraktur dengan dislokasi : Kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi disertai fraktur tulang persendian tersebut
2) Konfigurasi :
(1) Fraktur transfersal : Fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang
(2) Fraktur oblik: Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang
(3) Fraktur spiral : Fraktur yang memutar dimana timbul akibat torsu ekstremitas
(4) Fraktur segmental : Dua fraktur yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya
(5) Fraktur komunitif : Serpihan – serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan tempat adanya lebih dari dua fragmen tulang
(6) Fraktur baji: Biasanya pada vertebra karena trauma
(7) Fraktur avulsi : Fraktur yang memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen
(8) Fraktur depresi : Fraktur karena trauma langsung misalnya, pada tulang tengkorak
(9) Fraktur pecah : Fraktur yang terjadi pada fragmen kecil yang terpisah misalnya, fraktur vertebra, patela
(10) fraktur epifisis : Fraktur melalui epifisis 3) Menurut ekstensi :
(1) Fraktur total : Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran
(2) Fraktur tidak total : Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
(3) Fraktur buckle atau torus : Tulang mengalami deformasi tetapi tidak retak
(4) Fraktur garis rambut : Fraktur retakan kecil atau memar parah dalam tulang
(5) Fraktur green stick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok
4) Menurut hubungan antar fragmen dengan fragmen lainnya :
(1) Tidak bergeser : Garis patah yang terjadi komplit tetapi ke fragmen tulang tidak bergeser dan utuh pada periosteumnya
(2) Bergeser : Fraktur yang menyebabkan perubahan letak
2.1.4 Patofisiologi
Fraktur di bagi menjadi dua yaitu fraktur terbuka dan tertutup.
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu tulang patah dan terjadi perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah di dalam jaringan lunak sekitar tulang, jaringan lunak tersebut juga biasanya mengalami kerusakan. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medulla tulang. Jaringan tulang akan segera berdekatan kebagian tulang yang patah. Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke estermitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan mengakibatkan penekanan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya serabur saraf maupun jaringan otak. Komplikasi ini dinamakan sindrom compartement ( M.Clevo Rendy dan Margharet 2012). Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidakseimbangan, fraktur terjadi berupa fraktur terbuka dan tertutup. Fraktur tertutup tidak di sertai kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot, ligament dan pembuluh darah ( M.Clevo Rendy dan Margharet 2012).
2.1.5 Manifestasi Klinis
Menurut Nurafif & Kusuma (2015), tanda dan gejala fraktur antara lain : 2.1.5.1 Tidak dapat menggunakan anggota gerak
2.1.5.2 Nyeri pembengkakan
2.1.5.3 Terdapat trauma (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau jatuh dari kamar mandi papa orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan kerja, trauma olahraga)
2.1.5.4 Gangguan fungsi anggota gerak
2.1.5.5 Deformitas mengalami perubahan bentuk pada daerah fraktur 2.1.5.6 Kelainan gerak
2.1.5.7 Pembekakan dan perubahan warna lokal pada daerah fraktur 2.1.5.8 Krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
2.1.6.1 X-ray menetukan lokasi/luasnya fraktur.
2.1.6.2 Scan tulang: memperlihatkan fraktur yang lebih jelas, mengidentifikasi karena jaringan lunak.
2.1.6.3 Arteriogram: dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan.
2.1.6.4 Hitung darah lengkap : hemokosentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan, peningkatan leukosit sebagai respon terhadap peradangan.
2.1.6.5 Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untul klirens ginjal.
2.1.6.6 Profil koagolis : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi atau cedera hati.
(Nurarif dan Kusuma, 2015).
2.1.7 Komplikasi
2.1.7.1 Komplikasi Awal
Menurut Dongoes, 2010 beberapa komplikasi awal yang dapat terjadi pada kondisi fraktur, antara lain :
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2) Compartment Syndrome
Compartment Syndrome merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, takipnea, demam.
4) Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis.
Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
2.7.1.2 Komplikasi Dalam Waktu Lama
Beberapa komplikasi dalam waktu lama yang dapat terjadi pada fraktur, antara lain (Dongoes, 2010) :
1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
2) Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).
Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
2.1.8. Penatalaksanaan :
2.1.8.1 Reduksi fraktur mengebangkan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, mengembangkan fragmen tulang ke posisinya (ujung – ujungnya saling berhubungan) dengan menipulasi dan traksi manual. Alat yang di gunakan biasanya traksi, bidai dan alat
lainya. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, skrup, plat, paku.
2.1.8.2 Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode externa dan interna mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neorovaskuler selalu di panatu meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan, perkiraan imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah sekitar 3 bulan (Nurarif & Kusuma, 2015).
2.1.8.3 Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.
2.1.8.4 Amputasi : penghilangan bagian tubuh.
2.1.8.5 Artroplasti : memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan sendi terbuka.
2.1.8.6 Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.
2.1.8.7 Penggantian sendi : penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis.
2.1.8.8 Penggantian sendi total : penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi dengan logam atau sintetis.
2.1.8.9 Fasiotomi : pemotongan fasia otot untuk menghilangkan konstriksi otot atau mengurangi kontraktur fasia
(Hamdan, 2013).
2.1.9 Proses Penyembuhan Tulang
Penyembuhan Patah Tulang yang Normal. Agar penyembuhan atau penyambungan patah tulang terjadi secara normal, sejumlah persyaratan harus dipenuhi: viabilty of fragment (suplai darah utuh) Artinya fragmen tulang yang patah tersebut jaringan masih tersuplai darah dengan baik sehingga masih hidup.
Immobilitas Tulang yang patah tidak boleh bergerak, hal ini dapat dicapai dengan tidak bergerak, imobilisasi eksternal (misalnya bidai) atau fiksasi internal) Tidak ada infeksi Proses penyembuhan umumnya sama untuk semua jenis patah tulang.
Berikut tahap-tahap proses penyembuhan patah tulang:
1) Tahap 1: Peradangan (inflammation) Tulang patah baik terbuka atau tertutup akan menimbulkan perdarahan sekecil apapun itu dan membuat jaringan di sekitarnya meradang yang ditandai dengan bengkak, memerah dan teraba hangat serta tentunya terasa sakit. Tahap ini dimulai pada hari ketika patah tulang terjadi dan berlangsung sekitar 2 sampai 3 minggu.
2) Tahap 2: Pembentukan kalus halus (soft callus) Antara 2 sampai 3 setelah cedera, rasa sakit dan pembengkakan akan mulai hilang. Pada tahap penyembuhan patah tulang ini, terbentuk kalus yang halus di kedua ujung tulang yang patah sebagai cikal bakal yang menjembatani penyambungan tulang namun kalus ini belum dapat terlihat melalui rongsen. Tahap ini biasanya berlangsung hingga 4 sampai 8 minggu setelah cedera.
3) Tahap 3: Pembentukan kalus keras (hard callus) Antara 4 sampai 8 minggu, tulang baru mulai menjembatani fraktur (soft callus berubah menjadi hard callus) dan dapat dilihat pada x-rays atau rongsen. Dengan
waktu 8 sampai 12 minggu setelah cedera, tulang baru telah mengisi fraktur.
4) Tahap 4: Remodeling tulang Dimulai sekitar 8 sampai 12 minggu setelah cedera, sisi fraktur mengalami remodeling (memperbaiki atau merombak diri) memperbaiki setiap cacat yang mungkin tetap sebagai akibat dari cedera. Ini tahap akhir penyembuhan patah tulang yang dapat bertahan hingga beberapa tahun. Tahap – tahap proses penyembuhan tulang Tingkat penyembuhan dan kemampuan untuk merombak (remodelling) pada tulang yang patah bervariasi untuk setiap orang dan tergantung pada usia, kesehatan, jenis fraktur, dan tulang yang terlibat. Misalnya, anak-anak mampu menyembuh dan merombak fraktur mereka jauh lebih cepat daripada orang dewasa.
2.1.10 Dampak Masalah
Ditinjau dari anatomi dan patofisiologi diatas, masalah klien yang mungkin timbul merupakan respon klien terhadap penyakitnya. Akibat fraktur terutama pada fraktur akan menimbulkan dampak baik terhadap klien sendiri maupun keluarganya.
2.1.10.1 Biologis
Pada klien fraktur ini terjadi perubahan pada bagian tubuhnya yang terkena trauma, peningkatan metabolism karena digunakan untuk penyembuhan tulang, terjadi perubahan asupan nutrisi melebihi kebutuhan biasanya terutama kalsium dan zat besi.
2.1.10.2 Psikologis
Klien akan merasakan cemas yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari fraktur, perubhan gaya hidup, kehilangan peran baik dalam keluatga maupun dalam masyarakat, dampak dari hospitalisasi rawat inap dan harus beradaptasi dengan lingkungan yng baru serta takutnya terjadi kecacatan pada dirinya.
2.1.10.3 Sosial
Klien akan kehilangan perannya dalam keluarga dan dalam masyarakat karena harus menjalani perawatan yang waktunya tidak akan sebentar dan juga perasaan akan ketidakmampuan dalam melakukan kegiatan seperti kebutuhannya sendiri seperti biasanya.
2.1.10.4 Spiritual
Klien akan mengalami gangguan kebutuhan spiritual sesuai dengan keyakinannya baik dalam jumlah ataupun dalam beribadah yang diakibatkan karena rasa nyeri dan ketidakmampuannya.
2.1.10.5 Terhadap Keluarga
Masalah yang timbul pada keluarga dengan salah satu anggota keluarganya terkena fraktur adalah timbulnya kecemasan akan keadaan klien, apakah nanti akan timbul kecacatan atau akan sembuh total. Koping yang tidak efektif bisa ditempuh keluargan untuk itu peran perawat dsini sangat vital dalam memberikan penjelasan terhadap keluarga.Selain itu, keluarga harus bisa
menanggung semua biaya perawat dan operasi klien.Hal ini tentunya menambahkan beban bagi keluarga.
Masalah – masalah diatas timbul saat klien masuk rumah sakit, sedang masalah juga bisa timbul saat klien pulang dan tentunya keluarga harus bisa merawat, memenuhi kebutuhan klien. Hal ini tentunya menambah beban bagi keluarga dan bisa menimbulkan konflik dalam keluarga.
(Helmi, 2013).
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
Pengkajian pada klien post op fraktur femur menurut Muttaqin (2009) yaitu:
2.2.1 Pengkajian
Proses keperawatan dalam mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengindentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan, dan keperawatan klien, baik fisik,mental,social dan lingkungan.
2.2.1.1 Pengumpulan data 1) Identitas
Meliputi nama, faktor usia tidak menentu terkadang yang menderita fraktur itu usia remaja, dewasa dan tua. Usia tua dikarenakan osteoporosis, sedangkan pada usia remaja dan dewasa itu dikarenakan mengalami kecelakaan. Jenis kelamin belum dapat diketahui secara pasti yang mendominasi pasien fraktur karena fraktur itu sendiri dikarenakan mengalami kecelakaan yang tidak
sengaja, rendahnya pendidikan berpengaruh juga karena kurangnya pengetahuan tentang rambu-rambu lalu lintas sehingga pengguna bermotor dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain yang mengakibatkan fraktur, tetapi ini semua dianggap sudah resiko jika menggunakan kendaraan bermotor. Perkerjaan yang keras yang mengakibtakan stress, kurangnya istirahat, mengkonsumsi alkohol, mengkonsumsi stamina juga dapat mengakibatkan kecelakaan yang tidak disengaja sehingga terjadinya fraktur. Alamat, nomor register, tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS) dan diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah terasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut dan kronis tergantung lamanya serangan. Dalam mengkaji adanya nyeri, maka digunakan teknik PQRST.
P= Provoking incident: Karena adanya luka post op fraktur femur Q= Qualiti of pain: seperti apa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
R= Regio: Lokasi nyeri berada di tempat post op fraktur femur.
S= Scale of pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
T= Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur yang nantinya membantu dalam rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa di tentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa di ketahui luka kecelakaan yang lain.
4) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada klien fraktur / patah tulang dapat disebabkan oleh trauma / kecelakaan, degeneratif dan patologi. Pernah mengalami kejadian patah tulang atau tidak sebelumnya dan ada / tidaknya klien mengalami pembedahan perbaikan dan pernah menderita osteoporosis sebelumnya.
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Pada keluarga klien ada / tidak yang menderita osteoporosis, arthritis dan tuberkolosis atau penyakit lain yang sifatnya menurun dan menular. Diabetes dan Hipertensi karena dengan tekanan darah yang tinggi serta gula darah juga tinggi yang mempersulit proses penyembuhan.
6) Pemeriksaan Fisik Berdasarkan B1-B6
(1) Sistem Pernafasan (B1/Breathing)
Inspeksi : Tidak ada perubahan yang menonjol seperti bentuk dada ada tidaknya sesak nafas, pernafasan cuping hidung, dan pengembangan paru antara kanan dan kiri simetris.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, gerakan vokal fremitus antara kanan dan kiri sama.
Perkusi : Bunyi paru resonan
Auskultasi : Suara nafas vesikuler tidak ada suara tambahan seperti whezzing atau ronchi
(2) Sistem Kardiovaskuler (B2/Blood) Inspeksi : Kulit dan membran mukosa pucat.
Palpasi : Tidak ada peningkatan frekunsi dan irama denyut nadi, tidak ada peningkatan JVP, CRT menurun >3detik pada ekstremitas yang mengalami luka
Perkusi : Bunyi jantung pekak
Auskultasi : tekanan darah normal atau hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri), bunyi jantung I dan II terdengar lupdup tidak ada suara tambahan seperti mur mur atau gallop.
(3) Sistem Persyarafan (B3/Brain)
Inspeksi : Mengkaji kesadaran dengan nilai GCS, tidak ada kejang, tidak ada kelainan nervus cranialis
Palpasi : Tidak ada nyeri kepala
(4) Sistem Perkemihan (B4/Bladder)
Inspeksi : Warna urine orange gelap karena obat, terpasang kateter (5) Sistem Pencernaan (B5/Bowel)
Inspeksi : Keadaan mulut bersih, mukosa lembab, keadaan abdomen normal tidak asites.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan atau massa pada abdomen.
Perkusi : Normal suara tympani
Auskultasi : Peristaltik menurun akibat anastesi (6) Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6/Bone)
Inspeksi : Aktivitas dan latihan mengalami perubahan / gangguan dari sehingga memerlukan bantuan dalam memenuhi kebutuhan perlu dibantu baik oleh perawat atau keluarga .Pada area luka beresiko tinggi terhadap infeksi, sehingga tampak diperban / dibalut. Tidak ada perubahan yang menonjol pada sistem integumen seperti warna kulit, adanya jaringan parut / lesi, adanya perdarahan, adanya pembengkakan, tekstur kulit kasar dan suhu kulit hangat pada area sekitar luka. Adanya nyeri pada area fraktur , kekuatan otot pada area fraktur mengalami perubahan akibat kerusakan rangka neuromuscular, kekuatan otot pada ekstremitas atas dan bawah mengalami penurunan akibat efek dari anastesi, ROM menurun yaitu mengkaji dengan skala ROM :
(1)) Skala 0 : Paralisis total.
(2)) Skala 1 : Tidak ada gerakan, teraba / terlihat adanya kontraksi otot.
(3)) Skala 2 : Gerakan otot penuh menantang gravitasi dengan sokongan.
(4)) Skala 3 : Gerakan normal menentang gravitasi
(5)) Skala 4 : Gerakan normal menentang gravitasi dengan sedikit tahanan.
(6)) Skala 5 : gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan tahanan penuh.
Palpasi : Kulit teraba hangat (7) Sistem Penginderaan (B7)
Inspeksi : Pada mata terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan), pergerakan bola mata normal, pupil isokor.
(8) Sistem Endokrin (B8)
Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis.
2.2.2. Diagnosa Keperawatan
2.2.2.1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan, post operative fracture.
2.2.2.2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplay darah ke jaringan menurun.
2.2.2.3. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan luka post operative fracture.
2.2.2.4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuscular, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi).
(Nurarif dan Kusuma, 2015).
2.2.3. Rencana Keperawatan
2.2.3.1. Diagnosa Keperawatan Nyeri Akut Berhubungan Dengan Trauma Jaringan, Post Operative Fracture.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam di harapkan nyeri akut teratasi.
Kriteria hasil :
1) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan
2) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manjemen nyeri.
Intervensi :
1) Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri.
Rasional : Dengan memberikan penjelasan diharapkan klien tidak merasa cemas dan dapat melakukan sesuatu yang dapat mengurangi nyeri.
2) Kaji tingkat nyeri klien (lokasi, karakteristik dan durasi) serta respon verbal dan non verbal pada klien yang mengisyaratkan nyeri.
Rasional : Mengevaluasi tingkat nyeri klien dapat mendeteksi gejala dini yang timbul sehingga perawat dapat memilih tindakan keperawatan
selanjutnya serta mengkaji respon verbal dan non verbal klien dapat diketahui intervensi kita berhasil atau tidak.
3) Ajarkan pada klien cara pengurangan nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi.
Rasional : Teknik nafas dalam dan mengalihkan nyeri mampu menstimulus otak terhadap nyeri sehingga mengurangi nyeri.
4) Pertahankan immobilisasi / bedrest karena adanya trauma / patah tulang / pemasangan traksi.
Rasional : Immobilisasi / bedrest dapat meringankan nyeri dan mencegah displacement tulang / eksistensi jaringan luka.
5) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional : Observasi tanda-tanda vital dapat diketahui keadaan umum klien.
6) Lakukan kolaborasi dalam pemberian obat sesuai dengan yang di indikasikan yaitu analgesik dan pelemas otot.
Rasional : Obat analgesik diharapkan dapat mengurangi nyeri dan obat pelemas otot diharapkan dapat melemaskan otot.
2.2.3.2 Diagnosa Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer Berhubungan Dengan Suplai Darah Ke Jaringan Menurun.
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam di harapakan Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer di harapkan masalah teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Tekanan systole dan distole dalam rentang yang diharapkan.
2) Tidak ortostatik hipertensi ortostatik.
3) Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakanial (tidak lebih dari 15 mmHg).
Intervensi :
1) Kaji secara komprehensi sirkulasi perifer.
Rasional : Sirkulasi perifer dapat menunjukan tingkat keparahan penyakit.
2) Evaluasi nadi perifer dan edema.
Rasional : Pulsasi yang lemah menimbulkan kardiak output menurun.
3) Evaluasi anggota badan atau lebih.
Rasional : Untuk meningkatkan venous return.
4) Ubah posisi pasien setiap 2 jam sekali.
Rasional : Mencegah komplikasi dekubitus.
5) Dorong latian ROM sebelum bedrest.
Rasional : Mencegah komplikasi decubitus
6) Kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian anti platelet atau anti perdarahan.
Rasional : Meminimalkan adanya bekuan dalam darah.
2.2.3.3 Diagnosa Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Berhubungan Dengan Luka Post Operative Fracture.
Tujuan : Setelah di lakukan tidakan keperawatan 2x24 jam di harpakan kerusakan integritas kulit masalah teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Integritas kulit yang baik bisa di pertahankan (sensasi, elastisitas, termperatur, hidrasi, pigmentasi) tidak ada luka /lesi pada kulit.
2) Menunjukakan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cidera berulang.
3) Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan kulit
Intervensi :
1) Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
Rasional : Nyaman saat di gerakkan dan luka tidak tertekan.
2) Hindari kerutan pada tempat tidur, ganti seprei setiap hari.
Rasional : Memberikan posisi yang nyaman.
3) Jaga kebersihan kulit yang luka agar tetap bersih dan kering.
Rasional : Menghindari adanya infeksi untuk menjaga kebersihan kulit.
4) Monitor aktivitas dan mobilisasi.
Rasional : Mengetahui tingkat mobilisasi klien.
5) Monitor kulit akan adanya oedem dan kemerahan.
Rasional : Menghindari adanya infeksi dan perubahan perfusi jaringan.
6) Anjurkan klien untuk melakukan gerak aktif sedikit demi sedikit.
Rasional : Mempertahankan kekuatan otot serta meningkatkan sirkulasi.
2.2.3.4 Diagnosa Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Kerusakan Rangka Neuromuscular, Nyeri, Terapi Restriktif (Imobilisasi).
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam di harapkan hambatan mobilitas fisik teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik.
2) Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas.
3) Memverbalisasikan perasaan dalam meningkat kekuatan dan kemampuan berpindah.
4) Mempergerakan pengunaan alat.
5) Bantu untuk mobilisasi.
Intervensi :
1) Observasi keterbatasan gerak klien dan catat respon klien terhadap immobilisasi.
Rasional : Dengan observasi dapat diketahui seberapa jauh tingkat perubahan fisik klien (keterbatasan gerak) dan bagaimana respon / persepsi klien tentang gambaran dirinya.
2) Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas dan pertahankan stimulasi lingkungan antara lain TV, Radio dan surat kabar.
Rasional : Dapat memberi kesempatan pasien untuk mengeluarkan energi, memfokuskan perhatian, meningkatkan rangsangan kontrol diri pasien dan membantu dalam menurunkan isolasi sosial.
3) Ajarkan pada klien untuk berlatih secara aktif / pasif dari latihan ROM.
Rasional : Dapat menambah aliran darah ke otot dan tulang melakukan gerakan sendi dapat mencegah kontraktur.
4) Monitor tekanan darah dan catat masalah sakit kepala.
Rasional : Hipertensi postural adalah masalah umum yang mengurangi bedrest lama dan memerlukan tindakan khusus.
5) Konsultasikan dangan ahli terapi fisik / spesialis, rehabilitasi.
Rasional : Konsultasi dengan ahli terapi / spesialis rehabilitasi dapat menciptakan program aktivitas dan latihan individu.
(Nurarif dan Kusuma, 2015).
2.2.4 Implementasi
Implementasi adalah suatu tindakan pelaksana dari rencana yang sudah dibuat untuk proses penyembuhan klien selama klien di rawat di rumah sakit.
Setiap tindakan yang di berikan dari rencana tindakan harus di beri tanggal, waktu dan paraf (Doenges, 2009).
Pada diagnosa nyeri berhubungan dengan trauma jaringan, post operative, selama 2 x 24 jam dilakukan tindakan keperawatan berupa melakukan bina hubungan saling percaya kepada pasien dan kleuarga, mengobservasi tanda-tanda vital pasien, mengkaji tingkat intensitas dan frekuensi nyeri, menjelaskan kepada klien tentang penyebab nyeri, melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.
Pada diagnosa keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplai darah selama 2x24 jam dilakukan kegiatan seperti mengkaji tanda – tanda vital klien, mengkaji secara komprehensif sirkulasi perifer, mengevaluasi nadi perifer dan edema, menganjurkan kepada klien untuk mengubah posisi pasien setiap 2 jam sekali, menganjurkan untuk latian ROM sebelum bedrest, kolaborasi dengan tim medis dengan pemberian anti platelet atau anti perdarahan.
Pada diagnosa kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka post operative, selama 2 x 24 jam dilakukan tindakan keperawatan berupa mengkaji kulit pada tahap perkembangan luka, mengkaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka, memantau peningkatan suhu tubuh, memberikan perawatan luka dengan tehnik aseptik, membalut luka dengan kasa kering dan
steril, jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement, setelah debridement, mengganti balutan sesuai kebutuhan, melakukan kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Pada diagnosa hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidaknyamanan, kerusakan musculoskeletal, fraktur, selama 2 x 24 jam dilakukan tindakan keperawatan berupa mengkaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera / pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi, mengajarkan dan member dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif, melakukan pemantauan pada pasien dalam hal penggunaan alat bantu, memberikan/membantu pasien dalam mobilisasi dengan kursi roda, tongkat sesegera mungkin, melakukan kolaborasi dengan ahli terapi fisik / okupasi dan / spesialis rehabilitasi.
2.2.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu hasil akhir dari perkembangan klien dari setiap tindakan yang sudah di rencanakan. Dan klien sudah mengalami perubahan terhadap diri yang di rasakan (Doenges, 2009).
Pada diagnosa nyeri akut yang di harapkan yaitu nyeri berkurang sampai dengan hilang. Pada diagnosa Ketidakefektifan Perfusi Jaringan diharapkan masalah teratasi. Pada diagnosa Kerusakan integritas kulit yang di harapkan yaitu perbaikan kulit, kulit kembali normal. Pada diagnosa Hambatan mobilitas fisik yang di harapkan yaitu dapat melakukan Mobilitas secara Mandiri.
2.3 Kerangka Masalah
Trauma langsung, Trauma tidak langsung, Kondisi patologis
Fraktur
Trauma pembedahan
Trauma Jaringan Post Op
MK : Kerusakan Integritas Kulit Pelepasan Histamin
MK : Nyeri Akut
MK : Hambatan Mobilitas Fisik
Indikasi Imobilitas pada Jaringan Post
Op
Sirkulasi darah ke perifer menurun
MK : Ketidakefektifan perfusi Jaringan Perifer
Gambar 2.1 Kerangka Masalah Fraktur (Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc, 2015).
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc, 2015).
Gambar 2.1 Kerangka Masalah Fraktur (Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc, 2015).
35
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan dengan diagnose Post Operative Closed Fracture Femure Sinistra maka penulis menyajikan suatu kasus yang penulis amati mulai tanggal 22 Jaunuari 2020 sampai dengan 23 Januari 2020. Anamnesa diperoleh dari klien dan keluarga.
3.1 Pengkajian 3.1.1 Identitas
Tn. K (55 tahun), sudah menikah, suku jawa, beragama islam, tamatan SMA, berkerja sebagai pegawai PNS, alamat Kraton – Pasuruan dan no.
register 00274xxx. Klien dirawat dengan diagnosa medis post operative closed fracture femur sinistra
3.1.2 Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada paha sebelah kiri.
3.1.3 Riwayat Keperawatan
3.1.3.1 Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan pada tanggal 20 Januari 2020 pukul 18.00 klien ditabrak oleh seorang pengendara motor saat klien hendak menyebrang. Setelah tertabrak klien dibawa oleh keluarganya ke Rumah Sakit Anwar Pasuruan, karena di Rumah Sakit Anwar Pasuruan tidak ada dokter yang menangani akhirnya klien dirujuk ke IGD RSUD Bangil
Pasuruan. Pada pukul 19.30 klien dibawa ke ruang rawat inap melati. Pada tanggal 21 Januari 2020 jam 11.00 wib dibawa ke ruang OK untuk dilakukan tindakan operasi sampai pukul 15.00 wib, setelah dari ruang OK dibawa ke ruang RR sampai pukul 17.00 wib. Dari ruang RR pasien dikembalikan ke ruang Melati pada pukul 17.30 wib.
Saat pengkajian yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2020 pukul 20.00 setelah operasi, klien mengatakan nyeri luka setelah operasi, nyeri seperti ditusuk – tusuk, nyeri pada paha bagian kiri, skala nyeri 5, nyeri sering saat menggerakkan kaki bawah. Klien tampak menyeringai menahan nyeri.
Masalah Keperawatan : Nyeri Akut 3.1.4 Riwayat Kesehatan Sebelumya 3.1.4.1 Penyakit Yang Pernah Diderita
Klien mengatakan tidak mempunyai rwayat penyakit apapun 3.1.4.2 Operasi
Klien mengatakan baru pertama kali ini menjalani operasi 3.1.4.3 Alergi
Klien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap makanan maupun obat – obatan
3.1.5 Riwayat Kesehatan Keluarga
3.1.5.1 Penyakit Yang Pernah Diderita Oleh Anggota Keluarga
Klien mengatakan keluarga tidak pernah mempunyai penyakit seperti DM, Jantung, Hipertensi, TB Paru.
3.1.5.2 Lingkungan Rumah dan Komunitas
Klien mengatakan lingkungan rumahnya bersih dan ventilasi cukup.
3.1.5.3 Perilaku Yang Mempengaruhi Kesehatan Klien kurang berhati – hati saat berkendara.
3.1.6 Persepsi Dan Pengetahuan Penyakit Dan Penatalaksanaannya
Klien dan keluarga mengetahui tentang penyakitnya dan tau cara penatalaksanaannya langsung dibawa ke rumah sakit.
3.1.7 Status Cairan dan Nutrisi
Nafsu makan sebelum sakit baik (3 x 1 porsi), saat sakit baik (3 x 1) porsi, jenis minuman sebelum sakit air putih, teh dan kopi sebanyak 2000cc/hari, jenis minuman saat sakit air putih 1500cc/hari, tidak ada pantangan makanan apapun, berat badan sebelum sakit dan sesudah sakit sama 65kg.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.8 Genogram Keterangan :
Pasien Perempuan
Laki - Laki
Tinggal serumah
Gambar 3.1 Genogram Keluarga Tn. K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femur sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan
Keadaan umum cukup, klien terbaring di tempat tidur, terpasang infus di tangan kanan, tekanan darah : 130/80mmHg, suhu : 36,5ºc (lokasi pengukuran : temporalis), nadi : 88x/menit (lokasi perhitungan : radialis), respirasi: 20x/menit.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9 Pemeriksaan Fisik
3.1.9.1 Sistem Pernafasan (B1/Breathing) :
Pada inspeksi ditemukan bentuk dada normal chest, susunan ruas tulang belakang normal, pola nafas teratur, tidak ada retraksi otot bantu nafas, tidak ada alat bantu nafas, tidak ada nyeri dada saat bernapas, tidak ada batuk mapun sputum. Pada palpasi ditemukan vokal premitus sama antara kanan dan kiri. Pada perkusi ditemukan suara perkusi thorax resonan. Pada auskultasi tidak ditemukan suara nafas tambahan seperti ronchi, wheezing.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.2 Sistem Kardiovaskuler (B2/Blood) :
Tidak terdapat nyeri dada, irama jantung teratur dengan pulsasi kuat posisi midclavicula sinistra ics v ukuran 1cm, bunyi jantung : S1 dan S2 tunggal, tidak terdapat bunyi jantung tambahan, tidak ada cianosis, tidak ada clubbing finger, JVP normal.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.3 Sistem Persyarafan (B3/Brain) :
Kesadaran composmentis, GCS : 4,5,6, orientasi baik, klien kooperatif, tidak ada kejang, tidak ada kaku kuduk, tidak ada brudzinky, tidak ada nyeri kepala, tidak ada pusing, istirahat/tidur : siang ± 3-4 jam/hr, malam ± 6-8 jam/hr, tidak ada kelainan nervous cranialis, pupil isokor, reflek cahaya : +/+ (normal)
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.4 Sistem Perkemihan (B4/Bladder) :
Bentuk alat kelamin normal, kemauan turun, kemampuan turun, alat kelamin bersih, klien menggunakan alat bantu cateter, tempat yang digunakan urine bag, jumlah 1300cc/24jam, bau khas, warna kuning jernih Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.9. Sistem Pencernaan (B5/Bowel) :
Mulut bersih, mukosa bibir lembab, bentuk bibir normal, gigi bersih, kebiasaan gosok gigi 2x/hari, tidak ada nyeri abdomen, bising usus 15x/menit, kebiasaan bab klien belum bab selama di RS
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.9.6 Sistem Integumen (B6/Bone) :
Kemampuan pergerakan sendi dan tungkai ROM terbatas, kekuatan otot tangan kanan 5, tangan kiri 5, kaki kanan 5, kaki kiri 1, tidak ada dislokasi, terdapat luka post op fracture femure sinistra, akral hangat, turgor elastis, CRT ≤ 2 detik, ada oedema pada paha sebelah kiri, ADL dibantu oleh keluarga : Makan dan minum, memakai baju, mandi diseka keluarga
Lain – lain : Klien mengatakan nyeri pada paha kiri karena operasi sehingga klien mengalami kesulitan pergerakan seperti duduk dan berpindah posisi.
Masalah keperawatan : Nyeri Akut dan Hambatan Mobilitas Fisik 3.1.9.7 Sistem Penginderaan (B7) :
Konjungtiva tidak anemis, sklera normal putih, tidak menggunakan alat bantu pengelihatan, hidung normal, mukosa hidung lembab, tidak ada sekret, ketajaman penciuman normal, tidak ada kelainan, telinga berbentuk simetris, tidak ada keluhan, ketajaman pendengaran normal, tidak menggunakan alat bantu pendengaran, perasa manis, pahit, asam, asin, peraba normal.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.8 Sistem Endokrin (B8) :
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tidak ada luka gangren.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.9 Data Psikososial
1) Gambaran Diri
Klien mensyukuri ciptaan ciptaan Allah tentang tubunya, klien mengatakan menyukai semua anggota tubuhnya, klien mengatakan tidak ada bagian tubuh yang tidak disukai, klien mengatakan bersedih jika harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
2) Identitas
Klien berstatus sebagai ayah didalam keluarganya, klien mengatakan puas sebagai ayah karena masih mampu mencukupi keluarganya, klien mengatakan puas sebagai laki – laki.
3) Peran
Klien mengatakan sudah dihargai menjadi seorang ayah, klien mengatakan mampu menjalankan perannya sebagai ayah.
4) Ideal Diri
Klien mengatakan ingin kembali beraktivitas seperti sehari – hari, klien berstatus sebagai ayah, keluarga klien mendukung dalam proses kesembuhannya, klien berharap masyarakat masih mau menerimanya, klien berharap teman kerjanya mau menerima keadaannya dan klien berharap penyakitnya segera sembuh.
5) Harga Diri
Tanggapan klien terhadap dirinya baik.
6) Data Sosial
Klien berhubungan baik dengan keluarganya, klien berhubungan baik dengan klien lainnya, keluarga sangat mendukung klien dan klien sangat kooperatif saat diajak bicara.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3.1.9.10 Data Spiritual
Klien mengatakan Allah adalah sumber penguasa kehidupan, klien mengatakan kekuatannya adalah dengan beribadah, klien mengatakan ritual agama yang paling bermakna adalah sholat dan berdoa, klien mengatakan menggunakan sarung saat sholat, klien yakin penyakitnya adalah ujian dan klien yakin bisa sembuh, penyakitnya dari Allah SWT.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
3.1.10 Data Penunjang
3.1.10.1 Laboratorium (21 Januari 2020)
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Darah Lengkap Leukosit (WBC) Neutrofil
Limfosit Monosit Eosinofil Basofil Neutrofil % Limfosit % Monosit % Eosinofil % Basofil % Eritrosit (RBC) Hemoglobin (HGB) Hematokrit (HCT) MCV
MCH MCHC RDW PLT MPV
KIMIA KLINIK GULA DARAH
Glukosa Darah Sewaktu
H 18,51 H 17,1 L 0,84 0,5 0928 0,05 H 92,2 L 4,6 L 2,5 0,5 0,3 L 4,351 L 11,83 37,3 85,62 27,19 L 31,75 L 10,70 177 7,960
182
4,5 – 11 1,5 – 8,5 1,1 – 5,0 0,14 – 0,66 0 – 0,33 0 – 0,11 35 – 66 24 – 44 3 – 6 0 - 3 0 – 1 4,5 – 5,9 13,5 – 17,5 37 – 53 80 – 100 26 – 34 32 – 36 11,5 – 13,1 150 – 450 6,90 – 10,6
<200
Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan laboratorium pada Tn. K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femur sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan.
3.1.10.1 X-Ray
Ada pemeriksaan tetapi tidak ada bacaan.
3.1.11 Terapi (Tanggal 22 Januari 2020)
3.1.11.1 Infus RL 1000CC/24 jam : Sebagai sumber elektrolit
3.1.11.2 Dexketopain 2 x 1 ml : Untuk meredakan nyeri dari yang ringan sampai yang berat
3.1.11.3 Ondancentron 2 x 1 mg : Mencegah mual muntah karena efek kemoterapi maupun operasi
3.1.11.4 Antrain 3 x 750 mg : Untuk menangani demam dan rasa nyeri yang terjadi setelah seorang pasien menjalani operasi
Bangil, 22 Januari 2020 Mahasiswa
Sherly Ayunda Permata Juwita
3.2 Diagnosa Keperawatan 3.2.1 Analisa Data
Tanggal : 22 Januari 2020 Umur : 55 tahun
Nama Pasien : Tn. K No. Rm : 00274xxx
Tabel 3.2 Analisa data pada Tn. K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femur sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan.
No Data Etiologi Problem
1. Ds: Klien mengatakan nyeri pada paha sebelah kiri nyeri luka setelah operasi, nyeri seperti ditusuk – tusuk, nyeri pada paha bagian kiri, skala nyeri 5, nyeri sering saat menggerakkan kaki bawah
Do :
1. Keadaan umum cukup 2. Kesadaran composmentis 3. GCS 4-5-6
4. Terdapat luka post operasi pada paha kiri
5. Klien tampak menyeringai menahan nyeri
6. TTV : TD = 130/80mmhg N = 88x/menit S = 36,5ºc RR = 20x/menit
Trauma Jaringan Post Op
Nyeri Akut
No Data Etiologi Problem 2. Ds : Tn. K mengatakan kesulitan pergerakan
seperti duduk dan berpindah posisi.
Do :
1. Keadaan umum cukup 2. Kesadaran composmentis 3. GCS 4-5-6
4. Klien kesulitan melakukan pergerakan seperti duduk dan berpindah posisi 5. ADL dibantu oleh keluarga ( makan dan
minum, memakai baju, mandi diseka keluarga )
6. TTV : TD = 130/80mmHg N = 88x/menit S = 36,5ºc RR = 20x/menit 7. Kekuatan Otot
Indikasi immobilisasi pada jaringan post op
Hambatan Mobilitas Fisik
5 5
5 1
3.2.2 Daftar Diagnosa
3.2.2.1 Daftar Masalah Keperawatan 3.2.2.2 Nyeri Akut
3.3.2.3 Hambatan Mobilitas Fisik
3.2.3 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas
3.2.3.1 Nyeri Akut berhubungan dengan trauma jaringan post op
3.2.3.2 Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Immobilisasi pada jaringan post op
3.3 Intervensi Kreperawatan
Tabel 3.3 Intervensi Keperawatan pada Tn. K dengan diagnosa medis post operative closed fracture femur sinistra di Ruang Melati RSUD Bangil Pasuruan
No Dx
Tujuan/kriteria hasil Intervensi Rasional 1. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang sampai hilang.
Kriteria Hasil :
1. Klien mengerti tentang penyebab nyeri
2. Klien mau melaporkan nyerinya berkurang
3. Klien mampu
mendemonstrasikan cara mengontrol nyeri
4. Klien mampu mengenali karakteristik nyeri (Skala, Frekuensi, durasi)
5. Ttv dalam batas normal
1. Jelaskan tentang penyebab nyeri 2. Ajarkan teknik
relaksasi dan distraksi
3. Observasi karakteristik nyeri
4. Observasi TTV 5. Kolaborasi
dalam pemberian analgesik
1. Agar klien mengerti tentang penyebab nyeri 2. Untuk
meminimalisir nyeri
3. Untuk
mengevaluasi nyeri dan untuk
memudahkan melakukan tindakan keperawatan selanjutnya 4. Untuk
mengetahui keadaan umum klien 5. Untuk
mempercepat kesembuhan klien
No Dx
Tujuan/kriteria hasil Intervensi Rasional
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien mampu mobilisasi secara bertahap
Kriteria Hasil :
1. Klien mengerti tentang pentingnya mobilisasi 2. Klien mau melaporkan
kemampuan pergerakannya meningkat
3. Klien meningkat dalam aktivitas fisik
4. Klien mampu memenuhi
ADL secara
mandiri\Kekuatan otot kembali normal
5. TTV dalam batas normal
1. Jelaskan tentang pentingnya
mobilisasi
2. Ajarkan klien untuk berlatih secara aktif / pasif dari latihan ROM
3. Anjurkan klien untuk melakukan pemenuhan
kebutuhan ADL secara mandiri 4. Observasi kekuatan
otot
5. Observasi TTV 6. Kolaborasi dengan
ahli fisioterapis jika diperlukan
1. Agar klien mengerti
tentang pentingnya mobilisasi 2. Untuk
mencegah terjadinya kekakuan otot 3. Untuk
mengetahui ada peningkatan ADL 4. Untuk
mengetahui adanya peningkatan kekuatan otot 5. Untuk
mengetahui keadaan umum pasien
6. Kolaborasi dengan ahli terapi dapat menciptakan program
aktivitas dan latihan