IMPLEMENTASI KURIKULUM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DAN TSAQAFAH ISLAMIYAH DALAM PEMBENTUKAN
A. Implementasi Kurikulum Pembelajaran Al-Qur’an dan Tsaqafah islamiyah dalam Pendidikan Karakter
2. Dampak dan Nilai-Nilai Tsaqafah islamiyah dalam Pendidikan Karakter Pendidikan Karakter
Kata nilai berasal dari bahasa latin yaitu vale‟re yang artinya berlaku, bermakna dan berdayaguna. Dengan demikian nilai adalah sesuatu yang meiliki makna yang disukai, dihargai dan memberikan manfaat dalam kehidupan serta dapat mengangkat derajat sesorang melalui nilai yang dimilikinya.7
Nilai adalah sesuatu yang memberikan makna hidup, kemanfaatan dan cara pandang yang disukai. Nilai bukan hanya keyakinan yang dimiliki seseorang namun keterkaitanya dengan pola hidup, mindset dan tindakan yang dilakukan sehingga sesorang dapat dinilai ketika menjaga dan selalu terarah dalam
6 Kemendiknas RI, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,..., hal.15.
7 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nila-Karakter Kontruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.2012, hal.56
berfikir dan memiliki tujuan yang jelas dalam menjalani kehidupannya.8
Menurut majid, keberadaan nilai yang benar adalah ketika dapat diterima dan membrikan efek baik terhadap perubahan prilaku sesoerang, sehingga dengan nilai yang didapatnyan dapat merubah karakternya menjadi lebih baik dan bermanfaat dalam hidup keberadaan nilai iniliah yang dijadikan pedoman agar bisa menjalani kehidupan yang menyenangkan dan menentramkan, karena pada hakekatnya tujuan dari kehidupan mansuia ini adalah mencari ketenangan hidup.9
Pendekatan nilai yang dikembangankan mengacu kepada baik buruknya nilai tersebut tergantung sudut pandang dalam melilaht dan mengeksperisakn nilai tersebut. Pandangan terhadap nilai akan menjadi baik jika memberikan manfaat dan menjadikan kebaikan-kebaikan terhadap yang mengerjakanya begtupun sebaliknya. jadi tergatung sudut pandang dan persepsi manusia dalam menjalankan nilai-nilai tersebut. Olehkarenanya, islam mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan keburukan(al-ma‟ruf dan al-munkar) dengan tujuan mansuia bisa membedakan mana keburukan dan mana kebaikan.
Bhineka tunggal ika yang menjadi slogan dalam bernegara yang memiliki makna berbeda-beda tapi meiliki tujuan yang sama. Slogan negara yang terdapat dalam lambang garuda pancasila ini mengandung makna yang sangat dalam terkait konsekuensi sebuah nilai. Berbeda suku budaya dan agama tidak menjadikan berbeda dalam tujuan, karena tujuan nya adalah sama yaitu membangun nilai persatuan.
Sementara itu, berdasarkan nilai-nilai agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional merumuskan delapan belas nilai-nilai yang perlu dikembangkan melalui pendidikan karakter, yaitu: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab.10
8Eka Darmaputra . Pancasila, Identitas dan Modernitas Tinjauan Etis dan Budaya, Jakarta : BPK Gunung Mulia.1987, 65.
9 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.2011, hal. 42.
10 Pusat Kurikulum Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa:
Pedoman Sekolah. 2009:9-10.
85
Nilai-nilai yang dijelaskan diatas selaras dengan apa yang terdapat dalam balitbang kemendiknas yang juga menejlaskan tentang nilai-nilai karakter yang harus dimiliki oleh para pelajar dan pengajar serta seluruh warga negara indonesia. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi sebuah sikap yang dikembangkan dalam kehidupan seseorang, dianatarnya adalah sikap agamis, kejujuran, toleransi,disiplin, kerjakeras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta kedamaian, gemar membaca, pedlui lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab.11
Dengan demikian karakter yang dijelaskan tersebut menjadi bahan dan acuan lembaga pendidikan dalam mengoprasikan kegatanp-kegiatanya agar tetap memiliki acuan niali-nilai yang dikembangankan oleh pemerintah. Sekolah yang merupakan tempt terbaik dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, terkhusu dalam penanaman nilai akhlak yang amenjadi bagian dari tujuan pendidikan nasional. Pembelajaran Al-Qur‟an dan tsaqafah islamiyah merupakan kurikulum yang dipakai oleh salasahstu lembaga pendidikan non formal yaitu Sekolah hafizh Qur‟an Anak Juara yang berorientasi pada pembentukan karakter anak.
Dalam prakteknya, anak-anak didik selain diajarkan bagaimana membaca Al-Qur‟an dengan benar juga difahamakn tentang wawasan islam (tsaqafah islamiyah) yang menjadi materi pelajaran dalam usaha membentuk karakter para peserta didik.12
Kurikulum dalam perkembangannya memiliki banyak definisi atau pengertian yang dirumuskan oleh para ahli dalam bidang kurikulum. Pengertian kurikulum mulai dari yang sangat sederhana, yakni kurikulum merupakan kumpulan sejumlah mata pelajaran sampai dengan kurikulum sebagai kegiatan sosial.13
Implementasi adalah suatu proses penerapan, ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum
11 Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Jakarta.201, hal.7-8
12 Hasil Observasi Sementara dilaksanakan pada tanggal 15 juli 2020 di Sekolah Hafizh Qur‟an Anak Juara Galaxy Bekasi jawa Barat.
13 Herry Widyastono. Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah: dari Kurikulum 2004, 2006, ke Kurikulum 2013, Jakarta: Bumi Aksara.2014, hal.1.
dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran.14
Implementasi Kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual , emosional serta fisiknya.15
Terdapat tiga komponen dalam pelaksanaan pendidikan yang harus dikembangkan dimana ketiga komponen ini memiliki keterikatan hubungan satu sama lainya yaitu, kurikulum yang dipakai disekolah, guru yang mendeskripsikan dan mengamalkan kurikulum disekolah serta pengajaran yang dilaksanakan disekolah.16
Kurikulum pembelajaran Al-Qur‟an dan tsaqafah islmiyah yang dipakai dalam proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah hafizh Qur‟an Anak Juara mengacu pada terbentuknya karakter yang baik dengan berlandaskan pemahaman agama yang benar dan penguasaan terhadap Al-Qur‟an yang menjadi kajian pokoknya.17 Kemudian guru dalah seorang eksekutor dalam aplikasi kurikulum yang dipakai oleh sekolah, sehingga dalam hal ini guru harus memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih terkait kurikulum yang digunakan disekolah, karena ketidakfahaman guru terhadap kurikulum yang dijalankan disekolah akan berujung kepada hasil yang tidak maksimal. Dan selanjutnya adalah pengajaran atau materi pelajaranya yang merupakan prosesnya dalam pembelajaran. Jadi ketiga unsur diatas yaitu kurikulum, guru dan pengajaran saling keterkaitan antar satu dengan lainya sehingga dapat tercipta pembelajaran yang baik disekolah.
Setidaknya dalam implementasi kurikulum pembelajaran Al-Qur‟an dan tsaqafah islmaiyah dapat memberikan solusi dalam kehidupan masa depan para pelajar, lewat keberkahan Al-Qur‟an
14 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007, hal. 211.
15 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007, hal. 238.
16 Evi Fadilawati. Kurikulum Tersembunyi sebagai Strategi Internalisasi Nilai Nilai Pendidikan Islam, Jakarta. 2013.
17 Petujuk Tekhnis dan Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Hafizh Qur‟an Anak Juara Tahun 2017.
87
dan wawasan keislaman akan lebih memudahkan anak-anak didik dalam menyesuaikan dirinya ketika bersosialisasi dengan lingkunganny karena pada hakekatnya manusia memerlukan sebuah panduan dalam hidup, semacam kompas yang menjadi media dalam menentukan sebuah tujuan, begitulah hakekatnya Al-Qur‟an seharusnya berperan dalam jiwa-jiwa manusia.
Fitrahnya manusia adalah bersih dari kotoran seperti halnya kertas putih ketika pertama kali dilahirkan kedunia, yang menentukan tulisan dan gambar apa yang akan dituangkan dalam kertas itu tergantung siapa yang memegang penanya dan kuas gambarnya, jika pena dan kuas gambarnya dipegang oleh orang-orang yang benar dan bersih hatinya maka tulisanya akan menghasilkan yang bagus dan menarik namun begitu sebaliknya.
oleh karena itu manusia memiliki fitrahh didalam jiwanya dianatarnya adalah fitratuad-ddin, fitratul-ikhlash, fitratul-akhlaq, fitratussyaja‟ah dan fitraturr-arhmah18
Degradasi moral yang terjadi saat ini bukan hanya dinegara kita namun hampir terjadi semua belahan dunia, salah satu penyebabnya adalah banykanya budaya-budaya baru yang merusak akhlak generasi muda. Terjadi kekerasan terhadap anak, kasus asusila yang merajalela, pembunuhan dengan disengaja, perampokan dan kriminalitas-kriminalitas lainya yang meresahkan warga negara disebabkan rusaknya nilai moral, dan rusaknya moral anak bangsa pasti akan berpengaruh dengan mundurnya pendidikan akhlak dinegara ini.19 Dengan demikian, kurikulum pembelajaran Al-Qur‟an dan tsaqafah islamiyah semoga dapat menjadi solusi dalam ikhitiar memperbaiki dekadensi moral saat ini.
Penanaman nilai-nilai akhlak sbenarnya lebih tepat diterapkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, meski tidak ada salahnya mulai diterapkan pada pendidikan tingkat atas dan tinggi, namun asumsinya jika diterapkanya pendidikan akhlak sejak dini seakan start lebih awal dalam membentuk dan mengarakan karakter seroang anak. Melalui kuirkulum yang diterapkan di Sekolah Hafizh Qur‟an Anak Juara yang berfokus pada pembelajaran Al-Qur‟an dan pemahaman tentang tsaqafah islamiyah dengan harapan dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki nilai ketauhidan yang kuat, keberbaktian kepada orangtua dan guru yang tidak luntur
18Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,Bandung : PT Remaja Rosdakarya.2004, hal. 282-285
19 Syed Sajad Husen dan Syed Ali Ashraf, Krisis dalam Pendidikan Islam, Jakarta:
Almawardi Prima,2000, hal. 23.
ditelan waktu, kecerdasan yang mengakar dikuatkan sejak kecil dan memiliki akhlak yang terpuji yang menjadi modal dalam kehidupanya dimasa depan.20
B. Dampak Implementasi Kurikulum Pembelajaran Al-Qur’an dan