• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI KURIKULUM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DAN TSAQAFAH ISLAMIYAH

A. Karakter dalam Pendidikan Islam

1. Karakter dalam Sudut Pandang Islam

Dalam jurnal internsional, The Journal of Moral Education, nilai-nilai dalam ajaran Islam pernah diangakt sebagai hot issue yang dikupas secara khusus dalam volume 36 tahun 2007. Dalam diskursus pendidikan karakter ini memberikan pesan bahwa spiritualitas dan nilai-nilai agama tidak bisa dipisahkan dari pendidikan karakter. Moral dan nilai-nilai spiritual sangat fundamental dalam membangun kesejahrtaan dalam organisasi sosial manapun. Tanpa keduanya, maka elemen vital yang mengikat kehidupan masyarakat dapat dipastikan lenyap.1

Sejak beberapa abad silam para ahli dan pemikir telah menuangkan ide-ide mereka bagaimana mendidik manusia agar menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang baik.

Barat mengembangkan nilai-nilai moral dan karakter yang berasal dari Yunani, sedangkan Islam mengajarkan manusia berakhlak mulia berdasarkan petunjuk wahyu, Al-Qur‟an dan As-Sunnah.

Akhlak atau karakter Islam terbentuk atas dasar prinsip

“ketundukan, kepasrahan, dan kedamaian” sesuai dengan makna dasar dari kata Islam.

Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Dan pentingnya komparasi antara akal dan wahyu dalam pembentukan nilai-nilai moral terbuka untuk

1 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan karakter Perpektif Islam, Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2017, hal.58

diperdebatkan. Bagi kebanyakan muslim segala yang dianggap halal dan haram dalam Islam, dipahami sebagai keputusan Allah tentang benar dan baik. Oleh karenaya, dalam Islam terdapat tiga nilai utama yaitu, akhlak,adab dan keteladanan.2

Sejak zaman dahulu para pemikir islam sudah menyampaikan tentang pentingnya sebuah pendidikan akhlak. Seorang pemikir muslim terkemuka Ibnu Miskawaih (320-421H/932-1030M), merupakan seorang ahli ilmu yang mendalami keilmuan tentang filsafat dan etika. Tahdzibul Akhlaq yang menjadi karya nya yang fenomeal menyatakan tentang pentingnya menanamkan pendidkan akhlak dalam diri manusia serta menajalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendapatnya, akhlak adalah kondisi jiwa yang menjadikan seseorang berprilaku dan bertindak tanpa terpikirkan dulu. Dalam bukunya menyebutkan bahwa manusia memiliki dua sifat yaitu keburukan dan kebaikan yang menjadi tolak ukur seorang manusia dalam menilai tindakannya.3

Selain Ibnu Miskawaih, ahli tasawwuf dan juga ahli etika Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (1058-1111M) mengemukakan bahwa akhlak adalah suatu perlakuan bukan kekuatan, bukan pengetahuan. Lebih jelasnya imam Al-Ghazali mengatakan bahwa akhlak adalah kondisi jiwa yang bersifat bathin.4

Dalam bahasa Yunani karakter berasal dari kata “charassein”

yang berarti barang atau alat untuk menggores, yang dapat diartikan sebagai stempel atau cap. Sedangkan dalam bahasa arab istilah karakter indentik dengan

ةعيبط ,قلاخا

.5 suyanto yang dijelaskanoleh Azzet bahwa cara berfikir dan berprilaku yang merupakan kebiasaan dasar manusia dan pola hidup bekerjasama serta saling menolong antar individu,baik yang bersifat pribadi, lingkungan keluarga bahkan mencakup negara adalah definisi dari sebuah karakter.6

Islam mengajarkan bahwa konsep akhlak harus ditanmakan dan dikembangkan melalui pendidikan sejak dini. Oleh karenanya

2 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan karakter Perpektif Islam..., hal.58

3 Ibn Miskawaih, Tahdzib al-Akhlak, Beirut: Dar el Kutb al-Taymiyyah, 1405H/1985M

4 Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 2, Qairo, Mesir: Daar al-Taqwa, 2000, hlm.599

5 Al-Ma‟luf, al-Munjid fi al-Lughoh wa a‟lam. Beirut: al-Maktabah al-sSyarqiyah, 1986, hal. 194;460. Periksa As‟ad Muhammad al-Kalaly. Kamus Indonesia Arab, Jakarta:

Bulan Bintang, 1987, hal. 233

6 Sutarjo Adisusilo. Pembelajaran Nila-Karakter Kontruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.2012, hal 16.

29

banyak hadist-hadist Nabi yang mengungkapan tentnag pentingnya pendidikan karakter atau akhlak sejak dini seperti halnya yang disampaikan dalam sebuah hadist: “ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka.”7

Sedangkan Koesoema menjelaskan bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, juga bawaan sejak lahir.8

Karakter merupakan prilaku yang timbul dari pebuatan yang tampak dan dapat dilihat. . Karakter bisa dikatakan sebagai bentuk dari norma-norma yang berlandaskan kepada etika dan adab baik terhadap diri sendiri, sesama makhluk hidup, masyakarat dan bangsa yang terwujud dalam sikap, perasaan, perbuatan berlandaskan aturan agama, hukum, sopan santun, cultur/budaya, dan adat istiadat.9

Karakter adalah jati diri yang merupakan saripati kualitas bathiniyah atau rohaniyah manusia yang yang penampakanya berupa budi pekerti (sikap dan perbuatan lahiriyah),10 sedangkan menurut suyanto, dikutip suparlan karakter adalah, cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan berkerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dab negara.11

Pendapat pertama tentang karakter yang disebutkan diatas meliputi beberapa unsur, diantaranya (1)Jati diri, (2)saripati kualitas bathiniyah dan rohaniyah manusia, (3)budi pekerti (sikap dan perbuatan lahiriyah. Pendapat kedua meliputi unsur-unsur sebagai berikut, (1)cara berpikir, (2)cara berprilaku,

7 Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.1998, hal. 99

8 Doni Koesoema Albertus, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta. PT Grasindo. 2007, hal. 80

9 Muchlas Samani & Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.2011,hal. 41-42

10 Slamet, PH. Pengembangan Pendidikan Karakter Siswa oleh Sekolah,

“Makalah” disampaikan ada seminar nasional yang diselelnggarakan ISPI DIY bekerja sama dengan Living Values Education International di Aula FPTK Uny, tanggal 29 juni 2009

11 Suyanto, dikutip suparlan, Pendidikan Karakter dan Kecerdasan, dalam website:www.suparlan.com; E-mail:me[at]suparlan[dot]com. Jakarta: 10juni 2010. Diakses 20 September 2020.

(3)bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.12

Peran Sekolah Hafizh Qur‟an Anak Juara memiliki tanggungjawab dalam pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter. Pendidikan karakter dibangun melalui peran sekolah, guru, orangtua dan dan yang lainnya yang terlibat dalam kepengursan dalam lembaga pendidikan. Selain itu pembentukan karakter yang menjadi prioritas sekolah dijalankan dengan melaksanakan kurikulum pembelajaran Al-Qur‟an dan tsaqafah islamiyahyang menjadi materi pokok pembelajaran di sekolah tersebut.

Thomas Lickona menyatakan dalam pendaptnya bahwa pendidikan karakter memiliki dua komponen nilai (value) yaitu, nilai pertanggungjawaban(responsibilty) dan nilai penghormatan (respectable) kedua-duanya memberikan pengaruh positif dalam kepribadian manusia khusunya dalam pembentukan karakter.13

Prof Haidar Putra Daulay mengemukakan ciri-ciri manusia indonesia yang dapat dirubah prilakunya melalui pendidikan.

Pertama, manusia agamis/religius, kepatuhan dan ketaatanya kepada Tuhan tidak bisa dikalahkan oleh sesuatu apapun. Pada hakekatnya pendidikan agama itu menjadikan manusia beragama bukan yang hanya tau tentang agama. Kedua, manusia bermoral, berkepribadian baik, mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalani hidup. Ketiga, manusia yang berjiwa sehat secara jasmani dan rohani. Keempat, manusia yang menguasai ilmu pengetahuan. Kelima, manusia yang cakap mampu bersaing dalam kehidupanya. Keenam, manusia yang memiliki kreativitas tunggi. Ketujuh, manusia yang mandiri dalam segala bidang dan tidak ketergantungan. Kedelapan, sikap peduli terhadap masayarakat bangsa dan negara, demokasri dan mempunyai tanggungjawab yang besar dalam mewujudkan cita-cita bangsa.14 Perkembangan prilaku sesorang berdasarkan nilai potensial yang sudah tertanam sejak lahir, hal ini yang dinamakan karakter bawaan lahir yang bersifat biologiss. Pendapat Ki Hajar Dewantara, bahwa implementasi prilaku kehidupan merupakan perolehan perpaduan dari karakteristik biologis dan hasil dari

12 Maksudin, Pendidikan Karakter Non-Dikotomik, Jakarta: Pustaka Pelajara, 2013, hal.3

13 Thomas Lickona, Educating For Character, How Oue School Can Teach Resfect and Responbility, New York : Bantam Books.1991, hal. 43

14 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta : Prenada Media, 2004, hal.198-199

31

adanaya komunikasi dalam suatu lingkungan. Karakter bisa ditanamkan melalui proses pendidikan, karena pendidikan merupakan sarana paling dominan dalam menanamkan nilai-nilai kemanusian. melalui pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas dan berbudi pekerti serta cerdas dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Dampak yang diperlihatkan oleh pendidikan terhadap perubahan akhlak seseorang sangat besar sehingga lewat pendidikan ini bangsa menaruh harapan besar agar mampu melahirkan generasi yang berakhlakul karimah.15

Sekolah Hafizh Qur‟an Anak Juara berperan penting dalam proses pembelajaran akhlak dan membentuk karakter anak-anak didik. Sekolah Hafizh Qur‟an melalui kurikulum yang dijalankannya bersama para guru dan dukungan serta support dari kepala sekolah dan yayasan yang bergerak dalam proses kegiatan belajar mengajarnya untuk membentuk akhlah para peserta didik.

Umat islam seharusnya bisa menjadikan contoh yang nyata dalam prihal akhlak dan keteladanan yaitu dengan mencontoh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah manusia yang sempurna dari segala aspek, baik dari aspek pendidikan, keluraga, ekonomi, sosial dan semuanya tidak ada cacat sedikitpun, sebagai uswatun hasanah yang menjadi good idol untuk orang-orng muslim dalam konteks pendidikan khususnya.

Pembentukan karakter merupakan tanggungjawab bersama bukan milik sebagian pihak dalam menjalankanya, namun membangun negeri dengan karakter yang baik adalah kewajiban semua komponen masyarakat agar tercipta bangsa yang kuat dan berwibawa melalui kepribadian masayaraktnya yang dibentuk melalui pembelajaran-pembelajaran yang diterapkan disekolah-sekolah sehingga memiliki output yang baik dan berkarakter.

Semanagat membangun karakter ini harus muncul dan digalakan dari semua lapisan masyarakat, mulai dari pimpnan keluarga, pimpinan masayarakat, tingkat desa, kecamatan, daerah dan bahkan sampai tingkat provinsi dan negara agar mampu berjalan beriringan dalam membangun bangsa.

Melalui kesadaran para pemikul tanggungjawab perubahan, maka kerusakan akhlak dan kemunduran dalam prilaku bisa diatasi bersama melalui kesepakatan dalam menjalankan

15 Wahid Munawar, Pengembangan Model Pendidikan Afeksi Berorientasi Konsiderasi Untuk Membangun Karakter Siswa Yang Humanis di Sekolah Menengah Kejuruan, Bandung : UPI. 2010, hal. 339

pendidikan. Pembentukan karakter ini harus dilakukan sejak dini melalui pendiikan dasar, menengah dan tinggi harus terus digalakan karena jika ada kerjasama yang solid antar lembaga pendidikan dapat membantu pemerintah dalam mejalankan tugas pendidikan sesuai amanah nasional yang tertuang dalam undang-undang.

Dari beberapa uraian dan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa, pendidikan karakter dapat dibangun melalui dua nilai dasar sebagaimana yang dijelaskan Thomas lickona diatas, yaitu nilai tanggungjawab (responsibility) dan nilai penghormatan (respect). Mendidik anak dengan menanamkan nilai tanggungjawab sejak dini menjadi dasar dalam proses menumbuhkan karakter baik, anak difahamkan bagaina cara membuang sampah pada tempatnya, kapan mulai istirahat, kapan waktu bermain dan waktu belajar. Semua itu berawal dari sebuah tanggungjawab yang ditanamkan kepada anak sejak dini sehingga menjadi suatu kebiasaan disaat dewasa dan menjadi karakter yang melekat pada jiwa anak. Begitupun dengan nilai hormat, anak diajarkan bagainama seharusnya menghoramti yang lebih tua dan menghargai sesama, jika nilai respect sudah menjadi karakter, maka seorang anak akan terbiasa hormat kepada siapapun dan tidak menjadikan anak memiliki sifat angkuh dan sombong.

2. Karakter Pribadi Rasulullah SAW Sebagai Simpul Akhlak