TINJAUAN PUSTAKA
7. Dampak Pb terhadap Kesehatan
Menurut ketentuan WHO, kadar Pb dalam darah manusia yang tidak terpapar oleh Pb adalah sekitar 10 -25 μg/100 ml. Pada penelitian yang dilakukan di industri proses daur ulang aki bekas, Suwandi (1995) menemukan bahwa kadar Pb udara di daerah terpapar pada malam hari besarnya sepuluh kali lipat kadar Pb di daerah tidak terpapar pada malan hari (0,0299 mg/m 3 vs 0,0028 mg/m3), sedangkan rerata kadar Pb Blood ( Pb -B ) di daerah terpapar 170,44 μg/100 ml dan di daerah tidak terpapar sebesar 45,43 μg/100 ml. Juga ditemukan bahwa semakin tinggi kadar Pb -B, semakin rendah kadar Hb nya (Sudarmaji et al. 2006)
Dampak dari timbal sendiri sangat mengerikan bagi manusia, utamanya bagi anak-anak. Di antaranya adalah mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, memendekkan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, mempengaruhi perilaku dan intelejensia, merusak fungsi organ tubuh, seperti ginjal, sistem syaraf, dan reproduksi, meningkatkan tekanan darah dan mempengaruhi perkembangan otak.
Dapat pula menimbulkan anemia dan bagi wanita hamil yang terpajan timbal akan mengenai anak yang disusuinya dan terakumulasi dalam ASI.
Pada jaringan atau organ tubuh logam Pb akan terakumulasi pada tulang.
Karena dalam bentuk ion Pb2+, logam ini mampu menggantikan keberadaan ion Ca2+
(kalsium) yang terdapat pada jaringan tulang. Disamping itu pada wanita hamil logam Pb dapat dapat melewati plasenta dan kemudian akan ikut masuk dalam sistem peredaran darah janin dan selanjutnya setelah bayi lahir Pb akan dikeluarkan bersama air susu. Meskipun jumlah Pb yang diserap oleh tubuh hanya sedikit ternyata logam Pb ini sangat berbahaya. Hal itu disebabkan senyawa-senyawa Pb dapat memberikan efek racun terhadap berbagai macam fungsi organ tubuh (Mukono, 2009).
Sudarmaji et al. 2006 menjelaskan bahwa paparan bahan tercemar Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ sebagai berikut :
a. Gangguan neurologi.
Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat tercemar oleh Pb dapat berupa encephalopathy, ataxia, stupor dan coma. Pada anak- anak dapat menimbulkan kejang tubuh dan neuropathy perifer. Gangguan terhadap fungsi ginjal logam berat Pb dapat menyebabkan tidak berfungsinya tubulus renal, nephropati irreversible, sclerosis vaskuler, sel tubulus atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus. Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria dan glukosuria, dan jika paparannya terus berlanjut dapat terjadi nefritis kronis.
b.Gangguan terhadap sistem reproduksi .
Logam berat Pb dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi berupa keguguran, kesakitan dan kematian janin. Logam berat Pb mempunyai efek racun
terhadap gamet dan dapat menyebabkan cacat kromosom. Anak -anak sangat peka terhadap paparan Pb di udara. Paparan Pb dengan kadar yang rendah yang
berlangsung cukup lama dapat menurunkan IQ . c. Gangguan terhadap sistem hemopoitik .
Keracunan Pb dapat dapat menyebabkan terjadinya anemia akibat penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besi dalam serum.
Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadar ALA ( Amino Levulinic Acid) urine. Pada anak – anak juga terjadi peningkatan ALA dalam darah.
Efek dominan dari keracunan Pb pada sistem hemopoitik adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP (Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa gejala anemia merupakan gejala dini dari keracunan Pb pada manusia. Anemia tidak terjadi pada karyawan industri dengan kadar Pb-B (kadar Pb dalam darah) dibawah 110 ug/100 ml.
Dibandingkan dengan orang dewasa, anak -anak lebih sensitif terhadap terjadinya anemia akibat paparan Pb. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara Hb dan kadar Pb di dalam darah.
d. Gangguan terhadap sistem syaraf .
Efek pencemaran Pb terhadap kerja otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Paparan menahun dengan Pb dapat menyebabkan lead encephalopathy. Gambaran klinis yang timbul adalah rasa malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi, gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan. Pada anak dengan kadar Pb darah (Pb-B) sebesar 40-80 μg/100 ml dapat timbul gejala gangguan hematologis, namun belum tampak adanya gejala lead encephalopathy. Gejala yang timbul pada lead encephalopathy antara lain
adalah rasa cangung, mudah tersinggung, dan penurunan pembentukan konsep.
Apabila pada masa bayi sudah mulai terpapar oleh Pb, maka pengaruhnya pada profil psikologis dan penampilan pendidikannya akan tampak pada umur sekitar 5-15 tahun.
Akan timbul gejala tidak spesifik berupa hiperaktifitas atau gangguan psikologis jika terpapar Pb pada anak berusia 21 bulan sampai 18 tahun. Untuk melihat hubungan antara kadar Pb -B dengan IQ (Intelegance Quation) telah dilakukan penelitian pada anak berusia 3 sampai 15 tahun dengan kondisi sosial ekonomi dan etnis yang sama.
8. Remediasi
Remediasi adalah usaha pemulihan kembali keadaan lingkungan yang telah rusak kepada keadaan semula dengan mengunakan komponen lingkungan itu sendiri yaitu secara biotik ataupun abiotik. Remediasi yang di lakukan secara biotik disebut dengan bioremediasi, yaitu usaha pemulihan lingkungan yang terdegradasi dengan menggunakan makhluk hidup seperti mikroba dan juga tumbuhan. Bioremediasi berbeda dengan biodegradasi. Bioremediasi hanya berupaya menghilangkan kontaminan dan memindahkannya, sedangkan biodegradasi bisa menghilangkan dan menjadikannya terdegradasi kepada senyawa yang lebih sederhana (Dadrasnia et al.
2013).
Teknik bioremediasi awalnya digunakan untuk mendegradasi senyawa Hidrokarbon minyak bumi dan menghilangkan senyawa kontaminan dan mengubahnya menjadi bentuk yang tidak berbahaya khususnya pada permukaan air, tanah dan bawah tanah sehingga tidak meracuni kehidupan manusia dan tidak menimbulkan risiko signifikan terhadap pasokan air atau badan air permukaan (Baker dan Conradi, 1994).
Teknologi bioremediasi secara umum dibagi kepada 2 yaitu ex situ dan in situ. Teknologi ex situ adalah pemulihan dengan memindahkan bahan yang terkontaminasi dengan mengunakan biaya yang sangat besar kemudian diberikan perlakuan dan dalam sekala yang sempit, sehingga senyawa kontaminan hilang atau berubah pada bentuk lain yang tidak berbahaya. Teknik ex situ yang biasa digunakan adalah ; landfarming, Composting, biosorpsi, biofile. Sebaliknya teknik in situ mengendalikan senyawa kontaminan di tempat terjadinya pencemaran dengan memanfaatkan faktor biotik ataupun abiotic atau kombinasi keduanya. Penggunakan teknik in situ mempunyai banyak kelebihan, selain berbiaya murah juga dapat pada sekala yang luas. Teknik in situ yang biasa digunakan adalah; Biostimulasi, Bioaugmentasi, Bioventing, Biospaging dan Fitoremediasi (Dadrasnia et al. 2013).
9. Biochar dan Pertumbuhan Tanaman