III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Spesifikasi Model
3.3.1 Dampak Pembangunan Infrastruktur dan Aglomerasi Industri
Model pertumbuhan ekonomi biasanya menggunakan fungsi produksi agregat sebagai modelnya, karenanya asumsi-asurnsi yang mendasari fungsi produksi berlaku pula dalam model pertumbuhan ekonomi. Fungsi produksi merupakan gambaran hubungan teknis antara input dan output. Dalam teori
mikro, dikenal beberapa bentuk fungsi produksi, antara lain fungsi produksi Cobb-Douglas, fungsi produksi Leontief, fungsi produksi constant elasticity of substitution (CES), dan fungsi produksi transcedental logarithmic (translog). Salah satu pertimbangan dalam pemilihan bentuk fungsi produksi adalah bentuk faktor substitusinya.
Fungsi produksi Cobb-Douglas, secara apriori menganggap bahwa substitusi antar faktor produksi dengan mudah dapat dilakukan dan elastisitas substitusi antar faktor produksi dalam fungsi produksi Cobb-Doglas adalah satu. Fungsi produksi Leontief, menganggap bahwa substitusi antar faktor produksi tidak bisa dilakukan. Elastisitas substitusi antar faktor produksi dalam fungsi Leontief adalah nol. Fungsi produksi CES menganggap bahwa substitusi antar faktor produksi dengan mudah dapat dilakukan. Berbeda dengan dua jenis fungsi produksi di atas, elastisitas substitusi antar faktor produksi dalam fungsi produksi CES tidak dibatasi dengan 0 ataupun 1, tetapi nilainya konstan. Sedangkan fungsi produksi translog, merupakan fungsi produksi yang paling fleksibel. Fungsi produksi ini memungkinkan perubahan dalam nilai elastisitas substitusi. Model fungsi produksi ini adalah pendekatan bagi model pertumbuhan ekonomi yang menggunakan data panel dengan asumsi setiap individu atau unit mempunyai akses yang sama terhadap teknologi yang digambarkan dalam fungsi produksi bersama dengan melakukan standarisasi terhadap output dan faktor-faktor produksi yaitu dengan mengalikannya terhadap faktor efisiensi (faktor konversi skalar yang konstan dan spesifik untuk setiap faktor dan setiap unit) atau sering disebut dengan faktor augmentasi.
Model yang digunakan untuk menganalisis dampak pembangunan infrastruktur dan aglomerasi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi regional di Indonesia merupakan pengembangan dari fungsi produksi Cobb-Douglas. Alasan pemilihan fungsi produksi Cobb-Douglas berkaitan dengan kelebihannya yaitu: penyelesaiannya relatif mudah (mudah untuk ditransfer dalam bentuk linier), koefisien hasil estimasi merupakan elastisitas, dan penjumlahan dari elastisitas tersebut menunjukkan besarnya return to scale, serta fungsi produksi ini telah banyak digunakan dalam penelitian-penelitian untuk
mengestimasi output potensial suatu wilayah (Soekartawi, 1994). Formula umum fungsi produksi Cobb-Douglas yaitu sebagai berikut:
= ...(51)
Dalam penelitian ini, modal infrastruktur dan human capital merupakan input terhadap produksi agregat. Model ekonometri yang digunakan didasarkan pada model yang digunakan Canning (1999) dalam paper “Infrastructure's Contribution to Aggregate Output”, model ini juga digunakan oleh Bronzini dan Piselli (2006). Model tersebut adalah sebagai berikut:
= …..(52)
Dimana: Y adalah output, A adalah total factor productivity, K adalah stok modal, H adalah human capital, X adalah modal infrastruktur, L adalah tenaga kerja, dan U adalah error term. Sedangkan untuk i adalah indeks provinsi dan t adalah indeks waktu.
Proses estimasi memerlukan persamaan dalam bentuk linier, oleh karena itu persamaan (52) ditransformasikan dalam logaritma natural yaitu sebagai berikut:
= + + + + ln + ...(53)
Yit merupakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi i pada tahun t, Kit merupakan stok modal provinsi i pada tahun t, Hit adalah human capital provinsi i dan tahun t, Xit adalah modal infrastruktur provinsi i pada tahun t, Lit merupakan tenaga kerja provinsi i pada tahun t, sedangkan A adalah besarnya produktivitas atau parameter efisiensi daerah.
Menurut beberapa peneliti (Khusaini, 2004), total factor productivity (A) dipengaruhi oleh keuntungan aglomerasi. Keuntungan aglomerasi adalah keuntungan yang diperoleh akibat berkumpulnya perusahaan pada tempat tertentu. Variabel aglomerasi dilambangkan dengan (IS), sehingga persamaannya menjadi:
= + + + + ln + ln + ...(54)
Dalam penelitian ini variabel aglomerasi (ISit) akan dekati dengan ukuran indeks spesialisasi. Sedangkan modal infrastruktur (Xit) dipecah menjadi infrastruktur jalan, listrik dan air bersih. Model juga akan ditambahkan dummy
krisis, tujuannya yaitu untuk melihat dampak dari krisis 1997 terhadap pertumbuhan output. Oleh karena itu, persamaan (54) dapat dituliskan secara lengkap sebagai berikut:
= + + + + + ln
+ ln + ln + + …..(55)
Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan definisi operasional dari masing-masing variabel sebagai berikut:
1. Variabel Yit merupakan output yang didekati dengan PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada provinsi i dan tahun t (satuan juta rupiah).
2. Variabel Kit adalah stok modal pada provinsi i dan tahun t (satuan juta rupiah). Stok modal dihitung dengan menggunakan metode Perpetual Inventory Method (PIM). Cara penghitungan dan hasilnya disampaikan pada Bab 5.
3. Variabel Hit adalah human capital yang didekati dengan rata-rata lama sekolah (years of schooling) di provinsi i dan tahun t (satuan tahun). Pemilihan rata-rata lama sekolah didasarkan pada penelitian Barro dan Lee (1993). Rata-rata lama sekolah dihitung dari tingkat pendidikan terakhir pekerja, dimana tiap tingkat pendidikan disetarakan dengan jumlah tahun yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan tersebut (Tabel 3).
Tabel 3 Rata-rata lama sekolah menurut tingkat pendidikan terakhir Tidak
Tamat SD Tamat SD
Tamat SMP
Tamat
SLTA Tamat D3 Tamat S1 Jumlah
Tahun 3 6 9 12 15 17
4. JLit adalah panjang jalan total di provinsi i dan tahun t (satuan km). Panjang jalan merupakan gabungan jalan negara, provinsi, dan kabupaten/kota yang berada di provinsi tersebut.
5. LSit adalah energi listrik terjual di provinsi i dan tahun t (satuan GWh). Energi listrik terjual merupakan total energi listrik yang dikonsumsi seluruh kelompok pelanggan di provinsi tersebut.
6. ABit adalah jumlah air bersih yang disalurkan oleh PDAM di provinsi i dan tahun t (satuan m3). Jumlah air bersih yang disalurkan merupakan total air bersih yang dikonsumsi seluruh kelompok pelanggan.
7. ISit adalah indeks spesialisasi industri manufaktur yang menggambarkan konsentrasi industri di provinsi i dan tahun t. Indeks ini dihitung dengan menggunakan data tenaga kerja Industri Besar Sedang (IBS). Rumus yang digunakan sebagai berikut:
E
E
E
E
IS
i r ir ir
..…(56)Dimana, Eir adalah tenaga kerja IBS dalam suatu provinsi r, Er adalah total tenaga kerja pada provinsi r, Ei adalah tenaga kerja IBS untuk seluruh provinsi di Indonesia; E adalah total tenaga kerja di Indonesia.
8. Lit merupakan jumlah tenaga kerja yang bekerja di provinsi i dan tahun t (satuan orang).
9. DK merupakan dummy krisis yang digunakan untuk melihat dampak terjadinya krisis 1997 terhadap pertumbuhan output. Variabel dummy akan bernilai 0 untuk waktu sebelum krisis (tahun 1991 sampai 1997) dan bernilai 1 untuk masa krisis dan masa recovery (tahun 1998 sampai 2007). Dilihat dari sisi ekonometri pengguanaan dummy krisis digunakan untuk menangkap adanya perbedaan pada efek waktu. Penggunaan dummy krisis ini juga dilakukan oleh Amrullah (2006).
3.3.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Aglomerasi Industri Manufaktur
Analisis faktor-faktor yang memengaruhi aglomerasi industri manufaktur dilakukan dengan menggunakan unit observasi 26 provinsi di Indonesia pada kurun waktu 1991-2007. Variabel yang digunakan sebagai ukuran aglomerasi industri manufaktur yaitu indeks spesialisasi regional/ Location Quotient (LQ). Pemilihan indeks spesialisasi sebagai variabel tidak bebas didasarkan pada pertimbangan teori-teori ekonomi yang hendak diuji dan pertimbangan studi empiris sebelumnya (Kuncoro dan Wahyuni, 2009). Indeks spesialisasi regional merupakan ukuran untuk menentukan seberapa jauh suatu industri terkonsentrasi pada suatu daerah dibanding industri yang sama pada wilayah yang lebih besar. Indeks spesialisasi untuk provinsi r (ISir) dihitung dengan persamaan (56).
Model yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi aglomerasi industri manufaktur didasarkan pada model yang digunakan Kuncoro dan Wahyuni (2009). Variabel bebas yang digunakan terdiri
atas karakteristik industri industri) dan karakteristik regional (spesifik-regional) yang ditambahkan dengan variabel tingkat pendidikan dari angkatan kerja seperti yang digunakan dalam model Chen et al. (2005). Dengan menggabungakan kedua model tersebut, maka model yang digunakan adalah sebagai berikut (semua variabel dalam logaritma natural):
= + + + + + +
+ + + + …..(57)
Dari persamaan (57) dapat dijelaskan definisi operasional dari masing-masing variabel yaitu sebagai berikut:
1. Variabel ISit merupakan indeks spesialisasi industri manufaktur provinsi i dan tahun t. Indeks spesialisasi menggambarkan adanya konsentrasi industri manufaktur.
2. Variabel ISZit adalah ukuran perusahaan berdasarkan rata-rata jumlah pekerja produksi di provinsi i dan tahun t. Variabel ini digunakan untuk mendekati skala ekonomi perusahaan di daerah tersebut. Perusahaan dengan skala yang lebih besar akan cenderung berada pada wilayah yang terkonsentrasi. Demikian juga sebaliknya, perusahaan yang lebih kecil cenderung beroperasi pada daerah yang jauh dari sentra industri.
3. Sedangkan RIDit atau indeks relative industrial diversity adalah ukuran yang digunakan untuk melihat keanekaragaman industri di provinsi i dan tahun t. Indeks ini dihitung dari penjumlahan kuadrat share jumlah tenaga kerja masing-masing provinsi untuk industri lainnya secara relatif dibandingkan dengan penjumlahan kuadrat share tenaga kerja total seluruh provinsi untuk industri lainnya. Rumus untuk penghitungan RID yaitu:
=∑ ( ⁄ )
∑ ( ⁄ ) ...(58)
Dimana L adalah tenaga kerja, i adalah provinsi, j adalah industri dua digit, h adalah industri dua digit lainnya, dan t adalah waktu. Semakin merata distribusi tenaga kerja di masing-masing provinsi antar industri, maka akan semakin kecil rasio kuadrat dari share tenaga kerja di tingkat provinsi terhadap nasionalnya. Dengan demikian rasio indeks yang kecil secara
relatif menunjukan tingkat keberagaman industri yang lebih besar pada masing-masing provinsi dibanding dengan nasional.
4. FDIit adalah investasi asing yaitu rata-rata persentase kepemilikan modal oleh swasta asing di provinsi i dan tahun t. Investasi asing dimungkinkan mendorong atau menghambat konsentrasi industri.
5. IPSit adalah indeks persaingan industri yang digunakan untuk mendekati struktur pasar di provinsi i dan tahun t. Indeks ini mengukur derajat persaingan perusahaan industri di suatu daerah, rumus yang digunakan yaitu:
=( ⁄ )
( ⁄ ) ...(59)
Dimana firm menunjukan jumlah perusahaan dan output menunjukkan total produksi. Semakin tinggi IPS atau semakin besar rasio jumlah perusahaan terhadap output di tingkat provinsi terhadap nasionalnya maka akan semakin besar persaingan antar perusahaan di daerah tersebut karena jumlah perusahaan relatif lebih banyak. Dengan kata lain semakin tinggi nilai IPS maka struktur pasar di daerah tersebut semakin menuju persaingan sempurna.
6. EXIit adalah orientasi ekspor dan impor yaitu penjumlahan dari persentase output yang diekspor dan input yang dimpor di provinsi i dan tahun t. Variabel ini digunakan untuk melihat hubungan vertikal dalam konteks internasional dengan terkonsentrasinya industri di suatu daerah.
7. UMRit adalah upah minimum regional di provinsi i dan tahun t. Variabel ini digunakan untuk mengkaji dampak kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan biaya tenaga kerja terhadap terjadinya aglomerasi industri di suatu daerah.
8. GDPit adalah pendapatan daerah di provinsi i dan tahun t. Pendapatan didekati dengan besarnya PDRB. Variabel ini digunakan untuk proxy ukuran pasar di suatu daerah. Semakin besar pendapatan di suatu daerah maka menggambarkan pasar yang semakin besar.
9. EDUit merupakan tingkat pendidikan angkatan kerja di provinsi i dan tahun t. Tingkat pendidikan angkatan kerja dihitung dengan rata-rata lama sekolah dari angkatan kerja di daerah tersebut. Angkatan kerja yang dimaksud yaitu
penduduk usia 15 tahun yang bekerja dan pengangguran. Rata-rata lama sekolah dihitung dari tingkat pendidikan terakhir angkatan kerja, dimana tiap tingkat pendidikan disetarakan dengan jumlah tahun yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan tersebut (lihat Tabel 3).
10. DK merupakan dummy krisis yang digunakan untuk melihat dampak krisis 1997 terhadap aglomerasi industri manufaktur. Variabel dummy akan bernilai 0 untuk waktu sebelum krisis (tahun 1991 sampai 1997) dan bernilai 1 untuk masa krisis dan masa recovery (tahun 1998 sampai 2007). Penggunaan dummy krisis juga dilakukan dalam penelitian Kuncoro dan Wahyuni (2009).