• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

DAMPAK PEMBERIAN AMELIORAN TERHADAP USAHA TANI MASYARAKAT

No. Kuesioner

Nomor Kuesioner : ………. Data Desa Contoh

Data Enumerator 1. Desa/Kelurahan : ………

Nama Enumerator : Adi Pradipta 2. Kecamatan :

Tanggal : ………. 3. Kabupaten :

Data Responden 4. Provinsi : Kalimantan Tengah

Nama : ……….

Umur : ……….

Pendidikan : ……….

Jenis Kelamin :  Laki  Perempuan

Status :  Kawin  Tidak Kawin

6. Penduduk Asli :  Ya  Pendatang

Jumlah Persil untuk pertanaman ... : ... buah 1. Koordinat GPS : Longitute : ... Latitude : ... Altitude : ...mdpl 2. Jenis lahan :  Pekarangan  Kebun

3. Jarak persil dari rumah tinggal : ...m

4. Jarak persil dari sumber air : ...m, jenis sumber air : ... 5. Luas persil 1 : ... m2 Luas yang diusahanakan ... m2

6. Keadaan topografi  datar  berombak  bergelmbang  berbukit  bergunung

7. Kemiring lereng (pilih salah satu):

 0-3%

 3-8%

 8-15 %

 15-30%

 >30%

8. Status kepemilikan lahan (pilih salah satu):

 Sewa  Garap  Bagi hasil  Tanah Bengkok 9. Karakateristik Tanah Jenis tanah : ... Drainase : ... kedalaman solum : ... warna : ... Tekstur tanah : ... pH : ... Tingkat kesesuaian: ... faktor pembatas : ... 10. Model pertanaman (pilih salah satu) :

 segi empat dengan jarak tanam ... x ... m  Total pohon : ...bh

Komponen Inflow

11. Produksi :

Jumlah pohon muda (belum berproduksi) : ...batang

Jumlah pohon pada usia produksi optimum : ...batang

o Produksi per batang : cup lump ... Kg  harga per kg : Rp ...

Jumlah pohon tua (produksi mulai leveling off dan menurun) : ...batang

o Produksi per batang : cup lump ...Kg  harga per kg : Rp ...

Rata-rata harga jual petani : Rp...

PENGUSAHAAN SUMBERDAYA PERTANIAN

Tabel 1. Luas Panen dan Produksi

Uraian Pekarangan Persil I Persil II

1. Luas Lahan 2. Tanaman utama:

a. Jenis tanaman b. Jenis Bibit

c. Sistem Penanaman (Campuran/tunggal) d. Keadaan Panen

(Baik/normal/kurang/puso) e. Jumlah total (pohon) f. Belum menghasilkan (%) g. Tanaman tua / rusak (%)

Apakah mengalami serangan jasad pengganggu atau bencana alam?

4. Produksi tanaman utama: a. Fisik

b. Luas seluruh panen/luas bidang c. bentuk produksi

d. Produksi kotor yang diperoleh (Kg) e. Nilai Produksi (Rp. 1000)

5. Perkiraan nilai produksi tanaman sela/tanaman non-utama(Rp.000)

90 Tabel 2. Pengeluaran usahatani

Uraian Jumlah Fisik Harga satuan (Rupiah) Total (Rupiah) 1. Bibit Tanaman (Okulasi/Biji)

2. Pupuk Pupuk Kandang Urea ZA SP-36, TSP KCl 3. Insektisida (……….....) 4. Herbisida (……….....) 5. Fungisida (……….....) 6. Racun tikus (……….....) 7. Biaya lain (selain TK)

a. Sewa Tanah

b. Sewa traktor dan alat pertanian c. Sewa hewan untuk pengolahan tanah d. Pemeliharaan alat/sarana usaha e. Biaya Pengangkutan

f. Lainnya

Tabel 3. Penggunaan tenaga kerja pada kegiatan perkebunan (karet/nanas)

Isilah terlebih dahulu urutan pekerjaan pertanian yang dilakukan responden, bimbinglah ke arah pedoman urutan kegiatan pertanian secara umum seperti dibawah ini :

No KEGIATAN PEKERJAAN Pelaku

L / P

HST Tenaga Kerja (HOK)

Tenaga Kerja di Luar Keluarga Diborongkan (Rp) Harian HOK Nilai (Rp) 1 Penyiapan Lahan Pengajiran

Pembuatan lubang tanam 3 Pembibitan

4 Penanaman Penyulaman 5 Pengendalian Gulma

6 Pengendalian hama / semprot 7 Pemupukan

8 Pengendalian hama dan penyakit 9 Panen dan pasca paen

10 Pengolahan hasil/Pemasaran

Besarnya HOK Laki-laki : Rp …...……….………./HOK Perempuan : Rp ……….……./HOK

SARANA PENDUKUNG KELAYAKAN USAHA TANI

1. Apa bentuk jalur lalu lintas yang digunakan sebagai transportasi dari kebun menuju pasar atau tempat penanganan pascapanen?

 Jalan tanah

 Jalan aspal biasa

 Jalan aspal dengan hotmix

 Sungai kecil

 Sungai besar

2. Bagaimana cara akses lalu lintas tersebut dari kebun menuju pasar atau tempat penanganan pascapanen?

 Dapat diakses langsung dari kebun dengan biaya Rp...per ...

 Tidak secara langsung, dengan biaya angkut Rp...per ...

 Tidak dapat diakses langsung sehingga harus diangkut secara manual dengan biaya angkut Rp... per ...

3. Apakah responden memiliki tempat penampungan pribadi?

4. Aplikasi amelioran (pupuk kandang) seperti apa? (sebar seluruh lahan/hanya lubang tanam/jalur) 5. Berapa dosisnya (optimum untuk menekan emisi) ?

6. Bagaimana ketersediaan pupuk kandang (pukan ayam) di lapangan? 7. Bagaimana kondisi pupuk kandangnya? Apa tercampur sekam?

92

Gambar Lampiran 2. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Tanah Gambut

ABSTRACT

ADI PRADIPTA. Study of Using Ameliorant of Animal Manure on Greenhouse Gases Emission at Soils Taken from Some Rubber Estates Agroecosystem in Peatland. Supervised by HARIYADI and DEDI NURSYAMSI.

Amelioration of peatlands is one of effort to increase land productivity that can be applied with consider environmental aspects. The purpose of this research was to determine Greenhouse Gases (GHG) emissions at soils taken from some rubber agroecosystem in peatlands and effect of ameliorant on GHG emissions of the soils. The experiment was conducted at laboratory of Balingtan on June to August 2012. The experiment used PVC pipe that filled with peat soils taken from Jabiren, Central Kalimantan. This experiment consisted of two factors: soil taken from some type of rubber agroecosystems and chicken manure. Type of rubber agroecosystem consisted of L1 (peat land planted with rubber and shrubs), L2 (peatland planted with rubber and pineapple) and L3 (peatland with shrubs). The chicken manure consisted of A1 (0) and A2 (4 tonnes/ha). The results showed that the highest CO2 and CH4 emission were found out at soils from rubber and shrubs land which amounted 2,444.38 and 4.70 kg/ha/year, while the highest N2O emission was found out at soils from rubber and pineapple (ICCTF) which amounted 66.53 kg/ha/year. The chicken manure of 4 tonnes/ha produced the highest emissions of CO2 and N2O at soils taken from rubber and shrub land which amounted 2,634.66 and 67.13 kg/ha/year respectively, but tended to decrease CH4 emissions at all soils. The highest decrease of GHG emissions (Global Warming Potential) was found out at ameliorant treatment at soils from rubber and pineapple (ICCTF) land use which amounted 12.82%. The use of ameliorant at soils from rubber shrubs land decreased the GHG emission of 7.50%. The economical analysis result showed that at value of 17% discount, farming pineapple intercropped with rubber at peatland of Jabiren Village, Jabiren Raya Subdistrict, Pulang Pisau District, South Kalimantan Province was suitable. The NPV value was Rp. 21,371,789,-, Nett B/C values was 3.84 and IRR value was 39.29%. According to the variables, the farming pineapple at rubber estate of peatland gave more beneficial economy to farmers.

RINGKASAN

ADI PRADIPTA. Kajian Penggunaan Amelioran Pupuk Kandang terhadap Emisi Gas Rumah Kaca pada Tanah yang Diambil dari Beberapa Agroekosistem Kebun Karet di Lahan Gambut. Dibimbing oleh HARIYADI dan DEDI NURSYAMSI.

Ameliorasi lahan gambut merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya emisi gas rumah kaca (GRK) pada tanah yang diambil dari beberapa agroekosistem kebun karet di lahan gambut dan pengaruh pemberian amelioran terhadap emisi GRK tanah tersebut. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balingtan pada bulan Juni 2012 hingga Agustus 2012.

Percobaan menggunakan pipa PVC yang diisi tanah gambut yang diambil dari Jabiren, Kalimantan Tengah. Percobaan terdiri atas dua faktor, yaitu tanah yang diambil dari 3 tipe penggunaan lahan dan pupuk kandang ayam. Tipe penggunaan lahan terdiri atas L1 (lahan gambut yang ditanami karet dan semak), L2 (Lahan gambut yang ditanami karet dan nanas) dan L3 (lahan gambut yang ditumbuhi semak). Dosis pupuk kandang ayam terdiri atas A1 (0 ton/ha) dan A2 (4 ton/ha). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok, split plot dengan tiga ulangan. Pengambilan contoh gas dilakukan setiap minggu sekali

dengan metode close chamber technique yang diadopsi dari IAEA (1993). Analisis

CO2 dan N2O menggunakan GC yang dilengkapi dengan detektor TCD dan ECD,

sedangkan CH4 menggunakan GC yang dilengkapi detektor FID.

Hasil penelitian selama periode inkubasi 50 hari menunjukkan bahwa tanah gambut yang berasal dari penggunaan lahan karet rakyat (karet dan semak belukar) menghasilkan emisi GRK tertinggi untuk CO2 dan CH4 masing-masing

sebesar 2,444.38 kg/ha/tahun dan 4.70 kg/ha/tahun, sedangkan emisi N2O

tertinggi dihasilkan pada tanah gambut yang diambil dari lahan karet dan nanas (ICCTF) sebesar 66.53 kg/ha/tahun. Pemberian amelioran berupa pupuk kandang ayam 4 ton/ha pada tanah gambut dari lahan karet rakyat (karet dan semak belukar) menghasilkan total emisi CO2 dan N2O tertinggi, yaitu masing-masing

sebesar 2,634.66 kg/ha/tahun dan 67.13 kg/ha/tahun, akan tetapi cenderung

menurunkan emisi CH4 pada tanah dari ketiga tipe penggunaan lahan. Persentase

penurunan emisi tertinggi (Global Warming Potential) terdapat pada perlakuan pemberian amelioran pada tanah gambut dari lahan karet dan nanas (ICCTF) yaitu sebesar 12.82%, sedangkan pemberian amelioran pada tanah gambut yang diambil dari lahan yang ditumbuhi semak belukar mampu menekan emisi GRK sebesar 7.50%. Hasil analisis usahatani dan kelayakan finansial menggambarkan bahwa pada tingkat diskonto 17 persen, pengusahaan nanas sebagai tanaman sela di perkebunan karet Desa Jabiren, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah layak untuk dilanjutkan. Hasil perhitungan komponen biaya-manfaat secara keseluruhan menunjukkan bahwa nilai NPV sebesar Rp 21,371,789,- Net B/C sebesar 3.84 dan IRR sebesar 39.29%. Berdasarkan hal tersebut maka nanas sebagai tanaman sela dapat memberikan manfaat lebih dalam usahatani karet.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemanasan global saat ini menjadi topik yang paling hangat dibicarakan dan mendapatkan perhatian sangat serius dari berbagai pihak. Pada dasarnya pemanasan global merupakan suatu fenomena yang dipicu akibat kegiatan manusia yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil dan kegiatan deforestasi/devegetasi. Kegiatan tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan konsentrasi GRK (gas rumah kaca) di atmosfer seperti karbondioksida (CO2),

metana (CH4), nitrous oksida (N2O), Hidroflourokarbon (HFCs), Perflourokarbon

(PFCs) dan Sulphur heksafluorida (SF6).

Gas CO2 memiliki kontribusi terbesar terhadap terbentuknya efek rumah kaca. Jika dihitung dari konsentrasinya di atmosfer, ditambah dengan kemampuan

memanaskannya, maka CO2 memberikan sumbangan sekitar 55%, metana 17%,

nitrous oksida 7% dan gas lain termasuk chlorofluocarbon dan gas-gas lain asal industri besar 21% (Arrouays et al., 2002). Gas rumah kaca memiliki sifat meneruskan radiasi gelombang pendek cahaya matahari tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang atau radiasi balik yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi semakin meningkat (Murdiyarso, 2003).

Akibat adanya fenomena pemanasan global tersebut, maka wakil pemerintah berbagai negara membentuk panel dan melakukan suatu konvensi

tingkat dunia yang lebih dikenal dengan UNFCCC (United Nations Framework

Covention on Climate Change). Pada tahun 2004 Indonesia ikut meratifikasi Protokol Kyoto yang dituangkan dalam Undang-Undang RI No 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim. Protokol tersebut mengatur mekanisme untuk memenuhi komitmen atau mencapai target penurunan emisi oleh

negara-negara maju, diantaranya melalui mekanisme Emission Trading (ET), Joint

Implementation (JI) dan Clean Development Mechanism (CDM).

Salah satu kegiatan antropogenik yang diduga turut menyumbang emisi GRK adalah berasal dari sektor pertanian termasuk pada komoditas karet. Saat ini

Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Berdasarkan data Departemen Pertanian RI (2012) luas areal kebun karet di Indonesia pada tahun 2010 seluas 3,445,121 ha dengan total produksi sebesar 2,591,935 ton. Luasan perkebunan karet tersebut terdistribusi dalam perkebunan rakyat, perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta yang tersebar di wilayah Indonesia. Berdasarkan distribusi tersebut, 85% kepemilikan lahan karet di Indonesia didominasi oleh perkebunan karet rakyat. Diperkirakan luasan perkebunan karet akan semakin meningkat diakibatkan peningkatan kebutuhan karet serta harga yang relatif tinggi dan stabil.

Lahan gambut saat ini merupakan lahan marjinal yang potensial untuk perluasan areal pertanian (ekstensifikasi pertanian), tak terkecuali untuk pertanaman karet. Menurut Rieley et al. (1996), sebagian besar lahan gambut tropik berada di Kawasan Asia Tenggara (26,216 juta ha) dan Indonesia merupakan pemilik lahan gambut terluas. Berdasarkan data BB Litbang SDLP (2011), Indonesia memiliki lahan gambut sekitar 14.91 juta ha atau sekitar 9% dari total luas daratan Indonesia. Lahan gambut tersebut tersebar terutama di pulau-pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua. Tidak seluruh lahan gambut tersebut layak dikembangkan menjadi areal pertanian, dari 14.91 juta ha lahan gambut yang ada hanya sekitar 6 juta ha yang layak untuk pertanian.

Lahan gambut dalam keadaan hutan alami berfungsi sebagai penambat (sequester) karbon sehingga berkontribusi dalam mengurangi gas rumah kaca di atmosfer, walaupun proses penembatan berjalan sangat pelan sebesar 0-3 mm

gambut per tahun (Parish et al., 2007) atau setara dengan penambatan 0-5,4 t CO2

ha-1 tahun-1 (Agus, 2009). Pengelolaan lahan gambut secara tepat akan

memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan dan ketahanan pangan nasional. Namun jika salah dalam pemanfaatan lahan gambut itu sendiri dapat menyebabkan kerusakan ekosistem dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Apabila hutan gambut ditebang dan didrainase, maka karbon tersimpan

pada lahan gambut mudah teroksidasi menjadi gas CO2 dan lahan gambut mudah

mengalami penurunan permukaan (subsiden). Subsiden merupakan resultante dari

proses oksidasi dan pemadatan (compaction) sehingga akan memacu proses

cenderung meningkat (Inubushi et al., 2003), walaupun terjadi penurunan emisi CH4 (Klemedtssons et al., 1997).

Mengingat cadangan karbon yang besar pada lahan gambut sedangkan ekosistemnya sangat rapuh maka apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan kehilangan karbon yang banyak, terutama dalam bentuk gas metan (CH4) dan karbondioksida (CO2) ke atmosfer sehingga semakin meningkatkan emisi gas rumah kaca. Dalam rangka meminimalisir dampak dari aktivitas pengelolaan lahan gambut tropika maka perlu dilakukan tindakan nyata untuk mendorong penurunan laju kehilangan atau emisi dari lahan gambut, salah satunya adalah dengan pemberian amelioran. Oleh sebab itu penting untuk diteliti dampak pemberian amelioran terhadap emisi gas rumah kaca pada beberapa tipe penggunaan lahan.

Kerangka Pemikiran

Peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap terjadinya pemanasan global. Salah satu komponen gas rumah kaca yang paling dominan di atmosfer adalah CO2, CH4 dan N2O. Jika dibiarkan, konsentrasi gas rumah kaca tersebut dapat mengganggu pola pertanian yang dapat berdampak langsung terhadap gangguan ketahanan pangan. Meningkatnya konsentarasi GRK disebabkan sejalan dengan meningkatnya kegiatan antropogenik, tidak terkecuali kegiatan pertanian. Menurut Klemedtsson

et al (1997), aktivitas pertanian menyumbang sebesar 25% dari total emisi CO2

yang berasal dari sumber antropogenik.

Aktivitas pertanian di Indonesia erat kaitannya dengan pemanfaatan lahan gambut. Saat ini lahan gambut merupakan salah satu lahan marjinal yang pemanfaatannya semakin meningkat sebagai konsekuensi semakin bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya lahan pertanian produktif (mengalami penurunan luas areal, karena beralih fungsi menjadi kawasan industri, pemukiman dan sarana fisik lainnya). Gambut dapat bertindak sebagai sumber (source) dan

penambat/rosot (sink) CO2 di atmosfer. Permasalahan yang terjadi adalah apabila

pengelolaan lahan gambut tersebut tidak tepat, akan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem dan meningkatnya emisi gas rumah kaca.

Apabila lahan gambut dibuka untuk kegiatan pertanian, praktek-praktek manajemen seperti drainase dan penambahan unsur hara dapat meningkatkan emisi CO2 (Rinnan et al., 2003). Mengingat cadangan karbon yang besar pada lahan gambut sedangkan ekosistemnya sangat rapuh, maka apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan kehilangan karbon yang banyak, terutama dalam

bentuk gas metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2) ke atmosfer sehingga semakin

meningkatkan emisi gas rumah kaca. Dengan demikian, kajian mendalam tentang faktor-faktor di lapangan terutama pemberian amelioran terhadap lahan gambut pada berbagai penggunaan lahan dan kedalaman gambut sangat diperlukan untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan gambut.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan beberapa permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini, yaitu:

a. Bagaimana Emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan pada beberapa

agroekosistem kebun karet di lahan gambut?

b. Bagaimana pengaruh pemberian amelioran terhadap emisi gas rumah kaca

pada beberapa agroekosistem kebun karet di lahan gambut?

c. Seberapa besar nilai kelayakan usahatani terhadap pemberian amelioran

pada beberapa agroekosistem kebun karet di lahan gambut?

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalis emisi gas rumah kaca pada tanah gambut yang diambil dari

beberapa agroekosistem kebun karet di lahan gambut.

2. Menganalisis pengaruh pemberian amelioran terhadap emisi gas rumah kaca

pada tanah tersebut.

3. Menghitung kelayakan usahatani terhadap pemberian amelioran pada

beberapa agroekosistem kebun karet di lahan gambut.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang emisi gas rumah kaca pada lahan gambut terkait penggunaan amelioran. Kedepannya diharapkan dapat diperoleh teknologi mitigasi gas rumah kaca pada lahan gambut dengan penggunaan amelioran yang dapat meningkatkan produksi pertanaman dan mengurangi emisi GRK dari lahan gambut. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan informasi terhadap pelaku usaha pertanian lahan gambut mengenai nilai ekonomis akibat adanya pemberian amelioran.

TINJAUAN PUSTAKA

Proses Pembentukan Gambut

Lahan gambut merupakan daerah dengan akumulasi bahan organik yang sebagian lapuk, dengan kadar abu sama dengan atau kurang dari 35%, kedalaman gambut sama dengan atau lebih dari 50 cm, dan kandungan karbon organik (berdasarkan berat) minimal 12% (Ditjenbun, 2012). Lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang (black swamp) atau daerah cekungan yang drainasenya buruk. Bahan organik penyusun gambut berasal dari sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Timbunan sisa tanaman semakin lama semakin bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.

Pembentukan gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan transportasi, berbeda dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik (Hardjowigeno, 1986). Pembentukan gambut di Indonesia diduga terjadi 6.800-4.200 tahun yang lalu (Andriesse, 1994). Pembentukan gambut membutuhkan waktu yang sangat panjang. Gambut tumbuh dengan kecepatan rata-rata antara 0-3 mm per tahun (Agus dan Subiska, 2008).

Proses pembentukan gambut diawali dari danau dangkal yang ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah, kemudian tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal dan secara perlahan membentuk lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh. Akibat proses pembentukannya disebabkan oleh topografi daerah cekungan maka bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut dengan gambut topogen.

Gambut topogen biasanya relatif subur (eutrofik) karena adanya pengaruh tanah mineral, sehingga tanaman tertentu dapat tumbuh subur diatasnya. Hasil pelapukan tanaman itu juga membentuk lapisan gambut baru yang semakin lama

membentuk kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung. Gambut yang

tumbuh diatas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen. Gambut ini lebih rendah kesuburannya dibandingkan dengan gambut topogen karena hampir tidak ada pengkayaan mineral (Gambar 1). Spesies tanaman hutan yang dapat tumbuh dengan baik pada lapisan ini, seperti Koompassia malaccensis, Durio carinatus, Jackia ornate, Tetramerista glabra, Shorea sp., Eugenia sp., E. acuminatissima, E. clavamyrtus, E. claviflora, Dyera sp.., dan Licuala acutifida.

Gambar 1. Pembentukan gambut, gambut ombrogen diatas gambut topogen (Agus dan Subiska, 2008 mengutip van de Meene, 1982)

Klasifikasi Gambut

Gambut diklasifikasikan berdasarkan berbagai karakteristik diantaranya yaitu berdasarkan tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi:

 Gambut saprik (matang) yaitu gambut yang sudah melapuk lanjut dan

bahan asalnya tidak dikenali, berwarna cokelat tua sampai hiitam dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.

 Gambut hemik (setengah matang) yaitu gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna cokelat dan bila diremas bahan seratnya 15-75%.

 Gambut fibrik (mentah) yaitu gambut yang belum melapuk, bahan asalnya

masih bisa dikenali, berwarna cokelat dan bila diremas > 75% seratnya masih tersisa.

Bahan fibrik biasanya ditemukan di lapisan bawah dalam profil gambut. Keadaan kering biasanya dimulai dari bagian atas gambut, sedangkan bagian bawah masih dalam keadaan tergenang. Oleh sebab itu bahan fibrik biasanya ditemukan pada lapisan bawah bahan hemik dan saprik. Gambut fibrik banyak mengandung serat yang dipertahankan dalam bentuk asalnya dan dapat diidentifikasi asal botaninya. Gambut yang berumur lebih tua banyak didominasi oleh gambut saprik yaitu mengandung lebih banyak humus. Bahan humus merupakan produk akhir proses humifikasi yang terjadi di dalam gambut dan bersifat stabil.

Kedalaman gambut sangat bervariasi hingga lebih dari 10 meter (Hooijer

et al, 2006). Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi Gambut dangkal (50-100 cm), Gambut sedang (100-200 cm), Gambut dalam (200-300 cm), dan Gambut sangat dalam (> 300 cm). Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Berdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi:

 Gambut eutrofik, merupakan gambut yang kaya akan bahan mineral dan

basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relatif subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.

 Gambut mesotrofik, merupakan gambut yang agak subur karena memiliki

kandungan mineral dan basa-basa sedang.

 Gambut oligotofik, merupakan gambut yang tidak subur karena miskin

mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik. Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi gambut pantai, gambut pedalaman dan gambut transisi. Gambut pantai merupakan

gambut yang terbentuk dekat pantai dan mendapat pengayaan mineral dari air laut. Gambut pedalaman merupakan gambut yang terbentuk di daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan. Gambut transisi adalah gambut yang terbentuk diantara kedua wilayah tersebut yang secara tidak langsung dipengaruhi air pasang laut.

Karakteristik Lahan Gambut

Karakteristik Fisik

Karakterisasi fisik yang penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian diantaranya yaitu kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik (irreversible drying).

Kadar air gambut erat kaitannya dengan berat isi (BD). Menurut Mutalib

Dokumen terkait