• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C Terhadap Lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias

Dalam dokumen T E S I S PUTRA SAROELI ZEBUA /PSL (Halaman 71-81)

METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6. Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C Terhadap Lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias

Barat.

Hasibuan (2006) menyatakan bahwa kegiatan penambangan yang dilakukan secara terus-menerus dalam skala besar, akan mengakibatkan kerusakan lingkungan khususnya kerusakan fisik permukaan tanah. Bila dibiarkan, hal ini akan menimbulkan dampak besar baik pada lingkungan itu sendiri ataupun kepada masyarakat di sekitar lokasi penambangan.

Penambangan bahan galian C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kerusakan lingkungan. Penilaian responden tentang dampak penambangan bahan galian golongan C terhadap lingkungan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C (BGGC) Terhadap semakin melebar dan semakin dalam.

0 0 18 62 20 100

2

Penambangan galian C menyebabkan terjadinya longsor di sekitar tepi sungai pada area untuk produksi pertanian di sekitar lokasi tambang.

3 10 31 44 12 100

4

Jalan desa menjadi rusak karena lalulintas truk pengangkut bahan galian C.

0 0 21 65 14 100

5

Kawasan lalu lintas menjadi banyak debu karena proses penggalian dan lalulintas truk pengangkut bahan galian C.

Berdasarkan Tabel 16 dapat dilihat bahwa jawaban responden berdasarkan urutan pertanyaan yang diberikan adalah sebagai berikut : seluruh responden (100%) menjawab cukup setuju hingga sangat setuju, yang menilai bahwa kegitan penambangan bahan galian C menyebabkan bentang sungai semakin melebar dan semakin dalam. Kondisi badan sungai Oyo saat ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Penampakan badan sungai yang semakin dalam dan melebar akibat penambangan bahan galian golongan C (2016)

Dari Gambar 4 dapat dilihat penampakan tiang dasar (tiang kaki gajah) jembatan Oyo yang muncul ke permukaan sungai. Dari hasil wawancara dengan masyarakat, dulunya tiang dasar jembatan tersebut tidak tampak dari permukaan. Yang tampak dari permukaan sungai hanya tiang beton penyangga jembatan saja. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di bentang sungai Oyo Desa Tuwuna telah menyebabkan

melintasi jembatan Oyo mulai merasakan kekuatiran akan kemungkinan robohnya jembatan tersebut.

Selain itu, penambangan bahan galian golongan C (BGGC) juga telah mengakibatkan badan sungai semakin melebar. Bahkan dari hasil pengamatan dan bisa dilihat dari Gambar 4 di atas, di tengah sungai terbentuk seperti sebuah pulau.

Hal ini terjadi akibat kegiatan penambangan yang cukup tinggi dengan titik-titik lokasi menambang yang tidak beraturan oleh masyarakat sehingga menyebabkan alur air sungai terbagi menjadi dua arah. Dari hasil wawancara dengan masyarakat setempat didapatkan informasi bahwa sebelum adanya kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di Desa Tuwuna, lebar sungai Oyo hanyalah sekitar ± 50 M. Namun sekarang, lebar sungai Oyo khususnya di Desa Tuwuna telah mencapai ± 120 M.

Seluruh responden (100%) menjawab cukup setuju hingga sangat setuju, yang menilai bahwa kegiatan penambangan bahan galian C menyebabkan terjadinya longsor di sekitar tepi sungai pada area tambang. Longsor dan terkikisnya sebagian lapisan tanah dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Daerah tepi Sungai Oyo yang terkena longsor (2016)

Kegiatan penambangan bahan galian C menyebabkan sebagian tanah yang berada di sekitarnya, terutama yang berada di bagian atas akan mengalami longsor, sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Hal seperti ini jelas sangat berbahaya dan menimbulkan keresahan pada masyarakat, terutama masyarakat yang memiliki tempat tinggal atau lahan pertanian di sekitar tepi sungai.

Delapan puluh tujuh (87) orang (87%) menjawab cukup setuju hingga sangat setuju, sedangkan tiga belas (13) orang (13%) menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju yang menilai kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian masyarakat yang berada di sekitar lokasi tambang. Desa Tuwuna yang letaknya berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Oyo menyebabkan masyarakat Desa Tuwuna banyak yang memiliki lahan pertanian di sekitar Sungai Oyo. Namun, dari hasil wawancara dengan masyarakat, sudah banyak lahan milik masyarakat Desa Tuwuna yang berada di sekitar sungai Oyo telah menjadi sasaran longsor. Bahkan ada beberapa keluarga yang sudah kehilangan lahan pertanian mereka.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Produksi Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Nias Barat mengungkapkan bahwa pihak Pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Nias Barat telah menerima laporan dan keluhan dari masyarakat tentang adanya lahan pertanian masyarakat yang longsor di Desa Tuwuna. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan yang serius dari Pemerintah tentang kondisi tersebut. Kepala Seksi Produksi Pertanian Kabupaten Nias Barat menambahkan bahwa salah satu program/ kegiatan Pemerintah yang terkait dengan masalah tersebut adalah kegiatan konservasi tanah dan air. Namun

di Desa Tuwuna sendiri kegiatan tersebut masih belum terlaksana karena belum masuk sebagai daerah sasaran prioritas.

Responden yang menjawab sangat tidak setuju (STS) dan tidak setuju (TS) merupakan responden yang tidak memiliki lahan pertanian di sekitar tepi sungai dan juga bertempat tinggal jauh dari lokasi penambangan.

Seluruh responden (100%) menjawab cukup setuju hingga sangat setuju, yang menilai kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) menyebabkan jalan desa menjadi rusak karena lalulintas truk pengangkut bahan galian C. Berdasarkan wawancara dengan responden didapatkan informasi bahwa tingginya aktifitas lalu lintas truk pengangkut bahan galian C dari lokasi tambang di Sungai Oyo mengakibatkan jalan desa banyak yang pecah-pecah dan berlubang sehingga tergenang air. Rusaknya jalan desa akibat penambangan galian C dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Jalan desa yang rusak akibat penambangan bahan galian C (2016) Truk-truk yang keluar masuk tidak pernah dibatasi baik jumlahnya maupun waktunya. Truk-truk pengangkut bahan galian C selalu ramai berdatangan

terutama pada saat musim proyek Pemerintah karena banyak kegiatan pembangunan.

Hasibuan (2006) menambahkan kegiatan penambangan bahan galian C akan mengakibatkan aspal jalan rusak dan berubah menjadi lubang-lubang besar dengan genangan lumpur dan merusak sarana infrastruktur. Sebagian besar ruas-ruas jalan yang tergenang air mengalami kerusakan parah, sehingga mengganggu aktivitas lalu lintas di ruas jalan tersebut. Sepanjang jalan, dapat terlihat jelas maraknya aktifitas penambangan bahan galian C yang dikerjakan baik menggunakan alat berat maupun penambangan konvensional yang dikerjakan warga. Truk-truk pengangkut memiliki volume yang cukup beragam dan dalam satu hari memiliki frekuensi yang tinggi.

Sembilan puluh tiga (93) orang (93%) menjawab cukup setuju hingga sangat setuju, sedangkan 7 orang (7%) menjawab tidak setuju yang menilai kegiatan penambangan bahan galian C menyebabkan kawasan lalulintas menjadi banyak debu karena peroses penggalian dan lalu lintas truk pengangkut bahan galian golongan C. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Poskesdes Tuwuna, hampir setiap bulan selalu ada masyarakat yang datang berobat ke Poskesdes dengan keluhan penyakit sesak nafas. Kebanyakan dari pasien adalah anak. Dari hasil pengamatan di lapangan ditemukan bahwa banyak anak-anak yang bebas bermain di sekitar areal penambangan. Karena areal penambangan yang terbuka dan letaknya di sungai, anak-anak cenderung suka bermain di lokasi tersebut. Menurut Mulia (2004), debu merupakan zat pencemar

udara yang menyebabkan menurunnya kualitas udara dan dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti asma, penyakit kulit, radang paru-paru.

Masyarakat Desa Tuwuna menyetujui bahwa penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di sungai Oyo telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar. Namun penambangan bahan galian golongan C (BGGC) juga merupakan sumber pendapatan pokok mereka. Sehingga walaupun pada dasarnya mereka menyadari akan dampak buruk yang ditimbulkan terhadap lingkungan karena penambangan tersebut, mereka menganggap kebutuhan pokok mereka merupakan hal terpenting karena untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut Kesuma (2006), bahwa pengelolaan bahan galian C sangat berhubungan erat dengan penyelamatan sumber daya alam di sekitarnya.

Pengerukan bahan-bahan galian C seperti pasir, kerikil maupun batuan memberikan andil yang besar bagi kerusakan lingkungan.

Penambangan bahan galian golongan C merupakan salah satu kegiatan yang menunjang pembangunan nasional dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Penambangan bahan galian C memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat yaitu meningkatnya pendapatan masyarakat, dan terbukanya kesempatan usaha lainnya bagi masyarakat di sekitar lokasi penambangan. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentu akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam, sehingga menimbulkan tekanan terhadap lingkungan hidup. Apabila kegiatan penambangan ini tidak diikuti oleh upaya perbaikan kembali pasca penambangan akan memberikan dampak sangat serius terhadap lingkungan diluar batas kewajaran.

(A) (B)

(C) (D)

Gambar 7. Kegiatan Penambangan di Lokasi Penelitian (2016)

Keterangan Gambar : (A) Penambangan Batuan

(B) Penambangan Pasir dan kerikil

(C) Perahu sebagai alat pengangkut batuan dari dalam sungai ke daratan (D) Pengangkutan Bahan Galian C

Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah suatu upaya dalam penggunaan serta pengelolaan sumber daya secara bijak, sadar, dan terencana agar pembangunan dapat terus berlangsung tetapi tidak melewati batas kemampuan dari lingkungan hidup tersebut, dengan tujuan agar generasi yang akan datang dapat menikmati hal yang sama dengan generasi saat ini (Manik, 2007). Pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan

upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dapat terwujud.

Tujuan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan berorientasi pada tiga hal yaitu ekonomi, sosial, dan ekologi. Tujuan ekonominya adalah eko-efisiensi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas serta pemerataan; tujuan sosialnya adalah pemberdayaan masyarakat, mengurangi kemiskinan, menciptakan SDM berkelanjutan, memantapkan jati diri bangsa serta kebersamaan dan pembinaan sistem kelembagaan; dan tujuan ekologinya adalah melestarikan keanekaragaman hayati, mencegah terjadinya pencemaran, integritas ekosistem, lebih irit dalam penggunaan sumber daya alam (SDA) serta memulihkan lingkungan hidup yang rusak.

Pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan menyeimbangkan antara ekonomi dan ekologi; setiap pembangunan ekonomi mendukung juga pembangunan sosial dan sebaliknya; efek positif maupun negatif terhadap lingkungan sudah diprediksi pada saat program pembangunan berjalan, sehingga langkah yang ditempuh dapat meminimalisir efek buruk terhadap lingkungan.

Oleh karenanya, terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

Peran Pemerintah, aparat penegak hukum, serta tokoh masyarakat yang berpengaruh sangat diharapkan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus pengawasan terhadap para penambang galian C dalam kaitannya terhadap pelestarian lingkungan.

4.7. Kebijakan dan Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat

Dalam dokumen T E S I S PUTRA SAROELI ZEBUA /PSL (Halaman 71-81)