• Tidak ada hasil yang ditemukan

T E S I S PUTRA SAROELI ZEBUA /PSL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "T E S I S PUTRA SAROELI ZEBUA /PSL"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

DI DESA TUWUNA KECAMATAN MANDREHE KABUPATEN NIAS BARAT

T E S I S

Oleh

PUTRA SAROELI ZEBUA 147004011/PSL

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(2)

DAMPAK PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

DI DESA TUWUNA KECAMATAN MANDREHE KABUPATEN NIAS BARAT

T E S I S

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

PUTRA SAROELI ZEBUA 147004011/PSL

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(3)

Judul Tesis : DAMPAK PENAMBANGAN BAHAN GALIAN

GOLONGAN C TERHADAP SOSIAL

EKONOMI MASYARAKAT DAN

LINGKUNGAN DI DESA TUWUNA

KECAMATAN MANDREHE KABUPATEN

NIAS BARAT Nama Mahasiswa : Putra Saroeli Zebua Nomor Pokok : 147004011

Program Studi : Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. Sumono, MS.) (Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si.)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(Dr. Delvian, SP., MP) (Prof. Dr. Robert Sibarani, MS)

Tanggal Lulus : 25 Juli 2016

(4)

Telah diuji pada Tanggal : 25 Juli 2016

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. Sumono, MS.

Anggota : 1. Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si.

2. Prof. Syamsul Arifin, SH., MH.

3. Dr. Tavi Supriana, MS.

(5)

PERNYATAAN Judul Tesis

“DAMPAK PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

DI DESA TUWUNA KECAMATAN MANDREHE KABUPATEN NIAS BARAT”

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, Juli 2016 Penulis,

Putra Saroeli Zebua

(6)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C terhadap sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

Penelitian ini adalah suatu penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Sedangkan penentuan besaran sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat yaitu berupa meningkatnya pendapatan dan terbukanya kesempatan usaha bagi masyarakat di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat. Penambangan bahan galian golongan C (BGGC) juga berdampak terhadap lingkungan yaitu bentang sungai yang semakin melebar dan dalam, longsor di sekitar tepi sungai, jalan desa yang mengalami kerusakan, dan pencemaran udara. Pemerintah Kabupaten Nias Barat sendiri masih belum memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas penambangan bahan galian golongan C (BGGC) dan juga dampaknya terhadap lingkungan hidup. Hal ini dibuktikan dengan belum adanya produk hukum dalam bentuk Peraturan Daerah yang mengatur tentang pengelolaan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) dan juga produk hukum tentang pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Nias Barat.

Kata Kunci : Tambang galian C, sosial ekonomi, lingkungan, kebijakan pemerintah.

(7)

ABSTRACT

This study aims to determine the impact of mining activities minerals group C on the socio-economic class of society and the environment in the village Tuwuna, Mandrehe District of West Nias. This study is a descriptive research with a qualitative approach. The sampling technique research done by purposive sampling that sampling technique with a certain considerations. While the sample size determination is done by using the formula Slovin. The results showed the impact of mining minerals group C against socio-economic namely the form of increased revenue and opening business opportunities for people in the village Tuwuna Mandrehe District of West Nias. Mining minerals group C also have and impact on the environment that spans the river widening and in the landslide around the river banks, roads damaged villages, and air pollution. West Nias Government still has not paid special attention to the activity of mining minerals group C and also its impact on the environment. This is evidenced by no laws in the form of local regulation governing the management of extractive mining group C and also the laws on environmental management in West Nias.

Keywords : Mining of minerals group C, socio-economic, environmental, government policy.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantiasa menyertai, memberi kekuatan dan kesehatan pada penulis sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan.

Tesis ini berjudul “Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat dan lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat”. Penulis ingin melakukan penelitian ini dikarenakan dorongan rasa ingin tahu penulis terhadap kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat dan bagaimana dampaknya terhadap sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan.

Kegiatan penambangan bahan galian C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat mempunyai daya ubah lingkungan yang besar.

Tetapi di sisi lain penambangan bahan galian golongan C ini juga memberikan pengaruh yang positif terhadap sosial ekonomi masyarakat. Oleh karenanya, Untuk menyikapi dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC), dan untuk menangani permasalahan yang banyak muncul sebagai dampak dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat sudah seharusnya membuat kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan kegiatan penambangan ini.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum., Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, MS., Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Delvian, SP., MP., Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Sumono, MS selaku Pembimbing I dan Bapak Prof. Dr. R.

Hamdani Harahap, M.Si selaku Pembimbing II, yang telah memberikan

(9)

berbagai arahan dan bimbingan yang bermanfaat bagi penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

5. Bapak Prof. Syamsul Arifin, SH., MS. dan Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS.

yang telah bersedia menjadi dosen penguji, serta telah memberikan masukan dan arahan yang bermanfaat bagi penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

6. Pemerintah Kabupaten Nias Barat yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi ke jenjang Strata 2 (S2) Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan di Universitas Sumatera Utara dan telah memberikan bantuan biaya selama penulis mengikuti pendidikan.

7. Kedua orangtua saya yang terkasih, Bapak Mareko Zebua dan Ibu Nurlina Gulo dan kedua mertua saya yang terkasih Bapak Meiman Khamzar Gea dan Ibu Nurhalimah Lombu, yang telah banyak memberikan doa, semangat, dan bantuannya selama penulis mengikuti pendidikan.

8. Istri saya yang terkasih Putri Christien Anggreini Gea dan anak saya yang terkasih Kennard Sendroro Zebua yang selalu mendoakan dan menjadi penyemangat saya selama mengikuti hingga menyelesaikan pendidikan.

9. Saudara dan saudari saya yang terkasih, Memori Sastra Zebua, Elvih Sulastri Gulo, Pastrio Zebua, Dirga Rahayu Zebua, Athania Adefrid Gea, Jevon Yamamoni Gea, Juven Fonali Alno Gea, dan seluruh keluarga besar yang telah memberikan semangat dan dorongan bagi penulis dalam menyelesaikan pendidikan.

10. Kawan-kawan seangkatan dari Kabupaten Nias Barat : Yupiter Hia, Taufik Gulo, Pariaman Daeli, dan Glori Bonison Harefa yang juga selalu memberi semangat kepada penulis.

11. Rekan-rekan seperjuangan PSL Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara angkatan 2014/2015 atas semangat kekompakannya dan juga selalu saling mengingatkan dalam setiap tugas-tugas dan kegiatan lainnya selama masa pendidikan.

12. Pegawai Biro Administrasi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah membantu

(10)

dalam memperlancar urusan administrasi selama penulis menempuh pendidikan.

13. Dan berbagai pihak yang banyak membantu penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dengan segala kerendahan hati, tulisan ini masih banyak kekurangan.

Namun penulis berharap dapat memberikan manfaat sebagai bahan referensi terlebih dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan bahan galian golongan C (BGGC) dan pengelolaan lingkungan hidup untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta untuk keperluan pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, Juli 2016

Penulis

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Putra Saroeli Zebua, lahir pada tanggal 27 Agustus 1987 di Desa Fadoro Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Mareko Zebua (ayah) dan Nurlina Gulo (ibu).

Menikah dengan Putri Christien Anggreini Gea dan telah dikaruniai satu orang anak laki-laki yaitu Kennard Sendroro Zebua.

Penulis menyelesaikan pendidikan formal di Sekolah Dasar (SD) Inpres Mandrehe pada tahun 1998, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Swasta Bunga Mawar Gunungsitoli pada tahun 2001, Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Gunungsitoli pada tahun 2004, jenjang pendidikan Strata I pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau dengan memperoleh gelar Sarjana pada tahun 2010. Dan pada tahun 2014, penulis diberi kesempatan oleh Pemerintah Kabupaten Nias Barat untuk melanjutkan pendidikan Strata II pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Penulis pernah bekerja sebagai karyawan pada Perusahaan Sumigita Inhwa Concortium di Pekanbaru Provinsi Riau pada tahun 2010, dan pada tahun 2011 terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada lingkup Pemerintahan Kabupaten Nias Barat hingga sekarang.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bahan Galian Golongan C ... 10

2.1.1 Batuan ... 11

2.1.2 Pasir dan Sirtu ... 12

2.1.3 Lempung ... 12

2.2 Konsep Pertambangan ... 12

2.3 Sosial Ekonomi ... 13

2.3.1 Peningkatan Pendapatan Masyarakat ... 13

2.3.2 Kesempatan Usaha ... 15

2.4 Lingkungan Hidup ... 15

2.4.1 Dampak Lingkungan ... 16

2.4.2 Kerusakan Lingkungan ... 16

2.4.3 Pencemaran Lingkungan ... 18

2.4.3.1 Pencemaran Udara ... 18

2.5 Kebijakan Pemerintah ... 20

(13)

2.6 Kerangka Konsep ... 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25

3.1.1 Lokasi ... 25

3.1.2 Waktu ... 25

3.2 Jenis Penelitian ... 25

3.3 Peralatan Penelitian ... 26

3.4 Populasi dan Sampel ... 26

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 27

3.5.1 Data Primer ... 27

3.5.2 Data Sekunder ... 28

3.6 Analisis Data ... 28

3.7 Defenisi Variabel Penelitian ... 30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 32

4.2 Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Galian C ... 34

4.3 Gambaran Umum Responden ... 36

4.3.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan .. 37

4.3.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Kelompok Umur ... 39

4.3.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bermukim ... 41

4.3.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 42

4.3.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan ... 42

4.4 Penambangan Bahan Galian Golongan C ... 43

4.5 Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C (BGGC) terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat ... 45

4.6 Dampak Penambangan Bahan Galian Golongan C (BGGC) terhadap Lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat ... 54

4.7 Kebijakan dan Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat terhadap Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C (BGGC) ... 64

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 69

(14)

5.2 Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 72

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Kriteria nilai dari jawaban kuisioner dampak penambangan bahan galian

golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat ... 29

2. Kriteria nilai dari jawaban kuisioner dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap lingkungan ... 29

3. Lokasi Penambangan Bahan Galian Golongan C di Kabupaten Nias Barat ... 36

4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 37

5. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelompok Umur ... 40

6. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bermukim ... 41

7. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 42

8. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan ... 43

9. Hasil Pengangkutan Bahan Galian C ... 43

10. Volume Bahan Galian C yang dikeruk ... 45

11. Dampak penambangan bahan galian golongan C terhadap sosial ekonomi Masyarakat berdasarkan penilaian responden ... 46

12. Daftar bahan galian golongan C yang dipasarkan di Desa Tuwuna ... 47

13. Rata-rata pendapatan masyarakat Desa Tuwuna dari tambang galian C ... 48

14. Pendapatan masyarakat Desa Tuwuna dari hasil pertanian ... 48

15. Jenis Usaha Dagang dan Rata-rata Pendapatan ... 52

16. Dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap lingkungan berdasarkan penilaian responden ... 55

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Kerangka Konsep ... 24

2. Peta Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat ... 33

3. Salah satu tempat usaha warga Desa Tuwuna ... 53

4. Penampakan badan sungai yang semakin dalam dan melebar akibat penambangan bahan galian golongan C (BGGC) ... 56

5. Daerah tepi Sungai Oyo yang terkena longsor ... 57

6. Jalan desa yang rusak akibat penambangan bahan galian C ... 59

7. Kegiatan Penambangan di Lokasi Penelitian ... 62

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Daftar Kuisioner ... 76 2. Data Responden ... 81 3. Pernyataan Responden Mengenai Dampak Penambangan Bahan Galian

Golongan C (BGGC) terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat ... 84 4. Pernyataan Responden Mengenai Dampak Penambangan Bahan Galian

Golongan C (BGGC) terhadap Lingkungan ... 87 5. Jenis Usaha dan Rata-rata Pendapatan ... 90 6. Gambar Lokasi dan Kegiatan Penelitian ... 91

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam yang begitu besar. Oleh karena itu, dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada pasal 33 ayat 3 telah diatur bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Isi ayat tersebut menjelaskan bahwa kekayaan alam di Indonesia sepenuhnya dikuasai oleh negara serta dikelola dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat.

Potensi sumber daya alam di Indonesia diharapkan dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan secara berkelanjutan bagi rakyat melalui pola pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan yang mengacu pada upaya- upaya konservasi sebagai landasan dari proses tercapainya keseimbangan antara perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan dari sumber daya alam yang terbentang luas di Indonesia.

Salah satu kegiatan yang sedang marak di Indonesia sebagai upaya dalam menggali potensi sumber daya alam dan merupakan salah satu sektor penyokong perekonomian Indonesia adalah kegiatan pertambangan. Definisi pertambangan menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 1 butir (1) disebutkan bahwa pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum,

(19)

eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang.

Menurut Masri dan Sutriyono (2012), jenis dari kegiatan pertambangan di Indonesia dibedakan oleh jenis sumber daya alam yang ditambang. Salah satu diantaranya adalah penambangan bahan galian golongan C (BGGC) atau disebut juga mineral bukan logam dan batuan antara lain batu gamping, sirtu, batu kali, ciping, dan lain-lain.

Salah satu objek kegiatan penambangan bahan galian golongan C adalah sungai. Sungai menjadi objek penting bagi masyarakat karena dapat berfungsi sebagai pendukung kehidupan. Sumber daya alam yang terkandung di dalamnya memiliki nilai ekonomi (Siregar, 2012).

Menurut Soemarwoto (2004), bahwa kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) mampu memberikan manfaat kepada masyarakat baik dalam meningkatkan pendapatan, pembukaan lapangan kerja, dan juga dalam pemenuhan bahan material bangunan. Hasibuan (2006) juga menyatakan bahwa dampak positif dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C adalah terserapnya tenaga kerja, menambah pendapatan asli daerah (PAD), memperlancar transportasi. Dengan adanya kegiatan penambangan ini, dapat menjadi peluang usaha dan kesempatan kerja terlebih bagi masyarakat di sekitar lahan tambang itu sendiri dalam usaha peningkatan derajat ekonominya.

Menurut Yudhistira, dkk (2011), industri pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa.

(20)

Kegiatan usaha pertambangan pada hakekatnya adalah merupakan suatu kegiatan industri dasar, dimana fungsinya sebagai penyedia bahan baku bagi keperluan industri lainnya maupun dalam pembangunan. Produk atau komoditas dari pertambangan bahan galian golongan C memiliki peran yang sangat penting karena memberikan dukungan material untuk pembangunan infrastruktur baik infrastruktur jalan, pembangunan perumahan, gedung perkantoran, dan lain sebagainya (Panjaitan, 2013).

Menurut Hasibuan (2006), disamping dampak positif tersebut di atas, penambangan bahan galian golongan C (BGGC) juga memiliki dampak negatif berupa resiko kerusakan lingkungan. Penambangan bahan galian golongan C dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan dan menganggu kestabilan lingkungan. Hal ini juga ditegaskan oleh Djamal (1992), bahwa pengerukan bahan galian golongan C (BGGC) sangat berdampak besar pada kerusakan lingkungan.

Oleh karenanya, kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) sangat berhubungan erat dengan penyelamatan sumber daya alam di sekitarnya.

Industri pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Pada satu sisi, proses kegiatan industri pertambangan apapun jenisnya telah memberikan dampak positif kepada kas negara dari pajak dan royalti. Namun pada sisi lain, keberadaan industri pertambangan selama ini telah menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran lingkungan serta pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial, budaya masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan itu sendiri. (Tanzil, 2014).

Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menetapkan bahwa : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di

(21)

dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut, terutama dari segi pemanfaatan dan pengelolaan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya perlu dilakukan fungsi pelestariannya. Pentingnya pelestarian fungsi lingkungan hidup telah diperkuat dengan ditetapkannya amandemen Undang- Undang Dasar Negara Republk Indonesia Tahun 1945, pasal 33 ayat 4 berbunyi sebagai berikut : “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (Arifin, 2014).

Arifin (2014) juga menambahkan bahwa amandemen pasal 33 Undang- Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945 tersebut secara tegas mengkaitkan antara pembangunan ekonomi nasional dengan lingkungan hidup, dan hal ini berarti bahwa prinsip dasar pembangunan yang dianut sekarang ini harus menyelaraskan pembangunan ekonomi, sosial, maupun lingkungan secara baik dan harmonis.

Dasar dari ketentuan di atas dicantumkan juga dalam point menimbang dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi sebagai berikut :

“bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28 H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945”.

“Bahwa pembangunan ekonomi Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

(22)

diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan”.

Berdasarkan pada ketentuan makna yang terkandung pada Pasal 28 H Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, memberikan dasar konstitusional perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya.

Untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup, maka pengendalian yang penuh terhadap lingkungan hidup perlu dilakukan agar keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup, dapat tercapai. Juga terwujudnya insan yang memiliki sikap dan tindakan melindungi serta membina lingkungan hidup, terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan, tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup, terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, terlindunginya suatu daerah sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau perusakan lingkungan hidup, serta menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sumber - sumber air (Putra, 2013).

Bumi, air dan kekayaan alam yang menjadi dasar pembangunan bangsa Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat hanya akan tercapai apabila

(23)

dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Pramudyanto, 2009).

Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Karena kehidupan di muka bumi akan berlangsung secara wajar jika lingkungan fisik tetap terjaga keseimbangannya.

Kerusakan lingkungan fisik akan mengakibatkan banyak bencana yang dapat mengancam keselamatan manusia seperti banjir, tanah longsor, perubahan musim yang tidak teratur, dan munculnya berbagai penyakit. Menurut Najib dan Junaedi (2009), untuk menangani permasalahan yang banyak muncul sebagai dampak dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C, perlu segera dilakukan kebijakan dalam membangun dasar-dasar yang kuat untuk menyusun regulasi yang efektif dan aplikatif serta mampu mewujudkan keseimbangan optimal antara ekonomi, sosial dan lingkungan fisik dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C.

Kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) juga dijumpai di Desa Tuwuna, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat. Kegiatan ini dilakukan di bentang Sungai Oyo yang melintasi Desa Tuwuna dan telah berjalan sejak puluhan tahun lamanya. Dari hasil wawancara awal kepada salah seorang tokoh masyarakat Desa Tuwuna dalam hal ini Sekretaris Desa Tuwuna, dia menyatakan bahwa sejak kegiatan penambangan bahan galian golongan C ini berjalan telah banyak menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan di sekitar penambangan. Dari waktu ke waktu aktivitas tambang BGGC yang terus meningkat ini berakibat pada sisi-sisi bentang sungai yang terus mengalami pengikisan, kebun dan tanah milik masyarakat yang berada di tepi sungai menjadi

(24)

sasaran longsor, dan bentang sungai di sekitar Desa Tuwuna semakin melebar dan dalam.

Menurut Soemarwoto (2004), sumber daya alam memilki daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau permintaan di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, sumber daya terbaru tersebut dapat terus dimanfaatkan. Namun, apabila batas tersebut dilampaui, sumber daya itu akan mengalami kerusakan dan fungsi sumber daya tersebut sebagai faktor produksi atau sarana pelayanan bagi masyarakat akan mengalami gangguan. Hal ini akan menimbulkan banyak masalah baru di antaranya rusaknya fisik lingkungan.

Dengan rusaknya fisik lingkungan akan menyebabkan banyak masalah dari segi sosial maupun ekonomi masyarakat ke depannya. Permasalahan ini akan mulai terasa pada beberapa kurun waktu mendatang dan kerusakan permanen akan terjadi apabila tidak ada upaya perbaikan dan penanggulangan.

Kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di Desa Tuwuna, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, juga berpotensi terhadap terjadinya kerusakan lingkungan di sekitar wilayah penambangan. Sejauh ini belum ada penelitian mendalam tentang dampak dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat, sehingga penelitian ini dianggap perlu dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan dengan adanya kegiatan penambangan bahan galian golongan C, dampak penambangan bahan galian golongan C terhadap sosial ekonomi masyarakat, dan kebijakan-kebijakan apa saja yang sudah dibuat oleh Pemerintah

(25)

Daerah Kabupaten Nias Barat terkait dengan kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

1.2. Perumusan Masalah

Dari hal tersebut di atas, maka yang akan dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

2. Bagaimana dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

3. Kebijakan dan strategi apa saja yang telah dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Nias Barat terkait dengan kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dampak penambangan bahan galian golongan C terhadap sosial ekonomi masyarakat di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

2. Untuk mengetahui dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

(26)

3. Untuk mengetahui kebijakan-kebijakan apa saja yang telah dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Nias Barat terkait dengan kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Memberi informasi dan bahan masukan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat dalam membuat kebijakan untuk pelaksanaan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya pada kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

2. Sebagai bahan masukan dalam melakukan kajian ilmiah bidang pertambangan khususnya pertambangan bahan galian golongan C.

3. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat dalam mengetahui fungsi dan kegunaan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) serta dampaknya terhadap lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bahan Galian Golongan C

Bahan galian golongan C (BGGC) atau disebut juga mineral bukan logam dan batuan secara umum diartikan sebagai bahan-bahan (material) yang diperoleh dengan cara mengambil/ menggali/ mengangkut bahan tersebut dari muka dan perut bumi.

Menurut Sukandarrumidi (2009), bahan galian adalah bahan yang dapat dijumpai di dalam lapisan bumi baik yang berupa unsur kimia, biji, mineral ataupun segala jenis batuan. Unsur-unsur tersebut ada yang berbentuk padat, cair, dan gas. Bahan Galian yang berbentuk padat berupa emas, perak, batu gamping, lempung, dan lain sebagainya. Bahan galian berbentuk cair berupa minyak bumi dan yodium. Sedangkan bahan galian berbentuk gas berupa gas alam.

Masri dan Sutriyono (2012) juga menambahkan bahwa bahan galian golongan C terdiri dari nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam-garam batu (halite), asbes, talk, mika, grafit, magnesit, yarosit, leusit, tawas oker, batu permata dan setengah permata, galian C kwarsa, kaolin feldsfar, gips dan betonit, batu apung, trass, opsidian, perlit, tanah, tanah garap, marmer, batu tulis, batu kapur, dolomite, kalsit, granit, andesit, trakhit, tanah liat. Selanjutnya, bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam meningkatkan kesejahteraannya bila dikelola dengan baik.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, bahan galian golongan C (BGGC) termasuk dalam

(28)

kelompok pertambangan mineral yaitu pertambangan mineral bukan logam dan batuan.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara diatur usaha-usaha penambangan yang meliputi kegiatan (1) penyelidikan umum; (2) eksplorasi; (3) studi kelayakan; (4) konstruksi; (5) penambangan; (6) pengolahan dan pemurnian; (7) pengangkutan dan penjualan;

serta (8) kegiatan pascatambang.

Bahan galian golongan C (BGGC) adalah bahan galian yang dapat diusahakan oleh rakyat ataupun badan usaha milik rakyat, misalnya batu kali, batu gamping, marmer, batu sabak, pasir, kerikil, pasir urug. Produksi bahan galian C secara umum masih digunakan untuk bahan-bahan bangunan serta bangunan jalan, jembatan, bendungan dan lain sebagainya (Sukandarrumidi, 2009).

2.1.1 Batuan

Semua batuan diyakini berasal dari magma, yaitu larutan silikat, bahan alam yang berbentuk cairan, panas dan pijar, yang berasal dari dalam perut bumi.

Sesuai dengan perjalanan waktu geologi dan proses geologi yang terus berjalan tiada henti, terbentuklah batuan beku, batuan sediment dan batuan metamorf. Di dalam batuan tersebut terbentuk, terakumulasi dan didapatkan mineral baik unsur maupun senyawa, logam/metal, semi logam maupun bukan logam. Semua mineral tersebut dengan inovasi dan kreasi manusia dilandasi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfaatkan demi kehidupan manusia dan bersahabat dengan lingkungan. Sesuai dengan sifat fisik dan kimia, batuan di alam dikelompokkan menjadi batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentare rocks), batuan metamorf (metamorphic rocks) dan batuan granit (Badan Geologi, 2007).

(29)

2.1.2. Pasir dan Sirtu

Pasir dan sirtu adalah endapan dasar pada bantaran sungai, berbutir halus sampai kasar, bersudut tanggung sampai bundar, mengandung sedikit kerikil, mudah digali. Komponen pasir terdiri dari pecahan granit, diorite dan batuan ubahan, mengandung banyak silica, berguna untuk pembangunan beton dan urugan dasar jalan (Aminuddin, 1993).

2.1.3. Lempung

Lempung merupakan alluvium berwarna abu-abu, bersifat lunak, lembab dengan plastisitas sedang sampai tinggi, keras dalam keadaan kering dan sangat mudah digali. Lempung dapat digunakan untuk pembuatan bata merah, genteng maupun gerabah (Aminuddin, 1993).

2.2. Konsep Pertambangan

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang.

Rissamasu, Dkk (2012) selanjutnya mengatakan bahwa kegiatan usaha pertambangan pada hakekatnya adalah merupakan suatu kegiatan industri dasar, dimana fungsinya sebagai penyedia bahan baku bagi keperluan industri lainnya.

Niode (2013) menyatakan bahwa salah satu usaha pertambangan yang banyak dilakukan di Indonesia adalah penambangan bahan galian golongan C (BGGC) baik yang memiliki izin (legal) maupun yang tidak memiliki izin (illegal).

(30)

2.3. Sosial Ekonomi

2.3.1. Peningkatan Pendapatan Masyarakat

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah memberikan izin penambangan bahan-bahan galian. Salah satu bahan galian yang ditambang adalah bahan galian C yang terdiri dari batu kali, kerikil, pasir, batu mangga, koral dan tanah urug. Penambangan bahan galian C secara terencana akan meningkatkan pendapatan/penghasilan masyarakat yang diawali tersedianya lapangan pekerjaan (Djamal, 1992).

Penambangan galian C dapat membantu para pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang dan dimana lokasi kegiatan penambangan seperti itu masih diizinkan oleh Pemerintah.

Hal ini akan mampu meningkatkan penghasilan masyarakat karena adanya insvestor yang ingin melakukan kerja sama dengan masyarakat lokal karena sudah mendapat kepastian hukum tentang lokasi penambangan dan mampu menjamin keteraturan dan menjauhkan benturan kepentingan (Robinson, 2004).

Menurut Craib (1986), Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin rasional, perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin komersial, perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam, perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis, perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien dan lain-lainnya.

(31)

Craib (1986) menambahkan beberapa pendapat ahli ilmu sosial yang dikutip, dapat disinkronkan pendapat mereka tentang perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan, modifikasi atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi, serta kelembagaan- kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmaterial.

Aspek-aspek perubahan sosial dapat dibahas dalam dua dimensi. Pertama, aspek yang dikaitkan dengan lapisan-lapisan kebudayaan yang terdiri dari aspek material, aspek norma-norma (norms) dan aspek nilai-nilai (values). Kedua, aspek yang dikaitkan dengan bidang-bidang kehidupan sosial masyarakat, yang dalam kegiatan belajar ini dikemukakan bidang kehidupan ekonomi, bidang kehidupan keluarga dan lembaga-lembaga masyarakat. Aspek kebudayaan material (artifacts) adalah aspek-aspek yang sifatnya material dan dapat diraba atau dilihat cara nyata, seperti pakaian, alat-alat kerja dan sebagainya. Karena sifatnya material, maka aspek kebudayaan ini relatif cepat berubah. Adapun aspek norma (norms), menyangkut kaidah-kaidah atau norma-norma sosial yang mengatur interaksi antara semua warga masyarakat. Aspek ini relatif lebih lambat berubah dibandingkan dengan aspek kebudayaan material. Aspek lain adalah nilai-nilai budaya (values), yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur yang menjadi pandangan atau falsafah hidup masyarakat. Nilai-nilai inilah yang mendasari norma-norma sosial yang menjadi kaidah interaksi antar warga masyarakat. Aspek nilai inilah paling lambat berubah dibandingkan dengan kedua aspek kebudayaan yang disebut terdahulu (Craib, 1986).

(32)

Perubahan sosial dalam bidang ekonomi pada dasarnya menyangkut perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat dalam upaya mereka untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, baik perubahan dalam nilai-nilai ekonomi, sikap, hubungan ekonomi dengan warga lainnya, maupun dalam cara atau alat-alat yang dipergunakan. Salah satu kunci dalam perubahan bidang ekonomi ini adalah proses “diferensiasi” dan “spesialisasi”.

Adapun dalam aspek lembaga-lembaga masyarakat, perubahan sosial pada dasarnya berkembang, dari suasana kehidupan masyarakat tradisional dengan lembaga-lembaga masyarakat yang jumlah dan sifatnya masih sedikit dan terbatas, serta umumnya berdasarkan kegotongroyongan dan kekeluargaan.

Berkembang menuju masyarakat modern dengan lembaga-lembaga masyarakat yang lebih bervariasi yang pada umumnya dibentuk atas dasar kepentingan warganya, baik dalam bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan, serta dalam bidang hukum, politik dan pemerintahan (Johnson, 1994).

2.3.2 Kesempatan Usaha

Pembukaan lahan galian C selain membuka lapangan pekerjaan juga mampu memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar lokasi penambangan untuk membuka usaha rumah tangga, seperti berjualan minuman, makanan ringan dan lain-lain. Tingginya kesempatan usaha akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga akan turut meningkatkan perekonomian daerah (Reksohadiprojo dan Pradono, 1988).

2.4. Lingkungan Hidup

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan

(33)

semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

2.4.1. Dampak Lingkungan

Pasal 1 Angka 26 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha/ atau kegiatan. Suatu rencana usaha atau kegiatan akan mempengaruhi kondisi lingkungan dan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungannya, dampak yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan ini dapat berupa dampak positif maupun dampak negative bagi lingkungannya.

2.4.2. Kerusakan Lingkungan

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 17, kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/ atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/ atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Pembangunan selama ini terus memperbesar eksploitasi sumber daya alam, sementara itu kebutuhan untuk melakukan konservasi dan perlindungan sumber daya alam tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Bentuk kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia antara lain : banjir, longsor, pencemaran lingkungan, dan lain sebagainya. Hal ini diakibatkan oleh aktifitas manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang tidak dibarengi dengan tindakan-tindakan pencegahan terhadap potensi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dan atau tindakan konservasi (Christie, dkk, 2013).

(34)

Kegiatan penambangan yang mengeksploitasi bahan galian dari perut bumi secara langsung melakukan perusakan atau merubah rona permukaan bumi. Untuk menghindari kerusakan dan dapat mempengaruhi tata kehidupan ekosistem dan lingkungan baik terhadap alam sendiri maupun terhadap hewan, tumbuh- tumbuhan dan manusia perlu pengawasan yang semaksimal mungkin terhadap alam terutama perusakan dari perilaku manusia seperti penambangan galian C yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Penambangan galian C akan mengakibatkan kerusakan permukaan lahan (tanah) yaitu terjadinya perubahan permukaan lahan (bentang alam) (Hasibuan, 2006).

Longsor merupakan salah satu bentuk kerusakan fisik permukaan tanah.

Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan longsor adalah (1) erosi, (2) Energi yang meliputi hujan, air limpasan, angin, kemiringan dan panjang lereng, (3) ketahanan tanah ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah, (4) proteksi meliputi penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi (Rahim, 2000).

Hasibuan (2006) menambahkan kegiatan penambangan bahan galian C akan mengakibatkan aspal jalan rusak dan berubah menjadi lubang-lubang besar dengan genangan lumpur. Sepanjang jalan, dapat terlihat jelas maraknya aktivitas penambangan bahan galian C yang dikerjakan baik menggunakan alat berat maupun penambangan konvensional yang dikerjakan warga. Truk-truk pengangkut memiliki volume yang cukup beragam dan dalam satu hari memiliki frekuensi yang tinggi. Rendahnya kualitas aspal menjadi salah satu penyebab rusaknya badan jalan. Ironisnya kondisi pembangunan jalan yang telah diperbaiki kembali rusak karena bobot kendaraan yang melebihi kapasitas aspal.

(35)

Dampak penambangan bahan galian C terhadap kegiatan pertanian masyarakat dapat dilihat dari keberadaan dan kondisi lahan pertanian serta hasil produksi pertanian. Pengaruh penambangan bahan galian C terhadap lahan pertanian masyarakat memberikan dampak yang kurang baik, hal ini ditandai dengan ikut longsornya lahan pertanian masyarakat yang berada di tepi sungai.

Dengan ikut longsornya sebagian lahan pertanian tersebut mengakibatkan produktifitas hasil pertanian semakin berkurang dan bila dibiarkan terus menerus mengakibatkan lahan pertanian akan semakin sempit dan lambat laun menjadi hilang. Rona awal lahan yang sebelumnya merupakan kebun seperti : jagung, pisang, bambu, dan tumbuh-tumbuhan lainnya yang terletak di pinggiran sungai, akibat dilakukannya penambangan di dasar maka apabila terjadi banjir dan sungai meluap mengakibatkan tanaman-tanaman tersebut tenggelam dengan semakin melebarnya pinggiran sungai (Hasibuan, 2006).

2.4.3. Pencemaran Lingkungan

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 14, pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/ atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

2.4.3.1. Pencemaran Udara

Menurut Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

(36)

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substantik fisik, kimia, atau biologi di atmosfir dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti (Achmad 2004). Pencemaran udara dapat pula diartikan masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.

Menurut Achmad (2004), zat-zat pencemar udara terdapat dalam bentuk gas atau partikel (biasanya sebagai bahan pertikuler). Kedua zat tersebut berada di atmosfir secara simultan, tetapi seluruh zat pencemar udara 90% berbentuk gas.

Bentuk-bentuk zat pencemar yang biasa terdapat dalam atmosfir adalah : Gas : Keadaan gas dari cairan atau bahan padatan

Embun : Tetesan cairan yang sangat halus yang tersuspensi di udara Uap : Keadaan gas dari zat padat atau cairan

Debu : Padatan yang tersuspensi di udara yang dihasilkan dari pemecahan bahan Asap : Padatan dalam gas yang berasal dari pembakaran tidak sempurna

Penambangan bahan galian C sangat berperan aktif dalam meningkatkan pencemaran udara. Dengan terus meningkatnya kegiatan penambangan bahan galian C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat maka kualitas udara akan semakin menurun. Penurunan kualitas udara akan menimbulkan berbagai penyakit, di antaranya penyakit asma, penyakit kulit sampai pada radang paru-paru. Perlu adanya pengawasan kualitas udara berdasarkan baku mutu kualitas udara yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, sehingga dampak pencemaran udara dapat diminimalisir dengan baik. Kegitan

(37)

penambangan akan mengakibatkan pencemaran udara. Pencemaran ini tidak hanya berasal dari partikel-partikel yang dihasilkan dari pemecahan batu-batu koral atau batu-batu kali namun juga berasal dari asap kendaraan bermotor yang digunakan untuk mengangkut bahan-bahan hasil galian.

Secara umum penyebab pencemaran udara ada dua macam, yaitu yang terjadi secara alamiah, seperti debu yang diterbangkan oleh angin, debu akibat letusan gunung berapi, pembusukan sampah dan lain-lain. Faktor akibat perbuatan manusia yang pada umumnya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu yang berasal dari sumber bergerak, seperti kendaraan bermotor, kapal terbang, dan sumber tidak bergerak yaitu kegiatan industri (Wardhana, 2001).

Menurut Mulia (2005) pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan, harta benda, ekosistem, maupun iklim. Gangguan kesehatan sebagai akibat pencemaran udara terjadi pada saluran pernafasan dan organ penglihatan. Salah satu dampak kronis dari pencemaran udara adalah bronchitis dan emphysema.

Pada konsentrasi yang berlebihan zat-zat pencemar dapat membahayakan kesehatan manusia atau hewan, menyebabkan kerusakan tanaman, atau material, serta gangguan lainnya seperti berkurangnya jarak pandang dan bau konsentrasi zat pencemar di udara bebas dipengaruhi beberapa faktor seperti volume bahan pencemar; karakteristik zat; iklim (terutama curah hujan, arah dan kecepatan angin) serta topografi (Manik, 2007).

2.5. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Pemerintah Negara (public policy) adalah serangkaian tindakan yang diterapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh Pemerintah yang

(38)

mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat (Arifin, 2014).

Menurut konsep demokrasi modern, kebijakan Pemerintah (Negara) tidaklah hanya berisi cetusan pikiran atau pendapat atau pendapat para pejabat yang mewakili rakyat, tetapi opini public (public opinion) yang mempunyai porsi yang sama besarnya untuk diisikan (tercermin) dalam kebijakan-kebijakan Pemerintah, dan dalam hal ini kebijakan harus selalu berorientasi pada kepentingan publik (Pramudyanto, 2009).

Menurut Arifin (2014), kebijakan Pemerintah ini menurut jenisnya terdiri atas dua kelompok yaitu kebijakan yang tertuang dan tertulis dalam bentuk peraturan perundang-undangan (produk dari badan eksekutif dan legislatif), dan kebijakan yang berisikan rencana aksi yang meliputi program dan kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah disepakati dalam suatu negara.

Sebagaimana diatur dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 ( UUD 1945 ) ayat (2) dan (3) menyebutkan bahwa :

Ayat ( 2 ) : cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara

Ayat ( 3 ) : bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Berdasarkan ketentuan pasal 33 UUD 1945 tersebut diatas maka jelaslah bahwa pertambangan merupakan salah satu cabang produksi yang dikuasai oleh negara, dalam arti bahwa wewenang pengelolaan, peruntukan dan pemanfaatan oleh negara untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

(39)

Perubahan mendasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang merubah paradigma pembangunan yang bersifat sentralistik ke desentralisasi kepada Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota yang didasarkan prinsip Otonomi Daerah yang punya makna bahwa masyarakat di daerah harus memperoleh manfaat yang nyata dari keberadaan sumber daya alam di daerahnya.

Keberadaan Undang-Undang ini telah memberikan keseimbangan dalam sistem pemerintah di Indonesia, terutama pada porsi kewenangan kepada Pemerintah, Pemerintah Propinsi, yakni sebagai koordinator penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerahnya. Dengan demikian diharapkan terdapat keseimbangan dan sinergitas antara tingkat Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (Arifin, 2014).

Pemerintah juga telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, dengan sasaran yang ingin dicapai adalah membaiknya sistem pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Tujuannya untuk mencapai keseimbangan antara aspek pemanfaatan sumber daya alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi dengan aspek perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai penopang sistem kehidupan secara luas. Adanya keseimbangan tersebut berarti menjamin keberlanjutan pembangunan. Keberlanjutan pembangunan (suistainable development) adalah upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Seluruh kegiatannya harus dilandasi tiga pilar pembangunan secara seimbang yaitu menguntungkan secara ekonomi

(40)

(economically viable), diterima secara sosial (socially aceptable), dan ramah lingkungan (environmentally sound). (Arifin, 2014).

Dalam kegiatan pertambangan bahan galian golongan C, untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup, maka pengendalian yang penuh terhadap lingkungan hidup perlu dilakukan agar keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup, dapat tercapai. Juga terwujudnya insan yang memiliki sikap dan tindakan melindungi serta membina lingkungan hidup, terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan, tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup, terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, terlindunginya suatu daerah sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau perusakan lingkungan hidup, serta menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sumber - sumber air (Putra, 2013).

2.6. Kerangka Konsep

Semakin berkembangnya kebutuhan masyarakat akan bahan galian golongan C (BGGC) untuk kegiatan pembangunan, akan memicu meningkatnya penambangan material bahan galian golongan C (BGGC). Penambangan bahan galian golongan C (BGGC) mampu membawa manfaat terhadap masyarakat sekitar lokasi penambangan seperti peningkatan pendapatan masyarakat serta terbukanya kesempatan usaha. Selain itu juga, kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) dapat mengakibatkan kerusakan fisik lingkungan di antaranya Perubahan bentang sungai, longsor, berkurangnya lahan produksi pertanian, kerusakan jalan, dan polusi udara. Untuk menyikapi dampak yang

(41)

ditimbulkan dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC), dan untuk menangani permasalahan yang banyak muncul sebagai dampak dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C, sudah seharusnya Pemerintah Daerah membangun dasar-dasar yang kuat dengan membuat peraturan/ kebijakan yang efektif dan aplikatif yang mengatur tentang kegiatan pengelolaan penambangan bahan galian golongan C serta mampu mewujudkan keseimbangan optimal antara ekonomi, sosial dan lingkungan fisik dari kegiatan penambangan bahan galian golongan C itu sendiri. Kerangka konsep tersebut dapat digambarkan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Konsep Penambangan Bahan Galian

Golongan C (BGGC)

Dampak Lingkungan Dampak Sosial

Ekonomi Peraturan/ Kebijakan

Pemerintah Daerah

- Perubahan bentang sungai

- Longsor

- Berkurangnya lahan produksi pertanian - Kerusakan jalan - Polusi udara - Peningkatan Pendapatan

Masyarakat - Kesempatan Usaha

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Lokasi

Lokasi penelitian ditetapkan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat. Lokasi penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di Desa Tuwuna terletak di bentang sungai Oyo yang melintasi Desa Tuwuna Kecamatan Mandehe Kabupaten Nias Barat. Adapun letak geografis Desa Tuwuna berada pada titik : N 010 04’ 12” dan E 0970 33’ 48”.

3.1.2. Waktu

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan dan dimulai pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret tahun 2016. Penelitian dimulai dengan persiapan penelitian, survey awal dan seminar. Selanjutnya pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data melalui pengamatan/ wawancara/ kuisioner, analisis data serta penulisan tesis.

3.2. Jenis Penelitian

Ditinjau dari permasalahan dan tujuan penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Statistik deskriptif adalah bidang statistik yang berhubungan dengan metode pengelompokkan, peringkasan dan penyajian data dengan cara lebih informatif. Penelitian Deskriptif dengan pendekatan Kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan yang disertai dengan gambar/foto dari orang-orang yang perilakunya dapat diamati. (Singarimbun, 2004).

(43)

3.3. Peralatan Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1. Perangkat Global Positioning System (GPS) digunakan untuk memberikan referensi geografis lokasi pengamatan.

2. Perangkat komputer/ laptop digunakan untuk mengolah dan menganalisa data.

3. Kamera digital digunakan untuk dokumentasi kondisi aktual di lapangan.

4. Tape recorder/ alat perekam elektronik lainnya digunakan untuk merekam wawancara yang dilakukan dengan narasumber.

5. Alat tulis digunakan untuk mencatat data maupun hasil wawancara.

6. Printer digunakan untuk mencetak data dan laporan.

3.4 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian adalah masyarakat Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

Jumlah penduduk di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat pada tahun 2015 adalah berjumlah = 1011 Jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak = 209 KK.

Teknik pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini bisa diartikan sebagai suatu proses pengambilan sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak diambil, kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu, asalkan tidak menyimpang dari ciri-ciri sampel yang ditetapkan. Penentuan besaran sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Situmorang, 2007), dengan formula sebagai berikut:

(44)

N n =

1 + N(e)2 Di mana : n = Jumlah sampel

N = Ukuran populasi (Jumlah KK)

e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance) 10% = 0,1 maka diperoleh sample sebesar :

n = 209 1 + 209 (0,1)2 n = 99,52

dibulatkan menjadi = 100 responden 3.5. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

3.5.1 Data Primer

Data primer didapatkan dengan cara : 1. Observasi

Pengumpulan data akan dilakukan dengan observasi langsung ke lokasi penelitian dengan meninjau langsung lokasi kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di Desa Tuwuna, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat serta melakukan pertemuan dengan responden.

2. Kuisioner

Kuisioner adalah cara untuk mendapatkan informasi dengan membagikan lembaran kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian (Santosa dan Ashari, 2004). Untuk memudahkan perolehan data, selanjutnya kuisioner atau angket disebarkan kepada

(45)

responden untuk mengetahui tentang dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat. Penyebaran kuisioner akan dilakukan secara langsung kepada responden dengan menentukan secara langsung responden yang akan diteliti.

3. Wawancara

Selain observasi dan kuisioner, dilakukan wawancara mendalam (depth interview) yang dilakukan dengan cara diskusi dengan nara sumber baik dari masyarakat Desa Tuwuna maupun dari Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat.

3.5.2 Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari instansi terkait pada Pemerintah Kabupaten Nias Barat.

3.6 Analisis Data

Untuk variabel dampak penambangan bahan galian C terhadap sosial ekonomi masyarakat diuji dengan memberikan penilaian berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada responden, sebanyak 5 (lima) pertanyaan yang setiap pertanyaan dilengkapi dengan 5 (lima) jawaban. Jawaban “Sangat Setuju” bernilai 5, jawaban “Setuju” bernilai 4, jawaban “Cukup Setuju” bernilai 3 dan jawaban

“Tidak Setuju” bernilai 2, jawaban “Sangat Tidak Setuju” bernilai 1. Maka untuk setiap responden akan memperoleh nilai maksimum 5 x 5 = 25 dan nilai minimum 1 x 5 = 5. Kriteria penilaian untuk menentukan kategori jawaban dampak penambangan galian C terhadap sosial ekonomi masyarakat dapat dilihat pada Tabel 1.

(46)

Tabel. 1. Kriteria nilai dari jawaban kuesioner dampak penambangan bahan galian golongan C (BGGC) terhadap sosial ekonomi masyarakat.

No Kriteria Penilaian Skor Nilai

1 Sangat Setuju 21 – 25 5

2 Setuju 16 – 20 4

3 Cukup Setuju 11 – 15 3

4 Tidak Setuju 06 – 10 2

5 Sangat Tidak Setuju 01 – 05 1

Selanjutnya, untuk variabel dampak penambangan bahan galian C terhadap lingkungan diuji dengan memberikan penilaian berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada responden, sebanyak 5 (lima) pertanyaan yang setiap pertanyaan dilengkapi dengan 5 (lima) jawaban. Jawaban “Sangat Setuju” bernilai 5, jawaban

“Setuju” bernilai 4, jawaban “Cukup Setuju” bernilai 3, jawaban “Tidak Setuju”

bernilai 2 dan jawaban “Sangat Tidak Setuju” bernilai 1. Maka untuk setiap responden akan memperoleh nilai maksimum 5 x 5 = 25 dan nilai minimum 1 x 5

= 5. Kriteria penilaian untuk menentukan kategori jawaban dampak penambangan bahan galian C terhadap lingkungan yaitu dapat dilihat pada Tabel 2 berikut : Tabel 2. Kriteria nilai dari jawaban kuesioner dampak penambangan bahan galian

golongan C (BGGC) terhadap lingkungan

No Kriteria Penilaian Skor Nilai

1 Sangat Setuju 21 – 25 5

2 Setuju 16 – 20 4

3 Cukup Setuju 11 – 15 3

4 Tidak Setuju 06 – 10 2

5 Sangat Tidak Setuju 01 – 05 1

Data yang terkumpul dari 100 responden, selanjutnya ditabulasikan dan diolah dengan menggunakan alat bantu program SPSS. Hasil kuisioner akan dipersentasekan untuk melihat kecenderungan jawaban dari responden (Santosa dan Ashari, 2004).

(47)

Jawaban responden

x 100% = Simpulan Jumlah responden

Hasil dari perhitungan persentase kemudian disimpulkan dan dideskripsikan bersama dengan data primer dan data sekunder lainnya. Disamping itu, untuk mengetahui kebijakan-kebijakan apa saja yang telah dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Nias Barat terkait dengan kegiatan penambangan bahan galian golongan C di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat dilakukan dengan melakukan wawancara langsung terhadap instansi terkait pada Pemerintah Kabupaten Nias Barat.

3.7 Defenisi Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bahan galian golongan C (BGGC) adalah bahan-bahan yang ditambang atau diambil dari perut bumi dan permukaan bumi berupa pasir, kerikil, batuan, dan sirtu (M3).

2. Penambangan bahan galian golongan C (BGGC) adalah kegiatan penambangan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat dimana aktivitasnya dilakukan di Sungai Oyo yang melintasi Desa Tuwuna

3. Penghasilan atau pendapatan adalah hasil dari usaha masyarakat yang diperoleh dari usaha tambang, usaha tani, maupun usaha dagang diukur dengan rupiah.

4. Kesempatan Usaha adalah peluang usaha yang terbuka untuk masyarakat setempat akibat adanya kegiatan penambangan bahan galian C, seperti berjualan minuman, makanan ringan, dan lain sebagainya.

(48)

5. Kerusakan Lingkungan adalah ketidakmampuan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidup makhluk hidup baik secara langsung maupun tidak langsung.

6. Longsor adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan massa batuan atau tanah dengan berbagai tipe seperti jatuhnya bebatuan dan gumpalan tanah.

7. Lahan produksi pertanian adalah lahan milik warga yang sedang digunakan untuk kegiatan pertanian.

8. Kebijakan Pemerintah Daerah adalah serangkaian Peraturan Daerah atau Peraturan Bupati Nias Barat terkait dengan kegiatan penambangan bahan galian golongan C (BGGC) di Desa Tuwuna Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat.

(49)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Nias Barat merupakan Kabupaten yang baru dimekarkan pada tahun 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Barat di Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Nias Barat adalah salah satu daerah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang berada dalam satu pulau dengan Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli yang disebut Pulau Nias yang mempunyai jarak ± 85 mil laut dari Kota Sibolga (daerah daratan Provinsi Sumatera Utara).

Kabupaten Nias Barat berada di sebelah barat Pulau Nias yang berjarak ± 60 KM dari Kota Gunungsitoli. Luas wilayah Kabupaten Nias Barat adalah 544,09 KM2 (NBDA, 2014). Kabupaten Nias Barat terdiri dari 8 kecamatan dan salah satu di antaranya adalah Kecamatan Mandrehe.

Kecamatan Mandrehe mempunyai luas sekitar 77,59 km2 dan terletak pada 00 – 150 LU, 900 58’ – 970 48’ BT (MDA, 2015). Kecamatan Mandrehe terdiri dari 20 Desa, salah satunya adalah Desa Tuwuna yang merupakan daerah/ lokasi penelitian. Desa Tuwuna memiliki luas wilayah 3,21 KM2 dan merupakan Desa terjauh dari Ibukota Kecamatan Mandrehe dengan jarak 12 KM

.

Salah satu mata pencaharian masyarakat di Desa Tuwuna adalah penambangan bahan galian golongan C (BGGC). Kegiatan penambangan ini berada di bentang Sungai Oyo yang melintasi Desa Tuwuna. Peta wilayah Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat dapat dilihat pada Gambar 2.

(50)

Referensi

Dokumen terkait

Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 63 tahun 2003 tentang criteria baku kerusakan lingkungan bagi usaha dan kegiatan penambangan bahan galian golongan C

Pada tahap analisis, penulis mencari keterkaitan antara dampak pertambangan timah di bidang lingkungan, ekonomi dan sosial dengan upaya penanganan dampak penambangan

PENGARUH PENAMBANGAN BATU ANDESIT TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PENAMBANG DI DESA MALANGNENGAH KECAMATAN SUKATANI

4.5 Dampak Kehadiran Tengkulak Sayur Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa

Pengaturan kewenangan penambangan bahan galian golongan C di Kota Semarang, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 13 Tahun 2006 tentang

1.3 Dampak Berkembangnya Bisnis WC umum Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Kiarajangkung

KRITERIA KERUSAKAN LINGKUNGAN BAGI USAHA ATAU KEGIATANLampiran I PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN CKeputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup JENIS LEPAS DI DATARANNomor : KEP -

Dalam Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2004, kerusakan lingkungan akibat penambangan bahan galian golongan C merupakan isu utama lingkungan hidup di