• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Peran Wali kelas

Dalam dokumen PERAN WALI KELAS DALAM PENYELENGGARAAN B (1) (Halaman 110-137)

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Khusus Penelitian

4. Dampak Peran Wali kelas

Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan, pada umumnnya wali kelas dan guru BK dalam proses penanganan siswa bermasalah lebih

banyak menggunakan pendekatan disiplin, yang mengacu pada “Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana Sekolah” (selanjutnya disingkat KUHPS). Dengan pola demikian, berakibat pada tingginya jumlah siswa yang dikeluarkan dari SMAN 1 Pariangan, atau dengan kata lain direkomendasikan pindah mencari sekolah lain. Sebagaimana di ungkapkan oleh wali kelas XI IPS.1EL:

Sebagai wali kelas, saya berusaha untuk membina siswa yang ada di kelas saya, namun jika siswa ada yang tidak menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik setelah kita nasehati, Terpaksa sebagai wali kelas tentu saya akan menjalankankan tugas saya

sesuai dengan aturan sekolah. Karena peraturan yang ada di sekolah telah menyatakan demikian (Wawancara kamis 21 Februari 2013)

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh wali kelas XI IPS.1 wali kelas X.2 juga mengungkapkan:

Peran saya sebagai wali kelas, bertanggung jawab mengawasi siswa saya di kelas dan membantu siswa jika mengalami masalah seperti bolos, nilai rendah dan lain sebagainya. Akan tetapi jika siswa di kelas saya ada melakukan pelanggaran berat, tentu saja kita akan merujuk pada peraturan tata tertib dalam penanganannya. (Wawancara, Senin 25 Februari 2013).

Begitu juga dengan ungkapan wali kelas XII IPA.2 WR yang mengemukakan bahwa:

Wali kelas itu sama saja dengan orangtua siswa di sekolah, oleh karena itulah, saya selaku wali kelas bertanggung jawab dalam membantu dan menyelasaikan masalah siswa di sekolah. Namun jika siswa telah melanggar aturan berat, dan siswa tersebut telah mendapatkan poin seratus, terpaksa saya rekomendasikan untuk menemui guru BK. (Wawancara, Senin 25 Februari 2013).

Dari penuturan wali kelas tersebut, dapat dimaknai bahwa wali kelas dalam proses penanganan siswa bermasalah di sekolah, selalu mengacu pada KUHPS. Apabila siswa mengalami masalah dalam bidang disiplin maka wali kelas akan menasehati siswa dan tetap mencatat pelanggaran siswa sesuai dengan tingkat kesalahan siswa. Kemudian peneliti juga mendapatkan keterangan dari wali XI IPS.1 sebagai berikut:

Alasan kita (guru) menerapkan peraturan tata tertib di sekolah ini bertujuan, agar para siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib di sekolah jera dan tidak akan mengulangi kembali kesalahan yang mereka lakukan, selain itu apabila ada siswa yang telah dikeluarkan dari sekolah, hal tersebut bisa menjadi contoh bagi siswa yang lain (wawancara 21 Februari 2013)

Selanjutnya diperoleh juga keterangan dari penuturan yang dikemukakan oleh guru BK, dan kepala sekolah pada tanggal 25 Februari 2013 bahwa, penerapan KUHPS telah lama diberlakukan di sekolah SMAN 1 Pariangan. Awal mula dirumuskannya KUHPS di SMAN 1 Pariangan adalah ketika ada aturan yang menyatakan bahwa guru tidak diperkenankan untuk memukul peserta didik. Selain itu juga sering personel sekolah lihat pemberitaannya, di media cetak maupun elektronik yang menyebutkan adanya beberapa guru yang dilaporkan orangtua siswa ke polisi karena memukul siswa. Beranjak dari adanya aturan dari pemerintah dan semakin seringnya pemberitaan di media tersebut, serta melihat karakteristik siswa yang saat itu mulai kurang menghormati guru. Muncul-lah inisisatif ke empat wakil kepala yang berlatar belakang pendidikan hukum dan sosial politik (sudah mendapatkan akta mengajar) sekolah yang pada saat itu

mejabat untuk membuat suatu “acuan” tegas yang bisa diberlakukan kepada

siswa apabila melanggar peraturan. Sehingga mucul lah KUHPS sebagai acuan standar penanganan dalam siswa bermasalah yang telah diterapkan pada saat ini.

Akan tetapi melihat penerapan KUHPS di lapangan sekarang, proses penanganan siswa bermasalah yang mengacu pada pola pendekatan disiplin. Memiliki dampak pada tingginya jumlah siswa yang dikeluarkan. Keterangan yang diperoleh peneliti dari guru BK, pada kurun waktu 2011- 2012 telah terdapat lima orang siswa kelas X yang dikeluarkan, tiga orang siswa kelas XI dan tiga orang dari kelas XII. Adapun yang menyebabkan

siswa tersebut keluar atau pindah ke sekolah lain adalah karena melanggar tata tertib sekolah. Seperti bolos, mencoret mobil kepala sekolah, merokok dan hamil di luar nikah. Lebih jauh dari keterangan guru BK ER mengungkapkan bahwa:

Siswa di sekolah ini banyak yang pindah mencari sekolah lain, karena tidak betah menempuh pendidikan disini. Hal yang menyebabkan ketidak betahan tersebut adalah karena terlalu banyak aturan yang harus dijalankan oleh siswa. ( Wawancara, Kamis 28 Maret 2013).

Selanjutnya dari keterangan siswa kelas XI NV juga diperoleh informasi bahwa, NV juga merasa kurang nyaman bersekolah di SMAN 1 Pariangan ini, dikarenakan teralalu banyak aturan. Berdasarkan deskripsi wawancara dengan guru BK dan NV tersebut, dapat digambarkan bahwa, upaya penanganan siswa bermasalah dengan pola pendekatan disiplin yang diterapkan oleh SMAN 1 Pariangan. Berdampak pada tingginya jumlah siswa yang dikeluarkan dari sekolah.

B. Analisis Data Peran wali kelas

Dari wawancara dan pengamatan yang dilakukan selama penelitian, peneliti berusaha melihat, memahami dan mencoba mengambarkan persepktif informan penelitian dalam hal ini wali kelas, mengenai perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat digambarkan bahwa peran wali kelas dalam penyelenggaraan BK di SMAN 1 Pariangan belum terlaksana dengan optimal. Masih ada diantara lima aspek peran wali kelas yang belum dilaksakan oleh wali kelas yang menjadi informan utama penelitian. Peneliti membuat lima materi pokok

yang berkenaan dengan peran wali kelas dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling, dari lima pertanyaan pokok dilakukan pengembangan pada saat melakukan penelitian.

Pada wali kelas X.2, ada beberapa perannya dalam penyelenggaraan

bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan, akan tetapi kegiataannya belum begitu terencana dan terprogram secara baik. Wali kelas X.2 melakukan perannya dalam bimbingan dan konseling yang dianggap perlu dan bersifat urgens saja. Jika tidak terlalu mendesak, maka wali kelas tidak akan melaksanakan perannya dalam bimbingan dan konseling. Begitu juga dengan wali kelas XI IPS.1, peran wali kelas sebagai salah satu anggota utama penyelenggara bimbingan dan konseling sudah ada yang terlaksana, tetapi belum sepenuhnya berjalan. Hal yang menjadi penyebabnya, karena wali kelas XI IPS.1 berpendapat bahwa, guru BK seyogyanya bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Hal ini disampaikan, wali kelas XI IPS.1 pada saat memberi keterangan mengenai perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Di sisi lainnya juga terlihat bahwa, wali kelas berasumsi memasyarakatkan atau mensosialisasikan dan menyelenggarakan progaram bimbingan dan konseling adalah tugas penuh dari guru BK. Bukan tanggung jawab dari wali kelas maupun guru mata pelajaran. Karena wali kelas dan guru mata pelajaran umumnya kurang begitu memahami kegiatan bimbingan dan konseling.

Lebih jauh, dari data temuan penelitian mengenai peran wali kelas baru tergambar, pada aspek wali kelas membantu guru BK dalam menangani

penyelesaian masalah siswa, yang menyangkut dengan pelanggaran tata tertib. Seperti berkelahi, merokok bolos dan pelanggaran tata tertib lainnya, wali kelas XII IPA.2 termasuk wali kelas yang kurang optimal terlibat dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Hanya beberapa kegiatan yang dilakukan, dari lima komponen inti peran wali kelas dalam penyelenggaraan BK. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mewakili setiap aspek pelaksanaan peran wali kelas, dijawab belum pernah dilakukan karena wali kelas XII IPA.2 berpendapat bahwa hal tersebut adalah kewajiban guru BK, bukan menjadi kewajiban wali kelas, karena wali kelas menyadari bahwa dirinya tidak terlalu paham dengan kegiatan BK. Peran wali kelas XII IPA.2 yang terlaksana pada saat, memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti atau menjalani kegiatan bimbingan dan konseling. Dari apa yang dikemukakan oleh wali kelas XII IPA.2, tampak bahwa lemahnya pemahaman wali kelas mengenai perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling, sehingga memunculkan pendapat bahwa kegiatan bimbingan dan konseling hanya ditujukan kepada siswa yang bermasalah dalam hal disiplin saja. Selain itu, kurangnya komunikasi fungsional antara wali kelas dan guru BK, turut serta berakibat pada kekeliruan pemahaman wali kelas terhadap kegiatan bimbingan dan konseling.

Keterangan yang peneliti dapat dari guru BK, menjelaskan bahwa lemahnya pahamnya wali kelas, mengenai perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Merupakan salah satu faktor yang turut

menyebabkan lemahnya penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Lemahnya pemahanan personel sekolah terutama wali kelas terhadap BK, membuat sulitnya mewujudkan pelayanan bimbingan dan konseling yang optimal. Karena keberadaan wali kelas sangat berperan penting dalam upaya penanganan permasalahan siswa, sebab wali kelas merupakan guru yang memiliki intensitas waktu lebih besar dibandingkan dengan personel sekolah lainnya dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Hal ini, jelas membuka kesempatan kepada wali kelas untuk lebih memahami karakter siswanya secara mendetail, dibandingkan dengan personel sekolah lainnya. Dalam hal ini, seyogyanya wali kelas telah memiliki banyak informasi mengenai siswa dan pribadi siswanya satu-persatu. Jika hal tersebut didukung dengan pemahamannya terhadap perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Tidak tertutup kemungkinan akan lebih mudah mewujudkan fungsi dan perannya dalam merencanakan, mempersiapkan dan memberikan kemudahan bagi siswa untuk mendapatkan pelayanan dari guru BK. Dengan begitu, diharapkan program bimbingan dan konseling di sekolah seyogyanya akan dapat terlaksana dengan optimal.

Di sisi lain secara tersirat, guru BK juga mengungkapkan salah satu kelemahan guru BK begitu sulit menyelenggarakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Karena situasi dan lingkungan sekolah yang kurang begitu mendukung, mulai dari fasilitas, sistem sampai dengan lemahnya dukungan dari para personel sekolah dalam penyelengaraan BK di sekolah, sehingga guru BK harus bekerja ekstra. Bukan hanya memasyarakatkan dan

memahamkan siswa mengenai tujuan, fungsi, manfaat dan manajemennya pelayanan bimbingan dan konseling, namun juga pada personel sekolah lainnya terutama kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru ataupun wali kelas itu sendiri.

Tetapi kenyataannya di lapangan, guru BK di SMAN 1 Pariangan juga mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan siswa, karena guru BK tidak mendapatkan jam masuk kelas kelas, ditambah lagi dengan sikap guru BK yang cenderung pasif dalam kegiatannya BK. Sehingga guru BK tampak hanya menunggu siswa yang bermasalah, melalui rekomendasi dari wali kelas atau personel sekolah lainnya. Hal yang paling mendasar yang peneliti pahami, mengapa peran wali kelas banyak belum terlaksana secara optimal di SMAN 1 Pariangan, ternyata salah satu faktor yang menyebabkannya hal ini terjadi, adalah karena kurangnya pemahaman wali kelas dan guru BK mengenai konsep pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Mulai dari kegiatan, manfaat, fungsi dan tujuan dari penyelengaraan bimbingan dan konseling di sekolah. Sehingga muncul pemikiran bahwa peran wali kelas hanya sekedar mengecek daftar kehadiran siswa dan mengisi rapor dan peran wali kelas dalam bimbingan dan konseling hanya sekedar memberikan infomasi atau keterangan mengenai siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling dari guru BK.

Melihat dari faktor lainnya, pihak sekolah juga belum berupaya secara maksimal dalam segi sosialisasi. Secara khusus dari guru BK kepada guru- guru atau personel sekolah, ataupun rapat interen untuk memberikan

pengarahan, mengenai konsep dan program penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Mulai dari fungsi, tujuan, manfaat dari penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, baik dari guru BK ataupun kepala sekolah. Selanjutnya dari hasil observasi dan wawancara dengan kepala sekolah, juga diperoleh keterangan bahwa, permasalahan yang menjadi penyebab rendahnya pelaksanaan peran wali kelas dalam bimbingan dan konseling, sepertinya akar permasalahan masih kembali pada alasan keterbatasan dana operasional sekolah untuk mengupayakan peningkatan kompetensi guru BK melalui kegiatan-kegiatan seminar atau sosialisasi yang sering diadakan oleh ABKIN atau perguruan tinggi di Sumatera Barat.

Berdasarkan data yang terkumpul dan setelah dianalisis, dapat dikategorikan bahwa, peran wali kelas dalam penyelenggaraan BK di SMAN 1 Pariangan belum optimal, yang disebabkan oleh: (1) kurangnya pemahaman wali kelas mengenai bimbingan dan konseling, (2) lemahnya komunikasi fungsional antara guru BK dan wali kelas, (3) tidak ada jam masuk kelas yang diberikan sekolah kepada guru BK, (4) kurangnya pemasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling, (5) belum adanya upaya pembinaan yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru BK. (6) Adanya acuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana SekolahSekolah (KUHPS) dalam penanganan siswa bermasalah. Ke enam faktor tersebut dirasakan menjadi pengambat jalannya penyelenggaraan bimbingan dan konseling di SMAN 1 Pariangan sehingga belum bisa berjalan secara optimal. Hal tersebut dapat peneliti sajikan dalam bentuk gambar berikut ini:

C. Pembahasan

C. Pembahasan

1. Peran wali kelas dalam penyelenggaraan BK di SMAN 1 Pariangan. Dari temuan penelitian di lapangan, terungkap bahwa peran wali kelas dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di SMAN 1 Pariangan masih terdapat beberapa peran wali kelas yang belum terlaksana secara optimal. Ada diantara lima aspek inti yang belum terlaksana dengan optimal, bahkan ada yang belum terlaksana sama sekali. Peran wali kelas dalam membantu guru BK dalam melaksanakan tugas-tugasnya meliputi kegiatan menangani masalah ringan yang ada di kelasnya, melakukan identifikasi terhadap siswa yang bermasalah, memberikan informasi kepada guru BK, mengenai siswanya yang berguna untuk memberikan pelayanan informasi dengan materi yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa pada Penyebab Belum Optimalnya Peran Wali Kelas dalam Penyelenggaraan BK di SMAN 1 Pariangan Kurangnya pemahaman wali kelas mengenai BK Lemahnya komunikasi fungsional antara guru BK dan wali kelas

Tidak ada jam masuk kelas yang diberikan oleh kepala sekolah Lemahnya upaya pemasyarakatan pelayanan BK di sekolah

Belum ada upaya pembinaan yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru BK

Gambar 2: Data display menggunakan diagram tulang ikan Miles (dalam Sugiono, 2010: 344) Adanya acuan Kitab Undang- undang Hukum Pidana SekolahSekolah (KUHPS) dalam penanganan siswa bermasalah

setiap minggu. Pada aspek ini, wali kelas yang menjadi informan sudah berupaya melaksanakan perannya namun belum terlaksana secara opimal, seperti yang telah di rumaskan dalam pedoman penyelenggaraan bimbingan dan konseling di SMA yang di rumuskan oleh Depdiknas tahun 2004.

Membantu guru mata pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam membantu guru mata pelajaran melaksanakan perannya, wali kelas melakukan kegiatan seperti, melakukan Kerjasama dengan dengan guru mata pelajaran untuk mambantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, memberikan bimbingan kepada siswa yang kemampuan belajarnya lemah, Bekerjasama dengan guru mata pelajaran dalam mengadakan pelaksanaan pembelajaran remedial, serta menginformasikan kepada guru mata pelajaran mengenai siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Hal tersebut sejalan dengan Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pasal 8 yang menyatakan bahwa, guru mata dan wali kelas berfungsi sebagai perancang masa depan dan penggerak kemajuan bangsa. Pada aspek ini peran wali kelas sebagian besar telah terlaksana, seperti wali kelas X.2 telah berupaya melaksanakan perannya dalam melaksanakan bimbingan belajar kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar di kelas.

Selanjutnya dalam peran wali kelas membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling. Pada aspek ini peran wali kelas meliputi memberikan motivasi dan

dukungan kepada siswa yang mengalami masalah belajar untuk mengikuti bimbingan belajar ataupun konseling individual. Menyediakan waktu untuk membantu siswa yang terindetifikasi mengalami masalah belajar. Melakukan sosialisasi dan menginformasikan fungsi bimbingan dan konseling kepada siswa. Serta memberikan izin serta kemudahan bagi siswa yang ingin melakukan konsultasi dengan guru BK pada jam mata pelajarannya. Sesuai dengan pendapat yang diungkapkan Rochman Natawidjaja (1988: 1) menyatakan bahwa:

Pada dasarnya program bimbingan dan pelayanan bukan hanya dilaksanakan oleh konselor sekolah saja, melainkan semua tenaga pendidik yang bertugas di sekolah memiliki fungsi dan peranannya masing-masing dalam rangka pelaksanaan program bimbingan tersebut, dalam hal ini termasuk guru dan terutama bagi wali kelas.

Pendapat tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Dewa K. Sukardi (2008: 90) wali Kelas sebagai guru yang diberi tugas khusus disamping mengajar untuk mengelola status kelas siswa tertentu dan bertanggung jawab membantu kegiatan bimbingan dan konseling di kelasnya. Dari hasil wawancara dan pengamatan ketiga wali kelas yang menjadi informan, ketiga wali kelas tersebut, telah memberikan motivasi kepada siswa, namun yang dapat dipahami bahwa motivasi yang diberikan adalah bentuk motivasi secara umum berupa dorongan agar siswa mau mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah dengan sunggu-sungguh. Akan tetapi untuk memotivasi agar siswa ikut kegiatan konseling individu, ketiga wali kelas ini hanya mengarahkan untuk menghadap guru BK tapi belum memahami secara jelas konsep BK. Oleh karena itulah seyogyanya wali

kelas, harus memahami perannya dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling, sebagaimana yang dikemukakan oleh Gibson dan Mitchell, (2010:111) peran wali kelas sebagai pendukung program konseling harusnya dapat memberikan kontribusi dalam memberikan siswa-siswa yang membutuhkan pelayanan bimbingan dan konseling. Karena idealnya wali kelas harus mampu, menjadi barisan pertama kontak antara siswa dan program BK di sekolah.

Selanjutnya pada aspek peran wali kelas berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling seperti konferensi kasus. Berdasarkan hasil penelitian, peran wali kelas pada aspek ini meliputi mengikuti kegiatan khusus bimbingan dan konseling seperti konferensi kasus dan kunjungan rumah. Pada peran ini, sebagian peran wali kelas telah ada yang telah terlaksana, namun wali kelas XII IPA.2 belum melaksanakan perannya, dengan alasan siswa yang dibinanya dirasakan belum mempunyai masalah yang diangkat untuk dikonfrensi kasuskan atau kunjungan rumah. Berbeda dengan wali kelas X.2 dan XI IPS.1yang telah pernah mengikuti kegiatan konfrensi kasus, akan tetapi, jika dimaknai dari penjelasan wali kelas X.2dan XI IPS.1 mengenai konferensi kasus belum dapat dikatakan konferensi kasus dalam cakupan bimbingan dan konseling. Karena kegiatan mereka lakukan tersebut, baru berbentuk musyawarah antara orang tua, guru dengan pihak sekolah agar siswa tidak dikeluarkan dari sekolah, begitupun dengan kunjungan rumah yang dilakukan wali kelas XI IPS2, karena

siswanya merusak mobil kepala sekolah bukan karena ingin mencari informasi mengenai siswanya dalam usaha membantu tugas guru BK.

Pada aspek peran selanjutnya mengalih tangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru BK. Dalam aspek ini, peran wali kelas melakukan kegiatan seperti mengirim siswa yang membutuhkan penanganan segera ke guru BK. Melakukan tindak lanjut terhadap informasi yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Melakukan alih tangan kasus dari pihak guru yang berwenang kepada para ahli yang sesuai dibidangnya. Pada indikator ini peran wali kelas sebagian besar belum terlaksana, terutama oleh wali kelas XII IPA.2. Pada indikator ini hanya alih tangan kasus kepihak luar yang belum pernah dilakukan, sejauh ini masih dapat diatasi oleh guru-guru yang ada di sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian, wali kelas yang menjadi informan baru merekomendasikan siswa yang dirasakan membutuhkan penanganan segera, namun bila masalahnya masih mampu diatasi oleh wali kelas, siswa tidak akan langsung dikirim untuk menghadap guru BK. Umumnya dari hasil penelitian, siswa yang dialih tangan kasus dari wali kelas banyak berujung pada pemberhentian siswa atau pindah ke sekolah lain bukan malah menyelesaikan masalah siswa. Kasus yang umum sering terjadi yang menyebabkan siswa di keluarkan adalah siswa yang sering bolos, sering merokok di lingkungan sekolah dan siswa yang hamil di luar nikah. Namun sebelum siswa tersebut di keluarkan, wali kelas biasanya berupaya terlebih dahulu bekerjasama dengan guru BK, kemudian wali kelas dan guru BK

umumnya memberikan surat panggilan kepada orangtua siswa untuk berupaya mengatasi masalah siswa, tetapi sering tidak ada tanggapan. Bila sudah tiga kali diberikan surat pada orangtua siswa, tetap tidak ada tanggapan maka siswa di keluarkan dari sekolah. Alasan mereka bahhwa, tidak ada upaya dari orangtua untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam membantu mengatasi masalah anaknya.

Menurut Dewa K. Sukardi (2008: 85) di sekolah alih tangan kasus dapat diartikan bahwa guru mata pelajaran, wali kelas, staf sekolah lainnya atau orangtua mengalih tangankan siswa yang bermasalah kepada guru BK. Sebaliknya bila guru BK menemukan siswa yang bermasalah, dalam bidang pemahaman, penguasaan materi pelajaran dan pelatihan secara khusus dapat dialih tangankan kepada guru mata pelajaran, untuk mendapatkan pelajaran atau pelatihan perbaikan atau program pengayaan. Guru BK dapat juga mengalihtangankan permasalahan siswa kepada ahli-ahli lain yang relevan seperti, guru mata pelajaran, dokter, psikiater, ahli agama dan lain-lain guna untuk membantu penyelesaian masalah siswa. Mengingat pentingnya

Dalam dokumen PERAN WALI KELAS DALAM PENYELENGGARAAN B (1) (Halaman 110-137)

Dokumen terkait