• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi perubahan panas dan dingin, bencana banjir dan kekeringan, bencana tanah longsor juga dapat merubah kandungan gas di udara. Oleh karenanya perubahan iklim akan berdampak pada kesehatan manusia karena akan dapat menyebabkan kematian, kecelakaan dan penyakit. Dampak lain perubahan iklim di Indonesia meningkatnya frekuensi penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah. Hal ini disebabkan oleh naiknya

suhu udara yang menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. Dampaknya nyamuk malaria dan demam berdarah akan berkembangbiak dengan cepat. Balita, anak-anak dan lanjut usia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Terbukti tingginya angka kematian yang disebabkan oleh malaria 1-3 juta/tahun dimana 80% nya adalah balita dan anak-anak (Meiviana dkk, 2004). Pola iklim yang terganggu menyebabkan efek tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Efek terhadap pola hujan yang meningkatkan bencana banjir dapat menyebabkan peningkatan penyakit perut karena efeknya pada sumber air dan penyediaan air bersih, penyakit malaria, Demam Berdarah dengue, chikungunya dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui rodent seperti leptospirosis. Efek tidak secara langsung ini menjadi sangat serius di daerah dunia dengan penduduk miskin. Terdapat sejumlah penyakit yang diprediksi prevalensinya akan meningkat sebagai akibat perubahan iklim (Keman, 2007). WHO (2004) telah mengidentifikasi beberapa penyakit yang sangat besar kemungkinan karena perubahan iklim telah menyebabkan terjadinya wabah. Penyakit diare merupakan penyebab signifikan kesakitan dan kematian secara global. Kesakitan dan kematian penyakit diare berhubungan dengan pemakaian air yang tidak memenuhi syarat kesehatan serta hygiene dan sanitasi lingkungan yang tidak memadai.

Menurut Keman (2007) mengutip dari Singh et al., (2001) terdapat variasi musiman dalam penyakit diare dimana peningkatan temperatur berhubungan dengan peningkatan jumlah penderita diare yang masuk Rumah Sakit disemua bagian belahan bumi ini. Studi yang dilakukan di Peru menunjukkan bahwa penderita diare yang masuk Rumah Sakit meningkat sebanyak 4% untuk setiap peningkatan

temperatur 10C di musim kemarau dan meningkat 12% untuk setiap peningkatan temperatur 10C di musim hujan. Di Fiji, studi pada hal yang sama menunjukkan adanya peningkatan kasus bulanan 3% untuk setiap peningkatan temperatur per 10C.

Menurut Keman (2007) di negara maju dilaporkan adanya kasus keracunan di bulan-bulan panas. Salmonella adalah penyebab pada kasus keracunan makanan di England dan Wales dengan jumlah 30.000 - 40.000 kasus per tahun. Bakteri salmonella tumbuh pada makanan pada temperatur ambient dan menunjukkan hubungan linier sampai teratur di atas 7-80C. Perubahan iklim secara tidak langsung mempengaruhi distribusi populasi serta kemampuan nyamuk dalam menyesuaikan diri (Patz, 2006). Nyamuk Ae. aegypti sebagai vektor penyakit Demam Berdarah Dengue hanya berkembangbiak pada daerah tropis yang temperaturnya lebih dari 160C dan pada ketinggian kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Namun sekarang nyamuk tersebut telah banyak ditemukan pada daerah dengan ketinggian 1.000-2.195 meter di atas permukaan laut. Perluasan persebaran ini akan meningkatkan risiko terjangkitnya penyakit DBD di suatu daerah yang belum pernah terjangkit.

Perubahan iklim meningkatkan curah hujan yang berdampak pada meningkatnya habitat larva nyamuk sehingga meningkatkan kepadatan populasi nyamuk. Peningkatan kelembaban juga meningkatkan agresivitas dan kemampuan nyamuk menghisap darah dan berkembangbiak lebih cepat. Penelitian Patz (2006), menyatakan bahwa kenaikan suhu memperpendek masa inkubasi virus dalam tubuh

dan morbiditas dikatakan bervariasi atas dasar iklim dan penyakitpun banyak yang musiman. Tidak hanya penyakit atau agennya yang dipengaruhi musim tetapi ternyata manusia juga berperilaku sesuai dengan musim yang ada. Iklim sampai saat ini belum bisa dikelola yang dapat hanya dimonitor dan diprediksi sehingga orang dapat mengambil tindakan preventif apabila diperlukan (Soemirat, 2005).

2.8.4.1 Curah Hujan dengan Demam Berdarah Dengue

Menurut Iriani (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa peningkatan curah hujan akan meningkatkan kejadian DBD di Kota Palembang. Curah hujan dapat meningkatkan transmisi penyakit yang ditularkan oleh vektor dengan cara memacu proliferasi tempat berkembangbiak tetapi dapat juga mengeliminasi tempat berkembangbiak dengan cara menghanyutkan vektor. Curah hujan yang tinggi berpengaruh terhadap tempat perkembangbiakan (breeding place) nyamuk Ae. aegypti. Curah hujan yang tinggi memungkinkan banyak bermunculan breeding place, namun demikian curah hujan yang tinggi dapat menyapu breeding place yang ada. Perbedaan datangnya musim hujan dan musim kemarau serta perbedaan lamanya musim hujan dan kemarau menyebabkan pengaruh pada perubahan bionomik nyamuk Ae. aegypti.

Menurut Sintorini (2007) yang mengutip dari Burke et al., (2001) bahwa banyak yang menduga KLB Demam Berdarah Dengue yang terjadi setiap tahun hampir seluruh di Indonesia terkait erat dengan pola cuaca di Asia Tenggara. Tingkat penyebaran virus diperkirakan mengalami peningkatan pada peralihan musim yang ditandai oleh curah hujan dan suhu udara yang tinggi. Berdasarkan penelitian

Sintorini (2007) menyatakan bahwa curah hujan mempengaruhi angka hinggap per jam nyamuk Aedes (AHJ). Curah hujan dan AHJ bersama-sama mempengaruhi jumlah kasus DBD di DKI Jakarta.

2.8.4.2 Kelembaban dengan Demam Berdarah Dengue

Musim hujan dan musim kemarau memiliki pengaruh pada tingkat suhu lingkungan. Pengaruh ini cenderung bersifat lokal dengan periode waktu tertentu hal ini dikarenakan tingkat suhu dan kelembaban lebih kompleks dan dipengaruhi oleh fenomena global, regional dan topografi serta vegetasi. Saat pergantian musim penghujan ke musim kemarau suhu udara berkisar antara 23-310C, ini merupakan range suhu yang optimum untuk perkembangbiakan nyamuk (24-280C) akan menstimulus nyamuk untuk menjadi lebih agresif dalam mancari mangsa dan menimbulkan frekuensi gigitan nyamuk semakin meningkat yang pada akhirnya tentu akan meningkatkan probabilitas tertular penyakit (Achmadi, 2008). Apabila kelembaban terlampau rendah yaitu dibawah suhu 20C sampai 420 C maka telur akan menetas dalam waktu 4 hari. Dalam keadaan optimal perkembangan telur sampai nyamuk dewasa berlangsung selama sekurang-kurangnya 9 hari (Soedarmo, 2009). 2.8.4.3 Kecepatan Angin dengan Demam Berdarah Dengue

Menurut Poorwo dalam Purba (2006) menyatakan bahwa angin sangat mempengaruhi arah terbang nyamuk dan nyamuk melakukan perkawinannya di udara. Penelitian Andriani (2001) menyatakan semakin tinggi kecepatan angin maka semakin sulit nyamuk untuk terbang karena tubuhnya yang kecil dan ringan sehingga

aegypti. Kecepatan angin akan mempengaruhi daya jangkau terbang nyamuk Ae. aegypti.Semakin luas daya jangkau nyamuk maka semakin banyak kesempatan untuk kontak dengan manusia sehingga umur dan masa reproduksi nyamuk akan semakin panjang (WHO dalam Silaban, 2006).

Berdasarkan penelitian Sungono (2004) di Jakarta Utara pada tahun 1999-2003 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kecepatan angin dengan insiden DBD. Sedangkan menurut penelitian Sulaksana dalam Purba (2006), kecepatan angin11-14m/detik atau 22-28knot maka akan menghambat perkembangan nyamuk sehingga penyebaran vektor menjadi terbatas. Berdasarkan hasil penelitian Dini dkk, (2010) menyatakan bahwa fluktuasi rata-rata kecepatan angin di Kabupaten Serang tahun 2007-2008 hanya 2,5 knot yang berarti jauh dari batas kecepatan angin yang menghambat aktivitas terbang nyamuk yaitu 22-28 knot. Nyamuk Ae. aegypti merupakan nyamuk dalam rumah sehingga pengaruh angin dalam penyebaran vektor ini sangat kecil.

2.8.4.4 Temperatur/suhu dengan Demam Berdarah Dengue

Iklim berpengaruh terhadap pola penyakit infeksi karena agen penyakit baik virus, bakteri/parasit dan vektor bersifat sensitif terhadap suhu, kelembaban dan kondisi lingkungan ambient lainnya. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti DBD berhubungan dengan kondisi cuaca yang hangat (WHO dalam Sitorus, 2003). Menurut Sintorini (2007) yang mengutip dari WHO (2002), penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria dan demam kuning berhubungan dengan kondisi cuaca yang hangat. Sebaliknya influenza berhubungan dengan kondisi cuaca yang dingin dan meningitis berhubungan dengan

kondisi lingkungan yang kering. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap stadium vektor DBD dari mulai telur, larva dan pupa serta bentuk dewasanya sangat bergantung keadaan lingkungan seperti suhu (Dini dkk, 2010).

Dokumen terkait