• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

5. Dampak perubahan peningkatan harga bibit DOC

Perubahan dalam struktur, perilaku dan kinerja industri broiler akibat perubahan harga bibit DOC dapat dilihat pada Gambar 26. Peningkatan harga bibit dapat terjadi karena berkurangnya penawaran bibit DOC dari industri pembibitan. Peningkatan harga bibit akan mendorong keluar beberapa perusahaan untuk beralih ke usaha lainnya sehingga jumlah perusahaan turun. Peningkatan biaya per unit (COSU) mendorong terjadinya kenaikan harga output (HDABR), mengingat struktur permintaan produk yang inelastis. Peningkatan harga broiler inilah yang diduga akan memancing perusahaan yang ada untuk meningkatkan produksinya dengan harapan harga tetap tinggi dan hal ini terindikasi dari meningkatnya produksi domestik (PDAB). Peningkatan produksi yang bersamaan akan meningkatkan persaingan, sehingga konsentrasi menurun. Tingkat konsentrasi turun berdampak pada turunnya integrasi vertikal dan mengakibatkan turunnya keuntungan (PROF) ditingkat perusahaan sehingga kekuatan pasar (MPWR) perusahaan turun. Harga ditingkat eceran yang meningkat berdampak terhadap turunnya ketimpangan (GAP) di tingkat industri.

Gambar 26. Dampak peningkatan harga bibit DOC (dalam %) terhadap struktur, perilaku dan kinerja Industri Broiler Indonesia

Saat ini kenaikan harga dipicu oleh tingginya harga pakan dan DOC (Day Old Chicken/ayam umur sehari) akibat pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal itu membuat biaya yang harus peternak keluarkan untuk memelihara ayam ras, mulai dari DOC hingga panen meningkat. Untuk mendapatkan marjin keuntungan yang wajar, peternak tentu saja harus menaikkan harga ayam ras yang dijualnya. Namun kenaikan harga ayam ras di tingkat konsumen tidak serta merta memberikan keuntungan yang menarik bagi peternak.

Mengingat kompleksnya faktor-faktor yang menentukan tingkat harga ayam ras dan daya saing, maka peningkatan stabilitas harga ayam ras dan daya saing harus dilakukan. Implikasi ekonomi dari volatilitas harga input yang tinggi menuntut para peternak baik skala kecil dan besar untuk selalu melaksanakan upaya cost-saving (efisiensi biaya). Para peternak yang berhasil melaksanakan

cost-saving, maka mereka dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk meningkatkan pangsa pasarnya (Daryanto, 2014). Selain itu tidak kalah pentingnya, dalam jangka panjang peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perbaikan teknologi dan inovasi di usaha broiler dapat meningkatkan efisiensi dan tingkat keuntungan sehingga makin meningkatkan pangsa pasar.

Dampak peningkatan harga input bahan baku ini juga dapat dijadikan sebagai acuan bagi pemerintah dalam pengembangan industri broiler. Peningkatan harga input yang relatif lebih banyak negatifnya dibanding peningkatan harga output terutama bagi perusahaan skala kecil dan perkembangan industri broiler tanah air. Harga pakan yang relatif mahal dan sangat tergantung pada impor karena ketidaksesuaian lahan seharusnya mendorong pemerintah untuk mendorong kegiatan riset dan pengembangan bahan baku penyusun pakan alternatif. Bahan baku alternatif ini sebaiknya berasal dari bahan baku lokal tetapi memiliki ketersediaan yang berkelanjutan sehingga mampu mendorong peningkatan efisiensi biaya dan harga jual broiler dapat lebih bersaing. Kondisi ini tidak hanya akan mendorong peningkatan produksi industri tetapi juga mampu meningkatkan permintaan pakan oleh usaha peternakan dan permintaan produk asal ternak oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil simulasi diatas, terlihat bahwa peningkatan permintaan yang diikuti dengan peningkatan penawaran atau permintaan akan menciptakan penawaran (demand creates supply) merupakan faktor positif pendorong

perkembangan industri broiler. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan untuk mengembangkan industri broiler oleh pemerintah akan lebih efektif dengan mendorong terjadinya peningkatan permintaan dibanding hanya dengan mendorong peningkatan produksi atau industri. Penawaran produk-produk peternakan akan meningkat dengan meningkatnya jumlah usaha peternakan dan perkembangan usaha peternakan didorong oleh meningkatnya permintaan akan produk-produk peternakan. Kondisi ini dapat tercapai jika daya beli dan kesejahteraan masyarakat serta kesadaran akan pentingnya protein hewani di tingkat masyarakat meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa faktor konsumen produk hasil ternak menjadi faktor penting dalam pengembangan industri peternakan karena permintaan akan produk yang tinggi akan mendorong masuknya pelaku baru dalam industri peternakan sehingga industri menjadi lebih bersaing dan efisien.

Namun yang perlu diperhatikan bahwa peningkatan produksi ini akan semakin meningkatkan konsentasi. Adapun kenaikan konsentrasi secara positif berkorelasi dengan tingkat keuntungan. Konsentrasi dapat menyebabkan efisiensi biaya atau inefisiensi biaya atau biaya netral. Ketiadaan persaingan yang ketat dapat mengurangi tekanan bagi produsen dalam penggunaan sumber daya secara efisien. Sebagai hasilnya, kekuatan pasar yang muncul dari konsentrasi industri dapat meningkatkan biaya produksi serta mengurangi efisiensi ekonomi secara agregat. Ada atau tiadanya efek efisiensi yang mampu mengimbangi atau memperkuat efek kekuatan pasar sangat penting untuk kinerja sistem pangan. Dengan demikian, konsentrasi dapat berdampak tidak hanya pada konsumen (sejauh bahwa tabungan atau inefisiensi biaya yang diteruskan kepada mereka), tetapi juga pada daya saing internasional dan profitabilitas perusahaan (Lopez dan Lirón-España, 2005).

Hal ini perlu kiranya menjadi perhatian oleh pemerintah, sehingga disamping perlunya upaya mendorong konsumsi produk pangan hewani ini, pemerintah juga harus menciptakan iklim usaha bersaing yang sehat dan kondusif. Untuk itu sangat diperlukan kebijakan persaingan usaha yang memungkinkan pasar dapat bekerja secara sehat. Kompetisi merupakan elemen penting (critical elemen) bagi price-oriented market economy. Tanpa persaingan yang fair, ekonomi menjadi tidak produktif, industri bekerja secara tidak efisien, mendorong konsentrasi ekonomi yang diikuti oleh abuse of dominant position, kehilangan daya inovasi dan kreativitas.

Program kemitraan antara perusahaan dengan peternak merupakan salah satu upaya yang harus terus dikembangkan selain mengembangkan usaha peternakan yang terintegrasi (business integration). Integrasi vertikal yang terjadi saat ini masih jauh dari sempurna. Pada sisi lain integrasi semu ini dapat cenderung tumbuh membentuk monopoli atau oligopoli. Thailand negara Asia yang sudah maju dalam industri broilernya, telah sejak semula membangun secara terintegrasi, tetapi terjerumus kedalam bentuk monopoli (Panayotou, 1989 dalam

Yusdja et al, 2000). Sekalipun integrasi tidak saja merupakan suatu keharusan, tetapi memang harus begitu, namun tidak harus disertai watak monopoli.

Analisis Kesejahteraan Sosial

Peningkatan konsentrasi industri menimbulkan kekhawatiran tentang dampak potensial terhadap kekuatan pasar. Namun, seperti yang ditunjukkan

dalam makalah awal Williamson, mungkin ada tradeoff antara peningkatan kekuatan pasar dan efisiensi yang dihasilkan dari peningkatan konsentrasi (baik melalui merger (integrasi horisontal, integrasi vertikal atau kombinasi keduanya). Untuk kasus industri broiler, jika dampak kekuatan pasar bersifat lebih dominan, konsentrasi di industri dapat meningkatkan keuntungan industri dan margin, sementara konsumen mungkin membayar harga yang lebih tinggi dibandingkan dari pasar yang kompetitif untuk produk ayam broiler. Di sisi lain, jika efisiensi (atau pengurangan biaya) memiliki efek lebih besar daripada efek kekuatan pasar, konsentrasi dapat bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Berdasarkan hasil simulasi peningkatan rasio konsentrasi pada berbagai tingkatan, didapatkan perhitungan beberapa variabel yang mewakili surplus produsen dan surplus konsumen, seperti terlihat pada Tabel 14 dibawah ini:

Tabel 14. Dampak peningkatan rasio konsentrasi pada beberapa tingkatan terhadap kesejahteraan

Indikator Nilai Kenaikan rasio konsentrasi

Dasar 5% 10% 15% 20%

Harga broiler perusahaan 12495.3 4.05 8.11 12.16 16.22 Produksi broiler domestik 104635.0 7.62 15.45 23.28 31.11 Tingkat keuntungan 219.1 24.19 48.43 72.66 96.90

Kekuatan pasar 0.4858 4.08 8.07 12.04 16.04

Harga eceran broiler 16702.7 0.24 0.48 0.73 0.97 Konsumsi broiler domestik 134843.0 -0.09 -0.17 -0.26 -0.34 Biaya per unit 0.5546 -3.59 -7.18 -10.78 -14.39 Produktivitas tenaga kerja 229.4 14.17 28.38 42.59 56.76

Ketimpangan 2.245 9.65 19.28 28.92 38.55

Hasil simulasi diatas menunjukkan bahwa dengan semakin meningkatnya rasio konsentrasi, produksi daging ayam broiler makin meningkat. Dari sisi produsen, terjadi peningkatan kesejahteraan dikarenakan dengan meningkatnya produksi maka keuntungan usaha makin meningkat. Produktivitas tenaga kerja juga berhubungan positif dengan rasio konsentrasi. Produktivitas mencerminkan tingkat inovasi, artinya dalam jangka panjang terjadi perbaikan dalam teknologi usaha. Inovasi dapat dilakukan apabila suatu usaha menguntungkan dan dalam jangka panjang suatu perusahaan dapat memiliki modal yang cukup dalam

advanced teknologi. Sesuai dengan pernyataan Weng (2012) bahwa surplus produsen berkorelasi positif dengan rasio konsentrasi, yaitu surplus produsen meningkat bila rasio konsentrasi meningkat, menurun ketika rasio konsentrasi menurun.

Selanjutnya dari sisi konsumen, dengan meningkatnya rasio konsentrasi akan semakin meningkatkan harga produk ayam broiler. Namun persentase kenaikan harga produk lebih rendah dari persentase kenaikan jumlah produksi. Pada kondisi ini kerugian ditingkat konsumen dapat ditutupi dengan peningkatan produksi dimana terlihat bahwa tingkat konsumsi meskipun turun namun dengan persentase yang cukup kecil. Pada pasar persaingan sempurna, peningkatan produksi akan menyebabkan penurunan harga dari produk yang diminta.

Hasil perhitungan surplus produsen dan surplus konsumen sebagai dampak perubahan konsentrasi dapat dilihat pada Tabel 15 dibawah ini:

Tabel 15. Perhitungan surplus produsen dan surplus konsumen sehubungan dengan peningkatan konsentrasi industri

Indikator

Satuan Perubahan kesejahteraan

kesejahteraan Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4

Surplus produsen Milyar Rp 50.93 97.80 140.50 179.06 Surplus konsumen Milyar Rp -5.46 -10.92 -16.36 -21.74 Ket : Simulasi 1 : Kenaikan tingkat konsentrasi industri broiler sebesar 5 persen

Simulasi 2 : Kenaikan tingkat konsentrasi industri broiler sebesar 10 persen Simulasi 3 : Kenaikan tingkat konsentrasi industri broiler sebesar 15 persen Simulasi 4 : Kenaikan tingkat konsentrasi industri broiler sebesar 20 persen

Berdasarkan perhitungan surplus produsen dan surplus konsumen yang mengacu kepada perhitungan Sinaga (1989) didapatkan hasil surplus produsen sebesar 50.928 sementara surplus konsumen didapatkan hasil sebesar -5.463 pada kenaikan rasio konsentrasi sebesar 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi sebesar 5 persen akan meningkatkan surplus produsen sebesar 50.928 milyar rupiah dan menurunkan surplus konsumen sebesar 5.463 milyar rupiah. Artinya, produsen jauh diuntungkan dengan kenaikan konsentrasi ini. Selanjutnya dengan meningkatnya konsentrasi maka surplus produsen juga semakin besar.

Kenaikan konsentrasi industri sampai pada taraf 20 persen semakin meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja serta kekuatan pasar. Dari sisi produsen masih diuntungkan dengan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja, namun kekuatan pasar makin mendorong kenaikan harga produk sehingga konsumen dirugikan. Berdasarkan hasil estimasi sebelumnya bahwa peubah integrasi vertikal dan hambatan masuk berhubungan positif dan signifikan terhadap konsentrasi. Sementara integrasi vertikal berhubungan positif terhadap efisiensi dan kekuatan pasar. Kekuatan pasar yang besar akan menciptakan hambatan masuk yang besar pula, demikian pula sebaliknya. Artinya, meningkatnya integrasi vertikal di industri ini berdampak terhadap meningkatnya konsentrasi yang secara tidak langsung meningkatkan kekuatan pasar melalui efisiensi yang meningkat. Menurut George et al. 1992, meskipun integrasi vertikal mungkin akan mengurangi biaya terhadap transaksi di pasar, integrasi semacam ini dapat saja memunculkan perusahaan yang memiliki kekuatan pasar yang sangat besar dengan menciptakan hambatan masuk. Selain itu, semakin terintegrasi suatu perusahaan maka semakin baik posisinya dalam bisnis sebagai hasil dari usaha yang efisien, lebih terdiversifikasi menyangkut resiko usaha dan tingginya barriers to entry.

Beberapa perusahaan yang memiliki keterkaitan proses produksi melakukan suatu bentuk pengintegrasian secara vertikal sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi sehingga produk yang dihasilkan menjadi lebih kompetitif. Namun dari hasil estimasi terdapat hubungan positif antara kekuatan pasar dan efisiensi. Artinya semakin efisien industri maka kekuatan pasar semakin meningkat. Namun jika dilihat dari persentase kenaikannya, maka dampak peningkatan konsentrasi memberikan efek kekuatan pasar yang lebih besar dibandingkan efek efisiensi.

Artinya secara keseluruhan atau agregat, kenaikan konsentrasi lebih lanjut akan menurunkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan perhitungan penulis, jika pada tahun 2003, konsentrasi industri di Indonesia berada pada kisaran 50.26 persen, dan meningkat menjadi 54.81 persen pada 2012. Tujuh perusahaan dari sekitar 956 perusahaan di industri ini menguasai sekitar 53.52 persen di tahun 2003, dan sekarang di tahun 2012 dimana hanya tinggal sekitar 108 perusahaan broiler seluruh Indonesia, tujuh perusahaan menguasai sekitar 60.32 persen. Maka diprediksi, dominasi pasar dari perusahaan besar di industri broiler pada tahun 2025 mencapai 70 persen.

Rumusan Kebijakan Pengembangan Usaha Broiler

Salah satu yang menyebabkan kenaikan tingkat konsentrasi di industri broiler adalah integrasi vertikal sebagaimana yang terlihat pada hasil estimasi peubah endogen konsentrasi industri pada bab sebelumnya. Semestinya, peningkatan konsentrasi pasar berkaitan dengan economies of scale dan technical efficiency improvements, yang mana dapat mendorong harga output turun dan meningkatkan harga input bahan baku utama dan meningkatkan output (Stiegert dan Carton, 1998). Namun integrasi vertikal yang terjadi di industri broiler sekarang ini menyebabkan turunnya tingkat persaingan sehingga konsentrasi industri meningkat. Selanjutnya, meningkatnya konsentrasi dan integrasi menyebabkan meningkatnya harga output. Seperti prediksi awal dari lembaga yang ahli dan pemerhati masalah industri, mereka umumnya sepakat bahwa konsentrasi kemungkinan akan meningkat di masa depan, berpotensi meningkatkan kekhawatiran tentang kekuatan pasar dan manipulasi harga komoditas dan pangan (Shields, 2010).

Hal ini mengindikasikan bahwa integrasi vertikal yang dijalankan di industri broiler merupakan integrasi semu, dimana semestinya dengan integrasi, usaha menjadi lebih efisien dan harga produk menjadi rendah. Hal ini mengingat bahwa, di dalam usaha budidaya ayam ras, baik petelur maupun pedaging, ada empat pola usaha ternak (budidaya), yakni : (1) usaha ternak ayam ras menyediakan sendiri seluruh sapronaknya baik langsung maupun melalui perusahaan afiliasi, (2) usaha ternak ayam menyediakan sendiri sebagian sapronaknya, misalnya usaha ternak menghasilkan sendiri pakan ayam ras tetapi tidak menyediakan Day Old Chick

(DOC) atau sebaliknya, (3) usaha ternak yang membeli sendiri seluruh sapronaknya langsung dari pabrik, dan (4) usaha ternak ayam ras yang membeli seluruh sapronaknya melalui poultry shop. Dari empat pola usaha ini, pola satu dan dua mempunyai peluang yang lebih baik dalam berbagai kondisi pasar. Sedangkan usaha ternak pola empat berada pada posisi bersaing yang lemah dan sangat peka terhadap perubahan harga sapronak. Dalam keadaan harga sapronak naik, sedangkan harga produk ayam ras tidak naik, maka usaha ternak pola keempat ini akan sangat menderita (Alim, 1996). Karena sesungguhnya suatu perusahaan akan melakukan integrasi vertikal apabila manfaat yang diperolehnya jauh lebih besar daripada biaya-biaya yang mungkin akan dihadapinya (Mulyaningsih dan Karseno, 2002)

Kekuatan pasar berhubungan positif dengan pengurangan biaya. Artinya makin efisien industri maka kekuatan pasar makin meningkat. Namun jika dilihat dari persentase kenaikannya, maka efek kekuatan pasar lebih besar dari efek

efisiensi. Efek kekuatan pasar yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan dominan adalah rente ekonomi di industri yang wajib dibayar, sehingga berdampak pada harga produk yang lebih tinggi, sehingga mengurangi pendapatan bersih peternak dari tingkat yang mungkin sebaliknya jika ada di kondisi pasar persaingan sempurna. Di samping itu, efek dari pasar yang kuat di industri broiler memiliki implikasi bagi stabilitas baik pasokan dan harga produk untuk konsumen.

Mc. Donald dan Key (2012) mengungkapkan bahwa kekuatan pasar oleh perusahaan pengolahan ayam pedaging (integrator) adalah masuk akal karena pasar lokal untuk pembudidaya (grower) telah terkonsentrasi dan karena peternak pembudidaya harus menghadapi resiko yang timbul dari investasi besar dalam aset tertentu yang ditetapkan terhadap komitmen pembelian yang terbatas di integrator. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi di integrator meskipun kecil namun secara ekonomi bermakna dalam mengurangi kompensasi yang diterima peternak.

Sebagaimana industri pangan yang semakin maju, dan didorong oleh permintaan konsumen, maka koordinasi vertikal, sebagai strategi bisnis menjadi sangat penting sekarang karena hal ini memungkinkan petani dan industri pangan untuk mengatur dan menyesuaikan produksi mereka berdasarkan kebutuhan pasar. Hal ini dipercaya bahwa integrasi vertikal dan kontrak sistemnya pada akhirnya menyebabkan perubahan, dimana secara konsisten terjadi peningkatan kualitas, produk lebih beragam dan lebih banyak pilihan produk bagi konsumen. Williamson (1974) dalam Bhuyan (2005), berpendapat bahwa integrasi vertikal menciptakan efisiensi dengan mengurangi biaya transaksi terkait dengan pertukaran (market exchange). Perusahaan terintegrasi akan mampu mengurangi inefisiensi alokatif dengan melakukan diversifikasi resiko, memastikan penawaran atau pasar, menangkap peluang atau skala ekonomis, menginternalkan eksternalitas di produksi, penentuan harga dan keputusan pasar (Klein et al.

1978).

Konsentrasi disertai konsolidasi integrasi di industri akan menurunkan margin pemasaran jika dampak ukuran ekonomi berlaku dan akan meningkatkan margin pemasaran jika dampak kekuatan pasar berlaku. Implikasi dari kenaikan konsentrasi di industri broiler ini bagi para penentu kebijakan, dimana jika perusahaan agribisnis yang memegang kekuatan pasar berusaha menambah keuntungan yang berlebihan, maka peternak harus makmur bersama dengan perusahaan-perusahaan agribisnis swasta. Kebijakan peternakan unggas oleh pemerintah diarahkan pada visi pemberdayaan peternak dan usaha agribisnis peternakan, peningkatan nilai tambah dan dayasaing dengan misi mendorong pembangunan peternakan. Program peningkatan produktivitas dan produksi ayam broiler lebih diarahkan pada pengembangan transformasi skala usaha rakyat mencapai skala menengah melalui pendekatan pola produksi yang lebih efisien dan kelembagaan.

Bagi peternak, kehadiran koperasi produsen dapat mengurangi kesempatan untuk eksploitasi oleh perusahaan besar. Mereka sulit makmur dalam persaingan dengan perusahaan swasta. Peternak mesti berkonsolidasi kedepannya untuk dapat bersaing dan bertahan. Koperasi dapat berintegrasi secara vertikal untuk beroperasi di hampir semua fase pasokan input pertanian, kontraktor, pengolahan hasil, dan pemasaran produk. Koperasi dihadirkan untuk dapat memberikan

kekuatan penyeimbang terhadap perusahaan swasta besar, sehingga keuntungan agregat keseluruhan perusahaan agribisnis yang mengolah dan memasarkan produk-produk pertanian dapat dinikmati masyarakat keseluruhan.

Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk dari produk-produk unggas luar negeri. Produk unggas, yakni daging ayam dan telur, dapat menjadi lebih murah sehingga dapat menjangkau lebih luas masyarakat di Indonesia.

Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan yang cukup berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis di dalam negeri. Tantangan global ini mencakup kesiapan dayasaing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 70-80 persen dari biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor. Upaya meningkatkan dayasaing produk perunggasan harus dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas Departemen. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan sesuai dengan permintaan pasar. Terwujudnya industri perunggasan yang berdayasaing dicirikan oleh ketidak- tergantungan terhadap komponen bahan baku impor dan terjadinya transformasi dari skala usaha yang subsisten ke skala menengah maupun skala besar.

Dua hal pokok harus digarap oleh industri perunggasan Indonesia saat ini demi pertumbuhan bisnis ini secara sehat. Pertama adalah promosi, dan kedua adalah peningkatan jumlah kandang peternak komersial secara signifikan. Sebagian besar persoalan industri broiler tanah air muaranya pada rendahnya daya serap konsumen. Pertumbuhan tingkat konsumsi daging ayam oleh publik tidak secepat tumbuhnya industri tersebut. Upaya promosi atau kampanye peningkatan konsumsi daging ayam terbukti di berbagai belahan dunia mampu memperbesar pasar, dan berikutnya akan berkontribusi menekan fluktuasi harga produk (live bird).

Selama ini, industri perunggasan di hulu, dalam hal ini breeding

(perusahaan pembibitan) produsen DOC (anak ayam umur sehari) maupun

feedmill (pabrikan pakan) berkembang demikian pesat dan produksinya jauh meningkat dibandingkan kurun waktu sebelumnya. Tetapi pertumbuhan dan perkembangan ini tidak diimbangi penambahan kandang budidaya dan peningkatan kualitas cara-cara budidaya yang setara. Alhasil, tak jarang produsen DOC dan pakan berebut peternak pelanggan, dan perang harga acapkali tak terelakkan. Sebagaimana terjadi di waktu-waktu terakhir ini, DOC diperdagangkan dengan harga tidak wajar, seolah tak ada harganya (Dawami, 2012).

Upaya penambahan kandang budidaya pembesaran secara signifikan akan berpengaruh pada serapan DOC dan berpengaruh pada stabilisasi harga. Peternak harus diberi rangsangan modal untuk mampu menambah kapasitas kandang atau mampu menarik pelaku-pelaku baru di segmen budidaya. Rangsangan dapat berupa kredit dari perbankan maupun program kredit dari pemerintah. Berikutnya diikuti dengan upaya peternak meningkatkan efisiensi sehingga HPP (harga pokok produksi) dapat ditekan dan harga jual tidak di bawah ongkos produksi. Dengan

kata lain, berapa pun banyaknya produksi ayam, peternak tidak merugi tetapi konsumen juga tidak diberatkan dengan harga yang terlalu mahal.

Efisiensi bisa ditingkatkan melalui beberapa strategi. Diantaranya dengan meningkatkan utilitas. Melalui sentuhan teknologi, kepadatan kandang dapat ditingkatkan, okupansi tenaga kandang dapat ditambah, tingkat stres dapat ditekan, masa budidaya dapat lebih singkat, dan beberapa perbaikan performa lainnya yang berujung pada meningkatnya efisiensi.

Pada sisi lain, industri perunggasan menghadapi berbagai tantangan diantaranya pasar bebas baik regional maupun pasar dunia. Untuk itu perlu dilakukannya pembenahan guna menghadapi berbagai perubahan-perubahan lingkungan strategis. Semua tantangan yang ada didepan dan permasalahan yang ada saat ini, menjadi bahan pertimbangan utama dalam menciptakan industri perunggasan yang tangguh, mandiri dan efisien. Untuk itu diperlukan strategi dan program yang pas dari pemerintah dalam menyusun strategi dan program pembangunan industri unggas nasional. Perlu adanya kesamaan persepsi tentang dasar pemikiran dan konsepsi tentang perunggasan. Pembenahan dalam industri perunggasan akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam pembenahan sub- sektor peternakan dari hulu hingga ke hilir.

Hasil penelitian MacDonald dan Key (2012) menemukan hal yang kecil tapi bermakna secara ekonomi sebagai dampak dari jumlah integrator terhadap kompensasi yang diterima peternak produsen broiler di Amerika pada 2007. Peternak yang menghadapi integrator tunggal dibayar 7-8 persen lebih sedikit secara rata-rata, dibandingkan peternak yang menghadapi empat atau lebih integrator. Temuan ini diperkuat untuk kontrol di tingkat kompensasi lokal untuk operasi dan fitur kontrak, faktor yang juga terbukti mempengaruhi kompensasi

Dokumen terkait