• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Program BLP Organik terhadap Produksi Padi dan Pendapatan Petan

DI PROPINSI JAWA TIMUR

5.2. Dampak Program BLP Organik terhadap Produksi Padi dan Pendapatan Petan

Penerapan program BLP Organik memberikan beberapa perubahan dalam penggunaan input produksi maupun hasil (output) produksi. Berikut ini adalah pemaparan perubahan yang terjadi dalam penggunaan input benih, pupuk, tenaga kerja, serta hasil produksi padi dan pendapatan petani.

Pada budidaya benih, terjadi penurunan jumlah benih sebesar 20,53% yakni dari 36,05 kg/ha menjadi 28,65 kg/ha (Tabel 5.3.). Pada masa tanam setelah menerima BLP Organik, petani menanam padi dengan menggunaan paket benih unggul yang diperoleh dari program BLBU. Adapun jenis benih unggul yang diperoleh petani cukup beragam yaitu benih padi Hibrida varietas Sembada B3, Sembada B9, dan Mekongga. Pada masa tanam sebelum mendapatkan BLBU, petani membudidayakan benih padi lokal. Karena menggunakan benih berkualitas

lebih unggul, maka jumlah benih yang dibudidayakan per hektar sawah lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah benih padi lokal.

Tabel. 5.3. Perbandingan Penggunaan Benih pada Usahatani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik

Uraian Sebelum Sesudah Perubahan

BLP Organik BLP Organik (%)

Benih (Kg) 36,05 28,65 -20,53

Harga Benih (Rp.) 6.280,85 6.861,33 9,24

Total Biaya Benih (Rp.) 226.393,87 196.555,19 -13,18

Sumber: Data Primer (diolah)

Tabel 5.3. menunjukkan perbandingan harga dan biaya total benih. Harga benih pada masa tanam setelah menerima bantuan mengalami peningkatan sebesar 9,24% yakni menjadi Rp. 6.861,33 per hektar. Harga benih unggul yang digunakan mengacu pada harga pasar benih unggul ketika petani menerima bantuan. Biaya total benih yang digunakan pada masa tanam setelah menggunakan bantuan mengalami penurunan sebesar 13,18%. Hal ini karena walaupun terjadi peningkatan harga benih, namun jumlah benih yang digunakan per hektar lebih sedikit daripada jumlah benih yang digunakan pada saat sebelum menerima bantuan.

Pada masa tanam sebelum dan sesudah mendapatkan BLP Organik terdapat perbedaan kuantitas penggunaan pupuk. Paket bantuan pupuk yang diterima (100 kg NPK, 300 kg POG, dan 2 liter POC per hektar) menjadi substitusi pupuk Urea, TSP, dan KCL. Perubahan kuantitas penggunaan pupuk tersebut disajikan oleh Tabel 5.4.. Penggunaan pupuk Urea, TSP dan KCL mengalami penurunan kuantitas berturut-turut sebesar 46,17%; 42,92%; dan 82,99%. Sedangkan, pada

penggunaan pupuk NPK, POG, dan POC mengalami peningkatan kuantitas berturut-turut sebesar 50,12%; 549,60%; dan 2.911,20%.

Tabel. 5.4. Perbandingan Penggunaan Pupuk pada Usahatani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik

Jenis Pupuk Sebelum Sesudah Perubahan

(Kg/ha) (Kg/ha) (%) Urea 325,09 174,99 -46,17 TSP 18,25 10,42 -42,92 KCL 4,08 0,69 -82,99 NPK 89,37 134,16 50,12 POG 59,09 383,85 549,60 POC (Liter) 0,09 2,84 2.911,20 Total Pupuk 495,97 706,95 3.338,84

Sumber: Data Primer (diolah)

Tabel 5.5. menunjukkan adanya peningkatan harga dan biaya total yang dikeluarkan untuk membeli pupuk.

Tabel. 5.5. Perbandingan Penggunaan Pupuk pada Usahatani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik

Jenis Pupuk

Sebelum BLP Organik Setelah BLP Organik Δ Total Nilai (%) Jumlah Harga (Rp) Total Nilai (Rp) Jumlah Harga (Rp) Total Nilai (Rp)

Urea (Kg) 325,09 1.417,66 460.864,62 174,99 1.746,22 305.572,54 -33,70 TSP (Kg) 18,25 2.018,26 36.833,33 10,42 2.160,00 22.500,00 -38,91 KCL (Kg) 4,08 3.397,96 13.875,00 0,69 3.725,00 2.586,81 -81,36 NPK (Kg) 89,37 2.188,89 195.614,68 134,16 2.300,00 308.558,57 57,74 POG (Kg) 59,09 2.118,84 125.201,09 383,85 2.300,00 882.846,20 605,14 POC (Lt) 0,09 60.000,00 5.666,67 2,84 62.643,08 178.151,55 3.043,85

Total Biaya Pupuk 838.055,40 1.700.215,66 102,88

Sumber: Data Primer (diolah)

Harga paket bantuan pupuk (NPK, POG, dan POC) yang digunakan mengacu pada harga pasar pupuk ketika bantuan diterima. Harga pupuk Urea, TSP, dan KCL mengalami peningkatan, tetapi jumlah pupuk yang digunakan tersebut mengalami penurunan, sehingga total nilainya mengalami penurunan berturut-

turut sebesar 33,70%; 38,91%; dan 81,36% per hektar. Pada pupuk NPK, POG, dan POC terjadi peningkatan total nilai yang signifikan yaitu berturut-turut sebesar 57,74%; 605,14%; dan 3.043,85% per hektar. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah dan peningkatan harga pasar pupuk yang digunakan.

Apabila dilihat dari struktur tenaga kerja pada Tabel 5.6., hampir tidak terjadi perubahan yang signifikan pada jumlah tenaga kerja baik tenaga kerja manusia (Hari Orang Kerja/HOK), tenaga kerja hewan, maupun tenaga kerja mesin. Namun apabila dilihat dari total nilai, terjadi peningkatan total nilai upah tenaga kerja manusia sebesar 7,60% dan total nilai upah tenaga kerja mesin sebesar 6,21%. Peningkatan tersebut dikarenakan meningkatnya rata-rata harga upah per tenaga kerja.

Tabel. 5.6. Perbandingan Penggunaan dan Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik

Jenis Tenaga Kerja

Sebelum BLP Organik Setelah BLP Organik Δ Total Nilai (%) Jml (HOK) Upah (Rp) Total Nilai (Rp) Jml (HOK) Upah (Rp) Total Nilai (Rp)

Persiapan dan Pengolahan Lahan 20 17.318,78 345.453,54 21 17.401,29 357.733,43 0,48%

Penanaman 30 14.005,13 421.377,52 30 14.665,91 445.828,32 5,80%

Penyiangan Tanaman 28 14.534,02 400.557,13 28 14.740,18 409.302,86 2,18%

Pemupukan 6 17.018,14 97.182,06 6 17.342,81 101.565,20 4,51%

Pemberantasan HPT 7 16.347,01 116.147,41 7 17.257,19 116.016,59 -0,1 1%

Panen 24 21.897,83 517.927,26 25 24.075,42 596.583,29 15,19%

Pengangkutan Hasil Panen 7 19.040,20 135.774,32 8 20.450,13 161.908,53 19,25%

Total Tenaga Kerja Manusia 2.034.419,24 2.188.938,22 7,60%

Tenaga Kerja Hewan 1 120.926,82 76.800,00 1 120.926,82 76.800,00 - Tenaga Kerja Mesin 3 172.378,64 437.304,95 3 170.999,74 464.444,29 6,21%

Sumber: Data Primer (diolah)

Dalam penelitian ini, penghitungan analisis usahatani akan dibedakan menjadi analisis usahatani atas dasar Biaya Tunai dan analisis usahatani atas dasar Biaya Total. Analisis usahatani atas dasar biaya tunai merupakan penghitungan pendapatan usahatani tanpa memperhitungkan biaya nonkomersial sedangkan

analisis usahatani atas dasar total merupakan penghitungan pendapatan dengan ikut memperhitungkan biaya nonkomersial (harga bantuan pupuk dan tenaga kerja dalam keluarga). Oleh karena itu, penghitungan nilai imbangan biaya dan manfaat masing-masing akan diperoleh baik atas dasar biaya tunai maupun atas dasar biaya total.

Berdasarkan analisis usahatani atas dasar biaya tunai (Tabel 5.7.) dapat dilihat adanya penurunan biaya tunai sebesar -13,84% yakni dari Rp. 4.434.834,29 per hektar menjadi Rp. 3.895.805,68 per hektar. Hal ini dikarenakan pada musim tanam setelah mendapatkan BLP Organik, benih unggul dan pupuk (NPK, POG, dan POC) diperoleh petani secara cuma-cuma tanpa mengeluarkan biaya pembelian. Produktivitas padi setelah menggunakan BLP Organik mengalami peningkatan sebesar 10,06% yaitu dari 4,9 ton menjadi 5,4 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar. Sedangkan harga gabah hasil produksi meningkat sebesar 12,8% yaitu dari Rp. 2.547,23 menjadi Rp. 2.872,28 per hektar.

Tabel. 5.7. Perbandingan Produksi dan Pendapatan Petani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik (Atas Dasar Biaya Tunai)

Parameter Sebelum Sesudah Perubahan

BLP Organik BLP Organik (%)

1. Jumlah Biaya Tunai (Rp.) 4.434.834,29 3.895.805,68 -13,84

2. Produksi Padi (Kg GKP) 4.916,05 5.410,39 10,1

3. Harga (Rp./Kg) 2.547,23 2.872,28 12,8

4. Nilai Produksi Padi (Rp.) 12.522.297,43 15.540.167,63 24,1

5. Pendapatan (Rp.) 8.087.463,14 11.644.361,95 43,98

6. R/C Ratio 2,82 3,99

7. B/C Ratio 1,82 2,99

Sumber: Data Primer (diolah)

Adanya penurunan biaya tunai dan peningkatan penerimaan usahatani, maka pendapatan usahatani meningkat (43,98%) dari Rp. 8.087.463,14 menjadi Rp.

11.644.361,95. Peningkatan pendapatan ini mendorong kenaikan nilai R/C Ratio dari 2,82 menjadi 3,99; dan B/C Ratio dari 1,82 menjadi 3,00. Nilai R/C Ratio sebesar 3,99 memiliki pengertian bahwa apabila petani mengeluarkan biaya usahatani sebesar Rp. 1,- maka petani tersebut akan memperoleh penerimaan (revenue) sebesar Rp. 3,99,-. B/C Ratio yang menunjukkan nilai 2,99 memiliki pengertian bahwa apabila petani mengeluarkan biaya usahatani sebesar Rp. 1,- maka petani tersebut akan menerima pendapatan sebesar Rp. 2,99,-.

Apabila dilihat dari analisis usahatani atas dasar biaya total (Tabel 5.8.) jumlah biaya total yang dikeluarkan oleh petani mengalami peningkatan sebesar 20,7% yakni dari Rp. 4.952.761,55 per hektar menjadi Rp. 5.979.844,45 per hektar. Walaupun total biaya mengalami peningkatan, namun secara keseluruhan pendapatan usahatani padi meningkat sebesar 26,3% yaitu dari Rp. 7.569.535,88 menjadi Rp. 9.560.323,18 per hektar. Peningkatan ini diperoleh karena meningkatnya produktivitas serta harga padi sehingga penerimaan juga mengalami peningkatan. Adanya peningkatan tersebut mendorong kenaikan nilai R/C Ratio dari 2,53 menjadi 2,60; dan B/C Ratio dari 1,53 menjadi 1,60.

Tabel. 5.8. Perbandingan Produksi dan Pendapatan Petani Sebelum dan Sesudah Menggunakan Paket BLP Organik (Atas Dasar Biaya Total)

Parameter Sebelum Sesudah Perubahan

BLP Organik BLP Organik (%)

1. Jumlah Biaya Total (Rp.) 4.952.761,55 5.979.844,45 20,7

2. Produksi Padi (Kg GKP) 4.916,05 5.410,39 10,1

3. Harga (Rp./Kg) 2.547,23 2.872,28 12,8

4. Nilai Produksi Padi (Rp.) 12.522.297,43 15.540.167,63 24,1

5. Pendapatan (Rp.) 7.569.535,88 9.560.323,18 26,3

6. R/C Ratio 2,53 2,60

7. B/C Ratio 1,53 1,60

Nilai R/C Ratio sebesar 2,60 memiliki pengertian bahwa apabila petani mengeluarkan biaya usahatani sebesar Rp. 1,- maka petani tersebut akan memperoleh penerimaan (revenue) sebesar Rp. 2,60,-. B/C Ratio yang menunjukkan nilai 1,60 memiliki pengertian bahwa apabila petani mengeluarkan biaya usahatani sebesar Rp. 1,- maka petani tersebut akan menerima pendapatan sebesar Rp. 1,60,-.

Baik pada analisis usahatani atas dasar biaya tunai maupun analisis usahatani atas dasar biaya total, nilai R/C Ratio dan B/C Ratio musim tanam setelah menggunakan BLP Organik yang lebih besar dari angka satu, dan juga lebih besar dari R/C Ratio dan B/C Ratio pada musim tanam sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa BLP Organik memberikan dampak pada peningkatan produksi padi (GKP) dan pendapatan pada petani. Dengan kata lain, penggunaan BLP Organik lebih memberikan keuntungan bagi petani baik atas dasar biaya tunai maupun biaya total.

Hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas menunjukkan adanya peningkatan produksi, produktivitas, serta pendapatan petani. Hal ini sama seperti hasil penelitian PSP3 (2010) mengenai dampak program BLP dan BLBU pada tujuh propinsi di Indonesia. Selain itu peningkatan produktivitas setelah menggunakan pupuk berimbang (anorganik dan organik) yang terjadi di penelitian ini memiliki hasil yang sama seperti penelitian yang dilakukan oleh Yuliarmi (2006).

Dokumen terkait