SENI ALA KADARNYA
2. Dampak Psikologis bagi Anak dari Adanya Sinetron Relig
Menurut Astrid W. E. N, M.Psi, Psikolog anak dan remaja KANCIL, Jakarta Selatan, adegan-adegan yang diperankan artis
dalam tayangan sinetron akan banyak memberikan pengaruh bu- ruk kepada anak. Anak yang masih polos dan belum bisa membe- dakan hidup nyata dan akting dengan mudah meniru apa yang ada di sinetron, misalnya adegan kekerasan. Jika anak tidak di- dampingi orang tua, bisa saja anak meniru adegan kekerasan dalam sinetron, seperti berantem, memukul hingga menjambak rambut temannya. Contoh lainnya ialah adegan antagonis yang selalu ada di setiap sinetron juga dengan mudah ditiru anak-anak. Untuk itu, jangan heran jika anak yang sering nonton sinetron, dia lebih cepat marah jika keinginannya tak dipenuhi. “Anak itu rasa ingin tahunya besar. Dan, anak suka meniru apa yang dilihatnya. Jika yang dilihatnya memberi contoh buruk, bisa saja anak pun berperi- laku buruk seperti apa. yang dilihatnya,” terang Astrid saat ditemui di sela-sela seminar yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta belum lama ini.
Senada dengan Astrid, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi. Psi- kolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI dan Klinik Raditya Me- dical Center Depok, Jawa Barat, juga mengatakan anak belum bisa membedakan informasi yang diterimanya antara kisah nyata atau fiksi (khayalan). “Sinetron saat ini masih banyak menyajikan ke- bencian, kebohongan, tipu muslihat, dan hal-hal tidak realistis lain- nya. Ini sangat buruk jika ditonton dan ditiru anak-anak, tambah Vera.
Tak jarang dalam sinetron religi bertema hidayah sering mun- cul tayangan berbau seksualitas. Tayangan adegan bertema sek- sualitas yang sering muncul dapat merangsang anak. Anak menjadi cepat mengalami tahap kedewasaan karena hormon seksualnya telah dirangsang oleh tayangan tersebut. Akibatnya, anak yang belum paham mengenai hal-hal seksualitas menjadi terjebak ke jurang kegelapan sehingga tak heran jika saat ini sering terjadi kasus pemerkosaan dan pencabulan anak di bawah umur, bahkan pada pertengahan tahun 2013 di salah satu wilayah di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, telah terjadi kasus pencabulan anak sekolah dasar, yang ternyata pelakunya adalah teman laki-lakinya sendiri.
Tentunya hal ini sangatlah menyedihkan. Belum lagi, dalam sinetron juga sering didengar kata-kata berbau seksualitas yang pada akhirnya juga berdampak buruk pada anak. Anak yang masih belum mengerti arti kata itu sebenarnya, karena terlalu sering menonton sinetron tersebut, menyebabkan anak memiliki kebiasa- an dengan kata-kata yang berhubungan dengan hal seksualitas tersebut.
Solusi
Karena dampak negatif sinetron religi menyebabkan efek yang berbahaya, perlu dicari solusi untuk penyelesaian masalah ini. Cara yang pertama adalah membatasi waktu anak untuk menonton te- levisi. Kemudian, pilih tontonan yang sesuai dengan usia anak. Sedapat mungkin orang tua atau orang dewasa di rumah menahan sementara waktu tidak dulu menonton sinetron sebelum anak- anak tidur. Jika pun anak meminta nonton sinetron, orang tua tetap harus mendampingi anaknya meskipun saat nonton sinetron anak-anak ataupun sinetron religi yang saat ini marak. Peran orang tua sesungguhnya adalah mendampingi anak menonton untuk mengajarkan bahwa apa yang ditontonnya tidak semuanya patut ditirunya.
Namun, yang paling tepat adalah mengarahkan anak melaku- kan aktivitas lain bersama anggota keluarga, mengerjakan tugas sekolah, atau hanya berkumpul dan bercanda bersama keluarga. Sebaiknya, orang tua mengalihkan ke tontonan lain, seperti film edukasi anak atau film kartun yang banyak menampilkan gambar warna, ukuran, dan jalan cerita sesuai dengan umur anak- anak, juga lebih baik yang bisa melatih kemampuan pola pikir anak. Selain itu, orang tua juga bisa mengajak anak melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti main ludo, atau permainan edukasi lainnya. Cara kedua kita sebagai masyarakat harus bisa memfilter tontonan yang layak ditonton sehingga kita bisa menjadi masya- rakat yang waspada sekaligus kritis.
Simpulan
Agar sinetron religi berkualitas dan layak tonton, sebaiknya dalam pengemasan sinetron tersebut tidak meninggalkan tujuan utama pembuatan sinetron tersebut dan adegan yang kurang mendidik sebaiknya dikurangi. Dengan demikian, akan tercipta karya seni yang benar-benar berkualitas.
Biodata Penulis
Anggalih Bayu Muh. Kamim. Tinggal di Topanrejo, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Saat ini Anggalih Bayu Muh. Kamim sekolah di SMA Negeri 2 Ngaglik, Sleman. Jika ingin berkorespondensi dengan Anggalih Bayu Muh. Kamim dapat menghubungi HP: 085293198545.
Pendahuluan
Pengadaaan lomba atau sayembara menulis untuk kalangan remaja dari berbagai lembaga pemerintah maupun swasta sudah sering kita dengar, baik menulis cerpen, puisi, esai, maupun karya ilmiah. Hadiah yang diberikan pun sangat menarik minat. Bedanya adalah, ketertarikan remaja terhadap jenis tulisan yang dilomba- kan. Sadar atau tidak, acuh atau tidak, peminat cerpen lebih ba- nyak dibandingkan dengan esai. Sebagai tulisan yang sama-sama berbentuk prosa, esai ternyata tidak begitu menarik perhatian re- maja. Padahal, pembelajaran menulis esai ada dalam kurikulum sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ke- terampilan menulis esai diberikan pada kelas XII semester 2. Secara normatif, siswa seharusnya sudah mengerti prinsip-prinsip penu- lisan esai.
Pada kenyataannya, cerpen yang sifatnya lebih imajinatif tetap mengambil banyak minat dari remaja. Padahal banyak tulisan yang menyoroti kurangnya minat siswa atau remaja terhadap sastra. Kelihatannya sastra yang dimaksudkan adalah karya-karya yang bersifat fiksi seperti novel sastra dan bukan karangan nonfiksi. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar karena terbukti pe- serta lomba-lomba menulis cerpen tidak sedikit jumlahnya. Itu berarti remaja sudah menunjukkan apresiasi yang cukup tinggi terhadap sastra. Jika sastra yang dianggap kurang diminati saja kini sudah semakin menarik bagi remaja, lalu bagaimana dengan esai sendiri?