C. Implikasi Perubahan Masjid Jami’ menjadi Katedral
3. Dampak Sosial Setelah Perubahan
Perdebatan isu kepemilikan Masjid Agung Kordoba semakin meruncing di provinsi Spanyol Selatan Andalusia. Kelompok politik yang bersaing melakukan aksi pengumpulan tanda tangan untuk meraih dukungan atas status Masjid.
Sejak 2006 Gereja mengklaim kepemilikan Masjid tanpa persetujuan dari pemerintah. Sejak saat itu Gereja berusaha menutupi dan mendistorsi warisan Islam Kordoba dengan membuat iklan Kordoba sebagai Katedral dan Gereja menjual tiket masuk kepada wisatawan bertuliskan “Welcome to the Santa Iglesia” (Suwaidan, 2009:257).
Hal ini mendorong pemerintah Sosialis daerah Andalusia mempertimbangkan mengambil tindakan hukum untuk melindungi kepemilikan masyarakat terhadap aset budaya. Sementara kampanye petisi oleh kelompok „Save The Cordoba Mosque‟ untuk mempertahankan status Masjid. Hingga akhirnya berhasil mengumpulkan sekitar 156.000 tanda tangan.
Selama beberapa tahun terakhir Keuskupan Kordoba telah menghapus istilah „masjid‟ dari semua selebaran informasi yang diakui di seluruh dunia sebagai simbol harmoni budaya,” tulis sebuah leaflet petisi mendesak masyarakat untuk mendukung perjuangan mereka. Dalam sebuah leaflet juga menuduh Gereja mendistorsi fakta sejarah.
Dilain pihak Gereja telah melakukan petisi sendiri untuk mendukung posisinya atas Masjid yang telah mendapat dukungan sebagian besar kalangan konservatif. Sejauh ini kelompok Hazte Oir diperkirakan telah mengumpulkan sekitar 96.000 tanda tangan.
“Keuskupan Agung lokal sedang melakukan pendaftaran dirinya sebagai pemilik masjid tersebut, yang pada tahun 2016 akan diubah jika gereja mendapat jalan. "Bagi warga Kordoba apa yang telah menyakiti perasaan kita adalah mereka telah menghapus nama dan memori monumen,” kata Antonio Manuel Rodriguez , seorang profesor hukum di Universitas Kordoba, seperti dikutip oleh On Islam”(Jumrah, 2015:12).
Profesor Antonio menilai Gereja memanfaatkan celah pada hukum kepemilikan tanah pihak berwenang Katolik "melakukan administrasi monumen dengan cara yang kasar", membuat Situs Warisan Dunia UNESCO itu dalam bahaya.
Pada tahun 784 M sebuah Masjid dibangun oleh para penguasa Muslim Spanyol, bangunan itu kemudian diubah menjadi Katedral setelah kota itu jatuh pada tahun 1236 selama 'Inkuisisi Spanyol', yang menyebabkan Muslim pribumi dibantai, dibuang, dan dipaksa untuk pindah agama ke Katolik (Jumrah, 2015:15).
a. Penolakan Alihfungsi Masjid
Masyarakat Spanyol mengecam rencana penghapusan jejak kebesaran masa lalu Islam di Masjid Kordoba atau Masjid Jami' Kordoba. Pemerintah lokal Andalusia Selatan memprotes rencana Gereja Katholik menghilangkan sisa-sisa kebesaran Islam di masjid kuno yang kini menjadi Gereja di Kordoba.
Gambar 5. Privatisai Masjid
(Sumber: Imperium Islam Andalusia Pengawal Renaisans Di Eropa Edisi 5 November2015,dalamonline:http://www.jumrah.com/Magz//artikel/jelajah/I mperiumIslamAndalusiaPengawal Renaisans DiEropa.html ).
Warga Muslim dan non-Muslim mengkritik keras Gereja Katolik di Spanyol karena berupaya memprivatisasi masjid yang secara hukum diakui sebagai fasilitas umum. Bangunan kuno tersebut merupakan bukti kebesaran arsitektur Islam yang menjadi obyek wisata ziarah di Spanyol.
Departemen pariwisata lokal mengatakan rencana otoritas gereja menguasai kompleks 'Masjid Katedral Kordoba' dengan mengubah namanya menjadi 'Katedral Kordoba' mencederai
dunia pariwisata dan membingungkan jutaan turis yang setiap tahun mengunjungi Masjid Kordoba (Farras, 2010:91).
Namun pejabat Katedral telah membantah perubahan nama. Di situs mereka disebutkan Masjid-Katedral secara resmi telah menyandang nama Katedral Santa Maria di Kordoba sejak abad ke-13. Tepat setelah masjid itu menjadi gereja. Departemen pariwisata mengatakan pada Senin 15 Desember 2014, bahwa mereka telah mengirim surat untuk mencari jalan agar bisa bertemu dengan pihak Gereja (Jumrah, 2015:20).
b. Masyarakat Islam Menjadi Lemah
Umat Islam Andalusia tidak ada bedanya dengan umat Islam lainnya di seluruh penjuru dunia. Mereka satu akidah yang berpegang teguh pada madzhab Ahlussunnah Waljamaah. Oleh karenanya, ketika mereka sedang keadaan menghadapi kesulitan dan penindasan. Mereka meminta pertolongan kepada saudara-saudaranya sesama muslim yang memiliki kekuatan untuk membantu umat Islam Andalusia. Di antara yang dimintai pertolongan adalah Kerajaan Islam di Maroko dan Kekhalifahan Utsmaniyah. Di antara isi surat yang mereka tuliskan kepada kerajaan Maroko disebutkan sebagai berikut (Mujahid, 2014:20) Salam sejahtera kami haturkan untuk yang mulia, dari seorang hamba yang tertindas di Andalusia, wilayah sebelah barat bumi Maroko. Dengan dikeililingi oleh lautan Roma yang membentang luas dan lautan raya yang dalam dan pekat.
Salam sejahtera untuk semua, dari seorang hamba yang terluka akibat bencana berat yang menimpa. Kami
dikhianati dan ditindas, agama kami diubah dengan paksa, kami dianiaya dengan keji dan kejam.
Namun, kami tetap berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, melawan tentara salib berdasarkan satu niat. Saat kami membina perjanjian perdamaian, mereka malah mengkhianati dan melanggar.
Bukan sekali mereka melanggar perjanjian, bahkan sebelumnya berkali-kali mereka mengingkari dan menindas kami dengan kekerasan dan penganiayaan.
Mereka membakar kitab suci umat Islam dan mencampakkannya ke tempat-tempat sampah sehingga berbaur dengan najis. Kitab suci yang kami jadikan sandaran dalam setiap urusan, mereka campakkan dengan keji dan zalim.
Kami dipaksa mencari Nabi dan dilarang untuk menyebut namanya baik pada saat senggang maupun tertindas.
Kalau ada satu orang atau satu kelompok orang yang melantunkan namanya, bahaya siksa dan azab mengancam mereka.
Nama-nama kami diubah dengan nama yang tidak kami senangi. Sayang seribu sayang, mereka mengubah agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw. dengan agama anjing-anjing Romawi, makhluk terburuk di muka bumi.
Kami pun akan menjadi hamba sahaya yang tidak bertuan, menjadi umat Islam yang tidak bisa mengucapkan kalimat syahadatain.
Jika kedua bola mata insan menyaksikan, betapa kesulitan yang kami derita, ia akan mencurahkan hujan airmata. Sangat pedih kesedihan yang kami rasakan, menahan derita nestapa yang terus menyelimuti (Abu Farras, 2014:22 ).
Dalam surat tersebut terlihat bahwa mereka membutuhkan bantuan dari umat Islam wilayah lain. Mereka mengiba, menangis, dan 'mengemis' belas kasihan raja-raja Islam. Namun sedikit bantuan yang diharapkan tidak turun-turun. Hal ini semakin membuat mereka terisolasi dan semakin lama menanggung beban penderitaan. Umat Islam di Andalusia diberikan tiga pilihan oleh kerajaan Kristen: Masuk Kristen, Keluar dari Andalusia, atau dibunuh Jumlah mereka yang
dibunuh mencapai puluhan ribu jiwa. Sebagian mereka ada yang murtad atau pura-pura murtad. Mereka yang murtad selalu diawasi oleh intelejen Kerajaan Kristen pada saat itu. Jika terbukti masih beragama Islam maka akan ditangkap dan dihukum. Apalagi mereka yang merencanakan pemberontakan tidak tanggung-tanggung akan dihukum mati. Digantung dan dikuliti kemudian di arak keliling kota sebagaimana yang terjadi pada diri mujahidin pada saat itu.
Ketika membaca kalimat demi kalimat yang penuh dengan kepiluan dan kesedihan penulis heran, jika saat itu sedikit sekali bantuan yang dapat umat Islam Andalusia terima. Bahkan, kerajaan Islam Maroko yang notabenya saat itu bersebelahan dengan umat Islam Andalusia.
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa pada Kerajaan Islam Maroko sebagai tetangga terdekat Andalusia, beliau Raja Maroko ingin mencari jalan aman. Jika wilayah Maroko terlalu jauh terlibat dalam konflik yang terjadi di Andalusia, kekuasaan mereka akan terancam. Kerajaan Kristen akan menyerang mereka atau melakukan praktek adu domba sesama anggota keluarga kerajaan seperti yang terjadi di Andalusia. Intinya, kerajaan Kristen akan berupaya mempersulit keadaan kerajaan Islam Maroko. Akhirnya mereka mengambil jarak terhadap umat Islam di Andalusia (Mujahid, 2014 diakses pada hari
Selasa, 8 Desember 2015 pukul 11.32 WIB dalam Online: http://kisahmuslim.com).
Kenyataan pahit tersebut diderita oleh pemimpin negara-negara Islam pada saat itu. Mereka tidak berani memberikan bantuan secara penuh, terutama militer, kepada umat Islam yang tertindas seperti di Palestina, Suriah, Afghanistan, Irak, dan Mindanao. Mereka lebih memilih mengamankan kekuasaan mereka. Memang sejarah telah mencatatkan para pemimpin yang membantu para mujahidin nasibnya sering berakhir tragis, seperti yang dialami Raja Faishal dari Arab Saudi dan Jenderal Zia Ul Haq dari Pakistan. Saat itu merupakan resiko perjuangan, jika tidak ada pengorbanan maka tidak akan ada kemenangan. Para mujahid sudah pasti siap dengan kematian yang dapat menjadi jalan kemenangan bagi mereka yang syahid.
c. Memudarnya Peran Ulama
Pada abad ke-8 M umat Islam dibebaskan oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar Spanyol. Terlihat dari sikap para penguasa Islam yang sangat baik dan rendah hati banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, muslim Spanyol bersungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca
Al-Qur‟an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur‟an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya (Muslim, 2016:12).
Kaum kafir yang berada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirim sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulai saat itu secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur‟an. Kaum Kristen juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk menjadikan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil yang pada akhirnya kekuasaan Islam berakhir banyak masyarat muslim yang menjadi korban atas kekerasan pemerintah. Pada saat itu ketika terjadi masa keruntuhan tidak ada satupun masyarakat muslim yang mampu melawan para penguasa. Penderitaan tersebut sangat dirasakan pada kalangan bawah, ketika kejadian itu tidak ada satupun dari kalangan ulama yang ikut serta membantu dalam kekejaman pemerintahan Kristen.
Jadi, dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama tidak memiliki peran penting dalam menangani kondisi masyarakat, karena ulama tidak terlibat dalam kegiatan politik dan sosial. Sehingga kehidupan keagamaan masyarakat tidak terkontrol.