Pada tahun 1236 M Kordoba diambil alih dari pasukan Muslim oleh Raja Ferdinand III. Setelah wilayah Kordoba dikuasai Masjid ini diubah menjadi Gereja Katedral Kristen. Beberapa tahun kemudian sebagian besar ornamen-ornamen yang mencirikan islam dihancurkan dan dilakukan juga penambahan kapel-kapel Kristen, sehingga menghancurkan keselarasan dari arsitektur Mezquita. Penambahan tersebut berupa pembangunan Villaviciosa Chapel dan Royal Chapel di dalam Masjid (Levering, 2008:408).
Raja-raja selanjutnya yang menjadi penerus kekuasaan menambahkan berbagai macam fitur Kristen. Menara Masjid ditambahkan lonceng sebagaimana lazimnya menara Gereja. Perubahan yang paling signifikan
adalah pembangunan katedral Renaisans di tengah struktur bangunan Masjid. Dengan izin dari Charles V Raja Spanyol bangunan tersebut dibangun menjadi lebih megah. Seniman dan arsitek terus menambah struktur yang ada hingga akhir abad ke-18. Total 900 pilar yang tersisa sebanyak 856 tiang dirobohkan mengenai hal tersebut berkaitan dengan dampak dari pembangunan katedral ditengah-tengah Masjid. Namun Raja Charles V menyesali keputusannya dan berkata kepada para arsiteknya : “What you are building here can be found anywhere, but what you have destroyed exists nowhere” (Leaflet the Katedral Kordoba, Wikipedia. Foto: Hawis Madduppa).
1. Faktor Sosial Politik
Republika.co.id, Kordoba – Pakar hukum terkemuka Spanyol Antonio Rodriguez Ramos menuding Gereja Katolik tengah berupaya memprivatisasi Masjid Jami‟ Kordoba. Dia mengatakan Uskup Agung Demetrio Fernandez berusaha mengklaim kepemilikan bangunan bersejarah di Andalusia tersebut agar benar-benar bersih dari identitas Islam. Dilansir dari World Bulletin awal pekan lalu Rodriguez menyebut Uskup Fernandez mencoba memanfaatkan celah hukum pertanahan yang ada di Spanyol untuk memprivatisasi Masjid Jami‟ Kordoba di bawah naungan Gereja Katedral Katolik.
“Menempatkan Masjid dalam bahaya, Padahal bangunan tersebut termasuk salah satu situs warisan dunia UNESCO,” kata akademisi dari Universitas Kordoba (Republika, 2010:7). Direktur Junta Islamica (Dewan Islam Spanyol) Isabel Romero mengatakan, Masjid Jami‟ Kordoba merupakan peninggalan bersejarah milik semua orang Spanyol. “Karena menjadi sangat aneh jika bangunan tersebut harus diklaim oleh tangan swasta.” Katanya kepada Irish Times.
Masjid Jami‟ Kordoba awalnya dibangun pada abad ke-VIII (tepatnya tahun 784 M) oleh penguasa muslim Spanyol di bawah Daulah Umayyah. Bangunan tersebut kemudian diubah fungsinya menjadi Katedral dikarenakan Andalusia jatuh ke tangan tentara Nasrani pada tahun 1236 M pada saat itu terjadi inkuisisi Spanyol. Terdapat jutaan Muslim pribumi yang dibantai, dibuang dan dipaksa memeluk Katolik. Sejak kejatuhan Andalusia tidak pernah lagi seorang umat Islam yang menunaikan shalat di Masjid Kordoba. Meskipun demikian bangunan Masjid Kordoba pada masa sekarang tetap dibuka untuk umum dan siap menyambut setiap pengunjung dari seluruh dunia tanpa melihat latar belakang agama mereka.
2. Faktor Sosial Keagamaan
Salah satu Masjid yang paling terkenal dalam sejarah Islam adalah Masjid Kordoba di Spanyol. Masjid yang dibangun oleh Khalifah Daulah Umayyah bernama Abdurrahman III. Masjid ini memiliki seni arsitektur yang tinggi dan indah. Tinggi menaranya 40 hasta di atas batang-batang kayu berukir dan ditopang oleh 1293 tiang yang terbuat dari berbagai macam marmer bermotif papan catur. Di sisi selatan tampak 19 pintu berlapiskan perunggu dengan kreasi yang sangat menakjubkan. Sementara pintu tengahnya berlapiskan lempeng-lempeng emas. Panjang Masjid Kordoba dari utara ke selatan mencapai 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter. Sedangkan tingginya mencapai 20 meter.
Setiap gerbang di Masjid terdapat batu-bata merah dan batu putih. Gabungan unsur batu-batu tersebut mampu mewujudkan konsep jaluran yang menakjubkan. Konsep jaluran merah-putih banyak mempengaruhi seni arsitektur bangunan di Spanyol. Hiasan dindingnya disemarakkan unsur flora dan inskripsi dari Alquran dalam bentuk ukiran kapur, kaca, marmar dan mozaik emas (Raghib, 2011: 365).
Bangunan Masjid Kordoba sangat kokoh dan tahan gempa bahkan pada gempa keras yang pernah terjadi tahun 1793 (gempa bumi Lisabon) tidak ada sedikitpun keretakan yang terjadi. Sedangkan bangunan Katedral dalam bagian Masjid yang didirikan pada awal abad ke-13 masehi telah mengalami keretakan yang saat ini masih dapat terlihat.
Selain itu kemegahan dekorasi pada ruang shalat juga sangat menonjolkan ruang mihrab. Lubang-lubang hiasan diletakkan pada ruangan kecil berbentuk segi delapan. Konfigurasi yang menakjubkan pada mihrab tersebut menjadi pusat perhatian. Kemegahan Masjid Kordoba yang bertahan hingga sekarang menjadi saksi masa keemasan Islam di benua Eropa.
Keagungan Masjid Kordoba mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Negara tersebut. Kordoba pada saat itu menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan ibu kota kekhalifahan Daulah Umayyah. Pada masa itu terdapat 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis kitab suci Alquran dengan huruf Kufi yang indah. Anak-anak
fakir miskin juga bisa belajar secara gratis di sekolah yang disediakan Khalifah. Aktivitas di Masjid Kordoba sang mengesankan. Tidak heran jika pada malam hari Masjid Kordoba diterangi 4.700 buah lampu yang menghabiskan 11 ton minyak pertahun.
3. Faktor Sosial Budaya
Kondisi Kordoba sebagai kota yang penuh dengan nilai peradaban dan kebudayaan tentu saja memiliki tanda-tanda atau peninggalan dari peradaban tersebut. Kebudayaan Arab kuno bersatu dengan berbagai macam budaya. Kordoba sampai sekarang sudah memiliki tiga budaya yaitu: Arab, Yahudi dan Kristen. Di antara ketiganya telah hidup bersama sejak abad pertengahan. Bahasa yang digunakan di Kordoba adalah bahasa Spanyol. Pada saat ini Islam hanya berjumlah 2% dari keseluruhan masyarakat Spanyol (El Khadiri, 2015:94).
Peninggalan budaya Islam yang hingga saat ini masih adalah tarian Spanyol yang terkenal yaitu tarian Flamenco. Tarian yang berasal dari tarian Gipsi Andalusia dan budaya Islam Persia. Flameno tradisional biasanya hanya diiringi nyanyian tanpa alat musik (disebut cante).
Kordoba merupakan kota cantik dan penuh warna, kota yang penuh bunga. Namun dibalik keindahan kota Kordoba tersebut juga menyimpan sebuah kepedihan yang membuat sebagian orang terasingkan. Peristiwa itu mulai sejak masa kekuasaan Daulah Umayyah runtuh karena serangan dari pasukan Kristen.