Penderita diabetes mengalami stres oksidatif yang mengakibatkan peroksidasi lipid dan kerusakan jaringan seperti retinopathy, nephropathy, dan penyakit jantung koroner. Penderita juga dapat mengalami dislipidemia atau hiperlipidemia dalam tahapan perkembangan kardiovaskuler yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas (Elberry et al. 2011). Menurut Feshani
et al. (2011) kerusakan enzim-enzim antioksidan pada kondisi hiperglikemik
disebabkan oleh terjadinya glikasi terhadap protein enzim dan menginduksi stres oksidatif yang menyebabkan peroksidasi lipid. Glikasi protein saat kondisi hiperglikemia menurut Yim et al. (1995) dan Meng et al. (1998) terjadi antara asam amino bebas dari protein yang bereaksi dengan gula pereduksi (glukosa) melalui proses yang disebut reaksi Maillard. Reaksi ini diawali oleh reaksi kondensasi gula pereduksi dengan asam amino bebas untuk membentuk basa Schiff. Melalui pengaturan ulang basa ini akan membentuk produk Amadori yang selanjutnya terdegradasi dengan kehilangan RNH2 menjadi α-dikarbonil
(deoksiglukoson). Senyawa ini lebih reaktif dibanding gula asal dalam kemampuannya bereaksi dengan asam amino dan membentuk produk akhir yang disebut advanced Maillard products atau advanced glycation end products
(AGEs). AGEs ini dapat membentuk anion superoksida.
Sejak akhir tahun 1980-an tujuan dari pengobatan pada pasien diabetes telah berevolusi dari mencegah kematian, menghilangkan gejala, menuju normalisasi kadar glukosa darah untuk mencegah terjadinya komplikasi. Banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa pengendalian glukosa darah yang ketat pada pasien DM tipe 1 secara signifikan mengurangi komplikasi seperti
retinopathy, nephropaty dan neuropatHahy. Pasien-pasien tersebut pada jangka panjang juga memperlihatkan efek-efek yang menguntungkan pada makrovaskuler dalam studi-studi epidemiologi komplikasi dan intervensi diabetes (FDA 2008).
Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa ekstrak air dan ekstrak etanol umbi bawang dayak memiliki aktivitas antioksidan dan inhibisi enzim alfa- glukosidase dan telah dibuktikan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara ilmiah khasiat antioksidan dan antidiabetik umbi bawang dayak secara in vivo serta mengkaji keamanan konsumsinya pada tikus percobaan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan fungsional.
Bahan dan Metode Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hewan Percobaan, Pusat Teknologi Terapan dan Epidemiologi Klinik Bogor, Laboratorium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan SEAFAST Center IPB, dan Laboratorium Biokimia Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
24
Ekstraksi Umbi Bawang Dayak
Bahan tanaman yang digunakan adalah umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia) segar yang diperoleh dari Samarinda, Kalimantan Timur. Umbi yang digunakan adalah yang mempunyai ukuran panjang ± 5-7 cm dan lebar ± 1-2 cm. Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak air dan ekstrak etanol umbi bawang dayak. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan dua jenis pelarut yaitu pelarut air dan etanol. Umbi bawang dayak segar dihancurkan menggunakan blender (Philips) dengan menambahkan pelarut dengan perbandingan 1:4 (b:v). Kemudian larutan direndam selama tiga puluh menit di dalam sonikator (GFL 1092). Setelah itu larutan dikocok menggunakan shaker
incubator (Hitachi L-200) pada suhu ruang selama dua jam. Kemudian larutan
direndam kembali dalam sonikator selama tiga puluh menit dan selanjutnya disentrifus (Eppendorf 5810 R). Supernatan yang diperoleh kemudian disaring menggunakan kertas saring Whatman no 1. Larutan ekstrak selanjutnya dikeringkan menggunakan freeze dryer (Labconco Lyph.Lock 18) selama 2 x 24 jam.
Tikus Percobaan
Penelitian ini dilakukan sesuai dengan Guide for The Care and Use of
Laboratory Animals (NRC 2011). Ijin etik untuk penelitian menggunakan hewan
percobaan dikeluarkan oleh Komite Etik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan Ethical Approval Nomor: LB.02.01/5.2/KE-216/2013. Tikus
Sprague-Dawley jantan berusia sekitar 8 minggu dengan berat 180 sampai 200 g
didapatkan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Hewan dipelihara dengan kondisi standar laboratorium (26 °C, siklus 12 jam terang/gelap) dan diberi makan dan minum secara ad libitum. Ransum standar yang digunakan mengacu pada AOAC 2005.
Penentuan Dosis Percobaan
Dosis percobaan untuk tikus diabetes ditentukan dengan melakukan uji toleransi glukosa oral (Etuk 2010) dan dosis untuk tikus sehat adalah lima kali lebih besar dari dosis untuk tikus diabetes. Sebanyak 55 ekor tikus sehat dibagi menjadi 11 kelompok. Sebanyak lima kelompok menerima larutan ekstrak air dengan dosis 100, 200, 300, 400, dan 500 mg/kg BB; 5 kelompok menerima larutan ekstrak etanol dengan dosis 100, 200, 300, 400, dan 500 mg/kg BB; dan satu kelompok merupakan kelompok kontrol yang menerima 1 ml larutan akuades. Tikus dipuasakan semalam dan keesokan harinya dilakukan pengukuran glukosa darah. Ekstrak dan akuades diberikan dengan cara penyondean. Tiga puluh menit kemudian seluruh kelompok tikus mendapatkan penyondean larutan glukosa 50 % dengan dosis 2.5 g/kg BB dan diikuti dengan pengukuran glukosa darah setiap 30 menit selama dua jam. Dari data glukosa darah tersebut dapat dibuat kurva yang kemudian dihitung luas areanya. Dosis yang dipilih adalah kelompok dosis terendah yang memberikan luas area di bawah kurva signifikan lebih kecil dari kelompok kontrol.
25
Rancangan Percobaan
Tikus dibagi ke dalam tujuh kelompok masing-masing terdiri atas enam ekor. Kelompok 1 (KD) adalah tikus diabetes yang disonde dengan 1 ml akuades dan berlaku sebagai kontrol positif, kelompok 2 (DEA) adalah tikus diabetes yang disonde dengan ekstrak air umbi bawang dayak, kelompok 3 (DEE) adalah tikus diabetes yang disonde dengan ekstrak etanol umbi bawang dayak, kelompok 4 (KO) adalah tikus diabetes yang disonde dengan obat glibenclamide dosis 10 mg/kg BB dan berlaku sebagai kontrol obat, kelompok 5 (KS) adalah tikus non diabetes yang disonde dengan 1 ml akuades dan berlaku sebagai kontrol negatif, kelompok 6 (SEA) adalah tikus non diabetes yang disonde dengan ekstrak air umbi bawang dayak, dan kelompok 7 (SEE) adalah tikus non diabetes yang disonde dengan ekstrak etanol umbi bawang dayak. Kondisi diabetes dibuat dengan injeksi peritoneal senyawa aloksan monohidrat yang dilarutkan dalam NaCl fisiologis dengan dosis 110 mg/kg BB. Tikus dianggap diabetes bila kadar glukosa darah setelah tiga hari dari penyuntikan menunjukkan nilai di atas 200 mg dl-1. Penyondean ekstrak umbi bawang dayak dan akuades dilakukan setiap hari pada pukul 08.00 sampai 09.00 WIB selama 28 hari. Semua kelompok diterminasi pada hari ke-29 dengan cara anastesi menggunakan suntikan ketamine. Serum dan hati segera disimpan untuk dianalisis lebih lanjut.
Prosedur Analisis
Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan glucometer merk Accucheck (Roche, Jerman). Serum insulin diukur dengan teknik ELISA menggunakan rat insulin elisa kit (Biorbyt, UK). Triasilgliserol (TG), kolesterol total (TC), low density lipoprotein-cholesterol (LDL), high density lipoprotein-cholesterol (HDL) dianalisis menggunakan kit komersial merk Fluitest® (Analyticon Biotechnologist, Jerman). Kadar albumin, kreatinin, GPT, dan GOT serum diukur menggunakan kit komersial dari AMS International (UK). Kadar malonaldehid (MDA) hati diukur menggunakan metode Singh et al. (2002). Aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) serum diukur menggunakan metode Wijeratne et al. (2005). Aktivitas enzim katalase (CAT) serum diukur menggunakan metode Sinha (1972).
Penentuan aktivitas SOD (Wijeratne et al. 2005)
Campuran reaksi terdiri dari 1 ml hipoxantin 3 mM, 1 ml xantin oksidase 100 mIU, 1 ml diethylenetriaminepentaacetic acid 12 mM, 1 ml nitro blue tetrazolium 178 µM dan 1 ml serum. Semua larutan disiapkan dalam PBS. Absorbansi diukur pada menit ke 0 hingga 30 dengan interval 5 menit pada panjang gelombang 560 nm. Aktivitas SOD diukur menggunakan rumus [1 - (A/B)] × 100, di mana A adalah absorbansi sampel pada menit ke-30 dan B adalah absorbansi blanko pada menit ke-30.
Penentuan aktivitas katalase (Sinha 1972)
Sampel sebanyak 1 ml dicampurkan dengan 5 ml bufer fosfat 0.05M pH 7 dan divorteks. Selanjutnya ditambahkan 4 ml H2O2 0.2 M dan diinkubasi selama
26
30 detik. Larutan ini disebut larutan uji. Sebagai larutan standar adalah larutan H2O2 dengan konsentrasi 0, 0.04, 0.08, 0.12, 0.16, 0.2, dan 0.4M. Selanjutnya 1
ml larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 2 ml K2Cr2O7 5%. Tabung dipanaskan pada air mendidih selama 10 menit. Setelah
dingin absorbansinya dibaca pada panjang gelombang 570 nm. Absorbansi yang terbaca setara dengan konsentrasi H2O2 yang tersisa. Jumlah H2O2 yang terpakai
oleh katalase adalah 0.2 M – konsentrasi H2O2 terbaca. 1 unit aktivitas katalase
dinyatakan sebagai banyaknya H2O2 dalam mol yang digunakan oleh katalase tiap
menit.
Analisis Statistik
Analisis statistik yang dilakukan adalah one way ANOVA yang diikuti uji lanjut Duncan menggunakan perangkat lunak XLSTAT. Nilai P<0.05 dianggap sebagai signifikan secara statistik. Hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik dan tabel sebagai nilai rata-rata ± standar deviasi.
Hasil Penentuan Dosis Percobaan
Luas area di bawah kurva yang diperoleh melalui uji toleransi glukosa oral untuk ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak disajikan dalam Tabel 4. Analisis sidik ragam dan uji lanjut Duncan disajikan dalam Lampiran 11-12.
Tabel 4 Luas area di bawah kurva hasil uji toleransi glukosa oral ekstrak umbi bawang dayak pada tikus percobaan
Umbi bawang
dayak
Luas area di bawah kurva 0 mg/kg BB 100 mg/kg BB 200 mg/kg BB 300 mg/kg BB 400 mg/kg BB 500 mg/kg BB
Ekstrak air 6976 ± 798a 4590 ± 1423b 5022 ± 1330ab 3503 ± 1100b 4820 ± 1338b 4061 ± 1929b
Ekstrak etanol 6976 ± 798a 3585 ± 1016b 4555 ± 825b 3848 ± 1200b 4159 ± 2364b 4538 ± 1854b Rerata dengan notasi berbeda dalam baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05).
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa dosis terendah yang nyata lebih kecil dari kontrol untuk ekstrak air dan ekstrak etanol adalah 100 mg/kg BB. Dengan demikian dosis tersebut yang dipilih untuk diberikan pada tikus diabetes, dan untuk tikus normal diberikan dosis lima kali lebih besar yaitu 500 mg/kg BB. Berat Badan, Kadar Glukosa Darah dan Insulin Darah Tikus Percobaan
Pengaruh pemberian ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak terhadap perubahan berat badan disajikan pada Gambar 13. Analisis sidik ragam dan uji beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 13-16.
Pada hari ke-28 berat badan tikus kelompok KD menurun secara signifikan, sedangkan kelompok yang lain meningkat. Tidak terdapat perbedaan yang nyata untuk pertambahan berat badan antara tikus DEA, DEE, SEA dan SEE dengan kelompok tikus KS dan KO. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air, ekstrak etanol dan glibenclamide pada tikus diabetes selama 28 hari memberikan perubahan
27
berat badan yang sangat nyata lebih besar daripada tikus kontrol positif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol selama 28 hari kepada tikus non diabetes tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan berat badan.
Gambar 13 Perubahan berat badan tikus selama 28 hari percobaan. Kontrol positif (KD), tikus diabet disonde ekstrak air (DEA), tikus diabet disonde ekstrak etanol (DEE), kontrol obat (KO), kontrol negatif (KS), tikus sehat disonde ekstrak air (SEA), tikus sehat disonde ekstrak etanol (SEE).
Data rata-rata konsumsi pakan (KP) dan efisiensi pakan (EP) tikus percobaan disajikan pada Tabel 5. Analisis sidik ragam dan beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 18 dan 19.
Tabel 5 Konsumsi Pakan dan Efisiensi Pakan tikus percobaan yang diberi ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak
Kelompok Percobaan Konsumsi Pakan (g) Perubahan Berat Badan (g) Efisiensi Pakan (%)
Kontrol positif (KD) 523.30 ± 23.53a -12.60 ± 2.50 b -2.43 ± 0.59b
Diabet, ekstrak air (DEA) 486.90 ± 34.60a 53.90 ± 12.64a 11.16 ± 2.99a
Diabet, ekstrak etanol (DEE) 500.90 ± 36.53a 53.80 ± 9.58a 10.73 ± 1.69a
Kontrol obat (KO) 464.50 ± 34.81a 50.90 ± 9.48a 11.05 ± 2.60a
Kontrol negatif (KS) 504.82 ± 36.53a 59.10 ± 7.35a 11.83 ± 2.30a
Sehat, ekstrak air (SEA) 475.70 ± 34.60a 52.90 ± 5.17a 11.18 ± 1.49a
Sehat, ekstrak etanol (SEE) 479.34 ± 33.54a 53.60 ± 3.73a 11.25 ± 1.31a
Rerata dengan notasi berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01).
Tidak terdapat perbedaan yang nyata untuk jumlah pakan yang dikonsumsi antara seluruh kelompok tikus percobaan, namun efisiensi pakan kelompok tikus kontrol positif sangat nyata lebih rendah (p<0.01) dibandingkan dengan kelompok tikus yang lain.
Pengaruh pemberian ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak terhadap kadar glukosa darah tikus percobaan disajikan pada Gambar 14. Hasil analisis sidik ragam dan uji lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 20-27. Di awal penelitian kadar glukosa darah tikus KD, DEA, DEE dan KO sangat nyata lebih
28
tinggi dan berada di atas 200 mg dl-1 dibandingkan dengan kelompok KS, SEA dan SEE. Namun setelah 28 hari percobaan kadar glukosa darah kelompok DEA, DEE dan KO sangat nyata lebih rendah daripada tikus KD, bahkan untuk kelompok DEA dan DEE kadar glukosa darah berada di bawah 200 mg dl-1 sebagaimana yang dimiliki oleh kelompok KS, SEA dan SEE. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan ekstrak etanol tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar glukosa darah tikus non diabetes.
Gambar 14 Kadar glukosa darah tikus selama 28 hari percobaan. Kontrol positif (KD), tikus diabet disonde ekstrak air (DEA), tikus diabet disonde ekstrak etanol (DEE), kontrol obat (KO), kontrol negatif (KS), tikus sehat disonde ekstrak air (SEA), tikus sehat disonde ekstrak etanol (SEE).
Pengaruh pemberian ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak terhadap kadar insulin darah tikus percobaan disajikan pada Gambar 15. Analisis sidik ragam dan uji beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 29. Setelah 28 hari percobaan tikus kelompok KD memperlihatkan kadar insulin darah signifikan lebih rendah dari kelompok yang lain. Kelompok DEA, DEE dan KO meskipun kadar insulin darahnya tidak seperti pada kelompok KS namun memperlihatkan jumlah yang signifikan lebih besar dari kelompok KD.
Gambar 15 Kadar insulin darah tikus setelah 28 hari perlakuan. Kontrol positif (KD), tikus diabet disonde ekstrak air (DEA), tikus diabet disonde ekstrak etanol (DEE), kontrol obat (KO), kontrol negatif (KS), tikus sehat disonde ekstrak air (SEA), tikus sehat disonde ekstrak etanol (SEE). Notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (p<0.01). 0 100 200 300 400 500 600 0 4 8 12 16 20 24 28 ka da r gluk os a da ra h (mg dl -1) hari perlakuan KD DEA DEE KO KS SEA SEE c b b b a a a 0 0.5 1 1.5 2 2.5
29
Kadar Malonaldehid Hati, Aktivitas Enzim SOD dan Katalase Serum Tikus Percobaan
Aktivitas enzim SOD dan katalase serum, serta kadar malonaldehid hati setelah 28 hari percobaan disajikan pada Tabel 6. Analisis sidik ragam dan uji beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 30-32. Kadar MDA hati tikus kelompok KD sangat nyata lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Kadar MDA tikus kelompok DEA, dan DEE tidak berbeda nyata dengan tikus kelompok KS, SEA dan SEE. Meskipun kadar MDA tikus kelompok KO sangat nyata lebih rendah daripada kelompok KD namun juga sangat nyata lebih tinggi dari kelompok KS dan SEA. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan ekstrak etanol umbi bawang dayak, serta 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari menghasilkan kadar MDA hati pada tikus diabetes yang sangat nyata lebih rendah dibandingkan dengan tikus kontrol positif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar MDA hati tikus non diabetes.
Aktivitas SOD serum tikus kelompok DEA, DEE dan KO sangat nyata lebih tinggi dari kelompok KD dan tidak berbeda nyata dengan kelompok KO, KS dan SEA. Aktivitas katalase serum kelompok DEA dan DEE juga sangat nyata lebih tinggi daripada kelompok KD dan tidak berbeda nyata dengan kelompok KS, SEA dan SEE. Namun aktivitas katalase serum tikus kelompok KO tidak berbeda nyata dengan kelompok KD. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak, serta 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari menghasilkan aktivitas SOD serum pada tikus diabetes yang sangat nyata lebih tinggi daripada tikus kontrol positif, dan tidak berbeda nyata dengan tikus non diabetes. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak menghasilkan aktivitas katalase serum pada tikus diabetes yang sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan tikus kontrol obat dan tikus kontrol positif, dan tidak berbeda nyata dengan tikus non diabetes. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan ekstrak etanol umbi bawang dayak tidak berpengaruh terhadap aktivitas SOD dan katalase serum tikus non diabetes.
Tabel 6 Aktivitas SOD dan katalase serum, serta kadar MDA hati tikus percobaan
Kelompok percobaan MDA (nmol ml-1) Aktivitas SOD (%) Aktivitas Katalase (U ml-1)
Kontrol positif (KD) 160.27 ± 19.33a 16.00 ± 4.69b 179.75 ± 3.59b
Diabet, ekstrak air (DEA) 61.88 ± 6.57bc 42.75 ± 10.24a 195.00 ± 2.83a
Diabet, ekstrak etanol (DEE) 60.98 ± 9.16bc 39.00 ± 11.17a 193.00 ± 3.16a
Kontrol obat (KO) 78.93 ± 16.99b 38.00 ± 12.46a 185.50 ± 3.11b
Kontrol negatif (KS) 35.98 ± 6.15c 41.25 ± 2.63a 195.75 ± 2.06a
Sehat, ekstrak air (SEA) 37.05 ± 14.25c 46.25 ± 10.66a 195.00 ± 4.16a
Sehat, ekstrak etanol (SEE) 64.11 ± 15.34bc 40.50 ± 8.70a 195.25 ± 0.96a
Rerata dengan notasi berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01).
Profil Lipid Tikus Percobaan
Profil lipid serum tikus percobaan disajikan pada Tabel 7. Analisis sidik ragam dan uji beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 33-36. Kadar
30
kolesterol total dan LDL serum tikus KD sangat nyata lebih tinggi dibandingkan kelompok yang lain. Kadar kolesterol total serum tikus DEE sangat nyata lebih rendah dari tikus KO, KS dan SEE. Kadar LDL tikus DEA dan DEE sangat nyata lebih rendah daripada tikus KO.
Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak, serta 10 mg/kg BB selama 28 hari pada tikus diabetes memberikan kadar kolesterol total serum yang sangat nyata lebih rendah daripada tikus kontrol positif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol selama 28 hari tidak memberikan pengaruh terhadap kadar kolesterol total serum tikus non diabetes. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan etanol serta 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari pada tikus diabetes memberikan kadar kolesterol LDL serum sangat nyata lebih rendah daripada tikus kontrol positif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol selama 28 hari tidak memberikan pengaruh terhadap kadar kolesterol LDL serum tikus non diabetes. Pemberian ekstrak air dan etanol serta glibenclamide tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol HDL dan trigliserida serum tikus diabetes dan non diabetes.
Tabel 7 Profil lipida serum tikus percobaan
Kelompok percobaan Kolesterol total (mg dl-1) Kolesterol LDL (mg dl-1) Kolesterol HDL (mg dl-1) Trigliserida (mg dl-1)
Kontrol positif (KD) 134.65 ± 17.44a 130.05 ± 18.91a 85.80 ± 6.45a 52.25 ± 4.11a
Diabet, ekstrak air (DEA) 62.55 ± 11.53cd 32.70 ± 7.92c 63.70 ± 24.08a 54.75 ± 12.44a
Diabet, ekstrak etanol (DEE) 55.03 ± 15.92d 41.78 ± 10.72c 66.25 ± 20.66a 56.15 ± 9.25a
Kontrol obat (KO) 90.45 ± 6.25bc 77.33 ± 10.75b 79.85 ± 12.36a 63.65 ± 12.85a Kontrol negatif (KS) 89.95 ± 14.96bc 57.10 ± 8.36bc 78.00 ± 4.87a 75.25 ± 19.36a
Sehat, ekstrak air (SEA) 83.90 ± 7.64bcd 59.98 ± 19.56bc 72.60 ± 7.66a 77.33 ± 18.71a
Sehat, ekstrak etanol (SEE) 95.80 ± 23.94b 55.13 ± 17.30bc 72.78 ± 3.80a 73.18 ± 19.62a Rerata dengan notasi berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01).
Kadar Kreatinin, Albumin, GPT dan GOT Serum Tikus Percobaan
Kadar kreatinin, albumin, GPT dan GOT serum pada tikus percobaan setelah 28 hari perlakuan disajikan dalam Tabel 8. Analisis sidik ragam dan uji beda lanjut Duncan disajikan pada Lampiran 37-40.
Tabel 8 Kadar kreatinin, albumin, GOT dan GPT serum tikus percobaan
Kelompok percobaan Kreatinin (mg dl-1)* Albumin (g dl-1)** GOT (U l-1) GPT (U l-1)
Kontrol positif (KD) 1.18 ± 0.12a 2.71 ± 0.33c 74.90 ± 7.82a 31.85 ± 2.50a
Diabet, ekstrak air (DEA) 0.96 ± 0.07ab 4.16 ± 0.54abc 55.15 ± 17.35a 25.15 ± 1.50a
Diabet, ekstrak etanol (DEE) 0.72 ± 0.24b 4.69 ± 1.02ab 51.98 ± 7.80a 29.49 ± 4.78a
Kontrol obat (KO) 0.97 ± 0.07ab 3.01 ± 0.85bc 51.45 ± 18.57a 36.00 ± 8.80a
Kontrol negatif (KS) 0.93 ± 0.05ab 5.34 ± 0.19a 49.80 ± 5.24a 29.88 ± 1.45a
Sehat, ekstrak air (SEA) 0.91 ± 0.27ab 4.06 ± 0.99abc 47.88 ± 18.27a 26.20 ± 7.10a
Sehat, ekstrak etanol (SEE) 0.99 ± 0.18ab 3.80 ± 0.91abc 50.50 ± 10.86a 26.25 ± 4.35a
*
Rerata dengan notasi berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05). ** Rerata dengan notasi berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01).
31
Kadar kreatinin serum tikus KD nyata lebih tinggi daripada tikus DEE, namun tidak berbeda nyata dengan tikus kelompok lainnya. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak etanol umbi bawang dayak selama 28 hari pada tikus diabetes menghasilkan kadar kreatinin serum yang nyata lebih tinggi daripada tikus kontrol positif, kontrol obat dan tikus diabetes yang diberi ekstrak air, serta tidak berbeda nyata dengan tikus kontrol negatif. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air umbi bawang dayak dan 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar kreatinin serum tikus diabetes, tetapi juga tidak berbeda nyata dengan kadar kreatinin tikus kontrol negatif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak tidak berpengaruh terhadap kadar kreatinin serum tikus non diabetes.
Kadar albumin serum tikus KD sangat nyata lebih rendah daripada tikus DEE dan KS, namun tidak berbeda nyata dengan tikus kelompok lainnya. Kadar albumin serum tikus SEA dan SEE tidak berbeda nyata dengan tikus KS. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak etanol umbi bawang dayak selama 28 hari pada tikus diabetes menghasilkan kadar albumin serum yang sangat nyata lebih tinggi daripada tikus kontrol positif, dan tidak berbeda dengan kadar albumin serum tikus kontrol negatif. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air umbi bawang dayak selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar albumin tikus diabetes, tetapi juga tidak berbeda nyata dengan kadar albumin tikus kontrol negatif. Pemberian 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari juga tidak berpengaruh terhadap kadar albumin serum tikus diabetes, tetapi sangat nyata lebih rendah daripada kadar albumin serum tikus kontrol negatif. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar albumin tikus non diabetes.
Tidak terdapat perbedaan yang nyata untuk kadar GOT dan GPT serum pada seluruh kelompok tikus percobaan. Pemberian 100 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak serta 10 mg/kg BB glibenclamide selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar GOT dan GPT serum tikus diabetes. Pemberian 500 mg/kg BB ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak selama 28 hari tidak berpengaruh terhadap kadar GOT dan GPT serum tikus non diabetes.
Pembahasan
Menurut Prabhakar dan Doble (2008) kemampuan tanaman obat untuk meningkatkan homeostatis glukosa adalah melalui beberapa cara, yaitu modulasi glikolisis, siklus Krebs, glukoneogenesis, jalur heksosa monofosfat, sintesis dan degradasi glikogen, sintesis kolesterol, metabolisme dan penyerapan karbohidrat, atau sintesis dan sekresi insulin. Dalam penelitian in vitro telah dibuktikan bahwa ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak memiliki aktivitas inhibisi enzim alfa- glukosidase. Penghambatan aktivitas katalitik ini menyebabkan terhambatnya penyerapan glukosa dan penurunan kadar glukosa darah postpandrial (Dwek et al. 2002). Potensi ini telah dibuktikan dalam penelitian ini dimana kadar glukosa darah tikus yang diberi ekstrak air dan etanol umbi bawang dayak sangat nyata lebih rendah (P<0.01) daripada tikus kontrol positif. Hasil yang di dapat dalam penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kadar insulin tikus diabetes yang diberi ekstrak air dan etanol sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) daripada tikus kontrol positif (Gambar 15). Kemampuan ekstrak umbi bawang dayak dalam