• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan praktik.”

Dalam dokumen MATI ITU PASTI Ebook (Halaman 62-76)

~ Chuang

Gambar dan cerita oleh Chuang.

Terinspirasi dari buku “Cerah Setiap Hari”, Shen Shian, terbitan Ehipassiko Foundation, 2006.

Sebagian dari kita menjalani kehidupan dengan tanpa suatu gagasan yang jelas mengenai tujuan dan makna keberadaan kita. Kurangnya kejelasan ini bisa menjadi sebuah masalah seiring kita bertambah tua dan dekat dengan ajal. Karena pada saat-saat seperti itu, tatkala banyak dari kemampuan jasmani kita melemah, kita menjadi semakin bergantung kepada orang lain. Ketergantungan itu, jika tak disertai dengan suatu pengertian yang benar dan jelas mengenai apakah tujuan keberadaan kita, berpotensi menimbulkan banyak masalah seperti rasa frustrasi, depresi, dan rasa ketakbergunaan.

Jadi, sementara umur masih muda dan jasmani masih segar, penting untuk mencari tahu dan merenungi tujuan kehidupan. Apa makna menjalani kehidupan ini? Mengapa saya ada di sini? Apakah yang penting dan apa yang tidak penting? Ke manakah seharusnya kehidupan ini saya fokuskan sehingga dapat memberi kebahagiaan di sini (pada kehidupan ini) dan di sana (pada kehidupan mendatang)?

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut amat bergantung dari latar belakang keyakinan agama, pendidikan, dan budaya apa kita dibesarkan.

Menurut agama tertentu, tujuan kehidupan adalah untuk menjalani perintah dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan oleh sang pencipta. Imbalan dari kepatuhan ini berupa kebahagiaan dalam surga yang abadi. Ajaran lain menekankan pada mengisi kehidupan untuk berkarya di jalan yang direstui oleh sang pencipta itu, untuk menjalani kewajiban sebagai manusia sehingga kehadirannya di dunia dapat bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Bagi seorang umat Buddha, tujuan kehidupan amat jelas: untuk meraih keterbebasan sejati, suatu kebahagiaan ”tanpa tapi”. Tak

seperti ajaran-ajaran lainnya, Buddhisme dengan terus terang menganggap hidup adalah duka karena dalam kehidupan tidak ada sesuatu pun yang memuaskan. Tentu tidak berarti Buddhisme menganggap tak ada kebahagiaan yang dapat kita peroleh dalam kehidupan ini, tetapi bahwa kebahagiaan itu pun sendiri tidaklah memuaskan karena tidak kekal dan bersyarat. Kebahagiaan duniawi apa pun yang kita rasakan pada akhirnya pasti akan memudar, menghambar, dan manakala rasanya sudah tidak manis lagi, kita memerlukan “suntikan” kebahagiaan yang lebih besar lagi “dosis”-nya agar kita tetap bisa merasakan efek kesenangannya.

Sebagai contoh, ketika kita belum pernah menikmati enaknya makan nasi goreng, nasi goreng menjadi suatu tujuan kebahagiaan kita. Lalu, ketika pada suatu hari kita berhasil menikmatinya, kita merasakan kebahagiaan yang besar. Berikutnya, saat nasi goreng sudah menjadi menu sehari-hari kita, kesenangan yang awalnya mampu diberikannya tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa: rasa nikmatnya mulai menghambar karena efek dari adaptasi kesenangan, dan kita mulai menuntut menu lain yang lebih lezat. Ini mirip seperti keadaan seorang pencandu: demi meraih efek dari zat-zat yang mencandui itu, setiap kalinya kita harus terus menambah dosisnya.

Jadi tujuan keberadaan seorang umat Buddha di dunia ini bukanlah untuk meraih sebanyak mungkin kebahagiaan duniawi: kebahagiaan duniawi hanyalah bonus dan sarana untuk mencapai kebahagiaan yang lebih halus, suatu jenis kebahagiaan yang tak bersyarat dan karenanya tak akan pernah memudar. Kehidupan seorang umat Buddha sejati dipusatkan pada segala upaya untuk meraih kebahagiaan ini.

Untuk itu, bagi umat Buddha, kesempatan terlahir sebagai seorang manusia amatlah sangat berharga sekali. Keberhargaan itu dinilai berdasarkan dua kenyataan:

mengumpamakannya seperti seekor penyu buta yang muncul 100 tahun sekali ke permukaan laut dan begitu muncul, kepalanya tepat masuk ke sebuah gelang yang mengapung terombang-ambing. Seberapa besar kemungkinan si penyu berhasil?

2) Alam manusia adalah kondisi paling pas untuk melatih diri. Alam-alam surga memiliki terlalu banyak kesenangan yang sangat mungkin membuat para penghuninya terlena dan mabuk akan rasa bahagia. Sedangkan alam neraka dan alam-alam bawah lainnya memiliki terlalu banyak penderitaan yang membuat kita selalu menderita sehingga kita merasa putus asa, tak ada kesempatan yang cukup untuk melatih diri dalam kebajikan dan kebijaksanaan. Sebagai manusia, kadar duka dan suka yang kita alami dapat dikatakan berimbang dibandingkan dengan kesenjangan yang ekstrem di alam-alam lainnya.

Persiapan Duniawi

Selain secara spiritual, kita perlu juga mempersiapkan hal-hal yang bersifat duniawi untuk dapat menghadapi kematian dengan tenang dan bahagia. Persiapan duniawi ini lebih menyangkut hal-hal yang melibatkan keluarga kita atau orang-orang yang berada dalam lingkaran kehidupan keseharian kita.

Surat Wasiat

Surat wasiat adalah suatu pernyataan tertulis yang dibuat oleh seseorang yang berisikan petunjuk-petunjuk mengenai apakah yang diinginkan oleh yang bersangkutan apabila dia meninggal dunia. Petunjuk-petunjuk ini biasanya berkaitan dengan harta benda yang ditinggalkan, cara atau ritual kematian yang dimauinya, dan pesan-pesan terakhir untuk keluarga atau lingkaran terdekatnya.

Menulis surat wasiat sangatlah bermanfaat mengingat bahwa ketika seseorang meninggal dunia ada potensi masalah yang mungkin ditinggalkannya untuk keluarga atau orang-orang terdekatnya. Seperti misalnya tentang siapa yang berhak mendapatkan harta waris yang mana dan bagaimana, atau apakah mendiang ingin diadakan ritual kematian sesuai tradisi setempat atau menurut agama yang dianutnya, apakah dikubur atau dikremasi, dan sebagainya. Andai ada surat wasiat, maka kemungkinan masalah tak akan timbul karena semua orang bisa mengetahui apakah yang menjadi keinginan atau pesan mendiang. Ditambah dengan kenyataan bahwa secara umum semua ajaran menekankan penganutnya untuk menghormati apa pun yang menjadi keinginan terakhir dari orang yang meninggal sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran itu dan hukum yang berlaku, maka perlunya membuat sebuah surat wasiat demi mencegah konflik yang mungkin muncul karena kematian seseorang.

Meskipun demikian, tetap saja ada pandangan yang menganggap membuat surat wasiat itu tabu karena seolah-olah dengan membuat surat wasiat atau meminta seseorang membuat surat wasiat, kita mengharapkan kematiannya. Sebenarnya tidaklah demikian. Kita semua tentu sepakat bahwa kematian itu tidak dapat dipastikan datangnya. Kasus-kasus di mana seseorang meninggal dunia dengan mendadak bukanlah kasus yang langka. Seperti kasus yang menimpa Michael Jackson dan Whitney Houston, artis penyanyi terkenal dari Amerika Serikat yang meninggal secara mendadak. Keluarga mereka tidak sampai bertikai karena harta warisan karena adanya kepastian berupa surat wasiat yang telah mereka buat jauh-jauh hari. Dengan begitu, surat wasiat sesungguhnya amatlah penting dibuat jika kita ingin keluarga yang kita tinggalkan memiliki kepastian tentang hal-hal yang kita inginkan demi mereka.

Tentang metodenya, surat wasiat dapat dibuat dalam 2 cara, yakni dinotariskan atau bawah-tangan. Surat wasiat yang dibuat dalam

didaftarkan di Balai Harta Peninggalan di bawah Departemen Hukum dan HAM. Kekuatan hukum akta wasiat ini tidak dapat dibatalkan secara sepihak, melainkan harus melalui putusan pengadilan. Singkatnya, wasiat yang melalui akta wasiat lebih menjamin secara hukum, baik bagi yang mengeluarkan wasiat maupun bagi yang menerima wasiat.

Surat wasiat yang dibuat bawah-tangan tentunya cukup ditandatangani oleh pembuat wasiat dan dilengkapi tanda tangan para saksi minimal 2 orang. Secara hukum, surat wasiat bawah-tangan ini tidak memberikan jaminan hukum karena dapat dibatalkan secara sepihak. Lagi pula, cara itu sudah banyak ditinggalkan mengingat rawan terhadap konflik hukum yang timbul pada kemudian hari.

Dalam surat wasiat, baik yang dibuat di notaris maupun bawah-tangan harus menunjuk seseorang atau lebih sebagai pelaksana dari wasiat tersebut. Kepada para pelaksana wasiat, pewaris dapat memberikan penguasaan atas semua barang dari harta peninggalan, atau bagian tertentu daripadanya. Penguasaan itu meliputi barang-barang tetap maupun barang-barang bergerak. Berdasarkan Pasal 1007 KUHPerdata, penguasaan itu menurut hukum tidak akan berlangsung lebih lama daripada 1 tahun, terhitung dari hari ketika para pelaksana dapat menguasai barang-barang itu.

Asuransi Jiwa

Asuransi adalah sebuah perjanjian hukum antara perusahaan asuransi dengan pihak yang menggunakan asuransi. Pihak pengguna asuransi ini adalah orang-orang yang memiliki risiko yang sama dan sepakat menunjuk sebuah perusahaan asuransi untuk menanggung risiko yang sewaktu-waktu bisa terjadi dalam kehidupan mereka. Perjanjian dengan perusahaan asuransi ini disebut kontrak asuransi,

dan bentuk tercetaknya (bentuk fisiknya) yang berfungsi sebagai bukti perjanjian antara pihak Penanggung (perusahaan asuransi) dan pihak Tertanggung (pengguna asuransi) disebut polis asuransi. Melalui perjanjian ini Tertanggung wajib membayar sejumlah dana secara berkala yang disebut premi kepada Penanggung yang besarnya sesuai dengan yang telah ditentukan dalam kontrak asuransi.

Dalam keseharian, asuransi ada banyak macam menurut jenis pertanggungannya. Ada asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, kecelakaan kerja, kebakaran, kehilangan, dan juga asuransi mobil. Bahkan ada pula asuransi khusus yang hanya menanggung bagian-bagian tertentu dari tubuh seseorang yang dianggap sebagai aset berharga. Misalnya asuransi pita suara untuk para penyanyi, asuransi jemari tangan untuk para pelukis dan ahli bedah.

Selain jenis pertanggungannya, asuransi juga dibedakan dengan asuransi murni dan asuransi plus investasi atau biasa disebut unit-link. Asuransi murni semata-mata hanyalah asuransi, tidak ada nilai investasi atau imbal hasil yang diberikan selain manfaat berupa uang pertanggungan. Untuk unit-link atau asuransi yang juga investasi, pemegang polis mendapat kesempatan menikmati hasil investasi yang dipilihnya. Jadi, dari uang premi berkala yang dibayarkan, sekian bagian dari dana itu oleh perusahaan asuransi akan diinvestasikan ke pasar modal berupa saham, atau deposito atau lainnya tergantung kesepakatan.

Memiliki asuransi jiwa dengan memegang minimal 1 polis jelas merupakan sebuah tindakan bijak dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mengapa?

Bukan, bukan karena dengan memiliki asuransi jiwa kita terlindung dari kematian dalam arti Raja Kematian tidak akan bisa mencabut

menunjukkan suatu kepedulian atau rasa tanggung jawab terhadap keluarga atau orang-orang terdekat yang kita tinggalkan ketika kita harus “pindah alamat” ke alam lain. Dengan memiliki asuransi jiwa berarti pihak perusahaan asuransi wajib membayarkan uang pertanggungan sejumlah tertentu, sesuai kesepakatan yang tertera dalam kontrak antara kita dengan mereka, kepada para ahli waris yang telah kita tentukan. Dengan demikian, misalnya jika kita adalah tulang punggung keluarga, pencari nafkah satu-satunya atau yang utama, maka keluaga kita tetap dapat menjalani kehidupan tanpa harus cemas akan biaya-biaya hidup karena uang pertanggungan yang kita wariskan kepada mereka itu akan cukup untuk itu.

Kini, setelah mengetahui manfaat memiliki asuransi, karena kontrak asuransi adalah kontrak yang berdurasi panjang dan melibatkan dana yang kadang tidak sedikit, kita perlu cermat memilih perusahaan asuransi yang dapat dipercaya. Untuk membantu memilih perusahaan asuransi yang dapat dipercaya, berikut ini tip-tip dari Eko Endarto, seorang Perencana Keuangan, seperti yang dikutip dari Tabloid Kontan edisi April 2008, sebagai berikut:

1. Reasuransi

Reasuransi secara gampang bisa diartikan sebagai perusahaan asuransinya perusahaan asuransi. Artinya perusahaan asuransi dalam kegiatan operasionalnya, untuk mengurangi risiko yang juga bisa terjadi padanya, mengasuransikan juga risiko tersebut kepada perusahaan asuransi lainnya yang biasanya perusahaannya lebih besar. Jadi perhatikan hal ini, tanyakan apakah perusahaan asuransi yang akan Anda ambil memiliki perusahaan reasuransi. Ini penting bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap perusahaan asuransi pilihan Anda, ada perusahaan lain yaitu perusahaan reasuransi tadi yang menjamin kelangsungan hak Anda atas proteksi maupun kewajiban pembayaran premi Anda. Penting juga Anda

harus mengenal pihak manajemen perusahaan agar jika terjadi sesuatu, informasinya tetap bisa Anda dapatkan.

2. Usia

“Makin tua usia, seharusnya akan makin matang seseorang”. Walaupun sepertinya terlalu klise, tapi harus diakui usia cukup berpengaruh. Sebuah perusahaan asuransi yang berusia lebih tua daripada perusahaan lainnya bisa diartikan bahwa perusahaan tersebut memiliki modal yang cukup kuat sehingga sampai usia yang cukup tinggi tetap eksis. Selain itu juga menggambarkan bagaimana cara manajemen mengelola dana nasabahnya. Dengan makin tua usianya, dapat diartikan bahwa perusahaan mampu mengelola dana tersebut dengan optimal, baik itu untuk mendapatkan hasil bagi pengembangan perusahaan maupun manajemen risiko yang terukur untuk menjamin hak-hak nasabahnya. Secara logika saja, mana mungkin dia bisa bertahan lama bila tidak bisa mengatur keuangannya dengan baik.

3. Keuangan

Kalau bicara tentang perusahaan keuangan, tidak lengkap kalau tidak berbicara tentang keuangannya. Dalam perbankan kita cukup paham dengan pengukuran kesehatan bank yang namanya CAR. Di asuransi, tingkat kesehatan keuangannya biasa diukur dengan RBC atau Risk Based Capital. Tingkat RBC yang bisa dibilang sehat adalah jika RBC-nya lebih besar dari 120%. Tapi tentu saja, makin besar pasti makin baik. Bandingkan hal ini dalam memilih perusahaan asuransi karena RBC ini menggambarkan bagaimana perusahaan mengelola keuangannya sebaik dan seaman mungkin. Harus diingat, bila kita mengambil asuransi, berarti kita akan berbicara mengenai kontrak jangka panjang.

4. Nasabah

makin banyak nasabah maka makin baik-lah perusahaan asuransi itu. Kenapa demikian? Karena makin banyaknya nasabah akan memperlihatkan tingkat pelayanan yang telah dilakukan perusahaan. Hal ini dapat berarti bagaimana perhatiannya terhadap nasabah, kemudahan klaim, dan tentu saja keamanan dana yang dipercayakan. Kalau Anda akan memilih perusahaan asuransi asing yang beroperasi di Indonesia, tanyakan juga berapa banyak nasabah lokal yang dimiliki dan tersebar di berapa kota. Hal ini penting karena bisa saja terjadi walaupun di luar negeri mereka menjadi kepercayaan, namun di Indonesia mereka kurang. Tingkat penyebaran juga menunjukkan bagaimana luasnya tingkat pelayanan yang mereka berikan. Tingkat penyebaran ini penting khususnya untuk Anda yang memilih asuransi kesehatan. Sebab tidak lucu kan kalau dalam perjalanan ke suatu kota dan Anda sakit, ternyata harus kembali ke kota asal untuk rawat inap.

5. Keluhan

Sebagai tambahan, mungkin hal ini bisa Anda lakukan, lakukan selalu cross check kepada pihak luar terhadap rencana pilihan Anda. Pihak yang utama harus Anda hubungi adalah nasabah kalau memungkinkan, pihak ketiga yang menjadi penghubung misalnya bank atau rumah sakit jika itu asuransi kesehatan, dan tidak menutup kemungkinan ada bagusnya Anda bertanya kepada para

independent financial planner Anda. Lebih bagus menerima masukan dari banyak sisi dibandingkan dari satu sisi; apalagi bila satu sisi itu hanya dari sisi perusahaan. Atau kalau mau mudah, cermati saja berapa banyak keluhan yang dilakukan nasabah mereka di media massa dalam 6 bulan terakhir. Sebab biasanya dari banyaknya orang yang mengeluh, sekitar 20% biasanya mengungkapkannya di media massa koran atau internet. Ketika saya mengetik keyword ”asuransi + keluhan”, yang saya peroleh adalah lebih dari 5.000 artikel yang

berisikan kata ”asuransi” dan ”keluhan” dari konsumen terhadap perusahaan asuransinya. Jadi jangan malas untuk membandingkan.

Akhirnya, sama seperti pemilihan barang ataupun jasa lainnya, Anda semua sebaiknya memiliki dasar yang kuat dalam melakukan pilihan. Yang utama memang adalah selalu pilih produk yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Namun itu saja tidak cukup. Pilih juga dengan benar perusahaan yang menyediakan barang atau jasa tersebut. Walaupun barangnya bagus, tapi si penyedia tidak bagus, percuma juga. Jadi mulai saat ini jangan lagi memilih perusahaan asuransi hanya karena kenal kepada si penjual, apa lagi karena merasa tidak enak karena tidak beli. Minimal bandingkan 5 hal di atas sebagai alasan dalam memilih atau menolaknya.

Lalu, setelah menentukan perusahaan asuransi yang sesuai, kita tidak bisa langsung membeli asuransi. Kita harus mencari agen asuransi, orang yang kepada siapa kita akan berurusan dalam hal pembelian asuransi dan hal-hal lainnya yang merupakan ikutannya. Jadi, di sini agen asuransi adalah perantara antara kita dengan perusahaan asuransi. Untuk memilih agen asuransi yang terpercaya dan dapat diandalkan, berikut tip-tip yang dikutip dari solusiasuransi.com, sebagai berikut:

1. Pilihlah agen yang berintegritas

Integritas seorang agen asuransi jauh lebih penting daripada semua hal lain. Banyak fitur dalam polis asuransi yang cukup kompleks dan tidak semuanya sama pentingnya. Beberapa agen merekomendasikan produk tertentu tanpa alasan lain kecuali ingin mendapatkan komisi yang lebih tinggi. Tidak sedikit pula agen asuransi yang “hit and run”, hanya bagus ketika menjual, namun tidak begitu peduli dengan layanan purnajual. Carilah orang yang akan bertindak sebagai mitra Anda, memberikan informasi tambahan, mengusulkan alternatif, dan tidak memaksa Anda

tekanan untuk cepat membeli, beralihlah ke orang lain. Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan agen yang bagus adalah meminta referensi dari teman-teman, anggota keluarga, rekan kerja, atau profesional lain yang pernah bekerja sama dengan Anda (konsultan pajak, bankir, notaris, dll). Jika agen asuransi yang mendatangi Anda, mintalah referensi para nasabah yang telah dilayaninya. Anda bisa mengecek rekam jejak sang agen dari nasabah-nasabahnya.

2. Pilihlah agen yang profesional

Anda perlu memastikan bahwa agen yang Anda pilih memiliki keahlian untuk memenuhi kebutuhan Anda:

· Periksa lisensi agen

Agen asuransi jiwa harus memiliki lisensi dari AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) untuk bisa menjual produk asuransi. Agen yang menjual produk asuransi unit-link harus memiliki tambahan lisensi khusus. Untuk mendapatkan lisensi-lisensi ini, seorang agen harus lulus dalam sejumlah ujian kompetensi di bidangnya. Agen yang tidak berlisensi dapat menyampaikan informasi produk yang tidak akurat atau menyesatkan kepada nasabahnya.

· Ketahui spesialisasi agen

Beberapa agen mengkhususkan diri dalam asuransi jiwa tradisional, sedangkan yang lain mungkin lebih mendalami bidang  asuransi jiwa unit-link, asuransi kumpulan, atau asuransi kesehatan.

· Ketahui kualifikasi agen

Gelar profesional seperti Chartered Life Underwriter (CLU), Chartered Financial Consultant (ChFC), Certified Financial Planner (CFP) dan Life Underwriter Training Council Fellow (LUTCF) menunjukkan bahwa agen tersebut telah menyelesaikan pelatihan lanjutan, lulus ujian yang ketat dan serius dengan pengembangan profesinya. Seorang agen yang menjadi anggota Million Dollar Round Table (MDRT) berarti telah

memasuki jajaran elit agen papan atas. Mereka pasti telah memiliki daftar nasabah yang panjang, pengalaman yang lama dan mengikuti kode etik profesi yang ketat.

3. Pilihlah dari beberapa agen

Bila perlu, temuilah secara langsung setidaknya dua agen asuransi agar dapat melakukan perbandingan dalam hal kualifikasi dan karakter agen serta kesesuaian produk yang ditawarkan. Tidak ada yang dapat menggantikan kontak langsung dalam menilai seseorang. Agen yang baik akan tekun mendengarkan dan mengajukan pertanyaan tentang situasi Anda dan membantu menyusun solusi asuransi yang tepat untuk kebutuhan spesifik Anda. Jika Anda tidak nyaman dengan agen Anda setelah bertatap muka, atau Anda tidak yakin dia menyediakan layanan yang Anda inginkan, carilah agen lain.

Dengan ini saya, Jomblo, menyatakan bahwa, apabila saya meninggal, saya ingin:

Jenazah saya untuk bedah kedokteran. Setelah selesai, silakan dikremasi. Papa mendapat laptop saya. Mama boleh ambil tabungan saya. Maymay saya berikan koleksi buku-buku saya. Boleh menangis tapi maksimal 15 menit saja. Gembul dapat sepatu saya (silakan digigit sampai puas).

Tertanda, Jomblo

Saya hanya sedang praktik saran dari buku “Mati Itu Pasti”. Katanya hidup itu

tidak pasti tapi mati itu pasti. Bisa saja setelah

ini saya mati. Siapa yang tahu?

Makanya kita perlu siap-siap!

Serius

ya? Mode: ONNgoepil

Serius donk!

Gawat nih!

Hiks...

Kakak!

“Untuk kehidupan yang tak

Dalam dokumen MATI ITU PASTI Ebook (Halaman 62-76)

Dokumen terkait