• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Sarana dan

prasarana 4. Stok alat

Kontrasepsi (peralatan)

Proses : 1. Perencanaan 2. Penyuluhan 3. Pemberian alat

kontrasepsi 4. Konseling 5. Monitoring

Output :

Cakupan peserta KB

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap informan untuk mendapatkan data dan informasi secara jelas dan tepat terkait pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang (Notoadjmodjo,2002).

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sei Semayang Kecamatan Sunggal, karena Puskesmas Sei Semayang merupakan salah satu kecamatan dengan pencapaian KB aktif yang paling rendah.

Waktu penelitian. Waktu penelitian akan dilaksanakan dimulai dengan survei pendahuluan sampai penelitian yang dimulai pada bulan Januari 2019 sampai Oktober 2019.

Subjek Penelitian

a. Kepala Puskesmas Sei Semayang

b. Penanggung jawab program KB di Puskesmas Sei Semayang c. PLKB Kecamatan Sunggal

d. Peserta KB e. Non Peserta KB Definisi Konsep

Untuk mempermudah penelitian, ada beberapa defenisi konsep yang harus diketahui antara lain :

22

a. Sumber daya manusia sangat penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efesien. Sumber daya manusia diperlukan untuk menunjang terlaksananya suatu program, seperti Kepala Puskesmas, tenaga kesehatan bagian KB di Puskesmas, PLKB di Kecamatan.

b. Dana adalah sejumlah uang/transaksi yang digunakan dalam pelaksanaan Program KB di Puskesmas Sei Semayang.

c. Sarana dan prasarana termasuk didalamnya mobil layanan KB, kartu peserta KB, dan ruangan khusus untuk program KB yang mendukung terlaksananya penatalaksanaan program KB.

d. Stok alat kontrasepsi merupakan persediaan alat kontrasepsi yang disediakan puskesmas sesuai keinginan masyarakat.

e. Perencanaan adalah suatu kegiatan yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan program KB di Puskesmas Sei Semayang.

f. Penyuluhan dilakukan untuk memberikan arahan dan pelayanan ke masyarakat agar mendukung terlaksananya program keluarga berencana.

g. Pemberian alat kontrasepsi merupakan kegiatan yang dilakukan puskesmas untuk mendukung terlaksananya program KB.

h. Konseling merupakan suatu bentuk komunikasi interpersonal yang khusus yaitu suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan kepada klien untuk memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya melalui pemahaman terhadap klien meliputi fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.

i. Monitoring adalah upaya supervisi dan review kegiatan yang diakukan secara sistematis oleh pengelola program untuk melihat apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan yang direncanakan.

Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dengan berpedoman pada panduan wawancara yang telah dipersiapkan untuk menggali variabel-variabel penelitian. Observasi adalah cara memperoleh data tentang fakta yang sebenarnya terjadi. Teknik pengumpulan data dengan dokumen merupakan pelengkap dan penggunaan metode wawancara dan observasi juga untuk melakukan penelusuran dokumen-dokumen yang terkait dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2012).

Metode Analisis Data

Data yang telah terkumpul dianalisis secara manual, yaitu dengan menuliskan hasil penelitian dalam bentuk tabel hasil wawancara mendalam, kemudian meringkasnya dalam bentuk matriks yang disusun sesuai bahasa baku jawaban informan. Ringkasan ini kemudian diuraikan kembali dalam bentuk narasi dan melakukan penyimpulan terhadap analisa yang telah di dapat secara menyeluruh (Hamidi, 2010).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Geografis. Puskesmas Sei Semayang yang terletak di Jalan Binjai Km.15 Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang dengan luas wilayah 20,98 km² dan batas wilayah sebagai berikut:

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Madya Binjai.

 Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Puji Mulia.

 Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Hamparan Perak.

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sei Mencirim.

Puskesmas Sei Semayang memiliki luas wilayah 20,98 km² yang terbagi atas 3 wilayah kerja yaitu : Desa Sei Semayang, Desa Sumber Melati Diski (S.M.

Diski) dan Desa Serbajadi.

Demografis. Berdasarkan profil Puskesmas Sei Semayang pada tahun 2017 Penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sei Semayang pada tahun 2016 berjumlah 44.939 jiwa dengan rincian, yang terdiri dari:

 Laki-laki = 22.476 jiwa

 Perempuan = 22.463 jiwa

Dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 10.338 KK.

Tabel 1

Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Semayang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Desa Jumlah Penduduk Jumlah KK

Sei Semayang 27.872 6.302

S.M. Diski 13.951 3.012

Serbajadi 3.116 1.527

Jumlah 44.939 10.338

Sumber: Profil Puskesmas Sei Semayang tahun 2017

Sumber daya manusia. Puskesmas Sei Semayang memiliki jumlah tenaga kesehatan sebanyak 39 orang yang terdiri dari:

Tabel 2

Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jabatan di Puskesmas Sei Semayang

Tenaga Kesehatan Jumlah

Tenaga Ahli Kesehatan Masyarakat 3

Jumlah 39

Sumber: Profil Puskesmas Sei Semayang tahun 2017

Karakteristik Informan

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara terhadap informan yang dijadikan narasumber penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang. Adapun informan tersebut yaitu: 1 orang kepala Puskesmas, 1 orang penanggung jawab program KB di Puskesmas Sei Semayang, 1 orang PLKB, 5 orang peserta KB, 3 PUS yang bukan peserta KB. Adapun karakteristik informan berdasarkan hasil penelitian dapat terlihat pada tabel 3

26

Umur Pendidikan Jabatan Dr. Ni Putu Yurizka Perempuan 32 S-1 Kepala Puskesmas

Sei Semayang Risnawati Br. Tarigan Perempuan 50 D-IV Penanggung Jawab

Program KB di

Mulianita Damanik Perempuan 41 SMP Bukan Peserta KB

Sulastri Perempuan 33 SMK Bukan Peserta KB

Nurmala Br. Ginting Perempuan 44 SMA Bukan Peserta KB Masukan (Input)

Masukan merupakan elemen yang diperlukan untuk berfungsinya sebuah sistem (Notoadtmodjo, 2007). Beberapa aspek yang dikatagorikan sebagai masukan (input) dalam program keluarga berencana yaitu SDM, Dana, Sarana dan prasarana serta stok alat kontrasepsi (Peralatan).

Sumber Daya Manusia (SDM)

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti mengenai sumber daya manusia dalam pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang maka diperoleh informasi sebagai berikut:

“dibagian program KB ada 4 orang, 1 penanggung jawab dan selebihnya bidan pelaksana” (informan 1)

“kami ada empat orang nak, menurut saya itu udah cukup tugas kami kan untuk membantu pemasangan alat kontrasepsi dan

membantu pelaksanaan program KB itu kan untuk yang dipuskesmas aja kalau untuk turun kelapangan dibantu dari kecamatan” (informan 2)

Makna yang terkait sumber daya manusia diatas, menunjukkan bahwa puskesmas memiliki ketersediaan sumber daya manusia yang menangani bagian KB sebanyak 4 orang yaitu bagian KIA/KB dan itu sudah mencukupi karena tenaga kesehatan tersebut sudah berpengalaman di bidangnya. Kedua bagian ini saling bekerja sama dan jika turun kelapangan dibantu dari kecamatan dalam menjalankan program KB di wilayah kerja Puskesmas Sei Semayang tersebut.

Menurut Undang-Undang Tentang Tenaga Kesehatan Nomor 36 Tahun 2014, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Menurut Hidayah (2012) sumber daya manusia menjadi sumber daya utama dalam mengimplementasikan sebuah program/kebijakan. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi salah satunya disebabkan oleh staff yang tidak memadai atau mencukupi bahkan tidak berkompeten di bidangnya. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan tiga, PLKB yang ada di Kecamatan Sunggal belum menjangkau seluruh masyarakat desa, hal ini diakibatkan kurangnya jumlah PLKB yang tersedia. Dapat dilihat dari pernyataan ini :

“kami ada tujuh orang nak, kami menyuluh dilapangan dan pencatatan pelaporan masing-masing penanggung jawabnya di daerah binaan masing-masing, kalau menurut peraturan idealnya sih PLKB membina satu sampai dua desa, kecamatan ini ada

28

tujuh belas desa jadi kami membina 2 sampai 3 desa”(informan3)

kegiatan yang dilakukan PLKB dapat dilihat dari pernyataan ini:

“kegiatan yang kami lakukan yaitu penyuluhan, pencatatan dan pelaporan kadang kami melakukan penyuluhan gabung dengan puskesmas, tugas kami hanya mencari akseptor yang akan kami kirim ke puskesmas nak” (informan 3)

Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui bahwa jumlah PLKB yang ada di Kecamatan Sunggal berjumlah tujuh orang dan memiliki tujuh belas desa binaan dan menurut mereka itu belum cukup. PLKB merupakan ujung tombak penyuluhan KB yang langsung berhubungan dengan masyarakat didesa/kelurahan binaannya, jumlah PLKB yang kurang menimbulkan beban kerja yang terlalu banyak terhadap satu orang PLKB mulai dari penyuluhan, pelayanan, pelaporan, evaluasi dan pengembangan KB. Beban kerja sebanyak itu tentunya mempengaruhi pelaksanaan program KB menjadi kurang maksimal.

Sumber daya adalah kecukupan baik kualitas maupun kuantitas implementor yang dapat melengkapi seluruh kelompok sasaran serta sarana dan prasarana. Sumber daya manusia sangat penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Sumber daya manusia diperlukan untuk menunjang terlaksananya suatu program. Sebuah program akan dapat berhasil jika didukung oleh sumber daya yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dapat melengkapi seluruh kelompok sasaran.

Sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan pelaksanaan program keluarga berencana meliputi penanggung jawab program KB dengan latar belakang D-IV Kebidanan, serta petugas lapangan program keluarga berencana (PLKB) yang berlatar belakang SMA. SDM memiliki perannya masing-masing

dalam melaksanakan kegiatan program keluarga berencana. Misalnya kegiatan penyuluhan, kegiatan ini dilaksanakan langsung PLKB yang kadang dibantu oleh petugas KB.

Sumber daya manusia merupakan sumber daya penggerak utama yang sangat dibutuhkan tenaganya dalam setiap program yang akan dijalankan.

Ketersediaan sumber daya manusia untuk tenaga di puskesmas dalam pelaksanaan program keluarga berencana sudah cukup namun petugas lapangan program keluarga berencana masih kurang yang membuat petugas belum menjangkau keseluruh masyarakat. Seharusnya jumlah PLKB ditambah agar tugas yang diberikan tidak terasa terlalu berat sehingga mampu melaksanakan secara maksimal.

Tersedianya tenaga kesehatan yang cukup merupakan salah satu faktor keberhasilan suatu program. Tenaga kesehatan yang kurang terampil menjadi salah satu penyebab pekerjaan tidak terselesaikan secara optimal. Sebagaimana hasil wawancara dibawah ini :

“kalau pelatihan untuk petugas ada nak paling pemasangan alat kontrasepsi aja itu pun jarang dilakukan nak” (informan 2)

Hasil wawancara terhahap informan 2 diperoleh informasi bahwa mereka sudah lama tidak mendapatkan pelatihan, karena sudah lama jadi mereka lupa kapan terakhir mendapatkan pelatihan. Berbeda dengan petugas KB di puskesmas, PLKB di Kecamatan sering mendapatkan pelatihan sebagaimana hasil wawancara dibawah ini:

“kalau pelatihan banyak dan sering juga seperti LDU(Latihan Dasar Umum), PLKL (Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga) UPGK (Upaya Perbaikan Gizi Keluarga), UPPKS

30

dan lain-lain”(informan 3)

Pelatihan sangat penting untuk mendorong sikap dan perilaku tenaga kesehatan dan para tenaga lain agar mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik untuk mencapai kesehatan yang optimal. Keadaan ini sejalan dengan penelitian Juliani dkk (2012) pelatihan sangat penting untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja dan meningkatkan kinerja pegawai.

Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sumber daya manusia dalam program KB di Puskesmas Sei Semayang dari segi kuantitas sudah cukup akan tetapi jarang mendapatkan pelatihan dan PLKB di Kecamatan Sunggal sudah memiliki kualitas yang cukup baik serta sering mendapatkan pelatihan namun dari segi kuantitas PLKB yang ada belum mencukupi karena hanya ada 7 orang dan memiliki 17 desa binaan.

Dana. Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai sumber pendanaan yang ada di Puskesmas Sei Semayang untuk melakukan Pelaksanaan program KB, maka diperoleh informasi sebagai berikut :

“tidak ada dana yang disediakan puskesmas untuk program KB”

(informan 1)

“dana dari puskesmas untuk penyediaan alat kontrasepsi tidak ada, semua dari PLKB tetapi kalau mau turun kelapangan biasaya diberikan dari BOK nak itu biasanya kayak penyuluhan tentang KB, penyuluhan kesehatan reproduksi, POKMAS gitu la nak” (informan 2)

“ada dari BOKB sebenarnya tidak cukup tapi ya dicukup cukupkan saja nak kan saya punya gaji, kalau sistem pendanaan untuk program KB biasanaya dari APBD/APBN” (informan 3)

Dalam melaksanakan sebuah program, dana merupakan salah satu sumber

daya yang sangat penting dalam keberhasilan suatu program. Berdasarkan hasil wawancara diatas, informan menyatakan bahwa pendanaan untuk pelaksanaan program KB tidak ada dana yang dikeluarkan dari puskesmas untuk program KB tetapi jika turun kelapangan ada dana diberikan dari BOK. Kalau PLKB dana di berikan dari dana BOKB dan juga dana APBD/APBN untuk turun kelapangan melakukan penyuluhan dan terkadang tidak cukup.

Keterbatasan sumber daya dapat menghambat pelaksanaan suatu kebijakan. Semakin besar dana yang dikeluarkan untuk memperbaiki sebuah program maka hasilnya akan semakin efektif, apabila dana yang diberikan koefisisen mungkin dan semakin kecilnya dana yang digunakan untuk sebuah program maka program hanya akan berjalan dengan lambat dan hasilnya tidak akan efisien (Wibowo, 2008).

Sarana dan prasarana. Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai sarana dan prasarana yang tersedia dan diperlukan untuk menjalankan program KB diperoleh informasi sebagai berikut:

“sarana khusus seperti kendaraan tidak ada nak” (informan 1)

“saya kalau mau kelapangan ya pakai kereta sendiri, belum ada kendaraan yang dikasih dari puskesmas, kami melayani setiap pasien datang kemari kalau ketersediaan alat kontrasepsi ada kayak implan, pil KB, IUD, suntik sudah memadai tapi ketersediaan suntik sebulan tidak ada nak padahal peminatnya banyak. Kalau dari tingkat 2 biasanya diberikan pelayanan seperti MUYAN (Mobil Unit Pelayanan KB)”(informan 2)

“ada diberikan sepeda motor, kalau bahan ada sih berupa alat peraga, berupa timbal balik, video dan buku-buku panduan”

(informan 3)

Makna yang terkait sarana, prasarana diatas, diperoleh bahwasanya sarana

32

dan prasarana dalam melaksanakan program KB di Puskesmas Sei Semayang petugas KB nya tidak diberikan kendaraan khusus dari pihak puskesmas mereka kalau turun kelapangan memakai kendaraan sendiri, penyediaan alat kontrasepsi sudah memadai namun alat kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan masyarakat tidak ada. Sarana dan prasarana dari tingkat 2 yaitu MUYAN (Mobil Unit Pelayanan) dan kendaraan bermotor yang diberikan kepada PLKB untuk kelapangan melakukan penyuluhan.

Program Keluarga Berencana yang ada di puskesmas ataupun didesa-desa harus memiliki sarana dan prasarana. Sarana adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai penunjang dalam melaksanakan suatu kegiatan. Fasilitas harus ada pada setiap puskesmas dan harus dalam kondisi yang baik atau tidak rusak, fasilitas harus ada pada setiap puskesmas untuk membantu para petugas puskesmas melaksanakan kegiatannya (Wibowo, 2008).

Sarana dan prasarana pelayanan KB meliputi jumlah fasilitas pelayanan kesehatan statis puskesmas, poskesdes) dan fasilitas pelayanan kesehatan bergerak, media dan sarana KIE (KIE Kit) yang ada, sarana pencatatan dan pelaporan dan formulir-formulir (informed choise dan informed consent), alat dan obat kontrasepsi, obat dan alat habis pakai dan alat kesehatan penunjang pelayanan KB. Data-data ini dapat diperoleh dari pelaporan pelayanan tiap bulan dan laporan pengendalian program KB ataupun hasil dari pemantauan ke lapangan.

Sarana dan prasarana di Puskesmas Sei Semayang sudah cukup memadai

tetapi ada peralatan yang tidak tersedia seperti alat kontrasepsi suntik sebulan sehingga banyak masyarakat tidak dilayani. Ketersediaan alat kontrasepsinya yaitu implan, IUD, pil, suntik.

Stok alat kontrasepsi (peralatan). Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai stok alat kontrasepsi (peralatan) yang tersedia dan diperlukan untuk menjalankan program KB diperoleh informasi sebagai berikut:

“ketersediaan alat kontrasepsi disini sudah memadai seperti implan, suntik, pil KB,IUD (informan 1)

“stok alat kontrasepsi disini sudah bagus nak tetapi masalahnya kami tidak menyediakan alat kontrasepsi sesuai keinginan masyarakat yaitu penyediaan alat kontrasepsi suntik sebulan”

(informan 2)

“alat kontrasepsi suntik sebulan emang tidak kami berikan nak karena BKKBN tidak mau mengeluarkannya dikarenakan mereka melakukan penghematan”(informan 3)

“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di klinik dek ya pasti bayar dek gak gratis, kakak dari dulu kalau ada apa-apa saya berobatnya langsung keklinik gak ke puskesmas alasan kakak milih kontrasepsi suntik sebulan karena kakak gak cocok dek sama kontrasepsi suntik 3 bulan kalau pakai itu gak pernah haid dek jadi kakak takut tapi kalau pakai yang sebulan haid kakak lancar” (informan 4)

“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di klinik dan saya bayar dek karena di puskesmas gak ada alat kontrasepsi yang kakak inginkan, ya untuk menjaga agar tidak hamil lagi, memilih kontrasepsi ini karena kalau pakai ini haid kakak lancar terus ” (informan 5)

“alat kontrasepsi/obat (pil kb) membeli di apotek, ya karena ibu takut disuntik nak jadi ibu lebih memilih minum pil KB dari pada yang lain (informan 6)

“alat kontrasepsi/obat saya dapatkan dikantor kepala desa nak waktu ada acara gratis pemasangan implan, ya karena ibu takut lupa dan ibu gak mau ribet nak kalau pakai implan kan jangka waktunya lama” (informan 7)

34

“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di bidan desa, ya karena serasinya yang ini nak yang lain selalu kebobolan terus” (informan 8)

Makna yang terkait stok alat kontrasepsi (peralatan) diatas, bahwasanya peralatan untuk mendukung pelaksanaan program KB belum sesuai dengan keinginan masyarakat seperti penyediaan alat kontrasepsi suntik sebulan. Hal ini dikarenakan BKKBN tidak mau memberikannya karena BKKBN saat ini sedang melakukan penghematan jadi tidak semua alat kontrasepsi diberikan secara gratis.

Dilihat dari informasi dari peserta KB rata-rata masyarakat tidak mendapatkan alat kontrasepsi di puskesmas melainkan di klinik,apotek dan bidan desa.

Ketersediaan alat kontrasepsi sangat penting untuk mendukung suatu program keluarga berencana berjalan dengan lancar jika stok alat kontrasepsi tidak tersedia maka bisa dikatakan program tersebut tidak berhasil. Dari hasil wawancara diatas maka dapat disimpulkan bahwa stok alat kontrasepsi sudah memadai akan tetapi ketersediaan alat kontrasepsi sebulan tidak disediakan padahal banyak peminatnya. Rata-rata alasan mereka memiliki alat kontrasepsi sebulan adalah jika menggunakan alat kontrasepsi ini siklus haid mereka lancar dibandingkan dengan memakai alat kontrasepsi 3 bulan.

Proses (Process)

Proses merupakan suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehinggga menghasilkan suatu (keluaran) yang direncanakan (Notoatmodjo, 2011).

Perencanaan. Perencanaan yang disusun melalui pengenalan permasalahan secara tepat berdasarkan data yang akurat, serta diperoleh dengan

cara dan dalam waktu yang tepat, maka akan dapat mengarahkan upaya kesehatan yang dilaksanakan puskesmas dalam mencapai sasaran dan tujuannya. Dalam upaya mencakup seluas mungkin sasaran masyarakat yang harus dilayani, serta mengingat ketersediaan sumber daya yang terbatas, mutu pelayanan kesehatan harus dilaksanakan secara terintegrasi baik lintas program maupun lintas sektor.

Koordinasi dengan lintas sektor sangat diperlukan, karena faktor penyebab dan latar belakang masalah kesehatan tertentu kemungkinan hanya dapat diselesaikan oleh mitra lintas sektor.

Proses perencanaan puskesmas akan mengikuti siklus perencanaan daerah, dimulai dari tingkat desa/kelurahan, selanjutnya disusun pada tingkat kecamatan dan kemudian diusulkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Perencanaan puskesmas yang diperlukan terintegrasi dengan lintas sektor kecamatan, akan diusulkan melalui kecamatan ke pemerintah daerah kabupaten/kota.

Berdasarkan hasil wawancara mengenai perencanaan dalam melaksanakan program KB di Puskesmas Sei Semayang, maka diperoleh informasi sebagai berikut:

“untuk perencanaan kegiatan KB biasanya dibuat oleh penanggung jawab program KB nya, nanti setelah selesai baru didiskusikan dengan saya”(informan 1)

“perencanaan ada biasanya setahun sekali nak dan jika mau melakukan kegiatan selalu gabung dengan KIA juga jadi kalau turun kelapangan sekaligus, untuk perencanaan khususnya itu gak ada” (informan 2)

“udah pasti ada lah nak karena kami kan ada perencanaan kerja perminggu dan perbulannya itu seperti menyusun materi penyuluhan, pembinaan tokoh informal, melakukan kunjungan ke rumah-rumah” (informan 3)

36

Makna yang terkait perencanaan diatas, bahwasanya perencanaan di puskesmas untuk kegiatan program KB dilapangan dilakukan setahun sekali dan perencanaan tersebut digabung dengan perencanaan KIA juga dan tidak ada perencanaan khusus. Berbeda dengan di PLKB perencanaan kerja ada dilakukan perminggu dan perbulan kedesa-desa dan apa-apa saja yang harus dilakukan atau di buat disana.

Perencanaan adalah hal terpenting dalam proses manajemen karena perencanaan akan menentukan arah fungsi manajemen lainnya. Untuk itu, fungsi perencanaan merupakan landasan dasar pengembangan proses manajemen secara keseluruhan. Jika perencanaan tidak dirumuskan dan ditulis dengan jelas, proses manajemen tidak berjalan secara berurutan dan teratur. Langkah dalam penyusunan perencanaan yaitu melakukan analisis situasi, mengidentifikasi masalah dan prioritasnya, menentukan tujuan program mengkaji hambatan dan kelemahan program, menyusun rencana kerja operasional.

Langkah pertama perencanaan dalam pelayanan KB adalah menentukan jumlah sasaran pelayanan KB dan perhitungan jumlah alat kontrasepsi.

perencanaan pelayanan KB dilaksanakan pada saat minilokakarya dan terpadu dengan pelayanan KIA lain.

Hambatan yang sering terjadi dalam perencanaan program KB yaitu perencanaan yang sudah disusun dengan baik namun diwaktu pelaksanaan tidak berjalan dengan baik dan tidak mencapai target yang sudah ditetapkan.

Penggerakkan dan Pelaksanaan program/kegiatan dapat dilakukan melalui berbagai cara, diantranya adalah rapat dinas, pengarahan pada saat apel pegawai,

pelaksanaan kegiatan dari setiap program sesuai penjadwalan pada rencana pelaksanaan kegiatan bulanan maupun dilakukan melalui forum yang dibentuk khusus untuk itu. Forum yang dibentuk khusus untuk melakukan penggerakkan dan pelaksanaan program/kegiatan dinamakan forum Lokakarya Mini Puskesmas.

Dalam rangka penggerakkan dan pelaksanaan program/kegiatan, kepala

Dalam rangka penggerakkan dan pelaksanaan program/kegiatan, kepala

Dokumen terkait