ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM KB DI PUSKESMAS SEI SEMAYANG KABUPATEN DELI SERDANG
TAHUN 2019
SKRIPSI
Oleh
RANITA AYU EKA SARI BR TARIGAN NIM. 151000193
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
RANITA AYU EKA SARI BR TARIGAN NIM.151000193
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : dr. Fauzi, S.K.M.
Anggota : 1.Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes.
2. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H.
sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.
Berdasarkan data peserta KB aktif di Puskesmas Sei Semayang tahun 2017 tidak mencapai target yaitu berjumlah 7.953 (56,81%) peserta dan pencapaian peserta KB aktif menurun dari tahun sebelumnya. Tujuan penelitian untuk menganalisis implementasi program keluarga berencana di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang Tahun 2019. Metode penelitian menggunakanpenelitian pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan denganwawancara mendalam dan observasi langsung serta referensi dari buku- buku terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaimplementasi program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang belum optimal dikarenakan perencanaan tentang penyuluhan tidak terlaksana dengan baik dan harapan sasaran yang di suluh kurang hal ini dapat dilihat bahwa tidak adanya koordinasi dengan lintas sektoral seperti pemuka masalah/lurah untuk menggerakkan masyarakat untuk ikut penyuluhan. Penyuluhan yang mereka lakukan ada kadang di gedung tetapi tidak efektif, rencana preventif promotif KB tidak jelas/tidak tertera dan tercatat dengan baik. Dengan mewawancarai masyarakat bahwa yang datang ke Puskesmas bukan karena penyuluhan tetapi karena keinginan akan tetapi ketika datang ke puskesmas yang disediakan Puskesmas tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini bisa menyebabkan pengaruh yang buruk. Puskesmas pun tidak aktif padahal cakupan peserta KB diluar walaupun itu klinik sendiri dan jika itu masih diwilayah kerja puskesmas seharusnya pihak puskesmas mencatatnya, ini juga karena tidak adanya koordinasi. Diharapkan kepada pihak Puskesmas dan PLKB untuk meningkatkan penyuluhan serta menyediakan alat kontrasepsi yang diinginkan masyarakat.
Kata kunci: Implementasi, program KB, puskesmas
Abstract
The Family Planning Program is one of the strategies to improve the welfare of mothers and children and to realize the norms of a happy and prosperous small family that is the basis for the realization of a prosperous society through birth control and control of Indonesia's population growth. Based on the data of active family planning participants in the Sei Semayang Health Center in 2017 not reaching the target of 7,953 (56.81%) participants and the achievement of active family planning participants decreased from the previous year. The research objective was to analyze the implementation of the family planning program at the Sei Semayang Health Center in Deli Serdang Regency in 2019. The research method used a qualitative research approach. Data collection methods used by in-depth interviews and direct observation and references from related books. The results of this study indicate that the implementation of the family planning program at the Sei Semayang Public Health Center in Deli Serdang Regency is not optimal because the planning on counseling is not well implemented and the expectations of the target are lacking. community to participate in counseling.
The counseling they do is sometimes in the building but it is not effective, the KB promotive preventive plan is unclear / not well documented and recorded. By interviewing the community that those who came to the Puskesmas were not because of counseling but because they wanted to, but when they came to the puskesmas provided the Puskesmas was not in accordance with their wishes. This can cause bad effects. The puskesmas was not active even though the coverage of family planning participants was outside even though it was the clinic itself and if it was still in the puskesmas work area the puskesmas should have recorded it, this was also due to lack of coordination. It is expected that the Puskesmas and PLKB will increase counseling and provide contraception desired by the community.
Keywords: Implementation, family planning program, puskesmas
yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Implementasi Program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang Tahun 2019”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H.,M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan KesehatanFakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. dr. Fauzi, S.K.M., selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes., selaku Dosen Penguji I dan I Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M, M.P.H., selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Prof. Drs. Heru Santosa, M.S. Ph.D., selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
7. Seluruh Dosen dan Staff Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis dalam menyelesaikan kepentingan administrasi selama masa perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
8. dr. Ni Putu Yurizka, selaku kepala Puskesmas Sei Semayang, staff bagian KB dan pegawai di Puskesmas Sei Semayang yang telah membantu penulisan dalam memberikan data dan informasi untuk keperluan penelitian skripsi ini.
9. Terkhusus kepada orangtua saya yang tercinta, Alm. Ayahanda Rasmi Tarigan dan Ibunda Sukanta Br Ginting serta abang dan kakak saya, Bubun Tarigan dan Rima fitria Asca Tarigan yang telah memberikan dukungan, perhatian, nasehat, motivasi serta doa kepada penulis selama penulisan skripsi ini.
10. Keluarga-keluarga saya yang sudah senantiasa menemani saya melakukan penelitian dan mendukung saya untuk menyelesaikan skripsi saya
11. Kepada kelompok PBL Desa Suka Maju Kabupaten Batu Bara yang sudah memberikan motivasi, semangat, dan doa dalam pengerjaan skripsi ini.
Qonita Zahara Nasution, Ratih Nirmala Sari, Tengku Zelda Karmella, Tri Hardiyanti, Yuli Susanti yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada penulis selama penyelesaian skripsi ini dan Semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Oktober 2019
Ranita Ayu Eka Sari Br. Tarigan
Daftar Isi
Halaman
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi vii
Daftar Tabel viii
Daftar Gambar ix
Daftar Lampiran x
Daftar Istilah xi
Riwayat Hidup xii
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 7
Tujuan Penelitian 7
Tujuan umum 7
Tujuan khusus 7
Manfaat Penelitian 7
Tinjauan Pustaka 8
Implementasi Program 8
Teori implementasi George C. Edward III 5
Program Keluarga Berencana 10
Defenisi program keluarga berencana 10
Tujuan program pelayanan KB 10
Sasaran program KB 11
Ruang lingkup program keluarga berencana 11
Pelayanan keluarga berencana 11
Strategi program kb 12
Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program KB 12
Pencatatan dan pelaporan pelayanan KB 14
Puskesmas 16
Program Keluarga Berencana di Puskesmas Sei Semayang 16 Tugas Pokok dan Fungsi BPPKB dalam Program KB 17 Tugas Pokok dan Fungsi Puskesmas dalam Progam KB 18 Tugas Pokok dan Fungsi PLKB dalam Program KB 18
Landasan Teori 19
Kerangka Konsep 19
Metode Pengumpulan Data 23
Metode Analisis Data 23
Hasil Penelitian 24
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 24
Geografis 24
Demografis 24
Sumber daya manusia 25
Karakteristik Informan 25
Masukan (Input) 26
Sumber Daya Manusia (SDM) 26
Dana 30
Sarana dan prasarana 31
Stok alat kontrasepsi (peralatan) 33
Proses (Process) 34
Perencanaan 34
Penyuluhan 37
Pemberian alat kontrasepsi 39
Konseling 41
Monitoring 44
Keluaran (Output) 46
Keterbatasan Penelitian 47
Kesimpulan dan Saran 48
Kesimpulan 48
Saran 49
Daftar Pustaka 51
Lampiran 54
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Semayang
Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang 25
2 Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jabatan di Puskesmas
Sei Semayang 25
3 Karakteristik Informan 26
1 Kerangka berpikir 20
Daftar Lampiran
Lampiran Judul Halaman
1 Pedoman Wawancara 54
2 Surat Permohonan Izin Penelitian 60
3 Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan 61
4 Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian dari Puskesmas 62
5 Matriks Pernyataan Informan 63
6 Dokumentasi Wawancara 75
BKKBN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BPPKB Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana BPS Badan Pusat Statistik
BOK Bantuan Operasional Kesehatan
BOKB Biaya Operasional Keluarga Berencana CPR Contraceptive Prevalence Rate
KB Keluarga Berencana KIA Kesehatan Ibu dan Anak
KIE Komunikasi, Informasi, dan Edukasi
KKBPK Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga MKJP Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
MOP Media Operasi Pria MOW Media Operasi Wanita
PKB Penyuluh Keluarga Berencana
PLKB Petugas Lapangan Keluarga Berencana
PPKBD Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa PUS Pasangan Usia Subur
SDM Sumber Daya Manusia
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah TFR Total Fertility Rate
UKM Upaya Kesehatan Masyarakat UKP Upaya Kesehatan Perorangan WUS Wanita Usia Subur
Pertumbuhan penduduk yang pesat di suatu negara mengakibatkan kepadatan penduduk yang tinggi, permasalahan ini yang sekarang Indonesia alami. Berdasarkan hasil sensus pada Tahun 2010 penduduk Indonesia berjumlah sebanyak 237.556.363 orang dengan jumlah 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan yang mengalami peningkatan jumlah penduduk Indonesia di Tahun 2018 sebesar 265.010.300 jiwa yang terdiri dari 133.136.100 laki-laki dan 131.879.200 perempuan (BPS, 2013).
Perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga dalam UU No 52 Tahun 2009 dinyatakan bahwa pembangunan keluarga adalah suatu usaha mewujudkan keluarga yang berkualitas dalam lingkungan hidup yang sehat (Kemenkes RI, 2017). Untuk mewujudkan seperti dibuat diatas dapat dilakukan dengan program Keluarga Berencana. Dengan kegiatan Keluarga Berencana dapat terwujud keluarga yang berkualitas dengan mengatur usia kawin yang ideal, mengatur jumlah anak, mengatur jarak kelahiran seperti apa yang tertuang dalam (BKKBN, 2018).
Dalam BKKBN 2015 disebutkan strategi pembangunan kependudukan keluarga berencana adalah :
1. Pengukuhan dan pemantauan kebijakan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
2. Pengadaan sarana dan prasarana serta alat/obat kontrasepsi yang memadai.
2
3. Penambahan pelayanan keluarga berencana dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang untuk berkurangnya risiko drop-out dan penggunaan non metode kontrasepsi jangka panjang dengan memberikan informasi secara berkesinambungan untuk berlangsungnya kepesertaan keluarga berencana.
4. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan pelayanan keluarga berencana dan tenaga lapangan keluarga berencana.
5. Advokasi program KKBPK kepada para pembuat kebijakan serta promosi dan penggerakan masyarakat.
6. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman kesehatan reproduksi bagi remaja.
7. Pembinaan ketahanan dan pemberdayaan keluarga melalui kelompok kegiatan bina keluarga dalam rangka melestarikan kesertaan ber-KB.
8. Penguatan tata kelola pembangunan kependudukan dan keluarga berencana melalui penguatan landasan hukum dan kelembagaan (BKKBN, 2015).
Sasaran strategis BKKBN 2015-2019 tujuannya yaitu pertama, berkurangnya laju pertumbuhan penduduk. Kedua, berkurangnya angka kelahiran total. Ketiga, bertambahnya pemakaian kontrasepsi. Keempat, berkurangnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi. Kelima, berkurangnya angka kelahiran pada remaja usia 15-19 tahun. Keenam, berkurangnya kehamilan yang tidak diinginkan (BKKBN, 2018). Sasaran program keluarga berencana yaitu pasangan Usia Subur (PUS), Pasangan suami-istri yang terikat dala perkawinan yang sah.
Program KB merupakan salah satu upaya untuk menurunkan kematian ibu yang termasuk dalam kondisi 4T yaitu terlalu muda melahirkan (dibawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (diatas 35 tahun) ( Kemenkes RI, 2017).
Berdasarkan profil kesehatan RI di Tahun 2016 bahwa peserta KB aktif di Indonesia yaitu 23.606.218 peserta dan peserta KB aktif yang menggunakan suntik sebanyak 14.817.663 (62,77%), pil sebanyak 4.069.844 (17,24%), implan sebanyak 1.650.227 (6,99%), MOP sebanyak 124.262 (0,53%), MOW sebanyak 655.762 (2,78%) (Kemenkes RI, 2017). Di Tahun 2017 bahwa peserta KB aktif di Indonesia mencapai 38.343.931 peserta dan peserta KB aktif yang menggunakan suntik sebanyak 15.261.014 (63,71%), pil sebanyak 4.130.495 (17,24%), implan sebanyak 1.724.796 (7,20%), MOP sebanyak 119.314 (0,50%), MOW sebanyak 660.259 (2,76%). Berdasarkan data tersebut bisa dilihat bahwa penggunaan Non MKJP masih tinggi dibandingkan dengan penggunaan MKJP (Kemenkes RI, 2018).
Berdasarkan profil kesehatan Provinsi Sumatera Utara pada Tahun 2016 peserta KB aktif sebanyak 1.679768 (71,07%) dengan pencapaian MKJP sebanyak 541.434 (47,56%) sedangkan Non MKJP sebanyak 1.138.334 (67,77%) dan pencapaian peserta KB baru sebanyak 350.481 (14,82%) dengan jumlah PUS sebanyak 2.363.687 (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2017). Pada Tahun 2017 peserta KB aktif Sumut sebanyak 1.708.883 (71,02%) dengan pencapaian MKJP sebanyak 562.044 (12,36%) sedangkan Non MKJP sebanyak 3.983.796 (87,64%) dan pencapaian KB baru sebanyak 371.398 (15,44%) dengan jumlah PUS
4
sebanyak 2.406.087 (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2018).
Berdasarkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, jumalah penduduk di daerah ini yang terbanyak adalah Kecamatan Sunggal sebanyak 287.600 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit adalah Kecamatan Gunung Meriah sebanyak 3.029 jiwa. Namun Kecamatan Deli Tua adalah kecamatan yang paling padat penduduknya yaitu sebanyak 7.639 jiwa per km² dengan rata-rata 4,42 jiwa per rumah tangga (Dinkes Kabupaten Deli Serdang, 2018).
Berdasarkan Profil Kesehatan Deli Serdang Tahun 2016 pencapaian peserta KB aktif (71,31%) dengan pencapaian MKJP (32,77%), Non MKJP (67,23%) dan pencapaian peserta KB baru (10,75%) dengan pencapaian MKJP (25,05%), Non MKJP (74,95%) (Dinkes Kabupaten Deli Serdang, 2017). Pada Tahun 2017 pencapaian peserta KB aktif (68,38%) dengan pencapaian MKJP (33,65%), Non MKJP (66,35%) dan pencapaian peserta KB baru (11,87%) dengan pencapaian MKJP (21,61%), Non MKJP (78,39%). Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan Non MKJP di Deli Serdang masih tinggi dibandingkan dengan penggunaan MKJP. (Dinkes Kabupaten Deli Serdang, 2018).
Wilayah Kabupaten Deli Serdang mengelilingi kota Medan dengan ibu kotanya adalah Lubuk Pakam. Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 22 kecamatan yang memiliki 380 desa dan 14 kelurahan. Jumlah puskesmas di Kabupaten Deli Serdang pada Tahun 2017 sebanyak 34 Puskesmas (terdiri dari 27 Puskesmas rawat inap dan 7 Puskesmas non rawat inap). Pada Tahun 2017 Puskesmas Sei
Semayang adalah Puskesmas dengan presentase peserta KB aktif terendah no 1 dari 34 Puskesmas di Kabupaten Deli Serdang. Puskesmas Sei Semayang dengan pencapaian peserta KB aktif sebanyak 7.953 (56,81%) sedangkan pencapaian peserta KB baru sebanyak 1.198 (8,56%) dengan PUS 14.000 (Dinkes Kabupaten Deli Serdang, 2018).
Kecamatan Sunggal memiliki 3 puskesmas dan 7 PLKB dengan mayoritas masyarakat suku Melayu dan Karo. Pasangan Usia Subur di Kecamatan Sunggal mayoritas umur tiga puluh tahun keatas dan memiliki jumlah anak yang berbeda- beda.
Berdasarkan hasil wawancara awal dengan masyarakat non peserta KB di Kecamatan Sunggal, mereka menganggap program keluarga berencana tidak terlalu penting dan masih ada berbagai faktor sosial dan budaya yang masih mempengaruhi seperti banyak anak banyak rezeki dan mempunyai anak laki-laki penting untuk mewariskan marga.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat peserta KB di Kecamatan Sunggal, rata-rata masyarakat menggunakan alat kontrasepsi suntik namun mereka tidak mendapatkan alat kontrasepsi tersebut di Puskesmas karena mereka berkeinginan memakai alat kontrasepsi suntik jangka sebulan sedangkan puskesmas tidak menyediakan alat kontrasepsi tersebut, puskesmas hanya menyediakan alat kontrasepsi suntik jangka 3 bulan.
Puskesmas Sei Semayang adalah puskesmas non rawat inap yang mempunyai tempat yang strategis sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan mudah. Puskesmas ini memiliki 1 penanggung jawab program
6
keluarga berencana yang mempunyai 1 bidan desa disetiap desa, mempunyai ketersediaan alat/obat kontrasepsi seperti implan, suntik, pil KB yang disediakan oleh BKKBN Kabupaten Deli Serdang. Puskesmas Sei Semayang melakukan kegiatan pelayanan KB dalam puskesmas maupun diluar puskesmas. Didalam puskesmas hanya melayani jika ada yang datang untuk konsultasi dan pemberian alat kontrasepsi saja karena puskesmas menganggap masyarakat sudah mengerti dan kegiatan diluar gedung dilakukan oleh PLKB dan melakukan penyuluhan jika ada kegiatan saja yang sudah terjadwal.
Berdasarkan survei awal pada bulan Januari 2019 yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai penanggung jawab program KB Puskesmas Sei Semayang bahwa di puskesmas ini hanya melayani KB didalam gedung sedangkan diluar gedung dilakukan oleh PLKB dari Kecamatan. Puskesmas ini hanya melayani pemasangan alat kontrasepsi, seperti suntik. Dari akseptor KB yang dikirim oleh PLKB untuk suntik ternyata pasiennya menginginkan alat kontrasepsi yang suntikan satu bulan sekali tetapi kenyataan puskesmas tidak menyediakan yang satu bulan sekali melainkan yang tiga bulan sekali. Puskesmas melakukan konseling hanya jika masyarakat bertanya saja karena puskesmas menganggap masyarakat sudah paham sedangkan diluar gedung dilaksanakan penyuluhan jika ada program yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
Pelayanan KB yang dilakukan puskesmas adalah pemberian alat kontrasepsi dan memberikan konseling. Pelayanan KB yang dilakukan PLKB adalah melakukan penyuluhan dan mereka tidak ada kewewenangan untuk memberikan alat kontrasepsi.
Menurut Utari (2015) dalam penelitiannya tentang implementasi program keluarga berencana di Puskesmas Tanjung Beringin Kecamatan Hinai Kabupaten Deli Serdang hal yang dapat mempengaruhi menurunnya peserta KB yaitu kurangnya penyuluhan ke masyarakat, sehingga menimbulkan keengganan untuk ber KB dan kurangnya pengetahuan tentang ber KB, kurangnya PLKB menimbulkan kinerja petugas menjadi kurang baik dan kurangnya koordinasi secara SKPD kecamatan atau kabupaten/kota.
Dari uraian yang penulis paparkan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian perihal analisis implementasi program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang tahun 2019.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimana Implementasi program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang tahun 2019.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang tahun 2019.
Manfaat Penelitian
1. Dapat memberikan informasi kepada stakeholder yang bertanggung jawab tentang program KB di Puskesmas Sei Semayang.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagian masukan dan pertimbangan untuk memperbaiki pelayanan KB di Puskesmas Sei Semayang.
3. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya.
Tinjauan Pustaka
Implementasi Program
Menurut KBBI implementasi diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Implementasi sebagai proses administrasi dari hukum yang didalamnya tercakup keterlibatan berbagai actor, organisasi, prosedur, dan teknik yang dilakukan agar kebijakan mencapai tujuan kebijakan. Implementasi dapat dikonseptualisasikan sebagai proses karena yang didalamnya terdapat berbagai rangkaian aktivitas yang berkelanjutan. Konsep implementasi juga harus diperhatikan dari berbagai arah pengertian seperti proses, output, dan outcome ( Kusumanegara, 2010).
Dalam Wahab (2012) adapun fungsi implementasi berguna untuk membentuk hubungan yang mempunyai tujuan-tujuan ataupun sasaran-sasaran kebijakan public sebagai hasil kegiatan yang dilakukan. Fungsi lainnya implementasi berupa cara-cara atau sarana-sarana tertentu yang disusun secara khusus dan diarahkan menuju tercapainya tujuan dan sasaran yang diinginkan.
Memahami/mempelajari implementasi berarti berusaha untuk memahami program yang nyata terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan, yakni peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses legislasi baik menyangkut usaha-usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa.
Teori implementasi dari Edwards III George C. 1981. Impelementasi kebijakan memiliki empat variabel yang dapat menentukan keberhasilan implementasi yaitu :
Komunikasi. Komunikasi adalah kunci keberhasilan dalam suatu program.
Faktor komunikasi dianggap menjadi faktor yang sangat penting dimana komunikasi merupakan cara yang digunakan untuk menjembatani antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program sehingga dapat dilihat apakah program tersebut berjalan dengan efektif dan efesien.
Sumber daya. Sumber daya memiliki empat elemen yaitu sumber daya
manusia, informasi, sarana dan prasarana, pendanaan. Sumber daya manusi sangat diperlukan untuk melaksanakan program. Sumber daya manusia sering disebut tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang telah mengabdikan diri dalam bidang kesehatan yang telah memiliki keterampilan khusus, berpendidikan, terlatih, dan memiliki pengetahuan yang dalam di bidang kesehatan. Informasi merupakan sumber daya kedua yang paling penting dalam pengimplementasian suatu program. Ketika melakukan suatu program implementor harus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika diberi perintah untuk melakukan tindakan. Informasi yang diterima ataupun yang diberikan harus jelas sehingga akan mempermudah dan memperlancar program yang dijalankan.
Sarana dan prasarana diperlukan untuk melaksanakan program KB. Ketersediaan sarana dan prasana didasari oleh kebutuhan yng dapat digunakan untuk mendorong kelancaran dan keberhasilan suatu program. Pendanaan atau dana adalah besarnya biaya yang digunakan atau yang harus disediakan untuk penyelenggaraan suatu kegiatan dalam bidang kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Disposisi. Disposisi adalah sikap dari implementor dalam menjaga tujuan
10
antara apa yang ditetapkan pengambil kebijakan dan pelaksana kebijakan.
Struktur kesuksesan implementasi program adalah terjadinya perubahan sikap pekerja terhadap penerimaan dan dukungan yang kebijakan telah ditetapkan.
Struktur birokrasi. Struktur organisasi bertujuan untuk menjelaskan
susunan tugas sikap SDM yang ditugaskan dalam program KB serta menetapkan standard operating procedures (SOP) dan fragmentasi. Fragmentasi dapat
diartikan suatu upaya penyebaran tanggung jawab kegiatan, aktivitas-aktivitas pegawai dan kepegawaian.
Program Keluarga Berencana
Defenisi program keluarga berencana. Program KB adalah suatu program untuk mengurangi kematian ibu dengan kondisi 4T yaitu terlalu muda melahirkan (dibawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (diatas usia 35 tahun) (Kemenkes RI, 2017).
KB adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan, kesehatan dan keselamatan ibu, anak dan perempuan (Kemenkes RI, 2017). KB merupakan salah satu upaya untuk membentuk keluarga yang berkualitas dengan usia kawin ideal, mengatur jumlah, jarak melahirkan anak, mengatur kehamilan dan membina ketahanan serta kesejahteraan anak (BKKBN, 2018).
Tujuan program pelayanan KB. Tujuannya yaitu berkurangnya laju pertumbuhan penduduk, berkurangnya angka kelahiran total, bertambahnya pemakaian kontrasepsi, berkurangnya kebutuhan ber KB yang tidak terpenuhi,
berkurangnya angka kelahiran pada remaja usia 15-19 tahun, berkurangnya kehamilan yang tidak diinginkan ( BKKBN, 2018).
Sasaran program KB. Sasaran langsungnya adalah PUS yang bertujuan untuk dapat mengatur jarak kelahiran dengan penggunaan kontrasepsi yang lama.
(Setiyaningrum dan Aziz, 2014)
Sasaran secara tidak langsung dengan pengaturan pelaksana dan pengelola KB dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga sejahtera yang berkualitas.
Ruang lingkup pelayanan keluarga berencana. Ruang lingkup pelayanan KB yaitu Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), konseling, pelayanan kontrasepsi, pelayanan infertilitas, pendidikan sex, konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan (Setiyaningrum dan Azis, 2014).
Pelayanan keluarga berencana. Pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu strategi untuk mendukung percepatan penurunan angka kematian ibu dengan mengatur waktu, jarak dan jumlah kehamilan, mencegah atau memperkecil kemungkinan seorang perempuan hamil mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa atau ingin janin selama kehamilan, persalinan dan nifas, mencegah atau memperkecil terjadinya kematian pada seorang perempuan yang mengalami komplikasi selama kehamilan, pesalinan dan nifas. Peranan KB sangat diperlukan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, unsafe abortion dan komplikasi yang pada akhirnya dapat mencegah kematian ibu (Sulistyawati, 2014).
12
Strategi program KB. Untuk meninggalkan kualitas pelayanan mencakup enam komponen yaitu :
1. Pilihan metoda kontrasepsi diperbanyak agar tersedia berbagai metoda pilihan bagi klien.
2. Provider (pemberi pelayanan) harus dapat memberikan informasi yang lengkap, rasional dan dapat dipahami klien.
3. Meningkatkan kemampuan teknik seluruh provider melalui pelatihan dan penyegaran secara periodik.
4. Hubungan antar pribadi provider dan klien merupakan landasan terwujudnya kualitas pelayanan yang baik.
5. Kontinuitas pelayanan untuk mendapatkan kontrasepsi dan pelayanan lanjutan kepada klien harus tetap dijamin.
6. Kecocokan dan penerimaan terhadap pelayanan sebaiknya dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan klien (Pinem, 2009).
Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program KB. Menurut Pinem dalam buku kesehatan reproduksi dan kontrasepsi pada tahun 2009 program KB masih mengalami beberapa hambatan yaitu :
1. Segi pelayanan
Pelayanan KB yang kurang berkualitas dapat menyebabkan peserta KB enggan untuk ber KB. Adapun alasan-alasan lainnya yaitu kegagalan pemakaian dan efek samping kesehatan. Kegagalan pemakaian menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.
2. Segi ketersediaan alat kontrasepsi
Ketersediaan alat kontrasepsi sangat lah penting untuk menunjang keberhasilan program keluarga berencana. Calon akseptor dapat memilih alat/obat kontrasepsi sesuai keinginannya. Akibatnya terjadi drop out dengan alasan ingin ganti cara yang lebih efektif. Drop out yang paling banyak terjadi pada peserta KB pil, suntikan atau IUD yang umumnya ingin beralih ke implan. Namun implan tidak tersedia di tempat pelayanan karena harganya yang relatif mahal. Akhirnya wanita PUS tidak terlindungi dari kehamilan yang tidak diinginkan.
3. Segi penyampaian konseling maupun KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
Penyampaian KIE dengan baik mengenai pilihan alat kontrasepsi yang efektif dan efesien akan memberikan kebebasan kepada calon peserta KB untuk memilih kontrasepsi yang diinginkan dengan pertimbangan yang rasional, alat kontrasepsi dengan tingkat kegagalan yang rendah dan sesuai pembiayaan.
4. Hambatan budaya
Hambatan ini masih bisa dilihat di beberapa daerah yang masih mempunyai pemikiran bahwa banyak anak banyak rezeki. Selain itu, ada juga budaya yang mengharuskan keluarga memiliki anak laki-laki maupun perempuan dalam satu keluarga. Dengan adanya alasan budaya tersebut maka masyarakat tidak akan mau ber KB.
5. Kelompok wanita yang sudah tidak ingin anak lagi tetapi tidak
14
menggunakan alat kontrasepsi Penyebabnya antara lain berkaitan dengan masalah keuangan, aspek kejiwaan, medis, waktu dan biaya pelayanan resiko kesehatan dan hambatan sosial.
6. Kelompok hard core
yaitu kelompok wanita yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi baik pada saat ini maupun pada waktu yang akan datang. Kelompok ini harus didekati dengan melakukan KIE khusus, maka masih mungkin diharapkan bersedia untuk menjadi peserta KB dimasa yang akan datang (Pinem, 2009).
Pencatatan dan pelaporan pelayanan KB. Adapun kegitatan program KB berupa pencatatan dan pelaporan. Alur pencatatan dan pelaporan yaitu pertama, kartu pendaftaran klinik KB yang digunakan sebagai pendaftaran pertama bagi klinik KB baru pada saat didirikan dan pendaftaran ulang bagi semua klinik KB lama, dilakukan setiap akhir tahun anggaran (setiap bulan maret). Kedua, rekapitulasi kartu pendaftaran klinik KB yang digunakan sebagai sarana untuk melaporkan data dan informasi tentang identitas, jumlah tenaga dan sarana klinik KB di wilayah Kabupaten dan kotamadya.
Ketiga, kartu peserta KB yang digunakan sebagai media pengenal dan bukti bagi setiap peserta KB. Kartu ini merupakan sarana untuk memudahkan mencari Kartu Status Peserta KB juga berguna bagi peserta KB untuk memperoleh pelayanan ulang di semua klinik KB. Keempat, kartu status peserta KB dibuat untuk setiap pengunjung baru, khususnya peserta KB baru dan peserta KB lama pindahan dari klinik atau tempat pelayanan KB lain. Kartu ini berfungsi
untuk mencatat identitas peserta KB, hasil pemeriksaan klinik KB, kunjungan ulang dan informed consent. Kelima, register klinik KB yang digunakan untuk mencatat hasil pelayanan kontrasepsi yang diberikan kepada peserta KB pada setiap hari pelayanan dan untuk memudahkan petugas klinik KB dalam membuat laporan bulanan klinik KB pada akhir bulan. Keenam, register alat kontrasepsi klinik KB yang digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran (mutasi) alat-alat kontrasepsi di klinik KB dengan tujuan untuk memudahkan membuat laporan bulanan klinik KB tentang keadaan alat kontrasepsi setiap akhir bulan.
Ketujuh, laporan bulanan klinik KB yang digunakan sebagai sarana untuk melaporkan kegiatan dan hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi oleh klinik KB, dokter/bidan praktik swasta serta tempat pelayanan lainnya. Laporan ini meliputi identitas klinik KB termasuk jumlah DBS dan tempat pelayanan lainnya. Juga meliputi hasil pelayanan KB, peserta ganti cara, komplikasi, kegagalan, pencabutan implan, serta persediaan alat kontrasepsi yang ada di klinik KB setiap bulan. Kedelapan, rekapitulasi laporan bulanan klinik KB yang digunakan sebagai sarana untuk melaporkan rekapitulasi kegiatan dan hasil-hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh klinik KB, dokter/bidan praktik swasta dan tempat pelayanan lainnya yang berada di wilayah kabupaten atau kotamadya.
Laporan ini merupakan hasil rekapitulasi dari semua laporan bulanan klinik KB yang diterima oleh BKKBN kabupaten/kotamadya yang bersangkutan.
Kesembilan, buku bantu dokter/bidan praktik swasta dan tempat pelayanan lainnya yang digunakan sebagai sarana untuk mencatat hasil pelayanan peserta KB baru dan pencabutan implan oleh dokter/bidan praktik swasta dan tempat
16
pelayanan lainnya. Kesepuluh, laporan bulanan petugas penghubung hasil pelayanan kontrasepsi oleh dokter/bidan praktik swasta dan tempat pelayanan lain formulir ini digunakan sebagai sarana untuk mencatat dan melaporkan hasil pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh dokter/bidan praktik swasta dan tempat lainnya (Meilani dkk, 2010).
Puskesmas
Puskesmas adalah suatu unit pelayanan kesehatan dasar/ primer yang mengutamakan pelayanan promotif dan preventif namun kegiatan kuratif ada namun tingkat sederhana. Adapun program puskesmas terdiri dari program esensial (pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana, pelayanan gizi, pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit) dan pengembangan.
Program Keluarga Berencana di Puskesmas Sei Semayang
Program KB di Puskesmas Sei Semayang sifatnya melayani di puskesmas maupun di dalam wilayah kerja puskesmas. Penanggung jawab program KB di puskesmas bekerja sama dengan PLKB dari kecamatan. Pelaksanaan program keluarga berencana yang dilakukan Puskesmas Sei Semayang yaitu :
1. Penyuluhan
Dalam program KB strategi promosi kesehatan yang harus dilakukan adalah memberikan arahan dan pelayanan ke masyarakat untuk mendukung terlaksananya program keluarga berencana. Penyuluhan dilakukan oleh PLKB dan bekerja sama dengan Puskesmas.
2. Pemberian alat kontrasepsi merupan kegiatan yang dilakukan puskesmas
untuk mendukung terlaksananya program KB. Alat kontrasepsi yang diberikan seperti pil KB, suntik, implan, IUD, dan kondom.
3. Konseling
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Konseling KB adalah bentuk komunikasi yang dilakukan untuk membantu para klien untuk memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya melalui pemahaman terhadap klien. Konseling yang baik akan membantu klien dalam menggunakan kontrasepsinya lebih lama dan meningkatkan keberhasilan program KB (Kemenkes, 2013).
4. Monitoring
Pengawasan pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas/memperbaiki pelayanan kontrasepsi seperti pelayanan, sumber daya manusia, pembiayaan, pelaporan, fasilitas.
Pengawasan dilakukan melalui analisis hasil pencatatan dan pelaporan dan pertemuan/rapat koordinasi (Kemenks, 2013).
Tugas Pokok dan Fungsi BPPKB Dalam Program KB Adapun tupoksi BPPKB dalam program KB meliputi :
1. Penyusunan perencanaan dan menyiapkan kebijakan fasilitas dibidang KB, ketahanan dan pemberdayaan keluarga serta advokasi dan KIE.
2. Pelaksanaan koordinasi dibidang keluarga berencana, ketahanan dan pemberdayaan keluarga serta advokasi dan KIE.
3. Pelaksanaan administrasi dibidang keluraga berencana sesuai dengan
18
ketentuan yang berlaku agar tertib administrasi dibidang KB.
4. Pelaksanaan penyiapan pedoman teknis dan program keluarga berencana, ketahanan dan pemberdayaan keluarga sert advokasi dan KIE
5. Pelaksanaan pengembangan informasi KB berdasarkan petunjuk yang ada agar program KB dapat berjalan dengan baik.
6. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan dibidang KB.
7. Pengelolaan dan penyediaan alat kontrasepsi untuk kebutuhan PUS.
8. Pendistribusian alat kontrasepsi dan petunjuk pelaksanaan pendistribusian alkon yang diterbitkan oleh BKKBN pusat agar tercapai target yang telah ditentukan.
9. Pelaksanaan pembagian tugas, arahan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas bawahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tercapainya tujuan kegiatan bidang KB.
10. Pengelolaan tenaga penyuluhKB/PLKB.
11. Penyelengaraan pemantauan dan evaluasi dibidang pengendalian penduduk dan KB.
Tugas Pokok dan Fungsi Puskesmas Dalam Program KB
Adapun tupoksi puskesmas dalam program KB meliputi menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit KB, komunikasi informasi dan edukasi, pelayanan kontrasepsi, pembinaan dan pengayoman medis kontrasepsi KB, pencatatan dan pelaporan.
Tugas Pokok dan Fungsi PLKB Dalam Program KB
Berdasarkan hasil wawancara terhadap PLKB di kecamatan, adapun
tupoksi PLKB yaitu melakukan prosedur kerja secara tepat, efektif, efesien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan mekanisme kerjanya. Mekanisme kerja PLKB yaitu dalam penggarapan program KB melaksanakan berbagai kegiatan operasional ditingkat mini lapangan, mekanisme itu meliputi 10 langkah PLKB :
1. Pendekatan tokoh formal.
2. Pendekatan dan pemetaan.
3. Pendekatan tokoh informal.
4. Pembentukan kesepakatan.
5. Penegasan kesepakatan.
6. Penerangan dan motivasi.
7. Penteladanan/pembentukan.
8. Pencatatan pelaporan dan evaluasi.
Landasan Teori
Menurut Azwar (2010) Pelayanan kesehatan sebagai suatu sistem memiliki unsur-unsur meliputi :
1. Masukan (input).
2. Proses (process).
3. Keluaran (output).
Kerangka Berpikir
Untuk melihat bagaimana pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang, maka dibuatllah kerangka pikir yang digambarkan dibawah ini :
20
Gambar 1. Kerangka berpikir Input :
1. SDM 2. Dana 3. Sarana dan
prasarana 4. Stok alat
Kontrasepsi (peralatan)
Proses : 1. Perencanaan 2. Penyuluhan 3. Pemberian alat
kontrasepsi 4. Konseling 5. Monitoring
Output :
Cakupan peserta KB
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap informan untuk mendapatkan data dan informasi secara jelas dan tepat terkait pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang (Notoadjmodjo,2002).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sei Semayang Kecamatan Sunggal, karena Puskesmas Sei Semayang merupakan salah satu kecamatan dengan pencapaian KB aktif yang paling rendah.
Waktu penelitian. Waktu penelitian akan dilaksanakan dimulai dengan survei pendahuluan sampai penelitian yang dimulai pada bulan Januari 2019 sampai Oktober 2019.
Subjek Penelitian
a. Kepala Puskesmas Sei Semayang
b. Penanggung jawab program KB di Puskesmas Sei Semayang c. PLKB Kecamatan Sunggal
d. Peserta KB e. Non Peserta KB Definisi Konsep
Untuk mempermudah penelitian, ada beberapa defenisi konsep yang harus diketahui antara lain :
22
a. Sumber daya manusia sangat penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efesien. Sumber daya manusia diperlukan untuk menunjang terlaksananya suatu program, seperti Kepala Puskesmas, tenaga kesehatan bagian KB di Puskesmas, PLKB di Kecamatan.
b. Dana adalah sejumlah uang/transaksi yang digunakan dalam pelaksanaan Program KB di Puskesmas Sei Semayang.
c. Sarana dan prasarana termasuk didalamnya mobil layanan KB, kartu peserta KB, dan ruangan khusus untuk program KB yang mendukung terlaksananya penatalaksanaan program KB.
d. Stok alat kontrasepsi merupakan persediaan alat kontrasepsi yang disediakan puskesmas sesuai keinginan masyarakat.
e. Perencanaan adalah suatu kegiatan yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan program KB di Puskesmas Sei Semayang.
f. Penyuluhan dilakukan untuk memberikan arahan dan pelayanan ke masyarakat agar mendukung terlaksananya program keluarga berencana.
g. Pemberian alat kontrasepsi merupakan kegiatan yang dilakukan puskesmas untuk mendukung terlaksananya program KB.
h. Konseling merupakan suatu bentuk komunikasi interpersonal yang khusus yaitu suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan kepada klien untuk memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya melalui pemahaman terhadap klien meliputi fakta- fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.
i. Monitoring adalah upaya supervisi dan review kegiatan yang diakukan secara sistematis oleh pengelola program untuk melihat apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan yang direncanakan.
Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan dengan berpedoman pada panduan wawancara yang telah dipersiapkan untuk menggali variabel-variabel penelitian. Observasi adalah cara memperoleh data tentang fakta yang sebenarnya terjadi. Teknik pengumpulan data dengan dokumen merupakan pelengkap dan penggunaan metode wawancara dan observasi juga untuk melakukan penelusuran dokumen-dokumen yang terkait dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2012).
Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis secara manual, yaitu dengan menuliskan hasil penelitian dalam bentuk tabel hasil wawancara mendalam, kemudian meringkasnya dalam bentuk matriks yang disusun sesuai bahasa baku jawaban informan. Ringkasan ini kemudian diuraikan kembali dalam bentuk narasi dan melakukan penyimpulan terhadap analisa yang telah di dapat secara menyeluruh (Hamidi, 2010).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Geografis. Puskesmas Sei Semayang yang terletak di Jalan Binjai Km.15 Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang dengan luas wilayah 20,98 km² dan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Madya Binjai.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Puji Mulia.
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Hamparan Perak.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sei Mencirim.
Puskesmas Sei Semayang memiliki luas wilayah 20,98 km² yang terbagi atas 3 wilayah kerja yaitu : Desa Sei Semayang, Desa Sumber Melati Diski (S.M.
Diski) dan Desa Serbajadi.
Demografis. Berdasarkan profil Puskesmas Sei Semayang pada tahun 2017 Penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sei Semayang pada tahun 2016 berjumlah 44.939 jiwa dengan rincian, yang terdiri dari:
Laki-laki = 22.476 jiwa
Perempuan = 22.463 jiwa
Dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 10.338 KK.
Tabel 1
Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Semayang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang
Desa Jumlah Penduduk Jumlah KK
Sei Semayang 27.872 6.302
S.M. Diski 13.951 3.012
Serbajadi 3.116 1.527
Jumlah 44.939 10.338
Sumber: Profil Puskesmas Sei Semayang tahun 2017
Sumber daya manusia. Puskesmas Sei Semayang memiliki jumlah tenaga kesehatan sebanyak 39 orang yang terdiri dari:
Tabel 2
Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Jabatan di Puskesmas Sei Semayang
Tenaga Kesehatan Jumlah
Dokter Umum 4
Dokter Gigi 2
Tenaga Farmasi 1
Tenaga Gizi 1
Perawat 7
Perawat Gigi 1
Bidan 20
Tenaga Ahli Kesehatan Masyarakat 3
Jumlah 39
Sumber: Profil Puskesmas Sei Semayang tahun 2017
Karakteristik Informan
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara terhadap informan yang dijadikan narasumber penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang. Adapun informan tersebut yaitu: 1 orang kepala Puskesmas, 1 orang penanggung jawab program KB di Puskesmas Sei Semayang, 1 orang PLKB, 5 orang peserta KB, 3 PUS yang bukan peserta KB. Adapun karakteristik informan berdasarkan hasil penelitian dapat terlihat pada tabel 3
26
berikut.
Tabel 3
Karakteristik Informan
Informan Jenis
Kelamin
Umur Pendidikan Jabatan Dr. Ni Putu Yurizka Perempuan 32 S-1 Kepala Puskesmas
Sei Semayang Risnawati Br. Tarigan Perempuan 50 D-IV Penanggung Jawab
Program KB di Puskesmas PLKB
Siti Marheni Perempuan 56 SMA Peserta KB
Windi Perempuan 24 SMP Peserta KB
Anita Sari Perempuan 45 SMP Peserta KB
Rubiah Perempuan 34 SMA Peserta KB
Misniarti Perempuan 35 SMP Peserta KB
Rusti Perempuan 46 SMA Peserta KB
Mulianita Damanik Perempuan 41 SMP Bukan Peserta KB
Sulastri Perempuan 33 SMK Bukan Peserta KB
Nurmala Br. Ginting Perempuan 44 SMA Bukan Peserta KB Masukan (Input)
Masukan merupakan elemen yang diperlukan untuk berfungsinya sebuah sistem (Notoadtmodjo, 2007). Beberapa aspek yang dikatagorikan sebagai masukan (input) dalam program keluarga berencana yaitu SDM, Dana, Sarana dan prasarana serta stok alat kontrasepsi (Peralatan).
Sumber Daya Manusia (SDM)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti mengenai sumber daya manusia dalam pelaksanaan program KB di Puskesmas Sei Semayang maka diperoleh informasi sebagai berikut:
“dibagian program KB ada 4 orang, 1 penanggung jawab dan selebihnya bidan pelaksana” (informan 1)
“kami ada empat orang nak, menurut saya itu udah cukup tugas kami kan untuk membantu pemasangan alat kontrasepsi dan
membantu pelaksanaan program KB itu kan untuk yang dipuskesmas aja kalau untuk turun kelapangan dibantu dari kecamatan” (informan 2)
Makna yang terkait sumber daya manusia diatas, menunjukkan bahwa puskesmas memiliki ketersediaan sumber daya manusia yang menangani bagian KB sebanyak 4 orang yaitu bagian KIA/KB dan itu sudah mencukupi karena tenaga kesehatan tersebut sudah berpengalaman di bidangnya. Kedua bagian ini saling bekerja sama dan jika turun kelapangan dibantu dari kecamatan dalam menjalankan program KB di wilayah kerja Puskesmas Sei Semayang tersebut.
Menurut Undang-Undang Tentang Tenaga Kesehatan Nomor 36 Tahun 2014, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Menurut Hidayah (2012) sumber daya manusia menjadi sumber daya utama dalam mengimplementasikan sebuah program/kebijakan. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi salah satunya disebabkan oleh staff yang tidak memadai atau mencukupi bahkan tidak berkompeten di bidangnya. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan tiga, PLKB yang ada di Kecamatan Sunggal belum menjangkau seluruh masyarakat desa, hal ini diakibatkan kurangnya jumlah PLKB yang tersedia. Dapat dilihat dari pernyataan ini :
“kami ada tujuh orang nak, kami menyuluh dilapangan dan pencatatan pelaporan masing-masing penanggung jawabnya di daerah binaan masing-masing, kalau menurut peraturan idealnya sih PLKB membina satu sampai dua desa, kecamatan ini ada
28
tujuh belas desa jadi kami membina 2 sampai 3 desa”(informan3)
kegiatan yang dilakukan PLKB dapat dilihat dari pernyataan ini:
“kegiatan yang kami lakukan yaitu penyuluhan, pencatatan dan pelaporan kadang kami melakukan penyuluhan gabung dengan puskesmas, tugas kami hanya mencari akseptor yang akan kami kirim ke puskesmas nak” (informan 3)
Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui bahwa jumlah PLKB yang ada di Kecamatan Sunggal berjumlah tujuh orang dan memiliki tujuh belas desa binaan dan menurut mereka itu belum cukup. PLKB merupakan ujung tombak penyuluhan KB yang langsung berhubungan dengan masyarakat didesa/kelurahan binaannya, jumlah PLKB yang kurang menimbulkan beban kerja yang terlalu banyak terhadap satu orang PLKB mulai dari penyuluhan, pelayanan, pelaporan, evaluasi dan pengembangan KB. Beban kerja sebanyak itu tentunya mempengaruhi pelaksanaan program KB menjadi kurang maksimal.
Sumber daya adalah kecukupan baik kualitas maupun kuantitas implementor yang dapat melengkapi seluruh kelompok sasaran serta sarana dan prasarana. Sumber daya manusia sangat penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Sumber daya manusia diperlukan untuk menunjang terlaksananya suatu program. Sebuah program akan dapat berhasil jika didukung oleh sumber daya yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dapat melengkapi seluruh kelompok sasaran.
Sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan pelaksanaan program keluarga berencana meliputi penanggung jawab program KB dengan latar belakang D-IV Kebidanan, serta petugas lapangan program keluarga berencana (PLKB) yang berlatar belakang SMA. SDM memiliki perannya masing-masing
dalam melaksanakan kegiatan program keluarga berencana. Misalnya kegiatan penyuluhan, kegiatan ini dilaksanakan langsung PLKB yang kadang dibantu oleh petugas KB.
Sumber daya manusia merupakan sumber daya penggerak utama yang sangat dibutuhkan tenaganya dalam setiap program yang akan dijalankan.
Ketersediaan sumber daya manusia untuk tenaga di puskesmas dalam pelaksanaan program keluarga berencana sudah cukup namun petugas lapangan program keluarga berencana masih kurang yang membuat petugas belum menjangkau keseluruh masyarakat. Seharusnya jumlah PLKB ditambah agar tugas yang diberikan tidak terasa terlalu berat sehingga mampu melaksanakan secara maksimal.
Tersedianya tenaga kesehatan yang cukup merupakan salah satu faktor keberhasilan suatu program. Tenaga kesehatan yang kurang terampil menjadi salah satu penyebab pekerjaan tidak terselesaikan secara optimal. Sebagaimana hasil wawancara dibawah ini :
“kalau pelatihan untuk petugas ada nak paling pemasangan alat kontrasepsi aja itu pun jarang dilakukan nak” (informan 2)
Hasil wawancara terhahap informan 2 diperoleh informasi bahwa mereka sudah lama tidak mendapatkan pelatihan, karena sudah lama jadi mereka lupa kapan terakhir mendapatkan pelatihan. Berbeda dengan petugas KB di puskesmas, PLKB di Kecamatan sering mendapatkan pelatihan sebagaimana hasil wawancara dibawah ini:
“kalau pelatihan banyak dan sering juga seperti LDU(Latihan Dasar Umum), PLKL (Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga) UPGK (Upaya Perbaikan Gizi Keluarga), UPPKS
30
dan lain-lain”(informan 3)
Pelatihan sangat penting untuk mendorong sikap dan perilaku tenaga kesehatan dan para tenaga lain agar mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik untuk mencapai kesehatan yang optimal. Keadaan ini sejalan dengan penelitian Juliani dkk (2012) pelatihan sangat penting untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja dan meningkatkan kinerja pegawai.
Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sumber daya manusia dalam program KB di Puskesmas Sei Semayang dari segi kuantitas sudah cukup akan tetapi jarang mendapatkan pelatihan dan PLKB di Kecamatan Sunggal sudah memiliki kualitas yang cukup baik serta sering mendapatkan pelatihan namun dari segi kuantitas PLKB yang ada belum mencukupi karena hanya ada 7 orang dan memiliki 17 desa binaan.
Dana. Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai sumber pendanaan yang ada di Puskesmas Sei Semayang untuk melakukan Pelaksanaan program KB, maka diperoleh informasi sebagai berikut :
“tidak ada dana yang disediakan puskesmas untuk program KB”
(informan 1)
“dana dari puskesmas untuk penyediaan alat kontrasepsi tidak ada, semua dari PLKB tetapi kalau mau turun kelapangan biasaya diberikan dari BOK nak itu biasanya kayak penyuluhan tentang KB, penyuluhan kesehatan reproduksi, POKMAS gitu la nak” (informan 2)
“ada dari BOKB sebenarnya tidak cukup tapi ya dicukup cukupkan saja nak kan saya punya gaji, kalau sistem pendanaan untuk program KB biasanaya dari APBD/APBN” (informan 3)
Dalam melaksanakan sebuah program, dana merupakan salah satu sumber
daya yang sangat penting dalam keberhasilan suatu program. Berdasarkan hasil wawancara diatas, informan menyatakan bahwa pendanaan untuk pelaksanaan program KB tidak ada dana yang dikeluarkan dari puskesmas untuk program KB tetapi jika turun kelapangan ada dana diberikan dari BOK. Kalau PLKB dana di berikan dari dana BOKB dan juga dana APBD/APBN untuk turun kelapangan melakukan penyuluhan dan terkadang tidak cukup.
Keterbatasan sumber daya dapat menghambat pelaksanaan suatu kebijakan. Semakin besar dana yang dikeluarkan untuk memperbaiki sebuah program maka hasilnya akan semakin efektif, apabila dana yang diberikan koefisisen mungkin dan semakin kecilnya dana yang digunakan untuk sebuah program maka program hanya akan berjalan dengan lambat dan hasilnya tidak akan efisien (Wibowo, 2008).
Sarana dan prasarana. Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai sarana dan prasarana yang tersedia dan diperlukan untuk menjalankan program KB diperoleh informasi sebagai berikut:
“sarana khusus seperti kendaraan tidak ada nak” (informan 1)
“saya kalau mau kelapangan ya pakai kereta sendiri, belum ada kendaraan yang dikasih dari puskesmas, kami melayani setiap pasien datang kemari kalau ketersediaan alat kontrasepsi ada kayak implan, pil KB, IUD, suntik sudah memadai tapi ketersediaan suntik sebulan tidak ada nak padahal peminatnya banyak. Kalau dari tingkat 2 biasanya diberikan pelayanan seperti MUYAN (Mobil Unit Pelayanan KB)”(informan 2)
“ada diberikan sepeda motor, kalau bahan ada sih berupa alat peraga, berupa timbal balik, video dan buku-buku panduan”
(informan 3)
Makna yang terkait sarana, prasarana diatas, diperoleh bahwasanya sarana
32
dan prasarana dalam melaksanakan program KB di Puskesmas Sei Semayang petugas KB nya tidak diberikan kendaraan khusus dari pihak puskesmas mereka kalau turun kelapangan memakai kendaraan sendiri, penyediaan alat kontrasepsi sudah memadai namun alat kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan masyarakat tidak ada. Sarana dan prasarana dari tingkat 2 yaitu MUYAN (Mobil Unit Pelayanan) dan kendaraan bermotor yang diberikan kepada PLKB untuk kelapangan melakukan penyuluhan.
Program Keluarga Berencana yang ada di puskesmas ataupun didesa-desa harus memiliki sarana dan prasarana. Sarana adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai penunjang dalam melaksanakan suatu kegiatan. Fasilitas harus ada pada setiap puskesmas dan harus dalam kondisi yang baik atau tidak rusak, fasilitas harus ada pada setiap puskesmas untuk membantu para petugas puskesmas melaksanakan kegiatannya (Wibowo, 2008).
Sarana dan prasarana pelayanan KB meliputi jumlah fasilitas pelayanan kesehatan statis puskesmas, poskesdes) dan fasilitas pelayanan kesehatan bergerak, media dan sarana KIE (KIE Kit) yang ada, sarana pencatatan dan pelaporan dan formulir-formulir (informed choise dan informed consent), alat dan obat kontrasepsi, obat dan alat habis pakai dan alat kesehatan penunjang pelayanan KB. Data-data ini dapat diperoleh dari pelaporan pelayanan tiap bulan dan laporan pengendalian program KB ataupun hasil dari pemantauan ke lapangan.
Sarana dan prasarana di Puskesmas Sei Semayang sudah cukup memadai
tetapi ada peralatan yang tidak tersedia seperti alat kontrasepsi suntik sebulan sehingga banyak masyarakat tidak dilayani. Ketersediaan alat kontrasepsinya yaitu implan, IUD, pil, suntik.
Stok alat kontrasepsi (peralatan). Berdasarkan dari hasil wawancara mengenai stok alat kontrasepsi (peralatan) yang tersedia dan diperlukan untuk menjalankan program KB diperoleh informasi sebagai berikut:
“ketersediaan alat kontrasepsi disini sudah memadai seperti implan, suntik, pil KB,IUD (informan 1)
“stok alat kontrasepsi disini sudah bagus nak tetapi masalahnya kami tidak menyediakan alat kontrasepsi sesuai keinginan masyarakat yaitu penyediaan alat kontrasepsi suntik sebulan”
(informan 2)
“alat kontrasepsi suntik sebulan emang tidak kami berikan nak karena BKKBN tidak mau mengeluarkannya dikarenakan mereka melakukan penghematan”(informan 3)
“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di klinik dek ya pasti bayar dek gak gratis, kakak dari dulu kalau ada apa- apa saya berobatnya langsung keklinik gak ke puskesmas alasan kakak milih kontrasepsi suntik sebulan karena kakak gak cocok dek sama kontrasepsi suntik 3 bulan kalau pakai itu gak pernah haid dek jadi kakak takut tapi kalau pakai yang sebulan haid kakak lancar” (informan 4)
“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di klinik dan saya bayar dek karena di puskesmas gak ada alat kontrasepsi yang kakak inginkan, ya untuk menjaga agar tidak hamil lagi, memilih kontrasepsi ini karena kalau pakai ini haid kakak lancar terus ” (informan 5)
“alat kontrasepsi/obat (pil kb) membeli di apotek, ya karena ibu takut disuntik nak jadi ibu lebih memilih minum pil KB dari pada yang lain (informan 6)
“alat kontrasepsi/obat saya dapatkan dikantor kepala desa nak waktu ada acara gratis pemasangan implan, ya karena ibu takut lupa dan ibu gak mau ribet nak kalau pakai implan kan jangka waktunya lama” (informan 7)
34
“alat kontrasepsi/obat (suntik sebulan) saya dapatkan di bidan desa, ya karena serasinya yang ini nak yang lain selalu kebobolan terus” (informan 8)
Makna yang terkait stok alat kontrasepsi (peralatan) diatas, bahwasanya peralatan untuk mendukung pelaksanaan program KB belum sesuai dengan keinginan masyarakat seperti penyediaan alat kontrasepsi suntik sebulan. Hal ini dikarenakan BKKBN tidak mau memberikannya karena BKKBN saat ini sedang melakukan penghematan jadi tidak semua alat kontrasepsi diberikan secara gratis.
Dilihat dari informasi dari peserta KB rata-rata masyarakat tidak mendapatkan alat kontrasepsi di puskesmas melainkan di klinik,apotek dan bidan desa.
Ketersediaan alat kontrasepsi sangat penting untuk mendukung suatu program keluarga berencana berjalan dengan lancar jika stok alat kontrasepsi tidak tersedia maka bisa dikatakan program tersebut tidak berhasil. Dari hasil wawancara diatas maka dapat disimpulkan bahwa stok alat kontrasepsi sudah memadai akan tetapi ketersediaan alat kontrasepsi sebulan tidak disediakan padahal banyak peminatnya. Rata-rata alasan mereka memiliki alat kontrasepsi sebulan adalah jika menggunakan alat kontrasepsi ini siklus haid mereka lancar dibandingkan dengan memakai alat kontrasepsi 3 bulan.
Proses (Process)
Proses merupakan suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehinggga menghasilkan suatu (keluaran) yang direncanakan (Notoatmodjo, 2011).
Perencanaan. Perencanaan yang disusun melalui pengenalan permasalahan secara tepat berdasarkan data yang akurat, serta diperoleh dengan
cara dan dalam waktu yang tepat, maka akan dapat mengarahkan upaya kesehatan yang dilaksanakan puskesmas dalam mencapai sasaran dan tujuannya. Dalam upaya mencakup seluas mungkin sasaran masyarakat yang harus dilayani, serta mengingat ketersediaan sumber daya yang terbatas, mutu pelayanan kesehatan harus dilaksanakan secara terintegrasi baik lintas program maupun lintas sektor.
Koordinasi dengan lintas sektor sangat diperlukan, karena faktor penyebab dan latar belakang masalah kesehatan tertentu kemungkinan hanya dapat diselesaikan oleh mitra lintas sektor.
Proses perencanaan puskesmas akan mengikuti siklus perencanaan daerah, dimulai dari tingkat desa/kelurahan, selanjutnya disusun pada tingkat kecamatan dan kemudian diusulkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Perencanaan puskesmas yang diperlukan terintegrasi dengan lintas sektor kecamatan, akan diusulkan melalui kecamatan ke pemerintah daerah kabupaten/kota.
Berdasarkan hasil wawancara mengenai perencanaan dalam melaksanakan program KB di Puskesmas Sei Semayang, maka diperoleh informasi sebagai berikut:
“untuk perencanaan kegiatan KB biasanya dibuat oleh penanggung jawab program KB nya, nanti setelah selesai baru didiskusikan dengan saya”(informan 1)
“perencanaan ada biasanya setahun sekali nak dan jika mau melakukan kegiatan selalu gabung dengan KIA juga jadi kalau turun kelapangan sekaligus, untuk perencanaan khususnya itu gak ada” (informan 2)
“udah pasti ada lah nak karena kami kan ada perencanaan kerja perminggu dan perbulannya itu seperti menyusun materi penyuluhan, pembinaan tokoh informal, melakukan kunjungan ke rumah-rumah” (informan 3)
36
Makna yang terkait perencanaan diatas, bahwasanya perencanaan di puskesmas untuk kegiatan program KB dilapangan dilakukan setahun sekali dan perencanaan tersebut digabung dengan perencanaan KIA juga dan tidak ada perencanaan khusus. Berbeda dengan di PLKB perencanaan kerja ada dilakukan perminggu dan perbulan kedesa-desa dan apa-apa saja yang harus dilakukan atau di buat disana.
Perencanaan adalah hal terpenting dalam proses manajemen karena perencanaan akan menentukan arah fungsi manajemen lainnya. Untuk itu, fungsi perencanaan merupakan landasan dasar pengembangan proses manajemen secara keseluruhan. Jika perencanaan tidak dirumuskan dan ditulis dengan jelas, proses manajemen tidak berjalan secara berurutan dan teratur. Langkah dalam penyusunan perencanaan yaitu melakukan analisis situasi, mengidentifikasi masalah dan prioritasnya, menentukan tujuan program mengkaji hambatan dan kelemahan program, menyusun rencana kerja operasional.
Langkah pertama perencanaan dalam pelayanan KB adalah menentukan jumlah sasaran pelayanan KB dan perhitungan jumlah alat kontrasepsi.
perencanaan pelayanan KB dilaksanakan pada saat minilokakarya dan terpadu dengan pelayanan KIA lain.
Hambatan yang sering terjadi dalam perencanaan program KB yaitu perencanaan yang sudah disusun dengan baik namun diwaktu pelaksanaan tidak berjalan dengan baik dan tidak mencapai target yang sudah ditetapkan.
Penggerakkan dan Pelaksanaan program/kegiatan dapat dilakukan melalui berbagai cara, diantranya adalah rapat dinas, pengarahan pada saat apel pegawai,
pelaksanaan kegiatan dari setiap program sesuai penjadwalan pada rencana pelaksanaan kegiatan bulanan maupun dilakukan melalui forum yang dibentuk khusus untuk itu. Forum yang dibentuk khusus untuk melakukan penggerakkan dan pelaksanaan program/kegiatan dinamakan forum Lokakarya Mini Puskesmas.
Dalam rangka penggerakkan dan pelaksanaan program/kegiatan, kepala puskesmas dapat melakukan pengorganisasian ulang petugas di puskesmas dalam rangka penguatan dan pemantapan organisasi (Permenkes RI Nomor 44 tahun 2016).
Penyuluhan. Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan terkait dengan kegiatan penyuluhan yang dilakukan dalam pelaksanaan program KB di wilayah kerja Puskesmas Sei Semayang maka diperoleh informasi sebagai berikut:
“selain pelayanan di puskesmas, kegiatan penyuluhan dilapangan juga ada biasanya udah diserahkan ke petugas KB nya langsung mereka yang turun kelapangan nak” (informan 1)
“kalau dipuskesmas hanya pelayanan masang kontrasepsi aja, kalau penyuluhan itu ya ke desa-desa kayak ibu kan petugas KB, itu ada kita dapet uang transport dari BOK, kegiatan penyuluhan sering dilakukan, kami langsung kelapangan memberikan informasi macam-macam KB dan kegunaannya. Kadang 3 bulan sekali kadang pas posyandu sekalian gitu” (informan 2)
“iya sering, penyuluhannya dibantu dengan alat peraga, timbal balik, video dan biasanya dilakukan di posyandu dan pertemuan- pertemuan yang sudah terjadwal” (informan 3)
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa petugas telah melakukan penyuluhan secara rutin ke lapangan di desa-desa dan bergabung dengan posyandu untuk melakukan penyuluhan ditempat tersebut tetapi berbeda dengan pernyataan informan peserta KB seperti yang dinyatakan dibawah ini :