TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.5 Dana Perimbangan
Halim ( 2002 : 65 ) menyebutkan bahwa “ Dana perimbangan adalah
dana yang bersumber dari penerimaan anggaran pendapatan dan belanja (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan
daerah”.
Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah.
Berdasarkan Pasal 10 Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyatakan dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana bagi hasil dirinci menurut obyek pendapatan mencakup bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak. Dana alokasi umum hanya terdiri dari obyek pendapatan dana alokasi umum, sedangkan dana alokasi khusus dirinci menurut obyek pendapatan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Pemerintah memberikan sumber - sumber pembiayaan yang memadai melalui dana perimbangan, agar daerah mampu melaksanakan kewenangannya secara optimal.
Dana perimbangan yang terdiri dari 3 jenis sumber dana , merupakan pendanaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena masing – masing jenis dana perimbangan tersebut saling mengisi dan saling melengkapi.
2.1.5.1 Dana Bagi Hasil
Menurut Ismail dan Rahim (2009 : 38) Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil.
Dalam penjelasannya dana bagi hasil pada APBN merupakan pendapatan yang diperoleh dari sumber - sumber daya nasional yang berada di daerah berupa pajak dan sumber daya alam.
1. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri dari pajak bumi dan bangunan (PBB), Bea perolehan Hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), serta pajak penghasilan (PPh), baik dari WP pribadi maupun dari PPh 21.
2. Dana bagi hasil sumber daya alam berasal dari enam sektor yaitu: kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, serta pertambangan panas bumi. Pemerintah menetapkan alokasi DBH dari sumber daya alam sesuai dengan penetapan dasar perhitungan daerah penghasil. Nordiawan, et. al ( 2007 : 49). Dana bagi hasil diberikan Pemerintah Pusat untuk mengatasi masalah vertical fiscal balance yaitu untuk menjamin keseimbangan antara kebutuhan fiskal dengan sumber - sumber fiskal pada berbagai tingkat pemerintah.
2.1.5.2 Dana Alokasi Umum
Dana alokasi umum ( DAU ) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi yang bertujuan untuk pemerataan dan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah. Ismail dan Rahim (2009 : 39).
DAU tersebut dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan dalam APBN dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang – kurangnya 26 % dari pendapatan dalam negeri neto.
2. Proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten / kota.
3. Jika penentuan proporsi tersebut belum dapat dihitung secara kuantitatif, proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/ kota ditetapkan dengan imbangan 10% dan 90%.
Kusnandar dan Siswantoro (2012) menyatakan bahwa DAU
bersifat “Block Grant” yang berarti penggunaanya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka otonomi daerah.
DAU suatu daerah ditentukan besar kecilnya fiskal (Fiscal gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (Fiscal need) dan potensi daerah ( fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar.
Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum (antara lain kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pengentasan kemiskinan)
2.1.5.3 Dana Alokasi Khusus
Menurut Nordiawan, et. al( 2007 : 59 ) “ Dana Alokasi Khusus
(DAK) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan ke daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional ”. Daerah tertentu adalah daerah yang dapat
memperoleh alokasi DAK berdasarkan kriteria umum, khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum, berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan APBD. Kriteria khusus, berdasarkan peraturan perundang - undangan dan karakteristik daerah, Kriteria teknis, berdasarkan ditetapkan oleh kementerian negara / menteri teknis terkait.
Menurut Sianipar (2011) Adapun kebijakan DAK secara spesifik, yaitu:
1. Diprioritaskan untuk membantu daerah - daerah dengan kemampuan keuangan dibawah rata - rata nasional, dalam rangka mendanai kegiatan penyediaan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat yang telah merupakan urusan daerah.
2. Menunjang percepatan pembangunan sarana dan prasarana didaerah pesisir dan pulau – pulau kecil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah tertinggal / terpencil, daerah rawan banjir / longsor, serta termasuk kategori daerah ketahanan pangan dan daerah pariwisata.
3. Mendorong peningkatan produktivitas kesempatan kerja dan diversifikasi ekonomi terutama dipedesaan, melalui kegiatan khusus dibidang pertanian, kelautan, dan perikanan, serta infrastruktur.
4. Meningkatkan akses penduduk miskin terhadap pelayanan dasar dan prasarana dasar melalui kegiatan khusus dibidang pendidikan, kesehatan, dan infranstruktur.
5. Menjaga dan meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah kerusakan lingkungan hidup, dan mengurangi resiko bencana melalui kegiatan khusus dibidang lingkungan hidup, mempercepat penyediaan, serta meningkatkan kecakupan dan kehandalan pelayanan prasarana dan sarana dasar dalam satu kesatuan sistem yang terpadu melalui kegiatan khusus dibidang infrastruktur.
6. Mendukung prasarana didaerah yang terkena dampak pemekaran pemerintah kabupaten, kota, provinsi, melalui kegiatan khusus dibidang pemerintah.
7. Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi kegiatan yang didanai dari DAK dengan kegiatan yang didanai dari anggaran Kementerian / Lembaga dan kegiatan yang didanai dari APBD.
8. Mengalihkan secara bertahap dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang digunakan untuk mendanai kegiatan –
kegiatan yang telah menjadi urusan daerah ke DAK. Dana yang dialihkan berasal dari anggaran Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pendidikan Nasional, dan Departemen Kesehatan.