• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dapat terjadi setiap saat / sering sekali (setiap hari) C = Consequence (Tingkat Keparahan)

1. Tidak terjadi cedera, kerugian finansial sedikit 2. Cedera ringan, perlu P3K, kerugian finansial sedikit 3. Cedera sedang, perlu medis, kerugian finansial besar 4. Cedera berat ≥ 1 orang, kerugian besar, gangguan produksi

5. Fatal ≥ 1 orang, kerugian sangat besar dan dampak luas, terhentinya seluruh kegiatan

RR = Risk Rating (Tingkat Risiko) ; RR = L x C

Pengendalian Risiko yang Sudah Diterapkan

Upaya pengendalian yang telah diterapkan di UKM Tahu Karmin di Kelurahan Mabar yaitu telah menyediakan tempat air minum untuk pekerja namun jaraknya masih jauh dari area kerja serta penggunaan alat pelindung diri yang terbatas yaitu hanya sepatu boots dan celemek (apron).

Tabel 20

Tabel HIRARC pada Proses Perendaman dan Pencucian Kedelai

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Perendaman dan

pencucian kedelai

1. Memasukkan kedelai dari dalam karung goni ke drum perendaman.

2. Memasukkan air sampai semua kedelai terendam.

3. Membuang air sisa rendaman.

4. Mencuci kedelai yang sudah direndam

sebanyak 2-3 kali.

5. Memasukkan kedelai yang sudah bersih ke masing-masing ember dengan berat 10kg.

Bahaya ergonomi:

1. Beban kedelai yang berat.

2. Postur tubuh yang salah saat mengangkat Bahaya fisik:

3. Air sisa rendaman membuat genangan air di lantai, lantai berlumut dan licin.

4. Tangan berada di air terlalu lama.

1. Kaki tertimpa karung kedelai

3 1 Low

1. Untuk meringankan beban, proses kerja mengangkat dan memindahkan alat/bahan dilakukan oleh 2 orang pekerja.

2. Menggunakan safety shoes (sepatu boots).

2. Nyeri otot, sakit pinggang

4 2 Moderate

1. Meregangkan otot-otot tubuh di sela-sela waktu kerja.

2. Mengedukasi pekerja tentang teknik mengangkat beban dengan benar.

3. Menyediakan balsam yang

mengandung bahan methyl salicylate untuk mengurangi keluhan nyeri otot.

3. Terpeleset /

terjatuh 4 1 Moderate

1. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang) harus segera diperbaiki.

2. Menggunakan safety shoes (sepatu boots).

4. Kulit telapak tangan mengeriput dan

mengelupas

3 1 Low Menggunakan sarung tangan karet (latex/nitrile).

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Kondisi lantai di semua area kerja UKM Tahu Karmin tidak rata dan berlubang, selain itu air yang digunakan untuk proses pengolahan tahu langsung dibuang ke lantai sehingga menyebabkan lantai selalu tergenang air, berlumut dan licin termasuk juga di area perendaman dan pencucian kedelai. Pekerja pada area ini hanya satu orang dan harus melakukan kegiatan berulang (repetitif) yaitu mengangkat karung kedelai dan air ke dalam drum perendaman serta memisahkan kedelai yang sudah dicuci ke dalam masing-masing ember. Pada proses ini terdapat bahaya ergonomi dan bahaya fisik.

Bahaya ergonomi berasal dari berat beban kedelai yang termasuk ke dalam kategori tingkat risiko rendah (low risk) dan postur tubuh yang salah saat mengangkat karung dan ember kedelai dengan kategori tingkat risiko sedang (moderate risk). Adapun bahaya fisik di proses perendaman dan pencucian kedelai ini berasal dari lantai licin yang dapat menyebabkan pekerja terpeleset atau terjatuh. Bahaya fisik lainnya berasal dari pengupasan kulit kedelai (dengan cara meremasnya dalam air) menyebabkan tangan berada terlalu lama di air yang berisiko kulit telapak tangan menjadi mengerut dan mengelupas yang termasuk ke dalam kategori tingkat risiko rendah (low risk).

Tabel 21

Tabel HIRARC pada Proses Penggilingan Kedelai

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Penggiling -an kedelai

1. Menghidupkan mesin

penggiling.

2. Memasukkan kedelai dalam mesin

penggiling.

3. Menambahkan air untuk memperhalus gilingan kedelai.

4. Memberikan hasil gilingan kedelai ke masing-masing drum

perebusan.

Bahaya fisik:

1. Suara bising pada mesin.

2. Lantai tempat kerja licin.

3. Ember kedelai yang berserakan.

Bahaya mekanis:

4. Tangan kontak dengan mesin (rantai) yang bergerak.

Bahaya biologi:

5. Kondisi mesin berkarat dan kotor, jarang dilakukan perawatan

1. Gangguan

pendengaran dalam jangka waktu panjang

(ketidaknyamanan)

2 3 Moderate

1. Memasang alat peredam suara pada mesin.

2. Menggunakan sumbat/tutup telinga (ear plug).

2. Terpeleset /

terjatuh 4 1 Moderate

1. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang) harus segera diperbaiki.

2. Menggunakan safety shoes (sepatu boots).

3. Tersandung ember 3 1 Low Penataan fasilitas kerja, disusun rapi sesuai dengan tempatnya.

4. Luka gores / luka

sayat 3 2 Moderate

1. Memasang penutup mesin penggiling untuk menghindari kontak langsung dengan bagian tubuh.

2. Penyediaan kotak P3K.

3. Pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya di area produksi.

5. Pekerja terpapar bakteri & terjadi kontaminasi pada makanan (produk tahu)

5 1 Moderate

1. Pekerja harus selalu memperhatikan personal hygiene.

2. Penyediaan fasilitas cuci tangan pakai sabun untuk pekerja.

3. Melakukan pembersihan dan perawatan (maintenance) pada mesin secara teratur.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Pada proses penggilingan terdapat potensi bahaya fisik yang disebabkan oleh suara bising dari mesin penggiling kedelai yang terus-menerus beroperasi sampai semua kedelai tergiling habis dalam satu hari. Kondisi mesin sudah mulai berkarat dibagian luar, mesin jarang dibersihkan sehingga banyak sisa-sisa bubur kedelai yang sudah mengering dan menjadi kerak, selain itu mesin penggiling juga tidak memiliki penutup mesin. Kemudian karena area kerja yang sempit, ember/drum dan alat-alat kerja yang ada disekitarnya menjadi berserakan dan diletakkan sembarangan. Proses ini dikerjakan oleh satu orang pekerja yang sama seperti di tahap perendaman. Adapun jenis bahaya yang terdapat di tahap penggilingan berupa bahaya fisik, mekanis dan biologi.

Terdapat 5 risiko pada proses penggilingan kedelai, 4 risiko diantaranya merupakan risiko dengan kategori sedang (moderate risk) dan 1 risiko lainnya merupakan kategori tingkat risiko rendah (low risk).

Tabel 22

Tabel HIRARC pada Proses Perebusan Bubur Kedelai

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian Tahap Rincian

Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Perebusan bubur kedelai

1. Mengangkat kayu bakar.

2. Memanaskan boiler untuk perebusan.

3. Memasukkan kedelai yang sudah digiling dalam drum perebusan.

4. Bubur kedelai yang sudah matang dialirkan melalui keran yang ada dibagian bawah drum.

Bahaya ergonomi:

1. Postur tubuh membungkuk serta kegiatan dilakukan berulang (repetitif) Bahaya mekanis:

2. Tertimpa kayu / tertusuk serpihan kayu

Bahaya kimia:

3. Asap pembakaran mesin ketel uap Bahaya fisik:

4. Lingkungan kerja panas karena suhu uap boiler ±150ᵒC 5. Terjadi penyumbatan

pada pipa uap / ada kelalaian pekerja.

6. Terkena percikan / tersulut api kayu bakar

7. Terkena rebusan kedelai yang panas / mendidih

8. Tempat kerja licin

1. Kelelahan, nyeri

punggung dan bahu

4 2 Moderate

1. Meregangkan otot tubuh di sela-sela waktu kerja.

2. Mengedukasi pekerja tentang teknik mengangkat beban dengan benar.

3. Menyediakan balsam yang mengandung bahan methyl salicylate untuk mengurangi keluhan nyeri otot.

2. Memar / lebam / luka pada kaki

3 1 Low 1. Mengangkat kayu menggunakan alat bantu (angkong).

2. Menggunakan safety shoes (sepatu boots).

3. Gangguan pernafasan jangka panjang

5 1 Moderate 1. Menggunakan masker 2. Tidak bekerja sambil merokok 4. Dehidrasi,

keringat yang dikeluarkan berlebihan

4 1 Moderate

1. Menyediakan tempat untuk minum yang dekat dengan area kerja, pekerja sebaiknya minum air sebanyak 2,8L/hari karena bekerja di lingkungan yang panas.

2. Memiliki seragam kerja (wearpack) yang dapat menyerap keringat (bahan katun).

5. Boiler

meledak 1 5 High

1. Sebaiknya terdapat standar prosedur kerja aman yang tertempel.

2. Boiler sebaiknya dilengkapi dengan standar keamanan seperti safety valve dan alarm control.

3. Harus tersedia APAR untuk pencegahan pertama jika terjadi kebakaran/ledakan.

6. Luka bakar 3 3 High Menggunakan baju lengan panjang, sarung tangan, sepatu boots dan celemek (apron).

7. Kulit melepuh 5 2 High 8. Terpeleset dan

terjatuh 4 1 Moderate

1. Menggunakan safety shoes (sepatu boots) 2. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang) harus

segera diperbaiki

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Untuk merebus kedelai dibutuhkan uap panas yang berasal dari mesin ketel uap. Untuk itu boiler harus dipanaskan terlebih dahulu menggunakan kayu bakar. Kayu bakar diangkut dari tempat penyimpanan (diluar area produksi tahu) dengan alat bantu angkong. Setelah itu, kayu diletakkan dekat dengan area boiler dan tungku penggorengan. Pekerja yang memerlukan kayu harus mengangkat kayu secara manual untuk dijadikan bahan bakar. Api dari pembakaran boiler pun menyebabkan suhu di semua area menjadi panas. Selain itu percikan api juga bisa mengenai pekerja yang ada di dekatnya. Terdapat pula perilaku tidak aman dari pekerja yaitu tidak menggunakan baju karena suhu yang panas sehingga seringkali bubur kedelai yang panas terpercik langsung ke bagian tubuh pekerja. Kondisi lantai area perebusan juga sama seperti area kerja yang lain yaitu licin, tergenang air, tidak rata dan berlubang. Pada proses perebusan terdapat empat jenis bahaya yaitu bahaya ergonomi, mekanis, kimia dan fisik. Dari proses perebusan hingga pemotongan tahu dilakukan oleh 3 orang pekerja pada area kerjanya masing-masing.

Di proses perebusan kedelai terdapat total 8 risiko yang terdiri dari 1 risiko dengan kategori tingkat risiko rendah (low risk), 4 risiko dengan kategori tingkat risiko sedang (moderate risk) dan 3 risiko dengan kategori tingkat risiko tinggi (high risk).

Tabel 23

Tabel HIRARC pada Proses Penyaringan Bubur Kedelai

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Penyaringan bubur kedelai

1. Mengangkat bubur kedelai yang sudah matang ke penyaringan 2. Memisahkan

sari kedelai dengan ampas tahu

menggunakan alat penyaring (pengait dan kain mori).

3. Mengepress alat penyaring menggunakan batu agar semua sari kedelai menetes ke drum.

4. Memindahkan ampas tahu ke karung goni.

Bahaya fisik:

1. Sari kedelai yang masih panas tumpah /terciprat mengenai pekerja.

2. Lingkungan kerja panas.

3. Tempat kerja licin.

4. Keringat yang bercucuran dari pekerja akibat tidak menggunakan baju

Bahaya ergonomi:

5. Kegiatan yang dilakukan berulang dan postur tubuh statis (berdiri hampir berjam-jam).

1. Tubuh pekerja yang terkena bisa melepuh

5 1 Moderate

Menggunakan APD lengkap seperti baju lengan panjang, sarung tangan dan celemek (apron).

2. Dehidrasi 4 1 Moderate

1. Menyediakan tempat untuk minum yang dekat dengan area kerja.

2. Pekerja sebaiknya minum air sebanyak 2,8 liter per hari karena bekerja di lingkungan yang panas.

3. Terpeleset/

terjatuh 4 1 Moderate

1. Menggunakan safety shoes (sepatu boots).

2. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang) harus segera diperbaiki.

4. Dapat meng-kontaminasi sari kedelai yang akan di gumpalkan

5 2 High

1. Pekerja harus memakai baju kaus lengan panjang (wearpack bahan katun)

2. Pemasangan kipas angin di sekitar pekerja.

3. Pekerja harus memperhatikan personal hygiene dengan baik agar keamanan pangan meningkat.

5. Pegal, nyeri pada otot, sakit pinggang (keluhan muskulos-keletal)

4 3 High

1. Pekerja melakukan peregangan otot tubuh pada sela-sela waktu kerja.

2. Menerapkan sistem istirahat kerja yang teratur bagi seluruh pekerja selama ± 1 jam yaitu pada pukul 12.00 – 13.00.

3. Menyediakan balsam yang mengandung bahan methyl salicylate untuk mengurangi keluhan nyeri otot.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Pada tahap penyaringan banyak kegiatan yang dilakukan secara berulang (repetitif) seperti pada saat menggoyangkan dan memutar alat penyaring untuk memisahkan sari kedelai dan ampas tahu. Suhu panas di area ini membuat pekerja mengeluarkan keringat yang berlebih, sehingga butiran keringat bisa saja jatuh dan mengenai sari kedelai dan menyebabkan produk tahu menjadi tidak higienis.

Terdapat 2 jenis bahaya pada tahap penyaringan yaitu bahaya fisik dan ergonomi yang menghasilkan 3 risiko dengan kategori sedang (moderate risk) dan 2 risiko dengan kategori tinggi (high risk).

Tabel 24

Tabel HIRARC pada Proses Pemberian Larutan Pengendap

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian Tahap Rincian

Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Pemberian larutan pengendap

Mencampur dan mengaduk sari kedelai dengan larutan

pengendap (asam cuka).

Bahaya kimia:

1. Tangan terpapar larutan

pengendap asam cuka.

Bahaya fisik:

2. Sari kedelai dalam kondisi panas

3. Tempat kerja licin.

4. Lingkungan kerja panas Bahaya ergonomi:

5. Kegiatan mengaduk dilakukan berulang (repetitif).

1. Iritasi (rasa gatal pada kulit tangan, kulit merah-merah/ruam)

4 3 High

1. Menggunakan sarung tangan karet (nitrile/latex) karena sifatnya yang tahan lama terhadap kebocoran dan tahan terhadap zat-zat kimia.

2. Mencuci tangan menggunakan sabun 2. Kulit

melepuh 5 1 Moderate Menggunakan APD lengkap seperti baju lengan panjang, sarung tangan dan celemek (apron).

3. Terjatuh/

terpeleset 4 1 Moderate

1. Menggunakan safety shoes (sepatu boots) 2. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang)

harus segera diperbaiki.

4. Dehidrasi, keringat berlebih

4 1 Moderate

1. Menyediakan tempat untuk minum yang dekat dengan area kerja.

2. Pekerja sebaiknya minum air sebanyak 2,8 liter per hari karena bekerja di lingkungan yang panas.

3. Pekerja harus memakai baju kaus lengan panjang (wearpack bahan katun)

5. Pegal, nyeri

pada lengan 4 2 Moderate

1. Meregangkan otot tubuh di sela-sela waktu kerja.

2. Menerapkan sistem istirahat kerja yang teratur bagi seluruh pekerja selama ± 1 jam yaitu pada pukul 12.00 – 13.00.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Kondisi area di tahap pengendapan sama dengan area lainnya yaitu lingkungan kerja yang panas dan lantainya licin. Pada saat mencampur sari kedelai dengan larutan pengendap (asam cuka), pekerja tidak menggunakan sarung tangan sehingga tangan dapat terpapar secara langsung dengan larutan pengendap tersebut. Bahaya yang ditimbulkan dari bahan baku asam cuka dapat menimbulkan gatal / iritasi pada kulit. Selain itu, pada proses pengendapan / penggumpalan ini pekerja harus memastikan campuran sari kedelai dan larutan pengendap asam cuka merata dan menggumpal dengan sempurna dengan cara mengaduknya secara berulang. Maka dari itu, pada proses ini terdapat tiga jenis bahaya yaitu bahaya fisik, kimia dan ergonomi.

Pada proses pengendapan terdapat total 5 risiko yang dihasilkan, terdiri dari 4 risiko dengan kategori tingkat risiko sedang (moderate risk) dan 1 risiko dengan kategori tingkat risiko tinggi (high risk).

Tabel 25

Tabel HIRARC pada Proses Pencetakan Tahu

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Pencetakan tahu

1. Menuang gumpalan sari kedelai ke dalam papan cetakan 2. Menutup dan

mengepress papan cetakan tahu dengan batu pemberat

Bahaya fisik:

1. Terpercik/

ketumpahan sari kedelai yang masih dalam kondisi panas 2. Tempat kerja licin 3. Bau dan aroma yang

tidak sedap dari sisa limbah

Bahaya ergonomi:

4. Mengangkat penutup papan cetakan dan tumpukan batu pemberat (beban berlebihan dan diangkat manual) Bahaya biologi:

5. Dinding di area produksi hitam, berdebu, berlawa-lawa serta terdapat banyak jamur 6. Penggunan kain mori

yang jarang dicuci dan diganti.

1. Kulit melepuh 5 1 Moderate

Menggunakan APD lengkap seperti sarung tangan, baju lengan panjang dan celemek (apron)

2. Terpeleset/

terjatuh 4 1 Moderate

1. Menggunakan safety shoes (sepatu boots) 2. Lantai yang tidak rata dan rusak

(berlubang) harus segera diperbaiki 3. Mengganggu

sistem

pernafasan dan ketidaknyaman-an pekerja

5 1 Moderate

1. Menggunakan masker

2. Got/parit harus selalu dibersihkan setelah selesai bekerja agar sisa-sisa limbah tidak lengket dan menempel di dinding parit serta jalurnya diperbaiki agar tidak mampet.

4. Tangan/kaki tertimpa batu, terjepit, nyeri otot (keluhan muskoloske-letal)

4 3 High

Saat mengangkat batu dan penutup papan cetakan harus dilakukan oleh dua orang pekerja agar meringankan beban.

5. Pekerja terpapar bakteri, produk tahu menjadi kurang higienis (terkontaminasi)

5 1 Moderate

1. Semua pekerja wajib melakukan pembersihan rutin pada tempat kerja 2. Pekerja harus memperhatikan personal

hygiene dimulai dengan CTPS.

3. Penyediaan fasilitas cuci tangan bagi pekerja.

4. Mencuci kain mori yang telah dipakai dan diganti secara berkala.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Dinding pada usaha tahu ini terbuat dari batu bata dan semen. Pada saat ini dinding di UKM Tahu Karmin sudah menghitam dan berdebu akibat asap pembakaran kayu yang terus-menerus menempel dan lengket ke dinding, terutama di area pencetakan dan pemotongan tahu. Hal ini dapat menyebabkan terjatuhnya debu saat melakukan pencetakan tahu dan produk menjadi tidak higienis. Air sisa limbah dari semua proses pengolahan tahu juga dibuang langsung ke lantai yang kemudian mengalir ke parit/got kecil namun tidak lancar (mampet) sehingga area disekitarnya menjadi bau dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Pada tahap pencetakan ini juga terdapat aktivitas kerja mengangkut beban (penutup cetakan dan batu pemberat) dengan cara manual handling tetapi postur tubuh pekerja belum bersikap alamiah atau tidak sesuai dengan kaidah ergonomi. Maka dari itu, pada proses ini terdapat potensi bahaya berupa bahaya biologi, fisik dan ergonomi.

Secara umum, tingkat risiko pada tahap pencetakan tahu dikategorikan sedang (moderate). Dimana risiko yang dikelompokkan dalam kategori moderate memerlukan tindakan untuk mengurangi risiko, akan tetapi biaya pencegahan yang diperlukan harus diperhitungkan dengan teliti dan dibatasi serta tindakan pengurangan risiko harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditentukan.

Tabel 26

Tabel HIRARC pada Proses Pemotongan Tahu

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Pemotongan tahu

1. Memotong tahu menggunakan pisau dan penggaris kayu.

2. Menyiapkan papan kayu sebagai wadah tahu yang telah dipotong.

3. Membawa papan ke rak

penyimpanan tahu sebelum digoreng.

Bahaya mekanis:

1. Pisau yang tajam Bahaya fisik:

2. Tempat kerja licin dan becek,

terutama pada area rak penyimpanan.

Bahaya ergonomi:

3. Postur

membungkuk saat memotong tahu 4. Mengangkat papan

kayu yang berat dengan postur tubuh yang salah

1. Luka gores,

tersayat 3 1 Low

1. Menggunakan APD berupa sarung tangan karet.

2. Penyediaan kotak P3K.

2. Terpeleset/

terjatuh 4 1 Moderate

1. Menggunakan safety shoes (sepatu boots)

2. Lantai yang tidak rata dan rusak (berlubang) harus segera diperbaiki.

3. Sakit pinggang, nyeri pada lengan, pegal di leher (keluhan muskuloske-letal)

4 3 High

1. Menerapkan sistem istirahat kerja yang teratur bagi seluruh pekerja selama ± 1 jam yaitu pada pukul 12.00 – 13.00.

2. Melakukan peregangan (stretching) otot tubuh selama sela-sela waktu kerja.

3. Menyediakan balsam yang mengandung metil salicylate untuk mengurangi keluhan nyeri otot.

4. Mengubah desain kerja dengan membuat meja yang sejajar di tahap pencetakan dan

pemotongan tahu.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Pada proses pemotongan tahu postur tubuh pekerja banyak membungkuk, postur yang tidak ergonomis ini bersifat repetitif atau berulang sehingga membuat pekerja mengalami keluhan muskuloskeletal. Proses lain yang berulang adalah mengangkat papan kayu sebagai wadah tahu ke tempat pemotongan, kemudian meletakan tahu yang sudah dipotong dadu dan mengembalikannya lagi ke rak penyimpanan tahu. Pekerja memotong tahu menggunakan pisau atau alat pemotong manual. Alat untuk memotong tahu yang digunakan adalah pisau dapur yang sudah dimodifikasi oleh pekerja dan kayu sebagai penggaris agar tahu terpotong dengan rata dan rapi. Jenis bahaya yang terdapat dalam proses pemotongan tahu adalah bahaya ergonomi, mekanis dan fisik (lantai licin).

Tabel 27

Tabel HIRARC pada Proses Penggorengan Tahu

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Penggorengan tahu

1. Mengangkat kayu bakar dan memanaskan minyak untuk menggoreng tahu.

2. Mengambil papan kayu yang berisi tahu mentah dari rak penyimpanan untuk kemudian digoreng.

3. Tahu yang sudah matang

diletakkan ke keranjang.

Didiamkan sebentar agar minyak tiris, kemudian tahu siap untuk dikemas.

Bahaya ergonomi:

1. Kegiatan dilakukan berulang.

Bahaya biologi:

2. Tungku berjamur dan menghitam karena jarang dilakukan pembersihan Bahaya mekanis:

3. Tertimpa kayu.

4. Tersenggol / kontak langsung dengan permukaan wajan yang panas.

1. Kelelahan,

nyeri pada otot 4 2 Moderate

1. Meregangkan otot tubuh di sela-sela waktu kerja.

2. Mengedukasi pekerja tentang teknik mengangkat beban dengan benar.

3. Menyediakan balsam yang mengandung bahan methyl salicylate untuk

mengurangi keluhan nyeri otot.

2. Pekerja terpapar bakteri, makanan (produk tahu)

ter-kontaminasi

5 1 Moderate

1. Melakukan pembersihan tungku secara rutin, mencuci wajan penggorengan setelah selesai digunakan.

2. Selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir (perhatikan personal hygiene)

3. Memar / lebam

pada kaki 3 1 Low

1. Bekerja dengan berhati-hati.

2. Menggunakan safety shoes (sepatu boots)

4. Kulit memerah, mengelupas dan

menimbulkan luka yang membekas

2 2 Low

1. Basuh dengan air mengalir.

2. Menyediakan kotak P3K.

3. Bekerja dengan berhati-hati.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating (bersambung)

Tabel 27

Tabel HIRARC pada Proses Penggorengan Tahu

Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko

Saran Pengendalian

Tahap Rincian Kegiatan Bahaya Risiko L C RR

Penggorengan tahu

Bahaya kimia:

5. Asap dan debu dari pembakaran kayu.

Bahaya fisik:

6. Cipratan minyak panas.

7. Suhu lingkungan kerja panas.

8. Kayu bakar yang belum padam.

5. Gangguan pernafasan seperti batuk

5 1 Moderate

1. Menggunakan masker.

2. Menggunakan cerobong diatas tungku penggorengan.

3. Membersihkan sisa debu pembakaran agar tidak menumpuk dan terhirup.

6. Luka bakar,

kulit melepuh 5 2 High

1. Menggunakan alat pelindung diri yang lengkap seperti baju kaus lengan panjang, sepatu boots, celemek, dan sarung tangan.

2. Basuh dengan air mengalir.

3. Penyediaan kotak P3K.

7. Dehidrasi / heat stress serta

mengeluarkan keringat yang berlebih

4 1 Moderate

1. Menyediakan tempat untuk minum yang dekat dengan area kerja.

2. Pekerja sebaiknya minum air sebanyak 2,8 liter per hari karena bekerja di lingkungan yang panas.

3. Pekerja harus memakai baju kaus lengan panjang (wearpack bahan katun)

8. Kebakaran 1 5 High

1. Pengecekan ulang setelah selesai bekerja Misal: apakah kayu bakar sudah padam, mesin sudah dalam kondisi mati, mencabut semua sambungan listrik.

2. Jauhkan benda yang mudah terbakar dari sumber api. Misal: plastik, karung goni dll.

3. Penyediaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sebagai pertolongan pertama saat terjadi kebakaran.

Keterangan: L – Likelihood ; C – Consequence ; RR – Risk Rating

Luas area penggorengan adalah 2,5m x 14m, terdapat 4 buah wajan penggorengan yang besar. Wajan – wajan tersebut diletakkan diatas tungku penggorengan yang letaknya berdekatan. Hal ini menyebabkan seringnya pekerja terciprat minyak panas saat menggoreng tahu, minyak panas bisa langsung mengenai bagian tubuh atau kulit yang tidak tertutup kain sama sekali.

Diperburuk dengan perilaku pekerja yang hanya menggunakan singlet atau bahkan pernah tidak menggunakan baju (bertelanjang dada).

Minyak untuk menggoreng tahu ini digunakan berulang untuk menghemat pengeluaran. Semakin sering digunakan, minyak goreng akan mengalami kerusakan yang ditandai dengan perubahan warna pada minyak menjadi warna hitam dan berbau tengik. Tungku penggorengan juga kurang higienis tampak menghitam karena sudah lama dipakai dan jarang dilakukan pembersihan serta perawatan. Adapun disekitar area penggorengan ini, banyak debu sisa pembakaran kayu yang jika terus menerus dihirup dapat menimbulkan gangguan pernafasan pada pekerja. Proses penggorengan tahu ini dilakukan oleh dua orang pekerja, dimana masing-masing pekerja bertanggung jawab memegang dua tungku penggorengan. Terdapat lima jenis bahaya dalam proses penggorengan tahu diantaranya adalah bahaya fisik, biologi, kimia, ergonomi, dan mekanis.

Di proses perebusan kedelai terdapat total 8 risiko yang terdiri dari 2 risiko dengan kategori tingkat risiko rendah (low risk), 4 risiko dengan kategori tingkat risiko sedang (moderate risk) dan 2 risiko dengan kategori tingkat risiko tinggi (high risk).

Pembahasan

Analisis Risiko K3 Menggunakan Metode HIRARC Pada UKM Tahu

Dari hasil analisis risiko K3 menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) pada UKM Tahu Karmin di Kelurahan Mabar, ditemukan beberapa kegiatan / aktivitas yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan membahayakan kesehatan di tempat kerja. Dari 8 tahapan kerja dalam proses pembuatan tahu, terdapat sumber bahaya yang paling menonjol berasal dari situasi dan kondisi bangunan yang kurang layak dan kumuh serta kondisi higiene sanitasi industri tahu yang kurang baik. Hal ini terlihat dari lantai tempat produksi tergenang air dan licin (dampak dari proses pengolahan tahu yang banyak membutuhkan air), saluran pembuangan limbah cair tidak lancar (mampet) yang menimbulkan bau/aroma tidak sedap, tidak tersedianya fasilitas untuk cuci tangan menggunakan sabun bagi pekerja, dinding dan langit-langit tidak terawat, menghitam dan banyak debu menempel akibat asap pembakaran, UKM tahu ini pun tidak memiliki pintu sehingga debu, hewan bahkan sampah dari luar ruangan mudah untuk masuk.

Sumber bahaya berikutnya berasal dari peralatan kerja seperti mesin penggiling, mesin ketel uap, tungku dan wajan penggorengan, pisau yang tajam, serta alat dan bahan kerja yang berserakan di area produksi. Selain itu, tertumpahnya bubur/sari kedelai yang masih dalam kondisi panas (mendidih), pengangkatan berulang alat-alat kerja yang bebannya berat, serta posisi kerja yang statis (berdiri secara terus-menerus) juga menjadi sumber bahaya di UKM Tahu Karmin. Dimana masing-masing sumber bahaya ini memiliki potensi bahaya berupa bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi dan mekanis.

Dokumen terkait