Kandidasi adalah komponen sentral dari proses politik. Pengorganisasian partai politik bermuara pada lahirnya para kandidat yang akan mengikuti pemilihan umum. Dengan demikian, para kandidat adalah garda terdepan bagi parpol dalam rangka implementasi atas ideologi dan platform. Dalam konteks pemilu, kandidasi adalah input dari proses pemilu yang panjang. Proses pemilu yang demokratis dan berintegritas tidak akan mampu melahirkan representasi politik yang sesuai dengan kehendak rakyat jika bahan mentah dari pemilu itu sendiri sudah jelek. Sedangkan dalam konteks kebijakan publik, proses kandidasi yang tidak demokratis hanya akan melahirkan para pembuat kebijakan yang abai dengan tuntutan masyarakat.
Secara umum, proses kandidasi baik untuk pilpres, pileg, dan pilkada di Indonesia masih diwarnai oleh praktek "politik di belakang layar" (behind-the-scenes politics). Seperti telah dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya, tahapan paling krusial dari proses kandidasi adalah tahapan penentuan kandidat sehingga kemudian dinyatakan sebagai kandidat yang diusung dari sebuah parpol. Tahapan ini bersifat sangat eksklusif dan tertutup. Dalam tahapan ini, politik transaksional (siapa memberi apa)bekerja. Tidak mengherankan,masyarakat seringkali melihat proses kandidasi bersifat oligarkhis.
62
Dari sisi internal partai politik, proses kandidasi sebenarnya diwarnai oleh berbagai dilema. Hal ini terkait dengan perbedaan dalam memaknai demokrasi intra- partai, dimana satu pihak mendukung konsep tersebut dan pihak lain tidak setuju dengan konsep tersebut. Setidaknya ada dua dilema yang dihadapi oleh parpol dalam mengimplementasikan proses kandidasi yang partisipatif dan transparan. Pertama adalah partisipasi yang tinggi vs. kepemimpinan yang kuat.Proses kandidasi yang demokratis salah satunya memang ditunjukkan dengan keterlibatan sebanyak mungkin orang dalam proses kandidasi. Namun demikian, dengan mempertingkan tingkat pelembagaan partai politik kita saat ini, partisipasi yang tinggimemiliki resiko tidak terkelola dengan baik. Pada akhirnya, proses kandidasiberjalan tidak efektif dan hanya menyisakan konflik internal. Demikian juga sebaliknya. Kepemimpinan yang kuatcenderung melahirkan oligarkhi dalam proses kandidasi. Namun demikian, kepemimpinan yang kuat dapat lebih menjamin proses kandidasi berjalan dengan efektif.
Dilema kedua adalah partisipasi vs. kemenangan pemilu. Pertanyaan besar yang menggantung di benak parpol adalah apakah ada jaminan bahwa proses kandidasi yang demokatis akan menghasilkan kemenangan bagi partai politik dalam sebuah pemilu.Pertanyaan ini mengemuka karena secara riil sebuah partai politik memiliki kewajiban untukmemenangkan pemilu.Bagaimana mungkin akan mendorong pelaksanaan idelogi dan platform partai jika sebuah partai politik tidak memiliki wakilnya di jabatan-jabatan publik (eksekutif maupun legislatif)? Dengan kata lain, keinginan ideal untuk menyelenggarakan proses kandidasi yang demokratis dihadapkan pada realitas kebutuhan untuk memenangkan sebanyak-banyaknya suara. Sebenarnya, ada banyak cara untuk menjawab berbagai dilema tersebut. Salah satu jawaban adalah dengan mendesain proses kandidasiyang memiliki kedua unsur tersebut. Kecenderungan di negara-negara yang demokrasinya sudah mapan sejak beberapa dekade terakhir ini menunjukkan adanya peningkatan demokrasi dalam proses kandidasi. Tentu saja, demokratisasi dalam proses kandidasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari keinginan untuk mendapatkan kemenangan elektoral. Dengan kata lain, parpol di Indonesia perlu merubah cara berpikir bahwa demokrasi internal parpol dalam konteks kandidasi justru dapat menjadi salah satu bagi sebuah parpol untuk memenangkan pemilihan umum.
Lebih konkret, agar dilema tersebut dapat dicarikan jalan tengahnya, Hazan dan Rahat mengusulkan model kandidasi tiga tahapan.85Tahap pertama adalah pendaftaran
kandidat. Pada tahapan ini, parpol melakukan penyaringan kandidat yang dilakukan oleh tim pemilihan (screening team) yang terdiri dari para pengurus. Tahapan pertama ini memang masih bersifat eksklusif. Dalam tahapan ini, tim menetapkan para kandidat sejumlah dua kali kursi atau jabatan yang disediakan.
Tahapan kedua adalah seleksi kandidat. Pada tahapan ini, parpol melakukan readopsi (merubah daftar kandidat yang diajukan pada tahap pertama secara terbatas) dan deseleksi(menyetujui atau menolak kandidat petahana yang diajukan pada tahap pertama). Kedua proses tersebut dilakukan oleh utusan parpol yang berasal dari representasi pengurus parpol dan representasi dari anggota parpol.Pemilihan representasi dari kedua kelompok tersebut juga harus berdasarkan pada prinsip-
63
prinsip demokrasi. Dengan demikian, tahapan kedua ini bersifat lebih inklusif daripada tahapan pertama.
Tahapan ketiga penetapan kandidat. Pada tahapan ini, parpol menetapkan daftar akhir para kandidat yang diusung. Untuk keperluan tersebut, partai politik harus melibatkan semua anggota atau representasi dari semua anggota (tergantung pada jenis pemilu)dalam sebuah konvensi sesuai dengan tingkatan pemilu. Sebagai contoh, jika untuk pilkada atau DPRD tingkat kabupaten/kota, maka konvensi tersebut juga dilakukan pada tingkatan kabupaten/kota.Dengan demikian, tahapan ketiga ini bersifat inklusif.
Hampir sama dengan ide tersebut, Ramlan Surbakti dkk juga mengusulkan
desain serupa melalui sebuah lembaga yang disebut dengan pemilu
pendahuluan.86Sebelum mengikuti pemilihan umum, parpol perlu melakukan pemilu
internal terlebih dahulu. Sebagai ilustrasi, parpol perlu menyelenggarakan pemilu pendahuluan di tingkatan kabupaten/kota untuk menyongsong pelaksanaan pilkada kabupaten/kota. Peserta konvensi adalah perwakilan dari para pengurus di tingkat kabupaten, kecamatan, desa, ranting, dan organisasi sayap otonom. Dalam konvensi ini ditetapkan siapa yang bakal dicalonkan menjadi kepala daerah oleh partai politik tersebut. Penetapan calon tersebut didasarkan pada daftar bakal calon yang dikumpulkan dari parpol di tingkatan kecamatan. Sedangkan parpol di tingkatan propinsi, apalagi parpol di tingkat pusat, tidak memiliki hak veto sehingga tidak dapat merubah keputusan yang telah dibuat di forum konvensi tingkat kabupaten/kota tersebut.
Karena fungsi-fungsi partai politik telah menjangkau kepentingan publik, maka para pemangku kepentingan memiliki kewajiban untuk mendorong proses kandidasi yang lebih demokratis di internal partai politik. Ada berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagai contoh, negara memfasilitasi pendanaan pelaksanaan pemilu pendahuluan dalam jumlah tertentu. Contoh lain, KPU bisa juga mewajibkan surat berita acara pemilu pendahuluan ketika menerima pendaftaran calon dari partai politik. Peran masyarakat sipil juga bisa dilibatkan dalam mendorong proses kandidasi yang lebih demokratis. Sebagai contoh adalah peran media massa dan kelompok-kelompok pegiat pemilu dalam mengekpose pemberitaan proses seleksi, terutama dalam tahapan penentuan kandidat. Selama ini masyarakat masih cenderung fokus pada tahapan kampanye dalam memberitakan proses pemilu. Ke depan, masyarakat perlu didorong untuk melakukan ekspose pada tahapan kandidasi sehingga dapat membuka ruang gelap proses kandidasi yang selama ini memang masih menjadi misteri.87
PENUTUP
Partai politik merupakan lembaga politik yang sangat vital dalam sebuah sistem politik yang demokratis. Sebagai pilar penting demokrasi, seyogyanya merekatelah mengembangkan demokrasi di lingkungan internal sendiri sebelum mereka berperan
86 Ramlan Surbakti et.al., Naskah Akademik dan Draf RUU Kitab Hukum Pemilu (Jakarta:
Kemitraan,2015)(http://www.kemitraan.or.id/sites/default/files/Revisi%3B%20NA%20Draft%20Kita b%20Hukum%20Pemilu.pdf)
87 Michael Gallagher dan Michael Marsh (eds), Candidate Selection in Comparative Perspective: The
64
dalam sebuah sistem politik.Salah satunya adalah dengan mengadopsi proses kandidasi yang demokratis. Seperti yang disampaikan di awal tulisan ini, demokrasi kita sejauh ini masih menyisakan berbagai problematika di masyarakat. Salah satu penyebab dari berbagai problematika tersebut adalah pada model kandidasi yang diadopsi oleh parpol yang ada saat ini. Tulisan ini menunjukkan bahwa pendalaman demokrasi di internal parpol, terutama dengan mendesain ulang proses kandidasi, menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak untuk segera dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Aspinall, Edward dan Mada Sukmajati (ed.)(2015). Politik Uang di Indonesia. Patronase dan Klientelisme pada Pemilu Legislatif 2014 (Yogyakarta: Polgov).
Boucek, Françoise . The dilemmas of intra-party democracy: Lessons from Italy,
Japan and elsewhere , makalah dipresentasikan dalam 7th ECPR General
Conference – Bordeaux (France) 4-7 September 2013
(https://ecpr.eu/Filestore/PaperProposal/32542a0c-8aca-4dff-a52f- 3cd7f169beec.pdf)
Chinsinga, Blessings and Gerald Chigona (2010 . The State of )ntra-party Democracy
in Malawi: A Comparative Audit of Selected Party Constitutions,
(http://community.eldis.org/.59ee456c/Intra%20party%20democracy.pdf) Croissant, Aurel dan Paul Chambers . )ntra-Party Democracy in Thailand .
Unpublished manuscript (http://www.uni-
heidelberg.de/imperia/md/content/fakultaeten/wiso/ipw/croissant/publicati ons/chambers_croissant_2008_intraparty_democracy.pdf)
Cross, William P. dan Richard S. Katz . The Challenges of )ntra-Party
Democracy , dalam William P. Cross dan Richard S. Katz eds. , The Challenges of Intra Party Democracy (Oxford: Oxford University Press).
Duverger, Maurice (1954). Political parties, their organization and activity in the modern state, (London: Methuen).
Gallagher, Michael dan Michael Marsh (eds) (1988). Candidate Selection in Comparative Perspective: The Secret Garden of Politics. (London: Sage,).
Gibson, Rachel K. dan Andrea Römmele . Measuring the Professionalization of Political Campaigning, Party Politics, Vol. 15, No. 3.
Green, Donald P. dan Jennifer K. Smith . Professionalization of Campaigns and
the Secret (istory of Collective Action Problems. Journal of Theoretical Politics, Vol. 15, No. 3.
Hazan, Reuven Y. dan Gideon Rahat (2010). Democracy within Parties. Candidate Selection Methods and Their Political Consequences (New York: Oxford University Press).
Norris, Pippa (2004). Building political parties: Reforming legal regulations and internal rules (Stockholm: IDEA).
65
Rahat, Gideon . What )s Democratic Candidate Selection? dalam William P.
Cross dan Richard S. Katz (eds.), The Challenges of Intra Party Democracy
(Oxford: Oxford University Press).
Samuels, David J. . Presidentialized Parties: the Separation of Power and Party
Organization and Behavior, Comparative Political Studies, Vol. 35, No. 461.
Scarrow, Susan (2005). Political Parties and Democracy in Theoretical and Practical Perspectives. Implementing Intra-Party Democracy (Washington: National Democratic Institute for International Affairs (NDI).
Siavelis, Peter M. dan Scott Morgenstern . Political Recruitment and Candidate
Selection in Latin America: A Framework for Analysis, dalam Peter M. Siavelis
dan Scott Morgenstern (eds.). Pathways to Power. Political Recruitment and Candidate Selection in Latin America (Pennsylvania: the Pennsylvania State University Press).
Sukmajati, Mada et.al. (2012). Rekruitmen Kepala Daerah dalam Teori dan Praktek. Studi Kasus Yogyakarta (Yogyakarta: Polgov).
Surbakti, Ramlan et.al. (2015).Naskah Akademik dan Draf RUU Kitab Hukum Pemilu
(Jakarta: Kemitraan, 2015)
(http://www.kemitraan.or.id/sites/default/files/Revisi%3B%20NA%20Draft %20Kitab%20Hukum%20Pemilu.pdf)
Teorell, Jan . A Deliberative Defence of )ntra-Party Democracy , Party Politics, Vol. 5, No. 3.
van Biezen, )ngrid . Political Parties as Public Utilities , Party Politics, Vol. 10, No. 6.
Wright, William E. . Comparative Party Models: Rational-Efficient and Party
Democracy , dalam William E. Wright ed . A Comparative Study of Party Organization (Columbus OH: Charles Merrill Publishing).
Wright, William E. . Party Processes: Leaders and Followers, dalam William E. Wright (ed). A Comparative Study of Party Organization (Columbus OH: Charles Merrill Publishing).
66
MENAKAR JALAN FINANSIAL REFORMASI PARPOL