Suatu kewenangan terikat dan keputusan TUN yang sifatnya deklaratif dan dibuat berdasarkan suatu keputusan atau putusan yang mengandung sifat konstitutif, membentuk ketergantungan (dependence) hubungan satu sama lain. Ukuran untuk melihat kompetensi PTUN dalam menguji keputusan TUN dalam hal demikian dengan sejumlah parameter yang disebut dalam Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik, baik dalam Putusan Sela/Penetapan Penundaan pelaksanaan keputusan yang diuji maupun putusan akhir yang membatalkannya, apakah penetapan atau putusan yang dikeluarkan mempunyai dampak atau implikasi hukum terhadap Putusan Mahkamah Partai sebagai suatu keputusan/Putusan yang bersifat konstitutif.
Kewenangan Mahkamah Partai yang diberikan secara atributif oleh Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, secara khusus untuk menyelesaikan konflik internal, sesungguhnya adalah untuk menghindari adanya intervensi dalam kehidupan Partai Politik sebagai infra-struktur kehidupan demokrasi dan politik. Suatu ketentuan yang sangat tegas dan tidak menimbulkan keraguan apapun terdapat dalam Pasal 33 ayat (2) UU Nomor 2 Tahun 2011, menyatakan bahwa konflik internal partai politik diselesaikan oleh Mahkamah Partai, dan jikalau Mahkamah Partai mencapai putusan yang menyelesaikan konflik menyangkut kepengurusan partai, putusan demikian mempunyai kekuatan final dan mengikat
Yang menjadi pertanyaan utama yang harus dijawab dalam putusan TUN Nomor 62/G/2015/PTUN.JKT untuk dapat mempunyai dampak hukum dan sesuai dengan kompetensinya adalah hal-hal berikut :
49 Ibid hal 166; 50 Ibidhal 169.
25
a. apakah memang tercapai penyelesaian dalam bentuk putusan Mahkamah Partai yang menyangkut kepengurusan Partai Golkar, yang oleh Pasal 32 dan 33 UU Nomor 2 Tahun 2011 dinyatakan mempunyai kekuatan hukum yang final dan mengikat.
b. apa ukuran yang digunakan bersama dalam menentukan hal tersebut sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang tidak lagi diperdebatkan.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terlebih dahulu harus ditentukan apa sesungguhnya yang menjadi tugas hakim dari satu badan peradilan atau lembaga yang dipersamakan dengan itu, dan apa yang menjadi definisi putusan hakim tersebut. Putusan Hakim merupakan kosa kata sebagai alih bahasa yang awalnya dikenal sebagai vonnis. Kata tersebut sangat berkaitan dengan sebuah kata kerja dalam bahasa Belanda, yaitu vind-vond –gevonden, yang artinya menemukan. Kata itu mengingatkan kita pada penemuan hukum dalam kata rechtsvinding, yang dilakukan melalui interpretasi, konstruksi dan penghalusan hukum (reschtsvervijning) Oleh karena itu putusan yang merupakan terjemahan kata vonnis, adalah pendapat tertulis hakim, sebagai hasil penemuannya, yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa yang diperhadapkan kepadanya. Pendapat hakim harus bermuara pada penyelesaian akhir dari suatu sengketa yang diperhadapkan kepadanya bagaimana hal itu ditentukan. Secara universal suatu gugatan atau permohonan yang telah melalui proses pemeriksaan dan pembuktian, pada tahap akhir akan diputus dengan 3 (tiga) jenis putusan, yaitu (i) menyatakan tidak menerima gugatan, jikalau proses dan prosedur tidak dipenuhi;(ii) menolak gugatan, jikalau penggugat tidak berhasil membuktikan gugatan; dan (iii) mengabulkan gugatan – baik sebagian atau seluruhnyan - jikalau Penggugat berhasil membuktikan gugatan.
Putusan Mahkamah Partai harus diukur dari parameter diatas, apakah memang telah berhasil menghasilkan satu putusan untuk menyelesaikan konflik internal tentang kepengurusan. Meskipun memang tehnik penulisan putusan telah dilakukan dengan tidak menurut kaidah yang telah menjadi standard dalam penulisan putusan, baik di peradilan umum maupun di Mahkamah Konstitusi, maka dengan ukuran yang dirumuskan diatas, kita dapat secara cermat meneliti putusan Mahkamah Partai tersebut apakah memenuhi ukuran dimaksud atau tidak. Suatu putusan yang telah in kracht van gewijsde, yang akan dieksekusi, tidak selalu memuat kejelasan (clarity) secara terang benderang, sehingga timbul persoalan bagaimana melaksanakannya, ketika dijumpai masalah dalam diktum putusan yang harus ditafsirkan. Masalah tersebut boleh jadi menyangkut luas, batas, dan khusus dalam kasus putusan Mahkamah Konstitusi, rumusan implementasi dalam bentuk revisi undang-undang, harus memulai langkah-langkah yang ditentukan dalam proses legislasi.
Oleh karena hal-hal yang diutarakan diatas, maka seorang eksekutor –secara berbeda dengan pendapat majelis hakim PTUN yang keliru – termasuk MenkumHAM harus melakukan tafsir dalam menentukan pelaksanaan putusan yang diajukan kepadanya. Tidak ada landasan hukum pandangan PTUN Jakarta yang menyatakan MenkumHAM tidak boleh melakukan tafsir terhadap putusan tentang apa yang harus dilaksanakan. Tiap hakim yang pernah menjadi Ketua Pengadilan Negeri, akan sangat mafhum akan masalah ini. Secara terang benderang Mahkamah Partai Golkar, menyebut amar putusannya dengan menyatakan :
26
Menerima Kepengurusan DPP Partai Golkar Hasil Munas Ancol secara selektif dibawah kepemimpinan Tergugat II Intervensi, dengan kewajiban mengakomodir Kader-Kader Partai Golkar hasil Munas Bali yang memenuhi kriteria pretasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLT) dengan tugas utama melakukan konsolidasi partai mulai Musda Tingkat Kabupaten/Kota, Tingkat Provinsi dan Munas Partai Gokar selambat-lambatnya tahun 2016 serta secara simultan melakukan konsolidasi pada alat-alat kelengkapan lainnya;51
Jika amar putusan demikian dipandang merupakan pendapat dari 2 (dua) orang Hakim Mahkamah Partai yaitu Andi Matalata dan Djasrin Marin, sedang 2 ( dua) hakim lainnya, hanya menyatakan bahwa memiliki pendapat yang berbeda, tetapi kedua hakim tersebut tidak menyatakan apa-apa dalam pendapatnya apakah Kedua Hakim terakhir ini, berpendapat menolak gugatan atau mengabulkan maupun menyatakan tidak menerima gugatan Penggugat. Meskipun demikian dalam pendapat yang berbeda tersebut, keduanya memberikan rekomendasi dalam putusan Mahkamah Partai tersebut yang antara lain berbunyi sebagaimana dikutip diatas.
Dalam bagian lain dari pendapatnya, memang kedua hakim tersebut merujuk pada rekomendasi yang dikeluarkan Mahkamah Partai sebelum perkara diterima untuk didaftarkan dan mulai diperiksa, rekomendasi mana tertanggal November 2014, yang isinya menyarankan agar penyelesaian sengketa kepengurusan diajukan ke pengadilan Negeri. Saran demikian, dilihat dari sisi waktu saran dikeluarkan serta dari sisi substansi ketika proses sudah dimulai di Mahakamah Partai, tidak lagi relevan dalam putusan ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang dengan tidak adanya kesimpulan akhir dalam pendapat kedua hakim tersebut, padahal hal demikian seyogianya harus dilakukan dalam putusannya, maka saran yang dirumuskan dalam pendapatnya yang demikian hanya dapat ditafsirkan sebagai persetujuan yang ditujukan kepada kedua hakim yang menjatuhkan putusan mengabulkan gugatan Penggugat Kubu Agung Laksono, dengan saran-saran yang diakomodasi dalam putusan akhir Mahkamah Partai. Sebagai bagian dari pendapat yang berbeda, dalam arti concurring opinion dan bukan dissenting opinion. Fakta yang disimpulkan secara keliru oleh Hakim Majelis PTUN menyatakan bahwa penyelesaian perselisihan oleh Mahkamah Partai Golkar tidak tercapai, sehingga membuat salah satu pihak yang berselisih dalam hal ini DPP Partai Golkar Kubu Ir. Abu Rizal Bakrie menggunakan upaya hukum lanjutan, dan hal demikian merupakan cerminan dari belum selesainya perselisihan internal Partai Golkar, telah meletakkan dasar yang keliru antara menerima putusan dengan Mahkamah Partai mencapai putusan untuk menyelesaikan konflik internal Partai Golkar khususnya soal kepengurusan. Tidak diterimanya putusan Mahkamah Partai dan kemudian mengajukan gugatan-gugatan baru di Pengadilan Negeri, bukan merupakan ukuran untuk menyatakan tercapai tidaknya putusan Mahkamah Partai, melainkan hanya sebagai indikator ketidak puasan. Undang-Undang Partai Politik yang menyatakan bahwa jika putusan tentang konflik kepengurusan partai dicapai, maka putusan Mahkamah Partai langsung berkekuatan hukum tetap (final and binding) dan tidak ada upaya hukum yang dapat dilakukan lagi, dan bukan karena satu pihak tidak puas, lalu disimpulkan bahwa Mahkamah Partai tidak berhasil mencapai adanya suatu putusan. Logika hukum PTUN terbalik.
27
Dilain pihak tafsir yang wajib dilakukan MenkumHAM dalam melaksanakan tugasnya sebagai eksekutor Putusan Mahkamah Partai sesuai dengan Undang-Undang Partai Politik, tidak melanggar hukum, dan pemaknaan bahwa putusan Mahkamah Partai benar telah mengeluarkan putusan mengenai sengketa Partai Politik tentang kepengurusan, telah dicapai. Kecuali tentunya salinan putusan yang dimiliki oleh Penggugat berbeda dengan yang ada pada Tergugat I dan Tergugat II Intervensi. Sifat
putusan yang konstitutif demikian – yang merubah keadaan/status hukum
kepengurusan Partai Golkar telah pula ditetapkan sebagai final and binding, dan karenanya mengikat Kemenkum HAM dalam menjalankan kewenangan nya untuk mendaftarkan pengurus Partai Golkar sesuai dengan ketentuan undang-undang. Karena sifatnya merupakan pelaksanaan putusan yang final and binding, maka kewenangan yang dimiliki oleh Kemenkumham dalam pendaftaran tersebut adalah kewenangan terikat, yang dilihat lebih sebagai kewajiban.
Dengan sifat putusan yang demikian dan kewenangan atributif yang diberikan oleh undang-undang nomor 2 Tahun 2011, maka seandainya PTUN mempertahankan tafsirnya yang harfiah terhadap objek TUN yang tunduk pada penilaian sesuai dengan Pasal 53 Undang-Undang Pengadilan TUN, maka apakah penundaan dan pembatalan Surat Keputusan KemenkumHAM tentang pendaftaran kepengurusan Partai Golkar yang demikian, dapat memiliki akibat hukum terhadap Putusan Mahkamah Partai ? Jikalau tidak dapat maka Penetapan tentang penundaan Surat Keputusan Kemenkumham tersebut tidak dapat dilakukan, karena kompetensi absolut yang dimiliki Mahkamah Partai menyebabkan PTUN tidak dapat menjangkau Putusan Mahkamah Partai tersebut. Sebagai akibatnya, karena sifat ketergantungan (dependensi) Keputusan Menkumham tersebut terhadap Putusan Mahkamah Partai, maka juga penetapan penundaan dan pembatalan Keputusan Menkumham sama sekali tidak berdasar dan tidak relevan dilihat dari fungsi kontrol PTUN atas Keputusan- Keputusan TUN seperti ini.