Hasan Basri
Betul, itu tahun 1999. Saat acara Temu Budaya di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi. Arsip maka-lah saya tertanggal 14 Februari 1999. Dari meja depan, saat kolega di samping saya menyampaikan makalah tentang kesenian jinggoan, saya melihat di belakang para peserta, mepet tembok ada seseorang yang sedari tadi sibuk motrat-motret ini itu. Saat presentasi, sesekali saya lirik orang itu. Selesai kegiatan, “juru potret” itu menya-pa saya. Dialah Bisri Effendy. Yang kemudian biasa saya panggil Mas Bisri. Perkenalan yang efektif. Secara fisik Mas Bisri sudah unik. Bicaranya ringan bersahabat. Dari perbincangan santai di depan aula, saya berkepentingan mengajak Mas Bisri bertemu tokoh Banyuwangi saat itu. Yakni almarhum Hasan Ali. Budayawan senior Banyu-wangi, penyusun Kamus Bahasa Using. Setelah berbin-cang lama di Desa Mangir, rumah Hasan Ali, kami ber-pisah. Pertemuan singkat yang berharga. Saya membatin, saya telah ketemu orang baik dari Jakarta.
Beberapa bulan berselang, ada surat. Isinya, undangan untuk menampilkan grup kesenian gandrung di Taman Ismail Marzuki. Saya langsung bereaksi. Saya langsung pilih grup milik Mbok Temu. Alasannya, Mbok Temu gandrung senior yang masih aktif dan diakui memiliki kualitas yang bagus. Maka sayapun berkunjung ke rumah Mbok Temu di Dusun Kedaleman Desa Kemiren. Hasil-nya, Mbok Temu bersedia tampil asal seluruh anggotan-ya diajak. Tidak digantikan oleh orang lain anggotan-yang bukan anggota grupnya. Persyaratan yang tidak boleh ditawar. Baiklah, saya terima syaratnya.
Sialnya, sebagai anak muda waktu itu, saya berkonsulta-si kepada seniman senior. Keputusannya, grup Mbok Temu tidak layak tampil di panggung sekelas Taman Is-mail Marzuki. Kostumnya kadang serampangan, beber-apa panjaknya kurang layak. Nanti memalukan Banyu- wangi. Sungguh, saya kepikiran dengan Mbok Temu. Sembari berat hati saya menemuinya. Menggagalkan ajakan. Mbok Temu cemberut acuh, seperti tahu pasti ini yang terjadi. Karena saya dianggap salah langkah, koor-dinator gandrung ke Jakarta dialihkan ke orang lain. Walaupun salah langkah, beruntung saya tetap dapat undangan ke Jakarta. Festival Budaya Nusantara (FBN) 18-19 Okober 1999. Sampai di TIM, di antara lalu lalang orang, saya melihat fisik unik, Mas Bisri. Saya menyapanya, dia kaget senang. Ternyata Mas Bisri salah satu panitianya. Saya langsung diajak melihat perge-laran. Perwakilan Papua, Sulawesi, Sumatera, semua tampil natural, seperti saat tampil di komunitasnya.
Tiba giliran Banyuwangi, sungguh beda. Gandrung tampil penuh gincu yang tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Setelah dialog usai pergelaran, saya menjadi tahu, sebenarnya yang ideal ditampilkan di TIM kali ini adalah grupnya Mbok Temu. Karena tujuan pergelaran ini bukan kompetisi mencari yang baik penampilannya, tapi mencari tahu seperti apa kesenian tradisional itu dan apa problem yang dihadapi di daerahnya. Ini pelajaran pertama yang saya peroleh dari Mas Bisri tanpa kuliah dan berkata-kata. Bagaimana gandrung dipahami den-gan kepentinden-gan berbeda-beda. Bagaimana memahami relasi kesenian gandrung dengan negara, agama dan cara baca pelaku gandrung kepada dirinya sendiri.
Dari berproses dengan Mas Bisri, saya menjadi tahu bagaimana membaca gandrung sebagai entitas seni. Bagi Banyuwangi yang kompleks, membaca gandrung tidak selalu berada dalam satu kata. Gandrung berada dalam posisi tarik ulur dan diperdebatkan oleh kekua-tan yang melingkarinya. Kekuakekua-tan tidak hanya dalam pengertian negara atau pemerintah daerah, melainkan juga wacana dominan dan nilai-nilai yang disepakati masyarakat. Dalam hal ini agamawan dengan teksnya sendiri soal ukuran-ukuran moral. Budayawan dengan teksnya sendiri yaitu gandrung sebagai warisan sejarah yang luhur. Negara dengan teksnya sendiri gandrung se-bagai alat negara, semuanya berebut dan berpilin dengan kekuatannya masing-masing. Sedangkan komunitas gan-drung tidak tahu menahu dan berada di luar kontestasi ini. Mereka berada dalam posisi yang dibaca.
Maka komunitas gandrung perlu memiliki kemampuan membaca dirinya sendiri dan memposisikan dirinya di tengah entitas sosial yang lain. Digeretlah saya oleh Mas Bisri pada serangkaian kegiatan pendampingan komu-nitas gandrung, pembuatan film partisipatoris, dan dis-kusi-diskusi berbasis komunitas di beberapa tempat di Indonesia. Mas Bisri tidak pernah memberi semacam kuliah satu arah. Diskusi dan pemberian kesempatan berbasis pengalaman itu yang dilakukan. Tidak lupa se-cara sengaja kita-kita ini dilepaskan dalam kerumunan orang-orang dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Di situlah proses itu sangat intens dan bermakna.
Dalam program pendampingan komunitas kesenian gandrung berangkat dari pemikiran bahwa komunitas gandrung itu perlu diberdayakan. Karena mereka lemah, marginal dan dalam posisi hanya dimanfaatkan oleh pi-hak lain. Mereka perlu ditumbuhkan kemampuan me-mahami dirinya sendiri, potensinya, menyadari problem yang dihadapi. Setelah itu mereka diberi kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah. Rencana aksi ke-giatan (RAK). Mereka susun sendiri dan mereka ekskusi sendiri. Proses ini walau sedikit melelahkan tapi sangat menyenangkan. Memberi pengalaman baru yang sebel-umnya sama sekali tak pernah saya bayangkan. Setelah bergulat dengan kelompok-kelompok kesenian gan-drung, dan juga tidak ketinggalan kelompok lain yang mencoba menghegemoni kelompok gandrung, maka semua hasil kegiatan itu dipertanggungjwabkan dengan teman-teman dari daerah lain yang melakukan kegiatan
yang sama. Tidak lupa dalam kegiatan itu diharuskan mengajak salah satu pelaku seni yang kita dampingi. Seolah sebagai saksi mata bahwa kegiatan pendampingan telah dilaksanakan sebagaimana yang dipresentasikan.
Program pendampingan komunitas gandrung berjalan sekitar dua tahun. Setelah program selesai, dilakukan evaluasi. Apakah tujuan yang diinginkan tercapai. Saya melihat Mas Bisri sangat antusias pada tahapan ini. Dan hasilnya sedikit mengecewakan. Mas Bisri akhirnya me-nyadari bahwa setelah komunitas gandrung itu mampu memahami dan menempatkan posisinya secara baik dengan negara, agamawan, pelaku ekonomi, itu belum-lah cukup. Komunitas gandrung nyatanya masih lemah posisinya. Yakni lemah dari sisi ekonomi. Yah… ujung-nya masalah ekonomi. Upaya dua tahun kegiatan untuk mengisi kapasitas kesadaran dan pengetahuan tidaklah cukup. Komunitas kesenian gandrung perlu pemberday-aan ekonomi. Dan Mas Bisri menyadari, ini bukanlah bi-dangnya. Namun tidak bisa dihindari, akhir dari evaluasi itu merekomendasikan pemberian bantuan permodalan komunitas kesenian gandrung agar lebih mandiri. Maka Mbok Temu dan kelompoknya diberi bantuan uang. Tentu tidaklah besar. Uang itu oleh Mbok Temu digu-nakan untuk konsinyasi batu bata merah dengan orang lain. Kita bisa memprediksi berapa bulan uang ini bisa bertahan di tengah himpitan ekonomi pelaku seni yang kebanyakan miskin.
Ide tentang pemberdayaan seniman juga diwujudkan dalam program pembuatan film partisipatoris. Program
ini berangkat dari pemikiran bahwa selama ini yang mendokumentasikan kegiatan kesenian bukanlah pelaku kesenian itu sendiri. Tapi pihak lain yang melakukan. Maka tidak bisa dihindari pasti terjadi distorsi. Sebera-papun kecilnya. Karena pemahaman orisinal tentang dunia seni ya pada seniman pelaku itu sendiri. Walau-pun orang lain yang melakukan itu sudah melalui riset, tidak menjamin bisa menangkap secara menyeluruh sampai pada suasana batin pelaku seni itu. Maka ideal-nya, yang melakukan pendokumentasian itu ya pelaku seni itu sendiri. Ini ide cemerlang sekaligus juga tan-tangan. Apakah mungkin pelaku seni membagi kon- sentrasinya berkegiatan di bidang dokumentasi? Men-emukan tema, membuat script, menyiapkan pemeran, pengambilan gambar, editing dan seterusnya. Nyatanya ide ini bisa diwujudkan. Terpaksa ada kompromi-kompromi. Misalkan untuk bagian editing dan pengambilan gambar tidak harus pelaku seni itu sendiri, tapi orang yang masih memiliki ikatan emosional dengan seniman pelaku. Bisa anaknya, bisa keponakan atau saudara yang lain. Tapi riset persoalan yang akan didokumentasikan mut-lak melibatkan pemut-laku seni. Prosesnya rumit. Tapi ide ini dan hasil kerja yang telah dilakukan layak untuk tindaklanjuti dengan melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan. Sekali lagi ide besarnya adalah pelaku seni itulah pemilik sah atas semua produk dari kegiatan berkesenian.
Saat pelaku seni telah memiliki kesadaran dan keingi-nan mandiri, Mas Bisri masih mencermati persoalan
berikutnya, yakni dinamisasi berkebudayaan. Perjalanan kebudayaan, diharapkan senantiasa bisa menciptakan momentum yang memberikan ruang kepada siapa saja untuk terlibat dalam mengembangkan kebudayaan me-lalui proses yang dialogis, dimana setiap orang, komuni-tas, komponen masyarakat bisa turut mewarnai kebuda- yaan tersebut secara aktif. Dengan demikian kebuday-aan terus berjalan dan terbuka bagi suatu perubahan yang dinamis ke arah pengembangan yang partisipatif. Kebudayaan merupakan proses penghadiran fragmen kebersamaan dengan mengembangkan sikap penghar-gaan atas keberanekaan dan keberbedaan. Maka, ke-budayaan menjadi milik bersama tanpa hegemoni dan monopoli satu atas yang lain.
Banyuwangi tidak akan berkembang berbagai kesenian seperti sekarang ini jika para tetua Banyuwangi dulu tidak menerima dan mengapresiasi kebenaran budaya Bali, Jawa, Mandar, Madura, Arab, Cina, Belanda dan lain-lain. Kalau dicermati, seluruh kesenian Banyuwangi merupakan kesenian hibrid yang merupakan perpaduan budaya berbagai etnik. Kesenian gandrung sekalipun, yang seringkali dianggap sebagai kesenian “asli” Banyu-wangi tak bisa dipungkiri merupakan relief multikul-tur. Lihatlah, mulai dari alat dan komposisi musiknya, gendhingnya, sampai penarinya semuanya merupakan sumbangsih berbagai kultur. Jadi identitas Banyuwangi ya multikultur itu, kata Mas Bisri.
Kalau generasi terdahulu sangat menghargai dan menerima kebenaran lain dan dengan itu kehidupan
berkesenian Banyuwangi sangat dinamis, bagaimana mungkin pada saat ini justru muncul kecenderungan menolak dan mengingkari keberanekaan dan terperosok pada sikap menutup perubahan. Kesenian Banyuwangi itu tumbuh dari rakyat, dari bawah bukan lahir dari elit. Bukan dari atas seperti di Yogyakarta. Maka sebenarnya pakem itu bagi Banyuwangi tidak ada atau tipis. Maka upaya-upaya pembakuan kesenian di Banyuwangi itu sesungguhnya adalah proses pembekuan. Ini seringkali diucapkan oleh Mas Bisri dalam berbagai kesempatan. Timbulnya kecemasan di kalangan seniman Banyuwangi ketika tampilan gandrung terob tidak lagi menyajikan gendhing padha nonton dan babak seblang subuh yang dianggap sudah tidak setia terhadap pakem gandrung, semuanya bermuara pada reaksi terhadap gejala proses perubahan yang diukur dengan standard dan norma ter-tentu dan oleh pihak terter-tentu. Di sini tidak bermaksud memperbincangkan mana yang salah mana yang benar, tetapi dicoba dikritisi proses dialektika dalam berkebu-dayaan itu. Lebih dari itu semua, pendirian dan pemiki-ran ini juga bagian dari perubahan dan ke depan dipasti-kan adipasti-kan mengalami perubahan juga.
Masih banyak yang bisa dibincangkan tentang pemikiran Mas Bisri yang mempengaruhi diskursus kebudayaan di Banyuwangi. Kami semua yang di Banyuwangi sangat kehilangan. Mas Bisri adalah guru sekaligus teman yang setia dan sabar membimbing. Selamat jalan Mas Bisri.