• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAS BISRI, SANG UGAHARI. SEBUAH KENANGAN

Husein Muhammad

Mas Bisri, begitu saya memanggilnya. Saat saya dikabari kepulangan beliau, 17 Agustus 2020, tiba-tiba saya merasa ada yang hilang dari hati saya. Ya saya ke-hilangan teman baik yang mengesankan. Entah berapa lama saya tidak mendengar kabar aktifitasnya. Bibir saya reflektif mengucapkan kalimat Tarji’, Innaa Lillaah wa Innaa ilaihi Raaji’uun. Kita ini milik Allah. Dan kepa-da-Nya kita pulang, kembali kepakepa-da-Nya. Semoga Al-lah mengampuni dan merahmatinya serta menyiapkan surga sebagai tempat tinggal abadinya. Betapa singkat-nya hari-hari bersamasingkat-nya. Innama Anta Ayyam.

Segera sesudah itu sambil tertegun dalam diam yang sepi, pikiran saya melayang-layang ke suatu zaman yang pergi, saat pertama kali bertemu mas Bisri di suatu tempat dalam sebuah pertemuan budaya. Saya su-dah lupa tahun dan tempatnya. Tetapi pertemuan itu 

mengesankan. Ada banyak teman saat itu. Beberapa yang masih aku ingat adalah Ahmad Baso, Ahmad Suaedi, Abdul Mun›im DZ, Nur Khoiron, Miftahus Surur, Alam-syah, dan yang lain.

«Saya Bisri, kang Husein», katanya memperkenalkan diri, sambil tersenyum manis. Begitu teman-teman me-manggilku, mengingatkan saya saat di pesantren. Semua teman di pesantren, besar kecil dipanggil «kang».  Wa-jah itu begitu mengesankan. Dahinya lebar tanpa ram-but di depannya. «Ini kayak profesor», bisik hatiku. Ia tampil seperti orang biasa, lugu dan bersahaja,  ugahari.  Pakaiannya juga bersahaja, kalau tidak pantas disebut, berbahan murah. Ia selalu mengenakan baju lengan pendek. Lalu kami bicara dan ngobrol «ngalor-ngidul; sambil bercandaria seperti sudah lama bersahabat saja. «Ngobrol» dengan beliau menyenangkan. Meski isu yang dibicarakan menggelisahkan, tetapi diekspresikan dengan santai dan melucu.

Dari pertemuan itu aku mendengar dan mengetahui pandangan-pandangannya yang cerdas dan mendalam tentang realitas kebudayaan dan tradisi di Indonesia yang begitu kaya, beragam dan indah berikut problematika nya sendiri. Nah, dari situ pula saya memeroleh pengetahuan tentang apa yang disebutnya sebagai Mul-tikulturalisme. Sebuah terma yang sudah aku dengar tetapi belum mengerti betapa pentingnya pengetahuan mengenainya.

Pemahaman atas tema ini mengantarkan kita pada keharusan bagi setiap orang di bumi ini untuk hidup bersama dalam relasi saling menghormati dan menghar-gai apapun latarbelakang agama, jenis kelamin, bahasa, adat istiadat dan lain-lain. Aku bercerita  kepada teman-temanku di Cirebon tentang mas Bisri ini, dan aku me-nyebutnya sebagai budayawan NU selain Mohammad Sobari yang terkenal itu.

Tak berhenti di sini. Hubungan, komunikasi dan perbincangan aku dengan mas Bisri Effendy berlanjut, di sejumlah moment diskusi, seminar dan silaturrahim biasa. Kami jadi saling memahami pengeta-huan dan pengalaman yang kami miliki dan kecenderu- ngan fokus masing-masing. Bila kemudian beliau bersama teman-temannya mendirikan Lembaga sosial bernama Desantara, maka saya pun diajak bergabung di sana entah sebagai apa. Di Jurnal Srinthil yang dikelola di lembaga tersebut saya diminta menulis tentang isu-isu Perempuan.

Saya beruntung bila kemudian saya diajak ikut bicara di beberapa tempat tentang isu gender dan multikultural-isme. Antara lain di sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Saya sudah lupa nama daerah tersebut. Jika tidak salah ini diselenggarakan atas kerjasama Desantara dan LSM Lapar. Di sana dalam forum diskusi itu saya diminta mempresentasikan tema Pluralisme dan Multikultural-isme dalam Islam. Di tempat itu saya bertemu dengan teman dari komunitas Bissu. Waktu pulang saya di hadiahi buku “Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki”. Ini sebuah fakta kebudayaan di negeri ini yang telah

ber-langsung berabad. 

Lalu saya juga diajak ikut bicara dalam isu yang sama di sebuah Pesantren besar dan terkenal di Jember. Pertemuan di sini sangat menarik, karena ada peserta dari komunitas Bisu. Dia tampil sebagai perempuan. Maka pengurus pesantren menempatkannya di asrama putri. Dia gelisah dan malam-malam keluar untuk me-nyampaikan kegelisahannya kepada pengurus sambil bicara terus terang tentang jenis kelaminnya. Maka dia dipindahkan ke asrama putra. Di sini juga dia tak bisa tidur.

Esoknya dia curhat kepada saya. Dan saya mencerita-kan hal itu kepada mas Bisri dan beliau tertawa sedikit panjang.

Sungguh mas Bisri dan teman-teman aktivis di Desantara telah mengajari saya banyak hal tentang problematika multikulturalisme, pluralisme, toleransi, kekerasan atas nama agama, gender atau juga ke- ragaman orientasi seksual dan lain-lain di negeri ini. Ini semua menjadi kekayaan pengetahuan sekaligus modal bagi saya dan teman-teman di Fahmina Institute un-tuk melakukan advokasi terhadap orang-orang yang didiskriminasi hanya karena berbeda identitasnya dari masyarakat pada umumnya.

Satu lagi yang saya peroleh dari pengalaman bertemu mas Bisri adalah tentang Pribumisasi Islam gagasan orisinal Gus Dur. Mas Bisri menjelas-kannya dengan apik, santai dan penuh canda, tetapi memahamkan. Begitu juga pemikiran brilian

dan aneh Gus Dur terutama dalam bidang kebudayaan.

Akhirnya saya melihat mas Bisri adalah salah seorang budayawan yang gelisah atas realitas perkembangan kebudayaan sekarang yang mengarah kepada anti plu-ralisme dan multikultuplu-ralisme. Dan ia menulis banyak artikel berisi kritik-kritik tajam atas fenomena keberaga-maan yang makin radikal.

Begitulah sedikit yang bisa saya tulis untuk men-genang 100 hari wafatnya mas Bisri Effendy. Saya sangat berharap semangat dan gagasannya bisa dilanjutkan oleh generasi yang ditinggalkannya.

Beberapa Kenangan