Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Perseroan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance secara konsisten dan berkelanjutan.
• Transparency (Keterbukaan informasi) Yaitu keterbukaan yang senantiasa dijalankan oleh Perseroan yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan seperti misalnya mengumumkan pendirian PT dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia ataupun Surat Kabar. Serta keterbukaan yang dilakukan oleh Perseroan menyangkut masalah keterbukaan informasi ataupun dalam hal penerapan manajemen, informasi kepemilikan Perseroan yang akurat, jelas dan tepat waktu baik kepada pemegang saham dan para pemangku kepentingan.
Dalam mewujudkan transparansi ini, Perseroan menyediakan informasi secara akurat dan tepat waktu kepada pemangku kepentingan. Perseroan mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan bagi kinerja Perseroan secara rutin. Selain itu, para investor dapat mengakses informasi penting terkait kinerja Perseroan secara mudah.
Manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini, pemangku kepentingan dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam menjalin kemitraan dengan Perseroan. Dengan ketersediaan informasi kinerja Perseroan yang diungkap secara akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, mempermudah calon investor menanamkan modalnya. Prinsip transparansi pada Perseroan dilaksanakan dengan baik dan tepat sehingga terhindar dari benturan kepentingan berbagai pihak dalam manajemen.
• Accountability (akuntabilitas) merupakan etika yang terkait dengan administrasi publik yang menerangkan salah satu aspek dari administrasi publik atau kebijakan Perseroan. Dalam peran kepemimpinan, akuntabilitas dapat merupakan pengetahuan dan adanya pertanggungjawaban tehadap produk, keputusan dan kebijakan termasuk pula di dalamnya administrasi publik, dan pelaksanaan dalam lingkup peran atau posisi kerja yang mencakup kewajiban untuk melaporkan, menjelaskan dan dapat dipertanyakan bagi tiap-tiap konsekuensi yang sudah dihasilkan.
akuntabilitas merupakan salah satu prinsip dalam tata kelola perusahaan yang baik dan dapat digambarkan sebagai hubungan antar individu, manajemen dan masyarakat sebagai sebuah pertanggungjawaban dalam memberitahukan, menjelaskan setiap tindakan dan keputusannya dapat dinilai sehingga mecegah terjadinya penyalahgunaan wewenang.
Dalam Perseroan, akuntabilitas digunakan sebagai mekanisme utama untuk mendisiplinkan seluruh karyawan baik dalam jajaran top manajer hingga pada jajaran low manajer untuk dapat membantu mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan sekaligus proses check and balances pengaturan kewenangan. Checks and balances hanya bekerja dengan menciptakan pengaturan konflik kepentingan antar level manajerial, namun segala keputusan yang berkaitan dengan kepentingan publik, Perseroan memerlukan persetujuan dan sepengetahuan Dewan Komisaris, dengan cara ini, pengambilan keputusan-keputusan dalam hal kebijakan publik akan menjaga hubungan antara pengelola Perseroan dan pengawas dengan konstituen pada Rapat Umum Pemegang Saham.
Pengertian akuntabilitas ini memberikan suatu petunjuk sasaran pada hampir semua reformasi sektor usaha dan mendorong seluruh pemangku kepentingan yang terlibat untuk bertanggungjawab dan menjamin kinerja pelayanan publik yang baik.
• Responsibility (Pertanggungjawaban) adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan Perseroan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Bentuk pertanggung jawaban Perseroan adalah kepatuhan Perseroan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya; masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya.
Dengan menerapkan prinsip ini, diharapkan akan menyadarkan Peseroan bahwa dalam kegiatan operasionalnya, Perseroan juga mempunyai peran untuk bertanggung jawab kepada pemegang saham juga kepada pemangku kepentingan.
Bentuk pertanggungjawaban Perseroan terkait dengan prinsip-prinsip GCG lainnya adalah adanya jaminan tersedianya mekanisme, peran dan tanggung jawab jajaran manajemen yang professional atas semua keputusan dan kebijakan yang diambil sehubungan dengan aktivitas operasional perseroan.
• Independency (independen). Prinsip ini mensyaratkan agar Perseroan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kata lain, prinsip ini menuntut bertindak secara mandiri sesuai peran dan fungsi yang dimilikinya tanpa ada tekanan. Tersirat dengan prinsip ini bahwa pengelola Perseroan tetap memberikan pengakuan terhadap hak-hak pemangku kepentingan yang ditentukan dalam undang-undang maupun peraturan Perseroan.
Independensi menuntut pengelola Perseroan agar dapat bertindak secara mandiri sesuai peran dan fungsi yang dimilikinya tanpa ada tekanan-tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.
• Fairness (Kewajaran) dalam penerapan praktik tata kelola perusahaan yang baik dapat diartikan sebagai perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.
Prinsip ini juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor, khususnya pemegang saham minoritas dari berbagai bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam), fraud (penipuan), dilusi saham (nilai Perseroan berkurang), KKN, atau keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan, penerbitan saham baru, merger, akuisisi, atau pengambil-alihan perusahaan lain.
Prinsip fairness diharapkan membuat seluruh aset Perseroan dikelola secara baik dan prudent (hati-hati), sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan adil). Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada Perseroan terhadap praktek korporasi yang merugikan. Fairness menjadi jiwa untuk memonitor dan menjamin perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam Perseroan.
Seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan perlakuan yang adil dari Perseroan. Pemberlakuan prinsip-prinsip ini dengan sendirinya melarang praktik-praktik tercela yang dilakukan orang dalam yang merugikan pihak lain.
Perseroan selalu menjaga hubungan baik dengan karyawan dan menghindari praktik diskriminasi serta menghormati hak-hak karyawan.
Untuk menjamin konsisten implementasi GCG, Perseroan telah mengadakan rangkaian kegiatan perbaikan pedoman Tata Kelola, board manual, pedoman etika dan perilaku usaha, pedoman pelaporan pelanggaran serta penyempurnaan organ GCG guna menunjang implementasi GCG di masa yang akan datang. Konsistensi assessment dan audit yang komprehensif secara berkala sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas tata kelola perusahaan.
Penerapan GCG bukan sekedar untuk memenuhi peraturan perundang-undangan, namun juga Perseroan berkeyakinan bahwa implementasi tata kelola perusahaan yang baik secara konsisten dan berkesinambungan dapat meningkatkan reputasi dan nilai Perseroan dimata pemangku kepentingan sebagai tindak nyata pengembangan potensi bisnis Perseroan.
Tujuan Penerapan Good Corporate Governance
Penerapan GCG diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan melalui beberapa tujuan berikut:
1. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kesinambungan Perseroan serta memberikan kontribusi pada terciptanya kesejahteraan pemegang saham, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya sehingga menjadi solusi yang elegan dalam menghadapi tantangan Perseroan kedepan
2. Meningkatkan legitimasi Perseroan untuk dikelola secara terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan 3. Mengakui dan melindungi hak dan kewajiban para pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Dalam menerapkan nilai-nilai Tata Kelola Perusahaan, Perseroan menggunakan pendekatan berupa keyakinan yang kuat akan manfaat dari penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik. Berdasarkan keyakinan yang kuat, maka akan tumbuh semangat yang tinggi untuk menerapkannya sesuai standar internasional. Guna memastikan bahwa Tata Kelola Perusahaan diterapkan secara konsisten di seluruh lini dan unit organisasi, Perseroan menyusun berbagai acuan sebagai pedoman bagi seluruh karyawan. Selain acuan yang disusun sendiri, Perseroan juga mengadopsi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam hal penerapan prinsip-prinsip GCG harus disadari bahwa penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik hanya akan efektif dengan adanya asas kepatuhan dalam kegiatan bisnis, maka terlebih dahulu diterapkan oleh jajaran manajemen dan kemudian diikuti oleh segenap karyawan secara konsisten, tegas dan berkesinambungan.
Manfaat dan Faktor Penerapan GCG
Penerapan prinsip-prinsip GCG menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan bagi investor untuk berinvestasi, terutama sekali hubungan antara praktik corporate governance dengan karakter investasi saat ini. Karakter investasi ini dinilai dengan terbukanya informasi tentang perusahaan terkait sehingga mempermudah investor untuk mengakses kinerja perusahaan melalui
‘pool of investors’ di seluruh dunia.
Perseroan ingin menuai manfaat dari pasar modal global, dan jika investor ingin menarik modal jangka panjang, melalui penerapan GCG secara konsisten dan efektif akan mendukung kinerja Perseroan ke arah itu. Bahkan jikapun perusahaan tidak bergantung pada sumber daya dan modal asing, penerapan prinsip dan praktik GCG akan dapat meningkatkan keyakinan investor domestik terhadap perusahaan.
Di samping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat:
1. Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita Perseroan sebagai akibat penyalahgunaan wewenang, ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
2. Mengurangi biaya modal, yaitu sebagai dampak dari pengelolaan Perseroan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang dipinjam oleh Perseroan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat risiko Perseroan.
3. Meningkatkan nilai saham Perseroan sekaligus dapat meningkatkan citra Perseroan tersebut kepada publik dalam jangka panjang.
4. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam lingkungan Perseroan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh Perseroan, karena umumnya mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi Perseroan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dimaksud adalah beberapa faktor yang berasal dari luar Perseroan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Di antaranya:
a. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif.
b Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government menuju Good Government Governance yang sebenarnya.
c. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Dengan kata lain, semacam benchmark (acuan).
1. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela.
2. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana Perseroan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja, bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor Perseroan dalam implementasi GCG.
Faktor Internal
Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang berasal dari dalam Perseroan, antara lain:
a. Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di Perseroan.
b. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan Perseroan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG.
c. Manajemen pengendalian risiko Perseroan juga didasarkan pada kaidah-kaidah standar GCG.
d. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam Perseroan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.
e. Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam Perseroan sehingga kalangan publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika Perseroan dari waktu ke waktu.
Kebijakan Tata Kelola Perusahaan
Dalam rangka mendukung struktur dan mekanisme tata kelola perusahaan, Perseroan memiliki sejumlah kebijakan tata kelola perusahaan atau yang disebut sebagai soft structure good corporate governance. Kebijakan tata kelola perusahaan dan visi, misi Perseroan senantiasa disusun dengan merujuk kepada peraturan yang berlaku serta merujuk pada best practice industri di Indonesia.
Kebijakan tata kelola perusahaan meliputi Good Corporate Governance Policy, Board Manual, Code of Conduct, Committee Charter, Standard Operating Procedure. Kebijakan tata kelola perusahaan berlaku untuk seluruh Manajemen dan Karyawan Perseroan. Secara berkala Perseroan melakukan sosialisasi dan evaluasi terkait dengan kebijakan tata kelola perusahaan yang berlaku di Perseroan.
Komitmen penerapan tata kelola perusahaan merupakan hal mutlak bagi Perseroan. Hal tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur yang dimiliki dan secara berkesinambungan meningkatkan sistem dan prosedur untuk mendukung efektivitas pelaksanaan GCG di lingkungan Perseroan.
Selain itu, Perseroan beserta seluruh jajarannya berkomitmen penuh untuk melaksanakan praktik GCG dalam setiap pengelolaan Perseroan. Implementasi terus dilakukan dengan meningkatkan sosialisasi dan internalisasi prinsip-prinsip GCG di antara semua anggota Dewan Komisaris, Direksi dan karyawan Perseroan sehingga menjadi suatu tradisi yang harus diimplementasikan dalam setiap aktivitas bisnis sehari-hari. Selain menyetujui Pakta Integritas Karyawan, setiap karyawan Perseroan diwajibkan menandatangani Surat Pernyataan Kode Etik agar karyawan mengetahui, memahami serta menjalankan ketentuan-ketentuan yang berlaku di Perseroan dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Perseroan sehingga diharapkan dapat meningkatkan integritas setiap karyawan.
Kebijakan lain yang dilakukan Perseroan dalam upayanya melaksanakan budaya GCG adalah membuat pengumuman kepada seluruh karyawan untuk tidak meminta, memberikan atau menerima hadiah dalam segala bentuk baik langsung maupun tidak langsung kepada karyawan Perseroan. Dukungan transparansi kerjasama di antara para pihak dibutuhkan dalam mewujudkan komitmen Perseroan untuk terus meningkatkan implementasi prinsip GCG dalam berbagai program kerja. Hal tersebut dilakukan antara lain dengan meningkatkan efektivitas kerja Komite Audit dan Divisi Internal Audit serta optimalisasi fungsi Divisi Corporate Secretary. Penerapan GCG bukan sekedar untuk memenuhi peraturan perundang-undangan, namun juga Perseroan berkeyakinan bahwa implementasi tata kelola perusahaan yang baik secara konsisten dan berkesinambungan dapat meningkatkan reputasi dan nilai Perseroan dimata pemangku kepentingan sebagai tindak nyata pengembangan potensi bisnis Perseroan.
Mekanisme Tata Kelola
Perseroan merupakan perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas dengan Organ Perusahaan yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi. Dewan Komisaris dan Direksi memiliki wewenang dan tanggung jawab yang jelas sesuai fungsinya masing-masing sebagaimana diamanahkan dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan. Dewan Komisaris dan Direksi memiliki tanggung jawab untuk memelihara keberlanjutan usaha Perseroan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Dewan Komisaris dan Direksi harus memiliki kesamaan persepsi terhadap visi, misi, dan nilai-nilai Perusahaan.
Dalam melaksanakan kepengurusan Perseroan, Direksi didukung oleh struktur manajemen yang efektif. Adapun dalam melaksanakan fungsi pengawasan, Dewan Komisaris didukung oleh organ penunjang seperti Komite Audit, Komite Remunerasi
& Nominasi serta Komite Pemantau Risiko. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam UU PT dan/atau Anggaran Dasar Perseroan, Pemegang Saham melakukan pengambilan keputusan penting yang berkaitan dengan pengelolaan Perseroan baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku.
Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas pengelolaan yang dilakukan oleh Direksi. Dewan Komisaris dan Direksi secara kolektif telah memiliki keahlian untuk dapat melaksanakan tanggungjawab yang diamanahkan, dan terdiri dari anggota yang memiliki pemahaman yang memadai, dan memiliki kompetensi untuk dapat menghadapi permasalahan yang timbul dalam usaha, membuat keputusan secara independen, mendorong peningkatan kinerja Perseroan, serta dapat secara efektif melakukan penelaahan dan memberikan masukan konstruktif terhadap kinerja manajemen.
Implementasi GCG
Perseroan menyadari bahwa salah satu cara untuk mempertahankan keberlangsungan usaha dan meningkatkan kinerja seluruh unit kerja terkait adalah komitmen yang kuat dalam menjalankan prinsip- prinsip Good Corporate Governance. Komitmen ini sangat diperlukan dalam upaya mencapai visi Perseroan menjadi : To be the most progressive and reliable multifinance in Indonesia.
Pemahaman dan Implementasi Good Corporate Governance (GCG) memiliki peran penting untuk memastikan serta menjamin pelaksanaan tugas dan tanggungjawab manajemen dijalankan dengan baik sehingga dapat menuntun Perseroan untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan pada awal tahun 2014.
Implementasi GCG merupakan usaha Perseroan untuk memberikan added value kepada para pemangku kepentingan. Implementasi GCG di Perseroan sejalan dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku. Sebelum OJK memberlakukan POJK 30 Tahun 2014 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bagi Perusahaan Pembiayaan, Perseroan telah menerapkan prinsip-prinsip GCG yang dituangkan dalam Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik PT Mandiri Tunas Finance pada tahun 2013 dan peraturan bagi emiten yang tercatat di BEI. Kedepannya, Perseroan akan melakukan penyempurnaan terhadap pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan melalui pemenuhan POJK 30 Tahun 2014 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik BagiPerusahaan Pembiayaan.
Melalui peran aktif dan dukungan penuh Dewan Komisaris dan Direksi, Perseroan melakukan implementasi penerapan prinsip-prinsip GCG pada setiap aspek bisnis dan pada semua jajaran organisasi, hal tersebut diwujudkan dalam aspek-aspek sebagai berikut:
1. Pemegang Saham & Rapat Umum Pemegang Saham;
2. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris;
3. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi;
4. Pelaksanaan Tugas Komite;
5. Hubungan Dewan Komisaris dan Direksi;
6. Kelengkapan Unit Kerja Pendukung;
7. Penerapan Fungsi Audit Eksternal;
8. Penerapan Informasi & Kerahasiaan Data Perusahaan.
Dalam menyusun kebijakan Tata Kelola Perusahaan, Perseroan sebagai anak perusahaan BUMN perbankan terbesar di Indonesia mengadopsi berbagai ketentuan eksternal sebagai referensi, antara lain di bidang perbankan, Perseroan terbatas, Peraturan OJK, serta pedoman GCG untuk lemabaga jasa keuangan
Roadmap GCG
Dalam upaya mendukung tercapainya visi dan misi Perseroan, pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi pedoman praktis yang dapat dijadikan acuan oleh Perseroan dalam melaksanakan GCG. Perseroan telah menyusun pilar implementasi GCG sesuai ilustrasi dibawah. Komite-komite yang telah dibentuk membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, serta merumuskan kebijakan sesuai ruang lingkup tugas komite yang bersangkutan. Manajemen Perseroan juga telah membentuk unit kerja pendukung untuk mengawal implementasi GCG. Unit kerja tersebut adalah Corporate Secretary Division, Internal Audit Division, Compliance Department, Risk Management Division, serta HRD Division.
PiLaR i: ViSi, MiSi & PiLaR ii: BUDaYa PERUSaHaan
PiLaR iii: PEDOMan GCG PiLaR iV: inFRaSTRUKTUR PEnDUKUnG
BUDaYa PERWiRa
kePERcayaan kegembiRaan
keWirausahaan
Menjadi Perusahaan Pembiayaan Otomotif Terbaik, Terbesar dan Terpercaya di indonesia pada tahun 2014
• Berorientasi Kepada Pemenuhan Kebutuhan Pasar dengan Service Excellent
• Ikut Berkontribusi Positif Dalam Perekonomian Nasional
• Mengembangkan Sumber Daya Manusia Profesional
• Memberi Keuntungan Yang Maksimal Bagi Stakeholders ViSi
• RUPS & Struktur Organisasi Perusahaan
• Dewan Komisaris
• Komite Audit
• Direksi
• Divisi Legal & Compliance
• Corporate Secretary
• Divisi Risk Management
• Divisi Internal Audit
• Divisi Human Resources Development
• Kebijakan Prosedur
• Assesment
• Audit
• Keterbukaan Informasi & Kinerja Perusahaan
Perseroan telah memiliki struktur dan kebijakan penerapan Tata Kelola Perusahaan dalam bentuk GCG Policy dan Corporate Code of Conduct. Selain itu, Perseroan telah memiliki pedoman organisasi Perseroan dalam menjalankan tugasnya antara lain: tata tertib Dewan Komisaris, tata tertib Direksi, Piagam Komite Audit dan Piagam Komite Nominasi & Remunerasi. Kebijakan dan prosedur tersebut senantiasa dikaji untuk disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan bisnis serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Self Assessment GCG
Dalam rangka menerapkan kelima prinsip dasar GCG tersebut di atas, Perseroan berpedoman pada berbagai ketentuan dan persyaratan minimum serta pedoman yang terkait dengan pelaksanaan tata kelola yang baik dari pemegang saham pengendali.
Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pelaksanaan tata kelola yang baik, Perseroan sebagai bagian dari salah satu konglomerasi keuangan di Indonesia selalu berupaya untuk yang berlaku. Secara rutin setiap tahunnya, Perseroan Feedback atas hasil Self Assessment segera dilakukan tindakan-tindakan korektif yang diperlukan.
Evaluasi Pelaksanaan GCG 2015 oleh Pihak Independen
Dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan implementasi GCG, Perseroan mengikuti berbagai kegiatan diantaranya GCG Award yang diselenggarakan oleh pihak independen yaitu:
1. Indonesia Multifinance Award 2015 yang diselenggarakan oleh majalah Economic Review pada tanggal 16 Juni 2015 di mana Perseroan mendapat apresiasi Rangking II dalam implementasi GCG.
2. Indonesia Good Corporate Governance Award 2015 yang diselenggarakan oleh IPMI International Business School pada tanggal 26 Agustus 2015 di mana Perseroan mendapat predikat Excellence Company in Good Corporate Governance.
3. Indonesia Most Trusted Companies Award 2015 yang diselenggarakan oleh majalah SWA dan The Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) pada tanggal 17 Desember 2015 dimana Perseroan dianuagrahkan untuk yang kedua kalinya sebagai Indonesia Trusted Companies dengan scoring penilaian sebagai berikut:
Tabel Hasil CGPI
Self assesment Sistem
Dokumentasi Makalah Observasi Skor CGPi Predikat
PT Mandiri Tunas Finance 16,44 21,06 19,39 21,24 78,13 TEPERCAYA
Penguatan Tata Kelola Perusahaan
Perseroan memiliki komitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG secara konsisten. Komitmen tersebut diwujudkan dengan melakukan langkah-langkah peningkatan praktik GCG antara lain :
» Dewan Komisaris, Direksi dan Pejabat Eksekutif Perseroan berkomitmen dalam menerapkan Budaya Kepatuhan dan prinsip GCG dengan melakukan penandatanganan Pernyataan Komitmen dan Pernyataan Kesanggupan, yang intinya adalah berkomitmen serta sanggup menerima tugas dan tanggung jawab untuk :
• Mewujudkan Perseroan yang selalu patuh dan menegakkan implementasi prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik
• Mewujudkan Perseroan yang selalu patuh dan menegakkan implementasi prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik