Ketidakpuasan manusia dapat diekspresikan dengan berbagai cara dengan menggunakan simbol. Penggunaan simbol dalam kemunitas tertentu akan sangat membantu mereka, karena dalam simbol yang digunakan terdapat maksud serta tujuan yang hanya diketahui oleh komunitas pemiliknya, sementar orang yang berada di luar komunitas pemilik simbol tidak akan pernah mengerti tujuan
28 Rumah adat Papua khususnya suku Dani dan beberpa suku yang berada di wilayah Papua pegunungan
194
penggunaan simbol tersebut. Singkatnya adalah, dengan menggunakan simbol kerahasiaan komunitas tertentu akan tetap terpelihara.
Di Kabupaten Kaimana yang dijuluki sebagai “Negeri 1001 Senja”
dalam perjalanan pemerintahan selama masa karakteker hingga menjadi kabupaten definitif, hampir setiap aksi demonstrasi massa selalu diakhiri dengan melakukan pemalangan dalam bentuk simbol.
Mulai dari menggunakan simbol “palang kayu biasa” hingga simbol
agama sampai simbol-simbol adat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa bentuk pemalangan seperti simbol “keranda mayat”, simbol
“janur kelapa (nggama)” dan simbol bambu digabung bersama daun sagu yang dalam bahasa suku Irarutu disebut “kakur-utie ro”. Simbol
“keranda mayat” sesuai dengan fungsinya, berhubungan dengan konsep
kematian yang biasanya digunakan oleh umat Islam sebagai tempat untuk menempatkan jenazah sebelum dimakamkan, sementara untuk simbol janur kelapa “nggama”, digunakan oleh suku-suku asli Kaimana yang berada di dekat pesisir pantai dan simbol “kakur – utie ro”
digunakan oleh suku-suku asli Kaimana yang tinggal di wilayah pesisir sungai/kali dan bagian wilayah pegunungan.
Yang menjadi permasalahan dalam menggunakan simbol-simbol tersebut, seharusnya penggunaannya disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Misalnya, ketika kita hendak masuk dalam sebuah gedung yang di dalamnya terdapat satu kamar yang digunakan untuk menyimpan “keranda mayat” maka sudah pasti pada bagian pintu kamar tersebut terpasang simbol “keranda mayat”. Tujuannya adalah agar setiap orang yang hendak masuk gedung tersebut ketika berdiri di
depan pintu yang telah terpasang simbol “keranda mayat” maka dia pasti tauh bahwa isi dalam kamar tersebut terdapat “keranda mayat”.
Tetapi bayangkan saja jika di depan pintu masuk seorang Pimpinan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpasang simbol “keranda mayat”.
Selain simbol “keranda mayat”, beberapa simbol adatis milik
masyarakat lokal juga digunakan oleh masyarakat adat untuk memalang dan menghentikan pekerjaan pembangunan jalan dan
195
kantor distrik milik pemerintah. Beberapa simbol tersebut antara lain, simbol “nggama” digunakan oleh masyarakat untuk memalang sejumlah alat berat milik kontraktor yang mengerjakan ruas jalan dari ibukota Kaimana menuju Teluk Triton. Tidak ketinggalan pula simbol
“utie ro” yang digunakan oleh masyarakat adat di wilayah Teluk
Arguni untuk memalang kantor distrik dan kantor perusahan minyak P.T. ChrisEnergi yang melakukan eksplorasi MIGAS di wilayah tersebut.
Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan sejumlah data yang ditemukan pada saat melakukan penelitian berkaitan dengan sikap masyarakat adat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang diimplementasikan dalam kaitan dengan pembangunan.
Keranda mayat di depan ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati Kaimana
Simbol “keranda mayat” yang terpasang di depan pintu masuk ruang kerja Bupati Kaimana dan Wakil Bupati Kaimana pada tanggal 10 Oktober 2012 patut dipertanyakan, bukan pada pertanyaan siapa yang
memasang dan untuk apa “keranda mayat” itu diletakan pada pintu
masuk ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati Kaimana. Tetapi yang
patut dipertanyakan adalah apa hubungan “keranda mayat” tersebut
sebagai sebuah simbol pada pintu masuk ruang kerja dengan isi ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati Kaimana.
Manusia sebagai makhluk simbol dan karena itu, manusia sangat lihai dalam menciptakan dan memainkan simbol. Jika pada fungsi
pertama simbol “keranda mayat” hanya untuk menyimbolisasi sesuatu
yang berhubungan dengan upacara pemakaman manusia yang telah meninggal dengan identitas agamanya adalah agama Islam, maka pada penggunaannya sebagai simbol untuk menyegel ruang kerja Bupati Kaimana fungsi utamanya mengalami perubahan. Hal ini jelas terlihat dari lansiran berita media online Radar Sorong yang diunggah pada Selasa, 23 Oktober 2012 | 04:21 menjelaskan sebagai berikut:
“usai meletakan KERANDA MAYAT, massa menyegel ruang kerja Bupati Kaimana, Drs. Matias Mairuma. Massa juga menyegel ruang kerja wakil Bupati, Burhanudin Ombaier, S.Sos, dan Assisten I Setda Kaimana, Rita Teurupun, S.Sos. Setelah
196
melakukan aksi pemalangan ruang kerja Bupati, Wakil Bupati dan Asisten I Setdakab Kaimana, sebagian besar massa keluar menggelar orasi di halaman Kantor Bupati, sementara sejumlah warga lainnya bergerak menyegel tiap-tiap ruang kerja di Kantor Bupati Kaimana ini. Aksi itu menyebabkan sejumlah PNS yang sedang berada di dalam ruangan, langsung berhamburan keluar dan memilih untuk berada di luar ruangan. Selain menyegel kantor Bupati Kaimana, massa yang kecewa ini juga menyegel ruang Gedung DPRD Kaimana dan ruang Setwan. Koordinator aksi, Muhammad Karet, dalam orasinya di depan wakil rakyat yang menerima mereka, menegaskan kedatangan pihaknya ke Kantor Bupati dan DPRD sebagai bentuk kekecewaan terhadap proses pengurusan ke 39 calon jemaah haji asal Kaimana yang
akhirnya batal berangkat menunaikan ibadah haji. “Kami minta DPRD agar membuat laporan ke pihak-pihak terkait soal
permasalahan ini”. Warga asli Kaimana mempertanyakan
mengapa pemerintah melakukan hal ini, memberikan pengurusan haji kepada mereka yang tidak berpengalaman dalam pengurusan keberangkatan haji, tegasnya. Rusli Ufnia, orator lainnya juga mendesak DPRD Kaimana segera memanggil Bupati Kaimana. Jika pemanggilan tersebut tidak diindahkan, maka DPRD segera membuat sidang paripurna istimewa untuk
menidaklanjuti persoalan ini hingga tuntas, tukasnya”29.
Dari lansiran berita media Online Radar Sorong penulis
menggarisbawahi penggunaan simbol “keranda mayat” tidak lagi
berhubungan dengan fungsinya sebagai simbol pengusungan mayat, tetapi lebih merujuk pada situasi yang berhubungan dengan gagal berangkat tiga puluh sembilan CJH asal Kaimana. Dari simbol yang digunakan tersebut tersirat pula pesan bahwa pemerintah seakan tidak memiliki rasa kepekaan terhadap tanggungjawab kepengurusan tiga puluh sembilan CJH yang gagal berangkat. Karena itu, sikap para demonstran mencoba menampakan hal tersebut dengan menyegel sejumlah ruang kerja yang dimulai dari ruang kerja bupati dan wakil bupati hingga ruang kerja asisten satu dan ruangan kerja SETDA Kaiman. Tidak ketinggalan pula Kantor DPRD dan Kantor SETWAN Kabupaten Kaimana yang turut disegel.
29 Sumber http://www.radarsorong.com/read/2012/10/23/3387/Warga-Palang-Kantor-Bupati-dan-DPRD diunduh pada tanggal 14 November 2017
197
Gambar: 5. 2 Pemalangan Ruang Kerja Bupati dan Wakil Bupati Kaimana dengan Keranda Mayat. Sumber Foto : Radar Sorong NIC diunduh pada
tanggal tanggal 14 November 2017
Jika ditelusuri kebijakan pemerintah daerah terakit dengan memberangkatkan jemaah haji setiap tahun, sesungguhnya program haji tidak pernah mengalami kegagalan. Namun di tahun 2012 baru terjadi keberangkatan tiga puluh sembilan CJH mengalami kegagalan berangkat. Melihat keadaan tersebut, banyak orang beropini kalau pemerintah daerah sengaja melalaikan tanggungjawab mengurus kelengkapan adminsitasri CJH ke tanah suci. Situasi ini berdampak pada pemalangan kantor bupati Kaimana.
Dari data yang ditemukan oleh penulis berdasarkan lansiran berita Kompas.com - 22/10/2012, 13:16 WIB Kontributor Kompas TV, Budy Setiawan dari hasil wawancara via telpon dengan kordinator aksi Mohamad Karet menjelakan bahwa:
“protes itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap
kebijakan Bupati Kaimana, yang gagal memberangkatkan 39 CJH. Padahal, keberangkatan haji ini merupakan program pemerintah daerah selama dua tahun, yakni tahun 2011 dan 2012 yang telah dianggarkan dalam APBD sebesar Rp 4 miliar. Selanjutnya Mohamad Karet, mengatakan, proses kepengurusan keberangkatan calon jemaah haji asal Kaimana yang dilakukan oleh pemda setempat memang jauh dari harapan. Pasalnya, dalam
198
mengurus keberangkatan ini, pihak pemda tidak melibatkan
Kementerian Agama (Kemenag) Kaimana”30.
Penjelasan kordinator aksi Mohamad Karet sesuai lansiran berita Kompas.Com, memberi penekanan bahwa tiga puluh sembilan CJH asal Kaimana merupakan jumlah haji yang berasal dari tahun 2011 baru bisa diberangkatkan dengan CJH tahun 2012 karena itu biaya sebesar empat milyar merupakan dana yang cukup besar untuk membiayai perjalanan CJH ke Tanah Suci. Keterangan kordinator lapangan yang disampaikan melalui hasil lansiran berita Kompas.Com bahwa dalam mengurusi keberangkatan CJH asal Kaimana, Pemerintah daerah tidak melibatkan Kementerian Agama Kabupaten Kaimana.
Kasus gagal berangkat CJH dari tahun 2012 dalam upaya pembuktian kelemahan dari implementasi kebijakan peemerintah daerah Kabupaten Kaimana baru bisa mendapat titk terang di tahun 2017. Dari data yang diperolah penulis melalui media Online Kabartriton.Com yang diunggah “Sunday, December 3 2017”
menjelaskan sebagai berikut:
KAIMANA, KT- Sidang Praparadilan terhadap Polres Kaimana atas penetapan tersangka RR dan HH dalam kasus program Bansos Haji Tahun Anggaran 2012 yang menyeret 4 tersangka, telah berlangsung di Pengadilan Negeri Kaimana Jalan PTT Telkom, dengan menghadirkan Hakim Ketua, Irvino SH. Dalam sidang lanjutan dengan agenda pembacaan dan pembuktian alat bukti dari termohon (Polres Kaimana) berlangsung dengan tertib dan lancar. Kasat Reskrim Polres Kaimana, AKP Walman S. Simalanggo SH sebagai termohon dalam kasus prapradilan ini, kepada wartawan koran ini usai persidangan mengatakan, dirinya sangat optimis untuk memenangkan prapradilan yang dilakukan tersangka RR dan HH sebagai pemohon.
“prapradilan itu adalah hak setiap warga Negara Indonesia, yang merasakan sangat dirugikan karena sesuatu kasus, sehingga
30 Sumber
http://regional.kompas.com/read/2012/10/22/13161172/Batal.Berangkat.Haji..Kantor.B upati.Kaimana.Diblokade. diunduh pada tanggal 14 November 2017
199
dengan alat bukti yang kami miliki, yang lebih dari dua alat bukti, saya sangat optimis dapat memenangkan sidang ini,”
katanya.
Menyinggung soal prosedur penetapan RR dan HH sebagai tersangka, lanjut dia, hal itu telah sesuai dengan mekanisme penyidikan.
”Untuk kasus ini sudah sesuai dengan prosedurnya. Olehnya,
kami penyidik bisa tetapkan RR dan HH sebagai tersangka, selain dua tersangka sebelumnya, yakni AK dan AS. Sebagai bukti tambahan, kami akan hadirkan satu saksi lagi dalam lanjutan
sidang prapradilan Bansos Haji nanti,” tambahnya.
Dirinya pun berharap dalam pengambilan kesimpulan nantinya, hakim dapat menolak prapradilan pemohon. Di tempat yang sama, Tokoh Pemuda Kaimana, Modasir Bogra, sangat berharap agar Hakim Ketua dapat menolak prapradilan pemohon.
”Kami berharap dalam putusannya, Majelis Hakim bisa menolak praparadilan pemohon dan memenangkan pihak termohon, supaya mereka bisa lanjutkan untuk melengkapi berkas-berkas yang lain, sehingga bisa P21 dan segera mengiring ke empat tersangka yang menurut kami telah menipu orang tua-tua kami ke Pengadilan TIPIKOR di Manokwari, karena memang kasus ini
sudah ada,” tegasnya.
Sidang akan dilanjutkan kembali pada Selasa (21/11) dengan agenda sidang lanjutan pembuktian berkas perkara Bansos Haji tahun anggaran 2011/2012.(eng-R1)31.
Dari lansiran berita Online Kabar Triton.Com diketahui bahwa kebijakan Bupati Kaimana untuk memberangkatkan tiga puluh sembilan CJH asal Kabupaten Kaimana sudah sesuai dengan prosedur. Yang menjadi hambatan kegagalan CJH ke tanah suci ada pada tahapan implementasi. Pada tahapan implementasi tersebut ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Kaimana. Dengan demikian, kegagalan berangkat CJH asal Kaimana harus masuk ranah hukum.
31 Sumber http://kabartriton.com/index.php/2017/11/22/5-alat-bukti-kasat-optimis-menangkan-sidang-prapradilan/ diunduh pada tanggal 14 November 2017
200
Memainkan simbol adat menghalangi mutasi
Pelaksanaan PILKADA merupakan pesta rakyat di daerah yang selalu dinantikan setiap lima tahun. Menjelang pelaksanakan pesta rakyat di daerah rakyat berbenah diri untuk menyampaikan hak pilihnya kepada figur yang dirasakan pantas dipercaya menjadi pimpinan di daerahnya. Namun pada sisi lain pesta rakyat tersebut terkadang menimbulkan dampak negatif dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan dampak negatif tersebut.
Heporia menyambut pelaksanakan PILKADA terkadang membuat rakyat menjadi lupa kalau dari sejumlah pasangan yang dianggap pantas dan layak menjadi kepala daerah, hanya ada satu pasangan yang terpilih dan menjadi pemenang PILKADA. Dalam konteks ini maka seharusnya rakyat diberi wejangan agar hasil pelaksanaan PILKADA tidak dijadikan alasan pertikaian antara kelompok yang memenangkan pelaksanaan PILKADA dengan kelompok yang kalah. Sebab, dari sejumlah pelaksanaan PILKADA, masa heporia yang dilakukan rakyat berubah menjadi ajang pertikaian sehingga menggangu jalannya pelaksanaan pemerintahan terpilih. Hasil pelaksanaan PILKADA yang menimbulkan kegaduhan pada akhirnya menunjukan betapa lemahnya pendidikan politik terhadap rakyat.
Ternyata bukan saja rakyat yang harus diajar untuk menerima hasil akhir pelaksanakan PILKADA. ASN dalam konteks ini sudah seharusnya menyadari bahwa dampak PILKADA terhadap keterlibatan ASN akan turut memengaruhi mereka yang terlibat dalam politik praktis, misalnya menjadi tim sukses kandidat yang ikut bertarung dalam pesta PILKADA.
Upaya saling merebut simpati masyarakat oleh tim sukses dalam Pilkada Kabupaten Kaimana ternyata menoreh kisah panjang. Masyarakat Kabupaten Kaimana yang pada awalnya berada dalam satu ikatan persaudaraan mulai membentuk kelompok oposisi dan kelompok kualisi. Kelompok oposisi biasanya terdiri dari kelompok-kelompok yang kalah dalam pelaksanaan PILKADA dan membentuk kelompok tersendiri untuk mengontrol jalannya pemerintahan,
201
sementara kelompok kualitasi biasanya terdiri dari kelompok-kelompok yang memenangkan palaksanaan PILKADA dan mendukung jalannya kebijakan pembangunan.
Tahapan awal dalam menjalankan tugas pemerintahan adalah penempatan figur untuk menduduki birokrasi pemerintah, seperti penetapan kepala-kepala bagian. Untuk penetapan tersebut, yang harus dilakukan oleh orang nomor satu di Kabupaten Kaimana adalah melakukan kebijakan pergeseran/mutasi sejumlah kepala dinas dan kepala distrik. Pada posisi inilah, kebijakan pergeseran atau mutasi pegawai pemerintah mulai dinilai oleh kelompok oposisi. Tantangan terberat yang dihadapi oleh pemerintah dalam menetapkan kebijakan ini adalah, bagaimana pemerintah dapat meyakini kelompok oposisi, bahwa kebijakan pergeseran pejabat pada lingkup pemerintah untuk menduduki jabatan birokrasi pemerintah adalah benar-benar orang yang memiliki keahlian pada bidangnya. Hal ini penting diperhatikan, karena oposisi selalu menilai kebijakan rotasi pejabat yang dilakukan oleh pemerintah hanya didasarkan pada rasa suka tidak suka.
Pada sisi lain, pejabat pemerintah yang notabene adalah orang asli Kaimana selalu meminta hak-hak mereka untuk menduduki jabatan-jabatan strategi dalam birokrasi pemerintah. Dan karena itu, jika hal ini tidak terakomodir oleh pemerintah melalui sejumlah kebijakan yang dibuat, maka akan muncul masalah.
Salah satu pejabat daerah yang terkena dampak pergeseran/mutasi dalam jebatan sebagai kepala distrik adalah kepala Distrik Teluk Arguni. Kebijakan kepala daerah Kabupaten Kaimana memutasikan kepala Disterik Teluk Arguni menimbulkan kontrofersi di antara masyarakat adat sehingga melahirkan kelompok pro kontra. Kelompok pro yang berkiblat pada kebijakan kepala daerah tetap mengharapkan ada pergantian kepala distrik, sementara kelompok yang kontra tidak menghendaki adanya mutasi kepala Distrik Teluk Arguni.
Menurut beberapa responden yang menolak kehadiran kepala Distrik Teluk Arguni, saat melakukan wawancara kepada LF menjelaskan sebagai berikut:
202
“walaupun saya Staf Distrik Teluk Arguni, namun sebagai anak
negeri saya tidak setuju dengan cara-cara seperti ini. Memang Kepala Distrik yang diganti itu lawan politik, tetapi pesta rakyat ini sudah selesai, mengapa pemerintah masih dendam, terus lakukan pergantian. Sebagai anak negeri, kami lihat selama ini belum ada anak asli yang memimpin Distrik Teluk Arguni, hanya orang-orang luar saja yang menduduki jabatan kepala Distrik.
Trus pemerintah bilang “kita harus menjadi tuan di negeri sendiri”, tetapi orang lain yang datang lalu jadi tuan di negeri
kita, dan kita hanya sebagai penonton saja. Memang kepala distrik baru juga anak Kaimana dari kampung ini juga, tetapi dalam dirinya sudah mengalir dua macam darah, ada darah Papua dan darah Cina, jadi sebenarnya yang harus diutamakan adalah mereka yang asli dulu barulah anak-anak Papua yang peranakan. Karena Bupati Kaimana sudah buat keputusan maka kami anak negeri buat sikap penolakan dan kantor distrik kami palang
menggunakan simbol adat”32.
Uraian wawancara bersama LF memberi gambaran jelas bahwa masyarakat tidak menghendaki adanya pergantian kepala Distrik Teluk Arguni. Pertanyaan yang dimunculkan adalah apakah benar penolakan hingga pemalangan Kantor Distrik Teluk Arguni benar-benar merupakan aspirasi warga masyarakat? Ataukah ada permainan lain.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan wawancara terhadap salah satu responden dari kelompok yang menolak mutasi kepala Distrik Teluk Arguni AK yang bertindak sebagai salah satu eksekutor pemalangan Kantor Distrik Teluk Arguni, dia menjelaskan kronologis peristiwa tersebut sebagai berikut:
“sebenarnya kitong (kita) tidak tahu persoalan ini (pergantian kepala distrik), awal mulanya ada informasi bahwa akan ada pergantian kepala Distrik Teluk Arguni dan memang itu betul, cuman waktu itu kita tidak tahu kenapa sampai bisa dipalang. Saya tidak tahu ada apa dibalik itu, akhirnya waktu itu saya bilang kalau begitu kita palang saja, akhirnya saya mulai dari tokoh-tokoh pemuda, dan petuanan semua di sini, mereka merasa bahwa mereka itu punya tempat, mereka itu petuanan, distrik ini berdiri di wilayah mereka, mereka sepakat tapi palangnya pakai simbol adat, jadi waktu itu, kantor distrik di
203
palang dengan menggunakan simbol adat, daun kelapa, daun sagu
dan bambu”33.
Hasil wawancara memberi kejelasan pemalangan Kantor Distrik Teluk Arguni dilakukan oleh tokoh pemuda, para tua-tua kampung dan pemilik tanah adat dari Kampung Warwasi. Hal itu dilakukan dengan dasar bahwa tanah tempat kantor distrik di bangun merupakan tanah milik masyarakat adat Kampung Warwasi yang diberikan kepada pemerintah. Karena itu, sikap masyarakat dalam konteks ini merupakan klaim atas kebijakan pemerintah memutasikam Kepala Dustrik Teluk Arguni. Inilah alasan pertama masyarakat melakukan pemalangan terhadap Kantor Distrik Teluk Arguni.
Dalam wawancara lanjutan dengan responden AK
mengungkapkan bahwa:
“setelah saya coba cari tahu ada apa dibalik semua ini, ternyata yang mempropokasi kami untuk pemalangan ini itu pak MB sendiri (kepala distrik), lalau saya mencoba menanggapinya
secara positif; “oke-lah mungkin beliau merasa belum berbuat sesuatu di distrik sini, ok kami pahami itu”. Jadi pada waktu itu, saya yang ngotot “petuanan siapapun tidak boleh buka palang ini, kecuali bapak Bupti Kaimana sendiri”. Tetapi pada pertengahan
urusan waktu itu bersama anggota DPRD Kabupaten Kaimana, muncul bahasa dari pak MB (kepala distrik), bahwa palang bisa dibuka sekarang, nanti kita punya aspirasi yang sudah kita sampaikan ke DPR nanti DPR akan sampaikan ke Bupati. Akhirnya setelah DPR dorang (mereka) turun ke kabupaten, proses pergantian kepala distrik di batalkan. Setelah dibatalkan, kitong (kami) coba telusuri kenapa sampai dibatalkan, ternyata pemalangan itu dibuat atas ajakan kepala distrik. Dan akhirnya
masyarakat tahu bahwa pemalangan itu ada maksud “ada udang dibalik batu”, artinya dia hanya memperalat kita untuk
kepentingannya”34.
33 Wawancara tanggal 21 Mei 2017 34 Wawancara tanggal 21 Mei 2017
204
Gambar 5.3 Foto Pemalangan Kantor Distrik Teluk Arguni dengan simbol adat
“KAKUR-UTI RO” Sumber foto: Karel Egu Staf Pegawai Puskesmas Teluk Arguni
Dari penjelasan responden diketahui tujuan pemalangan kantor Distrik Teluk Arguni bukan sekedar penyaluran aspirasi masyarakat adat tetapi ada upaya oknum pejabat yang berlindung di balik sikap penolakan yang dilakukan masyarakat.
Sesungguhnya penggunaan simbol adat oleh masyarakat adatis merupakan upaya komunitas tertentu untuk menunjukan identitas. Dalam kasus ini, penggunaan simbol adat sudah sangat positif karena masyarakat adat ingin menyampaikan apa yang mereka rasakan dan alami, bahwa anak negeri belum pernah menduduki jabatan kepala distrik. Dari harapan masyarakat inilah, oknum tertentu memanfaatkan situasi untuk berlindung dibalik simbol adat dengan cara-cara yang tidak etis. Sebagai ASN yang terpanggil mengabdi kepada rakyat, seharusnya yang bersangkutan tidak memanfaatkan kekuatan adat untuk tujuan serta kepentingan pribadinya.
Kami sudah terlalu sabar dan bosan dengan janjian pekerjaan jalan ini…
Terlihat sepintas ada yang aneh dengan sub judul yang digunakan oleh penulis. Jika ada pertanyaan, dari mana dan apa alasan penulis gunakan sub judul seperti ini, maka penulis akan menjawab
205 “penggalan sub judul diambil dari tulisan masyarakat yang dicetak
pada sebuah potongan tripleks berwarna hitam, dan ditancap pada pinggir jalan menuju kampung Marsi”.
Memang ada yang aneh dari sub judul ini, karena tidak semua tulisan diambil oleh penulis, alasan penulis mengambil sebagian dari kalimat tersebut karena menurut penulis, potongan kalimat tersebut merupakan pernyataan sikap masyarakat setempat terhadap dampak dari pembangunan yang gencar dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Kaimana. Agar menjadi jelas dan lengkap keseluruhan sub judul yang digunakan oleh penulis, maka pada bagian ini penulis akan menampilkan foto tulisan papan tersebut.
Gambar 5.4 Foto Papan Pemalangan Jalan Darat Di Kampung Marsi. Sumber foto: KT .
Pembangunan yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat tidak hanya dimaknai sebagai tujuan untuk menjadikan manusia Indonesia mencapai tingkat kesejahteraan hidup semata. Hal ini