• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI

C. Tinjauan Nilai – Nilai Tasawuf

3. Dasar dan Hukum Tasawuf

a. Dasar Ajaran Tasawuf

Ajaran tasawuf pada dasarnya konsentrasi pada kehidupan rohaniyah, mendekatkan diri kepada Tuhan melalui berbagai kegiatan kerohanian seperti pembersihan hati, dzikir, ibadah, lainya serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga mempunyai identitas sendiri dimana orang-orang yang menekuninya tidak menaruh perhatian yang besar pada kehidupan dunia bahkan memutuskan hubungan dengannya. Disamping itu, tasawuf didominasi oleh ajaran-ajaran seperti khauf dan raja’, al taubah, zuhud, tawakkul, syukr, as- shabr, al-ridha, al-ikhlas, mahabbah dan lainya yang tujuan akhirnya fana atau hilang identitas diri dengan kekekalan (baqa’) tuhan dalam mencapai ma’rifah (pengenalan hati yang dalam akan Tuhan).21

21 M. Jamil, Cakrawala Tasawuf Sejarah Pemikiran dan Kontekstualitas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), hlm.10

Dasar-dasar tasawuf terdapat pada Al-Quran dan Sunah serta atsar para ulama’ khos yaitu orang-orang pilihan dari umat islam.22

Dalam Al quran, Allah SWT berfirman :





































“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al baqarah : 186).23

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13:

….





















“…..Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”24

Dasar tasawuf dalam sebuah Hadits adalah :

ْوُسَر َلاَق : َلاَق ، ُهْنَع ُ هالله َيِضَر َةَرْيَرُه ْيـِبَأ ْنَع

هنإ: َمهلَسَو ِهْيَلَع ُ هالله ىهلَص ِهـّللا ُل

هبحأ ٍءيشب يدبع هيلإ بهرقت امو ، ِبرحلاب هُتنذآ دقف اًّّيلو يل ىَداع نم : لاق َالله

22 M. Baidowi Muslich, Qolbun Salim, (Malang: PPAH, 2009), hlm. 8.

23 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Syamil Cipta Media, 2005), hlm. 28.

اذإف ، ههبحُأ ىهتح ِلفاوهنلاب هيلإ ُبهرقتي يدبع ُلازي امو ، هيلع ُتضرتفا اهمم هيلإ

َمسي يذهلا هَعمس ُتنك هُتببحأ

، اهب ُشِطبي يتهلا هَديو ، هب ُرِصبُي يذهلا هَرصبو ،هب ُع

ُتدهدرت امو ، ههنذيعُلأ ينذاعتسا نئلو ، ههنيطعُلأ ينلأس نإو ، اهب يشمي يتهلا هَلجِرو

هَتءاسُم ُهركأ انأو َتوملا ُهركي ، ِنمؤملا ِسفن نع يدُّدَرت هُلعاف انأ ٍءيش نع

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Hamba-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya, Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.” (HR. Bukhori)25

Hal ini tidak dapat diingkari, bahkan oleh mereka yang agak minim pengetahuannya tentang Islam. Tidak ada seorangpun dari kalangan muslim yang mengatakan bahwa Al- Quran adalah hasil kutipan dari kitab suci Budha, Majusi, dan Rabanniyah. Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari ajaran lain selain Islam adalah pendapat orang sembrono, berlebih- lebihan dan penuh dengan kebohongan.26

25 Imam an-Nawawi, Matan Arbain An-Nawawi, ( Surabaya: Al-Hidayah, Tanpa Tahun), hlm. 43-44.

Sebagai sumber ajaran agama Islam, al-qur’an menghadirkan ayat – ayat yang berhubungan dengan tasawuf, mulai dari ayat yang berhubungan dengan ajaran yang sangat mendasar dalam tasawuf sampai kepada ayat yang berhubungan dengan maqamat dan awal. Di bawah ini akan diuraikan salah satu ayat yang berhubungan dengan ajaran tasawuf.

Firman Allah SWT dalam surah al-Anfal ayat 17 yang artinya:













































Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.’’27

Ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian (tasawuf). Beberapa soal besar dalam tingkatan – tingkatan perjuangan kehidupan dapat disimpulkan dalam ayat ini yang melempar bukanlah Nabi Muhammad melainkan Allah SWT. Gerak dan gerik tidak pada kita, melainkan dari Allah. Kita bergerak dalam kehidupan ini hanyalah pada lahir belaka. Tidak ada yang terjadi jika tidak ada izin Allah SWT.

b. Hukum

Wajib bagi setiap orang untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu tasawwuf, sebab tiada seorangpun yang bersih dari cacat dan aib atau penyaakit hati kecuali para Nabi dan Rasul.

Selain itu jika tasawuf merupakan sebuah disiplin ilmu yang khusus, maka sudah menjadi kewajiban bagi kaum Muslimin untuk mempelajari dan mengamalkanya, baik ditinjau dari sisi hukum Islam, dari sisi akal, maupun dari sisi kemanusiaan dan masyarakat. Sehingga tercipta sebuah generasi yang mengerti tentang arti sebuah kehidupan, generasi yang menebarkan cinta, dan saling pengertian, generasi yang mencapai sebuah peradaban yang gemilang yang didasari oleh keimanan kepada Allah SWT. Dengan demikian, akan terwujudlah kekhalifahan dimuka bumi ini.28

Sebagaimana kita makhluk bahwa kita umat manusia ini dipilih oleh SWT sebagai makhluk yang paling mulia dan utama di muka bumi ini. Dengan akal dan hati yang diberikan oleh Allah, manusia memiliki kemampuan – kemampuan yang luar biasa yang tidak dimiliki makhluk – makhluk yang lain. Itu sebabnya Allah SWT mengankat manusia ini sebagai kholifah yang untuk memakmurkan dan memelihara dunia.

Risalah Islam yang dimaksudkan untuk menyadarkan manusia akan hakikat kemanusiaan tersebut, kemudian membangkitakan serta mengarahkannya ke jalan yang lurus sehingga kemuliaan makhluk

28 Muhammad Abdul Haq Ansari, Antara Sufisme dan Syari’ah , (Jakarta: CV. Rajawali, 1990), hlm. 210.

manusia itu dapat dilestarikan sepanjang masa. Manakala manusia sadar akan hakikat dirinya sebagai makhluk utama kemudian mau mengikuti petunjuk – petunjuk agama atau risalah Islamiyah selama hidupnya maka Allah akan memuliakannya sebagai kholifah di muka bumi menjadi anggota masyarakat yang baik.

Namun sayangnya, sebagian dari manusia ada yang tidak menyadari makna dan hakikat dirinya dan tidak mengikuti petunjuk – petunjuk agama sehingga mereka mengikuti jalan yang salah menuju kesesatan dirinya dan bahkan membahayakan. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan ilmu tashawuf untuk menjadi manusia yang sempurna.