BAB I PENDAHULUAN
1.3. Dasar Hukum
Dasar dan acuan dalam menyusun Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2020 berlandaskan kepada beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 3 3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
6. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional;
7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4578, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
11. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Kedudukan Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional;
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 4 13. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bantuan
Keuangan Partai Politik;
14. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 Tentang RPJMN 2015-2019
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2018 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah;
18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2020;
19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2020;
20. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 230) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 248) ;
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 5 21. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 4 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 231);
22. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028 (Lembaran Daerah Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 243) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 7 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Sulawesi Selatan Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 Nomor 283)
23. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 252);
24. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 10);
25. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 9);
26. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 1);
27. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2012 tentang Partisipasi Pihak Ketiga dalam Pembangunan
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 6 Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 6);
28. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pajak Rokok. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 273);
29. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Penyertaan Modal Pemerintah Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2014 Nomor 5);
30. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pendidikan(Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 287);
31. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Urusan Pemerintahan Daerah;
32. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2009 tentang Kerjasama Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Gratis (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016 Nomor 9) ;
33. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah;
34. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018-2023;
35. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah. (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 4);
36. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pengurusan Barang Inventaris Milik Daerah. (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 6);
37. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tata cara penganggaran, Pelaksanaan,
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 7 Pertanggungjawaban dan Pelaporan serta Monitoring dan Evaluasi Hibah dan Bantuan Sosial sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 55 Tahun 2012. (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013 Nomor 77);
38. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 25 Tahun 2019 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2020;
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 8
BAB II
KERANGKA MAKRO EKONOMI DAERAH
Kerangka ekonomi makro daerah secara umum mencerminkan kondisi dinamis perekonomian daerah sekaligus merupakan gambaran umum perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut juga menggambarkan prospek perekonomian tahun berjalan dan prediksi kondisi perekonomian tahun 2020. Kerangka ekonomi makro dan kebijakan keuangan daerah juga berisikan tentang dinamika ekonomi makro 2018, dan estimasi tahun 2020 maupun sasaran-sasaran yang akan dicapai pada tahun 2020, dan sekaligus kebutuhan pembiayaan pembangunan yang diperlukan
2.1. Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Daerah
Perkembangan indikator makro Provinsi Sulawesi Selatan yang dituangkan dalam kerangka makro ekonomi adalah sebagai berikut :
a. Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Sulsel pada triwulan IV 2018 tumbuh mencapai 6,47% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, ekonomi Sulsel tetap tumbuh kuat dibandingkan nasional yang mencapai 5,18% (yoy). Pada triwulan IV 2018, perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh Lapangan Usaha Pertanian, Perikanan dan Kehutanan; Konstruksi; Perdagangan Besar dan Eceran; Transportasi dan Pergudangan; Penyediaan Akomodasi; Jasa Keuangan; dan Jasa Kesehatan. Sementara dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2018 terutama karena Konsumsi Pemerintah, dan Ekspor Luar Negeri. Kemudian secara keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 7,07% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, Sulawesi Selatan tetap berada pada peringkat 3 secara nasional setelah
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 9 Maluku Utara (7,92%; yoy) dan Papua (7,33%; yoy). Lapangan usaha utama yang melambat yaitu lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan;
dan Konstruksi. Dari sisi pengeluaran, perlambatan terjadi pada Investasi (PMTB), namun terjadi peningkatan impor luar negeri untuk merespons konsumsi yang masih kuat.
Ekonomi Sulawesi Selatan triwulan 2019 dibanding triwulan I-2018 tumbuh sebesar 6,56 persen. Pertumbuhan didukung semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian serta Jasa Keuangan dan Asuransi. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 13,13 persen, diikuti oleh Jasa Pendidikan sebesar 11,68 persen; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 11,64;
Jasa Lainnya sebesar 11,16 persen dan Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 10,24 persen. Apabila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan Triwulan I-2019 (yoy), Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,45 persen, diikuti Industri Pengolahan sebesar 1,13 persen; Informasi dan Komunikasi sebesar 0,89 persen serta Konstruksi sebesar 0,83 persen.
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 10 Tabel 2.1.1
Laju Pertumbuhan PDRB menurut Lapangan Usaha
(Persen)
Sumber : BRS-BPS Sulsel Triwulan I-2019
Selanjutnya terkait dengan Struktur ekonomi Sulawesi Selatan triwulan I-2019 masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; diikuti Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil-Sepeda Motor dan Konstruksi dengan peran masing-masing sebesar 21,69 persen, 14,28 persen dan 13,78 persen. Selanjutnya Industri Pengolahan memiliki peran sebesar 13,52 persen. Peranan keempat lapangan usaha tersebut mencapai 63,28 persen terhadap total PDRB Sulawesi Selatan.
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 11 b. Inflasi
Realisasi inflasi keseluruhan tahun 2018 tercatat 3,50 persen (yoy), berada dalam titik tengah sasaran inflasi 2018. Meningkatnya tekanan inflasi pada akhir 2018 dibandingkan triwulan III 2018, terutama didorong oleh kelompok pendidikan dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan, seiring kenaikan tarif angkutan pada saat masa libur anak sekolah. Inflasi yang terjadi di Sulawesi Selatan pada April 2019 ini disebabkan oleh naiknya harga pada enam kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga konsumen (IHK) pada kelompok bahan makanan (1,51 persen); kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,19 persen); kelompok sandang (0,18 persen); kelompok kesehatan (0,10 persen); kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,05 persen); kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan
Tabel 2.1.2
Struktur PDRB menurut Lapangan Usaha (Persen)
Sumber : BRS-BPS Sulsel Triwulan I-2019
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 12 (0,02 persen); sementara kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar deflasi (0,02 persen). Sedangkan laju inflasi tahun kalender (Januari-April 2019) Sulawesi Selatan sebesar 0,99 persen dan laju inflasi year on year (April 2019 terhadap April 2019) sebesar 3,33 persen. Oleh karena itu, Bank Indonesia dan TPID akan terus memastikan upaya stabilitas harga untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
c. Tenaga Kerja
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulsel mencapai 5,34 persen per Agustus 201821 lebih rendah dibandingkan Agustus tahun 2017 sebesar 5,61 persen. Secara nominal jumlah pengangguran terbuka Sulsel turun dari 213,69 ribu orang per Agustus 2017 menjadi 213,11 ribu orang per Agustus 2018 atau mengalami penurunan sebesar -0,27 persen (yoy). Penurunan pengangguran terjadi karena penyerapan di sektor sekunder dan tersier yang meningkat signifikan.
Tabel 2.1.3
Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Kegiatan Utama
Lapangan Usaha Pertanian, Perdagangan, Industri Pengolahan, Konstruksi, dan Jasa Pendidikan masih menjadi Lapangan Usaha dengan jumlah penyerapan tenaga kerja terbesar pada periode Agustus 2018. Pangsa penyerapan tenaga kerja pada lima lapangan
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 13 usaha tersebut masing-masing sebesar 37,79 persen, 19,08 persen, 9,05 persen, 6,75 persen, dan 5,51 persen.
Tabel 2.1.4
Presentase Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sulsel tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
TPAK naik dari 60,98 persen pada Agustus 2017 menjadi 63,02 persen pada Agustus 2018. Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 mencapai 3,99 juta orang, lebih tinggi dari periode Agustus 2017 sejumlah 3,81 juta orang. Secara sektoral, peningkatan TPAK diperkirakan terjadi karena penyerapan tenaga kerja di sektor sekunder dan tersier yang meningkat signifikan. Hal ini dikonfirmasi
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 14 oleh hasil Survei Konsumen Bank Indonesia untuk ketersediaan lapangan kerja yang menunjukkan hasil serupa.
d. Kemiskinan
Berdasarkan data September 2018, jumlah penduduk miskin di Sulsel turun dibandingkan September 2017. Jumlah penduduk miskin pada September 2018 mencapai 779,6 ribu orang atau 8,87 persen dari total penduduk Sulsel, membaik dibandingkan kondisi September 2017 yang berjumlah 826 ribu orang (9,48 persen).
Tabel 2.1.5
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurut Daerah, 2013-2018
Komposisi penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan dari tahun ke tahun tidak ada perbedaan yang signifikan.
Pada bulan September 2018 sebagian besar (78,36 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sementara pada bulan
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 15 September 2017 persentasenya 79,84 persen. Secara spasial, persentase jumlah penduduk miskin di Sulsel pada September 2018 relatif cukup rendah dibandingkan provinsi lain di Sulawesi. Jumlah penduduk miskin Sulsel berada pada urutan kedua terendah (8,87 persen) setelah Sulawesi Utara (7,90 persen). Sedangkan persentase jumlah penduduk miskin tertinggi untuk wilayah Sulawesi tercatat di Gorontalo sebesar 15,83 persen.
2.2. Target Indikator Makro Ekonomi Daerah
Perekonomian Sulawesi Selatan pada Tahun 2018-2019 diperkirakan masih akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga, sementara dari sisi lapangan usaha, diperkirakan masih ditopang dari lapangan usaha Pertanian, Pertambangan, Industri Pengolahan, Penyediaan Akomodasi, Jasa Keuangan dan Real Estate, kendati demikian, meskipun perkiraan tahun 2018 tumbuh meningkat. Hal tersebut sejalan dengan perekonomian nasional yang diprediksi masih kondusif.
Sementara itu, resiko dari sisi global berupa perkembangan sosial politik dunia yang cenderung meningkat ketidakpastiannya.
Serta perkembangan harga komoditas di pasar dunia. Beberapa faktor pendukung antara lain ketersediaan atau distribusi pangan berjalan optimal, berlanjutnya tren penurunan harga minyak dunia, diikuti dengan tiadanya kebijakan dari pemerintah yang dapat meningkatkan tekanan inflasi secara simultan, serta telah berjalannya fungsi TPID di seluruh Kabupaten dan kota secara optimal.
Berbagai kebijakan pemerintah diarahkan untuk memperbaiki prospek pembangunan ekonomi dan keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, hal ini terlihat dari tinjauan terhadap perkembangan beberapa variabel ekonomi makro yang merupakan sasaran utama dari pembangunan ekonomi. Variabel tersebut berkenaan dengan aspek pendapatan dengan distribusinya, pertumbuhan ekonomi
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 16 dengan pemerataan yang berkeadilan, aspek ketenagakerjaan yang ditunjukkan dengan jumlah tingkat pengangguran penduduk, aspek stabilitas harga ditunjukkan dengan fluktuasi dari tingkat harga umum yang mempengaruhi tingkat inflasi, aspek perdagangan terkait hubungan dengan negara lain yang ditunjukkan dengan kegiatan ekspor-impor. Ketiga hal tersebut dapat terealisasi jika didukung peran aktif dari seluruh lembaga ekonomi baik dari swasta, pemerintah maupun dari dunia perbankan serta lembaga ekonomi masyarakat di daerah yang menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing secara efisien dan efektif didukung dengan Pemerintahan yang menerapkan prinsip good governance.
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 17
BAB III
ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RAPBD
3.1. Prospek Perekonomian Daerah
Memasuki 2019 dinamika global berubah secara cepat dengan eskalasi perang dagang dan kondisi persaingan geopolitik Amerika Serikat dan China yang meningkat tajam. Hal tersebut menimbulkan kenaikan resiko pada pertumbuhan ekonomi global dan perlemahan perdagangan internasional. Namun demikian, di tengah ketidakpastian tersebut, kinerja ekonomi Indonesia di awal 2019 dinilai masih positif. Hal ini ditandai dengan kondisi perekonomian nasional yang tumbuh sebesar 5,07 persen yang ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup sehat sejalan dengan terjaganya inflasi pada tingkat yang rendah dan adanya arus modal yang mulai mengalir masuk kembali ke Indonesia, seiring dengan jeda kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan dicapai melalui reformasi structural yang terus berlanjut serta penguatan permintaan domestic dengan investasi sebagai ujung tombak dan perbaikan kinerja perdagangan internasional melalui upaya diversifikasi ekspor. Berdasarkan rancangan RKP Tahun 2020, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mampu mencapai 5,35-5,5 persen pada tahun 2020 melalui kebijakan yang menyeluruh dan tepat sasaran. Dengan target pertumbuhan ekonomi tersebut, GNI perkapita diharapkan meningkat menjadi USD4.360 – 4.410 per kapita pada tahun 2020. Disamping menjaga pertumbuhan ekonomi, juga stabilitas makro ekonomi tetap menjadi prioritas. Tingkat Inflasi ditargetkan sebesar 3,0+1 persen. Di tengah tekanan eksternal, pergerakan nilai tukar diupayakan tetap stabil mencapai rata-rata Rp15.000 per USD pada tahun 2020. Disisi lain tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka diharapkan
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 18 menurun menjadi 8,5 – 9,0 persen dan 4,7 – 5,1 persen dengan tingkat gini rasio menurun menjadi 0,375-0,380. Sementara itu, IPM diharapkan meningkat menjadi 72,51 yang mengindisikan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Seiring dengan kondisi perekonomian, baik global maupun nasional, maka Prospek pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 akan berada pada kisaran 7,2 – 7,6% (yoy).
Pertumbuhan tersebut didukung dengan tren kenaikan PDRB Sulsel pada semester I 2019. Pertumbuhan akan bersumber dari akselerasi konsumsi rumah tangga yang diperkirakan tumbuh pada rentang 5,6 – 6,0% (yoy) dan disertai pula dengan akselerasi investasi.
Pertumbuhan investasi diperkirakan berada pada rentang 8,0 – 8,4%
(yoy). Tren deselerasi harga komoditas akan memberikan dampak pada perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan sehingga pertumbuhan ekspor diperkirakan lebih moderat. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan akan ditopang oleh lapangan usaha utama Sulawesi Selatan, yaitu pertanian, industri, dan perdagangan. Inflasi pada tahun 2019 diperkirakan tetap berada pada rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu 3,5±1% (yoy). Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari bahan makanan yang dipengaruhi oleh faktor cuaca, produksi, dan faktor ketersediaan air sejalan dengan terjadinya cuaca ekstrim dan tertundanya operasional beberapa bendungan / waduk. Adapun pada kelompok harga yang diatur pemerintah pada tahun 2019 diperkirakan lebih terkendali sejalan dengan upaya pemerintah meredam kenaikan harga tiket angkutan udara. Optimisme keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi masih didukung oleh beberapa proyek infrastruktur yang telah selesai sehingga akan memberikan dampak pada tahun 2020. Beberapa proyek tersebut antara lain adalah bendungan Paselloreng dan bendungan Karalloe yang akan meningkatkan produktivitas pertanian. Selain faktor tersebut infrastruktur lainnya seperti perkeretaapian Makassar-Parepare dan
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 19 Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap dan Jeneponto yang juga telah selesai akan mendorong aksesibilitas dan kinerja lapangan usaha penyediaan listrik dan industri.
Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan kredit diperkirakan juga akan meningkat pada rentang 8-10% (yoy). Perkiraan pertumbuhan triwulan II 2019 diperkirakan berada pada rentang yang sama dengan pertumbuhan tahunan. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan diperkirakan berada pada rentang 7,2-7,6% (yoy) dengan faktor pendorong bersumber dari konsumsi rumah tangga merespon hari raya yang jatuh pada triwulan II. Kemudian dari sisi penawaran, pendorong utama berasal dari Lapangan Usaha Perdagangan dan Akomodasi Makan Minum, ditambah dengan Lapangan Usaha Pertanian yang juga meningkat dengan berlangsungnya masa panen.
3.2. Tantangan Perekonomian Daerah
Pada tahun 2020, perekonomian Indonesia masih diperhadapkan pada berbagai tantangan baik global, nasional dan domestik.
Tantangan Perekonomian Global
Beberapa tantangan global yang menjadi perhatian antara lain 1) pertumbuhan ekonomi dunia yang masih relatif rendah, sebesar 3,6 persen. Hal ini menyebabkan pertumbuhan volume perdagangan dunia dan harga komoditas internasional mengalami stagnasi, 2) Eskalasi perang dagang, terutama antara china dan Amerika Serikat, 3) Harga komoditas ekspor utama yang mengalami stagnasi. Harga kelapa sawit akan dipengaruhi pasokan yang masih berlebih di pasar dunia seiring dengan turunnya permintaan Uni Eropa yang mulai beralih ke minyak biji bunga matahari dan penerapan tarif terhadap minyak sawit oleh India. Selain itu, antusiame negara-negara maju
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 20 untuk menggunakan alternatif sumber energi yang lebih bersih, sehingga ekspor batu bara akan mengalami perlambatan.
Tantangan Perekonomian Nasional
Sedangkan tantangan nasional masih diperhadapkan pada : 1) Masih rendahnya produktifitas seiring dengan tidak berjalannya transformasi struktural seperti masih adanya tumpang tindih regulasi dan kompleksitas birokrasi, 2) Sistem dan besarnya penerimaan pajak belum cukup memadai, 3) Kualitas infrastruktur yang masih rendah dan tidak merata khususnya konektifitas dan energi, 4) Masih rendahnya kualitas SDM dan produktifitas tenaga kerja sehingga kurang bersaing di era MEA, 5) Intermediasi sektor keuangan rendah dan pasar keuangan yang dangkal, 6) Sistem inovasi yang belum efektif, 7) Keterkaitan hulu hilir yang lemah.
Tantangan Perekonomian Daerah
Secara umum tantangan perekonomian Daerah masih diperhadapkan pada permsalahan makro. Selanjutnya berdasarkan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018-2023, tantangan perekonomian daerah antara lain : 1) Reformasi birokrasi yang belum maksimal di tataran pemerintahan. Hal ini mengakibatkan pada rendahanya kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang bermuara pada masih rendahnya akuntabilitas kinerja pemerintahan, 2) Kualitas infrastruktur yang kurang memadai dan merata khususnya infrastruktur dasar pada kawasan terpencil sehingga konektifitas khususnya aksesibilitas arus barang dan jasa mengalami perlambatan, 3) Masih rendahnya kualitas SDM baik aparatur maupun tenaga kerja yang mengakibatkan masih rendahanya kualitas kinerja dan produktifitas kerja. Hal ini juga bermuara pada masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, 4) Produktivitas dan daya saing produk sumberdaya alam yang masih perlu dioptimalkan seperti pada sektor pertanian,
Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2020 21 perikanan dan kehutanan. Hal ini mengakibatkan masih redahnya nilai tambah dan nilai tukar yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
3.3. Sasaran dan Arah Kebijakan Perekonomian Daerah 3.3.1. Sasaran Ekonomi Makro
Dengan memperhatikan trend perkembangan akhir kondisi ekonomi makro serta dengan mempertimbangkan aspek prospek dan tantangan perekonomian dalam daerah, maka sasaran ekonomi makro Sulawesi Selatan pada tahun 2020 berdasarkan RPJMD 2018-2023 diprediksi sebagaimana tercantum pada tabel berikut :
Tabel 3.3.1
Sasaran Indikator Makro Ekonomi dan Sosial Provinsi Sulawesi SelatannTahun 2020
No Indikator Tahun 2020
1 Pertumbuhan Ekonomi (%)*) 7,4 - 7,8
2 Tingkat Pengangguran (%) 4,97
3 Inflasi (%) 3,0 ± 1,0
4 PDRB Per Kapita (Rp. juta) 62,97
5 Tingkat Kemiskinan (%) 8,46
6 Indeks Pembangunan
Manusia
72,18 Sumber : RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2018-2023
Berbagai kebijakan pemerintah diarahkan untuk memperbaiki prospek pambangunan ekonomi dan keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, hal ini terlihat dari tinjauan terhadap perkembangan beberapa variabel ekonomi makro yang merupakan sasaran utama dari pembangunan ekonomi. Variabel tersebut berkenaan dengan aspek pendapatan dengan distribusinya, pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan yang berkeadilan, aspek ketenagakerjaan yang ditunjukkan dengan jumlah tingkat pengangguran penduduk, aspek