Penetapan Sementara merupakan suatu bentuk upaya hukum yang disediakan oleh perundangan HKI, dibuat di dalam rangka melindungi kepentingan pemegang HKI agar supaya pemegang hak tersebut dapat rnenggunakan hak yang dimilikinya seoptimal mungkin. Demikian pula, manakala di ketemukan suatu pelanggaran hak yang dimungkinkan akan menggerogoti hak eksklusif yang dimiliki oleh pemegang HKI, seperti misalnya telah terjadi pelanggaran dan masuknya barang-barang yang diduga melanggar HKI ke jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi barang-barang yang
285
mendapatkan pelindungan HKI, maka pemegang HKI diberikan hak untuk menempuh upaya hukum Penetapan Pengadilan.
Guna melihat lebih rinci mengenai Penetapan Sementara dapat dilihat dilihat satu - persatu di dalam peraturan perundangan tentang HKI yang menjadi dasar dari Penetapan Sementara itu sendiri. Ketentuan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
1. UU Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri Pasal 49
“Berdasarkan bukti yang cukup, pihak yang haknya dirugikan dapat meminta Hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang: a. pencegahan masuknya produk yang berkaitan dengan pelanggaran Hak
Desain Industri;
b. penyimpanan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Desain Industri.”
Penjelasan Pasal 49 huruf a:
“Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar sehingga Hakim Pengadilan Niaga diberi kewenangan untuk mengeluarkan penetapan sementara guna mencegah berlanjutnya pelanggaran dan masuknya barang yang diduga melanggar Hak Desain Industri ke jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi”
Penjelasan Pasal 49 huruf b:
“ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah pihak pelanggar menghilangkan barang bukti”
Pasal 50
“Dalam hal surat penetapan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 telah dilaksanakan, Pengadilan Niaga segera memberitahukan kepada pihak yang dikenai tindakan dan memberikan kesempatan kepada pihak tersebut untuk didengar keterangannya.”
“Dalam hal Hakim Pengadilan Niaga telah menerbitkan surat penetapan sementara, Hakim Pengadilan Niaga yang memeriksa sengketa tersebut harus memutuskan untuk mengubah, membatalkan, atau menguatkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikeluarkannya surat penetapan sementara pengadilan tersebut.”
Pasal 52
“Dalam hal penetapan sementara Pengadilan Niaga dibatalkan, pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang meminta penetapan sementara pengadilan atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh penetapan sementara pengadilan tersebut”
2. UU Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten Pasal 155
“Atas permintaan pihak yang dirugikan karena pelaksanaan Paten, Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan sementara untuk:
a. Mencegah masuknya barang yang diduga melanggar Paten dan/atau hak yang berkaitan dengan Paten;
b. Mengamankan dan mencegah penghilangan barang bukti oleh pelanggar; dan/atau
c. Menghentikan pelanggaran guna mencegah kerugian yang lebih besar.” Pasal 156
“Permohonan penetapan sementara diajukan secara tertulis kepada Pengadilan Niaga dalam wilayah hukum tempat terjadinya pelanggaran Paten dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Melampirkan bukti kepemilikan Paten;
b. Melampirkan bukti adanya petunjuk awal yang kuat terjadinya pelanggaran Paten;
c. Melampirkan keterangan yang jelas mengenai barang dan/atau dokumen yang diminta, dicari, dikumpulkan, dan diamankan untuk keperluan pembuktian; dan
d. Menyerahkan jaminan berupa uang tunai dan/atau jaminan bank setara dengan nilai barang yang akan dikenai penetapan sementara.”
Pasal 157
“(1) Jika permohonan penetapan sementara telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156, panitera Pengadilan Niaga mencatat permohonan penetapan sementara dan wajib menyerahkan permohonan dimaksud dalam waktu paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam kepada ketua Pengadilan Niaga.
(2) Dalam waktu paling lama 2 (dua) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan penetapan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ketua Pengadilan Niaga menunjuk hakim untuk memeriksa permohonan penetapan sementara.
(3) Dalam waktu paling lama 2 (dua) Hari terhitung sejak tanggal penunjukkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), hakim harus memutuskan untuk mengabulkan atau menolak permohonan penetapan sementara.
(4) Dalam hal permohonan penetapan sementara dikabulkan, hakim menerbitkan surat penetapan sementara.
(5) Surat penetapan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberitahukan kepada pihak yang dikenai tindakan penetapan sementara dalam waktu paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam.
(6) Dalam hal permohonan penetapan sementara ditolak, hakim memberitahukan penolakan dimaksud kepada pemohon penetapan sementara dengan disertai alasan.”
Pasal 158
(1) Dalam hal Pengadilan Niaga menerbitkan surat penetapan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (4), Pengadilan Niaga memanggil pihak yang dikenai penetapan sementara dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterbitkannya surat penetapan sementara untuk dimintai keterangan.
(2) Pihak yang dikenai penetapan sementara dapat menyampaikan keterangan dan bukti mengenai Paten dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal diterimanya surat panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya surat penetapan sementara, hakim Pengadilan Niaga harus memutuskan untuk menguatkan atau membatalkan penetapan sementara. (4) Dalam hal penetapan sementara pengadilan dikuatkan, maka:
a. uang jaminan yang telah dibayarkan harus dikembalikan kepada pemohon penetapan;
b. pemohon penetapan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran Paten; dan/atau
c. pemohon penetapan dapat melaporkan pelanggaran Paten kepada pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil.
(5) Dalam hal penetapan sementara pengadilan dibatalkan, uang jaminan yang telah dibayarkan harus segera diserahkan kepada pihak yang dikenai penetapan sementara sebagai ganti rugi akibat penetapan sementara dimaksud.”
3. UU Nomor 15 tahun 2001 Tentang Merek Pasal 85
“Berdasarkan bukti yang cukup pihak yang haknya dirugikan dapat meminta Hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang:
a. pencegahan masuknya barang yang berkaitan dengan pelanggaran hak Merek;
b. penyimpanan alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Merek tersebut.”
Pasal 86
“(1) Permohonan penetapan sementara diajukan secara tertulis kepada Pengadilan Niaga dengan persyaratan sebagai berikut:
a. melampirkan bukti kepemilikan Merek;
b. melampirkan bukti adanya petunjuk awal yang kuat atas terjadinya pelanggaran Merek;
c. keterangan yang jelas mengenai barang dan/atau dokumen yang diminta, dicari, dikumpulkan dan diamankan untuk keperluan pembuktian;
d. adanya kekhawatiran bahwa pihak yang diduga melakukan pelanggaran Merek akan dapat dengan mudah menghilangkan barang bukti; dan
e. membayar jaminan berupa uang tunai atau jaminan bank
(2) Dalam hal penetapan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 telah dilaksanakan, Pengadilan Niaga segera memberitahukan kepada pihak yang dikenai tindakan dan memberikan kesempatan kepada pihak tersebut untuk didengar keterangannya.”
Pasal 87
“Dalam hal Hakim Pengadilan Niaga telah menerbitkan surat penetapan sementara, Hakim Pengadilan Niaga yang memeriksa sengketa tersebut harus memutuskan untuk mengubah, membatalkan, atau menguatkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikeluarkannya penetapan sementara tersebut.”
Pasal 88
“Dalam hal penetapan sementara:
a. dikuatkan, uang jaminan yang telah dibayarkan harus dikembalikan kepada pemohon penetapan dan pemohon penetapan dapat mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud Pasal 76;
b. dibatalkan, uang jaminan yang telah dibayarkan harus segera diserahkan kepada pihak yang dikenai tindakan sebagai ganti rugi akibat adanya penetapan sementara tersebut”
4. UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Pasal 106
“Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan karena pelaksanaan Hak Cipta atau Hak Terkait, Pengadilan Niaga dapat mengeluarkan penetapan sementara untuk:
a. Mencegah masuknya barang yang diduga hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait ke jalur perdagangan
b. Menarik dari peredaran dan menyita serta menyimpan sebagai alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut c. Mengamankan barang bukti dan penghilangannya oleh pelanggar dan/atau
mencegah.
d. Menghentikan pelanggaran guna mencegah kerugian yang lebih besar” Pasal 107
“(1) Permohonan penetapan sementara diajukan secara tertulis oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, pemilik Hak Terkait, atau Kuasanya kepada Pengadilan Niaga dengan memenuhi persyaratan:
a. Melampirkan bukti kepemilikan Hak Cipta atau Hak Terkait;
b. Melampirkan petunjuk awal terjadinya pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait;
c. Melampirkan keterangan yang jelas mengenai barang dan/atau dokumen yang diminta, dicari, dikumpulkan, atau diamankan untuk keperluan pembuktian;
d. Melampirkan pernyataan adanya kekhawatiran bahwa pihak yang diduga melakukan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait akan menghilangkan barang bukti; dan
e. Membayar jaminan yang besaran jumlahnya sebanding dengan nilai barang yang akan dikenai penetapan sementara.
(2) Permohonan penetapan sementara pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada ketua Pengadilan Niaga di wilayah hukum tempat ditemukannya barang yang diduga merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait.”
Pasal 108
“(1) Jika permohonan penetapan sementara telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107, panitera Pengadilan Niaga mencatat permohonan dan wajib menyerahkan permohonan penetapan sementara dalam waktu paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam kepada ketua Pengadilan Niaga.
(2) Dalam waktu paling lama 2 (dua) Hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan penetapan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ), ketua Pengadilan Niaga menunjuk hakim Pengadilan Niaga untuk memeriksa permohonan penetapan sementara.
(3) Dalam waktu paling lama 2 (dua) hari terhitung sejak tanggal penunjukkan sebagaimana dimaksud pada ayat(2), hakim Pengadilan Niaga memutuskan untuk mengabulkan atau menolak permohonan penetapan sementara.
(4) Dalam hal permohonan penetapan sementara dikabulkan, hakim Pengadilan Niaga mengeluarkan penetapan sementara pengadilan
(5) Penetapan sementara pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberitahukan kepada pihak yang dikenai tindakan penetapan sementara pengadilan dalam waktu paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam.
(6) Dalam hal permohonan penetapan sementara ditolak, hakim Pengadilan Niaga memberitahukan penolakan tersebut kepada pemohon penetapan sementara dengan disertai alasan
Pasal 109
“(1) Dalam hal Pengadilan Niaga mengeluarkan penetapan sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (4), Pengadilan Niaga memanggil pihak yang dikenai penetapan sementara dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal dikeluarkannya penetapan sementara untuk dimintai keterangan.
(2) Pihak yang dikenai penetapan sementara dapat menyampaikan keterangan dan bukti mengenai Hak Cipta dalam waktu paling lama 7 (tujuh) Hari terhitung sejak tanggal diterimanya panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) .
(3) Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dikeluarkannya penetapan sementara, hakim Pengadilan Niaga memutuskan untuk menguatkan atau membatalkan penetapan sementara pengadilan. (4) Dalam hal penetapan sementara pengadilan dikuatkan maka
a. uang jaminan yang telah dibayarkan harus dikembalikan kepada pemohon penetapan;
b. pemohon penetapan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran Hak Cipta; dan/atau
c. pemohon dapat melaporkan pelanggaran Hak Cipta kepada pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil.
(5) Dalam hal penetapan sementara pengadilan dibatalkan, uang jaminan yang telah dibayarkan wajib diserahkan kepada pihak yang dikenai penetapan sementara sebagai ganti rugi akibat penetapan sementara tersebut.”
Lahirnya penetapan sementara di Indonesia ini terdapat di empat peraturan perundangan HKI (Desain Industri, Paten, Merek dan Hak Cipta) yang memuat ketentuan mengenai penetapan sementara tidak memberikan peluang secara tegas, bagaimana mengupayakan hak-hak pihak yang dikenai tindakan penetapan sementara secara khusus. Perundangan HKI meskipun diatur secara khusus tetapi tidak mengatur prosedur hukum acara secara khusus pula. Berdasarkan UU Kepailitan sengketa mengenai HKI di Pengadilan Niaga menggunakan hukum acara perdata yang selama ini
digunakan di dalam lingkungan peradilan umum (Pengadilan Negeri) yang dalam hal ini adalah Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) dan Reglement Buitengewesten (Rbg), Termasuk Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) yang akan mengisi kekosongan hukum manakalah tidak atau belum diatur di dalam HIR dan Rbg.
5. PERMA No. 5 Tahun 2012
Konsideran PERMA No. 5 Tahun 2012 memuat alasan yang melatarbelakangi penerbitan PERMA tersebut yaitu dikarenakan UU tentang Merek belum mengatur dengan jelas dan rinci tentang syarat-syarat dan proses pengajuan Permohonan Penetapan Sementara di Pengadilan Niaga maka untuk melaksanakan ketentuan Pasal 85 sampai dengan Pasal 88 UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan untuk kelancaran pemeriksaan permohonan Penetapan Sementara, Mahkamah Agung RI memandang perlu menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung RI yang mengatur tentang syarat-syarat permohonan, tata cara pengajuan permohonan, penerimaan, pemeriksaan, dan pemberian Penetapan Sementara.
Tata cara dan persyaratan penetapan sementara berdasarkan PERMA No. 5 tahun 2012 dimulai dengan Pemilik/ pemegang hak atas merek mengajukan ke Pengadilan Niaga pendaftaran permohonan penetapan sementara dengan menyertai:
a. Bukti kepemilikan merek atau hak cipta.
c. Membayar jaminan berupa uang tunai atau jaminan bank setara dengan nilai barang.
d. Membayar biaya lain (biaya kontainer dll) termasuk biaya perkara.
Setelah diterima pendaftaran kemudian dalam tenggang waktu 1 (satu) hari Ketua Pengadilan menunjuk Hakim untuk memeriksa permohonan tersebut. Hakim yang ditunjuk mempertimbangkan bukti, mendengar pemohon, menentukan uang jaminan apakah sebanding dengan nilai barang dan biaya yang timbul. Proses permohonan sampai terbit bersifat rahasia.286
Apabila dikabulkan maka akan dicantumkan tindakan yang dilaksanakan, memerintahkan termohon mengizinkan jurusita yang didampingi pemohon melaksanakan penetapan, memerintahan jurusita untuk melaksanakan penetapan sementara, menyebutkan jumlah uang jaminan, serta biaya yang timbul yang dibebankan kepada pemohon, serta mencantumkan kalimat 'Barangsiapa yang tidak mentaati penetapan ini dapat dipidana pasal 216 KUHP”. Dalam hal menolak permohonan, maka dicantumkan bahwa pengadilan menolak permohonan pemohon, mengembalikan uang jaminan kepada pemohon dan membebankan biaya perkara kepada pemohon.
Permohonan dikabulkan maka juru sita wajib melaksanakan penetapan tersebut sesuai dengan amar penetapan, dalam melaksanakan penetapan didampingi oleh pemohon/kuasa hukum ditambah oleh 2 orang saksi jurusita membacakan penetapan sementara dihadapan pihak-pihak terkait yang berada dilokasi tersebut, pelaksanaan penetapan sementara harus dituangkan dalam berita
286
acara, yang ditanda tangani oleh juru sita, para pihak serta saksi-saksi yang hadir pada saat itu.287 Dalam waktu 1 x 24 jam para pihak harus diberitahukan mengenai pelaksanaan itu termasuk hak termohon untuk didengar. Setelah Hakim mendengar keterangan kedua belah pihak, dan mempertimbangkan dengan seksama alat-alat bukti, Hakim memberikan penetapan sementara harus memutuskan untuk mengubah atau membatalkan, menguatkan penetapan sementara dalam waktu paling lama 30 hari sejak dikeluarkannya penetapan tersebut. Apabila Hakim menemukan fakta bahwa hanya sebagian permohonan pemohon yang terbukti, maka penetapan sementara tersebut diubah sesuai dengan fakta yang ditemukan. Apabila penetapan sementara diubah maka uang jaminan sebagian diserahkan kepada termohon secara proporsional. Apabila Hakim menemukan fakta bahwa pemohon tidak dapat mernbuktikan permohonannya maka Hakim membatalkan penetapan sementara, uang jaminan yang telah disetorkan harus segera diserahkan kepada termohon, termohon dapat mengajukan gugatan ganti rugi apabila jaminan yang diterimanya tidak cukup untuk memulihkan kerugian yang secara nyata dideritanya. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan ternyata pengadilan menemukan fakta pemohon dapat membuktikan dalil permohonan seluruhnya,maka penetapan sementara dikuatkan, dan uang jaminan harus segera dikembalikan kepada pemohon.
287
F. Deskripsi Perkara Merek Yang Didahului Dengan Permohonan