BAB III
PENERBITAN PENETAPAN SEMENTARA DI PENGADILAN NIAGA
PASCA KELUARNYA PERMA NOMOR 5 TAHUN 2012
TENTANG PENETAPAN SEMENTARA
A. Sejarah Penetapan Sementara di Indonesia
UU Merek terdahulu, yaitu UU No.21 Tahun 1961, UU No.19 Tahun 1992 dan UU No. 14 Tahun 1997 tidak mengenal Penetapan Sementara. Istilah Penetapan Sementara baru ada dalam UU No. 15 Tahun 2001 yang terdapat dalam pasal 85 UU tersebut. Masuknya ketentuan tersebut dalam UU Merek adalah berasal dari ketentuan yang sebelumnya telah disepakati Indonesia dalam perjanjian TRIPS. Dalam kesepakatan TRIPS, ketentuan yang mirip dengan Pasal 85 UU Merek dapat dilihat pada section 3, article 50 perjanjian TRIPS.
Pihak yang mempunyai kewenangan untuk membuat permohonan ini di atur dalam Pasal 50 ayat (3) TRIPs,235 menyebutkan adanya kekuasaan pejabat-pejabat yudisial yang berdasarkan keyakinan kuat untuk melakukan prosedur penetapan sementara dalam hukum perdata, bahwa (a) pihak yang mengajukan permohonan adalah pihak pemegang hak, (b) bahwa yang mengajukan permohonan (pihak pemegang hak) telah mengalami
235
Article 50 (3):
pelanggaran atau bahwa pelanggaran telah berada dalam tahap bahaya akan segera terjadi (dalam kasus-kasus penetapan sementara preventif).
Pengaturan pemberian bukti awal ini terdapat pada Pasal 50 ayat (5) TRIPs236 dengan mewajibkan pemohon untuk memberikan informasi untuk mengidentifikasi barang-barang dengan pengawasan pihak berwenang yang akan melaksanakan upaya penetapan sementara. Dalam ketentuan penetapan sementara dikatakan bahwa pemohon harus menyerahkan jaminan. Hal ini untuk melindungi kepentingan termohon dari kerugian akibat putusan penetapan sementara. Pengadilan dapat melakukan persidangan atas permohonan dari pemohon penetapan sementara apabila syarat-syarat telah terpenuhi dan lengkap. Dengan dasar TRIPs Pasal 50 ayat (2) bahwa237 persidangan penetapan sementara ini dapat tanpa di hadiri oleh pihak termohon karena hakim dapat memberikan opsi mengenai “in auditia altera parte” juga dikenal sebagai ex parte dalam sistem-sistem hukum, yang secara harfia dapat diartikan tanpa memeriksa/mendengar pihak lain, ini merupakan sarana efektif satu-satunya untuk memberantas pembajakan dan pemalsuan. Hal ini perlu di ambil apabila ada resiko bahwa kalau tidak dilakukan dengan cepat, demikian tindakan itu justru tidak efektif, karena barang bukti produk-produk yang terkait dalam pelanggaran atau alat-alat bukti lain dapat juga di
236
Article 50 (5):
The applicant may be required to supply other information necessary for the identification of the goods concerned by the authority that will execute the provisional measures.
237
Article 50 (2):
hilangkan oleh pelaku-pelaku pelanggaran profesional. Tindakan-tindakan ini juga dibenarkan apabila ternyata keterlambatan yang secara moral dapat disebabkan oleh pihak termohon berdasarkan perintah sementara dapat menjuruskan ke arah ketidak efektifan tindakan atau menyebabkan kerugian terhadap pihak pemegang hak (kehilangan barang-barang bukti). Ini juga berlaku apabila tindakan-tindakan diambil terhadap pihak ketiga (yang bukan pelaku pelanggaran) yang bertindak dengan itikad baik (misalnya pihak pengangkut). Pasal 49 TRIPs mengatur dalam hal ini bahwa tentang hal upaya perdata dapat ditetapkan atas dasar prosedur administrasi mengenai pokok suatu perkara, prosedur yang bersangkutan harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang sama dengan prinsip dalam bagian ini.
TRIPs membuka peluang dalam pemberian upaya hukum atas putusan penetapan sementara ini, yaitu berdasarkan pasal 50 ayat (4) yang menyatakan:238 “Bilamana tindakan-tindakan mengenai ketentuan telah diadopsi inaudita alter parte, para pihak yang tersangkut harus diberi pemberitahuan, tanpa penundaan paling lambat setelah pelaksanaan tindakan tersebut. Suatu peninjauan ulang, termasuk hak untuk didengar, harus diadakan berdasarkan permintaan tergugat dengan suatu peninjauan untuk memutuskan, dalam suatu periode yang layak setelah pemberitahuan atas tindakan tersebut, baik bila tindakan-tindakan ini akan di modifikasi, dibatalkan atau ditegaskan.”
Jadi, dalam pasal 50 ayat (4) TRIPs secara jelas memberikan peluang kepada pihak-pihak yang dikenai penetapan untuk mengajukan upaya hukum agar bisa mendapatkan keadilan dari keputusan penetapan sementara itu apakah akan
238
Article 50 (4):
diubah, dibatalkan atau ditegaskan. Pasal 41 ayat (3) TRIPs mendasarkan bahwa keputusan dalam suatu putusan pokok perkara akan lebih disukai dalam penulisan, alasan, hanya berdasarkan bukti-bukti tertulis para pihak dapat berkesempatan didengar pendapatnya. Hal ini normal dalam praktik di berbagai negara, bahwa dalam bentuk tulisan dikirimkan kepada kedua belah pihak untuk dapat diketahui secara mendetail tentang kasus pelanggaran yang dihadapinya. Hak untuk peninjauan kembali oleh pengadilan yang berwenang dari keputusan administratif akhir dan aspek hukum akhir dari putusan pengadilan awal adalah yang dibangun ke dalam Pasal 41 ayat (3) TRIPs, yang menginginkan beberapa peninjauan kasus pembebasan dari tuduhan pidana. Pasal 41 ayat (4) TRIPs pada dasarnya menjelaskan hal sebagai berikut:239
“Para pihak dalam suatu perkara mempunyai kesempatan untuk meminta peninjauan oleh peradilan atas suatu keputusan akhir administratif dan, dengan memperhatikan pertimbangan yuridis dalam hukum nasional mengenai pentingnya perkara yang bersangkutan, setidaknya aspek hukum dari keputusan peradilan awal mengenai pokok perkara. Akan tetapi, anggota tidak wajib untuk memberikan kesempatan bagi pengajuan permohonan peninjauan terhadap keputusan yang ditetapkan atas perbuatan yang telah terbukti di dalam kasus pidana.”
Subtansi pasal tersebut dapat diartikan bahwa peninjauan kembali dapat diberikan dengan memperhatikan hukum nasional. Dalam hal ini hukum acara yang berlaku di Indonesia.
Barang-barang atau obyek yang menjadi sengketa dalam hal dikabulkannya penetapan sementara pengadilan dapat melakukan perintah
239
Article 41 (4):
penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan hak atas kekayaan intelektual tersebut, penyitaan terhadapa barang-barang atau obyek sengketa. Dalam hal penetapan sementara TRIPs dalam Pasal 46 menyatakan pengadilan berwenang untuk memusnahkan barang tersebut agar menghindari bahaya dan kerugian apa pun bagi pemegang hak.
Apabila penetapan itu ditolak maka akibat hukumnya adalah segala barang atau obyek sengketa dikembalikan lagi kepada termohon dan jaminan yang diberikan pemohon di dalam syarat-syarat pengajuan pada awal mengajukan permohonan diberikan kepada pihak termohon, hal ini untuk menutupi kerugian yang dialami oleh pihak termohon atas penetapan sementara pengadilan. Dalam Pasal 50 ayat (7) TRIPs apabila penetapan sementara dicabut atau diubah karena kesalahan pemohon, atau bilamana kemudian ditentukan ditemukan tidak adanya pelanggaran atau peluang terjadinya pelanggaran HKI, maka pengadilan yang berwenang untuk memerintahkan pemohon, atas permintaan termohon, agar memberikan kompensasi yang tepat kepada termohon atas kerugian yang diakibatkan upaya-upaya penetapan sementara ini. Hal ini berlaku dalam 3 (tiga) keadaan, yakni:
1. Bilamana penetapan sementara dicabut, pencabutan dapat dilakukan dengan memperhatikan pasal 50 ayat (4) TRIPs;
2. Bilamana penetapan sementara diubah dengan tindakan atau pembiaran yang dilakukan penggugat;
Besarnya ganti kerugian, pengadilan akan mempertimbangkan apakah jika penetapan sementara ditolak, tetapi dalam ganti kerugian yang cukup untuk memberi kompensasi kepada pemohon atas kerugian yang akan dideritanya akibat tidak dilakukan penetapan sementara tentang penyitaan terhadap termohon yang dalam jangka waktu antara permohonan penetapan sementara sampai dengan putusan akhir pada saat peradilan.
Tidak hanya pemberian jaminan saja akibat hukum dari penetapan sementara itu, dalam hal lain selain adanya tindakan penyitaan barang juga ada tindakan hukum berupa tindakan importasi. Hal mengenai tindakan importasi ini lebih khusus di atur dalam Pasal 51-60 TRIPs sedangkan dasar dari tindakan ini dapat dilihat pada pasal 50 ayat (1) TRIPs yang menyatakan:240
Otoritas yudisial harus memiliki kewenangan untuk memerintahkan tindakan-tindakan mengenai ketentuan yang efektif dan segera: (a) Untuk mencegah terjadinya suatu pelanggaran atas hak milik intelektual, dan secara khusus untuk mencegah penetrasi kedalam mata rantai perdagangan dalam yuridiksinya atas barang-barang, termasuk barang impor segera setelah pembebasan pabean; (b) Menjaga bukti yang relevan sehubungan dengan pelanggaran yang digugat.
Dalam huruf a dinyatakan bahwa pengadilan mencegah terjadinya pelanggaran dan secara khusus mencegah penetrasi kedalam mata rantai perdagangan, hal ini merupakan dasar pengadilan atas dasar permohonan dari pemohon untuk meminta melalui penetapannya kepada pabean agar melakukan tindakan importasi pencegahan masuknya barang sengketa hasil penetapan itu masuk kedalam jalur perdagangan di wilayah hukum Indonesia. Sedangkan dalam
240
Article 50 (1):
huruf b dinyatakan bahwa pengadilam berwenang untuk menjaga bukti yang relevan hal ini dapat diartikan bahwa pengadilan dapat memerintahkan penyitaan barang bukti hasil pelanggaran. Terhadap pihak ketiga sesuai dengan Pasal 47 TRIPs bahwa pengadilan dapat memerintahkan kepada termohon untuk memberitahu pemegang hak atas identitas pihak ketiga yang ikut dalam proses produksi sampai distribusi barang-barang yang terkena penetapan tersebut. Peraturan perundangan dalam hal penetapan sementara agar memenuhi rasa keadilan juga mengatur pelindungan terhadap akibat hukum atas penetapan sementara ini, karena dengan adanya ketentuan inilah dalam penetapan sementara di syaratkan adanya jaminan untuk melindungi termohon dari kerugian akibat adanya penetapan sementara apabila dalam gugatan itu tidak terbukti.
Pelindungan terhadap termohon ini diatur dalam pasal 48 TRIPs yang menyatakan:
(1) Otoritas yudisial harus memiliki kewenangan untuk memerintahkan suatu pihak atas permintaan siapa tindakan-tindaka diminta dan siapa yang telah menyalahgunakan pemberlakuan prosedur untuk menyediakan bagi suatu pihak perintah yang secara salah atau menahan kompensasi yang layak untuk kerugian yang diderita akibat penyalagunaan tersebut. Otoritas yudisal harus juga memiliki kewenangan untuk memerintahkan pemohon untuk membayar kepada tergugat biaya-biaya yang mungkin termasuk biaya kuasa hukum yang layak.
(2) Sehubungan dengan administrasi dari tiap hukum yang berhubungan dengan pelindungan atau pemberlakuan hak milik intelektual, para anggota hanya dikecualikan dari otoritas masyarakat dan pejabat dari tanggung jawab atas tindakan pemulihan yang layak di mana tindakan-tindakan dibuat atau berdasarkan niat baik dari administrasi hukum tersebut.
Pasal 47 TRIPs karena adanya penetapan sementara juga dapat melakukan tindakan yang merupakan ketentuan pilihan yang membolehkan untuk memerintahkan kepada termohon memberikan informasi mengenai pihak ketiga yang terlibat dalam pembuatan atau pendistribusian daripada barang-barang bajakan.
Dalam kerangka pelindungan HKI, tindakan penangguhan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari kawasan pabean atau yang dalam TRIPs disebut sebagai suspension of release by customs. Pasal 51 TRIP’s241 menentukan bahwa Anggota WTO diwajibkan untuk menyelenggarakan prosedur yang memungkinkan pemegang hak yang mengetahui akan terjadinya pengimporan barang yang bermerek dagang palsu atau barang hasil pembajakan, untuk mengajukan permohonan tertulis kepada pihak yang berwenang, badan administrasi maupun badan peradilan, untuk menunda dilepaskannya barang-barang tersebut ke dalam arus perdagangan oleh pabean. Dalam hal ini juga dimungkinkan untuk mengajukan permohonan serupa terhadap barang-barang lain yang melibatkan pelanggaran terhadap HKI dan menetapkan prosedur yang sama untuk barang-barang yang akan diekspor. Pasal 52 TRIPs242 menentukan bahwa setiap pemegang hak yang memanfaatkan
241
Article 51 Suspension of Release by Customs Authorities
Members shall, in conformity with the provisions set out below, adopt procedures to enable a right holder, who has valid grounds for suspecting that the importation of counterfeit trademark or pirated copyright goods may take place, to lodge an application in writing with competent authorities, administrative or judicial, for the suspension by the customs authorities of the release into free circulation of such goods. Members may enable such an application to be made in respect of goods which involve other infringements of intellectual property rights, provided that the requirements of this Section are met. Members may also provide for corresponding procedures concerning the suspension by the customs authorities of the release of infringing goods destined for exportation from their teritories.
242
kepabeanan seperti itu wajib menunjukkan bukti-bukti yang memadai untuk meyakinkan pihak yang berwenang, sesuai dengan hukum negara tempat pengimporan dilakukan, bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap HKI dengan keterangan terperinci mengenai barang-barang yang bersangkutan agar mudah dikenali oleh pabean. Sehubungan dengan hal tersebut, pihak yang berwenang wajib segera memberitahukan bahwa permohonan dari yang bersangkutan telah diterima dan apabila telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang harus segera memberitahukan kapan saatnya pabean akan mulai mengambil tindakan.
Pengeluaran barang oleh Bea Cukai dengan tindakan penangguhan tersebut dianggap cukup efektif untuk mencegah adanya pelanggaran HKI. Tindakan penangguhan yang dilaksanakan pada exit atau entry point di Kawasan Pabean ini dapat mencegah barang masuk atau keluarnya suatu barang dalam jumlah besar, yang diduga melanggar HKI, sebelum barang tersebut masuk ke peredaran bebas. Apabila barang tersebut sempat masuk ke peredaran bebas dan tersebar ke jalur distribusi komersial, maka penegakan hukumnya akan lebih rumit dan memakan biaya yang besar.
Untuk mengisi kekosongan aturan di dalam UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek dan mengadopsi ketentuan TRIPs mengenai pelanggaran di bidang HKI di wilayah Pabean, Mahkamah Agung telah mengeluarkan Peraturan
Mahkamah Agung (PERMA) antara lain PERMA Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perintah Penangguhan Sementara yang mengadopsi ketentuan Pasal 44 TRIPs yang ditujukan untuk pelanggaran yang telah terjadi dan PERMA Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Penetapan Sementara yang mengadopsi ketentuan Pasal 50 TRIPs, yang ditujukan untuk mencegah terjadinya suatu pelanggaran.243
Ketentuan tersebut hanya mengatur masalah penangguhan barang-barang impor atau ekspor yang diduga merupakan hasil pelanggaran merek atau hak cipta. Hal ini sangat disayangkan, karena TRIPs juga memasukkan jenis-jenis HKI lainnya sebagaimana yang diatur di dalam Pasal 53 ayat (2) TRIPs244.
Selanjutnya apabila dari hasil pemeriksaan perkara kemudian terbukti bahwa barang impor atau ekspor yang ditangguhkan ternyata tidak merupakan atau tidak berasal dari hasil pelanggaran merek atau hak cipta, pemilik barang impor atau ekspor berhak untuk memperoleh ganti rugi dari pemilik/pemegang hak yang meminta penangguhan. Ganti rugi ini dapat dibayarkan dari jaminan. Ganti rugi sebagaimana dimaksud diatas diatur dalam Article 56 TRIPs (Indemnification of the Importer and of the Owner of the Goods),yaitu
243
Marni Emmy Mustafa, Upaya Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual Berdasarkan Perma No.4 Tentang Perintah Penangguhan Sementara dan Perma No.5 Tahun 2012 Tentang Penetapan Sementara, Makalah, hlm.3.
244
Article 53 ayat (2) Security or Equivalent Assurance
pembayaran kompensasi yang memadai atas kerugian yang terjadi karena penangguhan yang salah.
Article 42 TRIPs : Fair and Equitable Procedures, menekankan hak pemilik barang/importir, untuk menerima pemberitahuan yang cepat dan lengkap, yang memuat dasar klaim yang diajukan oleh pemilik hak. Dalam Article 54 TRIPs (Notice of Suspension) importir maupun pihak yang mengajukan penangguhan harus diberitahu sesegera mungkin mengenai dilakukannya penangguhan tersebut. Apabila dalam jangka waktu sepuluh hari kerja Pejabat Bea Cukai tidak menerima pemberitahuan dari pihak yang meminta penangguhan bahwa tindakan hukum telah dilakukan, dan Ketua Pengadilan Negeri tidak memperpanjang secara tertulis, Pejabat Bea Cukai wajib mengakhiri tindakan penangguhan pengeluaran barang. Selanjutnya barang diproses/ diselesaikan sesuai ketentuan kepabeanan.
Dalam rangka identifikasi atau pencacahan untuk kepentingan, pengambilan tindakan hukum atau langkah-langkah untuk mempertahankan hak, dimungkinkan bagi pemilik/ pemegang hak melakukan pemeriksaan atas barang impor/ekspor yang diduga melanggar HKI. Pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan izin dari Ketua Pengadilan Negeri setempat dan dilakukan dengan sepengetahuan Pejabat Bea Cukai.
Dalam pemberian izin pemeriksaan, kepentingan pemilik barang (antara lain kepentingan untuk menjaga rahasia dagang atau informasi teknologi) juga perlu diperhatikan secara wajar. Pasal 57 TRIPs245 menegaskan bahwa tanpa
245
mengurangi pelindungan terhadap rahasia dagang, pemerintah yang bersangkutan harus menjamin bahwa pihak yang berwenang dapat memberi kesempatan secukupnya kepada pemegang hak untuk meneliti barang yang berada dalam penahanan pabean dalam rangka memperkuat gugatannya. Pihak yang berwenang juga berhak untuk memberikan kesempatan yang sama kepada importir untuk meneliti barang yang bersangkutan.
Dalam hal telah terdapat ketetapan yang pasti mengenai pokok perkara, pemerintah yang bersangkutan dapat memberikan kewenangan kepada pihak yang berwenang untuk memberitahukan kepada pemegang hak mengenai nama dan dan alamat pihak yang memberikan konsinyasi, importir dan penanggung jawab konsinyasi serta jumlah barang yang bersangkutan. Article 57 TRIPs mengatur mengenai (Right of Inspection and Information) di mana selain hak untuk memeriksa barang yang ditangguhkan pengeluarannya, pemegang hak juga berhak untuk mendapatkan informasi dari instansi yang berkompeten, mengenai nama dan alamat pengirim barang, importir, penerima dan jumlah barang.
B. Lembaga Pengadilan Niaga
1. Pengadilan Niaga dan Prinsip- Prinsip Umum
a. Proses Lahirnya Pengadilan Niaga
Pembentukan Pengadilan Niaga dapat ditelusuri mulai dari Undang- Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang - undang Tentang Peradilan Umum.246 Pada saat dibuatnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Aturan Kepailitan, yang berlaku adalah UU Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Kekuasaan Kehakiman dan UU Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum. Namun pada saat dibuatnya Undang - Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang berlaku adalah UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman dan UU Nomor 8 Tahun 2004 Tentang Peradilan Umum.
1) Jenis Badan Peradilan Menurut UU Kekuasaan Kehakiman Dan Pembentukan Kamar-Kamar Khusus Dalam Peradilan Umum
UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 25 Ayat (1) menyatakan sebagai berikut :247
“Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara”
246
Firdaus Syafaat, Suhaidi, Eddy Damian, Runtung, “A Simple Principle, Fast and Low Cost Temporary Determination of The Commercial Court on Registered Brands”, European Journal of Social Sciences, volume 50, Number 2 November, 2015, hlm. 177-196.
247
Selanjutnya dalam Pasal 27 Ayat (1) menyebutkan bahwa Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.
Dalam penjelasan Pasal 27 Ayat (1) tersebut diuraikan bahwa:
“Yang dimaksud dengan “pengadilan khusus” antara lain adalah pengadilan anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi, pengadilan hubungan industrial dan pengadilan perikanan yang berada di lingkungan peradilan umum, serta pengadilan pajak yang berada di lingkungan peradilan tata usaha negara”
UU Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum dalam Pasal 8 ayat (1) menyebutkan bahwa di lingkungan peradilan umum dapat dibentuk pengadilan khusus yang diatur dengan undang-undang.
Dalam penjelasan Pasal 8 Ayat (1) tersebut diuraikan bahwa:
“Yang dimaksud dengan "diadakan pengkhususan pengadilan" ialah adanya diferensiasi/spesialisasi di lingkungan peradilan umum dimana dapat dibentuk pengadilan khusus, misalnya pengadilan anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi, pengadilan hubungan industrial, pengadilan perikanan yang berada di lingkungan peradilan umum, sedangkan yang dimaksud dengan "yang diatur dengan undang-undang" adalah susunan, kekuasaan, dan hukum acaranya”
Dengan demikian, telah jelas bahwa Pengadilan Niaga yang dibentuk berdasarkan amanat dalam Undang-Undang Kepailitan: merupakan suatu bentuk khusus (differensiasi) dari peradilan umum. Pengadilan Niaga dapat juga disebut sebagai pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum.
Krisis moneter yang melanda hampir semua belahan dunia di pertengahan tahun 1997 telah memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian.248 Dunia usaha merupakan dunia yang paling menderita dan merasakan dampak krisis yang tengah melanda. Negara kita memang tidak sendirian dalam menghadapi krisis tersebut, namun tidak dapat dipungkiri bahwa negara kita adalah salah satu negara yang paling menderita dan merasakan akibatnya. Selanjutnya tidak sedikit dunia usaha yang gulung tikar, sedangkan yang masih dapat bertahan pun hidupnya menderita. Situasi ini tentunya sangat memukul perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam menjalankan roda usahanya karena biaya produksi yang kian membengkak, dan tingginya suku bunga perbankan membuat dunia usaha tidak ada yang berani meminjam uang Bank, di sisi lain, daya beli konsumen menurun tajam dan persaingan usaha semakin ketat. Keterpurukan yang terus-menerus dan gagalnya upaya-upaya pemulihan ekonomi, salah satunya disebabkan oleh tidak bekerjanya mekanisme hukum dan ketidakpercayaan investor asing terhadap proses pemulihan dan stabilitas sosial politik.249
Menyikapi krisis yang tidak juga membaik, Pemerintah kemudian mencetuskan sepuluh langkah pemulihan ekonomi pada 3 September 1997 dan mendorong pemerintah untuk meminta bantuan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF), Bank Dunia (world bank), dan asian development bank dengan komitmen diambilnya tindakan melikuidasi 16 Bank
248
Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997, yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1; IMF Research Department Staff: 10; IMF, 1998) hlm. 5.
249
swasta pada tanggal 1 November 1997.250 Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang yaitu penyehatan sektor keuangan, kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan penyesuaian struktural. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan, maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998, yang mengandung 50 butir. Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan, maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir, 7 appendix dan satu matriks.251 Paket IMF ketiga lebih menyoroti persoalan sistem kepailitan yang mendasari munculnya “Pengadilan Niaga” sebagai mekanisme penyelesaian sengketa dunia usaha, khususnya yang berkaitan dengan persoalan utang.252 Pembentukan Pengadilan Niaga dalam paket perjanjian ketiga IMF ini didasari oleh lambatnya perkembangan penyelesaian utang luar negeri swasta dan lemahnya komitmen untuk menyelesaikan utang dalam perundingan antara pihak kreditor dan debitor. Terakhir pada paket keempat bulan Juni 1998, IMF memberi batas waktu untuk pembentukan Pengadilan Khusus Tata Niaga sampai dengan tanggal 20 Agustus 1998.
250
Didik J.Rachbini, Suwidi Tono, et.al, Bank Indonesia Menuju Indenpendensi Bank Sentral, (Jakarta: Mardi Mulyo, 2000), hlm. 12.
251
Lepi T. Tarmidi, Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF”, Jakarta, 10 Juni 1998.
252
Dasar dan tuntutan IMF untuk membentuk Pengadilan Niaga diakibatkan tidak adanya mekanisme hukum yang baik dan tingkat kepercayaan investor asing yang terus merosot, hingga muncul implikasi yang serius dalam perekonomian domestic.253 Implikasi pertama yaitu perusahaan domestik yang mengalami kesulitan likuiditas sulit untuk menawarkan asetnya kepada investor asing, bahkan dalam harga yang sangat murah, karena mereka takut tidak ada jaminan hukumnya. Kedua, tidak adanya Pengadilan Niaga, sangat sulit bagi kreditor untuk melikuidasi asset - aset perusahaan yang mengalami masalah dengan pembayaran utang (default). Ketiga, pilihan bagi kreditor menjadi terbatas, yaitu apakah akan menghapusbukukan utang, atau melakukan perundingan dengan hasil yang minimal. Terakhir, peradilan di Indonesia menyimpan banyak persoalan yang tidak ada jaminan akan diselesaikan secara adil, karena adanya mafia peradilan.
Berdasarkan uraian diatas, pihak IMF mendorong diberlakukannya UU Kepailitan yang diikuti dengan pembentukan Peradilan Khusus Tata Niaga. Undang-Undang Kepailitan dibentuk sebagai suatu cara untuk memfasilitasi proses penyelesaian hubungan hukum antara kreditor dan debitor untuk mengatasi kredit macet. Sehingga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang Kepailitan menjadi peraturan payung bagi peradilan kasus kepailitan dan keberadaan Pengadilan Niaga, selain sebagai pengganti UU Kepailitan yang sebelumnya yaitu (Faillissements-Verordening, Staatsblad 1905 Nomor 217 juncto Staatsbiad 1906 No.3481).
253
Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1998 inilah terbentuk Pengadilan Niaga untuk pertama kalinya. Pada awalnya, yaitu pada bulan Agustus 1998, Pengadilan Niaga hanya berada dalam wilayah yurisdiksi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Baru pada bulan Juli 2000, Pemerintah kembali membentuk Pengadilan Niaga di tiga kota, yaitu di Medan, Surabaya dan Ujung Pandang.
3) Pembentukan Pengadilan Niaga dalam UU No. 37 Tahun 2004 Juncto UU No. 4 Tahun 1998 Juncto Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 1998 tentang Kepailitan
b. Prinsip-Prinsip Umum Pengadilan Niaga;
Prinsip-prinsip yang diterapkan dalam proses beracara di Pengadilan Niaga adalah sebagai berikut:254
1) Kompeten Dan Modern
Pengadilan Niaga harus didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten. Yaitu adanya kemampuan yang baik dari seluruh pihak untuk mendukung kinerja Pengadilan Niaga, termasuk hakim dan Panitera Pengadilan. Mengingat pengadilan ini meliputi lingkup perniagaan yang sifatnya dinamis, maka Pengadilan Niaga haruslah didukung oleh sarana dan prasarana yang modern. Selain adanya fakta bahwa sarana dan prasarana yang modern akan memudahkan para pihak yang berkepentingan untuk melakukan akses ke Pengadilan Niaga. Sarana dan prasarana tersebut meliputi, mulai dari kondisi fisik pengadilan hingga penggunaan perangkat teknologi informasi.
2) Independensi Dan Tidak Memihak (Imparsial)
Pengadilan Niaga harus merupakan pengadilan yang terbebas dari campur tangan, ataupun tekanan dari pihak manapun. Selain itu, Pengadilan Niaga juga harus berpihak hanya kepada hukum dan keadilan dalam memutus perkara - perkara yang masuk. Hal ini penting karena Pengadilan Niaga harus mampu menjadi suatu institusi untuk mewujudkan kesetaraan di hadapan hukum, terutama di bidang perniagaan yang seringkali terjadi antara para pihak yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang tidak seimbang.
254
3) Partisipatif dan Akuntabilitas
Pengadilan Niaga harus membuka peluang partisipasi masyarakat seluas mungkin, terutama dalam melakukan berbagai bentuk pengawasan guna menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Untuk akuntabilitas Pengadilan Niaga harus dapat mempertanggungjawabkan semua kebijakan yang diambilnya, dalam rangka pelaksanaan kekuasaannya, untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan.
4) Mudah Diakses dan Transparansi
Pengadilan Niaga harus menjadi institusi pengadilan yang mudah diakses, baik secara finansial, geografis, prosedural dan lain - lain, bagi semua pencari keadilan di bidang perniagaan. Transparansi berarti tanpa merugikan kepentingan upaya penegakan hukum, Pengadilan Niaga bersifat terbuka dalam hal keseluruhan proses peradilan agar prinsip akuntabilitas dan partisipasi dapat terlaksana.
5) Proses Yang Cepat dan Kepastian Hukum
2. Kewenangan Pengadilan Niaga
Blueprint Pengadilan Niaga pada tahun 1998 telah menekankan bahwa perluasan Pengadilan Niaga akan diarahkan terhadap permasalahan hukum perdagangan. Terbukti semenjak tahun 2001, perkara - perkara HKI juga masuk dalam kompetensi Pengadilan Niaga selain menangani perkara kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Terakhir tahun 2004 sengketa dalam proses likuidasi bank yang dilakukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga termasuk dalam kompetensi Pengadilan Niaga.255
Berlakunya UU Kepailitan 1998 telah memindahkan kewenangan mutlak (absolut) dari Pengadilan Umum untuk memeriksa permohonan pailit, dengan menetapkan Pengadilan Niaga sebagai Pengadilan yang memiliki kewenangan untuk menerima permohonan kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).256 Berdasarkan Pasal 280 Ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, maka perluasan kewenangan Pengadilan Niaga ditetapkan rnelalui Peraturan Pemerintah (PP). selanjutnya lebih dikuatkan dalam perubahan UU Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yaitu pada UU
255
Lihat http: //www. hukumonline. com/ klinik/ detail/ lt4d47fcb095f46/ lingkup-kewenangan-pengadilan-niaga.
256
Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 300.257
Penyelesaian sengketa di bidang HKI, dapat dilihat dalam undang undang bersangkutan yang wewenangnya secara absolut merupakan wewenang Pengadilan Niaga :
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, wewenang Pengadilan Niaga dalam penyelesaian sengketa hak cipta dapat dilihat pada Bab XV dan Bab XI dari pasal 106 sampai dengan pasal 109. Pada pasal 106, menyatakan bahwa ; Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan karena pelaksanaan Hak Cipta atau Hak Terkait, Pengadilan Niaga dapat mengeluarkan penetapan sementara untuk mencegah masuknya barang yang diduga hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait ke jalur perdagangan, menarik dari peredaran dan menyita serta menyimpan sebagai alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut, mengamankan barang bukti dan penghilangannya oleh pelanggar dan/atau mencegah, menghentikan pelanggaran guna mencegah kerugian yang lebih besar.
b. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2016 tentang Paten, wewenang penyelesaian sengketa Paten diatur dalam Bab XIV dari pasal 155 sampai dengan pasal 158. Pasal 155 menyatakan bahwa ; Atas permintaan pihak yang dirugikan karena pelaksanaan Paten, Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan
257
sementara untuk: mencegah masuknya barang yang diduga melanggar Paten dan/atau hak yang berkaitan dengan Paten, mengamankan dan mencegah penghilangan barang bukti oleh pelanggar; dan/atau menghentikan pelanggaran guna mencegah kerugian yang lebih besar.
c. Undang-Undang Nomor 15 tahun 2001 tentang Merek, wewenang Pengadilan Niaga dalam undang undang ini dapat dilihat pada Bab XI dan Bab XII dari pasal 76 sampai pasal 87. Pasal 76 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Merek, menyatakan : (1) Pemilik merk terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa: a. Gugatan ganti rugi ; dan/atau b. Penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut. (2) Gugatan sebagaimana dimaksud ayat (1) Diajukan kepada Pengadilan Niaga.
e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata letak Sirkuit, wewenang Pengadilan Niaga dalam penyelesaian sengketa dalam undang undan Bab ini dapat dilihat pada Bab VII dari pasal 38 sampai dengan pasal 40. Pasal 38 menyatatakan ; (1). Pemegang Hak Desain Industri atau penerima lisensi dapat menggugat siapapun dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 berupa : a. Gugatan ganti rugi; dan/atau b. Penghentian sementara perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. (2) gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan kePengadilan Niaga.
Pemerintah No 51 tahun 2007 Penyelesaian sengketa Hak Indikasi Geografis ada pada Pengadilan Niaga.
Sengketa dalam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)258 juga merupakan wewenang Pengadilan Niaga. Pengaturan Lembaga Penjamin Simpanan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2004 yang dirubah oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008. Lembaga penjamin Simpanan menjamin simpanan nasabah yang berbentuk giro,deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.Dalam menjalankan tugasnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dapat meminta data, informasi dan/atau dokumen kepada pihak lain. Kepesertaan jaminan nasabah bank ini adalah setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia. Lembaga Penjamin simpanan (LPS) dapat melakukan penyelesaian dan penangan Bank gagal dengan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) Perpu No. 3 Tahun 2008:
a. Mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang pemegang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS ;
b. Menguasai dan mengelola aset dan kewajiban Bank gagal yang diselamatkan ; c. Meninjau ulang, pembatalkan, mengakhiri,dan/atau mengubah setiap kontrak
yang mengikat Bank gagal yang diselamatkan dengan pihak ketiga yang merugikan Bank; dan
d. Menjual dan/atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan debitur dan/atau kewajiban bank tanpa persetujuan kreditur.
Disamping itu juga LPS dapat melakukan tindakan terhadap bank gagal yang dicabut izinnya berupa pembubaran badan hukum bank, membentuk tim likuidasi, dan menyatakan status bank sebagai bank dalam likuidasi. Dan
258
berdasarkan pasal 49 Perpu no 3 tahun 2008 ; Pengawasan atas pelaksanaan likuidasi bank dilakukan oleh LPS. Selanjutnya dalam pasal 50, menyatakan bahwa ; dalam hal sengketa dalam proses likuidasi, maka sengketa dimaksud diselesaikan melalui Pengadilan Niaga sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam Pasal 52 ayat (1) Perpu No. 38 tahun 2008 menyatakan bahwa : Untuk kepentingan aset atau kewajiban bank dalam likuidasi, tim likuidasi dapat meminta pembatalan kepada Pengadilan Niaga atas segala perbuatan hukum bank yang mengakibatkan berkurangnya aset atau bertambahnya kewajiban bank, yang dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sebelum pencabutan izin usaha.
Dari ketentuan pasal pasal 50 dan pasal 52 Perpu Nomor 38 Tahun 2008 tersebut, maka apabila terjadi sengketa proses Likuidasi merupakan kewenangan Pengadilan Niaga.
C. Komparasi Penetapan Sementara di Beberapa Negara
1. Jerman
Jerman adalah suatu negara di Eropa yang menerapkan sistem hukum sipil. Ketentuan terpenting tentang struktur organisasi pengadilan terdapat dalam ketentuan Pengadilan Konstitusi (Gerichtsverfassungsgesetz, atau GVG). Pengadilan ditandai dengan pembagian berdasarkan spesialis, regional, dan hierarkis terintegrasi di tingkat federal.259 Seperti di Indonesia, sistem peradilan di Jerman terdiri dari beberapa tingkatan, yakni Pengadilan tingkat satu (amisgericht), Pengadilan tingkat dua (oberste landgericht) dan Pengadilan tingkat tinggi (oberstegericht) dengan puncaknya di Mahkamah Agung (Bundesgerichterhof). Pengadilan khusus menangani lima bidang yang berbeda: yaitu administrasi, tenaga kerja, sosial, fiskal, dan paten. Semuanya terorganisir
259
Bell, John
secara hierarkis dengan sistem pengadilan negara di bawah pengadilan banding federal.
Pengadilan Federal Paten menangani kasus kekayaan intelektual tertentu pada paten, hak utilitas dan merek dagang. Dalam paten, hak utilitas dan merek dagang penting ada pembagian tanggung jawab peradilan di Jerman antara Mahkamah Paten Federal dan berbagai Pengadilan Regional Jerman. Sistem pengadilan bercabang ini memiliki tradisi panjang di Jerman dan didasarkan pada gagasan bahwa keputusan Deutsches Patent- und Markenamt (Paten Jerman dan Trademark Office) harus diperiksa oleh pengadilan khusus dibuat untuk tujuan itu, yaitu, Pengadilan Paten federal di Munich260
Proses pemeriksaaan dimulai dari pendaftaran, pemeriksaan, pengambilan putusan dan eksekusi putusan tidak berbeda dengan di Indonesia. Perbedaan dengan Indonesia adalah berkaitan dengan pendaftaran gugatan, bahwa di Jerman gugatan dapat diajukan juga melalui pos surat, dan pendaftarnya akan dipanggil dengan membayar panjar biaya perkara, dan setelah pembayaran, berkas perkara akan diserahkan kepada hakim yang memeriksa berdasar penunjukan oleh Dewan Presidium. Bagi orang-orang yang tidak mampu dapat mengajukan permohonan agar dibebaskan dari kewajiban membayar perkara (ketentuan ini juga dikenal di Indonesia). Apabila seorang hakim merasa mempunyai hubungan keluarga dengan salah satu pihak/ para pihak, dia wajib mengundurkan diri tanpa adanya permintaan atau permohonan keberatan dari salah satu pihak. Perbedaan lain adalah pembatasan perkara yang dapat diajukan, berdasarketentuan Hukum Acara
260
Seyfert, Christian
Perdata Jerman (zivilprozessordnung), hanya perkara yang mempunyai nilai gugatan melebihi EURO 600 yang dapat didaftar di Landsgericht.261
Pemeriksaan perkara pada prinsipnya dilakukan secara terbuka untuk umum, kecuali ditentukan lain dalam undang - undang, misalnya untuk perkara yang menyangkut anak-anak atau perkara keluarga. Dalam proses persidangan perkara perdata, pemeriksaan tidah jauh berbeda dengan pemeriksaaan Pengadilan Indonesia. Para pihak dapat menunjuk wakilnya untuk menghadiri sidang perkaranya. Meskipun tidak ada ketentuan mengenai batasan waktu kapan pemeriksaan perkara harus selesai, pemeriksaan umumnya dilakukan secepat mungkin. Penundaan perkara tidak dikenakan sanksi, tetapi penilaian terhadap hakim tetap dilakukan setiap tahun.
Putusan Pengadilan dibacakan/disampaikan dalam persidangan yang terbuka untuk umum. Setelah selesai dibacakan, para pihak diberikan waktu dua (2) minggu untuk berpikir dan apabila dalam tenggang waktu tersebut tidak mengajukan sesuatu apapun, dianggap pihak yang bersangkutan telah menerima putusan tersebut. Para pihak yang tidak hadir pada persidangan pembacaan putusan akan diberitahukan isi putusan dengan resmi melalui Juru Sita, dan kepada mereka juga diberitahukan hak-haknya apabila merasa tidak puas/tidak sependapat dengan isi putusan tersebut, yakni mengajukan banding dalam waktu 2 (dua) minggu terhitung saat menerima pemberitahuan tersebut. Apabila tidak mengajukan banding, putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
261
Pelaksanaan putusan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melaksanakan sendiri secara sukarela tanpa adanya campur tangan pihak manapun, atau mohon bantuan/pengadilan dengan cara mengajukan permohonan ke pengadilan yang memeriksa dan memutus perkaranya semula. Berdasar permohonan pihak yang menang perkara, pengadilan akan menugaskan Panitera Kepala yang kemudian akan memerintahkan Juru Sita untuk memaksakan pelaksanaan permohonan tersebut sesuai yang ada dalam putusan dengan alat paksa sesuai ketentuan yang berlaku. Putusan dilakukan dengan penyitaan harta benda pihak yang kalah serta pelelangan sesuai ketentuan yang berlaku. Sejauh ini di Jerman tidak mengatur dan tidak pernah melaksanakan sistem penyanderaan paksa badan.
Pengadilan di Jerman telah memanfaatkan Teknologi Informasi (TI), termasuk melengkapi hakim dengan sistem computer on fine dan alat perekam pembicaraan dalam persidangan. Dengan sistem on fine, pemeriksaan perkara yang ditanganinya dapat selalu dipantau kemajuannya.
dengan sengaja atau karena kelalaian, melakukan pelanggaran terhadap paten milik orang lain untuk selebihnya diserahkan kepada putusan pengadilan.
Sebelum Injunction diproses di muka Pengadilan pemegang hak sebagai penggugat atau pengacaranya biasanya terlebih dahulu memberikan peringatan kepada pelanggar. Apabila penggugat lalai memberikan peringatan sebelum diajukan kemuka pengadilan, hal ini tidak akan membahayakan keberhasilan gugatan, pihak penggugat menghadapi risiko dibebani biaya-biaya termasuk fee pengacara pihak tergugat. Menurut Kitab Undang-Undang Acara Perdata Jerman, penggugat dapat mengakui tuntutan ini dalam sidang pertama. Dalam hal ini, pengadilan akan memberikan penetapan sementara yang dimintakan dan akan menambah biaya-biaya bagi pihak penggugat apabila pihak tergugat tidak memberikan reaksi di dalam persidangan. Penetapan sementara dalam bentuk keputusan pengadilan yang melarang seseorang untuk melakukan sesuatu (prohibitory Injunction) mempunyai persamaan dengan yang dikenal dalam common law. Berdasarkan permohonan pihak penggugat, apabila pihak tergugat yang bersalah tidak melaksanakan penetapan sementara akan didenda.
Di Jerman juga diatur apabila seseorang tidak melaksanakan penetapan sementara (provisional measures) sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam hukum acara perdata (code of civil procedure). Tergugat akan mendapatkan penetapan sementara sekali lagi di depan pengadilan.
prinsip-prinsip yang ditegakkan dalam kasus American Cyanamid yang sejalan dengan jalan pikiran (reasoning) pengadilan-pengadilan Jerman;262
1. Dalam perkara Series 5 telah diberikan argumentasi yang meyakinkan bahwa prinsip-prinsip American Cyanamid harus diberlakukan hanya dalam sebuah kasus yang derajat kerumitannya begitu tinggi tatkala pengadilan tidak berada dalam posisi memberikan atau menolak penetapan sementara berdasarkan sebuah kasus prima facie, baik untuk pihak penggugat maupun bagi pihak tergugat.
2. Prinsip-prinsip American Cyanamid yang secara terbatas diberlakukan atas kasus-kasus yang kompleks, dan kasus - kasus biasa dapat diputuskan melalui jalur (yang patut dan adil) bahwa seorang penggugat, bilamana mengajukan permohonan untuk memperoleh penetapan sementara, harus menunjukkan sebuah kasus pelanggaran prima facie. Hal ini merupakan sebuah kasus prima facie yang kuat, apabila tidak ada perintah untuk melakukan jamin-silang (cross undertaking) yang diberikan oleh pihak penggugat, atau bilamana kerugian yang diderita oleh pihak tergugat, dalam hal penggugat kalah di persidangan.263
Menurut Hukum Jerman, pengujian terhadap penetapan sementara dapat dilakukan apabila memenuhi persyaratan, yaitu:
262
Marni Emmy Mustafa, Prinsip – prinsip Beracara dalam Penegakan Hukum Paten di Indonesia dikaitkan dengan TRIPs-WTO, (Bandung: PT. Alumni, 2007), hlm. 182.
263
1. Pelanggaran atas HKI tidak perlu dibuktikan, cukup dipersangkakan. Hal ini berarti bahwa pengadilan-pengadilan agak ragu-ragu memberikan prel iminary relief atas kasus-kasus pelanggaran paten karena pokok pangkal kasus ini sulit untuk disidangkan secara sumir.
2. Di dalam kaitan ini, perlu ada faktor urgensi di dalamnya. Hal ini harus meliputi sebuah balans kepentingan - kepentingan yang menyerupai keseimbangan keserasian dan kelayakan (convenience,) yang diterapkan dalam perkara American Cyanamid. Kemudian faktor-faktor yang perlu mendapatkan perimbangan adalah antara lain: peluang bagi pihak penggugat untuk menuntut ganti rugi dalam hal terjadi pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut, sedangkan kesempatan bagi pihak tergugat untuk mendapatkan ganti kerugian dalam hal adanya penetapan sementara tampaknya tidak dibenarkan. Peluang paten ini ditarik kembali pada prosedur ketiadaan kekuatan (nullity proceedings).
Mengenai kerugian yang ditimbulkan dalam kasus-kasus pelanggaran paten, pada umumnya penetapan sementara interlokutor, tidak diberikan secara ex parte. Bagaimanapun juga immediate relief/ penetapan sementara tidak tersedia di beberapa pengadilan yang menangani kasus-kasus litigasi pelanggaran paten, tenggang waktu 3 atau 4 bulan, kebutuhan akan interim relief sangat terbatas. Hal ini dapat dijelaskan mengapa penetapan sementara interlokutor atas kasus-kasus pelanggaran - pelanggaran paten tidak terlalu sering dimintakan, kurang sering diberikan pada pengadilan-pengadilan Jerman.264
264
Hukum Jerman menentukan agar diadakan ganti kerugian dalam bentuk natura, tetapi kompensasi finansial pun dapat diberikan, ini adalah aturan dalam litigasi HKI, bilamana pemulihan posisi dalam bentuk natura tidak dimungkinkan lagi atau tidak memadai. Dua buah pertimbangan kebijakan, yang kadangkala saling bertentangan mempengaruhi diskusi tentang kerugian-kerugian yang diderita akibat pelanggaran. Pada satu sisi, kerugian-kerugian harus ditaksir sedemikian rupa sehingga tidak ada keuntungan yang tersisa bagi pihak pelanggar paten.
Penaksiran kerugian-kerugian dari pemegang hak melalui kompensasi finansial dapat dipulihkan ke dalam posisi seakan-akan pelanggaran ini tidak terjadi. Walaupun pihak penggugat telah dibekali dengan semua informasi yang dibutuhkan, hal itu sangat sukar dipastikan bahwa angka-angka penjualannya telah melampaui jumlah tertentu. Pihak tergugat, yang telah menurunkan harga-harga yang ditetapkan oleh pemegang hak, menyatakan bahwa keberhasilannnya hanya berkat harga-harga yang lebih rendah pada satu sisi dan pada sisi lain oleh relasi-relasi bisnisnya yang sangat baik serta reputasi yang ditegakkan diantara klien-kliennya. Meskipun pengadilan - pengadilan berwenang untuk mengadakan estimasi kasar dalam menilai kerugian-kerugian, pondasi penyelenggaraan penaksiran terkadang terlampau sempit.
Kesulitan-kesulitan di pengadilan-pengadilan Jerman menerima dan mengakui sesuai tradisi cara-cara lain untuk menaksir kerugian-kerugian pelanggaran yang telah terjadi.265 Disamping kerugian yang sesungguhnya, pihak
265
penggugat dapat meminta rekening keuntungan-keuntungan yang merupakan kompensasi yang layak dan adil, berdasarkan common law atau untuk sebuah royalti yang pantas. Pemegang hak mempunyai kebebasan memilih cara agar kerugian yang dideritanya itu ditaksir. Namun, pemegang tidak diperkenankan menerapkan sebuah kombinasi metode-metode penerapan taksiran, melainkan harus berpedoman untuk menerapkan salah satu cara yang dapat mengkalkulasikan kerugiannnya.
Rekening keuntungan-keuntungan di masa lalu, para penggugat jarang sekali mempergunakan metode mengkalkulasikan kerugian-kerugiannya. Hal ini tidak terlalu menguntungkan pihak pemegang hak, karena hal ini sangat bergantung kepada informasi pelaku pelanggaran. Pada sisi lain dalam permohonan-permohonan pemberian pertanggungjawaban rekening, para penggugat senantisa meminta rincian perihal pengkalkulasian pihak tergugat. Para pemegang hak mempergunakan kesempatan kemungkinan menemukan detail-detail yang berharga berkenaan dengan situasi dan kondisi para pesaingnya. Kebanyakan kasus diselesaikan berdasarkan pembayaran royalty yang layak dan adil.
penggugat telah memberikan lisensi itu bahkan bilamana pihak tergugat telah menerimanya.
2. Inggris
Salah satu ciri khas menonjol dari hukum Inggris ialah hubungannya yang kuat dengan masa lalu. Hukum Inggris tidak pernah menerima hukum asing dalam skala besar, atau kodifikasi-kodifikasi besar. Bagian penting system hukum itu masih mengandalkan UU dan preseden dari abad pertengahan. Yang lebih penting, cara hukum Inggris itu dijalankan masih didasarkan pada tradisi-tradisi yang dihasilkan sepanjang abad pertengahan. Artinya, untuk memahami sistem hukum Inggris sekarang, diperlukan pengetahuan fundamental tentang perkembangan sejarahnya266
Hukum Inggris terdiri dari 2 (dua) hal yang saling melengkapi:
a. Common law, yang terdiri dari adat kebiasaan kuno, putusan-putusan pengadilan dan peranan peraturan perundangan dan sejenisnya, karena dibuat berdasarkan kebiasaan-kebiasaan di seluruh Inggris dan Wales setelah Norman Conquest (1066).
b. Equity, yang terdiri dari asas-asas yang dilahirkan oleh Court of Chancery sebelum tahun 1873, dan hal yang diharapkan berupa tambahan yang berasal dari kebiasaan-kebiasaan yang berupa hak-hak dan upaya-upaya hukum baru, serta melunakkan kebiasaan-kebiasaan yang terlalu kaku dan tidak fleksibel.267
266
Michael Bogdan, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, (Bandung: Nusamedia, 2010), hlm.124.
267
Sistem peradilan di Inggris disusun dengan bentuk piramida yang mana House of Lords sebagi puncak pengadilannya. Supreme Court of Judicature, dan membawahi Court of Appeal, High Court dan the Crown Court, dan kemudian membawahi lagi civil courts dan criminal courts (the county courts dan magistrates’ court)
Di Inggris dan Wales, untuk sengketa perdata penyelesaiannya dilaksanakan di High Court atau County Court, hal ini diatur di Judicature Act 1873, sedangkan untuk upaya penyelesaian di tingkat banding dilaksanakan di Supreme Court, berdasarkan Supreme Court Act 1981.268 Hal yang membedakan sengketa di County Court dengan sengketa di High Court adalah untuk sengketa yang kecil-kecil dan ringan dalam arti untuk nilai nominal yang menjadi obyek sengketa jumlahnya terbatas diselesaikan di County Court, sedangkan sengketa yang besar dan relatif berat dalam arti untuk nilai nominal yang menjadi obyek sengketa jumlahnya tidak terbatas, penyelesaiannya dilakukan di High Court. Selain di kedua pengadilan tersebut di atas, sengketa perdata juga dimungkinkan untuk dilakukan di Queen‘s Bench Division yang juga merupakan bagian dari Supreme Court. Hanya saja sengketa-sengketa di Queen‘s Bench Division pada umumnya menyelesaikan perkara-perkara pidana, tetapi ia juga menyelesaikan beberapa perkara perdata.269
268
Djamal, Penetapan Sementara Pengadilan (Pada Hak Kekayaan Intelektua), Bandung: Pustaka Reka Cipta, 2008), hlm.26.
269
Sengketa perdata di pengadilan di Inggris diawali oleh writ.270 (yang dalam terjemahan bebas dapat diartikan sebagai dasar panggilan, dasar mosi, atau petisi). Pada umumnya beracara di Queen‘s Bench Devision dimulai dengan writ. Setiap gugatan yang diajukan oleh Penggugat (plaintiff) dimulai dengan pengajuan writ yang berisi klaim dari Penggugat tersebut. Writ diterbitkan oleh Lord Chancellor dengan mengatasnamakan raja dan ditujukan kepada Tergugat untuk menghadap ke pengadilan. Sehubungan dengan suatu proses perkara yang diajukan oleh Penggugat. Dan apabila tuntutan Penggugat tidak disertai writ, maka tidak akan ada upaya hukum.271 Writ dapat diperoleh di Writ Department of the Central Office of the High Court di London.
Berikutnya, Penggugat mengirimkan salinan writ kepada setiap Tergugat, bilamana diperlukan Penggugat harus memperlihatkan aslinya. Salinan writ dikirimkan langsung kepada Tergugat Prinsipal dalam keadaan tertutup dan diberi segel oleh pengadilan melalui pos kelas satu (mungkin di Indonesia surat tercatat) ke alamat terakhir diketahui Tergugat berdomisili. Dan apabila Tergugat bermaksud mempertahankan atau melayani gugatan Penggugat, di dalam waktu 14 (empatbelas) hari Tergugat mengajukan memorandum of appearance yang berisikan maksudnya akan menghadapi gugatan Penggugat ke pengadilan yang telah menerbitkan writ tadi. Akan tetapi apabila Tergugat tidak memberikan perlawanan kepada Penggugat, maka Penggugat berhak memasuki akhir persidangan untuk mengklaim tuntutan yang tercantum di dalam writ yang diajukan sebagai dasar gugatan Penggugat.
270
P. W. D. Redmond dan Peter Shears, Op. Cit., hlm. 7. 271
Untuk membuat persidangan di pengadilan, setiap nama dari Penggugat ataupun setiap nama dari Tergugat harus dimuat secara jelas. Karena kekeliruan di dalam permulaan berperkara di depan pengadilan akan membuat penundaan dari suatu proses perkara serta akan menimbulkan biaya.
Sumber hukum common law berasal dari putusan-putusan pengadilan yang diciptakan oleh praktisi-praktisi hukum. Bagi para praktisi hukum, preseden-preseden (kasus-kasus) senantiasa sangat bermanfaat untuk membela kepentingan-kepentingan klien. Dengan demikian, sumber hukum common law berasal dari penafsiran-penafsiran sebuah peristiwa yang serupa yang pernah terjadi sebelumnya., dalam hal ini yang tertuang di dalam writs. Sejak tahun 1292 telah dicatat putusan-putusan terpenting yang dibuat oleh pengadilan-pengadilan tinggi Westminster dan telah disimpan di dalam Year Books. Sejak abad XVII dijumpai pula Law Reports yang dicetak dan diterbitkan dalam bahasa Inggris.
Biasanya di dalam suatu proses persidangan di lnggris, para pihak diwakili oleh advokat, dan karena beban pembuktian pada umumnya berada pada Penggugat, maka advokat dan pihak Penggugatlah yang berkewajiban membuktikannya. Bersama dengan dalil-dalil yang telah dikemukakan yang mendasari diajukannya gugatan, Penggugat mengajukan bukti-bukti dan saksi-saksi yang merupakan fakta dari perkara yang disidangkan tersebut dan akan dicocokkan satu dengan yang lain. Setelah proses tersebut dilalui baik oleh advokat Penggugat maupun advokat Tergugat, masing-masing advokat akan berbicara dimuka persidangan secara bergiliran, dan untuk pertama kali diberikan kesempatan berbicara adalah advokat dari Tergugat, baru kemudian giliran advokat dari Penggugat. Selama pidato-pidato penutupan tersebut disampaikan kepersidangan, para advokat boleh juga menyampaikan beberapa pertimbangan hukum guna disampaikan kepada hakim.
Jika pihak Penggugat telah berhasil membuktikan dalil-dalil di dalam perkaranya, ada beberapa upaya hukum yang dapat diberikan oleh hakim. Yang paling umum adalah berupa perintah kepada Tergugat untuk membayar ganti rugi kepada Penggugat mengenai sejumlah uang yang telah ditetapkan sebagai ganti rugi. Jika Tergugat sudah diminta oleh Penggugat untuk melaksanakan putusan itu, dan hakim berwenang untuk memberikan/ mengeluarkan putusan atau bermacam-macam perintah lainnya.272
Setelah hakim membuat putusan, apabila Tergugat dikalahkan maka, diwajibkan kepadanya untuk melaksanakan bunyi putusan tersebut. Jika bunyi
272
putusannya Tergugat diperintahkan untuk membayar sejumlah ganti rugi kepada Penggugat, bagaimana halnya bila Tergugat masih belum bersedia atau bahkan menolak untuk melakukan pembayaran tersebut. Sama halnya jika Tergugat lalai melaksanakan putusan atau perintah mengembalikan tanah atau barang-barang kepada Penggugat.
Terhadap putusan yang mewajibkan membayar sejumlah uang (ganti rugi), misalnya:
a. Penggugat dapat memperoleh surat perintah eksekutorial (writ of fiere facias), yang memerintahkan kepada polisi (sheriff) supaya menyita seluruh barang-barang milik Tergugat bila perlu menjualnya untuk dibayarkan kepada Penggugat di luar proses;
b. Penggugat dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk memperoleh surat perintah penyerahan (charging order) mengenai tanah milik Tergugat atau saham-saham yang ditahan oleh Penggugat dalam suatu perusahaan. Jika masih juga tidak dibayar, Penggugat akhirnya dapat memperoleh tanah atau saham-saham untuk dijual, dan memperoleh penggantinya dari hasil penjualan itu;
c. Pengadilan dapat memberikan perintah pemotongan uang (garnishee order) bahwa uang yang dipinjam oleh Tergugat itu harus dibayar langsung kepada Penggugat;
e. Jika Penggugat memohon dengan surat perintah penyitaan sementara (writ of sequestration), sebenarnya pengadilan dapat melakukan pengawasan terhadap semua harta kekayaan Tergugat, dan mencabut haknya untuk mengurus sampai Penggugat selesai dibayar. Hal ini kadang-kadang menguntungkan apabila Tergugat itu merupakan suatu perusahaan yang kecil; atau
f. Selain cara-cara pelaksanaan putusan tersebut di atas, putusan Pengadilan Tinggi (High Court) dapat juga dilaksanakan melalui Pengadilan Distrik at (County Court). Dan hal ini dapat diperoleh beberapa keuntungan. Tidak jarang Pengadilan Distrik (County Court) dapat memerintahkan pembayaran kepada pihak terhukum secara angsuran yang sering kali merupakan cara yang sangat praktis menagih uang dari seseorang.
Terhadap putusan yang bukan merupakan pembayaran uang, misalnya jika Tergugat lalai mematuhi putusan yang berupa perintah dari pengadilan untuk menghentikan melakukan sesuatu kemudian Tergugat meremehkan/ mencela pengadilan dan pengadilan atas permintaan Penggugat dapat menghukum Tergugat, dengan cara:
a. dengan perintah karena pembangkangan (order for committal) jika Tergugat ini masih menolak memenuhinya, atas dasar ini Tergugat akhirnya dapat dipenjarakan; dan/atau
b. dengan surat perintah penyitaan sementara.
delivery) atau penyerahan khusus (specific delivery). Dalam tiap-tiap cara ini polisi (sheriff) diperintahkan untuk menyita harta kekayaan dan menyerahkannya kepada Penggugat. Penyerahan kadang-kadang dapat diminta dengan ancaman pembangkangan atau penyitaan sementara sebagaimana yang telah diuraikan dimuka.273
Sebagaimana umumnya suatu proses berperkara di pengadilan. Para pihak yang berperkara/ berselisih dapat juga menempuh upaya-upaya hukum, agar supaya gugatan yang diajukannya ke pengadilan tidak mengalami sia-sia. Upaya hukum tersebut bukan diatur di dalam perundangan, melainkan diambil dan kasus-kasus yang pernah disidangkan di dalam sistem hukum common law:
Beberapa contoh kasus menyangkut Injunction telah diputuskan pengadilan dinegara common law sebagai bentuk pelindungan HKInya, diantaranya:
a. Kasus Anton Piller Order274
Kasus posisi kasus ini adalah Anton Piller KG (“Piller”) sebagai penggugat merupakan sebuah perusahaan Jerman yang memiliki reputasi tinggi yang bergerak dalam bidang memproduksi motor, generator dan sebagai pemasok peralatan industri besar komputer baru yang telah mendesain pengubah frekuensi terbaru khususnya memasok komputer-komputer untuk bisnis mesin internasional. Piller mempunyai agen perusahaan di Inggris sejak tahun 1972 yang bernama Manufacturing Processes Ltd (MPL) dengan dua orang direkturnya oleh Mr. AHS Baker dan Mr. BP Wallac. Agen-agen ini adalah dealer yang memperoleh
273 Ibid. 274
mesin yang ditiru dari Piller. Diantara bukti informasi yang sangat jelas dan terang yaitu adanya telex dari perwakilan Ferrostaal kepada Mr. Wallace yang menyatakan :
“It is the opinion of Mr. S (of Lechmotoren) that the best way to find a final solution for the...prototype is to send Mr. Beck (also of Lechmotoren) to you as soon as the...latest design of P (Piller) has arrived in your factory. In this case it is guaranteed that the Lech prototype will have exactly the same features as the P-type. We hope you will agree to this proposal and we ask you to let us have your telex in order to arrange Mr. Beck’s visit accordingly” yang maksud percakapan dalam telex tersebut adalah menurut Mr. S dari Lechmotoren, cara terbaik untuk mencapai penyelesaian akhir untuk…prototype yaitu dengan mengutus Mr. Beck (dari Lechmotoren) secepatnya setelah desain Piller terakhir sampai di pabrik. Sehingga bisa dipastikan bahwa prototype Lech akan mewakili Fitur-fitur yang sama dengan Type P (Piller). Kami mohon permohonan ini disetujui dan kami menunggu balasan berkenaan dengan niat kunjungan Mr. Beck.”
Setelah memperoleh informasi mengenai telex ini, Piller sangat khawatir, karena sedang akan memproduksi pengubah frekuensi terbaru yang bernama “Silent Block”. Kekhawatiran Piller bahwa MPL bekerjasama dengan pabrik-pabrik Jerman tadi yang akan membuat duplikat “Silent Block” dan mengacaukan pasaran milik Piller.
menghadap kepada hakim Brightman (Hakim pada Pengadilan Tingkat pertama di Inggris), selanjutnya memohon; 1. Penetapan Sementara untuk mencegah atau menghentikan pelanggaran, dan sebagainya, 2. Supaya diijinkan untuk memasuki kediaman tergugat untuk memeriksa berbagai dokumen yang dimiliki penggugat dan memindahkannya, atau membuat salinannya. Atas permohonan tersebut Hakim Brightman memberikan interim Injunction, tetapi menolak untuk memberikan perintah pemeriksaan dan pemindahan berbagai dokumen. Karena tidak puas terhadap interim Injunction yang dilakukan oleh Hakim Brightman, Anton Piller mengajukan upaya hukum banding. Hakim tingkat banding Inggris yaitu Hakim Lord Denning M.R., Ormrod dan Shaw L.JJ. pada tanggal 8 Desember 1975 mengeluarkan perintah sementara yang pada pokoknya mengabulkan permohonan Anton Piller dengan dasar pertimbangan yaitu :
1. Kasusnya sendiri harus mengandung unsur prima facie yang sangat kuat. 2. Adany dampak yang sangat serius bagi pemohon mengenai kerugian baik
nyata maupun yang akan terjadi.
3. Adanya bukti yang jelas bahwa tergugat menguasai berbagai dokumen atau benda lain sebagai bukti-bukti yang memberatkan dan terdapat kemungkinan bahwa tergugat akan menghancurkan berbagai materi tersebut sebelum permohonan inter parte dapat dibuat.206
206
There are three
b. Mareva Order275
The Mareva Injunction merupakan kasus yang pertama kali mengakui yurisdiksi pengadilan memberikan perintah tersebut yang diputuskan di Inggris. Dalam kasus tersebut seorang Pemilik Kapal (sebagai penggugat) yang berpiutang kepada seorang pencharter (Tergugat/ kebangsaannya non-Inggris) berhasil mendapatkan Injunction yang melarang tergugat memindahkan asetnya berupa uang pembayaran freight yang tersimpan di suatu Bank di London keluar Inggris. Dengan demikian tujuan utama dari Mareva Injunction adalah untuk mencegah seorang Tergugat memindahkan asset-assetnya dari Inggris (agar tidak disita) sebelum keputusan pengadilan. Walaupun kasus ini mengenai sengketa ekspedisi, tindakan sementara Mareva juga dapat diterapkan untuk perkara pelanggaran HKI.
Pengadilan berwenang untuk memerintahkan membekukan asset tertentu untuk mencegah pemindahannya sampai permasalahannya selesai disidangkan dengan syarat penggugat dapat menunjukkan bahwa terdapat bahaya nyata dan tergugat akan mengalihkan asetnya keluar dari jurisdiksi pengadilan untuk menghindari putusan pembayaran pada penggugat. Pengadilan juga berwenang untuk memerintahkan tergugat guna memberikan bukti tertulis mengenai rincian
kepemilikan memberatkan mereka atau hal-hal, dan bahwa ada kemungkinan nyata bahwa mereka dapat merusak bahan tersebut sebelum aplikasi partes antar dapat dibuat)
275
asetnya, dan bahkan dapat memerintahkan tergugat untuk tidak meninggalkan negara tersebut sampai persidangannya selesai.209
Perintah Mareva dapat dibuat kapan saja setelah perintah tertulis dikeluarkan, atau bilamana sangat mendesak, dengan pengambilalihan untuk mengeluarkan perintah tertulis sesegera mungkin, pada umumnya permohonan dan proses pemeriksaan permohonan dari Mareva Injuction bersifat rahasia sehingga dapat dilakukan secara ex parte dan sebelum surat perintah dikeluarkan. Penggugat harus memiliki bukti-bukti yang cukup untuk memantapkan atau memenuhi persyaratan untuk pemberian penetapan sementara, dan harus mengambil alih kerugian.210
Penggugat haruslah menyebutkan atau mengidentifikasi aset-aset dari tergugat yang menjadi objek dari Mareva Injuction ini, biasanya aset yang ditunjuk haruslah berada dalam jurisidiksi pengadilan walaupun dimungkinkan untuk meminta pengadilan memperluas jurisdiksinya dalam kasus kasus yang berhubungan dengan isu extra territorial walaupun hal tersebut sangat jarang dilakukan. Mareva Injuction biasa ditemukan di wilayah jurisdiksi negara-negara Persemakmuran. Mareva Injuction bisa memiliki efek seluruh-dunia (world-wide).276
Perintah sementara ini memiliki konsekuensi pada keuangan tergugat jika diberikan atau dikeluarkan secara tidak benar. Dalam kasus terakhir, tergugat yang berhasil, tetapi tergugat telah kehilangan pekerjaan yang menguntungkannya
209
Hilary Pearson and Clifford Miller, Commercial Exploitation of Intellectual Property, (Blackstone Press Limited, 1990), hlm. 304.
210 Ibid. 276
dan mengakibatkan ia kesulitan untuk mencari pekerjaan dikarenakan penetapan sementara ini, maka ia diberi ganti rugi sampai ₤ 1 juta (1 juta Poundsterling).211
Ketentuan Pasal 25 ayat 1 Civil Prosedure Rules 1998 Inggris diatur “Mareva Injunction” dengan istilah “Freezing Injunction” yang merupakan suatu proses hukum untuk mencegah seeorang (biasanya pasti penipu) bertindak menghilangkan asetnya dari luar yurisdiksi pengadilan dan menggagalkan kemungkinan penghukuman.277 Dapat dikatakan “freezing Injunction” sebagai sebuah tindakan penyatuan konservatoir. perintah freezing Civil dalam Procedur Rules dapat diuraikan memerintahkan satu pihak untuk tidak memindahkan berbagai aset yang berada dalam yuridiksi tempat ia tinggal atau memerintahkan satu pihak untuk tidak memanipulasi berbagai aset yang terletak dalam yuridiksi tempat tinggalnya maupun diluar tempat tinggalnya.212
Karena tujuannya untuk membekukan aset dari tergugat, maka penggugat haruslah menunjukkan adanya resiko penghilangan aset milik tergugat. Para hakim dari masa ke masa mempunya pandangan yang berbeda-beda mengenai resiko penghilangan aset ini. Beberapa menganggap bahwa haruslah ada bukti serta indikasi yang jelas bahwa tergugat berencana untuk menghilangkan/mengalihkan aset untuk menghindari kerugian dari utang utangnya, sedangkan beberapa hakim berpendapat bahwa adanya ‘kemungkinan’ penghilangan/pengalihan aset atau sejarah bahwa tergugat pernah mengalihkan
211
Ibid. 277
McGowan, D. Ross; Crerar, David (2010).
212
aset untuk menghindari utang sebelumnya sudah cukup sebagai dasar permohonan dari Mareva Injuction.
c. Kasus Cartier278
Kasus Cartier International AG and others v British Sky Broadcasting Ltd adalah kasus di mana pengadilan menyatakan bahwa pemegang merek dagang dapat diberikan suatu perintah untuk memblok terhadap internet service providers (penyedia layanan internet). Pemohon dalam kasus ini adalah pemegang hak yang mengajukan permohonan injuction terhadap Termohon yang merupakan pihak internet service providers (ISP) untuk memblokir website tertentu atas dasar bahwa konten websites tersebut melanggar merek dagang Pemohon. Pengaturan kewenangan pengadilan untuk mengeluarkan injuction berkenaan pemblokiran website tertentu atas dasar bahwa konten websites tersebut melanggar Copyright telah diatur dalam section 97A of the Copyright Designs and Patents Act 1988. Tetapi berkenaan dengan merek dagang belum ada pengaturannya. The ISP menyatakan bahwa kewenangan pengadilan untuk mengeluarkan injunction terbatas pada situasi dimana salah satu pihak untuk tindakan telah berperilaku, atau mengancam untuk berperilaku, dengan cara yang "tidak bermoral".
Dalam pertimbangannya, Mr Justice Arnold menganggap bahwa kekuatan umum pengadilan dengan yurisdiksi yang adil untuk memberikan perintah yang tak terbatas. Mr Justice Arnold mempertimbangkan apakah High Court mempunyai kewenangan terhadap injunction sebelum memberikan putusannya.
278
Kewenangan pengadilan mengeluarkan injunction diatur dalam section 37(1) of the Senior Courts Act 1981.
Mr Justice Arnold menilai bahwa meskipun secara umum pengadilan melaksanakan kebijaksanaannya sesuai dengan prinsip-prinsipnya, prinsip-prinsip tersebut berubah dan berkembang dari waktu ke waktu karena pengadilan menghadapi situasi baru. Oleh karena itu pengadilan menyimpulkan bahwa pengadilan memiliki kewenangan untuk mengeluarkan perintah seperti yang dimohonkan. Selanjutnya dipertimbangkan apakah sebanding untuk melaksanakan kewenangan tersebut dan memberikan bantuan seperti yang dicari bagi pemegang merek, dengan mempertimbangkan;
1) Ketersediaan langkah-langkah alternatif untuk pemegang merek dagang yang lebih ringan
2) Manfaat dari langkah-langkah yang diperlukan perintah untuk diadopsi oleh ISP, dan khususnya apakah mereka serius akan mencegah pelanggan ISP dari mengakses situs yang melanggar;
3) Biaya yang terkait dengan tahapan -tahapan, dan khususnya biaya pelaksanaan dari tahapan tersebut disetai alasan dari tahapan – tahapan tersebut; dan
4) Dampak dari langkah-langkah dari pengguna yang sah dari internet)
Justice Arnold berkaitan kewenangan pengadilan untuk memberikan injunction ini menarik untuk praktisi. Ini menunjukkan bahwa, dalam dunia teknologi yang berkembang pesat, pengadilan lebih terbuka untuk menjadi fleksibel untuk memberikan bantuan yang efektif.
Pelanggaran terhadap HKI dapat dapat menimbulkan kerugian keuangan yang sangat besar bagi suatu perusahaan. Hilangnya hak ekslusif dan kemerosotan suatu nilai merek seringkali tidak dapat diukur. Berdasarkan hal tersebut dalam banyak kasus HKI tujuan utama penggugat mengajukan gugatan bukanlah untuk mendapatkan kompensasi kerugian yang seringkali tidak sesuai dengan kerugian yang diderita tetapi lebih cenderung kepada bagaimana menghentikan aktifitas pelanggaran. Injuction dapat menjadi upaya yang cukup berhasil di negara Eropa yang melibatkan merek - merek yang telah terdaftar di negara sejumlah negara Eropa. Injunctive relief upaya ganti rugi atas pelanggaran HKI diseluruh Eropa telah diselaraskan dengan IP Enforcement Directive (Directive 2004/48). Upaya sementara sebelum putusan akhir sekarang harus dibuat tersedia disetiap negara anggota uni eropa. Tetapi harmonisasi tidak mencakup pelanggaran manakala aturan nasional berlaku. Injunctive relief bisa dilakukan manakala akan terjadi kerugian yang sangat besar dan tidak akan dapat sepenuhnya diganti dengan kompensasi sehingga diperlukan tindakan yang cepat.