BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA MEREK
DAGANG TERDAFTAR DI INDONESIA
A. Pelanggaran Merek
Pelanggaran merek seringkali dilakukan karena terkait dengan fungsi merek sebagai identitas suatu produk atau jasa yang telah mempunyai reputasi dan juga terkait dengan fungsi merek sebagai jaminan terhadap kualitas barang.103 Hal ini dikarenakan dalam merek melekat keuntungan ekonomis, terutama merek terkenal. Fungsi merek yaitu sebagai identitas dari suatu produk atas suatu perusahaan tertentu, sehingga konsumen dapat membedakan antara produk yang satu dan lainnya untuk jenis produk yang sama.104
Merek terkenal sering menjadi obyek pelanggaran karena terkait dengan reputasi yang dimiliki oleh merek terkenal tersebut. Ada beberapa faktor atau alasan yang menyebabkan pihak-pihak tertentu melakukan pelanggaran merek milik orang lain diantaranya:
1. Memperoleh keuntungan secara cepat dan pasti oleh karena merek yang dipalsu atau ditiru itu biasanya merek-merek dan barang-barang yang laris di pasaran;
103
Menurut sudut pandang produsen, merek digunakan sebagai jaminan nilai hasil produksinya, khususnya mengenai kualitas kemudian pemakaiannya. Dari sisi konsumen, merek diperlukan untuk melakukan pilihan barang yang akan dibeli (Wiratmo Dianggoro, Pembaharuan Undang- Undang Merek dan Dampaknya Bagi Dunia Bisnis, Jakarta: Yayasan Perkembangan Hukum Bisnis,1997), hlm. 34.
104
2. Tidak mau menanggung resiko rugi dalam hal harus membuat suatu merek baru menjadi terkenal karena biaya iklan dan promosi biasanya sangat besar; 3. Selisih keuntungan yang diperoleh dari menjual barang dengan merek palsu itu
jauh lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh jika menjual barang yang asli, karena pemalsu tidak pernah membayar biaya riset dan pengembangan, biaya iklan dan promosi serta pajak, sehingga bisa memberikan potongan harga yang lebih besar kepada pedagang.
Ada 3 (tiga) bentuk pelanggaran merek yang perlu diketahui yaitu:105 1. Pembajakan merek (Trademark Piracy)
2. Pemalsuan (Counterfeiting)
3. Peniruan label dan kemasan suatu produk (Imitations of Labels and Packaging) Pembajakan merek terjadi ketika suatu merek, biasanya merek terkenal asing, yang belum tcrdaftar kemudian didaftarkan oleh pihak yang tidak bcrhak. Akibatnya permohonan pendaftaran pemilik merek yang asli ditolak oleh kantor merek setempat karena dianggap serupa dengan merek yang sudah terdaftar sebelumnya.
Pelanggaran merek yang selanjutnya adalah pemalsuan merek. Pemalsuan merek dapat terjadi ketika suatu produk palsu atau produk dengan kualitas lebih rendah ditempel dengan merek terkenal. Di Indonesia, pemalsuan merek terkenal sering terjadi terutama terhadap produk-produk garmen yang kebanyakan merupakan merek luar negeri seperti Levi’s, Wrangler, Osella, Country Fiesta,
105
Hammer, Billabong, Polo dan Ralph Laurent.106 Pemalsuan merek dapat dikatakan sebagai kejahatan ekonomi, karena para pemalsu merek tidak hanya menipu dan merugikan konsumen dengan produk palsunya namun juga merusak reputasi dari pengusaha aslinya. Pelanggaran merek yang mirip dengan pemalsuan merek adalah peniruan label dan kemasan produk (imitation of label and packaging). Bedanya, pada pemalsuan merek label atau kemasan produk yang digunakan adalah tiruan dari yang aslinya, sedangkan pada peniruan, label yang digunakan adalah miliknya sendiri dengan menggunakan namanya sendiri. Pelaku peniruan ini bukanlah seorang kriminal, tetapi lebih kepada pesaing yang melakukan perbuatan curang.107 Pelaku peniruan berusaha mengambil keuntungan dengan cara memirip - miripkan produknya dengan produk pesaingnya atau menggunakan merek yang begitu mirip (similar) sehingga dapat menyebabkan kebingungan di masyarakat. Dalam hal penggunaan merek yang begitu mirip dengan merek orang lain yang terdaftar maka pelaku peniruan tersebut melakukan pelanggaran merek. Kata-kata yang dijadikan merek oleh pelaku peniruan bisa mirip atau bahkan berbeda dengan merek pelaku usaha lainnya, namun ketika warna atau unsur dalam kemasan yang digunakan identik (sama serupa) atau mirip (similar) dengan pesaingnya barulah hal ini menyebabkan kebingungan (confusion). Sedangkan warna atau unsur dalam kemasan masih jarang didaftarkan sebagai merek dagang.
106
Sebagaimana diungkapkan oleh Asosiasi Pemasok Garmen dan Asesoris Indonesia (APOAI) dalam Harian Bisnis Indonesia, Senin, 20 Maret 2000 dengan judul Pembajakan Merek Garmen Sulit Dihentikan.
107 WIPO Intellectual Property Handbook.Policy, Law and Use, Chapter 2-Fields of
Perkembangan di bidang Merek adalah pelindungan bagi jenis-jenis Merek baru yang dikenal sebagai Merek Non-Traditional, antara lain yaitu bentuk tiga dimensi, suara, aroma, hologram, dan sebagainya. Dengan diberikannya perlindungan bagi jenis-jenis Merek ini, lingkup dan definisi Merek yang diatur dalam UU Nomor. 15 Tahun 2001 Tentang Merek sebaiknya dapat diperluas mengikuti perkembangan pelindungan Merek.108
Pada prinsipnya, ketika terdapat unsur persamaan yang identik atau mirip maka peniruan ini memiliki unsur yang sama dengan unsur perbuatan membonceng reputasi (passing off). Karena adanya persamaan identik dan persamaan yang mirip tersebut dapat menyebabkan kebingungan (likelihood of confusion) dan juga mengarahkan masyarakat atau konsumen kepada penggambaran yang keliru (misrepresentation).
Secara umum dikenal sebagai melanggar hukum suatu perbuatan curang (unfair competition) ketika memirip-miripkan barang milik sendiri dengan barang milik orang lain (to pass off one‘s own goods as being those of a competitor). Pelanggaran merek jenis ini termasuk bagian dari persaingan curang (unfair competition).
1. Pengertian Pemboncengan Reputasi (Passing Off)
Suatu merek yang telah mempunyai reputasi tinggi sehingga menjadi merek terkenal menyebabkan pihak-pihak tertentu tergoda untuk melakukan perbuatan curang dengan memirip-miripkan mereknya dengan merek yang mempunyai reputasi tinggi tersebut. Warna kemasan, tipe huruf dan tata letak
108
cetakan pembungkus suatu produk memberikan andil untuk kesuksesan pemasaran suatu produk. Namun demikian hingga saat ini, hal-hal tersebut yang mendukung peningkatan reputasi belumlah didaftarkan sebagai merek.
Pengertian passing off menurut Black’s Law Dictionary yaitu:109
“The act or an instance of falsely representing one’s own product as that of another in an attempt to deceive potential buyers. Passing off is actionable in tort under the law of unfair competition. It may also be actionable as trademark infringement”. (tindakan atau suatu hal palsu yang menampilkan produknya sendiri seperti produk orang lain dalam upaya menipu pembeli potensial. Passing off ditindaklanjuti dalam perbuatan melawan hukum berdasarkan hukum persaingan curang. Ini juga dapat ditindaklanjuti sebagai pelanggaran hak merek.)
Tindakan passing off dapat juga dikatakan sebagai membuat beberapa representasi palsu yang cenderung membawa kita untuk percaya bahwa barang atau jasa adalah bagian dari mereka yang lain.110 Di negara-negara yang menganut sistem common law, seseorang dikatakan melakukan perbuatan passing off jika seseorang memperoleh keuntungan dengan melakukan perbuatan yang merugikan reputasi orang lain atau mendompleng atau membonceng reputasi orang lain. Passing off mengandung 2 (dua) pengertian yaitu sebagai bentuk perbuatan melawan hukum (tort) yang dilarang dan juga sebagai upaya gugatan untuk mendapatkan suatu penetapan (injunction) sebagai pemulihan atas kerusakan/kerugian yang ditimbulkan karena adanya perbuatan passing off.
109
Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, Eighth Edition, (St. Paul,Minn: West Publishing Co, 2004), hal. 1115.
110
lihat
Suatu perbuatan passing off harus memenuhi tiga elemen yaitu111 pertama adanya reputasi yang terdapat pada pelaku usaha yaitu apabila seorang pelaku usaha memiliki reputasi bisnis yang baik di mata publik dan juga usahanya tersebut cukup dikenal oleh umum, kedua adanya misrepresentasi dalam hal ini dikenalnya merek yang dimiliki oleh pelaku usaha tersebut, maka apabila ada pelaku usaha lain mendompleng merek yang sama publik akan dapat dengan mudah terkecoh (misleading) atau terjadi kebingungan (confusion) dalam memilih produk yang diinginkan, ketiga terdapatnya kerugian yang timbul akibat adanya tindakan pendomplengan atau pemboncengan yang dilakukan oleh pengusaha yang dengan itikad tidak baik menggunakan merek yang mirip atau serupa dengan merek yang telah dikenal tersebut sehingga terjadi kekeliruan memilih produk oleh masyarakat (public misleading).
Menurut Djumhana dan Djubaedillah112 pengertian passing off adalah: “Tindakan yang mencoba meraih keuntungan melalui jalan pintas dengan segala cara dan dalih dengan melanggar etika bisnis, norma kesusilaan maupun hukum. Tindakan ini bisa terjadi dengan mendompleng secara meniru atau memirip-miripkan kepada kepunyaan orang lain yang telah memiliki reputasi baik. Cara mendompleng reputasi (goodwill) ini bisa terjadi pada bidang merek paten, desain industri maupun hak cipta.
111
Frans. H. Winata, Pemboncengan Reputasi Merek (Passing Off) sebagai Tindakan Persaingan Curang, http://yphindonesia.org/index.php/publikasi/artikel/ diakses tanggal 20 Pebruari 2011.
112
Copinger sebagaimana dikutip Djumhana dan Djubaedillah (1993; 187) menyatakan:113
The action for passing off lies where the defendant has represented to the public that his goods or business are the goods or business of the plaintiff. A defendant may make himself liable to this action by publishing a work under the same title as the plaintiff’s, or by publishing a work where ‘get up’ so resemble that of the plaintiff’s work as to deceive the public info the belief that it is the plaintiffs work or is associated or connected with the plaintiff (Tindakan terhadap pemboncengan reputasi dilakukan ketika tergugat telah menampilkan kepada masyarakat bahwa barang atau bisnisnya adalah barang atau bisnis penggugat. Tergugat mungkin harus bertanggungjawab atas tindakannya mernproduksi produk dengan nama yang sama dengan penggugat, atau memproduksi produk dimana kemasannya menyerupai produk penggugat sehingga menipu masyarakat sehingga percaya bahwa ini adalah produk penggugat, atau berkaitan atau berhubungan dengan penggugat).
Passing off terkait erat dengan apa yang disebut goodwill. Istilah goodwill sering digunakan bersamaan dengan kata reputasi yaitu sebagai sesuatu yang melekat dalam merek dan selain itu kata goodwill sering juga diartikan sebagai “itikad baik”. Penjelasan mengenai goodwill adalah sebagaimana dilukiskan oleh MacNaghten sebagai suatu kebaikan yang bermanfaat dan bersifat menguntungkan dari nama baik, reputasi dan keterkaitannya dalam usaha bisnis. Goodwill adalah daya kekuatan yang atraktif yang timbul dari kegiatan usaha.114 Reputasi atau goodwill dalam dunia bisnis dipandang sebagai kunci sukses atau kegagalan dari sebuah perusahaan. Banyak pelaku usaha berjuang untuk mendapatkan dan menjaga reputasi mereka dengan mempertahankan kualitas produk dan memberikan jasa kelas satu kepada para konsumen.115 Kalangan
113Ibid.,
hlm. 267.
114 Sam Ricketson & Megan Richardson, Intellectual Property:Cases, Materials and
Commentary, 2nd Editian, (Sidney : Butterworths, 1998), 777.
115
pelaku usaha mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk keperluan periklanan dan membangun reputasi produk baru atau mempertahankan reputasi dari produk yang telah ada. Reputasi merupakan pengakuan hasil aktifitas daya intelektual manusia. Oleh karena itu di negara-negara dengan sistem Common Law, hukum memberikan pelindungan kepada pemilik yang berhak atas segala sesuatu yang melekat didalamnya reputasi atau goodwill terhadap pihak yang hendak membonceng reputasinya. Perbuatan membonceng reputasi dalam perdagangan tidak hanya menyangkut hak atas merek tetapi berkaitan dengan hak-hak karya intelektual lainnya, misalnya:
a. Reputasi yang timbul karena hasil karya cipta, misalnya karakter dan visualisasi dalam karya film
b. Reputasi yang timbul dari tanda merek atau kaitannya. Berkaitan merek misalnya, tema-tema iklan produk merek bersangkutan, bentuk botol minuman atau parfum yang khas.
c. Reputasi timbul dalam hubungan nama seseorang, kegiatan atau organisasi, seseorang memiliki reputasi karena hasil dari aktivitasnya yang melekat pada nama orang tersebut
d. Reputasi timbul dan melekat pada suatu wilayah geografis, suatu daerah dengan indikasi-indikasi tertentu yang sifatnya khas karena faktor alam dan manusia atau kombinasinya menjadikan daerah tersebut menjadi terkenal dan
mempunyai daya pembeda, misalnya ‘Champagne’ di Perancis, orang mengenal daerah tersebut sebagal peughasil minuman anggur yang khas berkualitas tinggi
Dalam berbagai literatur, istilah passing dijumpai dan dikenal di negara-negara yang menganut sistem hukum common law. Hukum Passing off muncul dari tradisi dan kebiasaan dalam common law, ketika suatu usaha yang rnerniliki reputasi tidak memiliki merek dagang atau tidak dapat mendaftarkan merek dagangnya, misalnya karena mereknya terlalu deskriptif, namun memerlukan pelindungan hukum dari upaya pihak lain yang hendak membonceng reputasi usaha tersebut.116 Hukum passing off ini bertujuan melindungi baik konsumen maupun pelaku usaha dari adanya praktek-praktek usaha yang dilakukan oleh pihak lain untuk meraih keuntungan dengan cara-cara yang merugikan atau membahayakan reputasi pelaku usaha yang asli. Pada awalnya, perbuatan passing off terjadi ketika seseorang memberikan gambaran bahwa produknya adalah produk orang lain (bentuk klasik). Perbuatan ini yang sering disebut “membonceng di belakang” reputasi milik orang lain. Misalnya dalam Kasus Reddaway v Banham (1896) AC 199117 dimana Penggugat telah membuat dan menjual mesin pembuat ikat pinggang yang disebut Camel Hair Belting. Tergugat, mantan pegawai di perusahaan Penggugat, memulai bisnis baru pada bidang yang sama dan menamainya sama dengan milik Penggugat. Penggugat dapat menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen potensialnnya mengira
116
“Choosing and Protecting your Brand” diambil dan http://www.out-law.com/page-5541, diakses tanggal 15 Januari 2011.
117Protecting the Brand: The Law of Passing Off & Registered Trade Marks
bahwa produk yang dijual oleh Tergugat adalah produk yang berasal dari Penggugat. Pengadilan Banding berpendapat bahwa nama yang digunakan oleh Penggugat adalah kata yang deskriptif yang menunjukkan jenis barang tersebut dan akhirnya kata tersebut bebas digunakan oleh siapa saja. Pengadilan Banding memutuskan bahwa Tergugat tidak terbukti melakukan kesalahan.
Namun House of Lords tidak setuju dengan pendapat tersebut, dan menyatakan:
“finding that the words had acquired a secondary signification, that is of products unique to the plaintiff. Lord Herschell said “I cannot help saying that, if the defendants are entitled to lead purchasers to believe that they are getting the plaintiff’s manufacture when they are not, and thus to cheat the plaintiffs of some of their legitimate trade, i should regret to find that the law was powerless to enforce the most elementary principles of commercial morality.”
Di negara-negara common law, yang dapat diminta dalam tuntutan berdasar passing off adalah berupa suatu penetapan hakim (injunction) yang berisi:
1) Penghentian perbuatan tergugat yang menyesatkan dan pernyataan untuk tidak menghalangi perbuatan tersebut, berupa:
a) Menarik dari peredaran barang atau jasa yang rnenyesatkan tergugat untuk diserahkan atau dihancurkan.
b) Meminta ganti rugi materiil atas kerugian nyata yang diderita dan sejumlah keuntungan yang seharusnya diperoleh, termasuk biaya pengacara dan biaya perkara.
2) Meminta ganti rugi yang bersifat immaterial akibat kerugian terhadap reputasinya.
dituntut adalah ganti kerugian dan penghentian pemakaian karakter atau merek. Sekarang ini, passing off diaplikasikan menjadi lebih luas ke berbagai bentuk praktek perdagangan curang (unfair trading) dan praktek persaingan curang (unfair competition) dimana kegiatan seseorang menimbulkan kerugian atau membahayakan reputasi milik orang 1ain.
Menurut McManis dalam Simandjuntak118, pemboncengan reputasi dilihat dari sifat perbuatan tidak terlepas dari sifat-sifat umum perbuatan persaingan curang, diantaranya:
1) Menipu dalam penjualan berkenaan dengan merek dan barang. 2) Penggelapan (misappropriation) nilai-nilai yang sulit diraba. 3) Dan bersifat jahat (malicious).
Pengaturan passing off mencegah pihak lain untuk melakukan119
menyajikan barang atau jasa seolah-olah barang/jasa tersebut milik orang lain dan menjalankan produk atau jasanya seolah-olah mempunyai hubungan dengan barang/jasa milik orang lain. Passing off merupakan bentuk perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan curang dalam bisnis. Hal ini juga ditegaskan oleh Mollengraaf yang mengatakan bahwa persaingan semacam itu ialah berwujud penggunaan upaya, ikhtiar yang bertentangan dengan kesusilaan dan kejujuran di dalam pergaulan hukum dengan tujuan untuk mengelabui mata masyarakat umum dan merugikan
118
Emmy Pangaribuan S, Analisis Hukum Ekonomi terhadap Hukum Persaingan,
(Yogyakarta:Makalah pada FH UGM,1999), hlm. 14. 119
pesaingnya, segala sesuatu ini untuk menarik langganan orang lain atau memperbesar peredaran barang- barangnya.120
Dalam Black’s Law Dictionary, disebutkan pengertian perbuatan persaingan curang sebagai berikut:
A term which may be applied generally to all dishonest or fraudulent rivalry in trade and commerce, but is particularly applied to the practice of endeavoring to substitute one’s own goods or products in the markets for those of another, having an established reputation and extensive sale, by means of imitating or counterfeiting the name, title, size, shape or dictinctive peculiarities of the article, or the shape, color, label, wrapper or general appearance of the package or those such simulations, the imitation being carried far enough to mislead the general public or deceive an unwary purchaser, and yet not amounting to an absolute counterfeit or to the infringement of a trade mark or trade name.
Di negara-negara dengan sistem common law, persaingan curang (unfair competition), baik perbuatan melawan hukum menurut the common law dan the federal statute, diartikan sebagai “praktek curang dalam bisnis atau usaha”. Pengertian ini kemudian secara bertahap diperluas dalam praktek-praktek pengadilan berdasar konsep keadilan dan kejujuran dalam dunia usaha atau bisnis. Seperti dalam kasus yang terkenal yaitu kasus Arsenal Football Club Plc v Reed (2003).121 Dalam kasus ini diceritakan bahwa Arsenal adalah Klub Sepakbola Inggris yang sudah sangat terkenal, yang sering disebut “the gunners” atau “Arsenal”. Bertahun-tahun klub ini dikenal dengan logonya yaitu berupa sebuah meriam dan pelindungnya. Tahun 1989, Arsenal mendaftarkan beberapa merek produk berupa pakaian, sepatu olahraga dan barang lainnya. Ada dua
120
Soekardono, Hukum Dagang Indonesia Jilid I Bagim Pertama,(Jakarta:UI Press, 1983), hlm. 24.
merek kata yang didaftarkan yaitu “Arsenal” dan “Arsenal Gunners” dan dua merek gambar yaitu “The Crest Device” dan “The Cannon Device”.
Adalah seorang bernama Mathhew Reed yang sejak tahun 1970 sudah menjual souvenir dan pakaian yang berhubungan dengan Arsenal. Namun dengan jelas Reed menuliskan kata “unofficial” untuk menunjukkan bahwa barang yang dijualnya tidak berhubungan dengan Arsenal. Reed berpendapat bahwa para pembelinya tidak tertipu mengenai asal barang tersebut, dan mereka membeli barang tersebut sebagai tanda untuk mendukung tim kesayangan mereka. Reed juga berpendapat bahwa dia tidak menggunakan merek terdaftar milik Arsenal sebagai merek untuk barang-barangnya, namun digunakan untuk hiasan dekoratif untuk mendukung Arsenal. Pada Pengadilan pertama, Reed menang. Namun ketika kasus diserahkan kepada European Court of Justice Arsenal yang dimenangkan.
Pada prinsipnya ada 5 karakteristik dasar dalam gugatan passing off, yaitu:122
1) Misrepresentation
2) Made by a trader in the course of trade
3) To prospective customers of his or ultimate consumers of goods or services supplied by him
4) Which is calculated to injure the business or goodwill of another trader (in the sense that is reasonable consequence), and
122
5) Which causes actual damage to business or goodwill of the trade by whom the action is brought or, in a quia timet action; will probably do so.
Berdasar uraian sebelumnya dapat dikatakan bahwa perbuatan pemboncengan reputasi atas dasar passing off merupakan tort yang berasal dari hukum ciptaan (judge made law). Atau dapat juga dikatakan bahwa action for passing off adalah upaya alternatif melawan tindakan persaingan curang yang dianggap sebagai salah satu upaya efektif pelindungan merek dari praktek persaingan curang. Di Inggris, Trademarks Act 1994 adalah undang-undang tentang merek. Di Australia berlaku Trademarks Act 1995. Trademarks Act 1994 dan Trademarks Act 1995 lahir sebagai respon untuk memenuhi standar pelindungan merrk hasil penjanjian TRIPS. Adapun kelebihan pelindungan undang-undang merek (Trademarks Act) dibandingkan dengan tort of passing off antara lain adalah:
1) Pemegang merek terdaftar bisa menggunakan dasar gugatan atas pelanggaran merek berdasarkan ketcntuan undang-undang merek maupun tort of passing off sebagai pembarengan, bahkan sekaligus berdasarkan ketentuan persaingan curang yang bersifat umum, misalnya di Australia dengan ketentuan Pasal 52 Trade Parctices Act 1974;
2) Pelindungan merek terdaftar efektif sejak tanggal penerimaan pendaftaran merek tanpa perlu membuktikan ada reputasi mereknya;
3) Trademarks Act menyediakan sanksi pidana berupa fisik atau denda;123
123
2. Pencemaran Merek Terkenal (Dilution)
Ada dua macam pelanggaran merek yaitu memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek yang sudah terdaftar milik orang lain dan memiliki persamaan pada keseluruhannya dengan merek yang sudah terdaftar milik orang lain. Persamaan-persamaan ini yang dapat menyesatkan dan membingungkan konsumen pada saat membeli produk atau jasa. Suatu merek akan melanggar merek yang sudah terdaftar jika cenderung menipu konsumen (begitu sama/mirip sehingga menyesatkan/ menyebabkan kebingungan bagi konsumen) sampai batas dimana mereka kemungkinan keliru membeli produk yang sebenarnya bermaksud membeli produk merek yang sudah terdaftar tersebut.
Selain 2 (dua) macam pelanggaran merek tersebut diatas terdapat 3 (tiga) bentuk pelanggaran merek, yaitu: Trademark piracy (pembajakan merek), Counterfeiting (pemalsuan) dan Imitations of labels and packaging (peniruan label dan kemasan suatu produk). Ketiga bentuk pelanggaran merek tersebut biasanya terjadi pada merek terkenal. Pembajakan merek terjadi ketika suatu merek, biasanya merek terkenal asing, yang belum terdaftar kemudian didaftarkan oleh pihak yang tidak berhak.124 Akibatnya permohonan pendaftaran pemilik merek yang asli ditolak oleh kantor merek setempat karena dianggap serupa dengan merek yang sudah terdaftar sebelumnya.
Pelanggaran merek yang selanjutnya adalah pemalsuan merek. Pemalsuan merek dapat terjadi ketika suatu produk palsu atau produk dengan kualitas lebih
124
rendah ditempeli dengan merek terkenal. Kasus pemalsuan merek terkenal sering terjadi seperti Levi’s, Giorgio Armani dan Emporio Armani125, M-150126; dan kasus merek Benetton.127 Pelanggaran merek yang mirip dengan pemalsuan merek adalah peniruan label dan kemasan produk. Bedanya, pada pemalsuan merek label atau kemasan produk yang digunakan adalah tiruan dari yang aslinya, sedangkan pada peniruan, label yang digunakan adalah miliknya sendiri dengan menggunakan namanya sendiri. Pelaku peniruan berusaha mengambil keuntungan dengan cara memirip-miripkan produknya dengan produk pesaingnya atau menggunakan merek yang begitu mirip sehingga dapat menyebabkan kebingungan di masyarakat. Hal ini juga menyimpangi hak konsumen dalam hukum pelindungan konsumen yaitu hak untuk memilih dan mendapatkan kualitas barang sesuai dengan barang atas jasa yang dipilihnya. Ketiga bentuk pelanggaran merek ini juga dapat menyesatkan dan menyebabkan kebingungan pada konsumen.
Seperti halnya dengan pelanggaran merek biasa, kedua macam pelanggaran merek dan ketiga bentuk pelanggaran merek yang telah disebutkan diatas, juga dapat dilakukan pada merek terkenal. Namun pada merek terkenal, pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga dapat mencermarkan reputasi dan mengurangi keunikan dari merek terkenal. Pencemaran merek terkenal tersebut, dikenal dengan nama dilution. Dilution tidak
125
Kasus merek antara GA Modefine S.A v. Sutedjo dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.216/Pdt.G/1999/PN.Jkt.Pst.
126
Kasus merek antara Osotspa Co.Ltd v. Wasli dalam putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.28/MEREK/2008/PN.Niaga.Jkt.Pst.
127
mempersyaratkan kebingungan, karena walaupun konsumen tidak bingung dengan menganggap barang atau jasa tersebut disponsori atau berkaitan dengan merek terkenal, namun ketakutan yang muncul adalah dilain waktu mereka akan berhenti mengkaitkan merek secara eksklusif dengan barang dan jasa pengguna merek sebelumnya.128 Jadi mengurangi kemampuan merek untuk membangkitkan respon positif calon konsumen bahwa merek tersebut berkaitan secara eksklusif dengan barang dan jasa pengguna merek sebelumnya (senior).
Schechter mengatakan merek terkenal harus dilindungi dari pemakaian oleh produk yang lain yang mengikis keunikan dan nilai pembeda. Maka hukum merek harus mencegah pengurangan sedikit demi sedikit dari dispersi dan indentitas (gradual whittling away) dan menjaga ingatan masyarakat akan merek terkenal dari penggunaan produk-produk tidak sejenis.129 Hukum merek dalam pandangannya, harus dibuat untuk melindungi fungsi yang sebenarnya dari merek didalam pasar, yaitu sebagai nilai pembeda.130 Terdapat perbedaan yang jelas antara blurring dan confusion. Blurring terfokus pada pengurangan fungsi merek sebagai identitas unik dari merek dan jasa, sementara confusion terfokus pada kepercayaan yang salah bahwa pengguna junior dalam cara tertentu berkaitan
128
Terdapat 2 Jenis dilution, yaitu pengaburan (blurring) dan pencemaran (tarnishment).
Pencemaran (tarnishment) terjadi pada saat pengguna merek junior menggunakan merek yang digunakan senior atau merek sejenis yang dapat merusak reputasi dari merek yang digunakan senior, seperti penggunaan merek dengan cara tidak sesuai secara total dengan citra yang diproyeksikan oleh merek. Tarnishment secara khusus menyangkut penggunaan merek terkenal atau unsur pembeda dan merek pada produk-produk dengan kualitas yang buruk atau penggunaan merek dalam konteks tidak sehat atau tidak baik. Blurring didasari oleh ide bahwa penggunaan merek pada produk yang berbeda akan “mengurangi kualitas pembeda dari merek” dan menyulitkan konsumen mengingat secara cepat produk yang asli. Penggunaan merek mungkin tidak membingungkan konsumen, tetapi dapat mengacaukan sinyal merek terkenal dan membuat konsumen kesulitan menghubungkannya dengan produk merek terkenal. Nilai pembeda dari merek berkaitan dengan efektifitas kekuatan penjualan.
129
Robert G.Bone. “ Schechter’s Ideas In Historical Context And Dilution’s Rocky Road “.24 Santa Clara Computer & High Tech. L.J. 469.
dengan barang dan jasa pengguna merek senior. Pemilik merek terkenal harus mendapatkan pelindungan hukum terhadap pencemaran merek terkenal (dilution). Hal ini disebabkan karena pemilik merek terkenal telah banyak berinvestasi dengan mengiklankan dan membangun merek yang kuat. Hukum merek harus memberikan pelindungan yang sama antara berinvestasi melalui iklan dengan berinvestasi dengan melalui aset atau material.
Dilution Theory Schechter, melindungi merek tidak hanya sebagai perwujudan goodwill yang telah ada, tetapi juga sebagai alat untuk menghasilkan goodwill masa datang yang belum dibuat. Schechter tidak hanya melihat dilution semata-mata sebagai suatu cara untuk mencegah penggunaan nilai goodwill atau free riding dalam investasi penjualan. Dilution merupakan “kerugian nyata” pemilik merek terkenal yang diakibatkan dari pelemahan kekuatan penjualan dari merek. Schechter menggunakan konsep “pelemahan kekuatan penjualan” dalam menjelaskan fungsi dari merek. Dalam menjelaskan merek semata-mata sebagai simbol dari goodwill tanpa mengakui merek sebagai agen ciptaan dan pelestarian yang nyata dari goodwill, akan mengabaikan aspek esensial dari merek yang seharusnya dilindungi.
terkenal dan juga kerugian yang nyata yang diderita pemilik merek terkenal sebagai akibat penurunan daya pembeda tersebut. Pembuktian dengan actual dilution ini sangat sulit, oleh karena itu dalam perkembangan Amerika Serikat menggunakan likelyhood of dilution untuk membuktikan ada atau tidaknya dilution. Pada metode ini yang terpenting adalah pemilik merek terkenal dapat membuktikan potensi penurunan daya pembeda dari merek terkenal atas penggunaan merek yang serupa pada barang-barang tidak bersaing. Standard likelyhood of dilution dinyatakan dalam Trademark Dilution Revision Act. Pasal 43(c) (2) (b) Trademark Dilution Revision Act (TDRA), menyatakan:
. . In determining whether a mark or trade name is likely to cause dilution by blurring, the court may consider all relevant factors, including the following:
(i) The degree of similarity between the mark or trade name and the famous mark
(ii) The degree of inherent or acquired distinctiveness of the famous mark (iii) The extent to which the owner of the famous mark is engaging in
substantially exclusive use of the mark.
(iv) The degree of recognition of the famous mark.
(v) Whether the user of the mark or trade name intended to create an association with the famous mark.
(vi) Any actual association between the mark or trade name and the famous mark.131
(Dalam menentukan apakah merek atau nama dagang adalah mungkin menyebabkan dilution oleh blurring, pengadilan dapat mengacu pada faktor-faktor, seperti :
(i) Tingkat kesamaan antara merek atau nama dagang dengan merek terkenal;
(ii) Tingkat kekhususan yang melekat pada merek terkenal;
(iii) Tingkatan untuk mana pemilik merek terkenal melibatkan secara substansial penggunaan ekslusive dari merek;
(iv) Tingkat pengakuan dari merek terkenal;
(v) Apakah pengguna merek berniat untuk membuat atau mengkaitkan dengan merek terkenal.
(vi) Keterkaitan yang sebenarnya antara merek atau nama dagang dengan merek terkenal.)
Sedangkan untuk tarnishment pengadilan mengacu pada Pasal 43(c)(2)(c) Trademark Dilution Revision Act (TDRA) yang menyatakan
“For purpose of paragraph (1), ‘dilution by tarnishment’ is association arising from the similarity between a mark or trade name and a famous mark that harms the reputation of the famous mark.”(dilution karena tarnishment dilihat dari keterkaitan yang timbul dari persamaan antara suatu merek dengan merek terkenal yang merugikan reputasi dari merek terkenal.)
B. Pelindungan Merek Dagang Terdaftar
Pelindungan Merek dagang terdaftar bisa didasarkan ke dalam 2 (dua) bagian yaitu berdasarkan ketentuan perundangan di Indonesia dan didasarkan kepada Konvensi Internasioanal.
1. Berdasarkan Ketentuan Undang-Undang Di Indonesia
Terhadap pemilik merek terdaftar terdapat 3 (tiga) pelindungan hukum 132 yang diberikan oleh negara, yaitu pelindungan hukum preventif133, pelindungan hukum represif, dan penetapan sementara pengadilan niaga.
a. Pelindungan Hukum PreventifUntuk Mencegah Terjadinya Sengketa
Dalam hal seperti disebutkan di atas, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 mempunyai beberapa tindakan preventif untuk menanggulangi apabila keadaan-keadaan di atas terjadi, antara lain:
Dalam hal seperti di atas Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 mempunyai beberapa tindakan preventif untuk menanggulanginya, antara lain: 1) Pembatalan pendaftaran merek. (Pasal 68 ayat (1)), dilakukan oleh:
a) Pemilik merek terdaftar.
b) Pemilik merek terkenal walaupun tidak terdaftar.
Tenggang waktu untuk mengajukan pembatalan pendaftaran merek ke pengadilan ini diatur dalam 2 (dua) macam, yaitu selama jangka waktu
132
Menurut Satijipto Raharjo, pelindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan pelindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum (Satijipto Raharjo, Ilmu Hukum (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 53.
133
berlakunya pendaftaran (Pasal 69 ayat 1) dan Tanpa batas waktu (Pasal 69 ayat 2).
2) Penghapusan pendaftaran merek
Penghapusan pendaftaran merek ini ada 3 (tiga) kemungkinan, yaitu: a) Penghapusan atas permintaan pemilik merek terdaftar, penghapusan ini
berlaku untuk seluruh atau sebagian jenis barang/ jasa yang diajukan kepada Kantor Merek. Dalam hal merek lisensi, penghapusan harus dengan persetujuan pihak penerima lisensi (Pasal 63)
b) Penghapusan atas prakarsa Kantor Merek (Pasal 61)
c) Larangan serupa lainnya yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah d) Penghapusan atas perintah Pengadilan
3) Gugatan atas peniruan merek
Perbuatan seperti pemalsuan, peniruan dan lain-lain dapat dituntut menurut ketentuan hukum perdata. Hal seperti ini dapat kita lihat dalam pernyataan Pasal 1365 KUHPerdata. Hal ini juga sejalan dengan Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 Pasal 76 ayat (1) yang menyebutkan gugatan tentang kerugian, gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Niaga (Pasal 76 ayat (2)). Gugatan ganti rugi ini dapat bersifat materiil maupun immateriil. Dalam hal penerima lisensi, penerima lisensi baik dengan sendiri atau bersama-sama dengan pemilik merek dapat mengajukan gugatan berdasarkan Pasal 77 Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001. Dengan demikian KUHPerdata merupakan Lex Generalis, sedangkan Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 berfungsi sebagai Lex Specialis.
4) Penyelesaian Hukum Pidana
Ketentuan ini dapat ditemukan dalam Pasal 1339 KUHPidana. Selain itu dalam Pasal 90 sampai dengan Pasal 95 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 juga telah mengatur ketentuan pidana bagi pelanggaran merek berupa denda maupun penjara dan kurungan.
5) Penanganan oleh Pabean
Badan ini mempunyai kewenangan atas inisiatif sendiri untuk menunda pelepasan barang-barang yang telah terbukti melakukan pelanggaran di bidang Hak Milik Intelektual. Badan ini juga berwenang untuk memusnahkan barang-barang hasil pelanggaran tersebut serta melarang agar barang-barang tersebut tidak diekspor kembali.
6) Penanganan Badan Standar Industri
Barang-barang yang memakai merek tanpa hak dapat diyakini tidak memiliki kriteria standar industri yang ditetapkan, baik komposisi maupun kualitasnya dengan demikian dapat dikatakan berada di bawah standar (inferior quality goods of services) tindakan semacam ini merupakan salah satu objek dari Badan Standar Industri yang dalam hal ini dapat mengeluarkan keputusan untuk melarang barang-barang tersebut beredar karena merugikan konsumen serta pemilik merek.
7) Pengawasaan oleh Badan Standar Periklanan.
b. Pelindungan Hukum Represif Untuk Menyelesaikan Terjadinya
Sengketa
Pemilik merek terdaftar mendapat pelindungan hukum represif134 atas pelanggaran hak atas merek baik dalam wujud gugatan ganti rugi dan gugatan pembatalan pendaftaran merek maupun berdasarkan tuntutan hukum pidana melalui aparat penegak hukum. Pelindungan hukum yang represif ini diberikan apabila telah terjadi pelanggaran hak atas merek. Disini peran lembaga peradilan dan aparat penegak hukum lainya seperti Kepolisian, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Kejaksaan sangat diperlukan.
Perbandingan Sanksi Dalam UU Tahun 1992, 1997 dan 2001 dapat dilihat dalam tabel berikut;
Tabel Perbandingan Sanksi Dalam UU Tahun 1992, 1997 dan 2001 Undang-Undang paling banyak 100 juta, untuk setiap orang yang dengan sengaja dan denda paling banyak 1 miliar rupah kepada
keseluruhan dengan merek orang lain
Pasal 82
Pidana kurungan paling merupakan delik aduan
Sumber: UU No.19 Tahun 1992, UU No.14 Tahun1997 dan UU No. 15 Tahun 2001
Ketentuan mengenai sanksi pidana yang terdapat dalam UU No. 15 Tahun 2001 dirasakan masih belum membuat pelaku pelanggaran jera dalam melakukan pelanggaran atau pemalsuan Merek yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia serta lingkungan hidup. Dengan maraknya pelanggaran dan pemalsuan Merek yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia serta lingkungan hidup, misalnya pelanggaran Merek di bidang obat-obatan, oli dan pelumas, suku cadang, kosmetik, pestisida dan produk berbahan kimia lainnya yang sangat merugikan, maka ketentuan mengenai sanksi pidana baik hukuman denda maupun hukuman badan yang dapat diberlakukan terhadap pihak pelanggar yang diatur dalam UU No. 15 Tahun 2001 harus diperberat.
c. Perintah Penangguhan Sementara dari Kawasan Pabean
Aspects of Intellectual Properly Rights) instansi Bea Cukai di berbagai negara umumnya tidak banyak terlibat dalam pelindungan HKI.
Secara khusus dalam TRIPS diatur ketentuan tentang penegakan hukum di bidang impor ekspor barang yang melanggar HKI, yang pelaksanaannya dilakukan oleh aparat Bea dan Cukai yang mempunyai fungsi melakukan pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai dan penindakan di bidang kepabeanan dan cukai serta penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai.135 Sebagai aparat 'border enforcement', Bea Cukai dianggap memiliki potensi yang tidak dapat diabaikan dalam penegakan hukum di bidang HKI, yaitu:
a) Bea Cukai akan dapat secara efektif mencegah dan menangkal barang-barang yang melanggar HKI, sebelum barang tersebut masuk dalam sistem distribusi dan peredaran bebas - di mana akan sangat sulit dan akan memakan biaya yang sangat besar untuk memberantasnya. Hal ini karena posisi Bea Cukai yang berada di pintu-gerbang dan perbatasan wilayah negara.
b) Aparat Bea Cukai memiliki kewenangan di bidangnya, yang memungkinkan untuk melakukan pencegahan atau penyitaan barang, melakukan pemeriksaan fisik (termasuk di tempat importir dan eksportir), serta memeriksa dokumen yang berkaitan. Dengan informasi yang dimiliki Bea Cukai dapat mengidentifikasi dan menangani sampai ke sumber darimana barang yang melanggar tersebut berasal.
135
Lihat
c) Dengan kerjasama antar Bea Cukai di berbagai negara (negara pengekspor- transit- pengimpor), diharapkan dapat lebih mengefektifkan pencegahan pelanggaran HKI. Diterimanya TRIPS Agreement telah menjadikan peranan Bea Cukai dalam pelindungan HKI sebagai suatu keharusan. Ketentuan yang diatur dalam Part III TRIPS : Enforcement of Intellectual Property Rights, diantaranya mencakup Section 4 : Special Requirement Related to Border Measures, yang mengatur mengenai Suspension of Ralease by Customs Authorities (Penangguhan Pengeluaran Barang oleh Aparat Pabean), yang merupakan ketentuan standar yang harus diformulasikan dan diatur dalam ketentuan nasional masing-masing negara penandatangan WTO Agreements/ TRIPS. Dengan adanya ketentuan tersebut, maka di tiap negara, aparat border enforcement, dalam hal ini Bea Cukai, harus ikut terlibat dalam pelaksanaan pelindungan HKI.
kepada Bea Cukai berbeda di tiap negara (walaupun terdapat standar pelindungan minimal yang diatur dalam TRIPS). WTO menyatakan bahwa peranan Bea Cukai harus dirumuskan secara tepat agar intervensi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum di bidang HKI, tidak menghambat arus perdagangan barang-barang yang sah. Hal ini sesuai dengan tujuan penegakan hukum/pelindungan HKI yang termuat dalam Preambule/konsideran dari TRIPS, yang menyatakan bahwa perlu dipastikan/dijaga agar tindakan dan prosedur penegakan hukum dibidang HKI tidak akan menjadi hambatan/barrier terhadap perdagangan yang sah (legitimate trade).
1) TRIPS (Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) dan Kaitannya dengan Pelindungan HKI oleh Bea Cukai
Pelindungan HKI sangat penting artinya bagi perkembangan teknologi baru dan perdagangan internasional. Keyakinan dan dorongan bagi para penemu/ peneliti untuk melakukan inovasi dan penemuan-penemuan, hanya akan terjadi apabila ada jaminan pelindungan HKI yang baik. Pelindungan HKI yang memadai juga akan memacu peningkatan lalu-lintas perdagangan internasional, ekspor, investasi dan alih teknologi. Beberapa perjanjian internasional sebelumnya seperti Paris Convention136 telah mengatur mengenai standar pelindungan minimum yang harus diberikan terhadap HKI. Namun TRIPS lebih memperluas lingkup pelindungan tersebut, dengan menetapkan standar pelindungan, aturan-aturan
136 The Paris Convention, adopted in 1883, applies to industrial property in the widest
mengenai penegakan hukumnya (enforcement), dan aturan mengenai penyelesaian perselisihan antar negara. TRIPS merupakan suatu dokumen yang sangat berpengaruh bagi terjadinya reformasi peraturan perundang-undangan di bidang HKI. Dengan berlakunya TRIPS, negara-negara anggota WTO, termasuk sejumlah negara industri maju, harus melakukan perubahan-perubahan dan penyesuaian undang-undang HKI, agar sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam TRIPS. Sejumlah kewajiban yang diatur dalam TRIPS menghendaki agar negara-negara tersebut mengatur dalam perundang-undangan nasional, prosedur dan tindakan-tindakan yang diperlukan sehingga penegakan hukum dapat terlaksana secara efektif.137
Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan mengintrodusir dan mengakomodasikan ketentuan – ketentuan yang diatur dalam WTO Agreements, antara lain: GATT Valuation, Anti Dumping Countervailing Measures, selain itu juga pengaturanmengenai IPR Border enforcement dalam TRIPS.Dalam Part III Persetujuan TRIPS diatur mengenai penegakan hukum dibidang HKI (Enforcement of IPR), yang mencakup juga mengenai standar prosedur berkaitan dengan impor dan ekspor barang yang diduga melanggarHKI (Part III Section -4: Special Requirement Related to Border Measures). Part III Section 4 ini mengatur mengenai prosedur penangguhan pengeluaran barang oleh Bea Cukai. Sesuai
137
dengan kewajiban untuk memenuhi ketentuan (compliance) dengan TRIPS, maka ketentuan standar tersebut telah dimuat dalam UU No. 17 Tahun 2006 Pasal 54-64, yaitu mengenai 'Pengendalian Impor dan Ekspor Barang-barang yang Melanggar HKI'. Dengan demikianpelindungan HKI yang dilaksanakan oleh Bea Cukai di Indonesia telah mengacu pada standar minimum yang ditentukan dalam TRIPS, yang berlaku secara internasional. Pasal 51 TRIPS menekankan perlunya penegakan hukum atas impor atau ekspor barang yang melanggar HKI dengan cara pemalsuan merek (counterfeiting) serta pembajakan hak cipta (piracy). Selanjutnya, dalam TRIPS juga berlaku azas 'national treatment', sehingga dengan demikian penegakan hukum yang dilakukan, selain memberikan pelindungan HKI terhadap pemilik/ pemegang hak domestik, juga harus memberikan pelindungan HKI yang sama terhadap right owner/right holder asing.138
2). Tindakan Penangguhan Sementara Waktu Pengeluaran Barang oleh Bea Cukai
Dalam kerangka pelindungan HKI, tindakan atau kewenangan yang dapat dilaksanakan oleh Bea Cukai adalah tindakan penangguhan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari kawasan pabean (Pasal 54 UU No. 17 Tahun 2006) atau yang dalam TRIPS disebut sebagai suspension of release by customs(Article 51 TRIPS).
138
Pasal 51 TRIPS139 menentukan bahwa Anggota WTO diwajibkan untuk menyelenggarakan prosedur yang memungkinkan pemegang hak yang mengetahui akan terjadinya pengimporan barang yang bermerek dagang palsu atau barang hasil pembajakan, untuk mengajukan permohonan tertulis kepada pihak yang berwenang, badan administrasi maupun badan peradilan, untuk menunda dilepaskannya barang-barang tersebut ke dalam arus perdagangan oleh pabean. Dalam hal ini juga dimungkinkan untuk mengajukan permohonan serupa terhadap barang-barang lain yang melibatkan pelanggaran terhadap HKI dan menetapkan prosedur yang sama untuk barang-barang yang akan diekspor.
Pasal 52 TRIPS140 menentukan bahwa setiap pemegang hak yang memanfaatkan kepabeanan seperti itu wajib menunjukkan bukti-bukti yang memadai untuk meyakinkan pihak yang berwenang, sesuai dengan hukum negara tempat pengimporan dilakukan, bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap HKI dengan keterangan terperinci mengenai barang-barang yang bersangkutan agar mudah dikenali oleh pabean. Sehubungan dengan hal tersebut, pihak yang
139Article 51 Suspension of Release by Customs Authorities
Members shall, in conformity with the provisions set out below, adopt procedures to enable a right holder, who has valid grounds for suspecting that the importation of counterfeit trademark or pirated copyright goods may take place, to lodge an application in writing with competent authorities, administrative or judicial, for the suspension by the customs authorities of the release into free circulation of such goods. Members may enable such an application to be made in respect of goods which involve other infringements of intellectual property rights, provided that the requirements of this Section are met. Members may also provide for corresponding procedures concerning the suspension by the customs authorities of the release of infringing goods destined for exportation from their teritories.
140
Article 52 Application
berwenang wajib segera memberitahukan bahwa permohonan dari yang bersangkutan telah diterima dan apabila telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang harus segera memberitahukan kapan saatnya pabean akan mulai mengambil tindakan.
Pengeluaran barang oleh Bea Cukai dengan tindakan ‘penangguhan’ tersebut dianggap cukup efektif untuk mencegah adanya pelanggaran HKI. Tindakan penangguhan yang dilaksanakan pada 'exit' atau 'entry point' di Kawasan Pabean ini dapat mencegah barang masuk atau keluarnya suatu barang dalam jumlah besar, yang diduga melanggar HKI, sebelum barang tersebut masuk ke peredaran bebas. Apabila barang tersebut sempat masuk ke peredaran bebas dan tersebar ke jalur distribusi komersial, maka penegakan hukumnya akan lebih rumit dan memakan biaya yang besar.
Dalam UU No. 17 Tahun 2006, tindakan penangguhan pengeluaran barang yang diduga melanggar merek oleh Bea Cukai dapat dilaksanakan berdasarkan dua alasan, yaitu berdasarkan Perintah Tertulis dari Ketua Pengadilan Negeri setempat141 dan dilakukan karena jabatan (ex-officio). Apabila terdapat bukti yang cukup bahwa barang tersebut merupakan atau berasal dari hasil pelanggaran merek atau hak cipta.142
141
Lihat Pasal 54 UU No. 17 Tahun 2006 menyatakan bahwa “atas permintaan pemilik atau pemegang hak atas merek atau hak cipta, ketua pengadilan niaga dapat mengeluarkan perintah tertulis kepada pejabat bea dan cukai untuk menangguhkan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari kawasan pabean yang berdasarkan bukti yang cukup, diduga merupakan hasil pelanggaran merek dan hak cipta yang dilindungi di Indonesia”.
142
Pemerintah Republik Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, khususnya pada Bab X Tentang Larangan dan Pembatasan Impor atau Ekspor, Penangguhan Impor atau Ekspor Barang Hasil Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dan Penindakan atas Barang yang Terkait Dengan Terorisme dan/atau Kejahatan Lintas Negara, Pasal 54 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan menyebutkan bahwa: “Atas permintaan pemilik atau pemegang hak atas merek atau hak cipta, ketua pengadilan niaga dapat mengeluarkan perintah tertulis kepada pejabat bea dan cukai untuk menangguhkan sernentara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari kawasan pabean yang berdasarkan bukti yang cukup, diduga merupakan hasil pelanggaran merek dan hak cipta yang dilindungi di Indonesia”
Berdasarkan Pasal 54 UU No. 10/1995, maka jenis-jenis HKI yang dapat dimintakan penangguhan pengeluarannya oleh Bea Cukai meliputi : Merek dan Hak Cipta. Dengan Peraturan Pemerintah, pengendalian impor atau ekspor barang yang melanggar HKI juga dapat diperluas untuk jenis HKI selain merek dan hak cipta (misalnya terhadap: paten, disain industri, dan lain-lain).143
3) Penangguhan Pengeluaran Barang Berdasarkan Perintah Tertulis Ketua Pengadilan Negeri Setempat
Dalam TRIPS diatur bahwa dalam hal pemilik atau pemegang hak memiliki bukti yang cukup untuk menduga adanya impor barang yang melanggar hak merek atau hak cipta, ia dapat mengajukan permintaan tertulis kepada pihak
143
yang berwenang – administratif atau judisial-untuk dilakukannya penangguhan pengeluaran barang tersebut oleh Bea Cukai. Berdasarkan Pasal 54 UU No. 17 Tahun 2006, maka di Indonesia permintaan (oleh pemilik atau pemegang hak) tersebut diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dengan demikian, maka diperlukan adanya Perintah Tertulis Ketua Pengadilan Negeri setempat kepada Bea Cukai untuk melaksanakan penangguhan pengeluaran barang. Di beberapa negara, permintaan semacam ini diajukan kepada Bea Cukai, tanpa melalui pengadilan. Prosedur pengajuan permintaan penangguhan langsung kepada Bea Cukai ini ( dikenal dengan recordation atau notification) dalam pelaksanaannya jauh lebih efektif dibandingkan dengan pengajuan permintaan melalui Pengadilan Niaga, karena Bea Cukai dapat bertindak langsung berdasarkan data - data yang disampaikan pemilik atau pemegang hak dalam permohonannya.
Untuk mengisi kekosongan aturan di dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek dan mengadopsi ketentuan TRIPS mengenai pelanggaran di bidang HKI di wilayah Pabean, Mahkamah Agung telah mengeluarkan PERMA144 (Peraturan Mahkamah Agung) antara lain PERMA Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perintah Penangguhan Sementara mengadopsi ketentuan Pasal 44 TRIPS adalah Injunction. Ditujukan untuk pelanggaran yang telah terjadi dan PERMA Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Penetapan Sementara
144
mengadopsi ketentuan Pasal 50 TRIPS, adalah provisional measures. Ditujukan untuk mencegah terjadinya suatu pelanggaran.
Ketentuan tersebut hanya mengatur masalah penangguhan barang-barang impor atau ekspor yang diduga merupakan hasil pelanggaran merek atau hak cipta. Hal ini sangat disayangkan, karena TRIPS juga memasukkan jenis-jenis HKI lainnya sebagaimana yang diatur di dalam Pasal 53 ayat (2) TRIPS145.
Berdasarkan Perintah Tertulis Ketua Pengadilan Niaga, menurut Pasal 55 UU No. 17 Tahun 2006, maka permintaan penangguhan pengeluaran barang kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat, diajukan dengan disertai :
a) Bukti yang cukup mengenai adanya pelanggaran merek atau hak cipta yang bersangkutan;
b) Bukti pemilikan merek atau hak cipta yang bersangkutan;
c) Perincian dan keterangan yang jelas mengenai barang impor atau ekspor yang dimintakan penangguhan pengeluarannya, agar dengan cepat dapat dikenali oleh Pejabat Bea dan Cukai, dan
d) Jaminan.
Pihak yang meminta penangguhan pengeluaran barang wajib menaruh jaminan yang cukup nilainya, yang tujuannya adalah melindungi pihak yang diduga
145
Article 53 ayat (2) Security or Equivalent Assurance
melakukan pelanggaran dari kerugian yang tidak perlu dan mengurangi kemungkinan berlangsungnya penyalahgunaan hak (untuk praktek dagang yang merugikan pihak lain, dengan melumpuhkan saingan dagangnya); melindungi Pejabat Bea dan Cukai dari kemungkinan adanya tuntutan ganti rugi karena dilaksanakannya perintah penangguhan. Bahwa kepentingan pemilik barang tidak diabaikan, sehingga dalam keadaan tertentu (misalnya kondisi atau sifat barang yang cepat rusak), importir, eksportir atau pemilik barang impor atau ekspor, dapat mengajukan permintaan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat untuk memerintahkan kepada Pejabat Bea dan Cukai agar mengakhiri penangguhan pengeluaran barang. Dalam pengajuan permintaan ini juga harus diserahkan jaminan. Selanjutnya apabila dari hasil pemeriksaan perkara kemudian terbukti bahwa barang impor atau ekspor yang ditangguhkan ternyata tidak merupakan atau tidak berasal dari hasil pelanggaran merek atau hak cipta, pemilik barang impor atau ekspor berhak untuk memperoleh ganti rugi dari pemilik/pemegang hak yang meminta penangguhan. Ganti rugi ini dapat dibayarkan dari jaminan. Ganti rugi sebagaimana dimaksud diatas diatur dalam Article 56 TRIPS (Indemnification of the Importer and of the Owner of the Goods),yaitu pembayaran kompensasi yang memadai atas kerugian yang terjadi karena penangguhan yang salah 4). Jangka Waktu Penangguhan dan Peranan Pemilik atau Pemegang Hak
diperpanjang satu kali untuk paling lama sepuluh hari kerja. Perpanjangan penangguhan tersebut disertai dengan perpanjangan jaminan. Prinsip yang berlaku dalam pelindungan HKI ialah bahwa pemilik atau pemegang hak (right owner atau right holder) harus aktif untuk mempertahankan hak-haknya, sedangkan peranan Bea Cukai adalah membantu terlaksananya pelindungan HKI. Dalam prosedur penangguhan berdasarkan Pasal 54 UU No. 17 Tahun 2006 ini, pemilik atau pemegang hak harus aktif untuk mengumpulkan bukti-bukti, menyiapkan persyaratan yang diperlukan, dan mengajukan permintaan penangguhan kepada Ketua Pengadilan Niaga setempat. Dalam hal barang yang diduga melanggar HKI telah ditangguhkan pengeluarannya oleh Bea Cukai, maka pemilik atau pemegang hak menggunakan kesempatan dalam jangka waktu 10 hari kerja (dapat diperpanjang untuk 10 hari kerja) untuk melakukan langkah-langkah atau upaya-upaya hukum dalam mempertahankan haknya sesuai ketentuan yang berlaku, antara lain dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Niaga setempat.146 (Pasal 57 UU No. 17 Tahun 2006). Jangka waktu tersebut merupakan standar yang diatur dalam TRIPS Article 55 (Duration of Suspension).
Kewajiban Bea Cukai atas penerimaan Perintah Tertulis dari Pengadilan Niaga adalah:
146
a) Memberitahukan secara tertulis kepada importir, eksportir, atau pemilik barang mengenai adanya perintah penangguhan pengeluaran barang impor atau ekspornya;
b) Melaksanakan penangguhan pengeluaran barang impor atau ekspor dari Kawasan Pabean, terhitung tanggal diterimanya Perintah Tertulis.
c) Kewajiban ini perlu dilaksanakan dengan baik, karena prinsip dari Article 42 TRIPS : Fair and Equitable Procedures, menekankan hak pemilik barang/importir, untuk menerima pemberitahuan yang cepat dan lengkap, yang memuat dasar klaim yang diajukan oleh pemilik hak. Dalam Article 54 TRIPS (Notice of Suspension) importir maupun pihak yang mengajukan penangguhan harus diberitahu sesegera mungkin mengenai dilakukannya penangguhan tersebut. Apabila dalam jangka waktu sepuluh hari kerja Pejabat Bea Cukai tidak menerima pemberitahuan dari pihak yang meminta penangguhan bahwa tindakan hukum telah dilakukan, dan Ketua Pengadilan Niaga tidak memperpanjang secara tertulis, Pejabat Bea Cukai wajib mengakhiri tindakan penangguhan pengeluaran barang. Selanjutnya barang diproses/ diselesaikan sesuai ketentuan kepabeanan.
sepengetahuan Pejabat Bea Cukai.147 Dalam pemberian izin pemeriksaan, kepentingan pemilik barang (antara lain kepentingan untuk menjaga rahasia dagang atau informasi teknologi) juga perlu diperhatikan secara wajar.
Pasal 57 TRIPS148 menegaskan bahwa tanpa mengurangi pelindungan terhadap rahasia dagang, pemerintah yang bersangkutan harus menjamin bahwa pihak yang berwenang dapat memberi kesempatan secukupnya kepada pemegang hak untuk meneliti barang yang berada dalam penahanan pabean dalam rangka memperkuat gugatannya. Pihak yang berwenang juga berhak untuk memberikan kesempatan yang sama kepada importir untuk meneliti barang yang bersangkutan. Dalam hal telah terdapat ketetapan yang pasti mengenai pokok perkara, pemerintah yang bersangkutan dapat memberikan kewenangan kepada pihak yang berwenang untuk memberitahukan kepada pemegang hak mengenai nama dan dan alamat pihak yang memberikan konsinyasi, importir dan penanggung jawab konsinyasi serta jumlah barang yang bersangkutan. Article 57 TRIPS mengatur mengenai (Right of Inspection and information) di mana selain hak untuk memeriksa barang yang ditangguhkan pengeluarannya, pemegang hak juga berhak
147
Lihat Pasal 58 UU No.l7 Tahun 2006 yang menyatakan bahwa (1) Atas permintaan pemilik atau pemegang hak atas merek atau hak cipta yang meminta perintah penangguhan, ketua pengadilan niaga dapat memberi izin kepada pemilik atau pemegang hak tersebut guna memeriksa barang impor atau ekspor yang diminta penangguhan pengeluarannya. (2) Pemberian izin pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh ketua pengadilan niaga setelah mendengarkan dan mempertimbangkan penjelasan serta memperhatikan kepentingan pemilik barang impor atau ekspor yang dimintakan penangguhan pengeluarannya.”
148Article 57 Right of Inspection and Information.
untuk mendapatkan informasi dari instansi yang berkompeten, mengenai nama dan alamat pengirim barang, importir, penerima dan jumlah barang.
5). Penangguhan Pengeluaran Barang Karena Jabatan (Ex-Officio Action) Tindakan penangguhan pengeluaran barang impor atau ekspor dapat juga dilakukan karena jabatan oleh Pejabat Bea dan Cukai, apabila terdapat bukti yang cukup bahwa barang tersebut merupakan atau berasal dari hasil pelanggaran merek atau hak cipta.149 Tindakan penangguhan ini dilakukan tanpa adanya perintah tertulis dari pengadilan. Tindakan ini dilakukan hanya kalau dimiliki bukti-bukti yang cukup, dan tujuannya adalah untuk mencegah peredaran barang-barang yang melanggar merek dan hak cipta yang berdampak buruk terhadap perekonomian pada umumnya. Dalam hal diambil tindakan penangguhan karena jabatan, maka berlaku sepenuhnya tata cara sebagaimana diatur dalam Undang-undang Merek dan Undang-Undang Hak Cipta. Dalam TRIPS dinyatakan bahwa 'ex-officio action 'ini merupakan tindakan penangguhan pengeluaran barang yang dilaksanakan atas inisiatif dari instansi yang berkompeten (dalam hal ini Bea Cukai). TRIPS juga menyatakan dalam hal tindakan 'ex-officio' ini, pejabat yang melaksanakan penangguhan pengeluaran barang dibebaskan dari penggantian kerugian, apabila tindakan tersebut dilaksanakan berdasarkan itikad baik (in good faith).
Ketentuan penangguhan pengeluaran barang yang diberlakukan terhadap jenis-jenis barang sebagai berikut : barang bawaan penumpang, awak sarana
149
pengangkutpelintas batas atau barang kiriman melalui pos atau jasa titipan, yang tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial.150 Ketentuan tersebut berlaku internasional, sesuai yang diatur dalam Article 60 TRIPS (De Minimis Import).
Tujuan yang ingin dicapai dalam Persetujuan WTO/TRIPS adalah mengurangi distorsi dan hambatan dalam perdagangan internasional. Dalam TRIPS dinyatakan bahwa dengan peningkatan pelindungan HKI yang efektif dan memadai, harus dijamin bahwa tindakan dan prosedur dalam penegakan hukum di bidang HKI itu tidak akan menjadi hambatan bagi lalu-lintas perdagangan yang sah. Selain hal tersebut di atas, Bea Cukai pada saat ini juga dituntut untuk meningkatkan fungsi trade facilitation (membantu memperlancar perdagangan) sehingga pemeriksaan fisik terhadap barang impor atau ekspor hanya dilakukan secara selektif (selective examination), dan Bea Cukai harus bertindak hati-hati dalam melakukan pencegahan terhadap partai/consignment barang yang diduga melanggar HKI agar tidak menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari pemilik/pemegang hak untuk menyampaikan informasi yang akurat tentang kemungkinan terjadinya pelanggaran HKI agar dengan teknik risk assessement yang diterapkan dapat ditarget barang yang benar-benar melanggar HKI.
Selanjutnya pemilik hak juga harus memperhatikan mengenai risiko yang mungkin timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penangguhan pengeluaran barang oleh Bea Cukai, yaitu terjadinya kelambatan pengiriman barang (delay) dan
150
kemungkinan terjadinya serangkaian kerugian yang dialami oleh importir/eksportir/pemilik barang akibat kelambatan tersebut. Dalam undang-undang diatur bahwa ganti-rugi terhadap kerugian ini apabila ternyata barang yang ditangguhkan tidak melanggar HKI harus ditanggung oleh pemilik hak yang meminta penangguhan.
lndonesia telah menandatangani perjanjian TRIPS (Trade Related Aspects of lntellectual Property Rights), adalah kewajiban dari negara lndonesia untuk mengimplementasikan dalam hukum nasional standar minimal yang diatur dalam perjanjian TRIPS tersebut antara lain tentang upaya penanggulangan pelanggaran HKI di lndonesia, dalam tulisan ini akan dibahas tentang Penangguhan Sementara sebagaimana diatur dalarn Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No.4 Tahun 2012 dan Penetapan Sementara (PERMA) No.5 Tahun 2012. Penangguhan sementara dan penetapan sementara merupakan hal baru dalam hukum acara di Indonesia karena memiliki beberapa hal yang sebelumnya tidak dikenal dalam asas-asas hukum acara perdata di Indonesia, terutama asas audi et alteram partem (asas mendengar kedua pihak). Penangguhan sementara dan penetapan sementara ini perlu dilakukan secara cepat dan efektif oleh aparat penegak hukum, khususnya bagi pejabat bea cukai di wilayah perbatasan.151 Penangguhan sementara mengadopsi pasal 44 TRIPS dan penetapan sementara Pasal 50 TRIPS.
Penangguhan Sementara istilah dari pasal 44 TRIPS adalah injunction sedangkan Penetapan Sementara istilah provisional measures dari pasal 50 TRlPs Agreement. Pasal 44 (1) TRIPS, menetapkan bahwa suatu perintah pengadilan
151
sedangkan Pasal 50 TRIPS yang tujuan utama untuk mencegah terjadinya suatu pelanggaran.
Mahkamah Agung Rl telah mengeluarkan PERMA No. 4 Tahun 2012152 yang mengatur tentang syarat dan tata cara pengajuan permohonan perintah penangguhan sementara. Undang-Undang Kepabeanan belum mengatur dengan jelas dan rinci tentang syarat-syarat dan tata cara pengajuan permohonan perintah penangguhan sementara waktu, pengeluaran barang impor atau ekspor yang diduga merupakan hasil pelanggaran merek dari kawasan pabean.
Dengan diterbitkannya PERMA No. 4 Tahun 2012 Bea Cukai dapat menangguhkan sementara waktu pengeluaran barang impor dan ekspor yang merupakan pelanggaran merek dari kawasan pabean, sedangkan PERMA No. 5 Tahun 2012 adalah penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Niaga berupa perintah berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Pemilik atau pemegang hak merek terhadap pelanggaran hak atas Merek untuk mencegah masuknya barang yang diduga melanggar HKI dalarn jalur perdagangan, mengamankan dan mencegah penghilangan barang bukti oleh Pelanggar, menghentikan pelanggaran guna mencegah kerugian yang lebih besar. Kedua PERMA tersebut dikeluarkan setelah 10 tahun undang – undang dibidang HKI dan 6 tahun setelah Undang-Undang Kepabeanan dikeluarkan.
PERMA No.4 Tahun 2012 tentang Penangguhan Sementara dan PERMA No. 5 Tahun 2012 Tentang Penetapan sementara merupakan yurisdiksi eksklusif dari Pengadilan Niaga yang khusus menangani masalah perdata, penangguhan
152
sementara dan penetapan sementara merupakan hal baru dalam hukum acara di lndonesia, karena memiliki beberapa hal yang sebelumnya tidak dikenal dalam asas-asas hukum acara perdata di lndonesia, terutama asas audi et elteram partem153 (asas mendengar kedua belah pihak) karena pemeriksaan sampai dikeluarkan penetapan Pengadilan tentang penangguhan dan penetapan sementara dilakukan secara ex parte in audita altera parte karena kalau terlambat dilakukan tindakan tersebut akan menyebabkan pemegang hak mengalami kerugian yang tidak dapat diperbaiki atau dalam hal resiko bahwa barang bukti akan dimusnahkan tanpa mendengar pihak Termohon.
PERMA ini bertujuan untuk tidak membiarkan beredarnya barang palsu dan melindungi industri dalam negeri juga melindungi konsumen serta kewajiban negara lndonesia sebagai anggota WTO. Adanya kebutuhan akan peradilan yang cepat, sederhana dan murah akibat pelanggaran terhadap HKI, yang telah merugikan pemilik/ pemegang HKI berdampak negatif terhadap pencipta pemilik merek, inventor, pendesain, pelaku usaha, investasi, merugikan negara dari dalam bentuk pajak akibat beredarnya barang palsu dan merugikan citra bangsa yang pada akhirnya sangat merugikan perekonomian negara.
Apabila ada bukti yang cukup diduga terjadi pelanggaran merek yang dilindungi di lndonesia dalam wilayah hukum Kawasan Pabean ditempat Pengadilan Niaga berada, pemohon (pemilik / pemegang hak) atas merek dapat meminta kepada Ketua Pengadilan Niaga pada Pengadilan Niaga untuk meminta perintah Penangguhan Sementara berupa Penetapan Tertulis kepada pejabat Bea
153
dan Cukai agar menangguhkan sementara waktu, pengeluaran barang impor atau ekspor dari Kawasan Pabean. Perintah Pengadilan Niaga ditujukan untuk menangguhkan sementara waktu barang-barang hasil pelanggaran merek. Pelaksanaan pencegahan barang pelanggaran HKI di Kawasan Pabean lndonesia berdasarkan Undang-Undang tentang Kepabeanan No.10 Tahun 1995 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No.17 Tahun 2006. Pejabat Bea Cukai dapat melakukan penangguhan pengeluaran barang impor atau ekspor yang diduga melanggar HKI dari kawasan pabean dalam 2 jalur skema yudicial dan skema ex officio.
Bea Cukai memainkan peranan penting dalam pencegahan barang pelanggaran HKI dikawasan Pabean karena Bea Cukai atau Kepabeanan merupakan pintu gerbang untuk memasuki suatu negara. Kewenangan Bea Cukai untuk mencegah masuknya barang-barang palsu dan barang hasil pembajakan dapat dilaksanakan sebagaimana PERMA nomor 4 Tahun 2012 tentang Penangguhan Sementara.
6) Syarat-syarat Penangguhan sementara dan pelaksanaannya berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2012
Pemilik/ pemegang hak atas merek mengajukan ke Pengadilan Niaga perdaftaran permohonan penangguhan sementara dengan menyertai:154
a) Bukti kepemilikan merek atau hak cipta.
b) Perincian dan keterangan yang jelas mengenai barang impor atau ekspor.
154
c) Membayar jaminan berupa uang tunai atau jaminan bank setara dengan nilai barang.
d) Membayar biaya lain (biaya kontainer dll) termasuk biaya perkara.
Setelah diterima pendaftaran kemudian dalam tenggang waktu 1 (satu) hari Ketua Pengadilan menunjuk hakim untuk memeriksa permohonan tersebut. Hakim yang ditunjuk akan mempertimbangkan bukti, mendengar pemohon,menentukan uang jaminan, serta serta biaya lain. Dalam jangka waktu 2 (dua) hari Pengadilan menetapkan kabul atau tolak. Apabila permohonan dikabulkan maka dalam tempo 10 hari sejak diterima penetapan oleh bea cukai untuk melaksanakan perintah Pengadilan meminta izin kepada pemilik untuk memeriksa barang. Apabila ditolak maka permohonan uang jaminan dikembalikan kepada pemohon, sedangkan biaya perkara dibebankan kepada pemohon.
Ketua Pengadilan memberikan perintah kepada bea cukai, kemudian bea cukai langsung mencegah atas barang sesuai penetapan pengadilan. Apabila barang impor atau ekspor tidak diketemukan di kawasan pabean, bea cukai memberitahu Ketua Pengadilan.
Atas izin Ketua pengadilan, bea cukai dan juru sita serta termohon melakukan pemeriksaan barang yang disita untuk identifikasi dibuatkan acara oleh juru sita. Penangguhan pengeluaran barang paling lama 10 hari dan dapat diperpanjang 1 x selama 10 hari dengan perpanjangan jaminan.155 Apabila 10 hari
155
tidak diperpanjang, pejabat bea cukai mengakhiri tindakan penangguhan pengeluaran barang. Dalam waktu 10 hari pemohon mulai melakukan tindakan hukum wajib melapor kepada bea cukai. Apabila tidak diperpanjang oleh KPN bea cukai mengakhiri tindakan penangguhan, dalam hal barang cepat rusak termohon mengajukan permintaan tertulis kepada KPN untuk mengakhri penangguhan untuk menyerahkan jaminan, bea cukai dapat minta mengakhiri penangguhan tanpa menyerahkan jaminan. Apabila telah terjadi pelanggaran terhadap barang dimaksud jaminan dikembalikan kepada pemohon. Apabila tidak ada pelanggaran merek uang jaminan diserahkan kepada termohon. Apabila termohon menderita kerugian melebihi nilai jaminan termohon dapat mengajukan gugatan. Dilakukan pemeriksaan barang dan terbukti cukup adanya pelanggaran merek, maka pemohon dapat mengajukan tindakan hukum sebagaimana yang diatur dalam UU yang berlaku.
d. Penerbitan Penetapan Sementara di Pengadilan Niaga
Ketentuan Pasal 85 UU Merek Nomor 15 Tahun 2001 menyatakan bahwa berdasarkan bukti yang cukup maka pihak yang dirugikan dapat meminta kepada hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang 2 (dua) hal: